• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

Pada tabel 5.1. diperoleh bahwa kelompok usia terbanyak yang terkena karsinoma nasofaring adalah dari kelompok usia 50-59 tahun sebanyak 28 kasus (44.4%) , sedangkan kelompok usia 20-29 sebanyak 1 kasus (1.6%).

Umur termuda penderita KNF bervariasi tergantung pada penelitian yang dilakukan. Pada penelitian ini didapatkan 25 tahun merupakan usia termuda penderita KNF, sedangkan pada tahun 2007 di Sumatera Utara didapati penderita KNF termuda berusia 21 tahun (Munir D, 2007)

Nasution (2008), pada penelitiannya menemukan hasil yang serupa yaitu penderita karsinoma nasofaring di RSUP H. Adam Malik Medan dan RSU Dr. Pringadi Medan selama tahun 2007 terbanyak adalah usia 50-59 tahun sebanyak 28 penderita (29.2%).

Munir (2007), pada penelitiannya juga memperolah hasil yang sama yaitu kelompok usia terbanyak menderita karsinoma nasofaring di Sumatera Utara adalah usia 50-59 tahun.

Infeksi VEB awalnya terjadi pada anak-anak. Infeksi akut biasanya tidak menimbulkan gejala dan dapat sembuh dengan sendirinya. VEB menginfeksi jaringan epitel yang berada di nasofaring (Young et al, 1986). Pada infeksi laten, DNA dari VEB akan tetap ada didalam sel yang diinfeksinya sebagai episom dalam waktu yang lama yaitu sekitar 20-25 tahun tanpa menimbulkan gejala yang kemudian dapat memicu poliferasi sel dan menyebabkan keganasan (Jawetz et al,1996; Pathamanathan dan Raab-Traub, 1999). Dengan demikian dapat dipahami bahwa proses keganasan yang terjadi pada KNF akan timbul setelah infeksi laten yang menyebabkan jumlah penderita akan meningkat pada usia dewasa.

Pada tabel 5.2. frekuensi penderita karsinoma nasofaring laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Frekuensi penderita karsinoma nasofaring pada laki-laki

sebanyak 47 kasus (74.6%), sedangkan perempuan sebanyak 16 kasus (25.4%). Hal ini sesuai dari beberapa laporan dari penelitian serupa, yang menyatakan bahwa laki- laki lebih banyak menderita karsinoma nasofaring dibanding perempuan (; Munir, 2007; Nasution, 2008; American Cancer Society, 2013)

Faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil diatas adalah faktor hormon dan lingkungan. Hormon laki-laki lebih didominasi oleh testosteron yang dimana memberikan suatu efek imunosupresif dengan penekanan poliferasi limfosit dan pengurangan produksi limfosit (Bilbo dan Nelson, 2001). Akibat dari respon imun yang tidak optimal maka infeksi dari VEB terus berlanjut hingga menjadi keganasan.

Laki-laki di wilayah timur memiliki kecenderungan untuk lebih banyak beraktifitas di luar rumah dibandingkan dengan perempuan. Hal ini dapat menyebabkan laki-laki akan menerima stres lebih dari perempuan baik itu stres fisik seperti terpapar panas dan dingin, stres psikis seperti rasa emosi, takut, maupun stres sosial seperti konflik pribadi. Keadaan tersebut dapat memicu hipothalamus memproduksi corticotropin releasing hormone (CRH) yang akan merangsang ptuitary gland untuk memproduksi adrenal corticotropic hormon (ACTH). Produksi ACTH akan merangsang kelenjar adrenal untuk menghasilkan glucocorticoid yang selanjutnya dapat mengurangi produksi sitokin sehingga dapat mempengaruhi respon imun humoral maupun seluler (Glaser, 1998).Penurunan respon imun tersebut mungkin merupakan salah satu faktor penyebab laki-laki lebih banyak menderita KNF dibandingkan perempuan.

Pada Tabel 5.3 suku terbanyak yang menderita karsinoma nasofaring adalah Suku Batak sebanyak 33 kasus (52.4%). Dapat dilihat juga frekuensi yang terendah yaitu dari suku china sebanyak 1 kasus (1.6%).

Luthan dan Zacherini (1999) dan Nasution (2008), pada penelitiannya menemukan bahwa penderita karsinoma nasofaring di Sumatera Utara terbanyak berasal dari Suku Batak.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011, jumlah populasi suku batak pada tahun 2000 berjumlah 4.827.000 dari 11.649.655 (41.44%) penduduk Sumatera

Utara, dengan estimasi pada tahun 2010 Suku Batak di Sumatera Utara menjadi 5.602.000 penduduk dari 12.982.204 (41.4%) penduduk di Sumatera Utara dan merupakan suku dengan penduduk terbanyak di Sumatera Utara. Dengan tingginya jumlah penduduk Suku Batak di Sumatera Utara maka memungkinkan untuk tingginya jumlah penderita KNF yang berasal dari Suku Batak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2014.

Pada tabel 5.4 didapati distribusi karakterisik pasien berdasarakan kategori pekerjaan ditemukan bahwa pasien dengan pekerjaan petani merupakan jumlah terbanyak, yaitu sejumlah 24 kasus (38.1%), dan yang paling sedikit adalah nelayan yaitu sebanyak 3 kasus (4.8%).

Munir D (2007) dan Nasution (2008) dalam penelitiannya diperoleh bahwa penderita KNF yang paling banyak adalah petani.

Hal ini mungkin terjadi karena paparan dari insektisida yang dipakai oleh petani sehari-harinya. Insektisida mengandung bahan kimia seperti dichlorodiphenyl trichloroethane (DDT) yang memberikan efek bagi kesehatan. DDT dapat mengakibatkan penurunan dari produksi sel NK pada binatang percobaan namun tidak mempengaruhi respon imun humoral. Di Amerika Serikat, dijumpai adanya peningkatan risiko non-hodgkin lymphoma dan kanker paru (Longnecker et al, 1997).

Pada Tabel 5.5. didapati bahwa penderita karsinoma nasofaring sebanyak 60 responden (95.2%) tidak memiliki keluarga yang menderita penyakit serupa,sedangkan hanya 3 responden (4.8%) KNF yang memiliki riwayat keluarga penyakit serupa.

Nuryadin (2012), pada penelitiannya menemukan bahwa sebanyak 80% penderita KNF tidak memiliki keluarga dengan riwayat keluarga KNF.

Hal ini bertentangan dengan American Cancer Society (2013) yang mengatakan bahwa riwayat keluarga terdahulu yang pernah terkena karsinoma nasofaring akan meningkatkan risiko suatu keluarga untuk terkena penyakit serupa.

Hingga saat ini HLA merupakan satu-satunya sistem genetik yang memiliki hubungan dengan karsinoma nasofaring (Chew, 1997). Pola hidup dalam keluarga

memegang peran dalam kejadian KNF, dimana kebiasaan mengkonsumsi ikan asin orang tua mungkin diturunkan kepada anak sehingga terdapat faktor risiko untuk menderita KNF.

Pada tabel 5.6. didapati sebanyak 63 responden (100%) memiliki riwayat mengkonsumsi ikan asin dibawah usia 10 tahun. Dari hasi penelitian didapati hasil yang sama banyaknya antara penderita yang sering mengkonsumsi ikan asin maupun penderita yang kadang-kadang mengkonsumsi ikan asin dibawah umur 10 tahun,yaitu sebanyak 27 kasus (42.9%) , sedangkan hanya 9 kasus (14.3%) yang jarang mengkonsumsi ikan asin dibawah usia 10 tahun.

Munir (2007), pada penelitiannya didapatkan bahwa sebanyak 74,54% penderita KNF memiliki riwayat mengkonsumsi ikan asin dibawah usia 10 tahun. Nasution (2008), pada penelitiannya didapati bahwa sebanyak 79,2% penderita KNF mengkonsumsi ikan asin dibawah usia 10 tahun.

Zat kimia tertentu diduga berperan dalam terjadinya KNF, seperti nitrosamin. Dimana zat ini banyak ditemukan dalam ikan asin. Bahan kimia ini merupakaan pro- karsinogen dan dapat menjadi suatu mediator untuk mengaktifkan VEB. Mengkonsumsi makanan yang mengandung zat tersebut seperti ikan asin pada usia dibawah 10 tahun , memiliki risiko menderita KNF di usia dewasa (Ning et al, 1990; Ward et al, 2000).

Pada tabel 5.7. didapati jumlah pasien yang merokok sejumlah 48 kasus (76.2%) , sedangkan kelompok yang tidak merokok sebanyak 15 kasus (23.8%) . Dari total pasien yang merokok paling banyak telah merokok selama lebih dari 20 tahun dengan jumlah pasien sebanyak 25 kasus (52.1%), dengan jenis rokok kretek sebanyak 39 kasus (81.3%) , dan mengkonsumsi 10-20 batang rokok perhari sebanyak 25 kasus (52.1%).

Nasution (2008), pada penelitiannya disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna merokok dengan karsinoma nasofaring. Rokok memiliki lebih dari 4000 bahan dimana telah diketahui sedikitnya 50 bahan yang terkandung bersifat karinogenik seperti polycyclic aromatic, nitrosamines, aromatic amines, aza-arenes,

aldehydes, dan lainnya (Haugen, 2000). Menurut Chang ET et al (2006) merokok dapat meningkatkan resiko terkena karsinoma nasofaring sebanyak 2-6 kali.

Dokumen terkait