• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian abortus spontan dengan usia ibu dengan melihat kepada rekam medis yang terdapat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik, Medan.

Di dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah pasien di Departemen Obgyn di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik pada tahun 2005 hingga 2010. Tiada sebarang kriteria khusus yang digariskan untuk sampel penelitian contohnya tingkat pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Ini adalah karena, tujuan penelitian ini untuk melihat secara kasar kaitan antara kejadian abortus spontan dengan usia ibu yang berlaku di tahun 2005 hingga 2010 tanpa terikat kepada sebarang kriteria. Kriteria seperti yang disebutkan diatas mungkin mempunyai kaitan yang erat dengan abortus spontan, oleh itu, diperlukan penelitian yang lain untuk membuktikannya.

Berdasarkan data yang didapat, terdapat perbedaan jumlah persentase di antara kejadian abortus di bawah usia 20 tahun, di antara usia 21 hingga 34 tahun, dan yang berusia 35 tahun ke atas. Perbedaan ini mungkin dipengaruhi oleh faktor risiko yang meningkat seiring dengan paritas serta usia ibu dan ayah.

Menurut data yang diambil, jumlah pasien yang didiagnosis dengan abortus spontan paling tinggi pada usia di antara 21 hingga 34 tahun. Hal ini mungkin terjadi akibat dari pengaruh faktor risiko yang lainnya selain usia seperti faktor kelaianan kromosom, faktor genetik, kelainan kongenital uterus, autoimun dan faktor endokrin eksternal juga merupakan penyebab terjadinya abortus. Infeksi, kelainan hematologik dan pengaruh lingkungan juga bisa menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil

(Prawirohardjo, S.,2008). Hal lain yang mungkin menyebabkan kasus abortus spontan pada usia ibu 21 hingga 34 tahun tinggi karena belum tercapai secara menyeluruh tujuan program Penyuluhan dan Peningkatan Kesehatan Balita dan Ibu Hamil yang bersifat promosi, motivasi, mendorong, dan partnership agar bisa menciptakan pola hidup bersih dan sehat sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan. Ini mungkin berakibat dari belum adanya program-program seperti ini pada semua puskesmas yang ada di seluruh Indonesia.

Untuk diagnosis abortus spontan pada usia di bawah 20 tahun, data menunjukkan angka yang kecil yaitu hanya empat orang saja (7,6%). Hal ini berlawanan dengan litratur yang ada yaitu kehamilan remaja di bawah 20 tahun berisiko kematian ibu dan bayi 2-4 kali lebih tinggi dibanding ibu berusia 20-35 tahun (Affandi, 1980) .Hal yang bisa menyebabkan jumlah abortus rendah pada usia di bawah 20 tahun mungkin disebabkan komitmen Departemen Kesehatan (Depkes) untuk memasukkan Kesehatan Reproduksi Remaja sebagai komponen esensial yaitu Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) yang dirumuskan pada Semiloka Nasional Kesehatan Reproduksi tahun 1996. Hal ini karena pada Konperensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) Cairo tahun 1994 memperkirakan sekitar 50% penduduk dunia berusia berada dibawah 20 tahun dan mereka menanggung risiko terbesar terkena masalah kesehatan.

Manakala, abortus spontan yang terdapat daripada data penelitian ini untuk usia 35 tahun ke atas menunjukkan jumlah yang agak besar yaitu seramai 23 orang pasien yang mengalami keguguran dengan persentase 39,6. Persantase abortus spontan keseluruhannya adalah rendah dan stabil sebelum usia 30 (7-15%), sedikit meningkat pada usia 30 hingga 34 (8-21%), meningkat lebih banyak pada usia 35 hingga 39 (17-28%), dan usia 40 atau lebih adalah 34-52% (Speroff dan Fritz,2005). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya abortus spontan setelah usia ibu mencapai 35 tahun dan ke atas.

chart5.2 telah menunjukkan kejadian abortus inkomplitus merupakan yang paling

tinggi yaitu seramai 23 orang (43,4%). Jumlah yang tinggi ini perlulah diperhatikan oleh tenaga kesehatan dengan baik karena abortus Inkomplitus dapat mengancam jiwa ibu seperti terjadinya syok hemoragik akibat dari perdarahan placenta site yang terus-menerus (Prawirohardjo, S.,2008). Jika tidak ditangani dengan baik akan berakibat fatal pada jiwa ibu.

Kasus abortus insipiens dari penelitian ini adalah seramai 15 orang dengan 28,3%. Jumlah persentase yang didapatkan untuk abortus insipiens boleh dikatakan tinggi dalam penelitian ini. Oleh itu, tenaga kesehatan juga perlulah mewaspadai tentang cara penanganan yang baik seperti memperhatikan keadaan umum dan perubahan keadaan hemodinamik yang terjadi dan segera melakukan pengeluaran hasil konsepsi disusul dengan kuratase bila perdarahan banyak (Prawirohardjo, S.,2008).

Abortus Imminens dalam data yang didapatkan hanya merangkumi 9 orang penderita (17%). Walaupun jumlahnya agak sedikit, namun ianya memainkan peranan penting terutama untuk melakukan proses tindak lanjut.Abortus ini kadang- kala diakhiri dengan terjadinya missed abortus. Mereka yang mengalami perdarahan pada awal kehamilan, sekitar separuhnya akan keguguran. Walaupun perdarahan yang berlaku pada abortus ini umumnya sedikit, tetapi dapat menetap selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Sayangnya, akan terjadi peningkatan risiko hasil kehamilan yang suboptimal dalam bentuk kelahiran preterm, berat bayi lahir rendah, dan kematian perinatal (Cunningham, Gant,.et al. 2005). Dalam penelitian ini, kesemua pasien yang mengalami abortus imminens tidak berjaya diselamatkan hasil konsepsi mereka.Oleh itu, hal ini perlulah dipandang serius oleh tenaga kesehatan karena ianya bisa mempengaruhi pasien terutama dari sudut psikologi mereka.

Penderita missed abortus biasanya tidak merasakan keluhan apa pun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Pada data penelitian ini, ditemukan kasus missed abortus hanyalah 11,3% dengan jumlah penderita sebanyak 6 orang sahaja. Walaupun demikian, hal ini juga perlu

diperhatikan oleh pihak tenaga kesehatan karena mungkin saja kadarnya lebih tinggi tetapi tidak terdeteksi melainkan pasien sudah mengeluhkan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-tanda kehamilan sekunder mulai menghilang. Banyak wanita yang tidak memperlihatkan gejala ini melainkan amenorea yang menetap (Cunningham, Gant,.et al. 2005). Jika missed abortus ini berlangsung lebih dari 4 minggu, perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan penjendalan darah oleh karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan evakuasi dan kuretase dilakukan (Prawirohardjo, S.,2008) .

Dokumen terkait