• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Pengetahuan Penggunaan APD

Pengetahuan merupakan proses dari tidak tahu menjadi tahu, hal ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba terhadap suatu objek. Pendapat lain juga menungkapkan bahwa pengetahuan merupakan informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki yang ada pada diri seseorang (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 38 responden terdapat 31 orang (81%) mempunyai pengetahuan baik, 7 orang (18%) mempunyai pengetahuan cukup, dan tidak terdapat responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu petugas penunjang medis RS PKU Muhammadiyah Gamping mempunyai pengetahuan mengenai penggunaan APD yang baik. Tingkat pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Notoatmodjo (2007), pendidikan merupakan salah faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Latar belakang pendidikan terakhir seseorang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan karena pendidikan akan mempengaruhi proses belajar seseorang. Semakin tinggi pendidikan maka akan semakin mudah seseorang tersebut dalam menerima sebuah informasi. Semakin banyak informasi yang diterima, maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berati mutlak berpengetahuan

rendah. Berdasarkan latar belakang pendidikan terakhir responden adalah D4/S1 sebanyak 3 orang, D1-D3 sebanyak 23 orang, dan SMA/SMK sebanyak 12 orang.

2. Kepatuhan Penggunaan APD

Dari data hasil observasi dari 38 responden didapatkan 26 (68%) petugas patuh dan 12 (32%) petugas tidak patuh dalam menggunakan alat pelindung diri pada saat bertugas. Berdasarkan survey yang dilakukan peneliti di setiap instalasi penunjang medis beberapa alasan petugas penunjang medis dikarenakan tidak ada indikasi penggunaan alat pelindung diri saat mereka bekerja. Sebagian besar petugas hanya menggunakan APD ketika ada indikasi saja. Seperti pada instalasi radiologi penggunaan APD berupa masker dan sarung tangan hanya pada pasien dengan indikasi, misalkan pada pasien TB atau pada pasien kecelakaan dengan luka parah dan bercucuran darah. Penggunaan apron untuk mencegah efek radiasi tidak diperlukan kembali karena di RS PKU Muhammadiyah Gamping disediakan ruangan bagi petugas radiologi yang terbebas dari efek radiasi. Pada instalasi fisioterapi penggunaan alat pelindung diri berupa sarung tangan hanya pada pasien dengan penyakit kulit, penggunaan baju khusus fisioterapi hanya pada pasien balita untuk mencegah air liur agar tidak mengenai baju petugas. Di instalasi laboratorium penggunaan alat pelindung diri dianggap mengganggu kenyamanan saat bekerja atau dianggap merepotkan, karena pada instalasi ini petugas melayani pasien dari pendaftaran, pengambilan spesimen,

pengelolaan spesimen, serta menyerahkan hasil lab ke pasien. Jadi petugas merasa kerepotan apabila harus lepas-pakai alat pelindung diri. Ketidaksediaan alat berupa sepatu boots merupakan alasan para petugas di instalasi gizi tidak menggunakan salah satu APD tersebut. Dari pihak instalasi sudah mengajukan namun belum disediakan oleh pihak rumah sakit. Pada Instalasi farmasi menggunaan alat pelindung diri berupa sarung tangan dianggap merepotkan pada saat meracik obat. Selain pendidikan, menurut Carpenito (2000) kepatuhan juga dipengaruhi oleh sikap seseorang tersebut. Sikap akan mempengaruhi penguasaan diri terhadap lingkungan.

3. Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Petugas Penunjang Medis di RS PKU Muhammadiyah Gamping

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uji chi-square diperoleh nilai signifikasi 0,022 yang berarti nilai tersebut lebih kecil dari 0.05. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri pada petugas penunjang medis di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dari uji Spearman Correlation diperoleh nilai signifikansi 0,094, hal ini menunjukkan bahwa pada penelitian ini tingginya pengetahuan petugas mengenai APD tidak berhubungan dengan tingginya kepatuhan penggunaan APD.

Menurut Notoatmodjo (2010) pengetahuan yang baik selanjutkan akan mewujudkan perilaku kepatuhan penggunaan alat pelindung diri selama bekerja. Setelah seseorang memiliki pengetahuan, kemudian

mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahuinya dalam bentuk sikap. Proses selanjutnya diharapkan seseorang tersebut akan melaksanakan dan mempraktikkan sesuatu yang disebut dengan perilaku. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nizar dkk (2014) yang berjudul Hubungan Karakteristik Pekerja dengan Kepatuhan dalam Pemakaian APD pada Petugas Laboratorium Klinik di Rumah Sakit Baptis Kota Kediri. Penelitian tersebut dilakukan pada 13 orang yang terdiri dari 8 petugas analis, 2 pembantu analis, dan 3 perawat yang mengambil sampel pasien.Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara usia dengan kepatuhan penggunaan APD, tetapi ada hubungan antara pendidikan, masa kerja, dan pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan APD. Pada penelitian tersebut didapatkan hubungan pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri dengan signifikansi 0,009. Pengetahuan memegang pemeran penting dalam mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi apa manfaat penggunaan alat pelindung diri bagi diri sendiri dan orang lain. Pada penelitian yang dilakukan oleh Anawati dkk (2013) dengan judul Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Perawat dalam Penggunaan APD di Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri dengan nilai Sig 0,008 pada uji korelasi. Sedangkan nilai koefisien korelasi didapatkan arah korelasi positif yang berarti semakin tinggi pengetahuan responden tentang alat pelindng diri akan diikuti

dengan semakin tingginya kepatuhan dalam penggunaan alat pelindung diri. Tetapi kekuatan hubungan tersebut lemah. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang didapatkan hasil bahwa tingginya pengetahuan petugas mengenai APD tidak berhubungan dengan tingginya kepatuhan penggunaan APD pada petugas penunjang medis RS PKU Muhammadiyah Gamping. Pengetahuan mempunyai beberapa tingkatan. Mulai dari tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, hingga evaluasi. Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Sedangkan memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara tentang obyek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan obyek tersebut secara benar. Contohnya pada penelitian ini petugas penunjang medis mampu menjawab kuesioner yang berisi pengetahuan secara umum mengenai penggunaan APD, terdapat 81% petugas yang menjawab benar lebih dari 75%. Tingkatan pengetahuan selanjutnya adalah aplikasi. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi yang nyata. Sebagai contoh petugas penunjang medis mampu menerapkan prinsip penggunaan APD yang sudah diketahui dalam melakukan tindakan. Seperti yang peneliti amati pada saat observasi yaitu terdapat 68% petugas penunjang medis yang patuh dalam menggunakan APD pada saat bertugas sesuai dengan indikasi tindakan. Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen –

atau menghubungkan bagian – bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Tingkatan pengetahuan yang terakhir adalah evaluasi. Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan responden yang baik belum tentu menyebabkan individu tersebut patuh, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putra (2012) dengan judul Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Penggunaan APD pada Mahasiswa Prpfesi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang dilakukan dengan teknik qouta

sampling pada 113 mahasiswa profesi Fakultas Ilmu Keperawatan

Universitas Indonesia, menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan APD dengan Sig 0,465. Hal ini disebabkan karena terdapat faktor lain selain pengetahuan yang dapat mempengaruhi kepatuhan penggunaan APD. Pada penelitian ini faktor faktornya adalah ketidaksediaan alat, SOP yang kurang jelas, dan kurangnya kesadaran petugas penunjang medis untuk menggunakan APD tersebut.

C. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan pembatasan masalah agar permasalahan menjadi fokus dan tidak melebar luas, namun demikian dalam penulisa karya tulis ilmiah tentu saja terdapat kekurangan dan keterbatasan penelitian. Keterbatasn yang dialami peneliti selama melakukan penelitian ini yaitu pengambilan data yang belum dilakukan secara menyeluruh untuk

mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari responden. Data yang diambil hanya berdasarkan jawaban kuesioner sehingga faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan tidak dapat diungkap nsecara menyeluruh. Selain itu pada pengambilan data kepatuhan dengan observasi secara langsung juga ada kemungkinan pada saat observasi responden sedang melepas APD yang digunakan atau bisa juga pada saat obserevasi petugas sengaja memakai APD karena mengetahui kalau akan dilakukan observasi kepatuhan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri pada petugas penunjang medis di RS PKU Muhammadiyah Gamping.

2. Tingginya pengetahuan petugas mengenai APD tidak berhubungan dengan tingginya kepatuhan penggunaan APD pada petugas penunjang medis RS PKU Muhammadiyah Gamping.

B. Saran

1. Saran bagi pihak Rumah Sakit

Bagi pihak rumah sakit sebaiknya lebih memperhatikan lagi mengenai peraturan penggunaan alat pelindung diri. Selain itu juga perlu dilakukan pengawasan pada saat petugas penunjang medis sedang bertugas. Hal ini karena berhubungan dengan keselamatan petugas, pengunjung, maupun masyarakat sekitar RS PKU Muhammadiyah Gamping.

2. Saran bagi petugas penunjang medis

Agar tercipta lingkungan kerja yang aman dan terhindar dari HAIs, sebaiknya setiap petugas penunjang medis di RS PKU Muhammadiyah Gamping selalu menggunakan alat pelindung diri pada saat bekerja sesuai

dengan indikasi pekerjaan yang akan dilakukan ataupun sesuai SOP yang telah ditentukan.

3. Saran bagi Institusi Pendidikan

Bagi Institusi pendidikan terkait, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan atau materi pembelajaran baik kalangan mahasiswa pendidikan sarjana maupun profesi agar dapat melaksanakan pencegahan serta pengendalian HAIs yang berhubungan dengan penggunaan APD. 4. Saran bagi peneliti selanjutnya

a. Peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan melibatkan variabel lain yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD untuk mencegah terjadinya HAIs seperti tingkat pendidikan, jenis kelamin, masa kerja, ataupun usia.

b. Peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan observasi lebih dari sekali, sebaiknya observasi dilakukan minimal tiga kali.

DAFTAR PUSTAKA

Alfajri, dkk.( 2014). Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) Dilingkungan Kerja Fisioterapi.

Diakses pada 30 Maret 2016 dari

https://www.academia.edu/7921817/Kesehatan_Keselamatan_Kerja_dan_ Fisioterapi

Anawati, dkk. (2012). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Perawat Dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri di Rumah Sakit Umum

Daerah Ambarawa. Diakses pada 2 September 2016 dari

http://perpusnwu.web.id/repositorynwu/documents/19.docx

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asnet. (2014). Efektivitas Sosialisasi Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Terhadap Pengetahuan dan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Karyawan Penunjang Medis di Rumah Sakit PKU

Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Karya Tulis Ilmiah strata satu,

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Azwar, S. (2007). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bastable, S.B. (2002). Perawat Sebagai Pendidik: Prinsip-Prinsip Pengajaran

dan Pembelajaran. Jakarta: EGC.

Budiman dan Agus. (2013). Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Carpenito. (2000). Buku Saku Diagnosa Keprawatan (Edisi 8). Jakarta: EGC. Djarismawati, dkk. (2004). Pengetahuan dan Perilaku Penjamah Tentang Sanitasi

Pengolahan Makanan Pada Instalasi Gizi Rumah Sakit di Jakarta. Media Litbang Kesehatan Volume XIV Nomor 3 Tahun 2004.

Depkes. (2008). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit

dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta: Departemen

Kesehatan RI.

Depkes. (2011). Laporan Akhir Riset Fasilitas kesehatan 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Depkes. (2013). Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Faiza,F. (2015). Hubungan Kepatuhan Perawat dalam Melaksanakan Standar

Prosedur Operasional Pemasangan Kateter terhadap Angka

Kejadian Catheter Associted Uninary Tract Infection (CAUTI) di RS PKU

Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Karya Tulis Ilmiah strata satu,

Universitas Mumammadiyah Yogyakarta.

Glance. (2011). Increases in Mortality, Length of Stay, and Cost Associated With Hospital-Acquired Infections in Trauma Patients. Arch Surg. 2011;146(7):794-801. Published online March 21, 2011. doi:10.1001/archsurg.2011.41

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo.

Health Protection Agency. (2012). English National Point Prevalence Survey on

Healthcare Associated Infections and Antimicrobial Use, 2011:

Preliminary data. London: Health Protection Agency.

Herdiansyah. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Hidayat. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika.

Iskak, R. (2006). Infeksi Nosokomial dan Staphylococcus Epidermidis. Jakarta: Republika.

Kardi. (2015). Analisis Faktor Risiko Terjadinya Pneumonia Nosokomial di

RSUP dr. Sardjito. Diakses pada 28 Februari 2016 dari

http://opac.say.ac.id/215/1/Naskah%20publikasi%20skripsi%20by%20Kar di.pdf.

Komite PPI RS PKU Muhammadiyah Gamping. (2015). Sistem Informasi RS

PKU Muhammadiyah Gamping. Diakses dari

192.168.20.6/rapat/index.php/laporan_surveilens_infeksi_rs

Neuman, W.L. (2000). Social Research Methods, Qualitative and Quantitative

Approaches (4th ed). Boston: Allyn and Bacon.

Niven, Neil. (2008). Pengantar untuk perawat dan profesional kesehatan lain. Jakarta: EGC.

Nizar, dkk. (2014). Hubungan Karakteristik Pekerja dengan Kepatuhan dalam Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada Petugas Laboratorium Klinik

di Rumah Sakit Baptis Kota Kediri. Diakses pada 1 September 2016 dari

Notoatmodjo. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Notoatmodjo. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka

Cipta.

Notoatmodjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Renika Cipta. Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawtan. Jakarta: Salemba Medika.

Putra. (2012). Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Mahasiswa Profesi Fakultas Ilmu

Keperawatan Universitas Indonesia.diakses pada 1 September 2016 dari

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20301537S42026Moch.%20Udin%20Ku rnia%20Putra.pdf

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. (2015). Panduan Pemakaian Alat

Pelindung Diri. Yogyakarta: RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Shelley, dkk. (2014). Multistate Point-Prevalence Survey of Health Care–

Associated Infections. N Engl J Med 2014;370:1198-208. DOI: 10.1056/NEJMoa130680

Sugiarto, (2014).The Factors Affecting the Length of Stay in the Intensive Care Units of Pertamina Central Hospital in Indonesia Related toHealthcare Associated Infections. Journal of US-China Medical

Science11(2014)195-204 doi:10.17265/1548-6648/2014.04.004

Singhal, dkk., (2009). Hepatitis B in Health Care Workers: Indian Scenario.

Diakses pada 30 Maret 2016 dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3167966/

Subana, M. dan Sudrajat. (2005). Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: CV Pustaka Pelajar.

Tan, dkk. (2006). Preventing tuberculosis in healthcare workers of the radiology

department: a Malaysian perspective. Diakses pada 30 Maret 2016 dari

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3097608/

Triatmodjo, P.(2003). Tinjauan Mikrobiologi Makanan, Minuman, dan Air pada

Beberapa Rumah Sakit di Jakarta. Jakarta: Cermin Dunia

Kedokteran.

WHO. (2011). Bulletin of the World Health Organization. Diakses pada 29 februari 2016 pukul 23.30 WIB dari

WHO. (2011). Health care-associated infections Fact Sheet. Diakses pada 25

Februari 2015 dari

http://www.who.int/gpsc/country_work/gpsc_ccisc_fact_sheet_en.pdf WHO. (2014). WHO updates personal protective equipment guidelines for Ebola

response. Diakses pada 11 Februari 2016 dari

http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2014/ebola-ppe-guidelines/en/

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (Informed Consent)

Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta:

Nama : Dita Putri Hendriyani NIM : 20130310086

Bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “Hubungan Pengetahuan

dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Petugas Penunjang Medis di RS PKU Muhammadiyah Gamping”. Untuk terlaksananya kegiatan tersebut, Saya mohon kesediaan Saudara untuk berpartisipasi dengan cara mengisi kuesioner berikut. Jawaban Saudara akan Saya jamin kerahasiaannya dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. Apabila Saudara berkenan mengisi kuesioner yang terlampir, mohon kiranya Saudara terlebih dahulu bersedia menandatangani lembar persetujuan menjadi responden (informed consent).

Demikianlah permohonan Saya, atas perhatian serta kerjasama Saudara dalam penelitian ini, Saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Peneliti,

(Dita Putri Hendriyani) Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : ...

Umur : ...

Jenis Kelamin : ...

Alamat : ...

Pekerjaan : ...

Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh Dita Putri Hendriyani (20130310086), mahasiswa Fakultas Kedokteran, Program Studi Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang berjudul “Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Petugas Penunjang Medis RS PKU Muhammadiyah Gamping”. Saya mengerti dan memahami bahwa penelitian ini tidak akan berakibat negatif terhadap saya, oleh karena itu saya bersedia untuk menjadi responden pa da penelitian ini. Yogyakarta,...2016

Responden ( )

LEMBAR KUESIONER RESPONDEN PENELITIAN MENGENAI PENGETAHUAN PENGGUNAAN APD

Data karakteristik resonden

Nama : Jenis kelamin : Umur : Alamat : Pendidikan terakhir : Lama Kerja : Tempat Instalasi bekerja : Petunjuk Pengisian:

Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat dan sesuai dengan pendapat anda dengan memberi tanda silang ( x ) pada jawaban yang tersedia. 1. Apakah yang dimaksud dengan Alat Pelindung Diri (APD)?

a. Alat yang dipakai pada saat melakukan banyak pekerjaan

b. Alat yang dipakai untuk melindungi dari bahaya dan kecelakaan kerja

c. Alat yang dipakai untuk mempermudah dalam bekerja

d. Alat yang dipakai pada pekerjaan tertentu saja 2. Apa tujuan penggunaan APD?

a. Melindungi petugas maupun pasien dari paparan yang dapat menyebabkan infeksi

b. Melindungi petugas maupun pasien dari paparan yang dapat menyebabkan inflamasi

c. Melindungi petugas maupun pasien dari paparan yang dapat menyebabkan cacat kongenital

d. Melindungi petugas maupun pasien dari paparan yang dapat mempercepat degenerasi

3. Alat Pelindung Diri digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari risiko pajanan tertentu. Di bawah ini manakah yang termasuk pajanan tersebut?

a. Darah, debu, dan semua jenis cairan tubuh pasien

b. Darah, sinar matahari, dan semua jenis cairan tubuh pasien c. Darah, sekret, dan semua jenis cairan tubuh pasien

d. Darah, bau tidak sedap, dan semua jenis cairan tubuh pasien 4. Apa saja syarat-syarat APD?

a. Nyaman dipakai, harga mahal dan enak dipandang orang

b. Nyaman dipakai, harga mahal, dan tidak mengganggu sewaktu bekerja

d. Nyaman dipakai, tidak mengganggu sewaktu bekerja dan memberikan perlindungan yang efektif

5. Di bawah ini manakah yang merupakan dampak positif bila petugas selalu menggunakan APD selama bekerja?

a. Kemungkinan lebih mudah tertular penyakit b. Kemungkinan tertular penyakit lebih besar c. Kemungkinan tertular penyakit lebih kecil

d. Kemungkinan lebih rentan terhadap suatu penyakit

6. Manakah yang termasuk perilaku pengendalian risiko kecelakaan kerja untuk mencegah infeksi nosokomial yang terjadi pada petugas?

a. Penggunaan APD secara bergantian

b. Penggunaan APD jika menangangi pasien dengan penyakit kronis c. Penggunaan APD jika menangangi pasien dengan penyakit akut d. Penggunaan APD secara lengkap dan sesuai SOP

7. Di bawah ini, manakah yang termasuk APD di Rumah Sakit?

a. Topi, kaca mata pelindung, masker, sarung tangan, helm , gaun, sepatu b. Topi, kaca mata pelindung, masker, sarung tangan, duk steril, gaun, sepatu c. Topi, kaca mata pelindung, masker, sarung tangan, duk steril, apron,

sepatu

d. Topi, kaca mata pelindung, masker, sarung tangan, apron, gaun, sepatu 8. Siapa saja yang harus menggunakan APD?

a. Petugas medis dan non medis b. Hanya petugas medis

c. Hanya petugas non medis

d. Semua yang bekerja di rumah sakit

9. Bagaimana pemilihan jenis APD yang tepat untuk digunakan petugas? a. APD yang digunakan harus dalam keadaan baik (tidak rusak) dan sesuai

dengan tindakan yang akan dilakukan

b. APD yang digunakan harus dalam keadaan baik (tidak rusak) dan harus seminimal mungkin

c. APD yang digunakan harus dalam keadaan baru dan sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan

d. APD yang digunakan harus dalam keadaan baru dan harus seminimal mungkin

10.Apa yang harus dilakukan petugas kesehatan sebelum menggunakan sarung tangan?

a. Langsung dipakai

b. Sarung tangan dicuci terlebih dahulu c. Sarung tangan disterilkan terlebih dahulu d. Cuci tangan

11.Apakah yang harus diperhatikan pada penggunaan sarung tangan? a. Menggunakan krim atau lotion berbasis minyak

b. Menggunakan ukuran sarung tangan yang lebih besar dari seharusnya c. Menjaga kuku agar selalu pendek

d. Menggunakan cairan pelembab yang mengandung parfum 12.Apa kegunaan masker pada saat bertugas?

a. Melindungi diri dari gangguan kesehatan pernafasan

b. Melindungi diri dari gangguan kesehatan pencernaan

c. Melindungi diri dari bau tidak sedap

d. Melindungi diri dari cedera

13.Apa APD yang digunakan untuk menghindari percikan darah atau cairan tubuh agar tidak mengenai mata sewaktu bertugas?

a. Sarung tangan b. Topi

c. Goggles d. Masker

14.Disebut apakah alat yang terbuat dari karet atau plastik yang merupakan penghalang tahan air dan digunakan untuk melindungi bagian depan tubuh petugas?

a. Apron b. Gaun c. Goggles d. Sarung tangan

15.Apakah fungsi dari alat pelindung kepala atau topi? a. Menutup bagian depan tubuh petugas kesehatan b. Menutup rambut dan kulit kepala petugas kesehatan c. Melindungi diri dari gangguan kesehatan pernafasan d. Menutup bagian atas tubuh petugas kesehatan

Frequency Table

Pengetahuan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Cukup 7 18.4 18.4 18.4

Baik 31 81.6 81.6 100.0

Total 38 100.0 100.0

Kepatuhan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak patuh 12 31.6 31.6 31.6

Patuh 26 68.4 68.4 100.0 Total 38 100.0 100.0 Jenis Kelami n 12 31,6 31,6 31,6 26 68,4 68,4 100,0 38 100,0 100,0 Laki-laki Perempuan Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulat iv e Percent Pendidi kan 12 31,6 31,6 31,6 23 60,5 60,5 92,1 3 7,9 7,9 100,0 38 100,0 100,0 SMA/ SMK D1 - D3 D4 / S1 Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulat iv e Percent

Uji normalitas dan Uji Spearman Correlation

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Pengetahuan .320 38 .000 .811 38 .000

Kepatuhan .234 38 .000 .834 38 .000

a. Lilliefors Significance Correction

Correlations

pengetahuan kepatuhan

Spearman's rho Pengetahuan Correlation Coefficient 1.000 .276

Sig. (2-tailed) . .094

N 38 38

kepatuhan Correlation Coefficient .276 1.000

Dokumen terkait