• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN HASIL ANALISIS RASIO DAN TREND KEUANGAN

Perusahaan PT. Semen Indonesia ini berdiri pada tahun 1955 dan kemudian menjadi perusahaan go public pertama di Indonesia pada tahun 1991. Perusahaan yang bergerak dibidang industri semen ini menjadi perusahaan bidder pada tahun 1995 saat mengakuisisi PT. Semen Tonasa dan PT. Semen Padang dan juga mengakuisisi perusahaan luar negeri yaitu Thang Long Cement pada tahun 2012. Perusahaan juga pernah menjadi perusahaan target pada tahun 1998 yang kala itu diakuisisi oleh CEMEX.

Untuk mengungkap kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada periode 1990-2014 yang ditandai oleh dua tonggak bersejarah sebagai perusahaan

target (1998) dan sebagai perusahaan bidder (2012), maka diperlukan

24

Analisis Rasio Likuiditas

Gambar 1

Hasil Perhitungan Current Ratio

Sumber: Lampiran 1

Berdasarkan gambar 1, kondisi current ratio perusahaan mulai mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2006 mencapai 284% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan nilai aset lancar sebesar Rp. 4,2 milyar dan hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 1,5 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Peningkatan ini terjadi karena pada tahun tersebut Cemex menjual saham perusahaan kepada Blue Valley yang mempengaruhi aset lancar perusahaan, sehingga perusahaan dapat melunasi hutang jangka pendeknya oleh kreditur dapat dipenuhi.

126% 171% 0% 100% 200% 300% 400% 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

25

Gambar 2

Hasil Perhitungan Current Ratio (Tahun 1998 dan 2012)

Sumber: Lampiran 2

Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)

menunjukkan bahwa presentase current ratio perusahaan terus mengalami penurunan, dimana di akhir tahun nilai current ratio perusahaan sebesar 126% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan aset lancar sebesar Rp. 1,4 milyar dan hutang jangka pendek sebesar Rp. 1,1 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Sedangkan trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa presentase current ratio perusahaan mengalami naik-turun sepanjang tahun dengan nilai current ratio akhir tahun sebesar 171% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan aset lancar sebesar Rp. 8,2 milyar dan hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 4,9 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Jika dilihat dari trend keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa perusahaan dapat melunasi tagihan-tagihan hutang jangka pendek yang dimilikinya dari kreditur dapat dipenuhi karena besarnya aset perusahaan. 219% 199% 187% 238% 178% 256% 0% 100% 200% 300% 400% 500%

Maret Juni September

26

Analisis Rasio Solvabilitas

Gambar 3

Hasil Perhitungan Debt Ratio

Sumber: Lampiran 3

Berdasarkan gambar 3, nilai debt ratio perusahaan paling rendah pada tahun 1991 dengan presentase 2% (lihat lampiran 3, tabel 3 ) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 15,8 juta dan total aset sebesar Rp. 661 juta (lihat lampiran 3, tabel 3). Sedangkan peningkatan debt ratio perusahaan di mulai pada tahun 1996 sebesar 41% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 1,8 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 4,2 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Nilai debt ratio perusahaan kembali mengalami penurunan pada tahun 2006, dimana pada saat itu Cemex menjual sahamnya kepada Blue Valley sehingga mempengaruhi trend keuangan perusahaan. Dimana pada tahun 2006, presentase debt ratio perusahaan sebesar 26% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang sebesar Rp. 2 milyar dan total aset sebesar Rp. 7,5 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3).

59% 32% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

27

Gambar 4

Hasil Perhitungan Debt Ratio (Tahun 1998 dan 2012)

Sumber: Lampiran 4

Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)

menunjukkan presentase debt ratio yang naik-turun sepanjang tahun tersebut dengan presentase akhir tahun sebesar 59% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 4,2 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 7,1 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) trend keuangan perusahaan menunjukkan angka presentase debt ratio mengalami naik-turun juga dengan presentase akhir tahun sebesar 32% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang sebesar Rp. 8,5 milyar dan total aset sebesar Rp. 27 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Selisih total hutang perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,3 milyar dan selisih total aset sebesar Rp. 19,9 milyar. Jika dilihat dari trend keuangan pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjamin hutang yang dimilikinya dengan aset yang dimiliki oleh perusahaan.

58% 68% 64%

27% 22% 28%

0% 50% 100%

Maret Juni September

28

Gambar 5

Hasil Perhitungan Debt Equity Ratio

Sumber: Lampiran 5

Berdasarkan gambar 5, menunjukkan bahwa nilai debt equity ratio perusahaan mulai mengalami kenaikan pada tahun 1996 dengan angka 71% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 845 juta, hutang jangka panjang sebesar Rp. 900 juta, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2.5 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Peningkatan ini terjadi akibat adanya ekspansi nasional yang dilakukan oleh perusahaan yaitu pada tahun 1995 perusahaan mengakuisisi PT. Semen Tonasa dan PT. Semen Padang sehingga mempengaruhi pertumbuhan nilai debt equity ratio perusahaan pada tahun 1996. Sedangkan peningkatan yang sangat signifikan terjadi pada tahun 1998 dimana pada saat itu perusahaan diakuisisi oleh Cemex dengan nilai presentase debt

equity ratio 162% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar

Rp. 1,1 milyar, hutang jangka panjang sebesar Rp. 3,1 milyar, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2,6 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Sedangkan penurunan terjadi pada tahun 2006 dengan presentase debt equity ratio sebesar 35% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 2 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 5,5 milyar. Penurunan ini terjadi karena pada tahun tersebut perusahaan tidak lagi memiliki hutang jangka panjang karena sudah dilunasi pada tahun sebelumnya.

162% 46% 0% 50% 100% 150% 200% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

29

Gambar 6

Hasil Perhitungan Debt Equity Ratio (Tahun 1998 dan 2012)

Sumber: Lampiran 6

Trend keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan target pada tahun

1998 menunjukkan presentase debt equity ratio pada akhir tahun mengalami penurunan sebesar 51% menjadi 162% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 1,1 milyar, hutang jangka panjang sebesar Rp. 3,1 milyar, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2,6 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan pada tahun tersebut termasuk dalam keadaan tidak baik karena total hutang yang dimiliki oleh perusahaan lebih besar daripada modal yang dimiliki oleh perusahaan yang berarti perusahaan tidak mampu membayar hutang jangka panjangnya dengan menggunakan modal perusahaan sendiri. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa debt equity ratio perusahaan mengalami naik-turun sepanjang tahun tersebut dimana pada akhir tahun debt equity ratio perusahaan sebesar 46% (lihat lampiran 5, tabel 5) naik 8% dari bulan September. Pada tahun tersebut hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 8,4 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 18,2 milyar (lihat lamnpiran 5, tabel 5). Dengan besarnya modal perusahaan dibandingkan hutang jangka pendek perusahaan, menandakan bahwa kondisi keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan bidder (2012) dalam keadaan baik yang berarti perusahaan mampu membayar hutang yang dimilikinya dengan

165% 247% 213% 37% 51% 38% 0% 100% 200% 300% 400%

Maret Juni September

30

menggunakan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Selisih hutang jangka pendek perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 7,4 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 15,6 milyar.

Analisis Rasio Profitabilitas

Gambar 7

Hasil Perhitungan Return On Asset

Sumber: Lampiran 7

Berdasarkan gambar 7, menunjukkan bahwa presentase return on asset perusahaan mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 1990 sebesar 43% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih sebesar Rp. 166 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 382 juta (lihat lampiran 7, tabel 7). Penurunan return on asset perusahaan terjadi pada tahun 1991 sebesar 30% menjadi 13% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 85 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 661 juta (lihat lampiran 7, tabel 7). Penurunan return on asset perusahaan ini terjadi karena pada tahun tersebut perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan menjadi perusahaan BUMN pertama yang menjadi perusahaan go public sehingga dapat mempengaruhi kondisi return on asset perusahaan dengan total aset perusahaan yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

3% 19% 0% 10% 20% 30% 40% 50%

31

Gambar 8

Hasil Perhitungan Return On Asset (Tahun 1998 dan 2012)

Sumber: Lampiran 8

Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)

menunjukkan bahwa return on asset perusahaan pada akhir tahun sebesar 3% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 222 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 7,1 milyar (lihat lampiran 7, tabel 7). Hal ini mengakibatkan kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan tidak baik. Perusahaan tidak mampu menghasilkan keuntungan karena perusahaan tidak bijaksana dalam memanfaatkan asetnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa nilai return on asset perusahaan mengalami peningkatan sepanjang tahun tersebut dimana nilai return on asset perusahaan naik 4% menjadi 19% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih sebesar Rp. 5 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 27 milyar (lihat lampiran 7, tabel 7). Hal ini menandakan bahwa kondisi keuangan perusahan dalam keadaan baik. Perusahaan mampu menghasilkan keuntungan karena perusahaan bijaksana dalam memanfaatkan asetnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Selisih laba bersih perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,8 milyar dan selisih total aset sebesar Rp. 19,9 milyar.

1% 2% 3% 5% 9% 15% 0% 5% 10% 15% 20%

Maret Juni September

32

Gambar 9

Hasil Perhitungan Return On Equity

Sumber: Lampiran 9

Berdasarkan gambar 9, menunjukkan bahwa return on equity perusahaan tertinggi pada tahun 1990 dengan angka 55% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 166 juta dan jumlah modal perusahaan sebesar Rp. 301 juta (lihat lampiran 9, tabel 9). Penurunan return on equity perusahaan pada tahun 1991 mencapai 42% menjadi 13% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 84 juta dan total modal perusahaan sebesar Rp. 645 juta 9lihat lampiran 9, tabel 9). Penurunan ini terjadi saat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia dan menajdi BUMN pertama yang go public.

9% 27% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

33

Gambar 10

Hasil Perhitungan Return On Equity (Tahun 1998 dan 2012)

Sumber: Lampiran 10

Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)

menunjukkan bahwa return on equity perusahaan sebesar 9% (lihat lampiran 9,tabel 10) dengan laba bersih Rp. 222 juta dan total modal sebesar Rp. 2.6 milyar (lihat lampiran 9, tabel 9). Hal ini menandakan bahwa perusahaan tidak mampu mengembalikan modal yang diberikan oleh pemilik. Hal ini juga terjadi akibat pada tahun tersebut perusahaan memasuki masa-masa sulit sehingga mempengaruhi nilai return on equity ratio perusahaan. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) nilai return on equity perusahaan naik sebesar 6% menjadi 27% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 5 milyar dan total modal sebesar Rp. 18,2 milyar (lihat lampiran 9, tabel 9). Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan baik karena perusahaan mampu mengembalikan modal yang diberikan oleh pemilik. Selisih laba bersih perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,8 milyar dan selisih total modal sebesar Rp. 15,6 milyar. 1% 5% 9% 6% 14% 21% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%

Maret Juni September

34

Analisis Free Cash Flow

Gambar 11

Hasil Perhitungan Free Cash Flow

Sumber: Lampiran 11

Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)

menunjukkan bahwa nilai free cash flow perusahaan sebesar Rp. 1,6 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11) dengan arus kas operasi perusahaan sebesar Rp. 102 juta dan belanja modal perusahaan sebesar Rp. 1,4 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11). Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan nilai free cash flow perusahaan sebesar Rp. 10,4 milyar (lihat lampiran 11, tabel 12) dengan arus kas operasi sebesar Rp. 5.6 milyar dan belanja modal perusahaan sebesar Rp. 4,8 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11). Hal ini menandakan bahwa kondisi keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) dalam keadaan baik yang berarti perusahaan mampu untuk menghasilkan lebih banyak aliran kas dalam proses kegiatan usahanya ke masa depan. 1.515.911.904 10.366.138.761 - 2.000.000.000 4.000.000.000 6.000.000.000 8.000.000.000 10.000.000.000 12.000.000.000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014

35

PENUTUP

KESIMPULAN

Tahun 1998

 Kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan sehat atau tidak mengalami kesulitan keuangan. Hal ini didasarkan karena total aset perusahaan lebih besar dibandingkan dengan total hutang perusahaan sehingga perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya dengan tepat waktu. Hal ini juga dikarenakan pada tahun tersebut perusahaan diakuisisi oleh CEMEX sehingga dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.

Jika melihat pada nilai debt ratio perusahaan total hutang perusahaan mengalami penurunan pada akhir tahun, sehingga mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Menurunnya debt

ratio perusahaan menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan pada tahun tersebut dalam keadaan sehat karena perusahaan mampu membayarkan hutang jangka panjangnya dengan menggunakan aset yang dimiliki oleh perusahaan.

Nilai debt equity ratio perusahaan termasuk dalam kategori tidak sehat atau perusahaan mengalami kondisi kesulitan keuangan karena total hutang yang dimiliki oleh perusahaan lebih besar dibandingkan dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga kondisi keuangan perusahaan terpuruk dan mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan. Hal ini menandakan bahwa CEMEX belum bisa memberikan dampak yang positif terhadap nilai debt equity ratio perusahaan.

 Penurunan laba bersih, total modal perusahaan, dan total aset perusahaan menempatkan perusahaan pada tahun tersebut dalam kondisi kesulitan keuangan atau tidak sehat.

 Perusahaan memiliki ketersediaan uang/kas untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

36

Tahun 2012

 Keputusan perusahaan untuk mengakuisisi Thang Long Cement sangat tepat karena memberikan dampak yang positif bagi perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada aset lancar, total aset, laba bersih, dan modal perusahaan yang terus meningkat meskipun total hutang perusahaan juga meningkat, tetapi perusahaan tetap bisa membayar hutangnya dengan menggunakan aset yang dimiliki.

 Dengan mengakuisisi Thang Long Cement perusahaan memiliki ketersediaan uang/kas yang baik dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

SARAN

 Dengan menekan beban bunga dengan jalan mengurangi hutang pada pihak ketiga maupun hutang jangka panjang yang jatuh tempo dapat membantu perusahaan untuk memenuhi hutang jangka pendek dan jangka panjangnya sehingga perusahaan dapat keluar dari kondisi kesulitan keuangan.

37

Dokumen terkait