• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Pengakuan adalah sesuatu yag diakui dan diterima nazhir dalam bentuk asset wakaf berupa fisik menurut ketentuan adalam pelksanan wakafmenurut PSAK 112 di Yayasan Wakaf UMI.Menurut PSAK 112 pengakuan bagian seorang nazhir ialah sebuah asset wakaf yang dikui oleh seseorang berubah fisik sehinnga menjadi asset wakaf sehingga dapat diakui dalam pencatatan laporan keuangan.Dari Hasil penelitian melalui wawancara langsung dengan narasumber menunjukkan bahwa pengakuan aset wakaf yang dilaksanakan oleh Yayasan Wakaf UMI telah sesuai dengan standar akuntansi PSAK 112. Lebih lanjut, untuk setiap aset wakaf yang diakui dalam pencatatan merupakan aset yang telah diterima secara fisik seperti kendaraan, bangunan, dan aset berwujud lainnya.

Jika aset wakaf berupa tanah maka baru dapat diakui jika sudah memiliki sertifikat tanah tersebut. Hampir sama dengan hasil penelitian dari Novitasari, Putri, & Santoso (2019) bahwa perlakuan akuntansi terkait dengan pengakuan awal transaksi wakaf pada BWI Kota Batam secara konseptual terdapat kesamaan dengan PSAK 112 tetapi ada beberapa kriteria yang kurang sesuai karena tidak adanya aset yang diberikan sesuai dengan kriteria aset pada pengakua awal tersebut..

2. Pengukuran

pengukuran adalah sesuatu yang diterima oleh nazhir yang berupa asset wakaf yang berbentuk uang maka diukur sesuai jumlah atau nominal yang diterima dalam bentuk rupiah sedangkan asset waka fang diterima dalam bentuk seperti kendaraan,bangunan maka di ukur sesuai dengan nilaiwajar di yayasan wakaf umi,menurut psak 112 pangukuran asset wakaf yang berupa uang diukur

dengan pada nilai nominal dan asset yang wakaf selain uang di ukur dengan menggunakan nilai wajar.Dalam pelakasanan pengukuran di Yayasan Wakaf UMi telah sesuai dengan standar akuntansi PSAK 112. Dalam pelaksanaannya terdapat dua aset yang umum dikelola oleh Yayasan yaitu aset berupa uang tunai dan aset berupa benda. Kedua aset wakaf ini memilik perlakuan yang berbeda. Pertama, aset wakaf berupa uang tunai diukur pada nilai nominal yaitu ketika pengelola menerima aset wakaf dalam bentuk tunai maka uang tunai tersebut akan dicatat sesuai dengan jumlah rupiah yang diterima tanpa melakukan penilaian apapun. Kedua, aset yang diterima dalam bentuk benda seperti kendaraan, bangunan, tanah, dan lain-lain diukur menggunakan nilai wajar (nilai kekinian versi hasil wawancara).Sedangkan berbeda dengan penelitian dari Novitasari, Putri, & Santoso (2019) bahwa pengukuran aset wakaf pada BWI Kota Batam terdapat perbedaan dengan PSAK 112 dikarenakan aset wakaf saat hanya dihitung secara fisik dan jumlah dilapangan tidak dihitung berdasarkan nilai wajar.

3. Penyajian

Penyajian adalah sebuah wakaf yang menyajikan kepada nadzir sebagai bentuk wakaf yang berupa fisik dan nadzir yang menyajikan aset wakaf sehingga tersampaikan dengan benar menurut akutansi wakaf pada psak 112 di yayasan wakaf umi. Menurut psak penyajian adalah wakaf yang disajikan oleh nadzir sebagai aset wakaf yang diterima dan diberikan oleh pewakaf. Implementasi penyajian aset wakaf yang dilakukan oleh Yayasan Wakaf UMI belum sesuai dengan standar akuntansi PSAK 112 yang mengatur tentang setiap aset wakaf yang diterima dan dikelola oleh Nadzir diakui sebagai liabilitas. Penjelasan dari wawancara menunjukkan bahwa pihak pengelola menganggap wakaf tersebut

melekat pada kepemilikan Yayasan sehingga kepemilikan tersebut dianggap sebagai modal dan bukan sebagai liabilitas. Alasan mengapa pihak Yayasan menganggap aset wakaf merupakan bagian dari modal, karena Sebagian besar sumber aset wakaf berasal dari anggota Yayasan Wakaf UMI. Penjelasan tersebut sudah cukup mengungkapkan bahwa Yayasan Wakaf UMI belum sepenuhnya mengikuti apa yang telah diatur dalam standar PSAK 112, hal ini karena pihak Yayasan memiliki perspektif yang berbeda dalam menyajikan aset wakaf tersebut. Sejalan dengan penelitian Novitasari, Putri, & Santoso (2019) bahwa dalam hal ini penyajian dalam pelaporan aset wakaf belum sesuai dengan PSAK 112 karena dari keterangan yang diberikan oleh narasumber aset wakaf yang ada saat ini seluruhnya bersifat selamanya, tidak ada aset wakaf temporer sehingga tidak ada liabilitas atau hutang wakaf dalam pelaporan keuangan aset wakaf.

4. Pengungkapan

Pengungkapan adalah penjelasan aset wakaf yang diberikan untuk digunakan seperti apa dan pemberi wakaf yang jelas sehingga aset wakaf yang masuk sudah sesuai dengan psak 112 di yayasan umi. Menurut PSAK 112 pengungkapan adalah penjelasan yang sesuai dengan akuntansi wakaf baik dari pewakif dan penjelasan mengenai aset wakaf akan dikelola dan dikembangkan seperti apa sehingga diketahui jelas dimanfaatkan aset wakaf tersebut.

Pengungkapan aset wakaf yang diterapkan oleh Yayasan Wakaf UMI saat ini belum mengikuti apa yang telah diatur dalam PSAK 112. Hal ini diungkapkan oleh narasumber yang menjelaskan bahwa dalam pengungkapannya masih menggunakan PSAK 45 yang terdiri dari laporan keuangan nirlaba, laporan posisi keuangan, dan laporan arus kas. Hal ini dilakukan karena pihak Yayasan

menganggap laporan pertanggungjawaban atas aset wakaf sejatinya hanya bersifat internal dan belum ada tuntutan khusus dari pihak eksternal untuk menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, namun dalam pelaksanaannya dimasa yang akan datang pihak Yayasan menganggap perlu dan tentu akan menerapkan pelaporan aset wakaf sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku seperti PSAK 112 yang mengatur tentang wakaf.Hampir sama dengan penelitian Novitasari, Putri, & Santoso (2019) bahwa dalam Pengungkapan asset wakaf tidak memiliki kesesuaian dengan PSAK 112, dikarenakan masih menggunakan standar pelaporan keuangan yang hanya digunakan untuk internal.

5. Pelaporan

Pelaporan keuangan pada Yayasan Wakaf UMI secara umum belum sesuai dengan standar akuntansi PSAK 112 karena terdapat beberapa laporan yang belum disajikan seperti laporan rincian aset wakaf dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan yang disajikan seperti laporan posisi keuangan dan laporan aktivitas juga belum disajikan sesuai PSAK 112 dan masih sangat sederhana seperti laporan keuangan sederhana karena dalam penyajiannya masih belum dilakukan pemisahan kelompok akun tertentu, penyajian akun-akun khusus untuk transaksi wakaf, serta pengakuan aset wakaf. Selain itu untuk laporan arus kas secara umum sudah disajikan sesuai dengan standar PSAK 112 karena pada dasarnya laporan arus kas memiliki komponen dan bentuk penyajian yang sama dengan laporan keuangan secara umum.

Adapun perlakuan akuntansi dan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang belum mengikuti standar akuntansi PSAK 112 disebabkan oleh faktor-faktor berikut :

1. Pengelolaan wakaf masih belum dilakukan secara professional, hal ini karena pelaksanan atau petugas yang menjadi pengelola wakaf merupakan dosen pengajar yang berasal dari Universitas Muslim Indonesia. Saat ini pihak manajemen wakaf masih memberdayakan dosen dan merangkap pekerjaan sebagai staf ahli pengelola wakaf, sehingga dikhawatirkan akan berakibat pada hasil pekerjaan yang tidak maksimal dalam menyajikan laporan keuangan wakaf.

2. Menurut pengamatan peneliti belum ada permintaan khusus dari pihak wakif untuk mengetahui informasi keuangan wakaf secara keseluruhan, hal ini juga disebabkan karena sebagian besar pihak wakif berasal dari internal Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia.

3. Pihak Yayasan belum memiliki kepentingan dengan pihak eksternal seperti pemerintah, perbankan, atau pihak lain terkait sehingga pihak Yayasan belum memiliki kewajiban untuk melaporkan informasi keuangan sesuai standar akuntansi yang berlaku sebagai bentuk transparansi pengelolaan kepada pihak yang berkepentingan.

58 BAB V

Dokumen terkait