• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, pembahasan dilakukan

untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang gambaran pelaksanaan komunikasi

terapeutik dengan pasien halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah

PEMPROVSU.

5.2.1 Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas rata-rata usia

responden adalah 33,90 tahun . Perawat yang berusia pada masa dewasa dini, mereka

akan mempengaruhi tingkat keberhasilan dan tanggung jawab dalam menjalankan

tugasnya. Semakin bertambah umur maka semakin meningkat tingkat

kematangannya, juga semakin baik hubungan interpersonalnya, pengaruh umur ini

tidak mutlak karena beban kerja yang juga dapat berpengaruh dalam menerapkan

komunikasi terapeutik (Hurlock, 1999). Sedangkan menurut hasil penelitian Suhartini

dkk (2007) menyatakan adanya hubungan yang bermakna antara umur perawat

dengan motivasi perawat dalam menerapkan komunikasi terapeutik, namun arah

hubungan ini terbalik semakin tua umur perawat semakin rendah motivasinya dalam

menerapkan komunikasi terapeutik pada fase kerja.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin

perempuan sebanyak 23 orang (76,7%). Menurut hasil penelitian didapatkan bahwa

dan menunjukkan bahwa jenis kelamin pria dan wanita tidak ada perbedaan yang

hakiki dalam hak dan kewajiban (Liyana, 2008).

Dari hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan S1

Keperawatan sebanyak 17 orang (56,7%). Menurut hasil penelitian Suhartini dkk

(2007), menyatakan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi pula

pengetahuan, sikap. Dengan adanya pengetahuan yang memadai seseorang dapat

memenuhi kebutuhan dalam mengaktualisasikan diri dan menampilkan produktifitas

dan kualitas kerja yang tinggi dan adanya kesempatan untuk mengembangkan dan

mewujudkan kreatifitas. Ilmu pengetahuan dan tehnologi untuk mendorong

perkembangan intelektual, pembentukan watak, serta membentuk keterampilan dan

kemahiran dapat dilakukan melalui komunikasi yang baik dan efektif.

Rata-rata responden mempunyai pengalaman kerja selama 9 tahun. Dari hasil

penelitian Suhartini dkk (2007), didapatkan bahwa semakin lama pengalaman bekerja

seorang perawat justru semakin baik dalam menerapkan komunikasi terapeutik,

dengan demikian lama kerja mempengaruhi dalam pelaksanaan komunikasi

terapeutik sering dilakukan atau tidak sama sekali, semakin lama bekerja maka

5.2.2 Gambaran Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Pasien Halusinasi Pendengaran

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar dan

untuk tahapan kesembuhan pasien. Komunikasi terapeutik bertujuan untuk

mengembangkan pribadi pasien kearah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan

pada perkembangan pasien (Mundakir, 2006).

Perawat yang memiliki keterampilan teknik berkomunikasi secara terapeutik

tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan pasien, mencegah

terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan professional dalam pelayanan

keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit,

tetapi yang paling penting adalah mengamalkan ilmunya untuk memberikan

pertolongan terhadap sesame manusia (Nasir, A. dkk, 2011). Berdasarkan hasil

penelitian, pembahasan akan berfokus pada pelaksanaan komunikasi perawat dengan

pasien halusinasi pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah PEMPROVSU dan

melibatkan 30 orang responden.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas 24 responden (80%)

sering melakukan komunikasi terapeutik pada pasien halusinasi pendengaran dan 6

responden (20%) tidak melakukan komunikasi terapeutik pada pasien komunikasi

terapeutik pendengaran.

Berdasarkan hasil penelitian tentang pelaksanaan komunikasi terapeutik

terkait pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat bahwa komunikasi terapeutik

perawat mempunyai empat fase komunikasi, yang setiap fase mempunyai tugas yang

harus diselesaikan oleh perawat. Empat fase tersebut yaitu fase preinteraksi, orientasi

atau perkenalan, kerja dan terminasi. Fase preinteraksi merupakan fase persiapan

sebelum terjadi kontak pertama antara perawat dan pasien. Pada fase ini perawat

harus mengeksplorasi diri terhadap perasaan – perasaan diri seperti ansietas,

ketakutan dan keraguan. Tugas perawat dalam fase ini adalah mengumpulkan

informasi tentang pasien dan mengeksplorasikan perasaan diri (Tamsuri, 2005). Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pada fase preinteraksi dimana diawal bertemu pasien,

perawat memberi salam dan tersenyum pada pasien, yakni sebesar (76,7%)

responden, hasil penelitian Liyana (2008) menyatakan bahwa kenyataan dilapangan

bahwa diawal perawat sering memberi salam dan tersenyum pada setiap pasien ini

dilakukan agar perawat dapat membina hubungan saling percaya dengan pasien, ini

dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi kecemasan yang mungkin

dirasakan perawat sebelum melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien.

Pada fase orientasi, perawat dan pasien pertama kali bertemu, penting bagi

perawat untuk memperkenalkan dirinya dengan menggunakan nama, baik secara lisan

maupun tulisan. Dalam membina hubungan perawat dengan pasien, kunci utama

adalah terbinanya hubungan saling percaya, adanya komunikasi terbuka, memahami

penerimaan dan merumuskan kontrak (Tamsuri, 2005). Hasil penelitian menunjukkan

bahwa perawat memperkenalkan diri kepada pasien sebelum melakukan komunikasi

beban kerja yang berat perawat terkadang lupa memperkenalkan nama mereka

dengan pasien, ini dapat mengganggu hubungan yang akan dibina dengan pasien,

sehingga pasien tidak dapat mengenal perawat yang merawatnya. Responden sering

membuat kontrak yang jelas diawal pertemuan sebesar 83,3 %, dilapangan perawat

selalu membuat kontrak yang jelas pada awal pertemuan dengan pasien ini dilakukan

agar pasien tidak binggung dengan apa yang ditugaskan perawat. Tugas perawat

dalam tahapan ini adalah mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan

mengidentifikasi kecemasan, mengalisis kekuatan dan kelemahan diri,

mengumpulakan data tentang pasien, serta merencanakan pertemuan (Tamsuri, 2005).

Secara psikologis komunikasi yang bersifat terapeutik akan membuat pasien lebih

tenang dan tidak gelisah.

Fase Kerja merupakan dimana kerjasama terapeutik perawat dengan pasien

paling banyak dilakukan. Tugas perawat pada fase kerja ini adalah memenuhi

kebutuhan pasien dalam melaksanakan kegiatan sesuai dengan perencanaan pada

tahap preinteraksi. Tahap kerja adalah inti dari keseluruhan proses komunikasi

terapeutik, karena didalamnya perawat dituntut membantu dan mendukung pasien

untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons

atau pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh pasien

(Tamsuri, 2005). Hasil penelitian menunjukkan pada fase ini responden sering

mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik sebesar 86,7% dan

dilakukan perawat untuk dapat menyembuhkan pasien halusinasi pendengaran dan

mengurangi halusinasinya. Responden tidak mengajarkan atau melatih pasien

menggunakan obat dengan prinsip lima benar sebanyak 40 %. Hasil penelitian Liyana

(2008) tugas perawat pada tahap kerja tidak hanya itu saja, seharusnya perawat juga

harus memberi kesempatan pasien untuk bertanya sebelum tindakan dilaksanakan.

Hal ini disebabkan kekambuhan pasien yang datang kembali ke rumah sakit jiwa,

sebaiknya perawat mampu mengontrol halusinasi pasien dengan melatih

menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Bila kekambuhan terjadi

maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit, untuk itu perawat perlu

melatih pasien menggunakan obat dengan prinsip lima benar (Purba dkk, 2011).

Responden selalu mengajarkan pasien mengendalikan halusinasi dengan cara melatih

bercakap-cakap dengan orang lain yakni sebanyak 100%, ini dilakukan untuk

membantu pasien mengalihkan halusinasinya, ketika pasien bercakap- cakap dengan

orang lain maka fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan

yang dilakukan dengan orang lain tersebut. Adanya keterlibatan dan seringnya

berkomunikasi dengan pasien hendaknya saat berkomunkasi dengan pasien, perawat

memberikan semangat dan motivasi untuk sembuh. Sehingga salah satu cara yang

efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain

(Purba dkk, 2011). Pada tahap ini, perawat dan pasien bertemu untuk menyelesaikan

masalah dan membentuk hubungan yang saling menguntungkan secara professional,

Fase terminasi merupakan tahap perpisahan dimana perawat akan mengakhiri

interaksinya dengan pasien, tahap ini bersifat sementara maupun menetap. Tugas

perawat dalam tahap ini adalah mengevaluasi pencapaian tujuan dri interaksi yang

telah dilaksanakan, dimana perawat meminta pasien untuk menyimpulkan tentang apa

yang telah dilakukan merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini. Hasil

penelitian menunjukkan responden pada fase terminasi, responden sering

mengevaluasi kembali jadwal kegiatan harian pasien sebelum memulai melakukan

tindakan keperawatan lainnya sebesar 66,7%. Terminasi adalah satu tahap yang sulit

tapi sangat penting dari hubungan terapeutik karena rasa percaya dan hubungan intim

antara perawat dan pasien telah berlangsung optimal, fase ini untuk merubah perasaan

Dokumen terkait