• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 Hasil Penelitian dan Pembahasan

2. Pembahasan

Penelitian ini menemukan bahwa berdasarkan data demografi mayoritas responden berusia madya (41-59 tahun), berjenis kelamin perempuan, beragama islam, berasal dari suku batak, berpendidikan SMU, bekerja sebagai PNS, dan memperoleh informasi mengenai asma dari petugas kesehatan.

Penelitian ini membagi usia menjadi tiga tingkatan usia dimana usia responden yang paling yang paling banyak adalah usia dewasa madya (41-59 tahun) sebanyak 21 (51,2%) responden, dewasa muda (18-40 tahun) sebanyak 16 (39%) responden, dan usia lanjut (>60 tahun) sebanyak 4 (9,8%) reponden. Asma dapat terjadi pada sembarang golongan usia; sekitar setengah dari kasus terjadi pada anak-anak, dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Hampir 17% dari semua rakyat Amerika mengalami asma dalam suatu kurun waktu tertentu dalam kehidupan mereka. (Smeltzer, 2011).

Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 25 orang (61%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Khoman (2011) di Poli asma di bagian paru RSUP Haji Adam Malik Medan bahwa mayoritas pasien asma berjenis kelamin perempuan.

Sebanyak 19 orang (46,3%) responden beragama islam, beragama kristen sebanyak 17 orang (41,5%) dan katolik sebanyak 5 orang (12,2%). Menurut hasil penelitian Tobing (2013) di RSUP Haji Adam Malik Medan ditemukan bahwa mayoritas pasien asma beragama islam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berasal dari suku Batak yaitu sebanyak 26 orang (63,4%), hasil yang sama ditemukan dalam penelitian Tobing (2013) di RSUP Haji Adam Malik bahwa mayoritas pasien asma berasal dari suku batak. Namun hal ini terjadi karena penelitian dilakukan di Medan di mana terdapat banyak penduduk yang berasal dari suku batak.

Pasien asma mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 18 orang (43,9%). Hal ini juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Harahap (2012) di Ruang Penyakit dalam Rumah Sakit Umum dr. Fauziah Bireuen yaitu bahwa mayoritas pasien asma berpendidikan SMA.

Diperkirakan 2 sampai 15 % penderita asma bronkial pencetusnya adalah lingkungan kerja dan hal ini harus segera diketahui agar tidak memberikan penderitaan yang berkepanjangan. Keluhan yang terjadi setelah penderita

platina, dan lain-lain, namun ada kalanya gejalanya baru akan timbul setelah 6 sampai 12 jam terpapar. Sehingga bila penderita bekerja dipagi hari, gejala baru timbul sore atau malam hari, setelah penderita di rumah. (Sundaru, 2007). Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien asma bekerja sebagai PNS yaitu sebanyak 16 orang (39%) kemudian diikuti oleh pasien yang bekerja sebagai Ibu rumah tangga yaitu sebanyak 11 orang (26,8%).

Sumber informasi mengenai asma yang diperoleh pasien mayoritas berasal dari petugas kesehatan yaitu sebanyak 37 orang (90,2%). Menurut Mangunnegoro (2006), edukasi yang baik akan menurunkan morbiditi dan mortaliti, menjaga penderita agar tetap masuk sekolah atau kerja dan mengurangi biaya pengobatan karena kurangnya serangan akut terutama bila membutuhkan kunjungan ke unit gawat darurat atau perawatan rumah sakit.

Aktivitas pencegahan kekambuhan asma merupakan usaha yang dilakukan oleh pasien asma sebagai upaya untuk mencegah kekambuhan asma. Aktivitas pencegahan kekambuhan asma yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, menghindarkan faktor pencetus serangan asma dan menggunakan obat-obat antiasma (Sundaru, 2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pencegahan kekambuhan asma oleh pasien asma mayoritas berkategori baik yaitu sebanyak 34 ( 82,9%) responden, berkategori cukup sebanyak 7 (17,1%) responden dan tidak ada responden yang berkategori buruk.

Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari pengobatan asma. Usaha menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan

makanan yang bernilai gizi baik, minum yang banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai. Semua penderita asma bronkial dianjurkan banyak minum kecuali bila selain menderita asma bronkial, ia juga mengalami penyakit jantung atau ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak, sehingga dahak mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak akan menjadi semakin kental, liat dan sukar dikeluarkan. Selain itu juga sebagai pengganti cairan karena pengeluaran keringat yang berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat bernapas cepat dan dalam. (Sundaru, 2007). Penelitian ini menunjukkan aktivitas pencegahan kekambuhan asma oleh pasien asma berdasarkan aktivitas menjaga kesehatan mayoritas berkategori cukup yaitu sebanyak 25 (61%) responden.

Lingkungan di mana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan asma. Keadaan rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari, saluran pembuangan air harus lancar, kamar tidur sedikit mungkin berisi barang-barang (Sundaru, 2007). Dalam penelitian ini ditemukan bahwa aktivitas pencegahan kekambuhan asma oleh pasien asma berdasarkan aktivitas menjaga kebersihan lingkungan mayoritas berkategori baik yaitu sebanyak 39 (95,1) responden.

Faktor pencetus bermacam-macam dan tiap-tiap penderita mungkin mempunyai faktor pencetus yang berlain-lainan. Faktor pencetus yang sering dijumpai antara lain alergen, infeksi saluran napas, tekanan jiwa, olahraga dan kegiatan jasmani, obat-obatan, polusi udara, dan lingkungan kerja. Hewan

mencetuskan asma bronkial (Sundaru2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pencegahan kekambuhan asma oleh pasien asma berdasarkan aktivitas menghindarkan faktor pencetus serangan asma mayoritas berkategori baik yaitu sebanyak 31 (75,6) responden.

Seorang pasien yang melakukan berbagai aktivitas pencegahan kekambuhan asma namun gejala masih tetap timbul barulah dianjurkan untuk menggunakan obat-obat antiasma. Pada asma yang ringan apalagi frekwensinya jarang, penderita boleh memakai obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul maupun sirup. Tetapi bila ingin gejala asmanya cepat hilang dan sedikit efek sampingnya obat aerosol lebih baik.

Pasien yang mengalami serangan yang lebih berat, bila masih mungkin dapat menambah dosis obat, seperti mengkombinasikan dua atau tiga macam obat. Misalnya mula-mula dengan aerosol atau tablet/sirup simpatomimetik, kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau tidak juga menghilang baru ditambahkan kortikosteroid.

Asma kronik atau asma bronkial yang sering timbul diperlukan pengobatan jangka waktu yang lama bahkan mungkin sampai bertahun-tahun. Sehingga sering timbul kekuatiran apakah obat-obat tadi tidak berbahaya bagi tubuh penderita. Obat memang mempunyai efek samping, tetapi efek samping ini dapat dikendalikan atau dikurangi jika pemakaiannya di bawah pengawasan dokter. (Sundaru, 2007). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pencegahan kekambuhan asma oleh pasien asma berdasarkan aktivitas menggunakan obat-obat antiasma mayoritas berkategori baik yaitu sebanyak 30 (73,2) responden.

Dokumen terkait