BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Berdasarkan pada tujuan dan hasil penelitian, maka akan dibahas secara implisit tentang gambaran kemandirian siswa kelas VIIIA SMP Negeri 3 Kembang Kabupaten Jepara sebelum diberi layanan bimbingan kelompok, gambaran kemandirian siswa kelas VIIIA SMP Negeri 3 Kembang Kabupaten Jepara sesudah diberi layanan bimbingan kelompok, dan perbedaan kemandirian siswa kelas VIIIA SMP Negeri 3 Kembang Kabupaten Jepara sebelum dan sesudah diberi layanan bimbingan kelompok.
Berdasarkan perhitungan analisis deskriptif persentase, dapat diketahui bahwa sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok, gambaran kemandirian siswa kelas VIIIA SMP Negeri 3 Kembang Kabupaten Jepara yang berjumlah 36 siswa secara umum diperoleh skor 62,61% termasuk dalam kategori sedang dimana 10 siswa masuk dalam kategori tinggi, 17 siswa masuk dalam kategori sedang, dan 9 siswa masuk dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum memiliki kemandirian yang baik.
Penelitian ini diberikan kepada 12 siswa kelas VIIIA SMP Negeri 3 Kembang Kabupaten Jepara meskipun hasil pre test secara umum menunjukkan kategori sedang. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara proportionate
stratified random sampling dengan menunjuk 12 siswa yang terdiri dari 3 siswa dalam kategori rendah, 6 siswa dalam kategori sedang, dan 3 siswa dalam kategori tinggi. Berdasarkan perhitungan analisis persentase kedua belas siswa tersebut termasuk dalam kategori sedang dengan persentase 63,18%. Pengambilan sampel ini dianggap lebih efektif karena untuk memenuhi homogenitas dan heterogenitas kelompok. Homogen karena anggota memiliki tingkat perkembangan yang relatif sama (umur), sedangkan heterogen yaitu anggota merupakan pribadi yang unik, karakteristik yang berbeda, latar belakang sosial ekonomi yang beragam dan pendidikan yang beragam. Kondisi kemandirian siswa sebelum diberi perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok belum optimal sehingga perlu ditingkatkan. Siswa yang kemandirian dalam kategori rendah maupun sedang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya rendahnya percaya diri, tidak mampu bekerja sendiri, tidak mampu menghargai waktu, tidak mampu bertanggung jawab, tidak memiliki hasrat bersaing untuk maju, dan tidak berani dalam mengambil keputusan.
Dalam penelitian ini tujuan yang diharapkan tercapai yaitu meningkatkan kemandirian siswa, sehingga siswa yang tingkat karakter mandirinya rendah dan sedang diharapkan dapat dikembangkan dan meningkat menjadi tinggi bahkan sangat tinggi. Sedangkan siswa yang sudah memiliki kemandirian yang tinggi dapat dipertahankan atau ditingkatkan menjadi sangat tinggi. Dengan demikian, siswa dapat mengembangkan diri dan mencapai tingkat kemandirian yang lebih baik.
Peningkatan kemandirian siswa dapat terjadi karena adanya faktor stimulus dari dalam dan luar. Dalam hal ini, peneliti mencoba mengembangkan karakter mandiri siswa dengan memberikan stimulus dari luar yaitu dengan pemberian layanan bimbingan kelompok. Pada pelaksanaan layanan bimbingan kelompok, dinamika kelompok memiliki peranan penting dalam mengembangkan kemandirian siswa, dimana anggota kelompok saling berinteraksi membahas topik yang diberikan oleh pemimpin kelompok, dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab untuk lebih memperdalam materi. Sehingga siswa mengetahui tujuan diadakannya layanan bimbingan kelompok, yakni sebagai upaya untuk meningkatkan kemandiriannya. Sedangkan stimulus dari dalam yaitu stimulus yang berasal dari anggota kelompok itu sendiri untuk bisa atau mampu memiliki karakter mandiri.
Gambaran kemandirian siswa berdasarkan perhitungan analisis deskriptif, dapat diketahui bahwa sesudah diberikan layanan bimbingan kelompok kemandirian siswa termasuk dalam kategori tinggi dengan persentase 73,67%. tidak ditemukan sama sekali siswa yang memiliki kemandirian dengan kategori rendah dan sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa setelah mendapat perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok selama delapan kali pertemuan terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 10,49%. Hal ini juga terlihat selama proses pengamatan bahwa siswa telah menunjukkan karakteristik individu yang memiliki kemandirian yang baik yaitu memiliki percaya diri, mampu bekerja sendiri, menghargai waktu, mampu bertanggung jawab, memiliki hasrat bersaing untuk maju, dan berani dalam mengambil keputusan. Dari enam
indikator kemandirian siswa, indikator yang masuk dalam skor peningkatan tertinggi adalah indikator percaya diri sebesar 15,00%. Sedangkan peningkatan indikator terendah setelah diberikan layanan bimbingan kelompok terdapat pada indikator menghargai waktu sebesar 10,45%.
Bimbingan kelompok dalam penelitian ini merupakan upaya pemberian bantuan kepada siswa secara kelompok agar siswa mendapatkan informasi tentang cara meningkatkan kemandirian sehingga siswa mampu meningkatkan potensi sampai terwujudnya kemandirian dalam kehidupannya meskipun saat pencapaian tujuan menemui berbagai kesulitan. Dalam pelaksanaan bimbingan kelompok ada empat tahap yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap kegiatan, dan tahap pengakhiran.
Menurut Prayitno (2004: 3) layanan bimbingan kelompok dapat digunakan untuk mengubah dan mengembangkan sikap dan perilaku yang tidak efektif menjadi lebih efektif. Melalui layanan bimbingan kelompok siswa dilatih untuk mampu melakukan kegiatan secara berkelompok untuk mencapai tujuan bersama. Bimbingan kelompok sebagai media dalam upaya membimbing individu yang memerlukan bantuan, dalam hal ini yaitu individu yang memerlukan bantuan untuk mengembangkan karakter mandiri dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Seperti yang dikemukakan oleh Prayitno (1995: 23) bahwa dinamika kelompok merupakan “sinergi dari semua faktor yang ada dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu. Jadi dalam bimbingan kelompok memanfaatkan suatu dinamika kelompok, hal ini agar individu dapat aktif dalam membahas topik
yang dikemukakan dalam bimbingan kelompok, dimana kegiatan bimbingan kelompok ini dapat membuat anggotanya lebih berani mengungkapkan pendapatnya secara bertanggungjawab dan lebih menghargai perbedaan pendapat antar anggota kelompok.
Kemandirian yang dimiliki oleh seseorang itu berbeda-beda. Sebagian orang ada yang memiliki karakter mandiri yang tinggi, sedang, dan rendah. Hal ini dapat dipengaruhi dari berbagai faktor yang mempengaruhi tingkatan karakter mandiri seseorang, diantaranya dari faktor gen atau keturunan dari orang tua, pola asuh orang tua kepada anak, sistem kehidupan di masyarakat, sistem pendidikan di sekolah yang kurang mengajari anak untuk mandiri (Ali dan Asrori, 2005: 118-119). Pada umumnya kemandirian diperoleh melalui proses kebiasaan yang telah dilakukan dari anak usia sedini mungkin. Sebagai seorang siswa harus memiliki kemandirian karena hal tersebut dapat menunjang prestasi di sekolah yang akan dihasilkan oleh anak tersebut dalam mencapai hidup yang sukses. Berbagai hal yang berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan kemandirian siswa dibahas pada layanan bimbingan kelompok dengan suasana akrab, terbuka, dan hangat. Oleh karena itu, layanan bimbingan kelompok yang diberikan berisikan materi-materi yang berkaitan dengan cara meningkatkan kemandirian siswa.
Dalam kegiatan bimbingan kelompok, setiap anggota kelompok mempunyai hak sama untuk melatih diri dalam mengemukakan pendapatnya, membahas topik yang berkaitan dengan upaya peningkatan kemandirian siswa dengan tuntas, anggota dapat saling bertukar informasi, memberi saran dan pengalaman. Dengan demikian, apa yang disampaikan dalam bimbingan kelompok diharapkan lebih
mengena mengingat bentuk komunikasi yang dijalani bersifat multi arah. Bimbingan kelompok dalam penelitian ini bertujuan untuk membahas topik-topik mengenai kemandirian. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif yang dapat mendorong pengembangan dan peningkatan kemandirian siswa dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan hasil uji hipotesis analisis data diperoleh perhitungan pada tabel uji wilcoxon, dengan jumlah Zhitung = 78 sedangkan Ztabel untuk n =12 dengan taraf kesalahan 5% nilainya adalah 14, sehingga diperoleh Zhitung 78 > Ztabel 14. Dengan demikian maka Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya kemandirian siswa meningkat setelah memperoleh layanan bimbingan kelompok. Terkait dengan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemandirian siswa sebelum dan sesudah memperoleh layanan bimbingan kelompok adalah berbeda dan mengalami peningkatan.