HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
1.1 Data Demografi
Deskripsi karakteristik demografi orang tua yang merawat anaknya di rumah sakit dengan anak berusia 3–6 tahun (prasekolah) yang dipasang infus di ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2011 didapat dari 46 responden. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan mayoritas responden berusia 20-40 tahun (83%, 38 orang), 33 orang responden berjenis kelamin perempuan (72%), 28 orang bersuku Batak (61%), 29 orang responden beragama Islam (63%), pendidikan SMA 22 orang (48%), 15 orang responden bekerja sebagai ibu rumah tangga (33%), 21 keluarga berpenghasilan 965.000-1.500.000/ bulan (46%) dan posisi anak dalam keluarga sebagian besar adalah anak bungsu (41,3%, 19 orang). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.1.
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan persentasi berdasarkan data demografi responden (n = 46 orang) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.
Karakteristik responden Frekuensi (n) Persentase (%) Usia : <20 20-40 41-60 3 38 5 6% 83% 11% Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan 13 33 28% 72% Suku : Batak Minang Melayu Aceh Jawa 28 2 7 1 8 61% 4% 15% 2% 18% Agama : Islam Kristen 29 17 63% 37% Penddidikan Terakhir : SMP SMA Perguruan tinggi 4 22 20 9% 48% 43% Pekerjaan : PNS Wiraswasta Pegawai swasta
Lain-lain (ibu rumah tangga)
6 13 12 15 13% 28% 26% 33% Penghasilan Keluarga perbulan : <965.000 965.000-1.500.000 1.500.000-3000.000 >3.000.000
Posisi anak dalam keluarga Anak tunggal Anak sulung Anak tengah Anak bungsu 7 21 10 8 9 9 9 19 15% 46% 22% 17% 19,6% 19,6% 19,6% 41,3%
1.2 Tingkat Kecemasan
Hasil penelitian tentang gejala kecemasan orang tua dalam menghadapi pemasangan infus pada anaknya. Berdasarkan kondisi/ situasi yang orang tua alami ketika anaknya dilakukan pemasangan infus intravena, yaitu : respon afektif : 15 orang tua mempunyai firasat buruk ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya (33%), sebanyak 37 orang tua takut jika anaknya mendapatkan tindakan perawatan (pemasangan infus) yang tidak pantas (dilakukan tusukan berulang dan dengan cara yang kasar) (80%), sebagian besar orang tua (39 orang) takut jika pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anaknya merasa semakin sakit atau nyeri (85%), sebanyak 22 orang tua merasa tegang saat melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya (48%), sebanyak 34 orang tua merasa gelisah ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya (74%), 22 orang tua merasa lemas dan tidak berdaya ketika melihat anaknya dipasang infus (48%), hampir semua orang tua (41 orang) merasa sedih ketika melihat anaknya dipasang infus (89%). Gangguan kecerdasan (respon kognitif) yang dialami orang tua : sebanyak 24 orang tua sulit berkonsentrasi ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (52%), 16 orang tua merasa kehilangan kontrol/ kendali pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya (35%), 21 orang tua tidak mampu melakukan hal apapun ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (46%) dan 22 orang tua yang menjadi kurang perhatian pada dirinya, keluarga dan anak-anaknya yang lain ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anaknya (48%). Gejala fisiologis = kardiovaskuler : sebanyak 24 orang tua yang merasa jantungnya berdebar-debar saat melihat anakya dipasang infus (52%) dan 18 orang tua yang merasa denyut
nadinya semakin meningkat ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (39%); respiratori (pernafasan) : 20 orang tua yang merasa dadanya terasa sempit pada saat melihat pemasangan infus pada (44%) dan sebanyak 34 orang tua sering menarik nafas panjang ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (74%); gejala somatic yang dirasakan orang tua : 12 orang tua merasa tangannya terasa dingin dan lembab saat melihat pemasangan infus pada anak saya (26%); gastrointestinal : 27 orang tua menjadi tidak selera makan atau selera makannya menurun ketika melihat anaknya dipasang infus (59%); autonom : 10 orang tua merasa pusing/ sakit kepala pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya (22%) dan hanya 8 orang tua yang merasa wajahnya terlihat pucat ketika melihat prosedur pemasangan infus pada anaknya (17%). Respon perilaku yang terjadi adalah : 18 orang tua ikut menangis ketika mendengar anaknya menangis pada saat dipasang infus (39%), hanya 8 orang tua yang tangannya gemetar pada saat melihat anaknya dipasang infus (17%), sebanyak 35 orang tua tidak tenang ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anaknya (76%), hanya 10 orang tua keluar/ tidak mau melihat ketika anaknya dipasang infus (22%), 17 orang tua suka meremas-remas jari ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (37%), hampir semua orang tua (45 orang) lebih banyak berdo’a pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya (98%) dan sebanyak 34 orang tua merasa bersalah ketika anaknya merasakan sakit/ nyeri pada saat dilakukan pemasangan infus (74%), hanya 10 orang tua merasa banyak bicara dari biasanya dengan suara yang keras ketika melihat pemasangan infus pada anaknya (22%) dan 15 orang tua menjadi lebih gugup pada saat melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya (33%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi dan persentasi berdasarkan kuesioner kecemasan responden (n = 46 orang) di Ruang III RSUD Dr. Pirngadi Medan.
No. Pernyataan
Jawaban
Ya Tidak
1. Saya mempunyai firasat buruk ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anak saya
33% (15 orang) 67% (31 orang)
2. Saya takut jika anak saya mendapatkan tindakan perawatan (pemasangan infus) yang tidak pantas (dilakukan tusukan berulang dan dengan cara yang kasar)
80% (37 orang) 20% (9 orang)
3. Saya takut jika pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak saya merasa semakin sakit atau nyeri.
85% (39 orang) 15% (7 orang)
4. Saya merasa tegang saat melihat tindakan pemasangan infus pada anak saya
48% (22 orang) 52% (24 orang)
5. Saya merasa gelisah ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anak saya
74% (34 orang) 26% (12 orang)
6. Saya merasa lemas dan tidak berdaya ketika melihat anak saya dipasang infus
48% (22 orang) 52% (24 orang)
7. Saya merasa sedih ketika melihat anak saya dipasang infus
89% (41 orang) 11% (5 orang)
8. Saya ikut menangis ketika mendengar anak saya menangis pada saat dipasang infus
39% (18 orang), 61% (28 orang)
9. Tangan saya gemetar pada saat melihat anak saya dipasang infus
17% (8 orang) 83% (38 orang)
10. Saya sulit berkonsentrasi ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
52% (24 orang) 48% (22 orang)
11. Jantung saya berdebar-debar saat melihat anak saya dipasang infus
52% (24 orang) 48% (22 orang)
12. Denyut nadi saya semakin meningkat ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
No. Pernyataan
Jawaban
Ya Tidak
13. Dada saya terasa sempit pada saat melihat pemasangan infus pada anak saya
44% (20 orang) 56% (26 orang)
14. Saya sering menarik nafas panjang ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
74% (34 orang) 26% (12 orang)
15. Tangan saya terasa dingin dan lembab saat melihat pemasangan infus pada anak saya
26% (12 orang) 74% (34 orang)
16. Saya tidak tenang ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anak saya
76% (35 orang) 24% (11 orang)
17. Saya keluar/ tidak mau melihat ketika anak saya dipasang infus
22% (10 orang) 78% (36 orang)
18. Saya merasa banyak bicara dari biasanya dengan suara yang keras ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
22% (10 orang) 78% (36 orang)
19. Saya merasa kehilangan kontrol/ kendali pada saat melihat pemasangan infus pada anak saya
35% (16 orang) 65% (30 orang)
20. Saya menjadi tidak selera makan atau selera makan saya menurun ketika melihat anak saya dipasang infus
59% (27 orang) 41% (19 orang)
21. Saya menjadi kurang perhatian pada diri saya, keluarga dan anak-anak saya yang lain ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anak saya
48% (22 orang) 52% (24 orang)
22. Saya merasa pusing/ sakit kepala pada saat melihat pemasangan infus pada anak saya
22% (10 orang) 78% (36 orang)
23. Wajah saya terlihat pucat ketika melihat prosedur pemasangan infus pada anak saya
17% (8 orang) 83% (38 orang)
24. Saya merasa bersalah ketika anak saya merasakan sakit/ nyeri pada saat dilakukan pemasangan infus
74% (34 orang) 26% (12 orang)
25. Saya suka meremas-remas jari ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
No. Pernyataan
Jawaban
Ya Tidak
26. Saya lebih banyak berdo’a pada saat melihat pemasangan infus pada anak saya
98% (45 orang) 2% (1 orang)
27. Saya tidak mampu melakukan hal apapun ketika melihat pemasangan infus pada anak saya
46% (21 orang) 54% (25 orang)
28. Saya menjadi lebih gugup pada saat melihat tindakan pemasangan infus pada anak saya
33% (15 orang) 67% (31 orang)
Berdasarkan hasil jawaban, maka dapat dilihat tingkat kecemasan orang tua yaitu : 7 orang (15,2%) berada pada tingkat cemas ringan, 13 orang (28,3%) berada pada tingkat cemas sedang, 18 orang (39,1%) berada pada tingkat cemas berat dan 8 orang (17,4%) berada pada tingkat panik. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.3.
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan tingkat kecemasan orang tua terhadap pemasangan infus pada anak usia prasekolah di Ruang III RSU. Dr. Pirngadi Medan (n = 46).
Tingkat Kecemasan Frekuensi Persentase (%)
Cemas ringan (28-34) 7 orang 15,2%
Cemas sedang (35-41) 13 orang 28,3%
Cemas berat (42-48) 18 orang 39,1%
2. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai tingkat kecemasan orang tua terhadap pemasangan infus pada anak yang dilakukan terhadap 46 orang tua yang anaknya dipasang infus di Ruang III Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi Medan, maka dapat dilihat hasilnya sebagian besar orang tua mengalami cemas berat (18 orang, 39,1%) dan cemas sedang (13 orang, 28,3%).
Usia orang tua berdasarkan karakteristik responden sebagian besar adalah berumur 20-40 tahun (83%, 38 orang). Dilihat dari tugas perkembangannya maka kategori usia ini masuk dalam tahap dewasa awal, yang merupakan masa transisi dari masa remaja yang bebas kepada masa dewasa yang dipenuhi dengan tuntutan tanggung jawab yang lebih besar (Stuart & Llaraia, 2001). Sehingga pada usia dewasa awal, stressor yang dialami oleh seseorang dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya cenderung lebih banyak (Helena, 2002). Sholeh (2005) juga berpendapat bahwasannya faktor kecemasan dapat dipengaruhi oleh usia.
Berdasarkan karakteristik responden dari penelitian ini, tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA 48% (22 orang). Notoatmodjo (2000) berpendapat, bahwa pendidikan seseorang berperan dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan. Karena hasil pendidikan ikut membentuk pola berpikir, pola persepsi dan sikap pengambilan keputusan seseorang. Pendidikan seseorang yang meningkat mengajarkan individu mengambil sikap keputusan yang terbaik untuk dirinya. Masalah yang muncul dalam dirinya mampu dikelola dengan pemikiran yang lebih rasional. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Lutfa (2008) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien dalam tidakan kemoterapi di RS. DR. Moewardi Surakarta,
dapat diketahui bahwa pasien yang pendidikan lebih tinggi, tingkat kecemasannya relatif lebih rendah. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh laharti (2009) di RS. Prikasih Jakarta mengenai hubungan tingkat pengetahuan orang tua tentang persiapan operasi pada anak usia 0-12 tahun dengan tingkat kecemasan orang tua, dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki pendidikan yang tinggi memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dibanding dengan responden yang memiliki pendidikan yang rendah.
Menurut Trismiati (2004), jenis kelamin merupakan identitas responden yang dapat digunakan untuk membedakan responden laki-laki atau perempuan. Berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak pada penelitian ini adalah perempuan 72% (33 orang). Dari penelitian yang dilakukan oleh laharti (2009), dapat disimpulkan bahwa responden yang berjenis kelamin laki-laki memiliki tingkat kecemasan lebih rendah dibanding dengan responden berjens kelamin perempuan. Laki-laki dan perempuan sudah pasti berbeda. Berbeda dalam cara berespon, bertindak, dan bekerja di dalam situasi yang mempengaruhi setiap segi kehidupannya (Kurniawan, 2008). Kaaplan & Saddock (1998), mengemukakan bahwa diperkirakan jumlah mereka yang menderita kecemasa baik aku maupun kronis dengan perbandingan wanita dan laki-laki 2:1. Selain itu umumnya perempuan dalam merespon stimulus atau rangsangan yang berasal dari luar lebih kuat dan lebih intensif daripada laki-laki. Laki-laki lebih rileks dibanding perempuan (Rhamdani, 2008). Pada penelitian ini sebagian besar responden adalah perempuan dan umumnya bekerja sebagai ibu rumah tangga (15 orang, 33%). Ibu rumah tangga lebih memiliki cukup waktu untuk menjaga anaknya yang sedang dirawat di rumah sakit (Rhamdani, 2008).
Berdasarkan posisi anak didalam keluarga dari penelitian ini, sebagian besar adalah anak bungsu 41,3% (19 orang). Sujanto, dkk (2001) berpendapat bahwa posisi anak dalam keluarga mempunyai karakteristik masing-masing. Menurutnya anak terakhir (anak bungsu) adalah anak yang termuda usianya dalam keluarga dan biasanya mendapat perhatian penuh dari semua anggota keluarga. Anak ini terlalu disayang oleh orang tua dan kakak-kakaknya, sehingga anak akan berada dalam kehidupan yang serba berkecukupan, serba menyenangkan dan serba tersedia. Semuanya ini akan memberi kesempatan pada anak untuk berlaku manja. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Budianto (2009) mengenai pengaruh terapi religius doa kesembuhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien preoperasi di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus, yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara posisi anak dalam keluarga dengan kecemasan anak prasekolah. Hal ini menunjukkan bahwa posisi anak dalam keluarga mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kecemasan yang dialami oleh anak selama dirawat di rumah sakit, karena kecemasan merupakan fenomena psikofisik yang bersifat manusiawi dan dapat dialami siapapun, termasuk bayi, anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua (Sujanto, dkk, 2001).
Berdasarkan hasil penelitian, orang tua yang merasa bersalah ketika anaknya merasakan sakit/nyeri pada saat dilakukan pemasangan infus sebanyak 34 orang (74%). Hal ini sesuai dengan pendapat Supartini (2001 dalam Supartini, 2004), orang tua akan merasa bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena anaknya menjadi sakit. Rasa bersalah orang tua semakin menguat karena orang tua merasa tidak berdaya dalam mengurangi nyeri fisik dan emosional anak.
Pada penelitian ini, sebanyak 39 orang tua (85%) merasa takut jika pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anaknya merasa semakin sakit atau nyeri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Supartini (2004) dan Thompson (1995), orang tua merasa bahwa anak mereka akan menerima pengobatan yang membuat anak bertambah sakit atau nyeri. Orang tua cemas dan takut jika prosedur invasif pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak merasa semakin sakit atau nyeri (Sulistiyani, 2009). Supartini (2001 dalam Supartini, 2004), juga berpendapat bahwa orang tua akan merasa begitu cemas dan takut terhadap kondisi anaknya dan jenis prosedur medis yang dilakukan; sering kali kecemasan yang paling besar berkaitan dengan trauma dan nyeri yang terjadi pada anak. Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anaknya mendapat prosedur tindakan yang menyakitkan seperti pembedahan, pengambilan darah, injeksi, infus, dilakukan fungsi lumbal dan prosedur invasif lainnya. Seringkali pada saat anak harus dilakukan prosedur tersebut, orang tua bahkan menangis karena tidak tega melihat anaknya, seperti yang dirasakan oleh 18 orang tua (39%) yang ikut menangis ketika mendengar anaknya menangis pada saat dipasang infus.
Berdasarkan pendapat Supartini (2004) dan Thompson (1995), orang tua sering mempunyai perasaan takut dan cemas ketika anaknya harus mendapatkan suatu perawatan. Ketakutan orang tua timbul dikarenakan takut jika anaknya mendapat perawatan yang tidak pantas, seperti perawat melakukan pemasangan infus pada anak dengan cara yang kasar dan harus ditusuk secara berulang-ulang, sehingga membuat anak menderita. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian, yaitu sebanyak 37 orang tua (80%) merasa takut jika anaknya mendapatkan
tindakan perawatan (pemasangan infus) yang tidak pantas (dilakukan tusukan berulang dan dengan cara yang kasar).
Pada penelitian ini, sebanyak 41 orang tua (89%) merasa sedih ketika melihat anaknya dipasang infus. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Supartini (2004) dan Thompson (1995), bahwasannya perasaaan sedih tersebut sering muncul pada orang tua ketika orang tua mengetahui diagnosa dari penyakit anaknya dan ketika melihat tindakan invasif yang dilakukan pada anaknya yang menimbulkan nyeri, seperti tindakan pemasangan infus; apalagi jika anaknya merasakan nyeri dan menangis ketika dipasang infus.
Perilaku yang sering ditunjukkan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan cemas dan takut ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama secara berulang pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan bahkan marah (Supartini, 2001 dalam Supartini, 2004). Seperti yang dirasakan oleh 34 orang tua (74%) yang merasa gelisah ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya.
Menurut Stuart (2001) pada orang yang cemas akan muncul respon perilaku berupa bicara cepat, menghindar dan melarikan diri dari masalah. Respon perilaku tersebut dialami oleh 10 orang tua (22%) yang merasa banyak bicara dari biasanya dengan suara yang keras ketika melihat pemasangan infus pada anaknya dan 10 orang tua (22%) yang keluar/tidak mau melihat ketika anaknya dipasang infus. Petugas kesehatan dapat memberikan informasi mengenai tindakan pemasangan infus yang dilakukan terhadap anaknya yang sakit, dapat meningkatkan pengetahuan orang tua dan dapat mengurangi kecemasan orang tua terhadap anaknya yang dilakukan pemasangan infus, seshingga orang tua tidak
keluar/ melihat pemasangan infus pada anaknya dan orang tua dapat memberikan motivasi dan kasih sayang kepada anaknya.
Hawari (2004) berpendapat orang tua yang mengalami kecemasan dapat mengalami tanda-tanda seperti adanya rasa cemas/ khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri dan mudah tersinggung. Hal tersebut dialami oleh 15 orang tua (33%) yang mempunyai firasat buruk ketika melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya.
Pada penelitian ini, sebanyak 22 orang tua (48%) merasa tegang saat melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya. Hawari (2004) berpendapat keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum salah satunya adalah gejala psikologis yaitu merasa tegang. Stuart (2001) juga berpendapat, pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon, saah satu responnya adalah ketegangan fisik.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diantara orang tua yang anaknya dilakukan tindakan pemasangan infus mengatakan tangannya gemetar pada saat melihat anaknya dipasang infus, yaitu sekitar 8 orang tua (17%). Hal ini sesuai dengan pendapat Hawari (2004), yang mengatakan bahwa tangan gemetar merupakan salah satu tanda dari gejala kecemasan.
Gejala kecemasan atau respon yang akan muncul pada orang yang mengalami cemas menurut Hawari (2004) dan Stuart (2001) adalah sukar atau tidak mampu berkonsentrasi. Hal tersebut dialami oleh 24 orang tua (52%) yang anaknya mendapatkan tindakan invasif pemasangan infus. Sebagian orang tua sulit untuk berkonsentrasi ketika melihat pemasangan infus pada anaknya.
Hawari (2004) berpendapat terdapat 14 gejala yang ditunjukkan oleh seseorang yang mengalami kecemasan, salah satunya adalah gejala somatik/fisik (sensorik) yang diantaranya ditandai oleh muka merah atau pucat dan merasa lemas. Hal tersebut dirasakan oleh 8 orang tua (17%) yang wajahnya terlihat pucat ketika melihat prosedur pemasangan infus pada anaknya dan 22 orang tua (48%) yang merasa lemas dan tidak berdaya ketika melihat anaknya dipasang infus.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diantara 46 responden terdapat 24 orang tua (52%) yang merasa jantungnya berdebar-debar saat melihat anaknya dipasang infus dan 18 orang tua (39%) yang merasakan denyut nadinya semakin meningkat ketika melihat pemasangan infus pada anaknya. Gejala tersebut sesuai dengan gejala yang dikemukakan oleh hawari (2004), gejala yang dirasakan oleh seseorang yang mengalami kecemasan adalah Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) : takikardi (denyut jantung cepat), berdebar-debar, nyeri di dada dan denyut nadi mengeras.
Hawari (2004) juga berpendapat gejala yang ditimbulkan oleh seseorang yang mengalami kecemasan adalah gejala respiratori (pernafasan) : rasa tertekan atau sempit di dada dan sering menarik nafas. Dari hasil penelitian gejala tersebut juga dirasakan oleh 20 orang tua (44%) yang merasakan dadanya terasa sempit pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya dan 34 orang tua (74%) yang sering menarik nafas panjang ketika melihat pemasangan infus pada anaknya.
Selain gejala-gejala di atas, Hawari (2004) juga mengemukakan gejala yang sering terjadi pada seseorang yang mengalami kecemasan adalah Gejala autonom : mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala pusing kepala terasa berat, kepala terasa sakit. Gejala tersebut juga dirasakan oleh 10 orang tua (22%) yang merasa pusing/ sakit kepala pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya. Tingkah laku/sikap yang sering dirasakan oleh orang yang mengalami kecemasan adalah gelisah, tidak tenang (Hawari 2004). Sikap tersebut juga dirasakan oleh 35 orang tua (76%) yang tidak tenang ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anaknya.
Pada penelitian ini, sebanyak 27 orang tua (59%) tidak selera makan atau selera makannya menurun ketika melihat anaknya dipasang infus. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stuart (2001) bahwasannya pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon yang meliputi nafsu makannya akan menurun.
Stuart (2001) juga mengemukakan respon perilaku yang muncul pada orang yang mengalami kecemasan adalah gugup. Seperti yang dialami oleh 15 orang tua (33%) yang menjadi lebih gugup pada saat melihat tindakan pemasangan infus pada anaknya. Respon kognitif yang juga muncul adalah perhatian terganggu, tidak mampu mengambil keputusan, menurunnya lapangan persepsi dan kreatifitas, bingung, takut dan kehilangan kontrol (Stuart, 2001). Hal tersebut dirasakan oleh 22 orang tua (48%) yang menjadi kurang perhatian pada dirinya, keluarga dan anak-anaknya yang lain ketika menghadapi prosedur pemasangan infus pada anaknya dan 16 orang tua (35%) yang merasa kehilangan kontrol/ kendali pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya.
Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum menurut Hawari (2004), antara lain adalah gejala somatic : berdebar-debar, sesak nafas, sakit kepala, tangan terasa dingin dan lembab. Dari hasil penelitian terdapat 12 orang tua (26%) yang merasa tangannya terasa dingin dan lembab saat melihat pemasangan infus pada anaknya.
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar orang tua (98%, 45 orang) lebih banyak berdo’a pada saat melihat pemasangan infus pada anaknya. Doa merupakan autosugesti yang dapat mendorong seorang berbuat sesuai dengan yang didoakan dan bila dipanjatkan dengan sungguh-sungguh berpengaruh pada perubahan jiwa dan badan (Sholeh, 2005). Ketika berdoa akan menimbulkan rasa percaya diri, rasa optimisme (harapan kesembuhan), mendatangkan ketenangan, damai, dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa sehingga mengakibatkan rangsangan ke hipotalamus untuk menurunkan produksi CRF (Cortictropin Releasing Factor) . CRF ini selanjutnya akan merangsang kelenjar pituitary anterior untuk menurunkan produksi ACTH (Adreno Cortico Tropin Hormon). Hormon ini yang akan merangsang kortek adrenal untuk menurunkan sekresi kortisol. Kortisol ini yang akan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi tingkat kecemasan (Rinker, 2001). Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Budianto (2009) mengenai pengaruh terapi religius doa kesembuhan terhadap penurunan tingkat kecemasan pasien preoperasi di ruang rawat inap RS Mardi Rahayu Kudus, yang menyimpulkan bahwasannya terapi religius doa kesembuhan efektif untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien preoperasi di ruang rawat inap RS.Mardi Rahayu Kudus. Hawari (2006), psikiater yang mengembangkan psikoterapi holistik, berpendapat bahwa doa menimbulkan
ketenangan. Sebagai contoh misalnya orang yang menderita kecemasan, kemudian diberi obat anti cemas, maka yang bersangkutan akan menjadi tenang. Namun orang yang sama bila memanjatkan doa juga akan memperoleh ketenangan.
Dari hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan