• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEBAHASAN

5.2 Pembahasan

Pada penelitian ini didapati mayoritas responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai obesitas pada anak. Peneliti berasumsi bahwa pengetahuan ibu yang berada dalam kategori cukup (56,7%) ini disebabkan kurangnya kesadaran ibu akan bahayanya obesitas ini yang mana hal ini bisa saja disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh ibu mengenai obesitas pada anak. Penelitian Patricia (2009) mendapati pengetahuan mengenai perilaku berisiko obesitas yang dilakukan pada ibu dari siswa/i kelas III SD St Fransiskus Jakarta Selatan relatif tinggi. Penelitian yang dilakukan di poli-KIA Puskesmas Dinoyo Malang tahun 2001 menunjukkan pengetahuan orangtua tentang bahaya obesitas pada anak cukup rendah (53,33%). Penelitian Rosa (2010) mendapati pengetahuan ibu tentang gizi pada balita di Kabupaten Ponorogo tergolong dalam kategori rendah (85%). Perbedaan yang didapati pada hasil penelitian ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan karakteristik responden dan terdapatnya perbedaan jenis pertanyaan untuk menilai tingkat pengetahuan yang dipertanyakan pada penelitian-penelitian ini. Dimana pada penelitian sebelumnya, pertanyaan yang diajukan lebih mengarah seputar tentang pengetahuan gizi ibu. Selain itu, perbedaan ini juga bisa saja disebabkan karena berbedanya pembagian kategori pengetahuan pada beberapa penelitian ini.

Selain itu faktor usia juga berpengaruh terhadap pengetahuan para ibu tentang obesitas pada anak dimana kelompok usia 31-40 tahun cenderung memiliki pengetahuan yang baik terhadap obesitas pada anak. Hal ini bisa disebabkan karena usia produktif (31-40 tahun) memiliki pengetahuan yang baik

dari segi pengalaman dan ketajaman berpikir selain itu mungkin saja disebabkan karena banyaknya jumlah sampel pada kelompok usia 31-40 tahun sehingga mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu, tampak pada pelaksanaan penelitian responden dengan kelompok usia 31-40 tahun lebih berusaha untuk memahami soal yang diajukan dan membandingkannya dengan hal-hal yang sering mereka perhatikan pada anak yang mengalami obesitas. Pada penelitian yang dilakukan oleh Mega (2010) yang menilai pengetahuan ibu tentang muntah pada anak mendapati tingkat pengetahuan baik berada pada ibu dengan kelompok usia 31-40 tahun. Hal ini bisa saja menunjukkan bahwa kelompok usia 31-40 tahun merupakan usia dimana seorang ibu lebih matang dan peka terhadap tumbuh dan kembang anak sehingga ibu tersebut berusaha untuk mencari lebih banyak informasi yang berkaitan dengan masalah-masalah yang terjadi pada anak. Menurut Notoadmodjo (2003), umur mempengaruhi pengetahuan, karena semakin tua usia maka pengetahuan semakin bertambah juga.

Hal ini mungkin ada kaitanya dengan faktor pendidikan terakhir responden. Dari penelitian diketahui bahwa responden dengan pengetahuan baik mayoritas mengemban pendidikan perguruan tinggi. Hal ini bisa disebabkan karena perguruan tinggi merupakan kategori tingkat pendidikan yang tinggi, sehingga artinya seseorang dengan pendidikan lebih tinggi cenderung untuk lebih mengoptimalisasikan informasi yang diperoleh termasuk untuk mencari sendiri sumber informasinya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Drajat et al (2008) bahwa pendidikan seseorang dapat membantu sampainya informasi kesehatan, sehingga dapat berpengaruh secara tidak langsung pada status dan pengetahuan kesehatan, maka rendahnya tingkat pendidikan ini merupakan salah satu faktor penghambat terhadap akses informasi pangan, gizi dan kesehatan. Pendapat ini juga didukung oleh Koenraadt (2006) melalui hasil penelitiannya menyatakan bahwa seseorang dengan pendidikan lebih tinggi berpeluang untuk memanfaatkan lebih banyak sarana informasi untuk meningkatkan pengetahuannya. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan termasuk salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan, secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mepunyai

pengetahuan lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka seseorang akan dapat lebih mudah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan menyerap kemajuan teknologi.

Peranan pekerjaan ataupun aktivitas responden merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dimana responden yang memiliki pengetahuan baik adalah ibu yang bekerja (PNS) dan sementara responden yang memiliki pengetahuan yang kurang adalah ibu yang tidak bekerja (ibu rumah tangga). Jadi dapat dilihat bahwa ibu atau responden yang bekerja memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada ibu atau responden yang tidak bekerja. Peneliti berasumsi tingkat pengetahuan ibu yang lebih baik berada pada ibu dengan pekerjaan PNS dikarenakan PNS lebih banyak menerima informasi dari luar dan tingkat pemahaman yang cukup baik. Sama halnya dengan usia dan tingkat pendidikan, pekerjaan juga merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan serta pembentukan sikap seseorang. Jika seseorang memiliki pekerjaan maka diyakini akan terjadi peningkatan pengetahuan serta pembetukan sikap positif pada diri seseorang (Kosasih, 1997).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada ibu di Kelurahan Pangkalan Masyhur Kecamatan Medan Johor diperoleh bahwa pengetahuan ibu tentang obesitas pada anak dalam kategori cukup namun masih perlu ditingkatkan pengetahuan ibu terhadap penyebab dan faktor risiko dari obesitas pada anak. Sebagaimana yang terlihat pada hasil penelitian bahwa pengetahuan ibu tentang penyebab dan faktor risiko masih kurang. Hal ini bisa saja disebabkan karena kurangnya informasi yang diperoleh oleh ibu-ibu tentang penyebab dan faktor risiko obesitas pada anak sehingga hal ini menyebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang penyebab dan faktor risiko obesitas. Sedang untuk pengetahuan ibu tentang komplikasi dan tatalaksana obesitas pada anak sudah tergolong cukup baik. Dimana pengetahuan responden mengenai komplikasi dan tatalaksana obesitas lebih baik bisa saja disebabkan karena komplikasi dan tatalaksana merupakan dampak yang dapat dilihat secara langsung sebagaimana menurut

Notoatmodjo (2003), pengetahuan diperoleh setelah seseorang melalukan penginderaan terhadap suatu objek. Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan melalui adanya informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan melalui penyuluhan dan sosialisasi melalui media-media lainnya.

Dokumen terkait