• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1 Uji Regresi Linier Berganda

Setelah dilakukan uji data menggunakan uji asumsi klasik dan uji regresi linier dengan metode stepwise, maka selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan regresi linier berganda. Pengujian hipotesis dilakukan untuk menguji apakah faktor faktor fundamental keuangan earning pershare (EPS), book value (BV), return on investement (ROI), operating profit margin (OPM), dan resiko sistematik (beta) berpengaruh terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan. Sebelum melakukan pengujian variabel faktor fundamental keuangan dan resiko sistematik sebagai variabel X terhadap harga saham sebagai variabel Y terlebih dahulu menyusun variabel X dan Y dengan perubahan defenisi operasional sebagai berikut :

1. EPS (X1), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat dari laba setelah pajak dari akar

kuadrat jumlah lembar saham.

2. BV (X2), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat modal dari akar kuadrat jumlah

lembar saham.

3. ROI (X3), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat laba operasi dari akar kuadrat total

investasi.

4. OPM (X4), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat laba operasi dari akar kuadrat penjualan.

6. Harga Saham (Y) adalah akar kuadrat dari harga saham penutupan.

Dari defenisi operasional di atas, model persamaan regresi linier berganda diformulasikan sebagai berikut :

Y = + b1X1+ b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e (5.2.1)

Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini. Tabel 5.6 Nilai R Square Hipotesis

Model R R Square Adjusted R Square

1 .763a .582 .567

a. Predictors: (Constant), LN_Beta, LN_OPM, LN_EPS, LN_BV, LN_ROI b. Dependent Variable: LN_Price

Nilai R square (R2) atau nilai koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R2 adalah diantara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui nilai R2 sebesar 0.582 mempunyai arti bahwa variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel independen sebesar 58.2% . Dengan kata lain 58.2% harga saham mampu dijelaskan variabel fundamental keuangan earning pershare (EPS), book value (BV), return on investment (ROI),

operating profit margin (OPM) dan resiko sistematik beta sedangkan 41.8% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini.

Nilai R disebut juga dengan koefisien korelasi. Nilai R menerangkan tingkat hubungan antara variabel independen fundamental keuangan EPS, BV, ROI, OPM dan resiko sistematik beta. Dari hasil pengujian hipotesis diketahui nilai R sebesar 0.763, berarti bahwa hubungan antara faktor fundamental keuangan EPS, BV, ROI, OPM dan resiko sistematik beta terhadap harga saham sebesar 76.3%.

Dengan menggunakan regresi linier berganda akan menunjukan model dengan urutan tingkat signifikansi variabel independen terhadap variabel dependen. Dari perubahan tingkat signifikan variabel independen terhadap variabel dependen mengakibatkan adanya perubahan pada pemakaian defenisi operasional variabel untuk penyajian pembahasan berikutnya :

1. ROI (X1), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat laba operasi dari akar kuadrat total investasi.

2. EPS (X2), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat dari laba setelah pajak dari akar

kuadrat jumlah lembar saham.

3. OPM (X3), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat laba operasi dari akar kuadrat

penjualan.

4. BV (X4), yaitu hasil bagi antara akar kuadrat modal dari akar kuadrat jumlah

lembar saham.

5. Beta (X5), yaitu akar kuadrat nilai beta dan sebagai variabel dependen adalah

Regresi linier berganda untuk menguji hipotesis secara parsial dan simultan secara bersama – sama dengan model sebagai berikut :

Y = + b1X1+ b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e (5.2.2)

Dimana:

Y : Harga saham

1

b : Koefisien Regresi ROI (return on investment)

2

b : Koefisien Regresi EPS (earning pershare)

3

b : Koefisien Regresi OPM (operating profit margin)

4

b : Koefisien Regresi BV (book value)

5

b : Koefisien Regresi Beta

1

X : ROI (return on investment)

2

X : EPS (earning pershare)

3

X : OPM (operating profit margin)

4

X : BV (book value)

5

X : Beta

ε : Standard Error

Tabel 5.7 Nilai Hitung Signifikansi Hipotesis

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Regression 388.799 5 77.760 40.090 .000a

Residual 279.310 144 1.940

1

Total 668.109 149

a. Predictors: (Constant), LN_Beta, LN_OPM, LN_EPS, LN_BV, LN_ROI

Dari tabel 5.7 didapat nilai Fhitung sebesar 40.090 dengan probabilitas 0.000

yang telah menguji pengaruh antara variabel independen (faktor fundamental keuangan EPS, BV, ROI, OPM dan resiko sistematik beta) terhadap variabel dependen (harga saham), karena probabilitas tersebut jauh lebih kecil dari 0.05, maka dapat dikatakan bahwa fundamental keuangan earning pershare (EPS), book value (BV), return on investement (ROI), operating profit margin (OPM) dan resiko sistematik beta secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Untuk mengetahui pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini :

Tabel 5.8 Uji hipotesis

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

Model B Std. Error Beta T Sig.

(Constant) 7.150 .391 18.281 .000 LN_ROI 1.108 .156 .853 7.118 .000 LN_EPS .263 .049 .343 5.349 .000 LN_OPM -1.151 .181 -.766 -6.369 .000 LN_BV -.311 .047 -.422 -6.656 .000 1 LN_Beta -.010 .053 -.010 -.188 .851

a. Dependent Variable: LN_Price

Dari tabel 5.8 dapat dilihat bahwa koefisien dari fundamental keuangan ROI, EPS, OPM, BV dan resiko sistematik beta yang positif memberi makna bahwa informasi tentang return on investment (ROI), earning pershare (EPS), operating profit margin (OPM), book value (BV), dan resiko sistematik beta dapat direspon

positif oleh investor sehingga meningkatkan harga saham. Berdasarkan uji hipotesis yang telah dilakukan maka model 5.2.3 untuk hipotesis secara empiris menunjukkan bahwa return on investment (ROI), earning pershare (EPS), operating profit margin

(OPM), book value (BV), dan resiko sistematik beta berpengaruh secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI tahun 2004-2008 dengan model (5.2.2) dapat di terima dengan tingkat signifikansi pvalue

0.000 jauh lebih kecil dari nilai 0.05 (Tabel 5.7).

Model persamaan yang telah melalui transformasi dapat disusun sebagai berikut :

LogY =7.150+1.108logX1 +0.263logX2 −1.151logX3−0.311logX4

5 log 10 . 0 X − (5.2.3)

Bentuk persamaan tersebut di atas perlu dikembalikan ke bentuk persamaan semula, yaitu persamaan polinominal dengan cara meng anti-log-kan persamaan tersebut. Antilog koefisien konstanta = antilog 7.150 = 14.125, maka persamaan model menjadi :

Y=14.125.X11.108X20.263 X3−1.151X4−0.311X5−0.10 (5.2.4) Berdasarkan hasil penelitian dalam tabel 5.8, diketahui bahwa jika di uji

secara parsial variabel fundamental keuangan ROI, EPS, OPM, BV dan resiko sistematik beta terhadap harga saham ditemukan terdapat variabel independen yang tidak signifikan yaitu variabel resiko sistematik beta merupakan variabel yang tidak

berpengaruh t hitung -0.188 dan tingkat signifikansi p value 0.851 lebih besar dari 0.05 (Tabel 5.8).

Berdasarkan koefisien regresi untuk masing-masing variabel bebas (independen) dapat diintreprestasikan sebagai berikut :

1. Konstanta ( ) = 14.125. Hal ini menunjukkan bahwa jika setiap variabel bebas ROI, EPS, OPM, BV dan beta sama dengan nol, maka nilai dari harga saham mengalami kenaikan 14.125 satuan.

2. Koefisien regresi b1 sebesar 1.108, menunjukkan bahwa hubungan variabel ROI

dengan harga saham adalah positif, artinya bahwa setiap kenaikan ROI satu satuan akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 1.108.

3. Koefisien regresi b2 sebesar 0.263, menunjukkan bahwa hubungan variabel EPS

dengan harga saham adalah positif, artinya bahwa setiap kenaikan EPS satu satuan akan diikuti oleh kenaikan harga saham sebesar 0.263.

4. Koefisien regresi b3 sebesar -1.151, menunjukkan bahwa hubungan variabel OPM

dengan harga saham adalah negatif, artinya bahwa setiap kenaikan OPM satu satuan akan diikuti oleh penurunan harga saham sebesar -1.151.

5. Koefisien regresi b4 sebesar -0.311, menunjukkan hubungan bahwa variabel BV

dengan harga saham adalah negatif, artinya bahwa setiap kenaikan BV satu satuan akan diikuti penurunan harga saham sebesar -0.311.

6. Koefisien regresi b5 sebesar -0.010, menunjukkan bahwa hubungan variabel beta

dengan harga saham adalah negatif, artinya bahwa setiap kenaikan beta saham satu satuan akan diikuti oleh penurunan harga saham sebesar -0.010.

5.2.2. Pengujian Hipotesis

a. Uji Simultan (Uji F-hitung)

Uji-F digunakan untuk menganalisis besarnya pengaruh faktor fundamental keuangan ROI, EPS. OPM, BV dan resiko sistematik betasecara simultan (bersama- sama) terhadap harga saham dengan tingkat signifikasi 5% ( = 0,05). Apabila nilai signifikan F hitung < tingkat signifikasi tertentu (5%) maka terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Begitu juga sebaliknya, apabila nilai signifikasi F hitung > tingkat signifikasi tertentu (5%) maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Dalam uji F terdapat juga R² hasil dari analisis signifikasi model regresi yang dilakukan.

Hasil analisis regresi linier berganda pada tabel 5.7 menunjukkan tingkat signifikansi F sebesar 0,000 dan variabel bebas memberikan R² pada tabel 5.6 sebesar 0,582 artinya bahwa variabel independen yang meliputi: ROI, EPS, BV, OPM dan beta saham secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI. Naik turunnya harga saham yang dipengaruhi oleh ROI, EPS, BV, OPM dan beta saham secara langsung akan mempengaruhi investor dalam pengambilan keputusan investasinya. Dilihat dari besarnya Adjusted R Square menunjukkan adanya pengaruh variabel-variabel bebas (independent) terhadap harga saham sebesar 56,7%, sedangkan 43,3% dipengaruhi oleh variabel lain di luar persamaan model regresi.

b. Uji Parsial (Uji t-hitung)

Uji-t digunakan untuk menganalisis besarnya pengaruh faktor fundamental keuangan ROI, EPS, OPM, BV dan resiko sistematik beta secara parsial (sendiri- sendiri) terhadap harga saham dengan tingkat signifikasi 5% ( = 0,05). Apabila nilai signifikan t hitung < tingkat signifikasi tertentu (5%) maka terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Begitu juga sebaliknya, apabila nilai signifikasi t hitung > tingkat signifikasi tertentu (5%) maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat.

Hasil analisis regresi linier berganda pada Tabel 5.8 pengujian t-hitung untuk masing-masing variabel sebagai berikut:

1. Hasil Pengujian mengenai pengaruh ROI terhadap harga saham menunjukkan t signifikan 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga secara statistik ROI secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Pengujian ini mendukung pendapat Kasmir (2003) yang menyatakan bahwa ROI menghubungkan laba operasi dengan total investasi yang mengukur tingkat profitabilitas perusahaan atas investasinya. ROI juga merupakan indikator

earning power perusahaan yang mencerminkan kinerja manajemen dalam menggunakan seluruh asset yang dimiliki. Adanya pengaruh ROI terhadap harga saham disebabkan ROI menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan total asset yang dimiliki perusahaan sehingga hal ini begitu baik dalam mengambarkan perkembangan dan prospek perusahan di masa yang akan datang.

2. Hasil Pengujian mengenai pengaruh EPS terhadap harga saham menunjukkan t signifikan 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga secara statistik EPS secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Violeta (2007) yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan memperoleh deviden atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan pembiayaan deviden dan kenaikan nilai saham yang akan datang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan EPS yang dilaporkan perusahaan. EPS adalah jumlah laba yang menjadi hak untuk setiap pemegang satu lembar saham biasa. 3. Hasil Pengujian mengenai pengaruh OPM terhadap harga saham menunjukkan t

signifikan 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga secara statistik EPS secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Indra (2006) dalam penelitian menunjukkan bahwa OPM berpengaruh terhadap resiko sistematik beta, dimana dapat dikatakan semakin tinggi OPM akan semakin rendah beta sahamnya, sebaliknya semakin rendah OPM akan mengakibatkan beta sahamnya semakin tinggi. OPM adalah salah satu alat untuk mengukur profitabilitas suatu perusahaan. Tanpa profit, perusahaan tidak akan menarik bagi investor. Oleh karena itu rasio ini sangat penting bagi investor untuk menilai masa depan perusahaan. Dalam memilih investasi saham, investor akan memilih perusahaan yang memiliki OPM yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang hanya memiliki OPM rendah. Bagi investor perusahaan yang

memiliki tingkat OPM yang tinggi memberikan indikasi bahwa resiko pada perusahaan tersebut adalah rendah.

5. Hasil Pengujian mengenai pengaruh BV terhadap harga saham menunjukkan t signifikan 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikan 0.05 sehingga secara statistik BV secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Pengujian ini mendukung penelitian sebelumnya oleh Gunawan (2003) yang menyatakan bahwa BV berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa harga pasar atas ekuitas perusahaan (menurut price equity) mengacu pada nilai bukunya (book value of equity). Semakin tinggi nilai bukunya berarti nilai riil perusahaan tersebut akan semakin meningkat, berarti akan semakin naik harga sahamnya karena banyak investor yang ingin memiliki saham tersebut.

6. Hasil Pengujian mengenai pengaruh beta saham sebagai resiko sistematik terhadap harga saham menunjukkan t signifikan 0.851 lebih besar dari tingkat signifikan 0.05 sehingga secara statistik beta saham secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Gunawan (2003) yang menyatakan bahwa beta saham tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Setiap investor memiliki kondisi yang berbeda yang menyebabkan investor memiliki tingkat ketidaksukaan resiko (degree of risk aversion) yang berbeda pula. Ada investor yang memiliki kemampuan mengambil resiko yang tinggi dan ada pula yang rendah. Ada beberapa hal yang menentukan ketidaksukaan investor terhadap resiko,

diantaranya adalah faktor psikologis, usia, dan kemampuan mendapatkan income. Faktor psikologis menjelaskan tingkat kemampuan seorang investor mengambil resiko. Bagi investor risk averse (menghindari risiko) hanya akan mengambil investasi yang beresiko rendah, tetapi bagi investor risk seeker (menyukai resiko) akan mengambil tingkat resiko yang tinggi dengan harapan mendapatkan return yang tinggi pula. Perusahaan consumer goods adalah perusahaan produsen barang-barang konsumsi, dimana barang konsumsi tidak sepenuhnya berpengaruh dengan kondisi ekonomi, dengan demikian para investor akan mengabaikan beta saham sebab para investor akan memiliki pandangan bahwa barang-barang produk perusahaan consumer goods merupakan barang konsumsi yang tetap dibutuhkan oleh para konsumen dalam kesehariannya dan perusahaan consmer goods merupakan jenis usaha yang lebih mampu untuk mendapatkan laba.

Dokumen terkait