• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4 Pembahasan

5.4.1 Karakteristik Responden

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi anak yaitu kebiasaan makan, aktivitas fisik, tingkat sosial ekonomi keluarga, pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, faktor lingkungan, faktor genetik, dan faktor budaya. Pendidikan orang tua akan mempengaruhi status gizi anaknya, semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka cenderung mempunyai anak dengan status gizi baik.

Tingkat pendidikan biasanya sejalan dengan pengetahuan, semakin tinggi pengetahuan gizi, semakin baik dalam pemilihan bahan makanan. Pendidikan khusus gizi sangat mendukung ibu melaksanakan pemantauan pertumbuhan dan status gizi anak karena pendidikan gizi merupakan salah satu upaya penanggulangan gizi. Dengan pendidikan gizi diharapkan terjadi perubahan perilaku kearah perbaikan kesehatan dan gizi yang lebih baik. Pangan yang tersedia tidak banyak berarti tampak pengetahuan gizi yang baik. Sebaliknya pendidikan gizi tidak akan berhasil seperti yang diharapkan bila pangan tidak tersedia dan penduduk dalam keadaan miskin (Baliwati, 2004).

Dari hasil penelitian, diperoleh diantara 64 anak yang berstatus gizi normal terdapat 37 anak yang memiliki orang tua yang tingkat pendidikannya lanjut dan 27 anak yang memiliki orang tua yang tingkat pendidikannya dasar. Dengan menggunakan uji Chi Square didapat nilai P adalah 0.143 (P>0.05), hal tersebut menunjukkan tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan status gizi anak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khatarina (2008) di Medan yang menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua terhadap status gizi anak.

Dari penelitian yang dilakukan, ibu yang memiliki pendidikan dasar maupun pendidikan lanjut tidak terlalu memperhatikan status gizi anak nya, mereka beranggapan kalau anaknya sehat berarti anaknya memiliki status gizi yang baik. Selain itu, seseorang yang hanya tamat SD belum tentu kurang mampu menyusun makanan yang memenuhi persyaratan gizi seimbang dibandingkan dengan orang lain yang pendidikannya tinggi (lanjut), karena sekalipun

berpendidikan rendah (dasar), apabila orang tersebut sering mendengarkan informasi dan mengikuti penyuluhan gizi maka bisa saja pengetahuan gizinya akan lebih baik lagi.

Selain pendidikan, tingkat penghasilan orang tua juga berperan dalam pemantauan pertumbuhan atau lebih kepada status gizi anak. Menurut Hidayati, dkk (2006) peningkatan pendapatan keluarga mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Rendahnya pendapatan atau kemiskinan akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan, nutrisi, tingkat pendidikan maupun kesuburan. Keluarga miskin tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan bernilai gizi maupun kesehatan atau kehidupan yang sehat.

Pada penelitian ini terlihat bahwa anak yang memiliki orang tua dengan penghasilan tinggi (> 815.000) terbanyak pada anak yang bergizi normal sebanyak 31 anak tetapi tidak memiliki perbedaan persentase yang bermakna terhadap anak yang memiliki orang tua dengan penghasilan rendah (< 815.000) yaitu sebanyak 33 anak. Dari hasil uji Chi Square, diperoleh nilai P adalah 0.727 (P>0.05) maka menunjukkan tidak adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi anak. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Khatarina (2008) di Medan yang menunjukkan tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga terhadap status gizi anak. Menurut penelitian yang dilakukan Jerome di Amerika Utara disimpulkan bahwa pendapatan keluarga bukan faktor penentu terhadap perilaku makan, tetapi merupakan faktor gabungan antara pendapatan dan gaya hidup yang bisa memberikan andil terhadap perubahan perilaku makan suatu kelompok yang kebudayaannya cenderung berubah.

Pekerjaan orang tua juga mempengaruhi status gizi anak. Menurut Soekirman (2000) bahwa pola asuh yang tidak memadai karena kurangnya perhatian dari orang tua bisa mempengaruhi dalam hal kedekatan dengan anak, memberi makan, merawat, memberi kasih sayang dan menjaga kebersihan. Dari hasil penelitian, didapatkan dari 64 anak yang berstatus gizi normal terdapat 54 anak yang memiliki orangtua yang tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga dan ada 36 anak yang memiliki orang tua atau ibu yang bekerja di luar rumah. Tetapi dari hasil uji Chi square diperolah nilai P adalah 0.267 (P>0.05) berarti

tidak ada hubungan antara pekerjaan orang tua terhadap status gizi anak. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Yudi (2007) menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi anak tetapi tidak adanya hubungan antara pekerjaan ayah dengan status gizi anak.

Dari hasil survei penelitian, ibu yang tidak bekerja dan hanya di rumah memiliki waktu lebih banyak untuk merawat dan memperhatikan anak. Selain itu akan lebih cepat tanggap terhadap setiap kondisi yang terjadi pada anaknya. Perhatian yang penuh dan perawatan anak yang maksimal menjadikan status gizi anak menjadi lebih baik. Sedangkan untuk orangtua atau ibu yang bekerja di luar rumah memiliki waktu yang lebih sedikit untuk memperhatikan anak dan kurang tanggap terhadap kondisi status gizi anak.

5.4.2 Status Gizi

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) nasional tahun 2007, prevalensi anak usia sekolah kurus (laki-laki) adalah 13.3 %, sedangkan prevalensi nasional anak usia sekolah kurus (perempuan) adalah 10.9%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah kurus (laki-laki) di atas prevalensi nasional dan sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah kurus (perempuan) di atas prevalensi nasional. Sedangkan untuk prevalensi nasional anak usia sekolah gemuk (laki-laki) adalah 9.5% dan prevalensi nasional anak usia sekolah gemuk (perempuan) adalah 6.4%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah gemuk (laki-laki) di atas prevalensi nasional termasuk diantaranya provinsi Bengkulu. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi anak usia sekolah gemuk (perempuan) di atas prevalensi nasional termasuk juga diantaranya provinsi Bengkulu.

Tetapi dari hasil penelitian yang saya lakukan di Sekolah Dasar Negeri 20 Manna Bengkulu Selatan dijumpai status gizi anak umumnya normal, jarang dijumpai status gizi yang lebih maupun status gizi kurang. Diperoleh hasil bahwa sebagian besar anak pada kategori gizi normal yaitu sebanyak 64 anak (71.1%), anak dengan status gizi kurang sebanyak 12 anak (13.3%), dan anak dengan status

gizi lebih sebanyak 14 anak (15.6%). Hasil tersebut bertentangan dengan hasil RISKESDAS tahun 2007, hal tesebut kemungkinan dikarenakan telah meningkat derajat kesehatan serta meningkatnya pendidikan tentang gizi sehingga anak umumnya berstatus gizi normal. Tetapi hal lain, RISKESDAS hanya melakukan penelitian untuk provinsi Bengkulu secara umum tanpa melibatkan penelitian khusus untuk daerah-daerah kabupaten di provinsi Bengkulu.

5.4.3 Rutinitas Anak

Subjek penelitian ini adalah anak Sekolah Dasar Negeri 20 Manna Bengkulu Selatan usia 7-12 tahun sebanyak 90 anak. Dari hasil penelitian dapat diketahui rutinitas anak usia 7-12 tahun meliputi makan malam bersama keluarga, tidur, dan menonton televisi dilakukan setiap hari di rumah. Didapatkan bahwa dari 90 orang yang menjadi subjek penelitian ada 87 anak (96.7%) yang makan malam bersama keluarga secara rutin dan hanya 3 anak (3.3%) yang tidak secara rutin makan malam bersama keluarga.

Dari penelitian yang dilakukan, didapatkan sebagian besar responden (orang tua) pada saat makan malam bisa berkumpul bersama anggota keluarga. Saat makan malam bisa terjadi saling berbagi cerita dan pengalaman serta bisa interaksi antar anggota keluarga. Sedangkan untuk tidur pada malam hari, umumnya anak tidur pada jam 08.30 atau jam 09.00 sampai jam 06.00 pagi (sekitar 9 sampai 9.5 jam setiap malam). Dari 90 anak yang menjadi subjek penelitian, ada 71 anak (78.9 %) yang tidur malamnya cukup ( selama 9.5-10 jam) dan ada 19 anak (21.1%) yang tidur malam nya di kategorikan tidak cukup. Biasanya pada malam hari, anak-anak belajar selama 1 jam, ada beberapa anak yang menonton televisi, setelah itu mereka tidur.

Berdasarkan teori bahwa tidur malam yang cukup untuk anak usia 10 tahun adalah sekitar 9.5 sampai 10 jam tiap malamnya (Rudolph, 2006). Tidur malam yang cukup dibutuhkan anak untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dari penelitian yang dilakukan, anak yang tidur malamnya tidak cukup terjadi pada anak yang suka menghabiskan waktu untuk menonton televisi sampai larut malam

sehingga waktu tidur malamnya berkurang. Sedangkan untuk aktivitas menonton TV dalam sehari, dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar anak menghabiskan waktu <2 jam/hari untuk menonton televisi. Dari 90 anak yang menjadi subjek penelitian, ada 61 anak (67.8%) menonton televisi < 2jam/hari dan ada 29 anak (32.2%) menonton televisi > 2 jam/hari. Itu dikarenakan kebanyakan anak-anak setelah pulang sekolah, mereka banyak bermain di luar rumah dengan teman sebayanya, ada yang melakukan kegiatan ekstrakulikuler sekolah, tetapi ada juga beberapa anak yang hanya di rumah menonton televisi atau bermain game.

5.4.4 Hubungan Antara Rutinitas dengan Status Gizi Anak

Dari hasil analisis data penelitian menggunakan analisis Chi square diperoleh hubungan antara tidur malam, dan kuantitas menonton televisi terhadap status gizi anak dengan nilai P < 0.05. Sedangkan untuk makan malam bersama keluarga dan status gizi tidak ditemukan hubungan yang signifikan (P > 0.05) . Dari hasil penelitian, diperoleh diantara 90 sampel penelitian hanya 3 anak yang tidak rutin makan malam bersama keluarga yaitu pada anak dengan status gizi normal. Sedangkan diantara 87 anak yang rutin makan malam bersama keluarga yaitu terdapat pada anak dengan status gizi normal sebanyak 61 orang, anak dengan status gizi kurang sebanyak 12 orang, serta anak dengan status gizi lebih sebanyak 14 anak. Hal ini menunjukkan bahwa umumnya setiap malam anak makan malam rutin bersama kedua orang tua ataupun anggota keluarga lain. Tidak ada hubungan antara makan malam bersama keluarga secara rutin pada anak yang berstatus gizi normal, gizi kurang, maupun gizi lebih. Makan malam bersama keluarga merupakan suatu rutinitas yang selalu dilakukan setiap malam. Makan bersama dengan anggota keluarga tetap dianjurkan untuk menjalin keakraban keluarga.

Pada banyak keluarga, makan malam bersama keluarga tidak secara langsung mempengaruhi keadaan status gizi anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gillman et al (2000) menemukan pada makan malam keluarga banyak mengkonsumsi buah dan sayur, sedikit makanan yang berminyak dan

soda, sedikit saturated and trans fat, rendah gula, dan banyak serat. Selain itu, pada penelitian Neumark-Sztainer et al (2000) juga menemukan hubungan positif antara rutinitas makan malam keluarga dengan asupan buah, sayuran, makanan tinggi kalsium, dan hubungan negatif dengan konsumsi soft drink. Perbedaan hasil penelitian tersebut dikarenakan pada penelitian yang saya lakukan tidak menilai makanan yang dikonsumsi atau disajikan setiap makan malam sehingga tidak bisa menilai konsumsi gizi anak. Selain itu, makan malam bersama keluarga yang tidak rutin berhubungan dengan makanan yang tinggi kalori dan sedikit gizi tersebut berhubungan dengan life style (gaya hidup) di kota-kota besar yang mengikuti modernisasi untuk memilih makanan cepat saji (fast food) sedangkan di tempat penelitian yang saya lakukan yaitu di daerah pedesaan tidak memiliki tempat yang menyajikan makanan cepat saji.

Dari hasil penelitian, terdapat hubungan antara tidur malam yang cukup terhadap status gizi anak (P < 0.05). Dari 64 anak yang status gizi normal terdapat 58 (90.6%) anak yang tidur malamnya dikategorikan cukup dan ada 6 (9.4%) anak yang tidur malamnya dikategorikan tidak cukup. Ada 12 anak dengan status gizi kurang terdapat 11 (91.7%) anak yang tidur malamnya dikategorikan cukup dan 1 (8.3%) anak yang tidur malamnya dikategorikan tidak cukup. Sedangkan untuk anak dengan status gizi lebih yaitu sebanyak 14 anak terdapat 12 (85.7%) anak yang tidur malamnya dikategorikan tidak cukup dan 2 (14.3%) anak yang tidur malamnya dikategorikan cukup. Anak yang memiliki waktu tidur malam yang tidak cukup, kebanyakan mereka menonton televisi sampai larut malam sehingga waktu tidurnya berkurang pada malam hari. Hasil tersebut sejalan dengan hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan oleh Touchette et al (2008) dan penelitian yang dilakukan oleh Anderson et al (2005) yang menunjukkan ada hubungan antara kejadian overweight/obesitas dengan tidur malam yang tidak cukup.

Mekanisme fisiologisnya jumlah waktu tidur yang tidak cukup pada malam hari pada anak dapat menyebabkan perubahan siklus kadar ghrelin dan leptin yang berperan pada pengaturan nafsu makan (Lumeng et al, 2007). Penurunan jumlah waktu tidur pada malam hari dapat menurunkan sekresi leptin

dan meningkatkan sekresi ghrelin selama 24 jam. Jumlah waktu tidur yang singkat ditunjukkan dengan perubahan metabolisme karbohidrat dan gangguan glucose intolerance yang bisa mempengaruhi berat badan anak.

Untuk rutinitas menonton TV, diperoleh bahwa diantara 64 anak dengan status gizi normal terdapat 17 (26.6%) anak yang menonton TV >2 jam/hari dan ada 47 (73.4%) anak yang menonton TV <2 jam/hari. Diantara 12 anak dengan status gizi kurang terdapat 12 anak yang menonton TV <2 jam/hari dan tidak ada anak yang menonton TV >2 jam/hari. Sedangkan untuk anak dengan status gizi lebih yaitu sebanyak 14 anak terdapat 12 (85.7%) anak yang menonton TV >2 jam/hari dan ada 2 (14.3%) anak yang menonton TV <2 jam/hari. Dari hasil uji Chi Square terdapat hubungan antara kuantitas menonton televisi terhadap status gizi anak (P <0.05). Hasil tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Epstein et al (2008) dan penelitian yang dilakukan oleh Sarah et al (2005) yang menunjukkan efek mengurangi atau pembatasan menonton televisi pada anak kecil bisa mempengaruhi berat badan anak. Televisi bisa mempengaruhi kebiasaan makan anak dan menyebabkan anak menjadi kurang gerak (kurang aktivitas). Hal ini dikarenakan sangat intensifnya anak-anak berada di depan televisi. Menonton televisi tergolong ke dalam aktivitas ringan. Ini berarti tidak banyak energi yang terpakai, sementara itu konsumsi energi panganan meningkat terus sehingga terjadilah peningkatan berat badan.

Dokumen terkait