BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
Melalui hasil penelitian yang telah disebutkan sebelumnya yang dilakukan pada siswa/siswi SDN 10 Samosir, diperoleh data yang diperlukan. Untuk itu, selanjutnya dilakukan pembahasan dengan rincian sebagai berikut.
5.2.1 Status gizi pada siswa/siswi SDN 10 Samosir
Dari data tabel 5.1 diketahui dari 79 subjek penelitian (100%), 5 orang (6,3%) masuk kedalam kategori gizi kurang yakni anak yang mempunyai status gizi yang berada di ambang batas -2 SD kebawah pada kuva IMT/U. 69 orang (87,3%) masuk kedalam kategori gizi baik yakni anak yang mempunyai status gizi yang berada diantara 1 SD sampai < -2SD pada kurva IMT/U, dan 5 orang (6,3%) masuk kategori gizi lebih yakni anak yang mempunyai status gizi yang berada diatas 1SD pada kurva IMT/U.
Hasil penelitian juga diperoleh berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki yang masuk kategori gizi kurang sebanyak 2 orang, gizi baik sebanyak 32 orang dan gizi lebih sebanyak 4 orang, sedangkan responden perempuan yang masuk kategori gizi kurang sebanyak 3 orang, gizi baik 37 orang dan gizi lebih 1 orang.
Berdasarkan umur responden mulai dari umur 5 – 13 tahun, diambil jumlah paling mendominasi setiap kategori. Anak yang termasuk kedalam gizi kurang sebanyak 2 orang terdapat pada umur 8 tahun, anak yang termasuk kedalam gizi baik sebanyak 17 orang terdapat pada umur 9 tahun dan anak yang termasuk kategori gizi lebih sebanyak 2 orang terdapat pada umur 11 tahun.
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi status gizi pada anak adalah berat badan anak saat lahir, faktor ekonomi keluarga, faktor sosial budaya, faktor
pendidikan yang rendah dan jumlah anggota keluarga. Pada penelitian ini tidak ada dilakukan tanya jawab lebih lanjut mengenai faktor yang mempengaruhi status gizi pada responden tersebut.
5.2.2 Gangguan tidur pada siswa/siswi SDN 10 Samosir
Dari hasil kuesioner SDSC yang sudah diolah, diperoleh hasil jumlah respoden yang mengalami gangguan tidur sebanyak 46 orang (58,2%) dan reponden yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 33 orang (41,8%). Hasil penggolongan ini diperoleh menggunakan skor kuesioner yang dijadikan sebagai instrument untuk menilai gangguan tidur pada anak, dimana jika jumlah skor > 39
disebut anak tersebut mengalami gangguan tidur dan jika skor ≤39 disebut anak
tersebut tidak mengalami gangguan tidur.
Dari penelitian juga diperoleh berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki yang mengalami gangguan tidur sebanyak 22 orang dan yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 16 orang, sedangkan responden perempuan yang mengalami gangguan tidur sebanyak 24 orang dan yang tidak mengalami gangguan tidur sebanyak 17 orang.
Berdasarkan umur responden diperoleh data yang mempunyai frekuensi lebih banyak, responden yang berumur 8 dan 9 tahun terdapat masing-masing sebanyak 9 anak yang mengalami gangguan tidur dan pada umur 9 tahun terdapat 11 anak yang tidak mengalami gangguan tidur.
Faktor yang dapat mempengaruhi tidur pada anak adalah keadaan anak yang ketakutan, suara bising, kecemasan karena merasa terpisah dengan orangtua, dan jika anak dalam keadaan sakit dapat menjadi faktor yang mengganggu tidur anak. Prevalensi anak laki-laki yang mengalami gangguan tidur 2-5% lebih sering dibandingkan pada anak perempuan (Nelson,2013) tetapi berdasarkan hasil penelitian diperoleh subjek penelitian perempuan lebih banyak yang mengalami gangguan tidur dibandingkan subjek penelitian laki-laki. Namun untuk lebih memastikan faktor – faktor apa saja yang mungkin dapat menjadi penyebab utama
sehingga subjek penelitian memiliki gambaran gangguan tidur demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut.
5.2.3 Hubungan status gizi dengan gangguan tidur pada siswa/siswi SDN 10 Samosir
Berdasarkan tabel 5.7 tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna dari status gizi dengan gangguan tidur. Pada penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa vitamin dan mineral seperti defisiensi vitamin B6 dapat menyebabkan distress psikologis dan gangguan tidur, vitamin B12 dapat memperbaiki gejala
gangguan siklus tidur-bangun, defisiensi zat besi diduga penyebab restlegs
syndrome yaitu gangguan yang ditandai dengan sensasi yang tidak normal pada kaki sehingga dapat menyebabkan kesulitan memulai tidur. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran terhadap kadar zat tersebut, melainkan hanya dilakukan pengukuran terhadap status gizi pada subjek penelitian.
Hasil penelitian yang sama juga diperoleh dengan penelitian yang dilakukan oleh William cheng dan Rini Sekartini pada tahun 2012, dimana tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi dengan gangguan tidur pada anak usia 5-7 tahun di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh M.Ardiasyah Saputra pada siswa/siswi SD Negeri Serang Sendangsari Pengasih Kulon Proyo menunjukkan pada anak yang termasuk kategori gizi lebih yaitu anak yang obesitas 30 anak (100%) mengalami gangguan tidur sedangkan pada anak yang tidak obesitas 23 anak (76,7%) anak mengalami gangguan tidur. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Cairis dan Nurul di desa Padangasri kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto menyebutkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pemenuhan nutrisi dan gangguan tidur yang terjadi pada bayi usia 6-9 bulan, bayi yang pemenuhan nutrisi nya kurang mengalami gangguan tdur yang lebih banyak daripada bayi yang pemenuhan nutrisi lebih.
Subjek penelitian telah dipilih sedemikian rupa sehingga variabel faktor resiko yang dapat menyebabkan gangguan tidur dapat diminimalisir. Meskipun karakteristik subjek penelitian telah dipilih sedemikian rupa, pada kenyataannya penelitian ini belum mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tidur seperti infeksi, faktor biologis, posisi tidur, faktor emosional dan faktor kebiasaan tidur.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, mata pencaharian masyarakat Samosir mayoritas adalah petani, nelayan dan pengrajin, dimana tidak hanya orangtua saja yang bekerja, anak-anak mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sudah bekerja membantu orangtua. Ketika pulang sekolah anak-anak langsung bekerja membantu orangtua ke ladang ataupun pergi ke danau. Hal ini dapat berdampak terhadap berkurangnya waktu istirahat anak dan dapat menyebabkan anak kelelahan yang dapat berdampak terhadap tidur si anak. Oleh karena itu, untuk memastikan apakah ada hubungan antara status gizi dengan gangguan tidur pada anak perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sample yang lebih besar dan mempertimbangkan faktor penyebab gangguan tidur.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
1. Gambaran status gizi pada subjek penelitian diperoleh dari 79 subjek
penelitian 5 orang masuk kedalam kategori gizi kurang, 69 orang masuk dalam kategori gizi baik, dan 5 orang masuk dalam kategori gizi lebih.
2. Gambaran gangguan tidur pada subjek penelitian diperoleh dari 79
subjek penelitian 46 orang masuk kedalam kategori Terdapat gangguan tidur dan 33 orang masuk dalam kategori Tidak terdapat gangguan tidur.
3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan
gangguan tidur pada anak.
6.2 Saran
Dari seluruh proses penelitian yang dilakukan oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini maka dapat diajukan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat. Adapun saran tersebut, yaitu :
1. Perlu dilakukan penelitian selanjutnya untuk mengetahui faktor
penyebab gangguan tidur karena dari hasil penelitian ditemukan jumlah responden yang lebih banyak mengalami gangguan tidur dibandingkan yang tidak mengalami gangguan tidur.
2. Walaupun tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara status gizi
dengan gangguan tidur pada anak, tetap perlu memperhatikan status gizi anak karena status gizi dapat memperngaruhi hal yang lain.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Status Gizi 2.1.1 Pengenalan Gizi
Secara klasik kata gizi hanya dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun, dan memelihara jarigan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Tetapi, sekarang kata gizi mempunyai pengertian lebih luas, disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. Oleh karena itu, di Indonesia yang sekarang sedang membangun, faktor gizi di samping faktor-faktor lain dianggap penting untuk memacu pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia berkualitas ( Almatsier, 2010).
2.1.2 Pengertian Status Gizi
Menurut Depkes (2002), status gizi merupakan tanda-tanda penampilan seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi pada suatu saat berdasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan.
2.1.3 Status Gizi Anak di Indonesia
Secara nasional prevalensi kurus (menurut IMT/U) pada anak umur 5-12 tahun adalah 11.2 persen, terdiri dari 4,0 persen sangat kurus dan 7,2 persen kurus. Prevalensi sangat kurus paling rendah di Bali (2,3%) dan paling tinggi di Nusa Tenggara Timur (7,8%). Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi sangat kurus diatas nasional, yaitu Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua, Papua Barat, Sulawesi Tengah, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Riau,
Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur. Masalah gemuk pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8 persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan sangat gemuk (obesitas) 8,8 persen. Prevalensi gemuk terendah di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan tertinggi di DKI Jakarta (30,1%). Sebanyak 15 provinsi dengan prevalensi sangat gemuk diatas nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung dan DKI Jakarta.
Prevalensi kurus pada remaja umur 13-15 tahun adalah 11,1 persen terdiri dari 3,3 persen sangat kurus dan 7,8 persen kurus. Prevalensi sangat kurus terlihat paling rendah di Bangka Belitung (1,4 %) dan paling tinggi di Nusa Tenggara Timur (9,2%). Sebanyak 17 provinsi dengan prevalensi anak sangat kurus (IMT/U) diatas prevalensi nasional yaitu Riau, Aceh, Jawa Tengah, Lampung, Jambi, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Banten, Papua, Sumatera Selatan, Gorontalo, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Prevalensi gemuk pada remaja umur 13-15 tahun di Indonesia sebesar 10.8 persen, terdiri dari 8,3 persen gemuk dan 2,5 persen sangat gemuk (obesitas). Sebanyak 13 provinsi dengan prevalensi gemuk diatas nasional, yaitu Jawa Timur, Kepulauan Riau, DKI, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bali, Kalimantan Timur, Lampung, Sulawesi Utara dan Papua
Prevalensi kurus pada remaja umur 16-18 tahun secara nasional sebesar 9,4 persen (1,9% sangat kurus dan 7,5% kurus). Sebanyak 11 provinsi dengan prevalensi kurus diatas nasional, yaitu Aceh, Riau, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Banten, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara Timur. Prevalensi gemuk pada remaja umur 16 – 18 tahun sebanyak 7,3 persen yang terdiri dari 5,7 persen gemuk dan 1,6 persen obesitas. Provinsi dengan prevalensi gemuk tertinggi adalah DKI Jakarta (4,2%) dan terendah adalah Sulawesi Barat (0,6%). Lima belas provinsi dengan prevalensi sangat gemuk diatas prevalensi nasional, yaitu Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Papua, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Gorontalo, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan
Timur, Sulawesi Utara dan DKI Jakarta (Riskesdas, 2013). 2.2 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Anak yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpotensi menjadi anak dengan gizi kurang, bahkan menjadi buruk. Faktor lain yang mempengaruhi status gizi anak diantaranya adalah faktor ekonomi keluarga yang berdampak pola makan dan kecukupan gizi anak; faktor sosial-budaya yang mendudukkan kepentingan ibu hamil dan ibu menyusui setelah kepentingan bapak selaku kepala keluarga, dan anak; faktor pendidikan yang umumnya rendah sehingga berdampak pada pengetahuan ibu yang sangat terbatas mengenai pola hidup sehat dan pentingnya zat gizi bagi kesehatan dan status gizi anak. Semakin besar jumlah anggota keluarga, semakin besar persentase status gizi kurang ( Devi, 2010). 2.3 Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang tersedia. Data objektif diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan, serta sumber lain yang dapat diukur oleh anggota tim penilai. Komponen penilaian status gizi meliputi : asupan pangan, pemeriksaan biokimia, pemeriksaan klinis dan riwayat mengenai kesehatan, pemeriksaan antropometris, serta data psikososial (Arisman, 2010).
1) Asupan Pangan
Fase ini merupakan satu tahap penilaian status gizi yang paling sulit dan tidak jarang membuat penilai frustasi karena berbagai sebab. Pertama, manusia memiliki sifat lupa sehingga orang sering tidak mampu mengingat dengan pasti jenis (apalgi jumlah) makanan yang telah disantap. Kedua, manusia sering mengedepankan gengsi jika diberi tahu bahwa makanan mereka akan dinilai, pola pangan pun dipaksakan berubah. Jika misalnya menu ayam goreng tidak pernah
tercantum di menu keluarga, susunan menu seperti itu tidak jarang tersaji pada saat penilaian dilaksanakan. Ketiga, sejauh ini belumlah mungkin penghitungan komposisi makanan secara akurat, kecuali kegiatan pangan dapat terawasi dengan ketat. Di samping itu masih terdapat kendala lain yang berpotensi menyendatkan langkah penilaian ini. Kendala tersebut antara lain (a) daftar komposisi makanan yang tersedia masih jauh dari sempurna bahkan lengkap saja belum, (b) penghitungan zat gizi masih belum akurat, (c) masih banyak pangan atau makanan yang baru/telah beredar belum tercantum dalam komposisi makanan atau makanan siap santap,(d) cara memasak sangat bervariasi,baik secara kedaerahan maupun perorangan dan ini sangat memengaruhi nilai gizi pangan dan (e) perbedaan tempat tumbuh satu jenis buah dan sayur akan berpengaruh pada nilai zat gizi yang terkandung (Arisman, 2010).
Metode yang dapat digunakan adalah :
a) Ingatan pangan 24 jam (24-hour food recall )
Mengingat kembali dan mencatat jumlah, serta jenis pangan dan minuman yang telah dikonsumsi selama 24 jam merupakan metode pengumpulan data yang paling banyak dan paling mudah digunakan. Kelebihan cara ini adalah pewawancara yang menyiapkan model makanan dan mencatatnya, responden tidak dituntut harus melek huruf. Hal yang mungkin menjadi sumber kesalahan, antara lain (1) orang tidak dapat mengingat dengan tepat, (2) makanan yang disantap kemarin mungkin bukan makanan yang biasa disantap, (3) orang sering tidak melaporkan makanan yang dapat memalukan, misalnya petai, atau alkohol, dan (4) wawasan pangan pewawancara tidak luas
b) Kuisioner frekuensi pangan (Food Frequency Questionnaire / FFQ)
Tujuan mengisi FFQ adalah melengkapi data yang tidak dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam. Responden di beri tugas untuk melaporkan frekuensi makanan yang lazim dikonsumsi berdasarkan daftar makanan dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya, FFQ digunakan untuk merangking orang
berdasarkan besaran asupan zat gizi, tetapi tidak dirancang untuk memperkirakan asupan secara absolut. Meskipun demikian, cara ini lebih akurat untuk menentukan rata-rata asupan zat gizi jika menu makanan dari hari ke hari sangat bervariasi.
Kelemahan cara ini antara lain (1) tidak dapat menghasilkan data kuantitatif tentang asupan pangan karena pangan yang disantap tidak diukur , (2) pengisian kuisioner hanya bermodalkan ingatan, (3) responden sering malas mengisi formulir dengan lengkap, terutama jika proses pengisian dipercayakan sepenuhnya pada mereka dan (4) tanpa bantuan komputer, proses analisis menjadi sulit dan melelahkan. Kelebihan cara ini adalah relative murah, cocok jika diterapkanpada penelitian kelompok besar yang asupan pangan setiap harinya sangat variatif, pengisian formulir dapat diserahkan pada responden dan mudah didistribusikan.
c) Riwayat Pangan (Dietary history)
Keterangan yang dapat dijaring melalui riwayat pangan adalah (1) keadaan ekonomi, (2) kegiatan fisik, (3) latar belakang etnis dan budaya, (4) pola makan dan kehidupan rumah tangga, (5) nafsu makan, (6) kesehatan gigi dan mulut, (7) alergi makanan, (8) keadaan saluran pencernaan, (9) penyakit menahun, (10) obat yang digunakan, (11) peubahan berat badan, serta (12) masalah pangan dan gizi. Cara ini sesungguhnya menerapkan tiga komponen anamnesis asupan pangan, yaitu ingatan pangan 24 jam, kuisioner frekuensi pangan, dan catatan pangan. Dengan ingatan pangan 24 jam diperoleh data tentang pola makan responden secara umum. Informasi ini selanjutnya dibandingkan dengan kuisioner frekuensi pangan. Akhirnya, dilakukan pencatatan makanan selama tiga hari dengan menggunakan ukuran rumah tangga. Kelebihan cara ini, antara lain, responden tidak harus melek huruf, tidak menyebabkan perubahan pola makan. Sementara kelemahannya berakar pada kebergantungannya pada daya ingat, sulit menentukan jumlah, dan membutuhkan pewawancara yang terlatih.
d) Catatan Pangan
Pasien diminta mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi paling sedikit tiga hari dalam seminggu, yakni 2 hari biasa dan 1 hari libur. Catatan harus rinci, termasuk bagaimana cara makanan dipersiapkan dan dimasak. Jika makanan terbuat dari berbagai bahan pangan, misalnya, gado-gado, jenis serta jumlah bahan mentahnya itu perlu ditulis, disamping resep pembuatannya. Ukuran porsi makanan sebainya dicatat dengan mengacu pada ukran rumah tangga (URT). Makanan yang telah terukur ini kemudian disalin kedalam ‘gram’. Zat gizi yang terkandung dicari pada buku “daftar komposisi makanan” yang sebelumnya harus tersedia. Jika santapan berupa makanan pabrik, carilah kandungan zat gizinya pada label (Arisman, 2010)
2. Pemeriksaan Biokimia
Ada dua jenis protein, viseral dan somatic, yang layak dijadikan parameter penentu status gizi. Parameter protein viseral ialah serum albumin, prealbumin, transferrin, hitung jumlah limfosit, dan uji antigen pada kulit.
Sementara cadangan protein somatik bukan hanya dinilai secara biokimia, tetapi juga dengan mengukur besarnya lingkaran pertengahan lengan atas (mid-arm circumference) (Arisman, 2010)
3.Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis meliputi pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang harus terlebih dahulu diperhatikan dalam pemeriksaan klinis adalah kulit, gigi, bibir, lidah, mata, dan alat kelamin. Riwayat kesehatan yang perlu ditanyakan adalah kemampuan mengunyah dan menelan: Adakah gigi yang sakit? Adakah gigi yang ompong? Apakah pasien menggunakan gigi palsu (jika ya, apakah letaknya tidak mengganggu)? Apakah mulut dan tenggorokan terasa kering (salah satu tanda
bahwa sekresi air ludah berkurang)? Perlu ditanyakan keadaan nafsu makan, makanan yang digemari dan dihindari, serta masalah saluran pencernaan. Masalah tersebut dapat mengganggu asupan pangan yang pada gilirannya akan memengaruhi pula status gizi (Arisman, 2010)
4. Pemeriksaan Antropometri
Tujuan yang hendak dicapai dalam pemeriksaan antropometris adalah besaran komposisi tubuh yang dapat dijadikan isyarat dini perubahan status gizi. Tujuan ini dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu : (1) penapisan status gizi, (2) survei status gizi, dan (3) pemantauan status gizi. Penapisan diarahkan pada orang per orang untuk kepentingan khusus. Survei ditujukan untuk memperoleh gambaran status gizi masyarakat pada saat tertentu, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan itu. Pemantauan bermanfaat sebagai pemberi gambaran perubahan status gizi dari waktu ke waktu.
Tabel 2.1 Parameter yang dianjurkan WHO untuk diukur pada survei gizi Usia Pengamatan di lapangan Pengamatan Lebih Rinci 0-1 thn Berat dan panjang badan Panjang batang badan; lingkar
kepala & dada ; diameter krista iliaka, lipat kulit dada, triseps, dan sub-skapula 1- 5 thn Berat dan panjang badan (sampai 3
tahun), tinggi badan (diatas 3 tahun), lipat kulit biseps & triseps, lingkar lengan
Panjang batang badan (3 tahun), tinggi duduk (di atas 3 tahun), lingkar kepala & dada (inspirasi setengah), diameter bikristal, lipat kulit dada & sub-skapula, lingkar betis rontgen postero-anterior
tangan dan kaki
5–20 thn Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps
Tinggi duduk, diameter bikristal,diameter
biakrominal, lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan & betis, rontgen postero anterior tangan dan kaki
> 20 thn Berat dan tinggi badan, lipat kulit triseps.
Lipat kulit di tempat lain, lingkar lengan dan betis
Sumber : Arisman (2010).
Pengukuran antropometri meliputi : a) Tinggi Badan
Tinggi atau panjang badan merupakan indikator umum ukuran tubuh dan panjang tulang. Namun, tinggi saja belum dapat dijadikan indikator untuk menilai status gizi, kecuali jika digabungkan dengan indikator lain, seperti usia dan berat badan. Tinggi badan diukur dalam keadaan berdiri tegak lurus, tanpa alas kaki, kedua tangan merapat ke badan, punggung dan bokong menempel pada dinding, dan pandangan diarahkan ke depan. Kedua lengan tergantung relaks di samping badan.
b) Berat Badan
Berat badan merupakan ukuran antropometris yang paling banyak digunakan karena parameter ini mudah dimengerti. Alat penimbang yang dipilih haruslah kuat, tidak mahal, mudah dijinjing, dan akurat hingga 100 gr. Disamping itu, timbangan harus diperiksa ulang (kalibrasi) setiap akan
digunakan. Penimbangan selayaknya diselenggarakan pagi hari, setelah bangun tidur, mengenakan pakaian yang sama, sebelum makan dan setelah buang air, serta ditimbang oleh petugas yang sama pula. Jika keadaaan memungkinkan, subjek ditimbang bertelanjang atau berpakaian seminimal mungkin.
c) Umur
Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interpretasi status gizi menjadi salah. Hasil pegukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat (Supariasa, dkk, 2001).
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu Berat Badan Menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U), dan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Berikut diterangkan beberapa indeks antropometri tersebut : 1) Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu paramaeter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunna jumlah makanan yang dikonsumsi. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Mengingat karakterisktik berat badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang saaat ini (current nutritional status).
2) Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan
pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.