ANALISIS KINERJA KEUANGAN PT. SEMEN
INDONESIA Tbk DARI PERUSAHAAN TARGET KE
PERUSAHAAN BIDDER
(STUDI KASUS PADA PT. SEMEN INDONESIA Tbk
PERIODE 1990-2014)
Oleh:
BUDI SANTOSO LOTTUNG SUTRISNO
232011284
KERTAS KERJA
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS
: EKONOMIKA DAN BISNIS
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2016
vi
HALAMAN MOTO
“Selesaikan apa yang sudah kau lakukan” _Merry Riana_
“Jika niat kita dari awal baik, insyaallah akhirnya pun akan baik juga” _Budi Santoso Lottung Sutrisno_
“Berkhayal (bermimpilah) setinggi mungkin, apabila kamu terjatuh kamu akan jatuh di antara beribu bintang-bintang”
vii ABSTRACT
The research objective is to reveal financial performance. PT. Semen Indonesia Tbk in the period 1990-2014 were marked by two milestones as the target company and as a corporate bidder in the acquisition transaction . The dynamics of financial performance based on financial performance indicators such as the ratio of liquidity , solvency , profitability , and free cash flow based on financial statement data of 25 years starting from 1990. The exploration studies PT . Semen Indonesia Tbk showed that the condition of the company's financial performance at the time became the target company in an financial distress , and when a firm bidder in a non-financial distress
viii
SARIPATI
Tujuan penelitian ini untuk mengungkap kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada periode 1990-2014 yang ditandai oleh dua tonggak bersejarah sebagai perusahaan target dan sebagai perusahaan bidder dalam transaksi akuisisi. Dinamika kinerja keuangan didasarkan pada indicator-indikator kinerja keuangan seperti rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan free cash flow berdasarkan data laporan keuangan 25 tahun terhitung mulai tahun 1990. Studi eksplorasi PT. Semen Indonesia Tbk menunjukkan bahwa kondisi kinerja keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target dalam keadaan tidak sehat dan saat menjadi perusahaan bidder dalam keadaan yang sehat.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penelitian ini panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas kerja ini.
Kertas kerja ini disusun sebagai persyaratan bagi setiap mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan akhir studi jenjang S1 jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana.
Dalam menyelesaikan kertas kerja ini penulis juga menghadapi berbagai kendala, penulis menyadari bahwa mustahil tidak terdapat kekilapan ataupun perbedaan pendapat dalam menyajikan kertas kerja ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan dan menghargai saran maupun kritikan sehat dari semua pihak yang mengarah kepada perbaikan kertas kerja ini. Kertas kerja dengan judul
“Analisis Kinerja Keuangan PT. Semen Indonesia Tbk Dari Perusahaan Target Ke Perusahaan Bidder (Studi Kasus Pada PT. Semen Indonesia Tbk Periode 1990-2014)”, tidak akan terlaksana tanpa bantuan dari berbagai pihak,
karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya kertas kerja ini. Berkat bimbingan dari berbagai pihak baik berupa material, informasi maupun segi admistrasi kertas kerja ini dapat diselesaikan.
Akhir kata, penulis berharap kertas kerja ini berguna dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki ketertarikan yang sama akan topik tulisan ini, merupakan sesuatu yang berharga bagi penulis apabila terdapat saran dan kritik terhadap tulisan ini demi kualitas dan perkembangan pengetahuan di masa yang akan datang.
Salatiga, 6 Januari 2016
x
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat serta kasih-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan dan dapat melewati tantangan demi tantangan yang ada selama proses penyelesaian skripsi ini dengan judul “Dinamika Kinerja Keuangan PT. Semen Indonesia Tbk Dari Perusahaan Target Menjadi Perusahaan Bidder periode 1990-2014”.
Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari doa, dukungan, bantuan, bimbingan, serta pendamping dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak dan Ibu (Salatiga dan Blora) selaku orang tua, Kakak dan Adik, Keluarga Besar yang selalu memberikan yang terbaik bagi penulis. Terima kasih atas doa, dukungan, kesabaran, serta perhatian dan kasih sayangnya selama ini.
2. Bapak Hari Sunarto, SE., MBA., PhD selaku dosen pembimbing yang dengan sabar selalu memberi arahan dan petunjuk kepada penulis. 3. Bapak Prof. Christantius Dwiatmadja, SE, ME, PhD selaku Dekan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana. 4. Kaprodi Akuntansi, Wali Studi, pengajar dan staff pegawai Fakultas
Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana yang telah memberi ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama menempuh studi.
5. Tante Asna, Jeng Putri KW, Bu Diah, Pandu, Kukuh, Arya, Deni, Angga, Bagus, Sela, Rila, dan seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2011 Terimakasih atas semua kebersamaan dan pengalaman bersama kalian yang akan selalu berkesan.
6. Risa, terima kasih untuk doa, dukungan, semangat, dan pengarahan yang diberikan, dan tidak lupa terima kasih atas kesetiaan selalu mendampingi penulis.
xi
7. Sobat SMA, Adi, Joko, dan Ganyong Terimakasih buat kebersamaan dan dukungan kalian selama ini, semoga kita semua sukses bersama. 8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantu penyelesaian skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhir kata “Tak ada gading yang tak retak” penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Salatiga, 6 Januari 2016
xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT... ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN AKSES... iii
LEMBAR PENGESAHAN... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI... v
HALAMAN MOTO...vi
ABSTRACT...vii
SARIPATI... viii
KATA PENGANTAR... ix
UCAPAN TERIMAKASIH………..… x
DAFTAR ISI……….…… xii
DAFTAR GAMBAR……… xii
PENDAHULUAN... 1
Latar Belakang... 1
Rumusan Masalah... 5
Tujuan dan Manfaat Penelitian... 5
Tujuan Penelitian…………... 5
Manfaat Penelitian... 5
TELAAH PUSTAKA... 6
Penelitian Terdahulu... 6
Analisis Kinerja Keuangan... 7
Pengertian Kinerja Keuangan... 7
Metode Analisis Kinerja Dengan Rasio Keuangan... 7
Penggabungan Usaha... 8
Merger... 9
Akuisisi... 10
Tipe Merger dan Akuisisi... 10
xiii
Tipe Akuisisi………... 11
Motif Merger dan Akuisisi …... 12
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Merger dan Akuisisi... 13
Kelebihan Merger dan Akuisisi……... 13
Langkah-Langkah Merger dan Akuisisi... 15
METODA PENELITIAN... 16
Desain Penelitian... 16
Jenis dan Sumber Data... 17
Teknik Analisis Data... 17
DINAMIKA KINERJA KEUANGAN……… 20
Sejarah Singkat PT. Semen Indonesia Tbk………... 20
Visi dan Misi Perusahaan……… 21
Kegiatan Usaha………... 22
PEMBAHASAN HASIL ANALISIS RASIO DAN TREND KEUANGAN….. 23
Analisis Rasio Likuiditas (Current Ratio)………. 24
Analisis Rasio Solvabilitas………... 26
Debt Ratio………... 26
Debt Equity Ratio………... 28
Analisis Rasio Profitabilitas………. 30
Return On Asset………... 30
Return On Equity……… 32
Analisis Free Cash Flow……... 34
PENUTUP………. 35
Kesimpulan……… 35
Saran……….. 36
DAFTAR PUSTAKA……… 37
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Current Ratio………... 24
Gambar 2: Current Ratio (Tahun 1998 dan 2012)……… 25
Gambar 3: Debt Ratio………... 26
Gambar 4: Debt Ratio (Tahun 1998 dan 2012)………... 27
Gambar 5: Debt Equity Ratio………... 28
Gambar 6: Debt Equity Ratio (Tahun 1998 dan 2012)………... 29
Gambar 7: Return On Asset………... 30
Gambar 8: Return On Asset (Tahun 1998 dan 2012)………... 31
Gambar 9: Return On Equity……… 32
Gambar 10: Return On Equity (Tahun 1998 dan 2012)………... 33
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kondisi perekonomian global yang masih belum kondusif secara langsung berdampak pada rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan belum pulihnya perekonomian global pasca krisis yang terjadi sejak tahun 2008 lalu, sehingga perekonomian berjalan tidak seimbang. Kondisi ini membuat permintaan produk-produk perkebunan dan pertambangan primer sebagai andalan produk ekspor Indonesia menurun sehingga mengakibatkan defisit neraca perdagangan Indonesia yang semakin diperburuk dengan naiknya beban subsidi BBM sepanjang tahun 2014. Hal lain yang membuat kondisi perekonomian nasional kurang kondusif adalah pelaksanaan agenda nasional. Proses pemilu yang berlangsung sengit berdampak pada rendahnya realisasi investasi di bidang properti (Laporan Tahunan PT. Semen Indonesia Tbk; 2014).
Namun, memasuki tahun 2015, perekonomian mulai menunjukkan gejala pemulihan meski berjalan tidak seimbang. Hal ini dikarenakan lemahnya harga minyak dunia sepanjang tahun 2014 dan Amerika Serikat yang telah menunjukkan pemulihan. Dari dalam negeri, dengan disetujuinya RAPBN-P 2015, Pemerintah merealisasikan beberapa proyek infrastruktur dasar dengan alokasi dana anggaran pembangunan yang jauh lebih besar sebagai wujud pengalihan subsidi BBM. Pemerintah juga mulai membenahi prosedur perizinan yang merupakan penghambat dari terealisasinya rencana investasi selama ini. Dengan terealisasinya infrastruktur dasar tersebut, pertumbuhan pembangunan properti akan berkembang lebih baik, terutama industri semen (Laporan Tahunan PT. Semen Indonesia Tbk; 2015).
Dengan adanya komitmen Pemerintah untuk melakukan pembangunan infrastruktur dasar, termasuk sarana jalan raya dan pelabuhan yang selama ini menjadi salah satu penghambat masuknya arus investasi riil dan mengurangi potensi pertumbuhan ekonomi nasional akan meningkatkan konsumsi semen nasional. Pertumbuhan permintaan semen masih terus berkembang dikarenakan
2
konsumsi semen per kapita di Indonesia yang masih berada dibawah rata-rata konsumsi semen per kapita di Asia, Indonesia yang masih menjadi tujuan untuk berinvestasi baik sektor industri maupun pembangunan akses infrastruktur dasar yang akan menggerakkan potensi ekonomi di seluruh daerah, dan berlakunya pasar tunggal ASEAN dalam ASEAN Community tahun 2015. Menurut Asosiasi Semen Indonesia, Total produksi semen nasional pada tahun 2014 naik sebesar 8,9% dari 55,2 juta ton di akhir 2013 menjadi 60,1 juta ton dan permintaan semen nasional di tahun 2014 mencapai 59,910 juta ton tumbuh 3,3% dari 58,024 juta ton di tahun 2013. Berdasarkan sumber dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, perkembangan industri semen di Indonesia pada tahun 2012-2016 apabila dilihat dari kapasitas terpasangnya, terdapat tiga perusahaan yang memiliki nilai tertinggi yaitu PT. Indocement (clinker/ jenis semen= 85500, semen= 111500), PT. Holcim Indonesia (clinker/ jenis semen= 36800, semen= 49500), dan PT. Semen Indonesia Tbk (clinker/ jenis semen= 51100, semen= 66280). Tantangan utama bagi pendatang baru lebih kepada strategi pemasaran dan penjualan mengingat pemain yang ada memiliki citra merk yang kuat untuk mempertahankan pangsa pasar. Pertumbuhan konsumsi semen nasional dipengaruhi oleh kondusifnya perekonomian Indonesia.
Semakin meningkatnya permintaan semen nasional ini, secara langsung industri-industri semen di Indonesia mendapatkan keuntungan, salah satunya adalah PT. Semen Indonesia Tbk. PT. Semen Indonesia (Perseroan) Tbk adalah produsen semen yang terbesar di Indonesia. Pada tanggal 8 Juli 1991 Semen Gresik yang sekarang menjadi PT.Semen Indonesia (Perseroan) Tbk tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya sehingga menjadikannya BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Untuk mengembangkan strategi agar dapat menyesuaikan serta bertahan atau bahkan berkembang di tengah semakin ketatnya persaingan antar perusahaan, juga agar dapat mempertahankan eksistensinya dan memperbaiki kinerjanya, Pemerintah Pusat melakukan ekspansi. Salah satu strategi ekspansi adalah dengan penggabungan beberapa usaha. Pada dasarnya penggabungan usaha
3
merupakan bentuk penggabungan satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam rangka mendapatkan pengendalian atas aktiva maupun operasional. Bentuk penggabungan usaha yang sering dilakukan dalam dua dekade terakhir ini adalah
merger dan akuisisi dimana strategi ini dipandang sebagai salah satu cara untuk
mencapai beberapa tujuan yang lebih bersifat ekonomis dan jangka panjang (Annisa dan Prasetiono, 2010). Dalam hal ini, Pemerintah Pusat mengakuisisi PT. Semen Tonasa dan PT. Semen Padang ke PT. Semen Gresik pada bulan Agustus tahun 1995. Seiring dengan terjadinya krisis ekonomi untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan bantuan IMF, Pemerintah Pusat melakukan privatisasi.
Perusahaan yang bergerak di bidang industri semen ini merupakan Badan Usaha Milik Negara pertama yang diprivatisasi/ menjadi perusahaan target pada tahun 1998. Privatisasi ini merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian nasional yang hampir runtuh akibat krisis moneter yang dimulai pada tahun 1997. Privatisasi yang dimaksud adalah penjualan saham milik Pemerintah Republik Indonesia yang ada pada BUMN kepada pihak asing yang dikatakan sebagai mitra strategis. Secara umum tujuan dilakukannya privatisasi ini adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efesiensi agar dapat berdaya saing baik di sektor nasional maupun internasional. Berdasarkan hasil
tender, pada tahun 1998 PT. Semen Indonesia menjadi perusahaan target saat
pemerintah memutuskan untuk melepas 14% saham perusahaan kepada Cemex S.A. de C.V (Cemex) dari Mexico. Dengan demikian komposisi kepemilikan saham pemerintah Republik Indonesia berubah menjadi 51,01%, masyarakat 23,46%, dan Cemex 25,53%. Namun, pada tahun 2006 Blue Valley Holdings membeli seluruh 24,9% kepemilikan saham CEMEX sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Pemerintah 51,01%, Blue Valley Holdings 25,53%, dan Publik 23,46%. Tak lama berselang Blue Valley Holdings menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi Pemerintah 51% dan Publik 48,9%.
Demi melebarkan sayapnya, Perseroan merintis langkah ekspansi internasional/ menjadi perusahaan bidder dengan mengakuisisi pabrik semen
4
Thang Long di Vietnam dengan kepemilikan saham mayoritas (70%) pada tahun 2012, sehingga semakin meningkatkan volume produksi. Akuisisi Thang Long
Cement Company ini sekaligus menjadikan PT. Semen Indonesia sebagai BUMN
pertama yang berstatus multinational corporation. Alasan perusahaan mengakuisisi Thang Long Cement pada tahun 2012 karena pertama, Vietnam merupakan negara yang mempunyai garis pantai yang panjang, sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan untuk dapat memasok sebagai hubungan perusahaan ke pasar regional, kedua, Vietnam baru saja mengalami penurunan kinerja perekonomian yang membuat perusahaan lebih mudah untuk masuk berinvestasi, dan ketiga, Thang Long Cement merupakan sebuah perusahaan semen terkemuka di Vietnam yang dilengkapi dengan teknologi Eropa dan infrastruktur yang terintegrasi.
Ketatnya persaingan mengharuskan perusahaan melakukan pengelolaan manajemen dengan baik, sehingga akan dapat menguasai pangsa pasar yang luas apabila memiliki kinerja yang baik dalam arti yang luas, termasuk dalam melakukan efisiensi sumber-sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan agar
survive. Salah satu indikator perusahaan memiliki kinerja yang baik dapat dilihat
dari aspek keuangan dan finansialnya.
Kinerja keuangan perusahaan yang baik dapat dilihat dari laporan keuangannya. Meskipun, pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji“ dari pekerjaan bagian pembukuan. Tetapi selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja tetapi juga sebagai dasar untuk dapat mengetahui atau menilai kinerja keuangan perusahaan, dimana dengan hasil analisis tersebut dapat diketahui penggunaan sumber-sumber ekonomi. Untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja keuangan suatu perusahaan, diperlukan adanya analisis laporan keuangan. Dengan menganalisis berbagai pos dalam laporan keuangan merupakan dasar untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan dan operasional suatu perusahaan.
5
Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa indikator-indikator kinerja keuangan, yaitu Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Debt Ratio,
Return On Equity, Return On Asset, dan juga Free Cash Flow. Indikator-indikator
ini dipilih untuk dapat mendeteksi kebangkrutan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan naik-turunnya kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk dari perusahaan target menjadi perusahaan bidder, dengan judul penelitian “ Analisis Kinerja
Keuangan PT. Semen Indonesia Tbk Dari Perusahaan Target Ke Perusahaan Bidder (Studi Kasus Pada PT. Semen Indonesia Tbk Periode 1990-2014) ”.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dan untuk mempermudah pembahasan, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
“Bagaimana kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012)”
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan peneltian ini adalah sebagai berikut:
“Untuk mengungkap kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012)”
Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat digunakan untuk:
1. Bagi Penulis
Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah penulis dapat mengungkap kinerja keuangan industri semen di Indonesia, khususnya PT. Semen
6
Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012).
2. Bagi Perusahaan
Bagi perusahaan bermanfaat untuk menerapkan langkah-langkah apa yang harus diambil untuk mempertahankan atau meningkatkan kinerja keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
3. Bagi Akademis
Bagi akademis penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi untuk lebih mengetahui dan memahami tentang kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012).
TELAAH PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
PT. Semen Indonesia Tbk (dahulu PT. Semen Gresik) telah menjadi obyek dalam penelitian tentang kinerja keuangan perusahaan (Ulfah, 2007; Ragil, P.D., 2007; Shinta, 2008). Indikator kinerja keuangan yang digunakan berupa modal kerja, analisis rasio produktivitas, EVA, MVA, CR, DER, OPM, ITO ,GPM, NPM, ROE dan TATO. Didalam penelitian Ulfah (2007) menunjukkan bahwa modal kerja bersih PT. Semen Gresik berada diatas modal kerja optimal, perputaran persediaan dan kas perusahaan dalam kondisi baik. Didalam penelitian Pitoyo Dimas Ragil (2007) menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan semen yang go public selama tahun 2003-2005 sehat dan mampu memberikan nilai tambah ekonomis dan nilai bahwa kinerja keuangannya tidak sehat. Sedangkan didalam penelitian Shinta (2008) menunjukkan bahwa hasil analisis dapat diketahui perbedaan kinerja keuangan setelah dan sebelum melakukan merger dan akuisisi, dimana dari hasil tersebut dapat membuktikan bahwa pada rasio CR, DER, OPM, ITO ,GPM, NPM, ROE dan TATO dapat diketahui lebih besar sebelum melakukan merger dan akuisisi.
7
Analisis Kinerja Keuangan
Pengertian Kinerja Keuangan
Pengertian kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), Kinerja diartikan sebagai “sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja (tentang peralatan)”. Berdasarkan pengertian tersebut kinerja keuangan didefinisikan sebagai prestasi manajemen, dalam hal ini manajemen keuangan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan.
Menurut Munawir (2010:30), kinerja keuangan perusahaan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap rasio keuangan perusahaan. Pihak yang berkepentingan sangat memerlukan hasil dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan untuk dapat melihat kondisi perusahaan dan tingkat keberhasilan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Berdasarkan pengertian tersebut kinerja keuangan didefinisikan sebagai prestasi manajemen, dalam hal ini manajemen keuangan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan.
Metode Analisis Kinerja dengan Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan metode umum yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan di bidang keuangan. Rasio merupakan alat yang memperbandingkan suatu hal dengan hal lainnya sehingga dapat menunjukkan hubungan atau korelasi dari suatu laporan finansial berupa neraca dan laporan laba rugi. Adapun jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.Rasio ini membantu perusahaan dalam mengontrol penerimaannya. Rasio-rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Return on Assets, dan Return on Equity.
8 2. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas atau financial leverage merupakan tingkat jumlah hutang terhadap seluruh kekayaan perusahaan. Rasio-rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Debt to Equity Ratio dan Debt
Ratio.
3. Rasio likuiditas
Rasio likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang-hutang jangka pendek yang segara jatuh tempo. Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah current ratio (CR) dan free cash flow (FCF).
Penggabungan Usaha
Dunia usaha yang semakin berkembang dan persaingan yang juga menjadi semakin ramai dan ketat sehingga seringkali timbul persaingan yang tidak sehat dan saling merugikan. Untuk mengatasi adanya tindakan yang saling merugikan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain, perlu adanya suatu bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Salah satu bentuk kerjasama yang dapat ditempuh adalah dengan melalui penggabungan usaha antara dua atau lebih perusahaan dengan perusahaan yang lain baik yang sejenis. Penggabungan usaha merupakan salah satu strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidup serta mengembangkan perusahan. Berdasarkan pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 22 (revisi 2010) penggabungan usaha berarti penyatuan dua atau lebih perusahaan (entitas) menjadi satu entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan perusahaan lain ataupun memperoleh kendali (control) atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Penggabungan usaha sendiri dibedakan menjadi dua yaitu merger dan akuisisi. Pengertian penggabungan usaha secara umum (business combination) adalah suatu keadaan dimana dua perusahaan atau lebih yang terpisah melakukan penyatuan menjadi satu entitas ekonomi atau mendapatkan kendali atas aktiva dan operasi perusahaan lain. Merger dan akuisisi (M&A) merupakan suatu kegiatan penggabungan usaha yang banyak dilakukan oleh perusahaan dalam negeri maupun luar negeri. Sementara itu, akuisisi
9
didefinisikan sebagai pembelian seluruh atau sebagian kepemilikan suatu perusahaan, yang dapat dilakukan melalui merger atau tender offer (Foster, 1986).
MERGER
Merger merupakan salah satu strategi yang diambil perusahaan untuk
mengembangkan dan menumbuhkan perusahaan. Merger berasal dari kata “mergere” (Latin) yang artinya bergabung bersama, menyatu, berkombinasi menyebabkan hilangnya identitas karena terserap atau tertelan sesuatu. Merger sebagai penggabungan dua atau lebih perusahaan yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum, sementara yang lainnya menghentikan aktivitasnya atau bubar. Menurut Undang-undang dan Peraturan Pemerintah: Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 Pasal 1 angka 9 : Merger adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 1 (satu) perseroan atau lebih untuk menggabungkan diri dengan perseroan lain yang telah ada yang mengakibatkan aktiva dan pasiva dari perseroan yang menggabungkan diri tersebut beralih karena hukum kepada perseroan yang menerima penggabungan dan selanjutnya status badan hukum perseroan yang menggabungkan diri tersebut berakhir karena hukum.
Merger adalah kesepakatan dua atau lebih perusahaan untuk bergabung
yang kemudian hanya ada satu perusahaan yang tetap hidup sebagai badan hukum, sementara yang lainnya menghentikan aktivitas atau bubar (Moin, 2007). Merger biasa digunakan dalam perusahaan sebagai proses penggabungan suatu usaha.
Merger dapat dilakukan baik secara internal maupun eksternal. Merger internal
terjadi ketika perusahaan sasaran berada dalam satu kepemilikan group yang sama sedangkan merger eksternal terjadi ketika perusahaan sasaran berada dalam grup kepemilikan yang berbeda.
10
AKUISISI
Cara penggabungan usaha lainnya adalah dengan cara akuisisi. Dalam proses akuisisi kebanyakan pemegang saham perusahaan target akan mendapatkan banyak manfaat dibandingkan dengan pemegang saham perusahaan pengakuisisi. Pada Pemerintah Republik Indonesia No.27 tahun 1998 tentang penggabungan, peleburan dan pengambilalihan Perseroan Terbatas mendefinisikan akuisisi adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut. Dalam terminologi bisnis akuisisi dapat diartikan sebagai pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau aset suatu perusahaan oleh perusaahaan lain, dan dalam peristiwa baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah (Moin, 2003).
Tipe Merger dan Akuisisi
Tipe Merger
Secara umum merger/penggabungan usaha dapat dibagi menjadi empat kelompok (Agus Sartono, 2001) :
1. Merger Horizontal
Merger horizontal terjadi bila suatu perusahaan menggabungkan diri
dengan perusahaan yang ada pada satu jenis usaha yang sama. Contohnya sebuah perusahaan telekomunikasi melakukan merger dengan perusahaan telekomunikasi lainnya, dimana sekarang ini yang sedang hangat diperbincangkan adalah merger antara perusahaan XL dengan Axis dimana kedua perusahaan memiliki usaha dalam bidang yang sama yaitu penyedia jasa telekomunikasi.
2. Merger Vertikal
Merger vertikal terjadi bila sebuah perusahaan melakukan penggabungan dengan perusahaan yang masih memiliki keterkaitan
11
dengan usahanya. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan penghematan biaya operasi karena perusahaan memiliki akses langsung ke hulu maupun hilir usaha. Contohnya adalah ketika sebuah perusahaan pengecoran baja melakukan penggabungan usaha dengan suppliernya atau bisa juga sebuah perusahaan pengolahan hasil pertambangan melakukan merger dengan perusahaan distributor dan pemasarannya. 3. Merger Kongeneric
Merger Kongeneric adalah penggabungan dua usaha yang sejenis
tetapi mempunyai produk yang berbeda. Contoh sebuah perusahaan komputer melakukan merger dengan perusahaan software, dua perusahaan memiliki bidang usaha yang sama yaitu dalam bidang teknologi tetapi mereka memproduksi barang yang berbeda.
4. Merger Konglomerat
Merger Konglomerat yaitu penggabungan usaha dari dua atau lebih
industri yang sama sekali tidak terkait. Contoh perusahaan pertambangan membeli perusahaan real estate.
Tipe Akuisisi
Menurut Van Horne dan Wachowicz (2005) Akuisisi dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Akuisisi Strategis
Akuisisi strategis terjadi ketika sebuah perusahaan mengakuisisi perusahaan lain sebagai bagian dari strategi keseluruhan perusahaan. Hasil dari akuisisi jenis ini adalah keunggulan biaya. Contoh dari akuisisi jenis ini adalah ketika sebuah perusahaan minuman ringan mengakuisisi perusahaan minuman ringan lainnya yang memiliki kapasitas produksi berlebih atau bahkan bisa juga meningkatkan dominasinya di pasar sehingga memberi peningkatan pendapatan bagi perusahaan.
12 2. Akuisisi Keuangan
Akuisisi Keuangan merupakan suatu tindakan akuisisi terhadap satu atau beberapa perusahaan tertentu yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mencapai keuntungan finansial. Kecenderungannya adalah sebuah usaha untuk membeli perusahaan target dengan harga semurah mungkin, untuk menjual kembali dengan harga jual yang lebih tinggi. Namun demikian apabila transaksi tersebut dilaksanakan antar perusahaan yang berada dalam satu group bisnis atau kepemilikan yang sama, maka harga belinya dapat menjadi lebih mahal ataupun lebih murah, tergantung pada kepentingan dan keuntungan yang akan diperoleh pemilik mayoritas perusahaan yang bersangkutan.
Motif utama akuisisi tipe ini adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Seringkali perusahaan yang menjadi target akuisitor adalah perusahaan yang sedang mengalami penurunan dan dalam kondisi yang relatif lemah. Indikasinya adalah adanya beban hutang yang relatif besar, kemacetan pemasaran dan distribusi, harga sahamyang semakin melemah di bursa, kapasitas produksi yang menganggur, dan sebaliknya.
Namun demikian tindakan akuisisi terhadap suatu perusahaan target tidak selalu mencerminkan indikasi-indikasi seperti tersebut diatas, karena dalam prakteknya yang menjadi target justru perusahaan yang memiliki posisi keuangan yang cukup likuid dan perolehan laba yang relatif tinggi serta memiliki prospek yang cukup baik.
Motif Merger dan Akuisisi
Motif dan teori yang melatar belakangi perusahaan untuk melakukan aktivitas merger dan akuisisi menurut Weston dan Copeland (1997) yaitu: (1) Adanya manajemen yang tidak efisien. (2) Untuk menciptakan adanya sinergi operasi. (3) Menciptakan sinergi keuangan. (4) Penyusunan kembali strategis. (5)
13
Penilaian terlalu rendah sehingga menciptakan keuntungan bagi perusahaan pengakuisisi. (6) Informasi dan pemberian tanda. (7) Masalah keagenan dan manajerialisme. (8) Penyusunan kembali insentif manajerial. (9) Kutukan bagi pemenang. (10) Kekuatan Pasar. (11) Pertimbangan Pajak. (12) Redistribusi.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi keberhasilan Merger dan Akusisi
Keberhasilan suatu merger dan akuisisi sangat bergantung pada ketepatann analisis dan penelitian yang menyeluruh terhadap faktor-faktor penyelaras atau kompatibilitas antara organisasi yang akan bergabung. Menurut Robins (2000), dalam Organizational Behavior, menambahkan bahwa kompatibilitas budaya organisasi yang akan bergabung dalam sebuah merger seringkali menjadi faktor non ekonomi yang krusial dalam mendukung keberhasilan sebuah proses merger. Sedangkan Pringle dan Harris (1987), dalam bukunya Esentials of Managerial
Finance memandang bahwa kinerja keuangan pada perusahaan hasil merger
merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika dua perusahaan atau lebih akan bergabung.
Kelebihan dan Kekurangan Merger dan Akuisisi
Alasan mengapa perusahaan melakukan merger dan akuisisi adalah ada “manfaat lebih” yang diperoleh dari M&A. Walaupun asumsi ini tidak terbukti sepenuhnya. Secara spesifik, keunggulan dan manfaat merger dan akuisisi antara lain adalah sebagai berikut :
A. Kelebihan Merger
Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana serta lebih murah dibandingkan bentuk pengambilalihan yang lain.
B. Kekurangan Merger
Dibandingkan akuisisi, waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan merger cenderung lebih lama karena dalam merger harus ada persetujuan dari para pemegang saham masing-masing perusahaan, yang tentunya akan memakan waktu lama dalam perundingan untuk meyakinkan mereka tentang manfaat dari merger ini.
14 C. Kelebihan Akuisisi
Keuntungan-keuntungan akuisisi saham dan akuisisi aset adalah sebagai berikut:
a. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara pemegang saham sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran Bidding firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak menjual kepada pihak Bidding firm.
b. Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan langsung dengan pemegang saham perusahaan yang dibeli dengan melakukan tender offer sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen perusahaan.
c. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan yang tidak bersahabat (hostile takeover).
d. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak memerlukan mayoritas suara pemegang saham seperti pada akuisisi saham sehingga tidak ada halangan bagi pemegang saham minoritas jika mereka tidak menyetujui akuisisi.
D. Kekurangan Akuisisi
Kerugian-kerugian akuisisi saham dan akuisisi aset sebagai berikut : a. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui
pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. Pada umumnya anggaran dasar perusahaan menentukan paling sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi.
b. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka terjadi merger.
c. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara hukum dibalik nama sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.
15
Langkah-langkah Merger dan Akuisisi
Dalam proses melakukan merger terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan sebelum, dalam, maupun setelah merger terjadi. Menurut Caves, langkah-langkah yang harus diambil dapat dibagi menjadi tiga bagian (Estanol, B 2004) yaitu:
1. Pre-merger
Pre-merger dalam hal ini merupakan keadaan sebelum merger dimana dalam
tahap ini, tugas dari seluruh jajaran direksi maupun manajemen kedua atau lebih perusahaan untuk mengumpulkan informasi yang kompeten dan signifikan untuk kepentingan proses merger perusahaan-perusahaan tersebut.
2. Merger stage
Pada saat perusahaan-perusahaan tersebut memutuskan untuk melakukan merger, hal yang harus dilakukan oleh mereka untuk pertama kalinya dalam tahapan ini adalah menyesuaikan diri dan saling mengintegrasikan diri dengan partner mereka agar dapat berjalan sesuai dengan partner mereka.
3. Post-merger
Pada tahapan ini, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan. Langkah pertama, yang akan dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan restrukturisasi, dimana dalam merger, sering terjadinya dualisme kepemimpinan yang akan membawa pengaruh buruk dalam organisasi. Langkah kedua, yang akan diambil adalah dengan membangun suatu kultur baru dimana kultur atau budaya baru perusahaan atau dapat juga merupakan budaya yang sama sekali baru bagi perusahaan. Langkah ketiga, yang diambil adalah dengan cara melancarkan transisi, dimana yang harus dilakukan dalam hal ini adalah dengan membangun suatu kerjasama, dalam berupa tim gabungan ataupun kerjasama mutual.
Sedangkan tahapan akuisisi menurut Ronnie H. Rusli (1992) bahwa proses akuisisi harus melalui tahapan sebagai berikut: (1) izin dari pemegang saham antara kedua perusahaan, (2) proses negosiasi yang panjang dan mengikutsertakan
16
akuntan, penasehat hukum, dan investment banker, (3) melakukan pembelian saham yang ada di tangan publik, baik investor minoritas maupun individu, (4) kewajiban atau hutang dari perusahaan target secara otomatis menjadi kewajiban perusahaan yang mengambil alih, (5) peleburan sistem manajemen ke dalam manajemen baru perusahaan yang mengambil alih, (6) proses perizinan mungkin akan lebih kompleks bila kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan publik, dan (7) dana yang dibutuhkan akan semakin besar jumlahnya karena pembelian saham akan bersifat pelelangan dengan tendering.
METODA PENELITIAN
Desain Penelitian
Didalam penelitian ini, digunakan desain penelitian eksploratif-deskriptif dengan pendekatan studi kasus tunggal (single case study) pada perusahaan PT. Semen Indonesia Tbk periode 1990-2014. Menurut Yin (2011) studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tidak tampak secara tegas atau jelas dan menggunakan berbagai sumber atau multi sumber bukti. Spesifikasi masalah yang telah dirumuskan seberapa besar dinamika kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) dengan menggunakan beberapa indikator kinerja keuangan. Penelitian eksploratif adalah penelitian yang bertujuan utama untuk menjelaskan suatu keadaan dan memberikan pemahaman mengenai permasalahan yang dialami oleh peneliti. Penelitian eksploratif dalam penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dan riset data-data publikasi untuk menggali dan mengetahui dinamika kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) dengan menggunakan beberapa indikator kinerja keuangan. Penelitian deskriptif Menurut Indriantoro dan Supomo (1999;88) adalah penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi. Penelitian deskriptif dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kinerja keuangan yang
17
terjadi pada PT. Semen Indonesia Tbk pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012).
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari data keuangan (annual report dan financial report) atas laporan keuangan konsolidasi yang listed di BEI (Bursa Efek Indonesia). Data yang dikumpulkan adalah perkembangan laporan keuangan perusahaan untuk periode tahun 1990 sampai tahun 2014. Data keuangan tersebut diperoleh pusat data Bursa Efek Indonesia (BEI)1 dan situs web seperti www.semenindonesia.com.
Teknik Analisis Data
Analisis laporan keuangan digunakan untuk mengukur kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk dengan indikator-indikator kinerja keuangan yang dipilih berupa:
1) Rasio Likuiditas. Di dalam penelitian ini rasio yang dipakai yaitu Current Ratio dan Free Cash Flow.
a. Current Ratio
Current ratio =
Jika aktiva lancar suatu perusahaan lebih besar dari hutang lancarnya menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan sehat, karena perusahaan mampu melunasi tagihan-tagihan jangka pendek yang dimilikinya dari kreditur dapat dipenuhi.
18 b. Free Cash Flow
Free Cash Flow =
Jika suatu perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak aliran kas dalam proses kegiatan usahanya ke masa depan, maka kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan sehat.
2) Rasio Solvabilitas atau Leverage. Didalam penelitian ini rasio
yang dipakai adalah Debt Ratio dan Debt to Equity Ratio. a. Debt Ratio
Debt Ratio =
Jika total asset perusahaan lebih besar dibandingkan dengan total hutangnya, maka kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan sehat karena perusahaan mampu menjamin hutangnya dengan asset yang dimiliki oleh perusahaan. Jika Debt Ratio suatu perusahaan turun menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin meningkat dengan menurunnya porsi hutang dalam pendanaan aktiva. Dengan semakin kecilnya nilai rasio debt ratio perusahaan menunjukkan bahwa sebagian besar investasi didanai oleh modal sendiri dan mengakibatkan pembayaran bungan yang kecil.
b. Debt to Equity Ratio
Debt to Equity Ratio =
Jika hutang jangka panjang perusahaan lebih besar dari modal yang dimiliki oleh perusahaan, maka kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan tidak sehat karena perusahaan tidak
19
mampu membayar hutang jangka panjangnya dengan menggunakan modal perusahaan sendiri.
3) Rasio Profitabilitas. Didalam penelitian ini rasio yang dipakai adalah Return On Asset dan Return On Equity.
a. Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) =
Jika suatu perusahaan dapat efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional perusahaannya, maka kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan sehat karena perusahaan mampu menghasilkan keuntungan.
b. Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) =
Jika laba bersih suatu perusahaan lebih besar dari total ekuitasnya, maka kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam keadaan sehat karena perusahaan mampu menutupi pengeluaran investasinya dengan menggunakan laba bersih yang dimiliki perusahaan.
20
DINAMIKA KINERJA KEUANGAN
Sejarah Singkat PT. Semen Indonesia Tbk
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, sebelumnya bernama PT Semen Gresik (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri semen. Diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 saham Semen Gresik tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (kini menjadi Bursa Efek Indonesia) serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Komposisi pemegang saham pada saat itu: Negara RI 73% dan masyarakat 27%.
Pada bulan September 1995, Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas I (Right Issue I), yang mengubah komposisi kepemilikan saham menjadi Negara RI 65% dan masyarakat 35%. Pada tanggal 15 September 1995 PT Semen Gresik berkonsolidasi dengan PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa. Total kapasitas terpasang Perseroan saat itu sebesar 8,5 juta ton semen per tahun.
Pada tanggal 17 September 1998, Negara RI melepas kepemilikan sahamnya di Perseroan sebesar 14% melalui penawaran terbuka yang dimenangkan oleh Cemex S. A. de C. V., perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko. Komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51%, masyarakat 35%, dan Cemex 14%. Kemudian tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham berubah menjadi: Pemerintah Republik Indonesia 51,01%, masyarakat 23,46% dan Cemex 25,53%.
Pada tanggal 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham Cemex Asia Holdings Ltd. kepada Blue Valley Holdings PTE Ltd. sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51,01% Blue Valley Holdings PTE Ltd. 24,90%, dan masyarakat 24,09%.
Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTE Ltd, menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi Pemerintah 51,01% dan publik 48,99%.
21
Pada tanggal 18 Desember 2012 Perseroan resmi mengambil alih 70% kepemilikan saham Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC) dari Hanoi General Export-Import Joint Stock Company (Geleximco) di Vietnam, berkapasitas 2,3 juta ton. Aksi korporasi ini menjadikan Perseroan tercatat sebagai BUMN Multinational yang pertama di Indonesia. Dengan akuisisi TLCC tersebut, hingga akhir 2012, kapasitas desain Perseroan menjadi sebesar 28,5 juta ton (26,2 juta ton di Indonesia dan 2,3 juta ton di Vietnam) semen per tahun. Pada tanggal 20 Desember 2012 Perseroan resmi berperan sebagai Strategic Holding Company sekaligus merubah nama, dari PT. Semen Gresik (Persero) Tbk menjadi PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Perseroan telah menetapkan kebijakan-kebijakan mendasar dalam pengelolaan dan pengembangan karyawan, guna menjamin tercapainya visi Perseroan. Semen gresik memiliki kepercayaan besar bahwa karyawan merupakan salah satu unsur yang paling penting dari stakeholder dalam mencapai sebuah keberhasilan perusahaan. Perseroan yakin bahwa setiap karyawan memiliki kapasitas untuk berkontribusi bagi perusahaan. Semen Gresik berusaha untuk membina hubungan yang lebih baik di semua tingkat staf dan manajemen perusahaan untuk saling bekerja sama dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam rangka membantu semua divisi dalam mempertahankan pangsa pasar dan profitabilitas di pasar yang semakin kompetitif.
Visi dan Misi Perusahaan
PT. Semen Indonesia Tbk dalam menjalankan operasionalnya untuk mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan pendirian perseroan, maka PT. Semen Indonesia Tbk mempunyai visi dan misi yang jelas.
Visi PT. Semen Indonesia Tbk
Menjadi perusahaan semen bertaraf internasional yang tekermuka dan mampu meningkatkan nilai tambah kepada para pemangku kepentingan
22
Misi PT. Semen Indonesia Tbk:
a. Memproduksi, memperdagangkan semen dan produk terkait lainnya yang berorientasikan kepuasan konsumen dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.
b. Mewujudkan manajemen perusahaan yang berstandar internasional dengan menjunjung tinggi etika bisnis, semangat kebersamaan, dan bertindak proaktif, efisien serta inovatif dalam berkarya.
c. Memiliki keunggulan bersaing dalam pasar semen domestik dan internasional.
d. Memberdayakan dan mensinergikan unit-unit usaha strategik untuk meningkatkan nilai tambah secara berkesinambungan.
e. Memiliki komitmen terhadap peningkatan kesejahteraan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama pemegang saham, karyawan dan masyarakat sekitar.
Kegiatan Usaha
Sesuai dengan misi dan akta pendiriannya, kegiatan perseroan dimaksudkan mencakup:
a. Produksi
Menambang dan/atau menggali dan/atau mengolah bahan-bahan mentah tertentu menjadi bahan-bahan pokok yang diperlukan guna pembuatan semen, mengolah bahan-bahan pokok tersebut menjadi berbagai macam semen (semen Portland, semen putih dan lain sebagainya) serta mengolah berbagai macam semen itu lebih lanjut menjadi barang-barang jadi yang lebih bermanfaat.
b. Pemberian Jasa
Memberi jasa untuk industri semen, antara lain studi penelitian, pengembangan, rancang bangun perekayasaan industri, konstruksi, manajemen, pengoperasian pabrik pergudangan dan angkutan, reparasi/perbaikan, pemeliharaan peralatan, pabrikasi alat-alat,
23
konsultasi kecuali konsultasi dalam bidang hukum, dan jasa teknis lainnya.
c. Perdagangan
Menyelenggarakan kegiatan pemasaran dan distribusi berbagai macam semen serta barang-barang hasil produksi lainnya atau barang-barang yang menggunakan semen sebagai bahan pokok dengan cara-cara dan/atau jalan-jalan tertentu serta melakukan kegiatan-kegiatan perdagangan baik dalam maupun luar negeri. d. Usaha Lainnya
Melakukan kegiatan usaha atau usaha jasa lainnya yang merupakan sarana pelengkap atau penunjang guna mencapai tujuan perseroan.
PEMBAHASAN HASIL ANALISIS RASIO DAN TREND KEUANGAN
Perusahaan PT. Semen Indonesia ini berdiri pada tahun 1955 dan kemudian menjadi perusahaan go public pertama di Indonesia pada tahun 1991. Perusahaan yang bergerak dibidang industri semen ini menjadi perusahaan bidder pada tahun 1995 saat mengakuisisi PT. Semen Tonasa dan PT. Semen Padang dan juga mengakuisisi perusahaan luar negeri yaitu Thang Long Cement pada tahun 2012. Perusahaan juga pernah menjadi perusahaan target pada tahun 1998 yang kala itu diakuisisi oleh CEMEX.
Untuk mengungkap kinerja keuangan PT. Semen Indonesia Tbk pada periode 1990-2014 yang ditandai oleh dua tonggak bersejarah sebagai perusahaan
target (1998) dan sebagai perusahaan bidder (2012), maka diperlukan
24
Analisis Rasio Likuiditas
Gambar 1
Hasil Perhitungan Current Ratio
Sumber: Lampiran 1
Berdasarkan gambar 1, kondisi current ratio perusahaan mulai mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2006 mencapai 284% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan nilai aset lancar sebesar Rp. 4,2 milyar dan hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 1,5 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Peningkatan ini terjadi karena pada tahun tersebut Cemex menjual saham perusahaan kepada Blue Valley yang mempengaruhi aset lancar perusahaan, sehingga perusahaan dapat melunasi hutang jangka pendeknya oleh kreditur dapat dipenuhi.
126% 171% 0% 100% 200% 300% 400% 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
25
Gambar 2
Hasil Perhitungan Current Ratio (Tahun 1998 dan 2012)
Sumber: Lampiran 2
Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)
menunjukkan bahwa presentase current ratio perusahaan terus mengalami penurunan, dimana di akhir tahun nilai current ratio perusahaan sebesar 126% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan aset lancar sebesar Rp. 1,4 milyar dan hutang jangka pendek sebesar Rp. 1,1 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Sedangkan trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa presentase current ratio perusahaan mengalami naik-turun sepanjang tahun dengan nilai current ratio akhir tahun sebesar 171% (lihat lampiran 1, tabel 1) dengan aset lancar sebesar Rp. 8,2 milyar dan hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 4,9 milyar (lihat lampiran 1, tabel 1). Jika dilihat dari trend keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa perusahaan dapat melunasi tagihan-tagihan hutang jangka pendek yang dimilikinya dari kreditur dapat dipenuhi karena besarnya aset perusahaan. 219% 199% 187% 238% 178% 256% 0% 100% 200% 300% 400% 500%
Maret Juni September
26
Analisis Rasio Solvabilitas
Gambar 3
Hasil Perhitungan Debt Ratio
Sumber: Lampiran 3
Berdasarkan gambar 3, nilai debt ratio perusahaan paling rendah pada tahun 1991 dengan presentase 2% (lihat lampiran 3, tabel 3 ) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 15,8 juta dan total aset sebesar Rp. 661 juta (lihat lampiran 3, tabel 3). Sedangkan peningkatan debt ratio perusahaan di mulai pada tahun 1996 sebesar 41% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 1,8 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 4,2 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Nilai debt ratio perusahaan kembali mengalami penurunan pada tahun 2006, dimana pada saat itu Cemex menjual sahamnya kepada Blue Valley sehingga mempengaruhi trend keuangan perusahaan. Dimana pada tahun 2006, presentase debt ratio perusahaan sebesar 26% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang sebesar Rp. 2 milyar dan total aset sebesar Rp. 7,5 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3).
59% 32% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
27
Gambar 4
Hasil Perhitungan Debt Ratio (Tahun 1998 dan 2012)
Sumber: Lampiran 4
Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)
menunjukkan presentase debt ratio yang naik-turun sepanjang tahun tersebut dengan presentase akhir tahun sebesar 59% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang perusahaan sebesar Rp. 4,2 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 7,1 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) trend keuangan perusahaan menunjukkan angka presentase debt ratio mengalami naik-turun juga dengan presentase akhir tahun sebesar 32% (lihat lampiran 3, tabel 3) dengan total hutang sebesar Rp. 8,5 milyar dan total aset sebesar Rp. 27 milyar (lihat lampiran 3, tabel 3). Selisih total hutang perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,3 milyar dan selisih total aset sebesar Rp. 19,9 milyar. Jika dilihat dari trend keuangan pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa perusahaan mampu menjamin hutang yang dimilikinya dengan aset yang dimiliki oleh perusahaan.
58% 68% 64%
27% 22% 28%
0% 50% 100%
Maret Juni September
28
Gambar 5
Hasil Perhitungan Debt Equity Ratio
Sumber: Lampiran 5
Berdasarkan gambar 5, menunjukkan bahwa nilai debt equity ratio perusahaan mulai mengalami kenaikan pada tahun 1996 dengan angka 71% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 845 juta, hutang jangka panjang sebesar Rp. 900 juta, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2.5 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Peningkatan ini terjadi akibat adanya ekspansi nasional yang dilakukan oleh perusahaan yaitu pada tahun 1995 perusahaan mengakuisisi PT. Semen Tonasa dan PT. Semen Padang sehingga mempengaruhi pertumbuhan nilai debt equity ratio perusahaan pada tahun 1996. Sedangkan peningkatan yang sangat signifikan terjadi pada tahun 1998 dimana pada saat itu perusahaan diakuisisi oleh Cemex dengan nilai presentase debt
equity ratio 162% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar
Rp. 1,1 milyar, hutang jangka panjang sebesar Rp. 3,1 milyar, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2,6 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Sedangkan penurunan terjadi pada tahun 2006 dengan presentase debt equity ratio sebesar 35% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 2 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 5,5 milyar. Penurunan ini terjadi karena pada tahun tersebut perusahaan tidak lagi memiliki hutang jangka panjang karena sudah dilunasi pada tahun sebelumnya.
162% 46% 0% 50% 100% 150% 200% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
29
Gambar 6
Hasil Perhitungan Debt Equity Ratio (Tahun 1998 dan 2012)
Sumber: Lampiran 6
Trend keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan target pada tahun
1998 menunjukkan presentase debt equity ratio pada akhir tahun mengalami penurunan sebesar 51% menjadi 162% (lihat lampiran 5, tabel 5) dengan hutang jangka pendek sebesar Rp. 1,1 milyar, hutang jangka panjang sebesar Rp. 3,1 milyar, dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 2,6 milyar (lihat lampiran 5, tabel 5). Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan pada tahun tersebut termasuk dalam keadaan tidak baik karena total hutang yang dimiliki oleh perusahaan lebih besar daripada modal yang dimiliki oleh perusahaan yang berarti perusahaan tidak mampu membayar hutang jangka panjangnya dengan menggunakan modal perusahaan sendiri. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa debt equity ratio perusahaan mengalami naik-turun sepanjang tahun tersebut dimana pada akhir tahun debt equity ratio perusahaan sebesar 46% (lihat lampiran 5, tabel 5) naik 8% dari bulan September. Pada tahun tersebut hutang jangka pendek perusahaan sebesar Rp. 8,4 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 18,2 milyar (lihat lamnpiran 5, tabel 5). Dengan besarnya modal perusahaan dibandingkan hutang jangka pendek perusahaan, menandakan bahwa kondisi keuangan perusahaan saat menjadi perusahaan bidder (2012) dalam keadaan baik yang berarti perusahaan mampu membayar hutang yang dimilikinya dengan
165% 247% 213% 37% 51% 38% 0% 100% 200% 300% 400%
Maret Juni September
30
menggunakan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Selisih hutang jangka pendek perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 7,4 milyar dan modal yang dimiliki oleh perusahaan sebesar Rp. 15,6 milyar.
Analisis Rasio Profitabilitas
Gambar 7
Hasil Perhitungan Return On Asset
Sumber: Lampiran 7
Berdasarkan gambar 7, menunjukkan bahwa presentase return on asset perusahaan mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada tahun 1990 sebesar 43% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih sebesar Rp. 166 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 382 juta (lihat lampiran 7, tabel 7). Penurunan return on asset perusahaan terjadi pada tahun 1991 sebesar 30% menjadi 13% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 85 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 661 juta (lihat lampiran 7, tabel 7). Penurunan return on asset perusahaan ini terjadi karena pada tahun tersebut perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan menjadi perusahaan BUMN pertama yang menjadi perusahaan go public sehingga dapat mempengaruhi kondisi return on asset perusahaan dengan total aset perusahaan yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
3% 19% 0% 10% 20% 30% 40% 50%
31
Gambar 8
Hasil Perhitungan Return On Asset (Tahun 1998 dan 2012)
Sumber: Lampiran 8
Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)
menunjukkan bahwa return on asset perusahaan pada akhir tahun sebesar 3% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih perusahaan sebesar Rp. 222 juta dan total aset perusahaan sebesar Rp. 7,1 milyar (lihat lampiran 7, tabel 7). Hal ini mengakibatkan kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan tidak baik. Perusahaan tidak mampu menghasilkan keuntungan karena perusahaan tidak bijaksana dalam memanfaatkan asetnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan bahwa nilai return on asset perusahaan mengalami peningkatan sepanjang tahun tersebut dimana nilai return on asset perusahaan naik 4% menjadi 19% (lihat lampiran 7, tabel 7) dengan laba bersih sebesar Rp. 5 milyar dan total aset perusahaan sebesar Rp. 27 milyar (lihat lampiran 7, tabel 7). Hal ini menandakan bahwa kondisi keuangan perusahan dalam keadaan baik. Perusahaan mampu menghasilkan keuntungan karena perusahaan bijaksana dalam memanfaatkan asetnya dalam kegiatan operasional perusahaan. Selisih laba bersih perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,8 milyar dan selisih total aset sebesar Rp. 19,9 milyar.
1% 2% 3% 5% 9% 15% 0% 5% 10% 15% 20%
Maret Juni September
32
Gambar 9
Hasil Perhitungan Return On Equity
Sumber: Lampiran 9
Berdasarkan gambar 9, menunjukkan bahwa return on equity perusahaan tertinggi pada tahun 1990 dengan angka 55% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 166 juta dan jumlah modal perusahaan sebesar Rp. 301 juta (lihat lampiran 9, tabel 9). Penurunan return on equity perusahaan pada tahun 1991 mencapai 42% menjadi 13% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 84 juta dan total modal perusahaan sebesar Rp. 645 juta 9lihat lampiran 9, tabel 9). Penurunan ini terjadi saat perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia dan menajdi BUMN pertama yang go public.
9% 27% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
33
Gambar 10
Hasil Perhitungan Return On Equity (Tahun 1998 dan 2012)
Sumber: Lampiran 10
Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)
menunjukkan bahwa return on equity perusahaan sebesar 9% (lihat lampiran 9,tabel 10) dengan laba bersih Rp. 222 juta dan total modal sebesar Rp. 2.6 milyar (lihat lampiran 9, tabel 9). Hal ini menandakan bahwa perusahaan tidak mampu mengembalikan modal yang diberikan oleh pemilik. Hal ini juga terjadi akibat pada tahun tersebut perusahaan memasuki masa-masa sulit sehingga mempengaruhi nilai return on equity ratio perusahaan. Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) nilai return on equity perusahaan naik sebesar 6% menjadi 27% (lihat lampiran 9, tabel 9) dengan laba bersih sebesar Rp. 5 milyar dan total modal sebesar Rp. 18,2 milyar (lihat lampiran 9, tabel 9). Dengan demikian, kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan baik karena perusahaan mampu mengembalikan modal yang diberikan oleh pemilik. Selisih laba bersih perusahaan saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) sebesar Rp. 4,8 milyar dan selisih total modal sebesar Rp. 15,6 milyar. 1% 5% 9% 6% 14% 21% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35%
Maret Juni September
34
Analisis Free Cash Flow
Gambar 11
Hasil Perhitungan Free Cash Flow
Sumber: Lampiran 11
Trend keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998)
menunjukkan bahwa nilai free cash flow perusahaan sebesar Rp. 1,6 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11) dengan arus kas operasi perusahaan sebesar Rp. 102 juta dan belanja modal perusahaan sebesar Rp. 1,4 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11). Sedangkan pada saat perusahaan menjadi perusahaan bidder (2012) menunjukkan nilai free cash flow perusahaan sebesar Rp. 10,4 milyar (lihat lampiran 11, tabel 12) dengan arus kas operasi sebesar Rp. 5.6 milyar dan belanja modal perusahaan sebesar Rp. 4,8 milyar (lihat lampiran 11, tabel 11). Hal ini menandakan bahwa kondisi keuangan perusahaan pada saat menjadi perusahaan target (1998) dan perusahaan bidder (2012) dalam keadaan baik yang berarti perusahaan mampu untuk menghasilkan lebih banyak aliran kas dalam proses kegiatan usahanya ke masa depan. 1.515.911.904 10.366.138.761 - 2.000.000.000 4.000.000.000 6.000.000.000 8.000.000.000 10.000.000.000 12.000.000.000 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
35
PENUTUP
KESIMPULAN
Tahun 1998
Kondisi keuangan perusahaan dalam keadaan sehat atau tidak mengalami kesulitan keuangan. Hal ini didasarkan karena total aset perusahaan lebih besar dibandingkan dengan total hutang perusahaan sehingga perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya dengan tepat waktu. Hal ini juga dikarenakan pada tahun tersebut perusahaan diakuisisi oleh CEMEX sehingga dapat memperbaiki kondisi keuangan perusahaan.
Jika melihat pada nilai debt ratio perusahaan total hutang perusahaan mengalami penurunan pada akhir tahun, sehingga mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan. Menurunnya debt
ratio perusahaan menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan pada tahun tersebut dalam keadaan sehat karena perusahaan mampu membayarkan hutang jangka panjangnya dengan menggunakan aset yang dimiliki oleh perusahaan.
Nilai debt equity ratio perusahaan termasuk dalam kategori tidak sehat atau perusahaan mengalami kondisi kesulitan keuangan karena total hutang yang dimiliki oleh perusahaan lebih besar dibandingkan dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan sehingga kondisi keuangan perusahaan terpuruk dan mempengaruhi kegiatan operasional perusahaan. Hal ini menandakan bahwa CEMEX belum bisa memberikan dampak yang positif terhadap nilai debt equity ratio perusahaan.
Penurunan laba bersih, total modal perusahaan, dan total aset perusahaan menempatkan perusahaan pada tahun tersebut dalam kondisi kesulitan keuangan atau tidak sehat.
Perusahaan memiliki ketersediaan uang/kas untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.
36
Tahun 2012
Keputusan perusahaan untuk mengakuisisi Thang Long Cement sangat tepat karena memberikan dampak yang positif bagi perusahaan. Hal ini dapat dilihat pada aset lancar, total aset, laba bersih, dan modal perusahaan yang terus meningkat meskipun total hutang perusahaan juga meningkat, tetapi perusahaan tetap bisa membayar hutangnya dengan menggunakan aset yang dimiliki.
Dengan mengakuisisi Thang Long Cement perusahaan memiliki ketersediaan uang/kas yang baik dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan.
SARAN
Dengan menekan beban bunga dengan jalan mengurangi hutang pada pihak ketiga maupun hutang jangka panjang yang jatuh tempo dapat membantu perusahaan untuk memenuhi hutang jangka pendek dan jangka panjangnya sehingga perusahaan dapat keluar dari kondisi kesulitan keuangan.