• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1. Karakteristik Responden

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya variasi karakteristik responden berdasarkan umur Ibu, pekerjaan Ibu, penghasilan Ibu, umur balita dan jenis kelamin balita.

Berdasarkan tabel 5.1. dapat dilihat bahwa kelompok responden terbanyak berada pada kelompok umur 20-35 tahun yaitu sebanyak 96 orang (85%) dan terendah berumur diatas 35 yaitu 7 orang (7,1%). Dilihat dari kelompok umur ini, paling banyak responden berada pada periode usia produktif. Menurut Haryadi (2006) menyatakan bahwa periode umur 20- 35 merupakan periode dimana pasangan usia subur merencanakan jumlah

anak dalam keluarganya, sehingga pada kisaran umur tersebut kebanyakan kaum Ibu masih sangat memperhatikan kesehatan balitanya.

Pekerjaan responden paling banyak adalah sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 65 orang (57,5%). Hanya empat orang (3,5%) yang berprofesi sebagai karyawan. Hasil ini diperoleh karena responden yang paling sering dan mempunyai keluangan waktu untuk bersedia mengantarkan balitanya ke posyandu serta mau menjadi responden adalah ibu rumah tangga. Selain itu, menurut Widiastuti (2006) penyelenggaraan program posyandu pada hari kerja dan jam kerja, sehingga kebanyakan dari Ibu pergi bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagian besar responden mempunyai penghasilan sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000 yaitu sebanyak 84 orang (74,3%) dan 3 orang (2,7%) dari responden mempunyai penghasilan lebih kecil dari Rp 500.000. Hal ini menunjukkan bahwa program program posyandu lebih banyak diikuti oleh responden yang memiliki penghasilan yang relatif rendah. Ibu yang memiliki balita yang berpenghasilan cukup lebih memilih untuk membawa anaknya ke dokter, sehingga menganggap tidak perlu lagi untuk membawa anakanya ke posyandu (Widiastuti, 2006).

Distribusi responden berdasarkan umur balita menunjukkan bahwa kelompok responden tertinggi adalah usia di bawah usia satu tahun sebanyak 69 orang (61,1%). Sedangkan jumlah responden terendah berdasarkan umur balita yaitu sebanyak 7 orang (6,2%). Balita di bawah usia satu tahun lebih banyak mengikuti kegiatan posyandu karena adanya program imunisasi yang lebih banyak pada usia dibawah satu tahun (Depkes RI, 2008). Hal ini terjadi karena sudut pandang yang salah pada masyarakat bahwa kegiatan posyandu identik dengan kegiatan imunisasi,

padahal ada hal lain yang tidak kalah penting dalam kegiatan posyandu seperti pemantauan status gizi dan perkembangan balita.

Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin balita menunjukkan bahwa kelompok responden tertinggi adalah laki-laki yaitu sebanyak 61 (54%). Sedangkan jumlah responden terendah berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan yaitu sebanyak 52 balita orang (46%). Jumlah balita laki-laki di Kelurahan Ujung Padang memang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah balita perempuan.

5.2.2. Tingkat Pengetahuan

Hasil penelitian menunjukkan kelompok responden terbanyak memiliki tingkat pengetahuan dengan kategori sedang yaitu sebanyak 73 orang (64,6%) dan terendah memiliki tingkat pengetahuan dengan kategori baik yaitu 12 orang (10,6%).

Informasi yang diterima sangat berpengaruh terhadap pengetahuan sesorang. Dari hasil wawancara pada saat melakukan penelitian, banyak Ibu hanya mengikuti posyandu hanya karena adanya kegiatan imunisasi untuk kesehatan balitanya. Ia tidak paham mengenai pelaksanaan maupun tujuan dari kegiatan posyandu tersebut. Menurut Hartanto (2004), hal ini terjadi karena masih rendahnya informasi yang diterima baik berupa konseling maupun edukasi mengenai program posyandu di kalangan masyarakat tertentu. Informasi mengenai program posyandu serta status gizi balita seharusnya lebih sering dilakukan dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), baik berupa konseling, informasi dan edukasi.

Penelitian Rogers (1974) menggungkapkan bahwa pengetahuan orang itu dilihat salah satu berdasarkan kognisinya atau pendidikan terakhir yang

didapat. Pada penelitian ini, tidak diketahuinya variabel pendidikan terakhir peserta posyandu merupakan hal yang sangat kurang dalam membantu pembahasan. Hal ini seharusnya sangat penting dan erat hubungannya dalam mengakaji aspek pengetahuan peserta posyandu. 5.2.3. Tingkat Sikap

Distribusi tingkat sikap dapat dilihat pada tabel 5.8. Hasil penelitian mendapatkan lebih dari separuh responden memiliki tingkat sikap baik yaitu sebanyak 112 orang (99,1%) dan kelompok responden paling sedikit memiliki tingkat sikap sedang yaitu sebanyak satu orang (0,9%).

Menurut Allport (1954), sikap mempunyai tiga komponen pokok, 1. kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek; 2. kehidupan emisional atau evaluasi terhadap suatu objek; 3. kecenderungan untuk bertindak. Sehingga, walaupun pengetahuan Ibu pada umumnya sedang, namun karena adanya keyakinan yang kuat yang diamati peneliti saat melakukan penelitian seperti langsung memberikan balitanya untuk diberikan imunisasi, sikap yang ditunjukkan adalah dalam mengikuti kegiatan Posyandu adalah baik. dalam mengkaji variabel yang mempengaruhi sikap seharusnya dipaparkan di kuesioner penelitian, seperti keyakinan dan kepercayaan peserta posyandu terhadap petugas ataupun kader posyandu yang ada.

5.2.4. Tingkat Keaktifan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 83 orang (73,5%) responden memiliki keaktifan yang baik, sedangkan 30 orang (26,5%) responden memiliki keaktifan yang tidak baik. Menurut Notoatmodjo (2007), untuk mendukung dilakukannya suatu tindakan dan keaktifan yang nyata melibatkan tiga faktor utama yaitu: 1. predisposing factor, berupa

pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan, dan lain-lain ; 2. enabeling

factor, berupa ketersedian fasilitas penunjang; 3. reinforcing factors,

berupa sikap dan perilaku petugas kesehatan. Pada penelitian yang dilakukan, sudah tersedianya faktor-faktor di atas menyebabkan keaktifan peserta posyandu adalah baik, dimulai dari adanya pengetahuan dan sikap peserta mengenai posyandu, didukung oleh tersedianya sarana kesehatan yang terjangkau karena letak posyandu yang strategis, hingga adanya petugas kesehatan. Menurut Suhendra (2006), keaktifan peserta posyandu dapat dinilai bukan hanya dari frekuensi kehadiran peserta, tetapi dapat diukur melalui keaktifan peserta dalam kegiatan posyandu tersebut, seperti apakah Ibu benar-benar mengikuti kelima meja pelayanan pada posyandu, atau apakah Ibu menanyakan hal-hal mengenai upaya perbaikan peningkatan status gizi balitanya. Pertanyaan-pertanyaan seharusnya dibuat dalam kuesioner sehingga didapatkan pembahasan yang lebih kompleks mengenai keaktifan peserta posyandu.

5.2.5. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Status Gizi Balita

Hasil analisis hubungan variabel tingkat pengetahuan dengan status gizi balita diperoleh nilai hitung p chi square yaitu sebesar 0,796 lebih besar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status gizi balita.

Hasil ini tidak sesuai dengan pendapat Notoadmodjo (2003) yang mengatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam pembentukan prilaku. Jika dihubungkan dengan frekuensi kunjungan Ibu, pengetahuan yang sedang tidak mempengaruhi keaktifan Ibu dalam kegiatan Posyandu, sehingga usaha untuk peningkatan maupun pemantauan status gizi balita melalui Posyandu dapat tercapai.

5.2.6. Hubungan Tingkat Sikap dengan Status Gizi Balita

Hasil analisis hubungan variabel tingkat sikap dengan status gizi balita diperoleh nilai hitung p chi square yaitu sebesar 0,829 lebih besar 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho diterima dan tidak ada hubungan antara tingkat sikap dengan status gizi balita.

Dari data di atas, tingkat sikap responden dengan status gizi balita tidak terdapat hubungan. Menurut Notoatmodjo (2007), suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas (Notoatmodjo, 2007). Dari hasil penelitian yang dilakukan, tersedianya fasilitas yang mendukung, seperti letak fasilitas yang strategis dan tidak jauh dari rumah penduduk sehingga tidak mempengaruhi kunjungan dari peserta posyandu. Menurut Widiastuti (2006), semakin jauh letak sarana kesehatan, semakin mempengaruhi kunjungan masyarakat karena harus mengeluarkan biaya menuju saran kesehatan tersebut. Selain itu, pendapatan sebagai salah satu faktor pendukung mempunyai hubungan yang bermakna dengan status gizi balita (Alport, 1954).

5.2.6. Hubungan Tingkat Keaktifan dengan Status Gizi Balita

Hasil analisis hubungan variabel tingkat keaktifan dengan status gizi balita diperoleh nilai p chi square yaitu sebesar 0,001 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak atau Ha diterima dan ada hubungan antara tingkat keaktifan dengan status gizi balita.

Faktor keaktifan memegang peranan penting dalam menentukan status gizi balita. Menurut Octaviani (2008) terdapat hubungan yang signifikan antara variabel keaktifan di posyandu dengan status gizi. Semakin aktif

seorang Ibu mengikuti kegiatan Posyandu, semakin baik status gizi balitanya.

Menurut Notoadmodjo (2007), seorang Ibu yang telah mengimunisasikan bayinya pada umur-umur tertentu, tanpa menunggu perintah ataupun ajakan orang lain, maka ia telah mencapai praktik atau tindakan tingkat tiga, dimana ia telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu hal tersebut sudah merupakan kebiasaan.

Dokumen terkait