HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.2.7. Distribusi Asma berdasarkan Riwayat Atopik Keluarga
Data mengenai mahasiswa yang menderita lifetime asthma berdasarkan riwayat atopik keluarga digambarkan pada tabel 5.6. di bawah ini
Tabel 5.6. Distribusilifetime asthma berdasarkan riwayat atopik keluarga Riwayat Atopik Keluarga Lifetime Asthma (orang) Tidak asma (orang) Total (orang) Tidak ada 12 (21,8%) 208 (63,2%) 220 (57,3%) Ada 43 (78,2%) 121 (36,8%) 164 (42,7%) Total 55 (100%) 329 (100%) 384 (100%)
Dari tabel 5.6, 43 orang (78.2%) yang pernah menderita asma sepanjang hidupnya memiliki riwayat atopik pada keluarga.
5.2. Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui prevalensi asma di kalangan mahasiswa tahun ajaran 2011, 2012, 2013, dan 2014 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.Penelitian dilakukan sejak bulan September 2014.
5.2.1. Distribusi Asma pada Sampel
Hasil pengolahan angket pada tabel 5.2 menunjukkan sebanyak 14,3% sampel pernah menderita asma dalam hidupnya (lifetime asthma). Tabel 5.2 juga menunjukkan 6,5% sampel sedang menderita asma (current asthma). Hal ini sejalan dengan hasil survei nasional New York (2003) dimana terdapat 10,3% sampel diatas usia 18 tahun yang menderita lifetime asthma dan 7,6% sampel yang menderita current asthma. Hasil penelitian asma di Texas tahun 2000-2005 menunjukkan lifetime asthma pada sampel usia 18-29 tahun sebesar 13% dan current asthma sebesar 7,1%. Berdasarkan penelitian Rosamarlina di SLTP Jakarta Timur tahun 2008 mendapati prevalensi asma pada anak 13-15 tahun sebesar 13,4%. Sedangkan menurut hasil RISKESDAS tahun 2013 mendapati prevalensi asma sebesar 2,4% di wilayah Sumatera Utara. RISKESDAS mendapati sebesar 5,6% sampel umur 15-24 tahun yang menderita asma. Perbedaan presentase ini bisa diakibatkan karena penggunaan instrumen penelitian yang berbeda. RISKESDAS, survei nasional Texas dan New Yorkmenegakkan seseorang menderita asma berdasarkan riwayat diagnosa pasien oleh dokter sebelumnya dan riwayat gejala asma dalam 12 bulan terakhir. Sedangkan Rosamarlina (2010)menggunakan instrumen kuesioner yang berbeda, yaitu kuesioner ISAAC. Selain akibat penggunan instrumen yang berbeda, perbedaan persentase bisa disebabkan oleh target sampel yang berbeda. Rosamarlina (2010) melakukan penelitian padasiswa SLTP berusia 13-15 tahun, sedangkan RISKESDAS (2013) melakukan penelitian pada seluruh lapisan umur pada masyarakat, mulai dari golongan bayi dibawah 1 tahun sampai lansia berusia
diatas 75 tahun. Faktor lain yang mempengaruhi adalah perbedaan diet dan faktor lingkungan, seperti polusi udara dan alergen.
5.2.2. Distribusi Asma berdasarkan Jenis Kelamin
Dari 55 responden yang pernah menderita asma (Tabel 5.3), didapati sebesar 14,6% sampel berjenis kelamin perempuan, sedangkan laki-laki yang menderita lifetime asthma sebesar 13,9%.Survei yang dilakukan RISKESDAS mendapati perempuan (4,6%) lebih banyak menderita asma dibanding laki-laki (4,4%). Hasil survei nasional di New York (2003) mendapati sebesar 8,7% laki-laki dan 11,8% perempuan berusia diatas 18 tahun yang pernah menderita asma.
Sebelum pubertas, prevalensi asma lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Perbedaan ini dimulai semenjak masa gestasi. Paru pada fetus laki-laki lebih lambat matur dan surfaktan diproduksi pada usia gestasi yang lebih lanjut. Laki-laki pada masa kanak-kanak juga mudah tersensitisasi pada faktor alergen. Keadaan ini berbalik setelah memasuki masa remaja. Perubahan ini dikarenakan onset gejala asma pada perempuan lebih lama dibanding laki-laki (Choi, 2011).
Leynaert (1997) mengungkapkan bahwa terjadi perbedaan diantara dua kelompok ini disebabkan karena hiperesponsif bronkial pada perempuan. Kejadian hiperesponsif dihubungkan dengan diameter saluran napas. Besarresistensi/tahanan yang terdapat di sepanjang saluran napas berbanding terbalik empat kali terhadap jari-jari saluran. Oleh karena itu, pengecilan saluran napas akanmenaikkan resistensi aliran udara. Akibatnya, FEV1perempuan akan turun lebih banyak dibanding laki-laki. Serat-C yang berperan pada refleks batuk juga diteliti meningkat sensitifitasnya pada perempuan. Serat ini berperan dalam proses inflamasi dari saluran napas, hipersekresi mukus dan bronkokonstriksi.Paparan alergen juga mempengaruhi perbedaan antar dua kelompok tersebut. Kegiatan memasak dan membersihkan rumah meningkatkan paparan perempuan terhadap paparan alergen dalam ruangan. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan, Christiano (2010) menyebutkan faktor hormonal juga
berpengaruh terhadap kejadian asma pada perempuan. Hormon perempuan memegang peranan dalam ekspresi asma, dengan meningkatkan hiperesponsif saluran napas.
5.2.3. Distribusi Asma berdasarkan Kewarganegaraan
Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan prevalensi asma pada mahasiswa Indonesia dan Malaysia. Responden berkewarganegaraan Indonesia yang menderita asma sebesar 12,7%, sedangkan responden berkewarganegaraan Malaysia yang menderita asma sebesar 21,4%.Hal ini sejalan dengan hasil ISAAC fase tiga. ISAAC melakukan penelitian prevalensi asma di 3 kota di Indonesia, yaitu Bali (9,6%), Bandung (12,1%), dan Semarang (13,3%). Sedangkan penelitian 3 kota di Malaysia dilakukan di Kota Bharu (12%), Alor Setar (17%), dan Klang Valley(21,6%).Faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan prevalensi asma pada tiap negara adalah diet, pendapatan perkapita, imunisasi, dan interaksi antara genetik-lingkungan. Beasley (2003) mengolah data ISAAC fase tiga dan menyimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara maka prevalensi asma pada negara tersebut semakin tinggi. Dengan pendapatan per kapita yang tinggi, penduduk cenderung mengkonsumsi makanan siap saji. Gaya hidup ini meningkatkan prevalensi asma suatu negara. Faktor ketiga yang berpengaruh adalah imunisasi. Berdasarkan hasil studi ISAAC, imunisasi DPT dan campak menurunkan kecenderungan seseorang menderita asma. Selain faktor-faktor yang telah disebut, faktor yang mempengaruhi adalah interaksi lingkungan. Menurut Subbarao (2009), interaksi genetik-lingkungan menjelaskan bahwa kedua faktor saling mendukung terjadinya asma. Sebagai contoh prevalensi asma pada ras Cina terendah pada anak-anak yang yang lahir dan tinggal di Cina, sedang pada anak-anak yang lahir di Cina dan tinggal di Kanada, tertinggi pada anak yang sejak lahir tinggal di Kanada.
Dalam penelitian ini, prevalensi asma pada kedua kewarganegaraan terlihat jelas. Hal ini bisa dikarenakan oleh gaya hidup dan interaksi antara genetik dan lingkungan dari sampel. Pada survei singkat yang dilakukan peneliti,
mahasiswa Malaysia kurang memperhatikan kebersihan tempat tinggal. Hal ini terjadi karena mahasiswa Malaysia umumnya mengontrak rumah/kos dan hidup mandiri di Indonesia. Padahal sebelum pindah ke Indonesia, kebersihan lingkungan mereka di Malaysia tetap terjaga. Selain itu, tingkat polusi di Indonesia juga lebih tinggi dari Malaysia. Dalam hal ini, hipotesis kebersihan berperan, dimana seseorang yang lebih terjaga kebersihannya di awal masa kehidupan lebih rentan menderita penyakit atopik di kehidupannya.
5.2.4. Distribusi Asma berdasarkan Komorbid
Dari tabel 5.5 dapat dilihat bahwa prevalensi asma yang mempunyai komorbid asma sebesar 76,4% (42 orang) dengan 38,2% (21 orang) penderita asma yang hanya mempunyai komorbid rinitis, 20% (11 orang) penderita asma yang hanya mempunyai komorbid eksema, dan 18,2% (10 orang) penderita asma yang mempunyai komorbid rinitis dan eksema. Penelitan Sastrawan (2008) menemukan sebanyak 57,2% pelajar desa Tenganan menderita asma yang mempunyai komorbid rinitis dan 17,1% pelajar asma yang mempunyai riwayat eksema. Fitriani (2011) melakukan penelitian pada anak-anak 13-14 tahun di Jakarta Selatan dan menyimpulkan sebanyak 44,7% anak-anak asma yang mempunyai riwayat rinitis dan 2,5% anak-anak asma yang mempunyai riwayat eksema. Seseorang yang menderita asma mempunyai resiko 5,99 kali mempunyai komorbid rinitis dan 2,48 kali mempunyai komorbid eksema.
Peningkatan penyakit atopi bisa dihubungkan dengan teori hygiene hypothesis. Teori ini menyebutkan semakin jarang anak-anak mengalami penyakit infeksi, semakin tinggi resiko anak tersebut menderita penyakit atopik, seperti asma, rinitis, dan eksema (NHLBI, 2007).Perkembangan penyakit atopik sangatlah rumit dan belum dimengerti sepenuhnya. Penyakit atopik dihubungkan dengan peningkatan IgE. Gen IL33/IL1R1 berperan penting dalam asma, eksema, sensitisasi alergen, dan kadar eosinofil dalam darah (Portelli, 2014). Gen-gen lain yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit atopik dapat dilihat pada gambar 5.1.
Gambar 5.1 Gen yang berpengaruh pada penyakit alergi yaitu asma, rinitis alergi, dan eksema
Sumber: Portelli, 2014
Mekanisme non-IgE juga mempunyai peran. Sebagai contoh, sensitisasi alergen pada barier epidermal yang rusak menyebabkan perkembangan penyakit eksema. Sensitisasi kutan ini kemudian menjadi sistemik dan menimbulkan penyakit atopik lain seperti rinitis alergi (Portelli, 2014). Fenomena ini disebut “atopic march”.
5.2.5. Distribusi Asma berdasarkan Riwayat Atopik Keluarga
Berdasarkan tabel 5.6 dapat kita simpulkan sebanyak 78,2% responden asma yang mempunyai riwayat atopik pada keluarganya. Anuradha (2011) mendapati sebanyak 59,16% penderita asma mempunyai riwayat atopik pada keluarga. Prasad (2007) mengemukakan sebesar 40,4% anak-anak asma berusia 5-14 tahun di Lucknow yang mempunyai riwayat atopik keluarga.Menurut analisis univariat yang dilakukan Werff (2013), seseorang dengan riwayat keluarga atopik lebih beresiko 2,12 kali terserang asma. Riwayat orang tua dan saudara yang mempunyai penyakit atopik meningkatkan resiko seseorang menderita asma
2,5-atopik (Burke, 2003). Gen ORMDL3 baru-baru ini diidentifikasi mempunyai asosiasi terhadap asma dengan Odd Ratio(OR) 1,84 (Subbarao, 2009).
BAB 6