• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Waktu Menonton Televisi

Meskipun Children’s Television Act of 1990 telah membatasi program televisi untuk anak 10.5 menit/jam dalam satu minggu dan 12 menit/jam pada akhir minggu, namun banyak anak yang menonton televisi hampir 16 menit/jam. Setiap anak menghabiskan total 6 jam sehari untuk menonton televisi, bermain video game, mendengarkan musik atau membaca majalah, namun sebagian besar orang tua tidak menanggapi hal ini dengan serius (Committee on communications, 2006) .

Masih dijumpai pertambahan waktu menonton televisi pada anak umur 2 tahun menonton televisi dari waktu yang telah direkomendasikan oleh AAP (American Academy of Pediatric). Menonton televisi pada usia dini ini berhubungan dengan gangguan memusatkan perhatian pada usia 7 tahun. Sehingga tidak dianjurkan menonton televisi pada anak usia dini. Menonton televisi dalam waktu yang lama dapat mempengaruhi kognitif, kebiasaan, dan aktivitas fisik anak termasuk juga prestasi di sekolah, perhatian, dan status gizi anak. Dalam hal ini diperlukan langkah preventif untuk menghindari pengaruh negatif televisi terhadap anak (Jordan et al, 2006).

2.4.1 Rekomendasi AAP tentang Menonton Televisi

American Academy of Pediatric telah merekomendasikan tentang panduan menonton televisi pada anak, antara lain: (Committee on public education)

1. Dokter anak sebaiknya memberikan bimbingan tentang bahaya televisi dan membuat jadwal menonton televisi untuk pasiennya.

2. Dokter anak sebaiknya mengajukan pertanyaan tentang program televisi yang ditonton oleh pasiennya secara rutin dan memberikan nasihat kepada orang tua, meliputi hal di bawah ini:

a. Berhati-hati memilih program televisi yang akan ditonton anak b. Mendiskusikan tentang program televisi yang ditonton

c. Mengajarkan kemampuan dari program yang ditonton d. Membatasi waktu menonton televisi

e. Memilih peranan tokoh televisi dengan selektif

f. Menyediakan aktivitas yang lain selain menonton televisi g. Tidak menempatkan televisi di ruang tidur anak

h. Menghindari penggunaan televisi oleh pengasuh anak.

3. Dokter anak harus mendorong orang tua untuk menghindari anaknya yang berusia di bawah 2 tahun untuk tidak menonton televisi. Hal ini disebabkan usia di bawah 2 tahun merupakan masa awal pertumbuhan otak.

4. Dokter anak sebaiknya menganjurkan tokoh televisi yang sesuai untuk anak dan membatasi waktu menonton televisi, video serta tidak meletakkan televisi di kamar tidur anak.

5. Dokter anak sebaiknya waspada dan memberikan edukasi pada orang tua, anak, remaja, guru, tentang pengaruh negatif televisi. Namun perlu juga diberi tahu manfaat dari televisi terhadap pendidikan anak.

6. Dokter anak harus bekerja sama dengan orang tua, guru, pihak sekolah dan masyarakat untuk mempromosikan televisi sebagai media edukasi.

7. Dokter anak sebaiknya melibatkan anak dengan kegiatan umum di lingkungannya serta mendorong stasiun televisi untuk menambah program pendidikan di televisi.

8. Dokter anak sebaiknya mendorong pemerintah untuk memerintahkan dan mendanai stasiun televisi dalam membuat program pendidikan dan mendemonstrasikan program televisi ini di sekolah.

9. Dokter anak sebaiknya mendorong pemerintah dan yayasan lainnya untuk melakukan penelitian terhadap media edukasi dan penelitian lainnya yang berkaitan dengan pengaruh negatif televisi.

2.4.2 Keuntungan Media Televisi

Dalam beberapa dekade, AAP telah merekomendasikan keunggulan media massa untuk anak dan remaja, salah satunya adalah televisi. Adapun keunggulan televisi adalah televisi dapat menyediakan program pendidikan untuk anak usia sekolah, menambah kreativitas dan pengetahuan anak. Namun selain televisi mempunyai keunggulan, televisi juga mempunyai pengaruh negatif bagi anak dan remaja. Tidak semua program televisi mengandung makna negatif bagi anak dan remaja. Program televisi berupa media pendidikan justru dapat mengurangi efek negatif televisi lainnya. Media ini mampu menguraikan tujuan dan pesan dari tayangan televisi sehingga anak dapat mengerti dan memahami pesan serta gambar yang dilihatnya di televisi dan memudahkan anak serta orangtua untuk memutuskan apakah mereka perlu menonton suatu tayangan televisi (Thakkar et al, 2006).

Dengan adanya media edukasi orangtua dapat membuat keputusan yang tepat seperti memilih tayangan yang kreatif untuk anak, membangun pikiran yang kritis, menambah kemampuan dan memahami masalah politik, sosial, ekonomi. Program televisi edukasi juga berhasil menambah pengetahuan anak usia prasekolah, memperbaiki perilaku dan menambah imajinasi (Thakkar et al, 2006).

2.4.3 Pengaruh Menonton Televisi Terhadap Status Gizi Anak

Televisi bisa berdampak dalam mempengaruhi status gizi anak. Televisi bisa mempengaruhi kebiasaan makan anak dan menyebabkan anak menjadi kurang gerak (kurang aktivitas). Hal ini dikarenakan sangat intensifnya anak-anak berada di depan televisi. Lamanya waktu menonton televisi diperkirakan hanya dikalahkan oleh lamanya waktu tidur. Survey di Amerika Serikat menunjukkan anak-anak prasekolah rata-rata menonton televisi 26.3 jam/minggu, 3 jam diantaranya adalah acara iklan. Iklan-iklan makanan di televisi tidak jarang menonjolkan karakteristik fisik dari makanan seperti rasa yang renyah, rasa manis, dan rasa coklat. Hal ini membuat anak-anak berkeinginan kuat segera mencicipinya. Pengaruh televisi terhadap kebiasaan makan dapat terjadi melalui dua proses. Pertama, iklan televisi akan menyebabkan alokasi pembelian jenis makanan baru yang sebelumnya tidak pernah dikonsumsi. Anak-anak yang konsumsi makannya tergantung ketersediaan pangan di rumah akhirnya terkondisi dengan jenis-jenis makanan baru yang dibeli ibunya. Akhirnya terbentuklah kebiasaan makan dengan komoditi pilihan berdasarkan iklan televisi. Kedua, makanan dalam iklan-iklan televisi seringkali ditampilkan dalam rangka menunjang suatu aktivitas. Jadi tidak sekedar memenuhi rasa lapar. Karena banyaknya aktivitas dalam hidup seseorang, maka jenis-jenis makanan yang menyertai aktivitas itu pun akan semakin banyak. Dan bila makanan-makanan tersebut bersifat low density nutrients maka ada kemungkinan kasus obsesitas akan segera muncul (Khomsan, 2010).

Dietz dan Gortmaker (1985) telah meneliti hubungan menonton televisi dengan obesitas pada anak. Dikemukakan bahwa ada hubungan positif antara jumlah waktu menonton televisi dengan frekuensi makan panganan (cemilan).

Pada saat seorang anak menonton televisi, dia tidak hanya menikmati program intinya tetapi juga terkondisi untuk menerima iklan makanan. Ada kenikmatan tersendiri bila seorang anak yang sedang nonton televisi makan panganan yang sama dengan bintang film iklan. Apapun yang dikonsumsi selama menonton televisi, selama makanan tersebut berupa panganan yang hanya padat kalori, maka dampaknya adalah kelebihan bobot badan. Survei dari kedua peneliti tersebut juga menunjukkan semakin lama seorang anak menonton televisi, maka konsumsi makanan seperti yang diiklankan dalam televisi juga meningkat. Ini membuktikan kebiasaan makan ini dapat berubah karena intervensi iklan di televisi. Penemuan lainnya adalah meningkatnya waktu menonton televisi akan membuat anak mempengaruhi pola belanja makanan orang tuanya di pasar swalayan. Pada saat orang tua akan berbelanja, anak langsung menyampaikan daftar pesanan panganan yang harus dibeli ibunya. Meningkatnya kebiasaan mengkonsumsi panganan padat kalori dan banyaknya waktu yang digunakan untuk menonton televisi membuat anak-anak rawan terhadap obesitas (Khomsan, 2010).

Menonton televisi tergolong ke dalam aktivitas ringan. Ini berarti tidak banyak energi yang terpakai, sementara itu konsumsi energi panganan meningkat terus sehingga terjadilah keseimbangan energi positif. Aktivitas anak sebelum dan sesudah era televisi tampak berbeda, dulunya anak sering bermain bersama teman-temannya di luar rumah tetapi sekarang anak lebih memilih untuk menonton televisi seharian di rumah. Oleh karena itu, orang tua harus pandai- pandai mengatur jadwal menonton televisi bagi anak-anaknya supaya energi tubuh dapat tersalurkan keluar melalui aktivitas fisik lainnya. Hari minggu/libur sebaiknya dimanfaatkan untuk rekreasi keluarga di luar rumah. Acara televisi pada hari Minggu biasanya penuh dengan hiburan yang menarik, seperti film kartun, oleh karena itu orang tua yang bijaksana harus mengajak putra-putrinya untuk beraktivitas fisik sehabis menonton acara TV di pagi hari (Khomsan, 2010).

2.5 Penilaian Status Gizi Anak

Dokumen terkait