BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4. Pembahasan
Bila dikaitkan dengan definisi dari Pengawasan yaitu suatu kegiatan untuk mengetahui apakah kegiatan dilaksanakan sesuai dengan yang diinginkan
berdasarkan norma, nilai dan aturan yang ada, maka dapat dikatakan Panwaslu Kota Medan telah melakukan peran pengawasan karena telah melakukan kegiatan untuk mengetahui apakah kegiatan Pemilu Kada telah dilaksanakan sesuai dengan yang diinginkan berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang mengatur tentang Pemilu Kada.
Dari hasil penelitian juga diketahui dalam pelaksanaan fungsi pengawasan Panwaslu Kota Medan juga menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi selama penyelenggaraan pemilu, hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan melalui pengawasan tersebut akan dapat ditemukan kesalahan-kesalahan yang akhirnya kesalahan-kesalahan tersebut akan dapat diperbaiki dan yang terpenting jangan sampai kesalahan tersebut terulang kembali.
Menurut Siagian S.P (2002), pengawasan adalah Proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
Berdasarkan definisi diatas, wujud pengawasan adalah kegiatan untuk menilai suatu pelaksanaan tugas secara de facto. Sedangkan tujuan pengawasan hanyalah terbatas pada pencocokan apakah kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditentukan sebelumnya karena pengawasan tidak terkandung kegiatan yang bersifat korektif ataupun pengarahan.
Bila dikaitkan dengan definisi di atas maka dapat diartikan Panwaslu Kota Medan telah menjalankan peran pengawasan karena dalam melaksanakan tugas pengawasan Panwaslu Kota Medan telah melakukan pencocokan kegiatan
penyelengaraan pemilu dengan peraturan dan perundang-undangan mengenai pemilu.
Demikian juga halnya jika dikaitkan dengan pengertian Pengawasan Pemilu yaitu sebagai kegiatan mengamati, mengkaji, memeriksa, dan menilai proses penyelenggaraan Pemilu sesuai peraturan perundang-undangan, maka dapat diartikan Panwaslu Kota Medan telah menjalankan fungsi pengawasan.
Dari hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa Panwaslu Kota Medan telah menjalankan perannya sebagai pengawas pemilukada sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang. Namun karena di Indonesia Pengawas Pemilu dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan tahapan pemilu, menerima pengaduan, serta menangani kasus-kasus pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana pemilu, maka peran pengawasan ini menjadi lebih luas, tidak lagi sekedar pencocokan kegiatan dengan peraturan yang ada, tetapi di dalamnya ada unsur korektif dan pengarahan, hal ini terlihat dengan adanya devisi penanganan pelangaran di dalam tubuh Panwaslu Kota Medan.
Dengan adanya peran dalam menangani kasus-kasus pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana pemilu, ekspektasi terhadap peran Panwaslu Kota Medan dalam Pemilukada Provinsi Sumatera Utara menjadi sangat besar. Dari hasil penelitian dapat diketahui Panwaslu Kota Medan justru banyak menemui hambatan dalam penanganan pelanggaran ini, hal ini menyebabkan Panwaslu Kota Medan tidak dapat berperan maksimal dalam pengawasan penyelenggaraan Pemilukada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
Dari hasil penelitian dapat diketahui yang menjadi hambatan bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan peran pengawasan pada Pemilukada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 adalah sifat ad hoc, sumber daya manusia, fasilitas dan dana, konflik internal, sosialisasi, partisipasi masyarakat, kerjasama antar lembaga dan peraturan dan perundan-undangan.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh David Susanto mengenai ”Implementasi Pengawasan Tahapan Pemutakhiran Data Pemilih (DPT) Dalam Pemilu Kepala Daerah Kota Medan Tahun 2010 (Studi Kasus Kelurahan Pusat Pasar, Kecamatan Medan Kota Kota Medan)
diketahui yang menjadi faktor penghambat kinerja panwaslu adalah faktor sumber daya manusia; faktor rekrutmen/pembentukan panwaslu; faktor keanggotaan; pendidikan/kapasitas; dan anggaran; faktor terbatasnya waktu dalam melakukan pengawasan; faktor ketidakmampuan menindaklanjuti pelanggaran yang dilaporkan masyarakat yang disebabkan regulasi/undang-undang Bawaslu, Panwaslu dan faktor partisipasi politik masyarakat kita masih sangat rendah.
Hasil penelitian juga sesuai dengan pernyataan Topo Santoso dan Didik Suprayitno(2004) dalam bukunya ”Mengawasi Pemilu Mengawal Demokrasi”. Menurut keduanya ada empat faktor yang akan menentukan sukses tidaknya pengawas pemilu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya yaitu :
Pertama, pengawas pemilu haruslah badan independen dan non partisan yang di dalamnya diisi oleh orang-orang yang punya integritas dan dedikasi tinggi. Kedua,
jajaran pengawas pemilu perlu memiliki kapasitas yang cukup dalam memahami dan menangani masalah-masalah pelanggaran pemilu. Ketiga, pengawas pemilu
memperoleh fasilitas yang memadai dalam menjalankan tugas-tugasnya. Keempat,
pengawas pemilu mendapatkan dukungan dari instansi penegak hukum terkait dan dukungan masyarakat luas. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya hambatan mengenai sumber daya manusia, fasilitas dan dana, dan kerjasama antar lembaga, dan partisipasi masyarakat yang ditemui Panwaslu Kota Medan pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 sesuai dengan faktor kedua, ketiga dan keempat yang dikemukakan di atas.
Menurut Topo Santoso dan Didik Suprayitno (2004) ada empat faktor yang menyebabkan fungsi pengawasan pemilu 1999 tidak efektif yaitu : Pertama, tugas dan wewenang Panwas Pemilu 1999 tidak memadai. Kedua, sumber daya manuisa (SDM) kurang siap. Kriteria dan mekanisme rekrutmen keanggotaan pengawas tidak jelas, sehingga orang-orang yang masuk di badan tersebut tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Sudah begitu mereka tidak mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan. Ketiga,
software dan hardware kurang memadai. Mereka tidak memiliki instrumen standar, yang berupa peraturan-peraturan pelaksana (juklak) dan peraturan- peraturan teknis (juknis) pengawasan untuk melakukan tugas-tugas pengawasan.
Keempat, terbatasnya akses informasi. Banyak laporan dari masyarakat tidak bisa ditindak lanjuti oleh Panwas pemilu 1999, karena badan ini tidak mampu melakukan klarifikasi dan verifikasi atas laporan tersebut. Hal ini disebabkan, baik peserta maupun penyelenggara pemilu, tidak memberikan akses informasi kepada jajaran pengawas atas laporan atau indikasi-indikasi yang ada di tangannya. Kasus money politic yang menjadi sorotan besar dalam Pemilu 1999,
tidak bisa sampai ke pengadilan, salah satunya akibat sedikitnya buktri yang dimiliki oleh pengawas, sehingga polisi dan jaksa tidak bisa menindak lanjuti laporan-laporan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan faktor yang menjadi penghambat pada pemilu tahun 1999 di atas masih menjadi faktor penghambat dalam Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara 2013 yaitu :Pertama, faktor tugas dan wewenang panwaslu tidak memadai, tidak adanya hak eksekusi membuat panwaslu hanya menjadi lembaga pemberi rekomendasi hal ini menjadi penghambat dalam penanganan kasus-kasus pelanggaran. Kedua, faktor sumber daya manusia masih menjadi penghambat bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan fungsi pengawasan terutama berkaitan dengan kapasitas dalam menangani kasus-kasus pelanggaran. Ketiga, faktor software dan hardware kurang memadai, walaupun pada saat penyelengaraan Pemilukada Provinsi Sumatera utara sudah ada perbawaslu yang menjadi pedoman dalam pengawasan dan penanganan pelanggaran, namun dalam prakteknya Panwaslu Kota Medan masih menemukan hambatan berkaitan dalam penanganan tindak pidana pemilu, disebabkan tidak adanya Hukum Acara Pidana Pemilu, sementara perbawaslu yang ada belum mengatur hal tersebut. Keempat, terbatasnyaakses informasi.
Pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 Panwaslu Kota Medan masih mengalami hambatan yang sama, kurangnya akses informasi dari KPU Kota Medan terutama dalam hal DPT, penyelengaraan sosialisasi dan lain- lain. Panwaslu Kota Medan juga tidak bisa menindak lanjuti kasus tindak pidana pemilu penggunaan C6 oleh orang yang tidak berhak, yang terjadi di Kecamatan
Medan Kota juga disebabkan Panwaslu Kota Medan tidak dapat memberikan bukti yang diminta oleh Polisi dan Jaksa yaitu DPT yang ada di TPS, hal ini disebabkan Panwaslu Kota Medan tidak berhasil mendapatkan DPT tersebut dari pihak KPPS. Dalam hal ini Panwaslu Kota Medan mengalami hambatan akses informasi seperti yang dimaksudkan Topo Santoso dan Didik Suprayitno di atas.
Selanjutnya Topo Santoso dan Didik Prayitno (2004) mengemukakan rendahnya koordinasi antara pengawas dengan aparat penyidik (kepolisian dan kejaksaan) menimbulkan terjadinya persepsi yang berbeda atas suatu kasus pelanggaran pemilu. Misalnya, menurut pengawas, satu kasus sudah memenuhi syarat-syarat pelanggaran pidana pemilu, tapi penyidik berpendapat kasus itu belum memenuhi syarat pidana pemilu, sehingga kasus tersebut tidak bisa diproses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun pada saat Pemilu Kada telah dibentuk Gakkumdu, namun hal tersebut di atas masih terjadi pada penanganan kasus-kasus tindak pidana pemilu pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013, rendahnya koordinasi antara pengawas dengan aparat penyidik menimbulkan adanya perbedaan persepsi antara Panwaslu Kota Medan dengan aparat penyidik sehingga kasus-kasus tersebut tidak bisa diproses sampai ke tingkat peradilan.
Menurut Topo Santoso dan Didik Suprayitno (2004) jumlah personil yang kurang memerlukan partisipasi masyarakat dan kontrol sosial dalam menunjang keberhasilan peran pengawas pemilu dalam melakukan tugas pengawasan penyelenggaraan pemilu. Hasil penelitian menguatkan pendapat di atas, kurangnya jumlah personil, rendahnya partisipasi masyarakat dan lemahnya
kontrol sosial menjadi penghambat bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan tugas pengawasan penyelenggaraan Pemilukada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas dari hasil penelitian dapat diketahui salah satu faktor penting yang menjadi hambatan dalam tugas pengawasan pemilu adalah sifat ad hoc pada Panwaslu Kota Medan. Sifat ad hoc
ini justru menjadi awal dari semua permasalahan dan hambatan bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan fungsi pengawasan, sifat ad hoc menimbulkan permasalahan dalam : rekrutmen yang mengakibatkan kurangnya sumber daya manusia secara kualitas dan kuantitas; fasilitas dan dana, kerja sama antar lembaga, dan sosialisasi.
Dari hasil penelitian juga dapat diketahui bahwa adanya konflik internal di dalam tubuh Panwaslu Kota Medan menjadi hambatan dalam menjalankan tugas pengawasan pada Pemilukada Provinsi Sumatera Utara tahun 2013.
Hasil penelitian juga menunjukkan faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam menjalankan fungsi pengawasan sering kali tidak berdiri sendiri tapi saling terkait satu sama lain. Satu faktor penghambat menyebabkan timbulnya faktor penghambat yang lain.
Menurut Topo Santoso (2007), Sejauh ini masih banyak yang meyakini, Pemilu bisa berjalan demokratis jika ada pengawasan yang dilakukan secara terbuka jujur dan adil. Untuk menciptakan pemilu yang bersih diperlukan pengawasan yang efektif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hambatan- hambatan prosedural seperti dalam penanganan laporan pelanggaran-pelanggaran
pemilu menyebabkan pengawasan yang dilakukan Panwaslu Kota Medan menjadi tidak efektif dan mengesampingkan substansi dasar dari demokrasi itu sendiri. Sehingga apa yang menjadi tujuan utama pembentukan pengawas pemilu yaitu Panwaslu sebagai pilar inti dalam penyelenggaraan Pemilu Kada untuk menghasilkan Pemilu Kada yang jujur, adil, dan demokratis tidak tercapai.
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian tentang Peran Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan pada Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dapat diambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :
1. Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan telah menjalankan perannya sebagai pengawas Pemilu Kada sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang. Berdasarkan wewenang yang diberikan undang-undang Panwaslu Kota Medan sudah menjalankan perannya dengan cukup baik, namun hasil penelitian menunjukkan peran pengawasan yang dilakukan Panwaslu Kota Medan belum maksimal pada tahapan Pemutakhiran Data Pemilih Berdasarkan Data Kependudukan dan Penetapan Daftar Pemilih Sementara dan Daftar Pemilih Tetap, dan pada penanganan pelanggaran tindak pidana pemilu.
2. Dari hasil penelitian dapat diketahui yang menjadi hambatan bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan tugas pengawasan penyelenggaraan pemilu pada Pemilukada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 adalah:
a. Adanya sifat ad hoc yang melekat pada Panwaslu Kabupaten/Kota b. Masalah sumber daya manusia
c. Kurangnya fasilitas dan minimnya dana pada panwaslu kota medan d. Konflik internal di dalam tubuh panwaslu kota medan,
f. Kurangnya partisipasi masyarakat dalam membantu pengawasan pemilu kada
g. Lemahnya kerjasama antar lembaga
h. Banyaknya peraturan dan perundang-undangan yang tidak jelas dan tidak tegas.
5.2 Saran
Sebagai penutup dari tesis ini penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Kepada DPR dan Pemerintah perlu kiranya mempertimbangkan untuk menetapkan Panwaslu Kabupaten/Kota menjadi lembaga yang permanen untuk masa kerja 5 tahun, tidak lagi bersifat ad hoc; memperkuat peran Pengawas Pemilu dengan memberikan hak eksekusi kepada Pengawas Pemilu; merevisi undang-undang tentang Pemilu yang sudah ada menjadi lebih jelas dan tegas; memberikan hukuman dan sangsi yang lebih berat untuk pelanggaran tindak pidana pemilu; menempatkan polisi sebagai penyidik untuk membantu tugas Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota dengan merevisi undang-undang dan peraturan-peraturan yang sudah ada.
2. Kepada Bawaslu perlu kiranya untuk membuat Peraturan Bawaslu yang lebih tegas dan detil yang berfungsi sebagai Hukum Acara Pidana Pemilu.
3. Kepada KPU perlu kiranya untuk merevisi peraturan-peraturan yang sudah ada menjadi lebih jelas dan tegas.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Dodi Haryadi. 2012. Demokrasi Lokal, Evaluasi Pemilukada Indonesia. Jakarta : Konpress.
Dahl, Robert A. 2001. Perihal Demokrasi, Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi secara Singkat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
David Held. 2004. Demokrasi & Tatanan Global. Yogyakarta.
Diane Revitch & Abigail Thernstrom (ed). 2005. Demokrasi Klasik & Modern. Jakarta : Yayasan Obor.
Fayol, Henry dan Harahap. 2001. Sistem Pengawasan Manajemen. Jakarta : Quantum.
Hendarmin Ranadireksa. 2007. Visi Bernegara, Arsitektur Konstitusi Demokratik. Mengapa ada negara yang gagal Melaksanakan Demokrasi. Bandung : Fokusmedia.
Irtanto. 2008. Dinamika Politik Lokal, Era Otonomi Daerah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Joko J. Prihatmoko. 2008. Mendemokratiskan Pemilu dari sistem sampai elemen teknis. Yogyakarta : Pustaka pelajar.
Joko J. Prihatmoko. 2005. Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Filosofi, Sistem Dan Problema Penerapan Di Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar – LP3M Wahid Hasyim.
Lance Castles. 2004. Pemilu 2004, Dalam Konteks Komparatif & Historis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Miriam Budiarjo. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Newman, William H. 1963. Administrative Acition. The tecnique of organization and management (second edition). Prentice Hall Inc.
R. Siti Zuhro, dkk. 2009. Demokrasi Lokal, Perubahan Dan Kesinambungan, Nilai-Nilai Budaya Politik Lokal Di Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan Dan Bali. Yogyakarta : Ombak.
Sinaga Rudi Salam,. 2013. Pengantar Ilmu Politik, Kerangka Berpikir dalam Dimensi Arts, Praxis & Policy. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Sahdan Gregorius, Haboddin Muhtar. 2009. Evaluasi Kritis Penyelenggaraan Pilkada di Indonesia : Yogyakarta : Indonesia Power for Democrasy.
Santoso, Topo & Supriyanto Didik. 2004. Mengawasi Pemilu Mengawal Demokrasi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Santoso, Topo. 2007. Hukum & proses demokrasi (Problematika seputar pemilu dan pilkada), Jakarta : Kemitraan.
Siagian. S.P.2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara. Siagian Sondang. P. 1977. Filsafat Administrasi, Jakarta : Gunung Agung
Surbakti Ramlan, Didik Supriyanto, Topo Santoso. 2008. Perekayasaan Sistem Pemilu Untuk Pembangunan Tata Politik Demokratis. Jakarta : Kemitraan Partnership.
Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam. 2004. Menggugat Demokrasi & Pemilu, Menyingkap Borok-Borok Pemilu Dan Membantah Syubhat Para Pemujanya. Depok : Penerbit Darul Hadits.
Tataq Chidmad. 2004. Kritik Terhadap Pemilihan Langsung. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Wiyatama.
Terry, George R. 1968. Principles of Management; saduran Drs. Sujai. Bandung : Penerbit Grafika.
Titik Triwulan Tutik. 2005. Pemilihan Kepala Daerah Berdasarkan Undang- Unfang Nomor 32 Tahun 2004 Dalam Sistem Pemilu Menurut UUd 1945. Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.
Widjanarko Puspoyo. 2012. Dari Soekarno Hingga Yudhoyono, Pemilu Indonesia 1955-2009. Solo : PT Era Adicitra Intermedia.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 23 Tahun 2009 Tentang
Pengawasan Kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 30 tahun 2009 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Panitia Pengawas Pemilihan Umum Provinsi, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 1 Tahun 2011 tentang Pengawasan Pemutakhiran Data Pemilih dan Penetapan Daftar Pemilih dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 05 Tahun 2012.
Peraturan Badan Pengawas Pemilu No. 13 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengawasan Pemilihan Umum.
Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 14 tahun 2012 Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum No. 08 Tahun 2013
Peraturan KPU (PKPU) No. 15 tahun 2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye.
Musfialdy, S.Sos, M. Si: Mekanisme Pengawasan Pemilu Di Indonesia-
J. Tjiptabudy, Fungsi Dan Peran Panwaslu Dalam Sistem Pemilihan Umum Di Indonesia (Kajian dari aspek yuridis), Panwascam Lawang- http://panwascamlawang.wordpress.com/2013/04/03, diakses Kamis, 20 Juni 2013, 20:45:30
Jupri, S.H, Efektivitas Peran Panwaslu dalam Pilkada Provinsi Gorontalo di Kabupaten Pohuwat
______________.1999. Dari Bilik Suara Ke Masa Depan Indonesia, Potret Konflik Poltik Pasca Pemilu Dan Nasib Reformasi. Jakarta : RajaGrafindo Persada.
_____________.Pemilu 2004 dan Konsolidasi Demokrasi Kita? Jakarta, Jurnal Demokrasi & HAM 2000
_____________.2006. Effektifitas Panwas: Evaluasi Pengawasan Pemilu 2004. Jakarta : Tim Perludem.
_____________.2012. Bahan Bimbingan Teknis Bagi Panitia Pengawas Pemilihan UmumKecamatan Se-Kota Medan. Panitia Pemilihan Umum Kota Medan.
_____________.2012. Demokrasi Lokal, Evaluasi Pemilukada Indonesia: Jakarta : Konstitusi Press (Konpress).
_____________2013. Sejarah Kota Medan: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Medan.
_____________. 2013. Temuan Nomor : 010/TEM/PANWASLU-MDN/I/2013. PANWASLU KOTA MEDAN.
_____________. 2013. Temuan Nomor : 013/TEM/PANWASLU-MDN/I/2013. PANWASLU KOTA MEDAN.
______________.Panwaslu Kota Medan temukan 22 pelanggaran pada Pilgub Sumut-http://mobile.seruu.com/kota/medan/artikel/panwaslu-kota-medan- temukan-22-pelanggaran-pada-pilgub-sumut, diakses pada Jum’at, 21 Juni 2013, 21:10.13
______________.Bawaslu Isyaratkan Pergantian Komisoner Panwaslu Medan- Harian Tetap TopKota 09 Juli 2013, 20:30:05.
____________.Kinerja Panwaslu Dipertanyakan, Kuningan News, diakses Kamis 11 Juli 2013, 12:10:15
_____________.Kinerja Panwaslu Sumut Dinilai Ecek-ecek, MedanBagus.com, diakses Minggu, 14 Juli 2013.15:30:35
______________.Kinerja Panwaslu Dinilai Lamban?, Kuningan News, diakses Sabtu, 20 Juli 2013, 20:30:05
______________.Ketua Panwaslu Medan Dicopot, Sumut Pos- http://sumutpos.co.2013/07/62899/ketua-panwaslu-medan-dicopot, diakses pada Selasa, 10 September 2013, 20:15:20.
______________.Panwaslu Mestinya Proaktif Tindaklanjuti Minimnya Sosialisasi Pilgub Sumut, Medan, beritasumut.com, diakses Senin, 21 Oktober, 2013. 15:35:10.
______________.Pilgub Rawan Pelanggaran, Panwaslu Jateng kerahkan 10.600 Pengawas, Berita Daerah, diakses Senin, 28 Oktober 2013, 14:57:30
_____________. Jadwal Tahapan Pilgubsu 2013,
20:20:50.
_____________.Black Campaign Terjadi di Sumut, Kupon Fitnah Disebar, Pelaku Penyebar Ditangkap/ dakwatuna.com- http://m.dakwatuna.com/2013/03/07/28903 diakses Selasa, 18 Maret 2014, 21:20:25
_____________.Website Resmi Pemko Medan/Medan City-The Gate of Western Indonesia-http://pemkomedan.go.id/selayang_informasi.php diakses Senin, 07 April 2014, 20:30:05
Daftar Nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Medan 1. Kecamatan Medan Amplas :
• Kelurahan/Desa Harjosari I
• Kelurahan/Desa Harjosari II
• Kelurahan/Desa Timbang Deli
• Kelurahan/Desa Bangun Mulia
• Kelurahan/Desa Sitirejo II
• Kelurahan/Desa Sitirejo III
• Kelurahan/Desa Amplas 2. Kecamatan Medan Area :
• Kelurahan/Desa Pandau Hulu II
• Kelurahan/Desa Sei Rengas II
• Kelurahan/Desa Sei Rengas Permata
• Kelurahan/Desa Kota Matsum I
• Kelurahan/Desa Kota Matsum II
• Kelurahan/Desa Kota Matsum IV
• Kelurahan/Desa Sukaramai I
• Kelurahan/Desa Sukaramai II
• Kelurahan/Desa Tegal Sari I
• Kelurahan/Desa Tegal Sari II
• Kelurahan/Desa Tegal Sari III
• Kelurahan/Desa Pasar Merah Timur 3. Kecamatan Medan Barat :
• Kelurahan/Desa Kesawan
• Kelurahan/Desa Silalas
• Kelurahan/Desa Glugur Kota
• Kelurahan/Desa Pulo Brayan Kota
• Kelurahan/Desa Karang Berombak
• Kelurahan/Desa Sei Agul 4. Kecamatan Medan Baru :
• Kelurahan/Desa Darat
• Kelurahan/Desa Petisah Hulu
• Kelurahan/Desa Babura
• Kelurahan/Desa Merdeka
• Kelurahan/Desa Padang Bulan
5. Kecamatan Medan Belawan Kota :
• Kelurahan/Desa Belawan I
• Kelurahan/Desa Belawan II
• Kelurahan/Desa Belawan Sicanang
• Kelurahan/Desa Bagan Deli
• Kelurahan/Desa Belawan Bahari
• Kelurahan/Desa Belawan Bahagia 6. Kecamatan Medan Deli :
• Kelurahan/Desa Tanjung Mulia
• Kelurahan/Desa Tanjung Mulia Hilir
• Kelurahan/Desa Mabar
• Kelurahan/Desa Mabar Hilir
• Kelurahan/Desa Kota Bangun
• Kelurahan/Desa Titi Papan 7. Kecamatan Medan Denai :
• Kelurahan/Desa Tegal Sari Mandala I
• Kelurahan/Desa Tegal Sari Mandala II
• Kelurahan/Desa Tegal Sari Mandala III
• Kelurahan/Desa Denai
• Kelurahan/Desa Binjai
• Kelurahan/Desa Medan Tenggara 8. Kecamatan Medan Helvetia :
• Kelurahan/Desa Dwi Kora
• Kelurahan/Desa Sei Sikambing C II
• Kelurahan/Desa Helvetia
• Kelurahan/Desa Helvetia Tengah
• Kelurahan/Desa Helvetia Timur
• Kelurahan/Desa Tanjung Gusta
• Kelurahan/Desa Cinta Damai 9. Kecamatan Medan Johor :
• Kelurahan/Desa Kwala Bekala
• Kelurahan/Desa Pangkalan Masyhur
• Kelurahan/Desa Gedung Johor
• Kelurahan/Desa Kedai Durian
• Kelurahan/Desa Suka Maju
10. Kecamatan Medan Kota :
• Kelurahan/Desa Pandau Hulu I
• Kelurahan/Desa Pasar Baru
• Kelurahan/Desa Pusat Pasar
• Kelurahan/Desa Mesjid
• Kelurahan/Desa Sei Rengas I
• Kelurahan/Desa Kota Matsum III
• Kelurahan/Desa Pasar Merah Barat
• Kelurahan/Desa Teladan Barat
• Kelurahan/Desa Teladan Timur
• Kelurahan/Desa Sudi Rejo I
• Kelurahan/Desa Sudi Rejo II
• Kelurahan/Desa Siti Rejo I 11. Kecamatan Medan Labuhan :
• Kelurahan/Desa Besar
• Kelurahan/Desa Martubung
• Kelurahan/Desa Sei Mati
• Kelurahan/Desa Pekan Labuhan
• Kelurahan/Desa Nelayan Indah
• Kelurahan/Desa Tangkahan 12. Kecamatan Medan Maimun :
• Kelurahan/Desa Aur
• Kelurahan/Desa Hamdan
• Kelurahan/Desa Jati
• Kelurahan/Desa Kampung Baru
• Kelurahan/Desa Sei Mati
• Kelurahan/Desa Suka Raja 13. Kecamatan Medan Marelan :
• Kelurahan/Desa Tanah Enam Ratus
• Kelurahan/Desa Paya Pasir
• Kelurahan/Desa Labuhan Deli
• Kelurahan/Desa Rengas Pulau
14. Kecamatan Medan Perjuangan :
• Kelurahan/Desa Pandau Hilir
• Kelurahan/Desa Pahlawan
• Kelurahan/Desa Sei Kera Hulu
• Kelurahan/Desa Sei Kerah Hilir I
• Kelurahan/Desa Sei Kerah Hilir II