• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.5. Pembahasan Hasil Penelitian

4.5.1. Analisis Pengaruh Cash Position terhadap Dividend Payout Ratio

Variabel cash position memiliki koefisien yang positif, ini berarti bila cash

position meningkat maka Dividend Payout Ratio juga positif atau meningkat. Variabel cash position dapat dijadikan sebagai indikator bagi pemegang saham

atau investor dalam berinvestasi karena jika cash position meningkat maka

Dividend Payout Ratio yang dibagikan juga meningkat. Tanda positif dalam variabel cash position pada Industri Perbankan dan Industri Manufaktur ini

manajemen diharapkan dapat menjaga posisi kas agar tetap likuid dan dapat

mengalalisis serta memprediksi semua piutang usahanya dan kebutuhan

operasional perusahaan sehingga pembebanan kas tidak mengurangi kemampuan

dalam membayar dividen.

Pada Industri perbankan variabel cash position tidak dapat mengestimasi

model dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Dividen

Payout Ratio. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli (2008), Efendi (2007) dan Sudarsi (2002) di mana hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa cash position mempunyai pengaruh positif dan signifikan

terhadap variabel Dividen Payout Ratio. Sedangkan pada Industri Manufaktur

variabel cash position mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap

variabel Dividen Payout Ratio. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Zulkifli (2008), Efendi (2007) dan Sudarsi (2002) di mana hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa cash position mempunyai pengaruh positif dan

signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio.

4.5.2. Analisis Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Dividend Payout

Ratio

Variabel Debt to Equity Ratio memiliki koefisien yang negatif, ini berarti

bila Debt to Equity Ratio meningkat maka Dividend Payout Ratio menurun.

Tanda negatif dalam variabel Debt to Equity Ratio pada Industri Perbankan

menunjukkan bahwa semakin tinggi DER maka dividen yang dibayarkan oleh

lebih efisien dalam mengoptimalisasi pendanaan yang menggunakan hutang agar

tidak mengganggu likuiditas perusahaan sehingga kebijakan dividen perusahaan

tetap baik.

Pada Industri perbankan variabel Debt to Equity Ratio tidak dapat

mengestimasi model dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

variabel Dividen Payout Ratio, ini disebabkan karena tingkat hutang jauh lebih

besar dari pada total modal yang dimiliki pada Industri perbankan. Hasil

penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli (2008)

dan Efendi (2007) di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Debt to

Equity Ratio mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio. Sedangkan pada Industri manufaktur variabel Debt to Equity Ratio tidak diikutsertakan dalam model karena tidak memenuhi syarat uji asumsi klasik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudarsi

(2002) di mana dalam penelitiannya variabel Debt to Equity Ratio juga tidak

diikutsertakan dalam model karena tidak memenuhi syarat uji asumsi klasik.

4.5.3. Analisis Pengaruh Return on Asset terhadap Dividend Payout Ratio

Variabel Return on Asset memiliki koefisien yang positif, ini berarti bila

Return on Asset meningkat maka Dividend Payout Ratio juga positif atau meningkat. Tanda positif dalam variabel Return on Asset pada Industri Perbankan

dan Industri Manufaktur ini menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan

Pada Industri perbankan dan Industri Manufaktur, variabel Return on Asset

tidak dapat mengestimasi model dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap variabel Dividen Payout Ratio, di mana besarnya ROA yang dihasilkan

ternyata tidak mempengaruhi keputusan perusahaan untuk membagikan dividen

dalam jumlah yang besar pula. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Efendi (2007) dan Sudarsi (2002) di mana hasil penelitiannya menunjukkan

bahwa Return on Asset tidak mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap

variabel Dividen Payout Ratio tetapi tidak sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Zulkifli (2008) di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

Return on Asset mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio.

4.5.4. Analisis Pengaruh Firm Size terhadap Dividend Payout Ratio

Variabel firm size memiliki koefisien yang positif, ini berarti bila firm size

meningkat maka Dividend Payout Ratio juga positif atau meningkat. Tanda positif

pada variabel firm size yang terdapat pada Industri Perbankan dan Industri

Manufaktur sesuai dengan asumsi semula yaitu bahwa semakin besar firm size

atau ukuran suatu perusahaan, maka semakin besar pula dividen yang dibagikan

perusahaan.

Pada Industri perbankan variabel firm size tidak dapat mengestimasi model

dan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel Dividen Payout

Ratio. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulkifli (2008)dan Efendi (2007) di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa firm

size mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio. Sedangkan pada Industri Manufaktur variabel firm size mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi ukuran perusahaan maka semakin

tinggi pula Dividen Payout Ratio. Besarnya perusahaan berperan dalam besarnya

rasio pembayaran dividen. Perusahaan yang besar cenderung mempunyai akses

yang lebih mudah dalam pasar modal, sehingga perusahaan dapat membayarkan

dividen yang lebih besar dari laba yang diperolehnya sehingga mengurangi

ketergantungan pada pendanaan internal. Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Zulkifli (2008) dan Efendi (2007) di mana hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa firm size mempunyai pengaruh positif dan signifikan

terhadap variabel Dividen Payout Ratio.

4.5.5. Analisis Pengaruh Shareholder Dispersion terhadap Dividend Payout

Ratio

Variabel shareholder dispersion memiliki koefisien yang negatif, ini

berarti bila shareholder dispersion meningkat maka dividend payout ratio

menurun. Pada penelitian ini untuk industri perbankan, berdasarkan hasil uji F

variabel shareholder dispersion tidak dapat mengestimasi model, dan tidak

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dividend payout ratio.

Sedangkan pada industri manufaktur, variabel shareholder dispersion tidak

perusahaan dalam menentukan besar kecilnya dividen yang akan dibagikan

kepada pemegang saham. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Efendi (2007) di mana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa shareholder

dispersion mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap variabel Dividen Payout Ratio.

BAB V

Dokumen terkait