• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-38)

Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa besarnya pengaruh gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja pada Kantor Inspektorat dan Setda Kota Salatiga adalah signifikan yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu satuan skor gaya kepemimpinan feminim akan menyebabkan kenaikan skor kepuasan kerja. Gaya kepemimpinan feminim pada umumnya menolak perbedaan baik biologis maupun konstruksi sosial, menolak sikap pasif dan ketergantungan sebagai ciri khas perempuan serta kesetaraan jender. Gaya kepemimpinan yang diterapkan dengan baik dan tepat, akan memberikan pengaruh pada kinerja karyawan melalui kepuasan kerja karyawan artinya bahwa kepemimpinan berpengaruh positif signifikan terhadap

89

kepuasan kerja dan juga kinerja karyawan (Suprapta, et.al, 2015). Besarnya pengaruh gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja sebesar tiga puluh depalan koma tiga persen. Hal ini berarti tiga puluh depalan koma tiga persen kepuasan kerja mendapat pengaruh gaya kepemimpinan feminim sedangkan sisanya enam puluh satu koma tujuh ditentukan oleh faktor lain di luar variabel gaya kepemimpinan feminim. Oleh karena itu terbukti memberikan pengaruh yang positif bagi kepuasan kerja atau sumbangan efektif yang memberi pengaruh gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja.

Analisis pengaruh gaya kepemimpinan feminim terhadap kinerja pegawai mendapatkan hasil yang signifikan, setiap kenaikan satu satuan skor gaya kepemimpinan feminim akan menyebabkan kenaikan skor kinerja pegawai. Gaya kepemimpinan yang efektif adalah gaya kepemimpinan yang mampu menggerakkan pegawai untuk bekerja dengan efektif dan efisien, sehingga kinerja pegawai dalam melaksanakan pekerjaan dapat ditingkatkan dan bermuara pada pencapaian tujuan yang di kehendaki oleh organisasi. Kepemimpinan lebih menekankan pada peran pemimpin dalam organisasi yang mencerminkan proses dan berfokus pada kelompok organisasi serta membangun interaksi (Yukl, 2017). Adapun besarnya varian kinerja pengawai yang ditentukan oleh Gaya kepemimpinan feminim adalah sepuluh koma sembilan

90

persen. Hal ini berarti sepuluh koma sembilan persen kinerja pegawai mendapat pengaruh dari gaya kepemimpinan feminim sedangkan sisanya delapan puluh sembilan koma satu ditentukan oleh faktor lain di luar variabel gaya kepemimpinan feminim. Oleh karena itu terbukti memberikan pengaruh yang positif bagi kinerja pegawai atau sumbangan efektif yang memberi pengaruh gaya kepemimpinan feminim terhadap kinerja pegawai.

Hasil analisis pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Inspektorat dan Setda Kota Salatiga mendapatkan hasil yang signifikan, bahwa setiap kenaikan satu satuan skor kepuasan kerja akan menyebabkan kenaikan skor kinerja pegawai. Adapun besarnya varian kepuasan kerja yang ditentukan dari kinerja pegawai adalah empat puluh enam koma lima persen sedangkan sisanya lima puluh tiga koma lima persen ditentukan oleh faktor lain di luar variabel kepuasan kerja. Kinerja pegawai merupakan seluruh hasil yang diproduksi pada fungsi pekerjaan atau aktifitas khusus selama periode khusus (Amirullah, 2015). Oleh karena itu agar mempunyai kinerja yang baik, seseorang harus mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan dan mengetahui pekerjaannya serta dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan yang membentuk kepuasan kerja.

91

Analisis pengaruh gaya kepemimpinan feminim secara tidak langsung terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening sebesar nol koma tujuh ratus enam puluh tujuh sedangkan variabel gaya kepemimpinan feminim langsung terhadap kinerja pegawai sebesar nol koma tiga ratus empat puluh satu. Dari hasil perhitungan yang didapat menunjukkan pengaruh secara tidak langsung melalui kepuasan kerja lebih besar dibandingkan pengaruh gaya kepemimpinan feminim langsung terhadap kinerja pegawai pada pada Kantor Inspektorat dan Sekretariat Daerah Kota Salatiga. Dalam penelitian Rani Mariam (2009) mengenai gaya kepemimpinan dan budaya organisasi yang berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja karyawan secara positif berpengaruh. Instansi perlu memperhatikan tingkat kepuasan kerja untuk kinerja karyawan yang baik dalam instansi. Selain itu disebutkan bahwa faktor faktor lain dalam adanya pemberian pemahaman dan apresiasi terhadap karyawan dengan memberikan kesempatan promosi, serta kesempatan berpartisipasi dan terlibat dalam setiap pengambilan keputusan yang berkaitan juga penting.

Berdasarkan rumusan hipotesis yang menyatakan Ha (Hipotesis alternatif) adalah terdapat pengaruh yang signifikan antara gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja, gaya kepemimpinan feminim terhadap kinerja

92

pegawai, kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai dan pengaruh gaya kepemimpinan feminim secara tidak langsung terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening sedangkan Ho (Hipotesis Nihil) yaitu tidak terdapat pengaruh signifikan antara gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja, gaya kepemimpinan feminim terhadap kinerja pegawai dan kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai dan pengaruh gaya kepemimpinan feminim secara tidak langsung terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening pada Kantor Inspektorat dan Setda Kota Salatiga. Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak dan (Ha) diterima, dengan signifikansi sebesar 0,000 atau probabilitas kurang dari 0,05 yang berarti semua hipotesis penelitian dapat diterima kebenarannya. Jadi dapat diartikan bahwa semua hipotesis penelitian yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan antara gaya kepemimpinan feminim terhadap kepuasan kerja, gaya kepemimpinan feminim terhadap kinerja pegawai, kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai, gaya kepemimpinan feminim secara tidak langsung terhadap kinerja pegawai melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening dapat diterima kebenarannya.

Pegawai yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk mengerjakan dan mengetahui pekerjaannya akan mempunyai kepuasan kerja yang tinggi yang akan berujung

93

pada peningkatan kinerja. Pegawai yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan frustasi.

Salah satu unsur atau faktor yang mampu memberi semangat kerja atau peningkatan kinerja bawahan tidak lain adalah gaya atau sistem kepemimpinan itu sendiri, sehingga apabila gaya kepemimpinan yang diterapkan sesuai dengan situasi atau keadaan organisasi khususnya terhadap bawahan maka akan dapat meningkatkan kinerja pegawai, begitu pula sebaliknya.

Dengan demikian maka gaya kepemimpinan sangat berpengaruh besar terhadap kepuasan kerja dan kinerja pegawai pada Kantor Inspektorat dan Sekretariat Daerah Kota Salatiga.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 33-38)

Dokumen terkait