BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial, didapati bahwa variabel independen yaitu kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu manajemen laba. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,013 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini dikarenakan krisis moneter yang terjadi di Indonesia yang berdampak pada kondisi operasional perusahaan real estate dan property. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2005) tetapi bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) dan Maruf (2006). Hal ini mungkin dikarenakan berbedanya perusahaan yang diteliti dalam penelitian. Perusahaan yang diteliti oleh Isnanta adalah perusahaan manufaktur yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan real estate dan property seperti adanya konsentrasi kepemilikan oleh pihak tertentu yang memungkinkan terjadinya hubungan afiliasi antara pemilik, pengawas, dan
direktur perusahaan. Sedangkan karakteristik perusahaan real estate dan property adalah mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku dan telah mengembangkan peraturan internal untuk melindungi hak-hak pemegang saham: perlakuan yang setara terhadap semua pemegang saham dan
stakeholders, pemisahaan tugas, tanggung jawab dan wewenang antara
pemegang saham, Direksi, Komisaris. Sedangkan karakteristik perusahaan go
public yang diteliti oleh Maruf (2006) adalah para pemilik saham harus
memperhatikan kepentingan bersama para pemegang saham dan tidak bisa lagi melakukan praktik nepotisme, kecurangan dalam pengambilan keputusan dan lainnya karena perusahaan tersebut milik publik.
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial, didapati bahwa variabel independen yaitu proporsi dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu manajemen laba. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,498 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini di karenakan krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 2007-2008 sehingga menyebabkan para anggota dewan komisaris tidak memberikan informasi dan perkembangan penting perusahaan secara cepat dan transparan. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) tetapi bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maruf (2006) dan Astuti (2005). Perbedaan hasil tersebut mungkin dikarenakan oleh perbedaan periode yang digunakan dalam penelitian. Maruf (2006) dan Astuti (2005) melakukan penelitian pada periode 2005-2001 dimana pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia tidak berada dalam krisis moneter seperti yang dialami oleh perusahaan real estate pada tahun 2007-2008
sehingga para anggota dewan komisaris memberikan isu-isu dan perkembangan penting perusahaan secara cepat dan transparan.
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial juga, didapati bahwa variabel independen yaitu proporsi komite audit tidak berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu manajemen laba. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,100 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini di karenakan krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 2007-2008 sehingga menyebabkan para anggota komite audit tidak dapat memastikan identifikasi resiko bisnis, pengawasan operasional yang efektif dan efisien, kualitas informasi manajemen keuangan, dan kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan.
. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) tetapi bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maruf (2006) dan Astuti (2005). Perbedaan hasil tersebut mungkin dikarenakan oleh perbedaan periode yang digunakan dalam penelitian. Maruf dan Astuti melakukan penelitian pada periode 2005-2001 dimana pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia tidak berada dalam krisis moneter seperti yang dialami oleh perusahaan real estate pada tahun 2007-2008 sehingga para anggota komite audit dapat memastikan identifikasi resiko bisnis, pengawasan operasional yang efektif dan efisien, kualitas informasi manajemen keuangan, dan kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan.
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial, didapati bahwa variabel independen yaitu kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu kinerja perusahaan. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,137 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini dikarenakan kondisi
operasional yang menurun pada perusahaan real estate dan property yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2007- 2008 sehingga membuat kinerja peusahaan merosot dan mengakibatkan kepercayaan para pemegang saham berkurang. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) yang mengatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Perbedaan penelitian ini mungkin disebabkan oleh periode penelitian yang digunakan dalam penelitian. Isnanta melakukan penelitian pada periode 2006- 2005 dimana pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia tidak berada dalam krisis moneter seperti yang dialami oleh perusahaan real estate pada tahun 2007-2008 sehingga para manajemen dapat memastikan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kepercayaan para investor dalam penanaman modalnya pada perusahaan manufaktur.
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial, didapati bahwa variabel independen yaitu proporsi dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu kinerja perusahaan. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,168 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini dikarenakan kondisi operasional yang menurun pada perusahaan real estate dan property yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2007-2008 sehingga sehingga menyebabkan para anggota dewan komisaris tidak dapat memberikan informasi dan perkembangan penting perusahaan secara cepat dan transparan yang pada akhirnya berdampak pada kinerja perusahaan yang buruk. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) yang mengatakan bahwa
proporsi dewan komisaris berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Perbedaan penelitian ini mungkin disebabkan oleh periode penelitian yang digunakan dalam penelitian. Isnanta (2007) melakukan penelitian pada periode 2006-2005 dimana pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia tidak berada dalam krisis moneter seperti yang dialami oleh perusahaan real estate pada tahun 2007-2008 sehingga para anggota dewan komisaris dapat memberikan informasi yang pasti dan perkembangan penting perusahaan secara cepat dan transparan yang pada akhirnya berdampak pada kinerja perusahaan yang baik.
Dari hasil pengujian variabel penelitian secara parsial, didapati bahwa variabel independen yaitu komite audit tidak berpengaruh terhadap variabel dependen yaitu kinerja perusahaan. Hal ini sesuai dengan signifikansi t sebesar 0,108 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini dikarenakan kondisi operasional yang menurun pada perusahaan real estate dan property yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 2007-2008 sehingga para anggota komite audit tidak dapat memastikan identifikasi resiko bisnis, pengawasan operasional yang efektif dan efisien, kualitas informasi manajemen keuangan, dan kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan.yang pada akhirnya berdampak pada kinerja perusahaan yang buruk. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) yang mengatakan bahwa komite audit berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Perbedaan penelitian ini mungkin disebabkan oleh periode penelitian yang digunakan dalam penelitian. Isnanta (2007) melakukan penelitian pada periode 2006-2005 dimana pada tahun tersebut kondisi perekonomian Indonesia tidak berada dalam krisis moneter seperti yang
dialami oleh perusahaan real estate pada tahun 2007-2008 sehingga para anggota komite audit dapat memastikan identifikasi resiko bisnis, pengawasan operasional yang efektif dan efisien, kualitas informasi manajemen keuangan, dan kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan yang pada akhirnya berdampak pada kinerja perusahaan yang baik.
Nilai Adjusted R Square terhadap manajemen laba sebesar 0,173 yang berarti bahwa 17,3 % variasi good corporate governance dapat dijelaskan oleh variasi kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit sedangkan sisanya sebesar 82,7 % dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara parsial good corporate governance yang berasal dari kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) dan Maruf (2006) yang menyatakan bahwa good corporate
governance tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba
tetapi bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2005) yang menyatakan bahwa good corporate governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh perusahaan yang digunakan dalam penelitian. Astuti menggunakan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang memiliki banyak peraturan yang terkait langsung dengan upaya penerapan Good Corporate
Governance yang salah satunya adalah dengan mengeluarkan peraturan No.
8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum (FCGI, 2008). Sedangkan untuk perusahaan real estate dan property FCGI tidak megeluarkan peraturan yang terkait langsung dengan upaya penerapan Good Corporate Governance.
Nilai Adjusted R Square terhadap kinerja perusahaan sebesar 0,185 yang berarti bahwa 18,5 % variasi good corporate governance dapat dijelaskan oleh variasi kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit sedangkan sisanya sebesar 81,5 % dijelaskan oleh sebab-sebab lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa secara parsial good corporate governance yang diproksikan kedalam kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnanta (2007) yang menyatakan bahwa good corporate governance berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini mungkin dikarenakan berbedanya karakteristik perusahaan yang digunakan dalam penelitian. Perusahaan yang diteliti oleh Isnanta (2007) adalah perusahaan manufaktur yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan perusahaan real estate dan property seperti adanya konsentrasi kepemilikan oleh pihak tertentu yang memungkinkan terjadinya hubungan afiliasi antara pemilik, pengawas, dan direktur perusahaan. Sedangkan karakteristik perusahaan real estate dan property adalah mengikuti peraturan perundang- undangan yang berlaku dan telah mengembangkan peraturan internal untuk melindungi hak-hak pemegang saham: perlakuan yang setara terhadap semua
pemegang saham dan stakeholders, pemisahaan tugas, tanggung jawab dan wewenang antara pemegang saham, Direksi, Komisaris.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab empat, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam kepemilikan manajerial (X1) berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007) dan Maruf (2006) dan bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2005).
2. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam proporsi dewan komisaris (X2) tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007) tetapi bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maruf (2006) dan Astuti (2005).
3. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam komite audit (X3) tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini didukung oleh peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007) tetapi bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maruf (2006) dan Astuti (2005).
4. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam kepemilikan manajerial (X1) tidak berpengaruh terhadap
kinerja perusahaan. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007).
5. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam proporsi dewan komisaris (X2) tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007).
6. Hasil pengujian menunjukkan bahwa variabel good corporate governance yang diproksikan kedalam komite audit (X3) tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Isnanta (2007).
B. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan-keterbatasan tersebut antara lain:
1. Penelitian ini mengambil tiga buah variabel yaitu kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris dan komite audit sebagai variabel independen.
2. Periode pengamatan dalam penelitian ini terbatas karena hanya mencakup tahun 2007-2008,
3. Perusahaan yang diteliti hanya perusahaan real estate dan property yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran seperti : 1. Menambah Jumlah variabel dari good corporate governance seperti variabel
kepemilikan institusional.
2. Menambah tahun periode pengamatan untuk mendapatkan hasil prediksi yang lebih baik.
3. Mengganti perusahaan lain yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang belum pernah diambil oleh peneliti sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Irfan (2002). Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi. Lintasan Ekonomi Vol. XIX. No.2. Juli 2002.
Deni Darmawati, Khomsiyah dan Rika Gelar Rahayu. (2004). Hubungan Corporate Governance dan Kinerja Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi VII , IAI, 2004.
Erlina, dan Sri Mulyani, 2007. Metodologi Penelitian dan Bisnis untuk Akuntansi dan
Manajemen, Edisi Pertama, USU PRESS, Medan.
Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Penerbit Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Isnanta, Rudi, 2007. “Pengaruh good corporate governance dan struktur kepemilikan
terhadap manajamen laba dan kinerja perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Skripsi, Jurusan Akuntansi, fakultas Ekonomi,
Universitas Islam Yogyakarta.
Maruf, Muhammad, 2006. “Pengaruh good corporate governance terhadap
manajemen laba pada perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Skripsi, Jurusan Akuntansi, fakultas Ekonomi, Universitas
Widyatama.
Astusi, Puji, 2005. Pengaruh good corporate governance dalam mempengaruhi
motivasi manajemen laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Skripsi, Jurusan Akuntansi, fakultas Ekonomi,
Universitas Islam Indonesia.
Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta. Nugroho, Bhuono Agung, 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS, Edisi Pertama, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Rochaety, Ety, Tresnati, Ratih dan H. Abdul Madjid Latief, 2007. Metodologi
Penelitian Bisnis Dengan Aplikasi SPSS, Edisi Pertama, Penerbit Mitra
Wacana Media, Jakarta.
Gideon SB Boediono. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governace dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis Jalur. Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005.
Stice, Earl K., James D. Stice, dan K. Fred Skousen, 2004. Akuntansi Intermediate, Buku Satu, Edisi Kelima Belas, Alih Bahasa Safrida R. Parulian dan Ahmad Maulana, Salemaba, Empat Jakarta.
Sumarni, Murti dan Salamah Wahyuni, 2006, Metodologi Penelitian Bisnis, CV Andi Offset, Yogyakarta.
Lampiran i