• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENEITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pada penelitian ini penulis banyak menemukan berbagai jenin kenakalan yang dilakukan oelh seseorang dala hal ini remaja.Dimana perbuatan tersebut diluar dari aturan dan norma yang berlaku pada lingkungan dikelurahan mannanti kecamatan tellulimpoe kabupaten sinjai.Banyak dari remaja tersebut tidak mendengarkan arahan dari pemerintah ataupun petugas keamanan,karena menurutnya ketika saya sendiri yang melakukan maka saya sendiri yang akan mendapat resikonya.

Kenakalan remaja yang sering terjadi di kelurahan mannanti kecamatan tellulimpoe kabupaten sinjai yaitu perkelahian,pencurian oleh anak remaja,dan penggunaan obat-obat terlarang.Hal tersebut terjai karena anak remaja yang masih mengikuti apa yang ada dipikirannya dan dilihat

oleh matanya tanpa memikirkan terlebih dahulu dampak yang ditimbulkan.Dalam hal ini orang tua dari remaja tersebut harus lebih bisa mendidik dan mengarahkan anaknya untuk selalu berbuat hal-hal yang baik dan menjauhi hal yang merugikan.

Adapun hasil yang saya temukan mengenai peran orang tua terhadap kenakalan remaja di keluran mannanti kecamatan tellulimpoe kabupaten sinjai yaitu kebanyakan dari orang tua remaja sudah mendidik anaknya untuk ke hal lebih baik tetapi anak tersebut masih saja melakukan sebuah kesalahan.Itu disebabkan karena pergaulan dari anak tersebut tidak dibatasi.Kebanayakan dari anak remaja tersebut memang kurang perhatian dan kasih sayang dari keluarganya terutama orang tua.Sehingga pola pikir dari remaja tersebut itu selalu depresi karena keluarganya saja tidak terlalu memperhatiakannya.

Pada penelitian ini,faktor konsep diri,religiusitas,pola asuh islami akan di pilih sebagai faktor yang akan memprediksi kecenderungan kenakalan remaja.

Faktor pertama,yaitu konsep diri.Shavelon dan roger mengemukakan bahwa konsep diri terbentuk dan berkembang berdasarkan pengalaman dan interpretasi dari lingkungan.Penilaian orang lain,atribut,dan tingkah laku dirinya.Pengembangan konsep diri ini berpengaruh terhadap perilaku yang di tampilkan,sehingga bagaimana orang lain memperlakukan individu dan apa yang apa yang di katakan

orang lain tentang individu akan di jadikan acuan untuk menilai dirinya sendiri.

Maka dari itu,remaja harus pandai memlih dan mempunyai konsep diri yang positif.Sehingga mampu mengatasi dirinya,memperhatikan dunia luar dan mempunyai kemampuan untuk berinteraksi sosial.Begitupun sebaliknya,ketika remaja memiliki konsep diri yang negatif maka akan merugiakan dirinya sendiri,orang lain,orang tua,maupun masyarakat sekitarnya.

Faktor kedua,yaitu religiusitas.Selaras dengan jiwa remaja yang berada dalam transisi dari masa anak-anak menuju kedewasaan,maka kesadaran beragama pada masa reamaja berada dalam masa peralihan dari kehidupan beragama anak-anak menuju kemantapan agama.Gambaran remaja tentang tuhan dengan sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri.

Muttahari mengatakan bahwa manusia tanpa memiliki keyakinan-keyakinan,ideal-ideal,dan keimanan ia tidak akan mampu menjalani kehidupannya dengan baik.Manusia yang tidak mempunyai keyakinan-keyakinan ideal dan keimanan akan cenderung pemalas,tidak mempunyai gairah hidup,tidak mempunyai keinginan untuk hidup lebih baik serta mudah terombang ambing dengan pengaruh dari luar.

Faktor terakhir yaitu pola asuh islami.Pola asuh islami orang tua mengedepankan musyawarah antara anak dan orang tuanya.Orang tua

tidak selalu memaksakan kehendak mereka terhadap anaknya.Tetapi juga tidak membiarkan anak tanpa adanya kontrol.Pola asuh islami ini mendorong remaja untuk mempunyai perilaku sesuai dengan ajaran orang tua yang sesuai dengan ajaran agama islam,mengembangkan kompetensi remaja dan menjauhkan mereka dari kejadian-kejadian yang secara potensial berefek negatif pada remaja seperti stres.

Agama berperan sebagai mekanisme kontrol pada diri remaja.Karena nilai-nilai ajaran agama yang di anutnya akan menjadi penuntun perilaskunya.Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa konsep diri,religiusitas,dan pola asuh islami akan membantu orang tua dalam mengatasi atau meminimalisir kenakalan remaja.Serta merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku nakal remaja.

Ali Syariati menjelaskan dalam sosiologi islam bahwa keluarga memiliki peranan yang amat penting dalam membentuk karakter anak dalam hal ini adalah remaja.Keluarga merupakan madrasah pertama yang di tempuh oleh manusia sebelum bersentuhan dengan lingkungan sekitar maupun lingkungan besar.Juga dengan pola pengajaran dalam pendidikan formal yang akan di tempuhnya.

Hal ini syariati membagi ada beberapa pembentukan karakter remaja yakni: Pertama pendidikan dalam keluarga. Karakter remaja akan sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik, secra genetika manusia akan bertolak dari apa yang menjadi warisan keturunan yang

sifatnya biologis juga psikologis. dipengaruhi juga dengan apa yang ia konsumsi dari perolehan nafkah orang tuanya. Misalnya apabila orang tua dalam hal ini bapak memberikan nafkah pada keluarganya dari hasil yang tidak sesuai dengan apa yng seharusnya (tidak Halal) akan mempengaruhi perilaku orang yang di nafkahinya pahkan mempengaruhi pola pikir dan tindakan praktis keluarganya. Pendidikan spiritual yang diajarkan orang tua pada anaknya tentang nilai dan norma yang berlaku dalam agama akan sangat mempengaruhi juga karakter atau perilaku remaja, tidak hanaya itu remaja atau anak akan cenderung memahami bagimana harus nberperilaku dalam lingkungan sekitar.

Kedua. Lingkunagan, Syariati membagi atas dua lingkungan manusia berinteraksi. Lingkungan Kecil. Yang dimaksud dengan lingkungan kecil merupakan lingkungan pergaulan anak dengan teman sebayanya dalam kontks teangga rumah atau lingkungan yang di tempati berinteraksi saat anak berusia balita 0-13 tahun yang pola interaksinya masih dalam taraf main-main mencari kesenagan.lingkungan besar, merupakan lingkungan tempat berinteraksi saat manusia memasuki usia remaja, pada fase inilah yang sangat mempengaruhi remaja dalam berpikir berperilaku karna pada lingkungan ini pula remaja mengekspresikan dirinya dalam segala aspek tanpa memperhatikan nilai dan moral yang berlaku dalam masyarakat maupun agama yang ia anut. Syariati menungkapkan bahawa pada fase ini manusia atau remaja sanagt dipengaruhi dari bagaimana ia bergaul berinteraksi dan memamahami

gejala sosial, akan tetapi ia akan meresponya dengan berbagai ekspresi tanpa ada penyesalan.

Ketiga .pendidikan yang diperoleh dari lingkungan pendidikan formal. Dari bebagai jenjang pendidikan formal yang ditempuh akan mempengaruhi pola pikir remaja. Sedah menjadi ketetapan bahwa seharusnya dalam pendidikan formal memberikan sumbangsi besar tehadap perilaku remaja melalui perkenalan nilai dan normal yang berlaku. Akan tetapi pada fase ini cenderung kurang berpengaruh terhadap perilaku remaja.

Dokumen terkait