• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

4.3.1 Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar

Dalam mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar, peneliti memeriksa hasil tes diagnostik, selanjutnya menentukan siswa yang

mengalami kesulitan belajar berdasarkan ketercapaian nilai tes diagnostik dengan batas nilai KKM yang ditetapkan sekolah (nilai<70).

Berikut ini adalah hasil jawaban dan keterangan ketuntasan siswa. Tabel 4.6 Hasil nilai dan ketuntasan tes diagnostik

No Subyek Skor Total Nilai Kriteria Ketuntasan 1. S1 15 50 Tidak tuntas 2. S2 11 36,67 Tidak tuntas 3. S3 23 76,67 Tuntas 4. S4 5. S5 15 50 Tidak tuntas 6. S6 13 43,33 Tidak tuntas 7. S7 21 70 Tuntas 8. S8 13 43,33 Tidak tuntas 9. S9 18 60 Tidak tuntas 10. S10 11 36,67 Tidak tuntas 11. S11 14 46,67 Tidak tuntas 12. S12 25 83,33 Tuntas 13. S13 23 76,67 Tuntas 14. S14 20 66,67 Tidak tuntas 15. S15 19 63,33 Tidak tuntas 16. S16 8 26,67 Tidak tuntas 17. S17 20 66,67 Tidak tuntas 18. S18 16 53,33 Tidak tuntas 19. S19 21 70 Tuntas 20. S20 21 70 Tuntas 21. S21 15 50 Tidak tuntas 22. S22 19 63,33 Tidak tuntas 23. S23 14 46,67 Tidak tuntas 24. S24 13 43,33 Tidak tuntas 25. S25 21 70 Tuntas 26. S26 11 36,67 Tidak tuntas 27. S27 21 70 Tuntas 28. S28 13 43,33 Tidak tuntas 29. S29 14 46,67 Tidak tuntas 30. S30 18 60 Tidak tuntas 31. S31 28 93,33 Tuntas 32. S32 21 70 Tuntas 33. S33 19 63,33 Tidak tuntas 34. S34 13 43,33 Tidak tuntas

Dari tabel 4.6, ada 23 siswa yang tidak tuntas dan 10 siswa yang tuntas. Sebanyak 23 siswa yang tidak tuntas tersebut, digolongkan ke dalam siswa yang mengalami kesulitan belajar dan wajib mengikuti pengajaran dan tes remediasi.

4.3.2 Identifikasi masalah

1. Kategori jenis kesalahan siswa

Berdasarkan hasil analisis dari tes diagnostik, diperoleh beberapa bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa, yaitu penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat, penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat, tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal, kesalahan mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika, kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan, kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan, kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan, kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan, penyelesaian tidak dikerjakan atau proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan, kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir dan tidak menentukan jawaban akhir.

Dari bentuk-bentuk kesalahan diatas, kemudian digolongkan ke dalam jenis-jenis kesalahan Newman. Hal ini bertujuan untuk

mempermudah dalam menentukan jenis-jenis kesulitan belajar siswa. Berikut ini adalah tabel pengelompokan jenis-jenis kesalahan siswa.

108 Tabel 4.7 Pengelompokan jenis-jenis kesalahan menurut Teori Newman

No Jenis Kesalahan Bentuk kesalahan yang dibuat siswa

Subyek yang melakukan Kesalahan pada Soal

1 2 3

1. Kesalahan Membaca

(Reading erors) Tidak ada

Berdasarkan hasil wawancara dengan peneliti, dari 33 siswa, semua dapat membaca kata-kata penting atau simbol yang disampaikan di dalam soal.

2. Kesalahan dalam pemahaman

(Reading Comprehesion difficulty)

a. Penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat.

S8,S16,S18,S32 S3, S8, S14,S16, S17, S18, S20, S23,

S26, S27,S28, S29, S33, S34 b. Penulisan hal yang

ditanyakan dalam soal kurang tepat.

S29

c. Tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal.

S16 S10, S14 Jumlah Siswa 5 1 15 3. Kesalahan transformasi (Transform error) Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika. (memodelkan) S2, S3, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S13, S14, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23, S24, S25, S26, S27, S28, S29, S30, S31, S32, S33, S34 S1, S2, S3, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S13, S14, S15, S16, S17, S18, S19, S20, S21, S22, S23, S24, S25, S26, S27, S28, S29, S32, S33, S34 Jumlah Siswa 30 0 31

4. Kesalahan dalam proses (Weakness in process skill) a. Kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan S2, S6, S8, S10, S15, S16, S18, S21, S23, S24, S26, S28, S29, S6, S22, S23, S28, S29, S30, S34

109 dengan bilangan. S34 b. Kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan. S5, S8, S16, S26 c. Kesalahan dalam mensubtitusi nilai ke persamaan. S1, S2, S5, S6, S8, S9, S10, S11, S14, S15, S18, S21, S23, S24, S26, S28, S29, S30, S33 d. Kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan. S1, S24 e. Penyelesaian tidak dikerjakan atau Proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan S1, S5, S11, S30 S2 Jumlah Siswa 0 21 14 5. Kesalahan penulisan jawaban akhir (Encoding error) a. Kesalahan dalam menentukan kesimpulan jawaban akhir. S3, S6, S8 S1, S2, S5, S8, S10, S11, S14, S18, S24, S28, S30, S33 S2, S3, S7, S9, S12, S13, S14, S18, S21, S24, S27, S28, S30, S32, S33, S34 b. Tidak menentukan kesimpulan jawaban akhir. S16, S26, S29 S1, S2, S6, S8, S10, S15, S16, S17, S19, S22, S23, S25, S26, S29 Jumlah Siswa 3 15 29

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh bahwa pada soal nomor 1 sebanyak 5 atau 15,15% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Comprehesion), sebanyak 30 atau 90,91% siswa melakukan jenis kesalahan transformasi (Transform Erors) dan sebanyak 3 atau 9,09% siswa melakukan jenis kesalahan penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors). Pada soal nomor 2 sebanyak 1 atau 3,03% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Erors), sebanyak 21 atau 63,64% siswa melakukan jenis kesalahan keterampilan proses (Weakness in Process Skill), dan sebanyak 15 atau 48,48% siswa melakukan jenis kesalahan penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors). Pada soal nomor 3 sebanyak 15 atau 48,48% siswa melakukan jenis kesalahan pemahaman (Reading Comprehesion), sebanyak 31 atau 93,94% siswa melakukan jenis kesalahan transformasi (Transform Erors), sebanyak 14 atau 42,43% siswa melakukan kesalahan keterampilan proses (Weakness in Process Skill) dan sebanyak 29 atau 87,88% siswa melakukan kesalahan dalam penulisan jawaban akhir (Ecoding Erors).

b. Kategori jenis-jenis kesulitan belajar siswa

Dari hasil tes diagnostik dan wawancara diperoleh kesulitan yang dialami siswa dalam materi penerapan persamaan linear satu variabel. Penggolongan jenis kesulitan belajar diperoleh dari analisis jenis

kesalahan dalam mengerjakan tes yang dikaitkan dengan konsep, keterampilan dan pemecahan masalah. Berikut ini adalah beberapa kesulitan yang dialami siswa yang ditinjau melalui hasil tes diagnostik dan wawancara:

1) Kesulitan memahami maksud soal

Ada beberapa siswa yang merasa kesulitan dalam memahami maksud soal.

Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa mengalami kesalahan dalam menuliskan hal yang ditanyakan dalam soal. Menurut teori Newman (Bab II) bentuk kesalahan ini dapat digolongkan ke dalam jenis kesalahan dalam pemahaman soal. Jenis kesalahan ini berkaitan dengan pemahaman konsep, sehingga dapat dikatakan sebagai kesulitan dalam memahani maksud soal. Kesalahan ini, banyak ditemukan pada soal nomor 1 dan nomor 3. Hal ini dibuktikan melalui banyaknya persentase kesalahan yang dilakukan siswa secara berurutan yaitu 15,15% dan 48,49%. Berikut ini, adalah hasil transkrip wawancara yang diungkapkan salah satu subyek wawancara:

P :”Haloo...nama panggilannya siapa?”

S17 :”...”

P :”Nah ..., kan kemarin udah ngerjain to soal nomor

stau, dua dan tiga. Nah dari ketiga soal tersebut, yang paling sulit yang

mana?”

S17 :”Sebenarnya itu gak ada tapi bingung”

P :”Bingungnya?”

S17 :”Memahami soalnya”

P :”Oooh...okee”

Berdasarkan hasil wawancara dari 33 siswa, sebanyak 14 siswa mengalami kesulitan dalam memahami maksud soal. Kesulitan dalam memahami maksud soal dapat dilihat melalui kesalahan siswa pada saat menuliskan dengan kurang tepat hal yang diketahui atau pun hal yang ditanyakan dari soal.

2) Kesulitan dalam memodelkan (Mengubah informasi soal ke dalam model matematika)

Sebagian besar siswa mengalami kesalahan dalam memodelkan soal ke dalam kalimat matematika.

Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa melakukan kesalahan dalam mengubah informasi yang diberikan dalam soal ke dalam model matematika. Siswa mengalami kebingungan dalam menuliskan model matematika yang tepat karena kurang

menguasai konsep dasar materi persamaan linear satu variabel. Kesalahan ini banyak ditemukan pada soal nomor 1 dan 3, banyaknya siswa yang mengalami kesalahan secara berurutan yaitu 90,91% dan 93,94%. Jenis kesalahan ini berkaitan dengan pemahaman konsep, sehingga dapat dikatakan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan model matematika.

Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara dengan subyek yang mengalami kesulitan dalam memodelkan :

P :”Nomor tiga...Okee... Nah tanya yang nomor satu dulu.

Nah kenapa kamu bisa menjawab x plus dua min x dari mana?”

S14 :”Karena Susi mempunyai dua terus Donanya x terus sama

ininya x” (Sambil menunjuk)

P :”Okee...Nah gini ya. Nah kan yang ditanyakan apa? Model

matematika dari banyaknya ayam Su..?”

S14 :”..Susi”

P :”Nah...dilihat ini (Sambil menunjuk) Sedangkan Susi

mempunyai ayam dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona. Nah

banyaknya ayam Dona tadi apa? Diketahui apa dari sini?” (Sambil

menunjuk)

S14 :”x..”

P :”Berarti dua ekor kurang dari banyaknya ayam Dona sama

dengan x min du..?”

S14 :”...Dua”

P :”Du..aa. Gitu ya”

S14 :”Iyaa..”

Berdasarkan hasil wawancara di atas, subyek tampak bingung dalam menerjemahkan bahasa ke dalam model matematika. Sebanyak 33 siswa atau semua siswa mengalami kesulitan dalam membuat model matematika.

Ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam keterampilan proses soal, hal ini dibuktikan dengan beberapa kesalahan yang dilakukan siswa:

i) Kesalahan dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan

Berdasarkan hasil pekerjaan siswa di atas, siswa melakukan kesalahan dalam menjumlahkan dengan 4. Hal ini dikarenakan siswa kurang teliti dan cermat dalam menentukan hasil penjumlahan. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara yang diungkapkan salah satu subyek wawancara:

P :”Nah, yang nomor dua, kok kamu bisa menjawab 6x dari

mana?”

S6 :”ehmnnn....”

P :”apakah x ditambah 3 ditambah 2x ditambah x, begitu?”

S6 :”iyaaa...”

P :”nah sebenarnya jika variabel dijumlahkan dengan

bilangan hasilnya tetap ya, misalnya tiga ditambah x hasilnya bukan tiga x tapi tetap 3 ditambah x kecuali jika perkalian 3 dikali

x hasilnya menjadi tiga x “(sambil menjelaskan dengan menulis)

S6 :”iyaa”

Berdasarkan hasil wawancara dari 33 siswa, sebanyak 15 siswa mengalami kesalahan dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan.

ii) Kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan.

Berdasarkan hasil pekerjaan di atas, siswa melakukan kesalahan dalam mensubstitusi hasil nilai ke dalam persamaan. Siswa mensubstitusi nilai ke dalam

persamaan dan dengan mengganti

tanda hubung penjumlahan dengan perkalian. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara terhadap subyek yang mengalami kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke dalam persamaan:

P :”Okee. Yang nomor dua ini kamu udah benar yang

diketahui ditanya dan ini cara kamu udah benar variabel ditambah variabel ditambah variabel, bilangan ditambah bilangan ditambah bilangan. Nah tapi sampai ini, kenapa jadi tiga dikali dua (sambil menunjuk). Mengapa ndak langsung kamu tambah dua, kan

persamaannya x ditambah tiga kenapa menjadi x dikali tiga setelah

disubstitusikan?”

S9 :”(Diam sejenak)”

P :”Masih bingung dalam menstubtitusi atau gimana?

S9 :”Iya..bu”

P :” Kalau yang itu seharusnya tiga ditambah dua (sambil menunjuk), nah kalau ini baru dikali (sambil menunjuk) 2 dikali satu. Gitu, sekarang udah paham ya, kalau seumpama ada

persamaan gini (sambil menunjuk) disubstitusi tanda tambah tidak bergamti kali, tetep penjumlahan. Okee yang nomor tiga, kamu kok

bisa menjawab lima dikali x sama dengan seratus lima?”

S9 :”Hhmnn..”

Berdasarkan hasil wawancara sebanyak 33 siswa, ada 18 siswa yang mengalami kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan.

iii) Kesalahan dalam melakukan operasi pada bilangan (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian).

Berdasarkan hasil pekerjaan siswa di atas, diperoleh bahwa siswa mengalami kesalahan dalam melakukan operasi perkalian bilangan. Kurang tepat bahwa dikali dikali hasilnya adalah . Berikut ini adalah bukti wawancara subyek yang mengalami kesalahan dalam melakukan operasi pada bilangan:

P :”Terus ini aku mau tanya, kok ini (sambil menunjuk) bisa

sama dengan x?”

S8 :”ehmnn...”

P :”Hayoo darimana?

P :”Nah...inget ya ini perkalian bukan pembagian”

S8 :”Iyaa...bu”

Berdasarkan hasil wawancara diatas, siswa tampak kurang cermat dan teliti dalam melakukan perhitungan pada operasi perkalian bilangan. Sebanyak 6 siswa mengalami kesalahan dalam melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian atau perkalian bilangan.

Berdasarkan pemaparan kesalahan keterampilan proses di atas, diperoleh sebanyak 63,64% siswa melakukan kesalahan pada soal nomor 2 dan sebanyak 42,43% siswa melakukan kesalahan pada soal nomor 3.

4.3.3 Identifikasi Penyebab Kesulitan Belajar 1. Berdasarkan hasil pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dan guru matematika (kelas VIII dan IX) ada beberapa penyebab kesulitan belajar siswa, yaitu:

a. Dalam segi emosional siswa kurang berani mengemukakan pendapat

Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat. Misalnya guru bertanya kepada siswa, sebagian siswa kurang berani menjawab pertanyaan tersebut. Siswa akan menjawab nya jika guru menunjuk siswa tersebut.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang berani mengemukakan pendapat sebanyak 22,73%, pada pengamatan kedua sebanyak 21,21% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 25,76% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 23,23%. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal, siswa sangat kurang berani dalam mengemukakan pendapat. b. Dalam segi emosional siswa kurang termotivasi dalam belajar

Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang termotivasi dan semangat dalam belajar. Hal ini dapat dilihat melalui keaktifan rasa ingin tahu yang besar terhadap materi.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang termotivasi dalam proses belajar sebanyak 46,97%, pada pengamatan kedua sebanyak 51,52% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 43,94% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 47,48%. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa Siswa sangat kurang motivasi dalam proses pembelajaran.

Dari pengamatan sebanyak tiga kali, siswa kurang berani dalam bertanya. Padahal, pada saat mengerjakan soal, banyak siswa masih kebingungan dalam memahami maksud soal, memodelkan sampai menyelesaikannya. Siswa enggan bertanya kepada guru maupun kepada teman yang sudah paham.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang aktif bertanya sebanyak 9,09%, pada pengamatan kedua sebanyak 12,12% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 15,15% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 12,12%. Persentase ini berada dibawah 50%,. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa siswa secara klasikal sangat kurang aktif dalam bertanya. d. Dalam segi sikap siswa kurang memperhatikan guru

Dari pengamatan sebanyak tiga kali ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi pelajaran. Misalnya mengobrol dengan teman sebangku, mengajak teman untuk bermain.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang memperhatikan guru sebanyak 77,27%, pada pengamatan kedua

sebanyak 92,42% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 90,91% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 86,87%.

e. Dalam segi sikap siswa kurang aktif dalam memecahkan masalah Dari pengamatan sebanyak tiga kali ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam memecahkan masalah. Sebagai contoh pada saat guru memberikan soal untuk dipecahkan di kelas, ada beberapa siswa yang menunggu instruksi guru dan menunggu ditunjuk ke depan kelas.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa yang aktif dalam memecahkan masalah sebanyak 25,76%, pada pengamatan kedua sebanyak 50% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 43,94% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 39,9%. Persentase ini berada dibawah 50%,. Persentase ini berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal siswa-siswi sangat kurang berani dalam mengemukakan pendapat.

f. Dalam segi sikap siswa kurang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat

Dari pengamatan sebanyak tiga kali, kurang dari 50% siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Hal ini dapat dilihat melalui pengerjaan siswa ke depan kelas, maupun pengerjaan di buku latihan siswa.

Hal ini dapat dibuktikan melalui hasil pengamatan secara terstruktur bahwa pada pengamatan pertama siswa kurang dapat menjawab pertanyaan dengan tepat sebanyak 40,91%, pada pengamatan kedua sebanyak 36,36% dan pada pengamatan ketiga sebanyak 33,33% atau dapat dikatakan bahwa rata-rata ketuntasan belajar klasikal pada indikator ini adalah 39,9%. Persentase berada dibawah 50%, sehingga dapat dikatakan bahwa secara klasikal siswa-siswi siswa sangat kurang berani dalam menjawab pertanyaan dengan tepat.

Berdasarkan hasil analisis data skor aktivitas fisik dan emosional siswa secara keseluruhan diperoleh bahwa, rata-rata skor aktivitas fisik siswa adalah dan rata-rata skor aktivitas emosional siswa adalah . Sehingga diperoleh bahwa rata-rata skor aktivitas emosional siswa lebih rendah dari pada skor aktivitas sikap.

2. Berdasarkan hasil wawancara 1) Faktor Internal

a) Cara belajar siswa

Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, ada dua jenis kesalahan dalam cara belajar siswa:

i) Siswa belajar hanya buka-buka buku catatan

Cara belajar siswa yang kurang tepat yaitu, membuka- buka buku catatan tanpa membaca, memahami dan latihan. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara:

P :”Terus mau tanya lagi. Kalau di kelas kamu paham

enggak apa yang dijelaskan guru?”

S19 :”Ada yang paham, ada yang enggak..hehehe”

P :”Oooh..okee..Terus misalnya kamu dapat nilai

jelek, orang tua mu komentar ndak?”

S19 :”Ya, cuma suruh belajar”

P :”Terus kamu belajar?”

S19 :”Enggak..hehehe”

P :”Hahaha”

S19 :”Lha Cuma raketan mbukak mbukak buku kono.

Kulo nggeh namung mbukak buku gitu”

P :”Cuma buka-buka, ndak dipelajari?”

S19 :”Enggak..hehehe”

P :”Okee...misalnya besok ada matematika, kamu

malemnya belajar ndak?”

S19 :”Enggak”

ii) Siswa belajar jika ada ulangan

Berdasarkan hasil wawancara, ada beberapa subyek yang belajar jika ada ulangan atau PR. Cara belajar seperti ini kurang efektif, karena sebagian materi yang sudah di pelajari akan lupa, mengingat waktu belajar yang kurang terencana. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

P:”Misalnya besok ada matematika, kamu malemnya belajar

enggak?”

S21:”Nggeh nek wonten PR..(Yaa kalau ada PR)”

P:”Kalau gak ada PR belajar?”

S21:”Enggak..nggeh kalau ada ulangan belajar (Enggak..ya

kalau ada ulangan baru belajar)” b) Materi yang dianggap sulit

i) Membuat model matematika

Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar besar siswa mengalami kesulitan dalam mengubah bahasa ke dalam model matematika. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

P :” Terus mau tanya lagi, e... menurutmu materi ini sulit

ndak?”

S5:”Sulit”

P :”Sulit, okee..pada bagian materi mana yang sulit?”

S5:”memodelkan”

Sebanyak 25 siswa atau 60% siswa mengatakan bahwa materi memodelkan adalah bagian materi yang sulit. ii) Menyelesaikan model matematika

Berdasarkan hasil wawancara, sebagian siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan model matematika, yang meliputi proses operasi aljabar. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

P :”Oke, besok dijelasin lagi. Ini mau tanya menurutmu

materi ini sulit ndak?” S2:”Agak sulit”

P :”oke, yang sulit pada bagian apa?”

Sebanyak 25% siswa yang mengatakan bahwa bagian menyelesaikan sangat sulit dibandingkan dengan memodelkan.

iii) Membuat pemodelan dan menyelesaikan pemodelan Berdasarkan hasil wawancara, sebagian siswa mengalami kesulitan dalam membuat dan menyelesaikan model matematika, yang meliputi mengubah informasi soal ke dalam model matematika dan menyelesaikannya dengan menggunakan operasi aljabar. Berikut ini adalah bukti wawancara dengan salah satu subyek:

P :”Lumayan susah atau lumayan enggak?”

S10:”Lumayan susah..”

P :”Banyak susahnya?”

S10:”Iyaa...”

P :”Iyaak okee.. terus yang paling sulit itu bagian apa?”

S10:”eee...buat model matematika sama ngitungnya...”

Sebanyak 15% siswa yang mengatakan bahwa bagian memodelkan dan menyelesaikan sangat sulit.

c) Konsep dasar materi ada yang lupa

Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, diperoleh bahwa ada siswa yang lupa dalam menjumlahkan variabel dengan bilangan, sehingga proses operasi penjumlahan disamakan dengan proses operasi perkalian. Berikut ini adalah bukti transkrip wawancara:

P :”Nah, apakah benar 3 ditambahkan dengan x hasilnya 3x?”

S24 :”Salah..”

P :”Lah kokini bisa jadi 3x?”

S24 :”Lupa bu kalau penjumlahan..”

P :”Enggak....kecuali kalau dika..?”

S24 :”Di kali..”

2) Faktor Eksternal

a) Hubungan dengan teman sekelas yang kurang harmonis i) Hubungan pribadi dengan teman kurang harmonis

Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang kurang nyaman di kelas. Hal ini dikarenakan mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan salah satu teman sekelasnya. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

P :”okeee...siip..Eee hubungan mu sama teman

teman di kelas gimana?”

S10 :”Baik...tapi ada salah satu yang agak slek

gitu”

P :”Slek? Maksudnya slek?”

S10 :”Enggak temenan..”

P :”masalahnya?”

S10 :”Masalah...yaa seorang cowok..”

P :”Oalaah...sama siapa? Gapapa?”

S10 :”Sama ...”

P :”.......”

S10 :”Saya tu yaa,punya...suka gitu sama si ...

7A, terus ... bilang satu kelas sama kakak kakak kelas itu terus kaka kakak kelas itu tanya terus ...bilang, wong aku ra

kondo tek? Lha tapi kakak kelas tek dho ngerti?”

P :”He..eh.”

S10 :”Akhirnya marahan...Terus waktu itu juga saya

dikirain suka sama ... temen nya sono padahal saya ndak

suka Cuma sms an gitu”

P :”He..eh,,Ohhh”

ii) Hubungan dengan kelompok teman di kelas kurang harmonis

Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang kurang nyaman di kelas. Hal ini dikarenakan mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan beberapa teman di kelas. Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara:

P :”Okee hubunganmu dengan teman di kelas

gimana?”

S28 :”Kadang-kadang akur..”

P :”Kadang-kadang enggak?”

S28 :”Iyaa...”

P :”Gimana? Cerita aja?”

S28 :”Ya soalnya, teman-temen itu temenannya

pilih-pilih gak mau temenan sama yang bodoh yang pinter

temenannnya sama yang pinter”

P :”Berarti kayak nge-gep gitu?”

S28 :”Iyaa..”

b)Lingkungan atau suasana kelas yang kurang kondusif

Berdasarkan hasil wawancara, ada siswa yang merasa kurang nyaman dengan suasana kelas untuk belajar.

Berikut ini adalah salah satu bukti transkrip wawancara dengan salah satu siswa:

P :”terus kalau di kelas paham ndak yang dijelaskan guru”

S9 :”Paham kalau tidak gojek,”

P :” Banyak gojeknya kalau dikelas?”

S9 :”Yaa, terkadang. Diajak teman”

P :”Sebenernya, pengen konsentrasi kalau di kelas?”

S9 :”Iyaa...Tapi gak enak sama teman, kalau menolak ajakan

P :”Ooh... Iyaa..”

4.3.4 Hasil upaya pengajaran dan tes remediasi

Dalam pelaksanaan pengajaran remediasi, siswa-siswi sangat antusias, dan metode diskusi kelompok mampu meningkatkan kemampuan siswa. Hal ini terbukti dari peningkatan hasil tes remediasi dibandingkan dengan tes diagnostik. Berikut ini adalah hasil perbandingan bentuk-bentuk kesalahan pada tes diagnostik dan tes remediasi.

128

No Subjek Soal I Soal II Soal III

Diagnostik Remediasi Diagnostik Remediasi Diagnostik Remediasi

1. S1 M M D5, D3, E1 E1 C, D4, E2 D5, E2 2. S2 C C D1, D3, E1 M C, D5, E2 C 3. S5 C M D5, D3, E1 M C, D2 C, D4 4. S6 C, E1 M D1, D3 M C, D1, E2 M 5. S8 B1, C, E1 M D1, D3, E1 M B1, C, D2, E2 D1, E2 6. S9 C M D3 M E1 M 7. S10 C, E1 M D1, D3, E1 M B3, C, E2 C, E2 8. S11 C M D3, D5, E1 D3, E1 C D4 9. S14 C M D3, E1 M B1, C, E1 C, E1 10. S15 M M D1, D3 M C, E2 C, E1 11. S16 B1, C C, E1 B2, B3, D1, E2 D3, D5, E2 B1, C, D2, E2 B1, C, E2 12. S17 B1, C M M E2 B1, C, E2 M 13. S18 C M D1, D3, E1 M B1, C, E1 C, E1 14. S21 C M D1, D3 D2 C, E1 C 15. S22 C M M M C, D1, E2 C, D4 16. S23 C M D1, D3 M B1, C, D1, E2 C, E2 17. S24 C C D1, D3, E1 M C, D4, E1 C, D5 18. S26 C M D1, D3, E2 B1, D5, E1 B1, C, D2, E2 B1, E1 19. S28 C, E1 M D1, D3, E1 M B3, C, D1, E1 C, E2 20. S29 B2, C M D1, D3, E2 M B1, C, D1, E2 M 21. S30 C M D3, D5, E1 M D1, E1 C 22. S33 C C D3, E1 M B1, C, E1 C 23. S34 C M D1 M B1, C, D1, E1 M

129

No Simbol Jenis Kesalahan Bentuk Kesalahan

1. B1

Kesalahan pemahaman

Penulisan hal yang diketahui dalam soal kurang tepat 2. B2 Penulisan hal yang ditanyakan dalam soal kurang tepat

3. B3 Tidak menuliskan hal yang diketahui atau ditanyakan dalam soal

4. C Kesalahan transformasi Kesalahan dalam mengubah informasi soal ke dalam kalimat matematika 5. D1

Kesalahan dalam proses

Kesalahan dalam menjumlahkan atau mengurangkan variabel dengan bilangan. 6. D2 Kesalahan dalam melakukan operasi perkalian atau pembagian bilangan 7. D3 Kesalahan dalam mensubstitusi nilai ke persamaan

8. D4 Kesalahan dalam melakukan pengurangan pada bilangan

9. D5 Penyelesaian tidak dikerjakan atau proses penyelesaian operasi bilangan dan variabel tidak dikerjakan

Dokumen terkait