BAB 4 : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Pembahasan
4.2. Pembahasan
Kelahiran merupakan proses yang normal terjadi pada manusia sebagai upaya
secara alamiah untuk memperoleh keturunan. Dalam proses kahamilan yang cukup panjang yaitu sekitar sembilan bulan dapat terjadi berbagai gangguan demikian dengan proses persalinan (Danuatmaja & Meiliasar, 2004).
Sebab terjadinya partus sampai kini masih merupakan teori-teori yang kompleks. Faktor-faktor hormonal, faktor prostaglandin, Struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi disebut sebagai factor-faktor yang mengakibatkan partus mulai (Sarwono,1999).
4.2.1. Tanda Persalinan
a. Kekuatan his makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek
His adalah salah satu kekuatan pada ibu yang menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin kebawah.
Perasaan sakit pada his mungkin disebabkan oleh iskemia dalam korpus uteri tempat terdapat banyak serabut saraf. Peristiwa ini meneruskan parasaan sakit mulai dari melalui saraf sensorik di pleksus hipogastrikus ke sisitem saraf pusat. Sakit dipinggang sering terasa pada kala pembukaan dan bila bagian bawah uterus terus berkontraksi. Hal ini disebabkan oleh serabut sensorik turut terangsang. Maka dari itu jika his sempurna dan efisien dengan adanya dominasi di fundus uteri serta relaksasi bagian bawah uterus dan serviks, perasaan sakit pinggang dan sakit bagian bawah akan berkurang.
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa tanda yang pertama kali persalinan itu rasa sakit sekitar perut dan pinggang. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa his/kontraksi pada kala pembukaan dapat mengakibatkan sakit dipinggang dan bagian bawah uterus.
b. Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda yaitu: pengeluaran lender dan lender bercampur darah.
Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita mengeluarkan lender yang bersama darah (bloody show). Lendir yang bersama darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena servikalis mulai membuka dan mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang
berada disekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka (Sarwono,1999).
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa tanda yang pertama kali persalinan itu adalah darah dan warnanya kehitaman. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa darah dan pengeluaran lender merupakan salah satu tanda persalinan.
c. Dapat Disertai Pecah Ketuban.
Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hamper atau telah lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hamper lengkap atau lengkap (Sarwono,1999). Bila ketuban pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm, disebut Ketuban Pecah Dini.
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa tanda yang pertama kali persalinan itu adalah air atau disebut dengan ketuban. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa air ketuban yang sudah pecah merupakan salah satu tanda persalinan.
4.2.2. Hal-hal yang Dialami Dikamar Bersalin
Pada saat akan melahirkan ibu akan mengalami banyak hal dikamar bersalin diantaranya:
a. Diperiksa
Pemeriksaan obstetric dilakukan seperti melakukan pemeriksaan kedokteran lainnya, dimulai dengan wawancara (anamnesa), mengenai identitas, riwayat penyakit dahulu, riwayat haid, riwayat kehamilan dan persalinan.
Membimbing ibu untuk membuka pakaian dalam, tidaklah bijaksana bilapemeriksa melakukannya sendiri. Ibu harus dilayani sopan santun. Dilakukan pemeriksaan umum dan obstetric tanpa menimbulkan ketidaknyaman penderita. Sebelum melakukan melakukan pemeriksaan pada vagina dan pemeriksaan dalam, terangkan pada pasien maksud dan tujuan pemeriksaan dengan cara yang baik. Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan dikamar bersalin ibu diperiksa oleh bidan. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa hal pertama yang dilakukan dikamar bersalin adalah pemeriksaan.
b. Meneran
Pada Kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3 menit sekali, karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk diruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul,yang secara refleks menimbulkan rasa mengeran. Wanita merasa pula tekanan pada rectum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his. Bantulah ibu agar dapat menggunakan tenaga dankemampuannya sehingga Kala II dapat terjadi secara spontan (Sarwono,1999).
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan dikamar bersalin bahwa pada saat kepala janin sudah masuk diruang panggul, secara refleks menimbulkan rasa mengeran maka ibu bidan menyuruh dan mengajari ibu mengeran yang baik. Dengan demikian
peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa proses mengeran hanya boleh dilakuka apabila kepala bayi sudah di vulva.
c. Kelahiran bayi
Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his, dan dengan his dankekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dan disusul dengan mengeluarkan badan dan anggota tubuh bayi lainnya.
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan dikamar bersalin bahwa beberapa lama setelah mengeran maka kelahiran bayi. Dengan demikian peneliti dapat mengetahui dan mendukung bahwa proses mengeran tidak lama terjadi apabila kepala janin tampak dalam vulva.
d. Penghangatan Bayi
Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi datas perut ibu dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya. Memberikan bayi pada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya (Acuan Persalinan Normal, Revisi 2007).
Dari pernyataan diatas terdapat ketidaksesuaian antara teori dengan hasil penelitian.Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ibu bahwa setelah bayi dibersihkan bayi diletakkan didada si ibu dan ada juga partisipan yang mengatakan setelah bayi lahir bayi diletakkan didada si ibu dan langsungmencari buah dada. Dari pernyataan partisipan tersebut terdapat perbedaan yaitu bahwa melatakkan bayi pertama kali tidak diperut melainkan didada danhal ini dilakukan setelah pemotongan talipusat dan setelah bayi dibersihkan. Sedangkan menurut
pernyataan teoritis bahwa meletakkan bayi pertama kali diatas perut si ibu setelah menilai dengan cepat dengan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya. Dan bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi ditempat yang memungkinkan (Asuhan Persalinan Normal, Revisi 2007).
e. Pemotongan Tali Pusat
Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali bagian tali pusat bayi. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem kearah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem I. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan memotong tali pusat diantara dua klem tersebut (Acuan Persalinan Normal, Revisi 2007).
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan dikamar bersalin bahwa setelah bayi lahir, mulut bayi dibersihkan dan setelah itu tali pusat dipotong oleh ibu bidan. Dengan demikian hasil penelitian dapat mendukung bahwa setelah bayi lahir dilakukan pemotongan tali pusat.
4.2.3. Konsep Manajemen Nyeri Persalinan
Manajemen nyeri persalinan biasanya digunakan secara farmakologis dan non farmakologis (Bobak, Lawdermil,Jensen,2001). Dari hasil penelitian ini manajemen Nyeri Persalinan adalah secara non farmakologis, yaitu:
a. Posisi
Posisi persalinan merupakan posisi yang ibu gunakan selama melahirkan, namun posisi persalinan inimenurut berbagailteratur tidak ada yang sempurna
dimana masing-masing posisi memilki kelebihan maupun kekurangan sendiri (Jaman,1998).
Ada beberapa posisi persalinan menurut Jaman (1998), yaitu: berbaring, miring, setengah duduk, dalam air, dan jongkok.
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa karena sakit yang luar biasa ibu nungging dengan alas an untuk mengurangi rasa sakit, dan ada yang mengatakan disuruh miring oleh ibu bidan. Dengan demikian hasil penelitian ini mendukung bahwa untuk mengurangi rasa nyeri persalinan dapat dilakukan dengan mengatur posisi persalinan.
b. Pendamping Persalinan
Pendamping Persalinan merupakan salah satu metode non farmakologis yang digunakan untuk memberikan efek relaksasi selama proses persalinan (Shrock, 1998 dikutip Manders 2003). Peranan suami dan keluarga dalam persalinan tidak dapat diabaikan dengan demikian akan memberikan rasa aman pada pasien (Sarwono,1999).
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa ibu merasa tenang apabila ada yang mendampinginya dikamar bersalin khususnya suami dan orang tua. Dengan demikian hasil penelitian ini mendukung bahwa pendamping dalam persalinan merupakan salah satu metode non farmakologis yang dapat dapat mengurangi rasa nyeri persalinan.
4.2.4. Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan diberikan secara holistic, yaitu memperhatikan aspek bio, psiko social dan kultural sesuai dengan kebutuhan pasien. Pelayanan tersebut diberikan dengan tujuan kehidupan dan kelangsungan pelayanan. Pasien memerlukan pelayanan dari provider yang memiliki karakteristik semangat, simpati, empati, tulus ikhlas, memberikan kepuasan. Setelah itu, bidan sebagai pemberi pelayanan harus memperhatikan hal-hal berikut: aman, nyaman, privacy, alami, dan tepat
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara dengan partisipan bahwa ibu merasa senang dengan pelayanan yang diberikan ibu bidan yaitu baik, cekatan, ramah, pandai, sabar, terampil. Dengan demikian hasil penelitian ini mendukung bahwa pelayanan kebidanan yang diterima pasien dilapangan sesuai dengan yang diharapkan pasien.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Hasil penelitian yang diperoleh peneliti dar ketiga partisipan mengenai
pengalaman ibu melahirkan yang ditolong oleh bidan meliputi beberapa hal sebagai berikut: Tanda-tanda persalinan (darah lendir campur darah, His dan ketuban), Hal-hal yang ibu alami dikamar bersalin (diperiksa, mengeran, kelahiran bayi, pemotongan tali pusat dan penghangatan bayi), Manajemen nyeri persalinan yang dilkaukan oleh ibu (posisi yang nyaman, pendamping persalinan), dan Pendapat ibu tentang pelayanan kebidanan.
Dari hasil pembahasan berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti terhadap tiga partisipan terdapat banyak persamaan antara teoritis dengan kenyataan yang dijumpai dilapangan berdasarkan dari pengalaman ibu melahirkan yang ditolong oleh bidan. Misalnya, tanda –tanda persalinan menurut Manuaba (1998) adalah: Terjadinya his persalinan, pengeluaran lendir dan darah, dan disertai dengan ketuban pecah. Dan berdasarkan dari hasil pembahasan juga dijumpai adanya tanda-tanda persalinan yang sama halnya dengan teoritis tersebut.
Selain itu juga ada terdapat perbedaan yang diterima peneliti antara hasil pembahasan dengan teoritis. Misalnya, Pelaksanaan penghangatan bayi yang pertama kali dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan ibu (pengalaman ibu) bahwa setelah bayi dibersihkan bayi diletakkan didada ibu dan ada juga partisipan
yang mengatakan setelah bayi lahir diletakkan didada si ibu dan langsung mencari buah dada siibu. Dari pernyataan partisipan tersebut terdapat perbedaan antara pengalaman dengan teoritis. Berdasarkan pengalaman meletakkan bayi pertama kali bukan diperut melainkan didada dan hal ini dilakukan setelah pemotongan tali pusat dan setelah bayi dibersihkan. Menurut teori bahwa meletakkan bayi pertama kali diatas perut siibu setelah menilai dengan cepat dan denan posisi kepala bayi lebih rendah dari tubuhnya. Dan bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi ditempat yang memungkinkan (Asuhan Persalinan Normal, Revisi 2007).
Hasil penelitian ini menambah wawasan kita dan pandangan kita tentang pengalaman ibu melahirkan yang ditolong leh bidan. Dan membuka pikiran kita bahwa tidak selamanya ada persamaan antara teoritis dengan yang dilakukan di praktek lapangan. Untuk diharapkan adanya satu persepsi tentang penatalaksanaan asuhan persalinan normal.
5.2. Saran
Sebagai sumbangan pemikiran dari rangkaian penulis akhir dari karya tulis ilmiah ini, saran-saran yang perlu dikemukakan adalah sebagai berikut:
(1). Praktek Pelayanan Kebidanan
a. Selaku pelayanan kesehatan yang professional seorang bidan harus senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkala.
b. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai kebutuhan masyarakat
(2). Instansi Pendidikan
a. Menyamakan persepsi tentang penatalaksanaan asuhan persalinan normal b. Melakukan praktek persalinan sesuai dengan standard asuhan persalinan normal
(3). Penelitian Kebidanan
Dalam melakukan penelitian hendaknya seorang peneliti harus dapat mengkaji atau menggali lebih dalam tentang sesuatu hal yang ditemukan dimasyarakat. Sehingga ditemukan adanya persamaan maupun perbedaan anatar teoritis dengan kenyataan. Dengan adanya perbedaan tersebut akan menjadi masukan bagi dunia pendidikan untuk menyamakan persepsi terhadap suatu ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, J. (2007). Praktik Kebidanan Riset Dan Isu. Jakarta:EGC
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT.Rineka Cipta
Berger,K.J. (1992). Fundamentals of Nursing: Colaborating for Optimal Health
Bobak, I.M.,Dermilk,D.L.L., Jensen,M.D. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Jakarta: EGC
Brockopp, D.Y. & Tolsma, H.T.M. (1999). Dasar-Dasar Riset Keperawatan Maternitas.
Jakarta:EGC
Bungin, B. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Danuatmaja,& Meiliasari. (2004). Persalinan Normal Tanpa Rasa Sakit.
Jakarta: Puspa Swara.
Endarmoko, E. (2006). Bahasa Indonesia. Jakarta: EGC
Hunt, S. & Anthea, S. (2007). Konsep Sosial Kebidanan. Jakarta: EGC
JHPIEGIO. (2007). Asuhan Persalinan Normal. Jakarta.
Manuaba, I,B,G. (1998). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan Keluarga
Berencana. Jakarta: EGC
Moleong. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mander, R. (2003). Nyeri Persalinan. Jakarta: EGC.
Pinda, H. (2000). Pemberian Valetamat Bromida Dibandingkan Hyoscine N Butil
Bromida Untuk Mengurangi Rasa Nyeri Persalinan. FK USU Medan.
Ross, S. (2007). Birth Right. Jakarta: EGC.
Reeder, S.J., Martin, L.L., Griffin, D.K. (1997). Maternity Nursing Family, Newborn,
Sarwono. (1999). Ilmu Kebidanan. Jakarta:EGC
Sastrawinata, S. (1983). Obstetri Fisiologi. Bandung: PT. Elemen
Swasono. (1998). Kehamilan, Kelahiran, Perawatan Ibu dan Bayi Dalam Konteks
Budaya. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press).
PANDUAN WAWANCARA
PENGALAMAN IBU MELAHIRKAN YANG DITOLONG BIDAN
1. Bagaimana perasaan ibu ketika mengetahui adanya tanda-tanda mau
melahirkan?
2. Apa yang ibu lakukan ketika mengetahui adanya tanda-tanda mau
melahirkan?
3. Hal-hal apa saja yang ibu alami ketika dikamar bersalin?
4. Apa yang ibu lakukan setelah melahirkan?
KUESIONER DATA DEMOGRAFI
1. Petunjuk Pengisian
a. Jawablah pertanyaan sesuai dengan petunjuk
b. Untuk soal nomor 1 Isilah titik-titik sesuai dengan identitas anda
c. Untuk soal nomor 2,3, dan 4 berilah tanda checklist pada kotak yang telah tersedia dan isilah titik-titik jika ada pertanyaan yang harus dijawab.
d. Setiap pertanyaan hanya dijawab dengan satu jawaban yang sesuai menurut anda.
Contoh Menjawab: Agama
[ ] Islam [ ] Katolik [ ] Protestan [ ] Hindu [ ] Buddha
1. Usia ibu saat ini :
2. Suku :
3. Agama :
[ ] Islam [ ] Katolik [ ] Protestan [ ] Hindu [ ] Buddha 4. Usia pada saat melahirkan :
5. Usia Kehamilan :
[ ] <36 minggu [ ] >36 minggu 6. Jumlah Anak