• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Pada penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas persepsi responden terhadap penyakit hipertensi adalah baik, sedangkan untuk persepsi terhadap pengobatan hipertensi adalah cukup baik. Penelitian ini banyak diikuti oleh responden dengan kelompok umur diatas 45 tahun dan responden dengan pendidikan akhir Perguruan Tinggi dan SMA. Menurut Notoadmojo (2007)

semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin sering seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas persepsi seseorang. Selain itu pendidikan juga mempengaruhi kualitas persepsi. Dimana semakin lama seseorang menerima pendidikan maka semakin lama pula terjadi interaksi dengan lingkungannya baik formal atau informal (Notoadmojo, 2007). Hal ini akan berpengaruh terhadap proses memberi menangkap stimuli akibat dari interaksi dengan lingkungan yang disebut dengan persepsi (Rakhmat, 2007).

Pada penelitian ini diketahui bahwa dominan responden (59%) tidak menyetujui bahwa orang muda tidak memiliki resiko untuk terkena penyakit hipertensi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jesus (2007) di Brazil. Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa 86,5 % responden tidak setuju akan peryataan tersebut. Tingginya tingkat persepsi yang benar pada penelitian yang dilakukan oleh Jesus dibandingkan dengan yang didapat oleh peneliti dapat disebabkan oleh faktor epidemiologi yang berbeda yaitu berbeda tempat, waktu dan orang yang mengikuti penelitian ini.

Sebagian besar responden tidak mengetahui apa sebenarnya pengertian dari penyakit hipertensi. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar responden tidak setuju akan peryataan bahwa hipertensi adalah penyakit yang tidak memiliki gejala yang khas. Terdapat 53 orang responden (53%) yang tidak setuju akan pernyataan tersebut. Hal ini juga sejalan pada penelitian yang terlebih dahulu dilakukan oleh Jesus (2007) di Brazil. Dimana pada penelitian tersebut didapatkan 55,8 % responden tidak setuju akan pernyataan bahwa hipertensi adalah penyakit yang tidak memiliki gejala yang khas. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Lyalomhe (2010) di Nigeria, didapatkan 97 % responden tidak setuju akan peryataan tersebut. Menurut Sedyaningsih dalam Depkes (2010) dijelaskan bahwa hipertensi adalah penyakit yang tidak memiliki gejala yang khas. Rendahnya persepsi responden terhadap pengertian hipertensi dapat disebabkan karena pengalaman dari responden . Menurut Baihaqi (2007) pengalaman seseorang mempengaruhi kualitas persepsi. Peneliti sempat bertanya kepada responden mengenai alasan mereka menjawab pernyataan tersebut, sebagian besar responden

menjawab tidak setuju karena pengalaman mereka yang merasakan adanya gejala yang muncul ketika tekanan darah mereka naik.

Sebagian besar responden memiliki persepsi yang baik dalam menjawab pernyataan faktor resiko yang dapat menyebabkan penyakit hipertensi. Hal ini dapat disebabkan karena informasi yang diperoleh responden pada penelitian yang sudah tepat. Pada penelitian ini terdapat bahwa 67 % responden setuju bahwa hipertensi dapat disebabkan karena mengkonsumsi garam berlebih. Pada penelitian Lyamlomhe (2010) didapatkan 81,5 % responden setuju bahwa hipertensi dapat disebabkan karena mengkonsumsi garam berlebih. Pada pernyataan berikutnya, terdapat 61 % responden setuju dengan pernyataan bahwa stress dapat menyebabkan hipertensi. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lyamlomhe (2010), dimana pada penelitiannya didapatkan bahwa 86 % responden tidak setuju akan peryataan bahwa strees dapat menyebabkan hipertensi. Berdasarkan WHO, 2001 Stress merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit hipertensi. Pada peryataan merokok dapat menyebabkan penyakit hipertensi 58 % responden yang setuju . Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lyalomhe (2010), dimana pada penelitiannya didapakan 58 % responden tidak setuju akan peryataan merokok dapat menyebabkan penyakit hipertensi. Menurut WHO, 2003 dijelaskan bahwa merokok merupakan salah satu faktor resiko untuk penyakit hipertensi Lyamlomhe dalam jurnalnya mengatakan bahwa mayoritas responden yang mengikuti penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, informasi mengenai hipertensi yang mereka dapatkan juga masih kurang, dimana mereka hanya berpendapat bahwa hipertensi disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat. Hal ini dapat merupakan penyebab yang perbedaan hasil yang didapatkan peneliti dengan penelitian sebelumnya.

Berdasarkan tabel 5.5. dapat dilihat bahwa didapatkan 77 % responden setuju akan pernyataan hipertensi tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lyalomhe (2010), dimana pada penelitian tersebut dijelaskan bahwa 90,7 % responden yang mengikuti penelitian setuju akan peryataan tersebut. Terdapat 83 % responden yang

mengikuti penelitian yang setuju akan peryataan mengubah pola hidup dan menurunkan berat badan dapat mengurangi resiko hipertensi. Hal ini sesuai dengan JNC 7 dimana pengubahan pola hidup adalah langkah pertama sebelum pengobatan secara farmakologi. Pernyataan ini juga didukung Depkes (2010) yang menyatakan bahwa hipertensi dapat dicegah dengan mengubah pola hidup.

Berdasarkan tabel 5.9. dapat dilihat terdapat 68 % responden dalam penelitian ini yang setuju akan pernyataan hipertensi dapat diobati. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang diperoleh sebelumnya oleh Jesus (2007), dimana pada penelitiannya 67,5 % responden tidak setuju akan pernyataan bahwa hipertensi dapat diobati. Perbedaan hasil yang didapat oleh peneliti dengan penelitian sebelumnya dapat disebabkan oleh perbedaan tempat, dimana peneliti melakukan penelitian di tingkat kabupaten sedangkan penelitian sebelumnya dilakukan di Kota dari Sao Paulo sehingga memungkinkan informasi yang didapat juga berbeda. Sedangkan untuk pernyatan pengobatan hipertensi adalah seumur hidup sebagian besar pasien sudah memiliki persepsi yang benar, dimana terdapat 58 % responden yang setuju akan pernyataan tersebut dan dan hanya terdapat 30 % pasien yang setuju akan pernyataan pengobatan hipertensi hanya pada saat tekanan darah saya tinggi saja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jesus (2007), dimana pada penelitiannya didapatkan 84,1 % responden setuju akan pernyataan tersebut. Kesamaan hasil yang didapatkan oleh peneliti dengan penelitian sebelumnya dapat disebabkan oleh karakteristik responden yang mengikuti penelitian yang sama, yaitu sebagian besar pegawai negeri sipil dan petani. Menurut Riaz, 2012 pengobatan antihipertensi umumnya untuk seumur hidup.

Untuk Pernyataan bahwa hipertensi adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri, sebagian besar responden (65%) tidak setuju akan pernyataan ini.

Dokumen terkait