HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2 Organization Skill
a. Baik 62 68,1 b. Cukup 29 31,9 c. Buruk 0 0 3 Leadership a. Baik 50 54,9 b. Cukup 41 45,1 c. Buruk 0 0 4 Logic a. Baik 58 63,7 b. Cukup 28 30,8 c. Buruk 5 5,5 5 Effort a. Baik 68 74,7 b. Cukup 19 20,9 c. Buruk 4 4,4 6 Group Skills a. Baik 75 82,4 b. Cukup 15 16,5 c. Buruk 1 1,1 7 Ethics a. Baik 72 79,1 b. Cukup 17 18,7 c. Buruk 2 2,2
5.2 Pembahasan
Desain deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Soft Skills mahasiswa program pendidikan profesi ners fakultas keperawatan Universitas Sumatera utara dimana responden pada penelitian ini berjumlah 91 orang.
Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil tentang karakteristik responden yaitu usia responden rata-rata adalah 21-25 tahun dimana pada usia tersebut biasanya seorang mahasiswa keperawatan sedang menjalani pendidikan profesi. Pada saat menjalani pendidikan profesi maka seorang mahasiswa akan terjun langsung ke masyarakat untuk itulah seorang mahasiswa ners diharuskan memiliki Soft Skills sehingga setiap pelayanan keperawatan yang dilakukan akan memberikan kontribusi untuk peningkatan status kesehatan baik individu, kelompok ataupun masyarakat secara luas.
Menurut Widhiarso (2009) pengukuran soft skills dapat dilakukan menggunakan pelaporan diri (self report) yang akan menghasilkan sejumlah respon dari individu yang menunjukkan tingkat soft skills yang dimiliki dan kemudian respon dapat di evaluasi menjadi baik, cukup dan buruk.
Dilihat dari hasil penelitian mayoritas reponden memiliki soft skills yang baik yaitu 62 orang (68,1%). Encyclopedia of Educational Research, 1992, Sixt Edition, dalam Elfrindi (2009) Tiga kompetensi yang mesti diperoleh oleh perawat yakni kompetensi keilmuan yang diperlukan otak knowledge, kompetensi keterampilan kerja skilled, dan kompetensi emosional soft skills. Stephen R.covey dalam Hereyah (2008) mengungkapkan bahwa suatu kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi diri diantaranya jadi proaktif, merujuk
pada tujuan akhir, dahulukan yang utama, paradigma saling ketergantungan, berusaha untuk mengerti terlebih dahulu, wujudkan sinergi atau kerjasama, asah kemampuan terus menerus akan menghasilkan kemampuan dan kompetensi siap untuk menunjang daya saing di dunia kerja.
National Association Of College and Employers (NACE) pada tahun 2005 melakukan survey dan menemukan bahwa pada umumnya para pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa Soft skills 82 persen dan Hard skills 18 persen. Dari persentase soft skills responden tersebut kita dapat mendefenisikan bahwa responden memiliki Soft skills yang baik, sehingga mahasiswa nantinya akan mampu bersaing dalam dunia kerja yang menuntut seorang calon pekerja memiliki kompetensi-kompetensi khusus yang diinginkan oleh dunia kerja. Hal ini dapat kita lihat satu tahun terakhir ini dimana banyak lulusan sarjana keperawatan USU khususnya program Ekstensi maupun yang sedang menjalani studi sarjana keperawatan khususnya program Ekstensi yang lulus CPNS yaitu angkatan 2012 sebanyak 10 orang.
Nursalam (2006) mengemukakan bahwa Soft skills sangat penting untuk dimiliki dan diaplikasikan oleh perawat karena perawat berhubugan atau kontak dengan klien secara langsung, sikap, etika dan karakter sangat penting dalam menjalankan tugas sebagai ners dan perawat wajib membangun hubungan trust, baik interpersonal maupun intrapersonal. dengan soft skills itulah para perawat bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai caregiver, advocate, teacher, communicator, counselor, scholar, collaborator, ethicist, researcher, manager, fasilitator, decision maker and user of IT.
United Nations for Education, Science and Culture Organization (UNESCO) mengungkapkan bahwa kecakapan dasar yang wajib dimiliki oleh manusia harus dilandaskan pada 4 pilar yaitu belajar mengetahui atau memahami (learning to know), belajar untuk mengerjakan sesuatu (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), belajar hidup bersama atau bermasyarakat (learning to live together). Dua landasan pertama mengandung kompetensi Hard skills sedangkan dua landasan terakhir mengandung kompetensi Soft Skills yang mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada pada masing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatu tujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain baik di tempat kerja maupun di masyarakat maka harus mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika dan unsur psikologis lainnya.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Communication Skills mempunyai persentase yang baik yaitu 49 orang (53,8%). menurut Suarli (2009) komunikasi dalam praktik keperawatan professional merupakan unsur utama bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan untuk mencapai hasil yang optimal. penelitian Cangelosi dan Petersen dalam Widhiarso (2009) menemukan bahwa banyak kegagalan seseorang di sekolah, masyarakat dan di tempat kerja di akibatkan rendahnya keterampilan dalam berkomunikasi yang juga akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri dan dukungan sosial yang kemudian di lanjutkan ke kesuksesan seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadi perawat yang professional dan mapu memberikan pelayanan asuhan keperawatan maka aspek soft skills sangat penting khususnya Communication skills.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Organizational Skills adalah baik yaitu 62 orang (68,1%) harus disadari bahwa organisasi dalam meraih tujuannya selalu melibatkan banyak orang. suatu pekerjaan adalah merupakan kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya dan selalu terkait dengan bagian lain dalam organisasi sehingga membentuk sebuah proses. Elfrindi (2009) Sebagian besar dari tenaga kesehatan seperti perawat akan bekerja dengan pemerintah diantaranya adalah rumah sakit yang sudah pasti memiliki organisasi. Untuk itu seorang perawat mesti dibekali oleh kemampuan berorganisasi yang nantinya akan dapat memberikan kontribusi dalam pemberian pelayanan kesehatan.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Leadership adalah yang cukup baik yaitu 50 orang (54,9%) kepemimpinan yang berhasil adalah mampu menggunakan perangkatnya dalam mencapai tujuan. mengingat tenaga kesehatan seperti perawat bekerja pada suatu kelompok organisasi, seperti puskesmas atau rumah sakit maka aspek kepemimpinan sangatlah penting dimiliki oleh seorang perawat agar mereka mampu memberikan dan membangun system pelayanan kesehatan yang baik Elfrindi (2009).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harahap (2012) kepemimpinan berpengaruh besar terhadap kinerja perawat pelaksana. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemampuan Leadership yang dimiliki oleh seorang perawat akan dapat meningkatkan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Logic adalah baik yaitu 58 orang (63,7%) Insitut Teknologi Bandung mengungkapkan bahwa Logic berarti kemampuan menyelesaikan masalah dan berfikir kreatif. Elfrindi (2009) Dalam
memberikan pelayanan keperawatan Perawat sering berhadapan dengan berbagai masalah saat bekerja oleh karenanya sangatlah perlu seorang perawat berfikir kreatif dalam setiap penyelesaian masalah.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Effort adalah baik yaitu 68 orang (74,7%) Insitut Tekhnologi Bandung mengungkapkan bahwa Effort berarti kemampuan menghadapi tekanan, asertif dan memiliki kemampuan dan kemauan untuk belajar. AIPNI (2008) kompetensi utama sarjana keperawatan di antaranya harus mampu mengembangkan profesionalisme secara terus menerus atau belajar sepanjang hayat.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Group skills adalah baik yaitu 75 orang (82,4%) kinerja yang optimal dan bersinergi dalam sebuah tim akan menghasilkan kesuksesan bersama. dalam sebuah tim sesorang harus mampu bekerjasama sekaligus mengaktualisasikan diri dan dapat membina hubungan baik dengan semua orang. Robert Bolton dalam buku people skills mengungkapkan bahwa 80% orang yang gagal di tempat kerja, mengalami kegagalan karena mereka tidak mempunyai hubungan baik dengan orang lain
Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Sayuni (2012) bahwa kerja tim sangat berpengaruh terhadap kinerja seorang perawat. Dan dari Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi dan kerja tim berpengaruh terhadap kinerja perawat pelaksana.
Hasil penelitian dilihat dari indikator Ethics adalah baik yaitu 72 orang (79,1%) sikap etis professional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiap langkahnya, termasuk penampilan diri serta keputusan yang diambil untuk merespon sesuatu yang muncul. Sikap professional tersebut dipengaruhi
oleh pemahaman yang mendalam tentang etika dan moral. Penerapan etika sebagai bentuk sikap perawatan yang professional menjadi bagian yang sangat penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan dimana nilai-nilai pasien selalu menjadi pertimbangan dan dihormati Masirfan (2007).
Dalam penelitian ini terdapat juga beberapa keterbatasan diantaranya penyebaran data yang tidak seimbang antara mahasiswa profesi pria dan wanita hal ini disebakan karena jenis kelamin mahasiswa profesi ners yang ada di fakultas keperawatan universitas sumatera utara di dominasi oleh wanita 81,3% dan pria 18,7%. Ini menunjukkan bahwa sampai sekarang, profesi sebagai perawat masih identik berjender wanita.
Keterbatasan lain yaitu penelitian ini berfokus pada penilaian perawat (self report) mengenai sikap mereka terkait indikator-indikator soft skills yang dimiliki (covert), tanpa meninjau sikap tersebut terrealisasi atau sesuai dengan prilaku perawat yang sebenarnya (overt) untuk itu perlu dikaji kembali keselarasan atau kesesuaian antara sikap dan prilaku dengan cara memperluas metode penelitian berupa wawancara dan eksperimen guna mengetahui seberapa jauh prilaku perawat sudah mewujud dan selaras maupun tidak dengan sikap mereka.
BAB 6