PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTA MEDAN
PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN
WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI
SUMATERA UTARA
TAHUN 2013
TESIS
Oleh
MARLIZA
127024011/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTA MEDAN
PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN
WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI
SUMATERA UTARA
TAHUN 2013
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik Universitas Sumatera Utara
OLEH
MARLIZA
127024011/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Judul Tesis : PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTAMEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013
Nama Mahasiswa : Marliza Nomor Pokok : 127024011
Program Studi : Studi Pembangunan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Subhilhar, Ph.D)
Ketua Anggota
(Heri Kusmanto, MA, Ph.D)
Ketua Program Studi Dekan
(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA) (Prof. Dr. Badaruddin. M.Si)
Telah diuji pada Tanggal : 01 Juli 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Subhilhar, Ph.D Anggota : Heri Kusmanto, MA, Ph.D
PERNYATAAN
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTAMEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN
WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
TAHUN 2013
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 01 Juli 2014 Penulis
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTA MEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA
DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013
ABSTRAK
Pengawas Pemilu merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan Pemilu Kada, karena Pemilu Kada yang jujur, adil, dan demokratis sangat tergantung pada sejauh mana Pengawas Pemilu bekerja dengan baik dan menjamin Pemilu Kada berlangsung secara demokratis. Tesis ini berjudul ” PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILUKOTA MEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKILKEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013”. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di Kota Madya Medan dengan unit analisis adalah Panita Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan. Pemilihan lokasi dan unit analisis didasarkan atas pertimbangan Kota Medan merupakan kota terbesar di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, jumlah penduduk yang banyak dan jumlah pemilih yang paling banyak di Provinsi Sumatera Utara, sehingga permasalahan pemilu juga sangat kompleks dan banyak, disamping itu juga disebabkan adanya konflik internal di antara komisioner Panwaslu Kota Medan pada waktu Pemilu Kada tersebut. Hasil Penelitian sebagai berikut : (1). Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan telah menjalankan perannya sebagai pengawas Pemilu Kada sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang. Berdasarkan wewenang yang diberikan undang-undang Panwaslu Kota Medan sudah menjalankan perannya dengan cukup baik, namun hasil penelitian menunjukkan peran pengawasan yang dilakukan Panwaslu Kota Medan belum maksimal pada tahapan Pemutakhiran Data Pemilih Berdasarkan Data Kependudukan dan Penetapan Daftar Pemilih Sementara dan Daftar Pemilih Tetap, dan pada penanganan pelanggaran tindak pidana pemilu. (2). Dari hasil penelitian dapat diketahui yang menjadi hambatan bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan tugas pengawasan penyelenggaraan pemilu pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 adalah adanya sifat ad hoc yang melekat pada Panwaslu Kabupaten/Kota; masalah sumber daya manusia; kurangnya fasilitas dan minimnya dana pada panwaslu kota Medan; konflik internal di dalam tubuh Panwaslu kota Medan; kurangnya sosialisasi yang bisa dilakukan Panwaslu Kota Medan; kurangnya partisipasi masyarakat dalam membantu pengawasan Pemilu Kada; lemahnya kerjasama antar lembaga; banyaknya peraturan dan perundang-undangan yang tidak jelas dan tidak tegas.
THE ROLE OF THE SUPERVISORY COMMITTEE OF ELECTIONS OF MEDAN IN THE ELECTIONS OF THE GOVERNOR AND VICE
GOVERNOR OF NORTH SUMATERA IN 2013
ABSTRACT
The supervisory of elections is an important part in the holding of the regional head elections, because the regional head election became honest, fair and democratic depends greatly on the extent to which the supervisory of elections work well and ensures the regional head elections take place in a democratic. The title of thesis was “THE ROLE OF THE SUPERVISORY COMITTEE OF ELECTIONS OF MEDAN IN THE ELECTIONS OF THE GOVERNOR AND VICE GOVERNOR OF NORTH SUMATERA IN 2013. This research was a descriptive study with a qualitative approach. The research was conducted in the City of Medan with analysis unit was The Supervisory Comittee of Elections of Medan. Choice of the location and the analysis unit based on the considerations that Medan is the biggest city in North Sumatera Province with the high level complexity, high populations and the number of voters at most in North Sumatera Province, so the elections problems are also big and very complex and beside that, also due to internal conflict among the commissioners of the Election Supervisory Committee of Medan at the time of the regional head elections.The result of research :(1)The Supervisory Committee of Elections of Medan has run its role as overseer of the regional head elections in accordance to the legislation. Based on the authority given by the legislation, The Supervisory Committee of Elections of Medan has been running the role pretty well, but the result of the research indicated the role of The Supervisory Committee of Elections of Medan played has not been fullest at the stage of updating the voters data and the voters list, and handling violations criminal acts of election (2). Based on the results of the research can be known that become barriers to The Supervisory Committee of Elections of Medan in carrying it’s supervisory task of organizing in The Elections of The Governor and Vice Governor of North Sumatera in 2013 is the existence of an ad hoc nature inherent in The Supervisory Committee of Elections of Medan; Human Resources problems; lack of facilities and lack of funds in The Supervisory Committee of Elections of Medan; internal conflict in The Supervisory Committee of Elections of Medan; the lack of socialization can be done by The Supervisory Committee of Elections of Medan; the lack of community participation in helping of the regional head election supervision; weak cooperation between institutions;too many laws and regulations that are not obvious and not firm.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas berkat rahmat dan hidayahnya, penulis telah berhasil menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik dan tepat waktu.
Tesis yang berjudul “Peranan Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013” ini membahas tentang bagaimana Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan menjalankan peranannya pada Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Pada Tahun 2013 dan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam menjalankan peran pengawasan tersebut.
Dalam menyelesaikan perkuliahan dan penulisan tesis ini penulis banyak mendapat bantuan dan dukungan. Dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTMH, MSc (CTM), SpA (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Ketua Program Studi Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara
4. Bapak Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara
6. Bapak Heri Kusmanto, MA, Ph.D selaku Dosen Pembimbing II 7. Bapak Warjio, MA, Ph.D selaku Dosen Pembanding
8. Bapak Hatta Ridho, S.Sos, MSP selaku Dosen Pembanding
9. Bapak dan Ibu seluruh Dosen dan Staf pengajar Program Studi Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara
10.Para informan: Bapak Drs. Masa Padang ; Bapak Irfan Fadila Mawi, SH; Ibu Helen Napitupulu, SH; Bapak Marasina Famly; Bapak Haris Ricardo; Bapak Azhariyadi ; Ibu Dra. Evi Novida Ginting, MSP; Bapak Pandapotan Tamba, SH, MH; Bapak Salman Al Farisi, Lc, MA; Bapak Adi Haris Siregar, SE; Bapak Edward Simatupang.
11.Ibunda tercinta Hj. Zahara Lubis, kakak dan adik-adik tercinta : Riza Octariana Harahap, SH; Masyitoh Harahap, SH; Sulaiman Harahap, SH, MSP dan Aida Fitria Harahap, S.Sos, Msi.
12.Rekan-rekan Mahasiswa/i Program Magister Studi Pembangunan, FISIP USU Medan.
13.Sdri. Herlina Dewiana M. Lubis, SE yang juga telah banyak memberikan bantuan pada saat penelitian.
Akhirnya kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Semoga segala bentuk kebaikan yang telah diberikan mendapat ganjaran yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin.
RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS
Nama : Marliza
Tempat Tanggal lahir : Sibolga, 01 Maret 1965 Pekerjaan : Financial Consultant
Alamat : Blok SS No. 99 Tasbi, Medan
PENDIDIKAN
a. SD Sutomo Medan lulus Tahun 1977
b. SMP Tunas Kartika Medan lulus Tahun 1981 c. SMA N I Ambon lulus Tahun 1984
d. Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh lulus Tahun 1989
PENGALAMAN KERJA
- Account Officer Bank Bukopin Yogyakarta - Financial Consultant PT. Asuransi Allianz Life
Indonesia
- Senior Agency Manager PT. MNC Life
- Anggota Panwaslu Kecamatan Medan Selayang pada PILEG Tahun 2009, PILPRES Tahun 2009, PEMILU KADA KOTA MEDAN Tahun 2010.
Demikian Daftar Riwayat Hidup ini saya perbuat untuk dapat diketahui.
Medan, 01 Juli 2014
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Permasalahan ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1. Pengertian Pengawasan ... 9
2.2. Pengertian Pengawas Pemilu ... 11
2.3. Sejarah Pengawas Pemilu ... 12
2.4. Peranan Pengawas Pemilu ... 19
2.5. Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 ... 22
2.6. Kerangka Berpikir ... 25
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
3.1. Jenis/Desain Penelitian ... 26
3.2. Lokasi Penelitian/ Unit Analisis ... 26
3.3. Informan ... 26
3.5. Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.6. Metode Analisis / Analisis Data ... 28
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 29
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 29
4.1.1. Gambaran Umum Kota Medan ... 29
4.1.2. Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan ... 30
4.2. Peranan Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 ... 31
4.2.1.Mengawasi Tahapan ... 35
4.2.1.1. Pemutakhiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tetap ... 35
4.2.1.2. Pencalonan, proses pencalonan dan penetapan calon gubernur ... 41
4.2.1.3. Pelaksanaan kampanye ... 42
4.2.1.3.1. Penertiban alat peraga kampanye 42
4.2.1.3.2. Pengawasan kampanye rapat umum.. 46
4.2.1.3.3. Pengawasan terhadap Minggu tenang 48
4.2.1.3.4.Pengawasan terhadap politik uang (money politic) ... 52
4.2.1.4. Pengadaan logistik pemilu dan pendistribusiannya ... 56
4.2.1.5. Pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara hasil pemilu dan mengendalikan pengawasan seluruh proses penghitungan suara ... 58
4.2.1.6. Pergerakan surat suara dari tingkat TPS sampai ke PPK ... 62
4.2.1.7 Proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU kabupaten/kota dari seluruh kecamatan ... 63
4.2.2. Menerima Laporan Dugaan Pelanggaran terhadap Pelaksanaan Peraturan Perundang-undangan Mengenai Pemilu ... 64
4.2.3. Menyampaikan Temuan dan Laporan Kepada KPU Kabupaten/ Kota Untuk Ditindaklanjuti ... 66
4.2.5 Mengawasi Pelaksanaan Sosialisasi Penyelenggaraan
Pemilu ... 69
4.3. Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Pengawasan Pemilu pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 ... 70
4.3.1. Sifat Ad hoc ... 70
4.3.2. Sumber Daya Manusia ... 76
4.3.3 Fasilitas dan Dana ... 83
4.3.4. Konflik Internal ... 88
4.3.5. Kerjasama Antar Lembaga ... 92
4.3.6. Sosialisasi ... 108
4.3.7. Partisipsi Masyarakat ... 110
4.3.8. Peraturan dan Perundang-undangan ... 112
4.4. Pembahasan ... 122
BAB V PENUTUP ... 131
5.1. Kesimpulan ... 131
5.2. Saran ... 132
DAFTAR PUSTAKA ... 133 .
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Halaman
1. Susunan Organisasi Panwaslu Kota Medan ... 138 2. Susunan Organisasi Panwaslu Kecamatan ... 139 3.Daftar Nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Medan ... 140 4. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Informan Utama (Key Informan .... 145
5. Daftar Pertanyaan Wawancara dengan Informan Tambahan ... 146 6. Tahapan Program dan jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum
Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara Tahun 2013 ... 147 7. Laporan Rekapitulasi Penanganan pelanggaran panwaslu
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTA MEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN
WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
TAHUN 2013
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik Universitas Sumatera Utara
Oleh Marliza 127024011
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Judul Tesis : PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTAMEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013
Nama Mahasiswa : Marliza Nomor Pokok : 127024011
Program Studi : Studi Pembangunan
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Subhilhar, Ph.D)
Ketua Anggota
(Heri Kusmanto, MA, Ph.D)
Ketua Program Studi Dekan
(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA) (Prof. Dr. Badaruddin. M.Si)
Telah diuji pada Tanggal : 01 Juli 2014
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Subhilhar, Ph.D Anggota : Heri Kusmanto, MA, Ph.D
PERNYATAAN
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTAMEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN
WAKIL KEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA
TAHUN 2013
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, 01 Juli 2014 Penulis
PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILU KOTA MEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA
DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013
ABSTRAK
Pengawas Pemilu merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan Pemilu Kada, karena Pemilu Kada yang jujur, adil, dan demokratis sangat tergantung pada sejauh mana Pengawas Pemilu bekerja dengan baik dan menjamin Pemilu Kada berlangsung secara demokratis. Tesis ini berjudul ” PERANAN PANITIA PENGAWAS PEMILUKOTA MEDAN PADA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKILKEPALA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2013”. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di Kota Madya Medan dengan unit analisis adalah Panita Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan. Pemilihan lokasi dan unit analisis didasarkan atas pertimbangan Kota Medan merupakan kota terbesar di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, jumlah penduduk yang banyak dan jumlah pemilih yang paling banyak di Provinsi Sumatera Utara, sehingga permasalahan pemilu juga sangat kompleks dan banyak, disamping itu juga disebabkan adanya konflik internal di antara komisioner Panwaslu Kota Medan pada waktu Pemilu Kada tersebut. Hasil Penelitian sebagai berikut : (1). Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan telah menjalankan perannya sebagai pengawas Pemilu Kada sesuai dengan yang diamanatkan oleh undang-undang. Berdasarkan wewenang yang diberikan undang-undang Panwaslu Kota Medan sudah menjalankan perannya dengan cukup baik, namun hasil penelitian menunjukkan peran pengawasan yang dilakukan Panwaslu Kota Medan belum maksimal pada tahapan Pemutakhiran Data Pemilih Berdasarkan Data Kependudukan dan Penetapan Daftar Pemilih Sementara dan Daftar Pemilih Tetap, dan pada penanganan pelanggaran tindak pidana pemilu. (2). Dari hasil penelitian dapat diketahui yang menjadi hambatan bagi Panwaslu Kota Medan dalam menjalankan tugas pengawasan penyelenggaraan pemilu pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 adalah adanya sifat ad hoc yang melekat pada Panwaslu Kabupaten/Kota; masalah sumber daya manusia; kurangnya fasilitas dan minimnya dana pada panwaslu kota Medan; konflik internal di dalam tubuh Panwaslu kota Medan; kurangnya sosialisasi yang bisa dilakukan Panwaslu Kota Medan; kurangnya partisipasi masyarakat dalam membantu pengawasan Pemilu Kada; lemahnya kerjasama antar lembaga; banyaknya peraturan dan perundang-undangan yang tidak jelas dan tidak tegas.
THE ROLE OF THE SUPERVISORY COMMITTEE OF ELECTIONS OF MEDAN IN THE ELECTIONS OF THE GOVERNOR AND VICE
GOVERNOR OF NORTH SUMATERA IN 2013
ABSTRACT
The supervisory of elections is an important part in the holding of the regional head elections, because the regional head election became honest, fair and democratic depends greatly on the extent to which the supervisory of elections work well and ensures the regional head elections take place in a democratic. The title of thesis was “THE ROLE OF THE SUPERVISORY COMITTEE OF ELECTIONS OF MEDAN IN THE ELECTIONS OF THE GOVERNOR AND VICE GOVERNOR OF NORTH SUMATERA IN 2013. This research was a descriptive study with a qualitative approach. The research was conducted in the City of Medan with analysis unit was The Supervisory Comittee of Elections of Medan. Choice of the location and the analysis unit based on the considerations that Medan is the biggest city in North Sumatera Province with the high level complexity, high populations and the number of voters at most in North Sumatera Province, so the elections problems are also big and very complex and beside that, also due to internal conflict among the commissioners of the Election Supervisory Committee of Medan at the time of the regional head elections.The result of research :(1)The Supervisory Committee of Elections of Medan has run its role as overseer of the regional head elections in accordance to the legislation. Based on the authority given by the legislation, The Supervisory Committee of Elections of Medan has been running the role pretty well, but the result of the research indicated the role of The Supervisory Committee of Elections of Medan played has not been fullest at the stage of updating the voters data and the voters list, and handling violations criminal acts of election (2). Based on the results of the research can be known that become barriers to The Supervisory Committee of Elections of Medan in carrying it’s supervisory task of organizing in The Elections of The Governor and Vice Governor of North Sumatera in 2013 is the existence of an ad hoc nature inherent in The Supervisory Committee of Elections of Medan; Human Resources problems; lack of facilities and lack of funds in The Supervisory Committee of Elections of Medan; internal conflict in The Supervisory Committee of Elections of Medan; the lack of socialization can be done by The Supervisory Committee of Elections of Medan; the lack of community participation in helping of the regional head election supervision; weak cooperation between institutions;too many laws and regulations that are not obvious and not firm.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Negara yang dianggap demokratis selalu mencantumkan kata kedaulatan rakyat didalam konstitusinya. Hal ini menunjukkan bahwa kedaulatan rakyat merupakan suatu keniscayaan dalam sistem bernegara di negara-negara dunia saat ini. Manifestasi dari kedaulatan rakyat dapat dilihat dari partisipasi rakyat dalam pemilihan umum dan keterlibatan dalam partai politik. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi Negara Indonesia menyatakan bahwa rakyat sebagai pemegang kekuasaan dan wewenang tertinggi dalam Negara.
Salah satu variabel ukuran negara demokrasi adalah pemilihan umum. Dalam perkembangan demokrasi di Indonesia sejak reformasi hingga saat ini telah berkembang pemikiran untuk mengimplementasikan asas kedaulatan rakyat dengan berbagai cara, tidak hanya terbatas pada partisipasi mereka dalam Pemilu untuk memilih anggota legislatif yang merupakan perwujudan wakil rakyat, melainkan juga melalui pemilihan lembaga eksekutif mulai dari lembaga eksekutif tertinggi yaitu presiden sampai kepala daerah.
Penyelenggaraan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dapat terwujud apabila dilaksanakan oleh penyelenggara pemilihan umum yang mempunyai integritas, profesionalisme dan akuntabilitas.
Menurut Miriam Budiardjo (2008) di kebanyakan negara demokrasi, pemilihan umum dianggap lambang, sekaligus tolok ukur, dari demokrasi itu. Hasil pemilihan umum yang diselenggarakan dalam suasana keterbukaan dengan kebebasan berpendapat dan berserikat, dianggap mencerminkan dengan agak akurat partisipasi serta aspirasi masyarakat.
Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2011 bahwa penyelenggaraan pemilihan umum yang berkualitas diperlukan sebagai sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pilkada merupakan salah satu bentuk pelaksanaan demokrasi di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian khusus untuk Pilkada direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008. Berdasarkan UU No.32 Tahun 2004 bahwa Kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Sedangkan tentang penyelenggara pemilu diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2007 yang kemudian direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011.
(Panwaslu) sebagai lembaga pengawasan yang mengawasi jalannya tahapan pelaksanaan Pilkada. UU No. 15 tahun 2011 menyebutkan Bahwa untuk meningkatkan kualitas penyelengaraan pemilihan umum yang dapat menjamin pelaksanaan hak politik masyarakat dibutuhkan penyelenggara pemilihan umum yang professional serta mempunyai integritas, kapabilitas, dan akuntabilitas.
Menurut Ramlan Surbakti, Didik Supriyanto, Topo Santoso (2008) standar internasional pemilu demokratis sebetulnya tidak mengharuskan adanya lembaga pengawas pemilu untuk menjamin pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil (free and fair elections). Praktik pemilu di negara-negara yang sudah berpengalaman melaksanakan pemilu yang demokratis tidak membutuhkan lembaga pengawas pemilu. Namun perancang undang-undang pemilu pasca-Orde Baru tetap menghendaki lembaga itu eksis, karena posisinya dinilai strategis dalam upaya menegakkan asas pemilu yang luber dan jurdil.
Menurut Ramlan Surbakti, Didik Suprayitno, Topo Santoso (2008) Pemantau, saksi dan pengawas pemilu punya peran penting dalam menjaga integritas proses dan hasil Pemilu. Peran itu menjadi keniscayaan, karena penyelenggara Pemilu tidak mungkin bisa ditangani sendiri oleh KPU dan jajarannya. Selain itu, dalam kompetisi politik yang ketat seperti Pemilu, selalu saja ada pihak-pihak yang ingin meraih kemenangan dengan menghalalkan segala cara. Potensi atau wujud pelanggaran peraturan atau penyalah gunaan kewenangan itu harus dihadapi secara sungguh-sungguh, bila tidak ingin proses dan hasil pemilu diragukan keabsahannya.
Tugas dan Kewenangan Pengawas Pemilu dalam UU No. 15/ 2011 diatur dalam Pasal 77 ayat (1) huruf (a) sampai (i), merupakan acuan Pengawas Pemilu dalam mengawasi pelaksanaan Pemilu Kada antara lain:
a. Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/ kota. b. Menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan
perundang- undangan mengenai Pemilu.
c. Menyelesaikan temuan dan laporan sengketa penyelenggaraan Pemilu yang tidak mengandung unsur tindak pidana.
d. Menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU Kabupaten/ Kota untuk ditindak lanjuti.
e. Meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang.
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu oleh penyelenggara Pemilu di tingkat kabupaten/ kota.
g. Mengawasi pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Bawaslu tentang pengenaan sanksi kepada anggota KPU Kabupaten/ Kota, sekretaris dan pegawai sekretariat KPU Kabupaten/ kota yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu yang sedang berlangsung.
h. Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu.
i. Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diberikan oleh undang-undang. Menurut Topo Santoso (2007), Sejauh ini masih banyak yang meyakini, Pemilu bisa berjalan demokratis jika ada pengawasan yang dilakukan secara terbuka jujur dan adil. Untuk menciptakan pemilu yang bersih diperlukan pengawasan yang efektif. Dengan demikian, Panwaslu merupakan pilar inti dalam penyelenggaraan Pemilu Kada, karena Pemilu Kada yang jujur, adil, dan demokratis, sangat tergantung pada sejauh mana Panwaslu bekerja dengan baik dan menjamin Pemilu Kada berlangsung secara demokratis.
tewas akibat konflik selama proses Pilkada di daerah. Selain itu, biaya tinggi pilkada juga menyebabkan 86 persen dari 310 kepala daerah bermasalah hukum terjerat kasus korupsi
Kerusuhan-kerusuhan dan konflik yang timbul pasca penyelenggaraan Pilkada di suatu daerah tidak terlepas dari adanya pelanggaran-pelanggaran, kecurangan-kecurangan dan sengketa selama masa pilkada, sehingga menimbulkan ketidak puasan terhadap hasil pilkada. Disamping itu masalah biaya pilkada yang tinggi juga tidak terlepas dari adanya praktek-praktek politik uang (money politic) yang ada selama masa Pilkada.
Berdasarkan hal tersebut maka peranan Panwaslu menjadi sangat penting dalam menunjang terselenggaranya Pemilu Kada yang jujur, adil, dan demokratis, untuk itu perlu dikaji bagaimana peranan pengawas Pemilu dalam Pemilu Kada.
Sudah banyak penelitian sebelumnya tentang pemilu dan peranan pengawas pemilu diantaranya Musfialdy yang mengkaji Peran Panitia Pengawas Pemilu Tingkat Kabupaten dalam Upaya Meminimalisasi Konflik Horizontal
Antar Peserta Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah di Kabupaten
Solok Selatan Tahun 2010 dan Jufri, SH mengkaji tentang Efektifitas Peran Panwaslu dalam Pilkada Provinsi di Kabupaten Pohuwato.
2013 yang lalu, dengan demikian semua tahapan penyelenggaraan sudah selesai, sehingga dapat dievaluasi peran pengawasan yang dilakukan oleh Pengawas Pemilu pada Pemilu Kada tersebut, sedangkan peran Panwaslu Kota Medan dipilih sebagai objek penelitian didasarkan pada adanya Pergantian Antar Waktu (PAW) dua anggota Panwaslu Kota Medan sebagai hasil evaluasi Bawaslu Provinsi Sumatera Utara; adanya konflik internal Panwaslu Kota Medan disebabkan perbedaan pendapat pada penanganan dugaan pelanggaran tahapan Pemilu Kada yang berakhir dengan pencabutan mandat dan mosi tidak percaya kepada Ketua Panwaslu Kota Medan oleh anggota Panwaslu Kota Medan, selain itu tidak adanya kasus pelanggaran pidana pemilu terutama kasus politik uang yang berhasil ditangani oleh Panwaslu Kota Medan menjadi alasan bagi peneliti untuk menjadikan Panwaslu Kota Medan sebagai objek penelitian.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Pengawas Pemilu Kota Medan melaksanakan peran pengawasan pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
2. Apa yang menjadi hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pengawasan Pemilu pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk:
2. Menganalisa hambatan-hambatan dalam pelaksanaan pengawasan Pemilu pada Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
1.4. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Secara teoritis, melalui penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis untuk menambah pengetahuan dalam bidang pemilihan umum khususnya dan ilmu politik pada umumnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pengawasan
Pengertian pengawasan menurut George R. Terry (1968) adalah kegiatan untuk membuat evaluasi dan koreksi terhadap suatu hasil yang dicapai, dengan maksud agar hasil tersebut sesuai dengan rencana (Control is to determine what is accomplished evaluate it, and apply corrective measure, if needed to result in
keeping with the plan). Dengan demikian tindakan pengawasan itu tidak dilakukan terhadap suatu proses kegiatan yang sedang berjalan, akan tetapi justru pada akhir suatu kegiatan setelah kegiatan tersebut menghasilkan sesuatu.
Hendry Fanyol dalam Henry Fayol dan Harahap (2001) menyebutkan: “Control consist in veryfiying wether everything accur in comformity with the plan asopted, the instruction issued and principles established. It has for object to
S.P. Siagian (2002) mengambarkan pengawasan sebagai berikut; “Proses pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.” Pengawasan tidak dilaksanakan pada akhir suatu kegiatan, justru pengawasan dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berjalan untuk menilai dan mewarnai hasil yang akan dicapai oleh kegiatan yang sedang dilaksanakan tersebut.
Berdasarkan definisi diatas maka dapat dilihat Siagian sependapat dengan Newman dimana pengawasan menitik beratkan pada tindakan pengawasan pada proses yang sedang berjalan atau dilaksanakan. Pengawasan merupakan kegiatan untuk menilai suatu pelaksanaan tugas secara de facto dengan tujuan hanyalah terbatas untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai dengan tolak ukur yang telah ditentukan sebelumnya karena di dalam pengawasan itu tidak ada kegiatan yang bersifat korektif ataupun pengarahan.
Secara teoritis pengawasan berfungsi sebagai : Eksplanasi, menghimpun informasi yang dapat menjelaskan mengapa hasil-hasil kebijakan publik dan program yang direncanakan berbeda; Akuntansi, menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk melakukan akuntansi atas perubahan sosial ekonomi yang terjadi setelah dilaksanakannya sejumlah kebijakan publik dari waktu ke waktu;
standar dan prosedur yang dibuat oleh legislator, instansi pemerintah dan atau lembaga profesional.
2.2. Pengertian Pengawas Pemilu
Pengertian Pengawas Pemilu menurut undang-undang Pemilu adalah nama sebuah lembaga Pengawas Pemilu. Di tingkat nasional atau pusat disebut dengan Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (Bawaslu RI), sedangkan di tingkat provinsi disebut Badan Pengawas Pemilu Provinsi (Bawaslu Provinsi), di tingkat kabupaten/kota disebut Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten/Kota, di tingkat kecamatan disebut Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan, di tingkat kelurahan disebut Pengawas Pemilu Lapangan (PPL).
Badan Pengawas Pemilu di tingkat pusat bersifat permanen dengan masa kerja 5 tahun, sedangkan Bawaslu Provinsi sebelumnya bernama Panwaslu Provinsi yang bersifat ad hoc, namun dengan adanya Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 Panwaslu Provinsi berganti menjadi Bawaslu Provinsi yang bersifat permanen untuk masa kerja 5 tahun. Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan dan Pengawas Pemilu Lapangan adalah lembaga ad hoc yang dibentuk sebelum tahapan pertama Pemilu (pendaftaran pemilih) dimulai dan dibubarkan setelah calon yang terpilih dalam Pemilu dilantik.
2.3. Sejarah Pengawas Pemilu
Bangsa Indonesia pertama kali menyelenggarakan pemilihan umum pada tahun 1955. Sejak saat itu sampai dengan pemilu terakhir di tahun 2009 sudah diadakan sepuluh kali pemilihan umum yaitu pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, dan 2004 serta 2009. Namun kepedulian akan pentingnya pengawasan dalam pemilu baru dilaksanakan pada tahun 1980. Pemerintah sebagai pihak penyelenggara pemilu pada saat itu segera membentuk badan pengawas pemilu dari tingkat pusat sampai daerah. Lembaga yang diberi nama Panitia Pengawasan Pelaksana (Panwaslak) ini dipimpin langsung oleh Jaksa Agung dan birokrasi sipil serta militer bertindak sebagai pelaksana lapangannya. Panwaslak sebagai pengawas pemilu internal ini baru diperkenalkan menjelang pemilu Orde Baru ke-3 dalam UU No. 2 tahun 1980 tentang perbaikan kedua kalinya UU No. 15/1969 tentang Pemilu anggota DPR/MPR.
Menurut Arbi Sanit (1997) Regulasi pada masa Orde Lama maupun Orde Baru menganut falsafah kekuasaan tradisional, yakni terdapatnya niat pemerintah sebagai pola hubungan kekuasaan dalam proses pengawasan pemilu, dimana pemilu diawasi sendiri oleh pemerintah sebagai pelaksananya (prinsip pengawasan internal).
Ada beberapa model pengawasan yang pernah dilaksanakan di Indonesia. 1
1 Musfialdy, S.Sos, M. Si: Mekanisme Pengawasan Pemilu Di Indonesia-
Pertama, Model Pengawasan Pemilu bagian Kejaksaan Agung Panitia Pengawas Pelaksanaan Pemilihan Umum (PANWASLAK) sebagai
bersifat tetap. Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2007 penyelenggaraan pengawasan Pemilu dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Bawaslu dibantu oleh Panitia Pengawas Pemilu Provinsi, Panwaslu Kabupaten/Kota, Panwaslu Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri. Badan Pengawas Pemilu merupakan lembaga yang bersifat tetap. Anggotanya diangkat sekali dalam 5 tahun atau bersifat tetap. Sedangkan Panwaslu di Provinsi, Panwaslu di Kabupaten/Kota, Panwaslu di Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri bersifat ad hoc. Panwaslu di Provinsi, Panwaslu di Kabupaten/Kota, Panwaslu di Kecamatan, Pengawas Pemilu Lapangan, dan Pengawas Pemilu Luar Negeri dibentuk paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tahapan pertama penyelenggaraan Pemilu dimulai dan berakhir paling lambat 2 (dua) bulan setelah seluruh tahapan penyelenggaraan Pemilu selesai. Bawaslu berkedudukan di ibu kota negara. Panwaslu di Provinsi berkedudukan di ibu kota provinsi. Panwaslu Kabupaten/Kota berkedudukan di ibu kota Kabupaten/kota. Panwaslu Kecamatan berkedudukan di ibu kota kecamatan. Pengawas Pemilu Lapangan berkedudukan di desa/kelurahan. Pengawas Pemilu Luar Negeri berkedudukan di kantor perwakilan Republik Indonesia.
Kronologis pembentukan pengawas pemilu sejak tahun 1955 sampai dengan tahun 20092
1. Pemilu Tahun 1955: Penyelenggaraan Pemilu tahun 1955 tak lepas dari pengawasan, dan pemantauan yang dilakukan oleh partai-partai politik,
:
organisasi dan perseorangan serta aparatur pemerintahan yang ada hubungannya dengan penegak hukum dalam periode ini, lembaga pengawas secara resmi belum diatur di dalam Undang-Undang.
2. Pemilu Tahun 1971: Pengawasan penyelenggaraan Pemilu 1971 dilakukan oleh partai politik peserta pemilihan umum dan masyarakat, karena belum terbentuk lembaga khusus.
3. Pemilu Tahun 1977: Pengawasan pada Pemilu ini dilakukan oleh organisasi peserta pemilihan umum dan oleh masyarakat.
4. Pemilu Tahun 1982: Pembentukan Panwaslak Pemilu pada Pemilu 1982 dilatari oleh protes-protes atas banyaknya pelanggaran dan manipulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh para petugas pemilu pada Pemilu 1971. Karena pelanggaran dan kecurangan pemilu yang terjadi pada Pemilu 1977 jauh lebih masif. Protes-protes ini lantas direspons pemerintah dan DPR yang didominasi Golkar dan ABRI. Akhirnya muncullah gagasan memperbaiki undang-undang yang bertujuan meningkatkan ‘kualitas’ Pemilu 1982.
Pada Pemilu tahun 1982, lembaga pengawas Pemilu secara resmi sudah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1980. Pengawasan dalam periode ini telah dilakukan oleh suatu lembaga resmi yang di bentuk berdasarkan undang-undang, yaitu :
a. Panwaslakpus terdiri dari seorang Ketua dan 5 (lima) orang wakil ketua dan anggota-anggota diambil dari unsur pemerintah.
b. Panwaslak I, terdiri dari seorang Ketua dan 5 (lima) orang wakil ketua dan anggota-anggota.
c. Panwaslak II, terdiri dari seorang Ketua dan 5 (lima) orang wakil ketua dan anggota-anggota.
d. Panwaslakcam, terdiri dari seorang Ketua dan 5 (lima) orang wakil ketua dan anggota-anggota.
Adapun sasaran pengawasan terhadap Pemilu Tahun 1982 adalah sebagai berikut: pendaftaran pemilih dan jumlah penduduk; kampanye; pengawasan penghitungan suara; pengawasan terhadap penetapan hasil pemilu; pengawasan terhadap pembagian kursi.
5. Pemilu Tahun 1987: Pada Pemilu 1987 lembaga dan sasaran pengawasan sama dengan Pemilu tahun 1982.
6. Pemilu Tahun 1992: Organisasi pengawasan, keanggotaan, tugas, dan sasaran pengawasan sama dengan Pemilu 1987.
8. Pemilu Tahun 1999: Dengan struktur, fungsi, dan mekanisme kerja yang baru, pengawas pemilu tetap diaktifkan untuk Pemilu 1999. Namanya pun diubah dari Panitia Pengawas Pelaksana Pemilihan Umum (Panwaslak Pemilu) menjadi Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Pembentukan, Pengangkatan dan Pelantikan Keanggotaan Panwaslu sebagai berikut :
a. Panwaslu Pusat berkedudukan di ibukota negara yang beranggotakan 30 (tiga puluh) orang.
b. Panwaslu Tingkat I berkedudukan di ibukota provinsi yang beranggotakan 17 (tujuh belas) orang.
c. Panwaslu Tingkat II berkedudukan di ibukota kabupaten/kotamadya yang beranggotakan sekurang-kurangnya 17 (tujuh belas) orang.
d. Panwaslu Tingkat Kecamatan (Panwaslucam) berkedudukan di ibukota kecamatan beranggotakan sekurang-kurangnya 9 (sembilan) orang.
9. Pemilu Tahun 2004: Untuk melakukan pengawasan Pemilu 2004 dibentuk Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) tingkat Pusat 9 orang, Panitia Pengawas Pemilu Provinsi 7 orang, Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota 5 orang, dan Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan 3 orang, yang berasal dari unsur Kepolisian Negara, Kejaksaaan, Perguruan Tinggi, Tokoh Masyarakat dan Pers. Panwaslu 2004 dibentuk dan ditetapkan dengan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor : 88 Tahun 2003.
Kabupaten/Kota dibentuk Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten/Kota, di tingkat Kecamatan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan, dengan anggota disetiap tingkat sebanyak 3 (tiga) orang. Selain itu, tingkat Desa/Kelurahan dibentuk Pengawas Pemilu Lapang (PPL).
2.4. Peranan Pengawas Pemilu
Berdasarkan Perbawaslu No.13 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengawasan Pemilihan Umum yang dimaksud dengan Pengawasan Pemilu adalah kegiatan mengamati, mengkaji, memeriksa, dan menilai proses penyelenggaraan Pemilu sesuai peraturan perundang-undangan. Di Indonesia Pengawas Pemilu dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan tahapan pemilu, menerima pengaduan, serta menangani kasus-kasus pelanggaran administrasi dan pelanggaran pidana pemilu.
Dibentuknya pengawas pemilu dengan tujuan untuk menegakkan integritas penyelenggara, penyelenggaraan dan hasil pemilu melalui pengawasan berintegritas dan berkredibilitas; untuk mewujudkan Pemilu yang demokratis; memastikan terselenggaranya Pemilu Kada secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan berkualitas, serta dilaksanakannya peraturan perundang-undangan mengenai Pemilu Kada secara menyeluruh; mengoptimalkan sosialisasi proses dan hasil pengawasan; meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membantu pengawasan; melakukan kegiatan lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
terselenggara dengan demokratis secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam menjalankan peranannya yang cukup penting dalam mengawasi proses penyelenggaraan Pemilu Kada, Pengawas Pemilu dituntut kenetralannya dan ketidakberpihakannya dalam menjalankan mekanisme pengawasan pada seluruh tahapan proses Pemilu Kada.
Tugas Panwaslu Kabupaten/Kota dalam mengawasi penyelenggaraan Pemilu Kada diatur dalam Pasal 77 UU No. 15/2011, antara lain:
a. Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/kota. b. Menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan
perundang-undangan mengenai Pemilu.
c. Menyelesaikan temuan dan laporan sengketa penyelenggaraan Pemilu yang tidak mengandung unsur tindak pidana.
d. Penyampaian temuan dan laporan kepada KPU Kabupaten/Kota untuk ditindaklanjuti.
e. Meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang.
f. Menyampaikan laporan kepada Bawaslu sebagai dasar untuk mengeluarkan rekomendasi Bawaslu yang berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu oleh penyelenggara Pemilu di tingkat kabupaten/kota.
pegawai sekretariat KPU Kabupaten/ kota yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu yang sedang berlangsung.
h. Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu
i. Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diberikan oleh undang-undang. Menurut Titik Triwulan Tutik (2005), selain adanya ketentuan normatif tentang tugas dan wewenang pengawas Pemilu, serta prosedur dan mekanisme penyelesaian masalah pelanggaran dan sengketa Pemilu, setidaknya ada 4 (empat) syarat yang harus dipenuhi agar lembaga pengawas mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya : Pertama, Pengawas Pemilu harus merupakan badan independen dan non partisan yang memilik integritas dan dedikasi tinggi; Kedua,
jajaran pengawas harus memiliki kapasitas dan kapabilitas yang cukup; Ketiga,
pengawas mendapat dukungan dari penegak hukum dan masyarakat luas; dan
Keempat, memperoleh fasilitas yang memadai dalam memjalankan tugasnya. Menurut ketentuan undang-undang Pemilu penyimpangan atau pelanggaran dan sengketa Pemilu dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu : (1) pelanggaran administrasi, (2) pelanggaran aturan Pemilu yang mengandung unsur pidana atau bisa juga disebut tindak pidana, dan (3) sengketa Pemilu.
Pengawas pemilu dapat menyelesaikan sengketa yang terjadi selama tahapan Pemilu dan dapat memberi putusan final dan mengikat; Ketiga, terhadap tindak pidana Pemilu, peran Pengawas Pemilu adalah mengkaji dan kemudian meneruskannya kepada penyidik Polri, Pengawas Pemilu tidak mempunyai kewenangan untuk menyelesaikannya.
2.5. Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013
Indonesia sudah sejak lama menganut sistem demokrasi, namun pada kenyataannya keterlibatan rakyat sebagai elemen penting dari demokrasi dalam berbagai proses politik tidak mendapat peran dan perhatian yang signifikan, padahal keterlibatan rakyat dalam menentukan dan memilih pemimpinnya merupakan salah satu indikator berjalannya proses demokratisasi. Era demokratisasi yang sesungguhnya dimulai sejak dimasukannya Pilkada sebagai bagian dari rezim Pemilu, yang selanjutnya dikenal dengan Pemilu Kada. Hal ini merupakan cara memaknai ketentuan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis dengan mekanisme pemilihan langsung.
24 ayat 5). Hal ini merupakan lompatan besar dalam perjalanan demokrasi di Indonesia, karena sebelumnya kepala daerah dipilih oleh rakyat melalui perwakilannya yang duduk di lembaga perwakilan/DPRD. Cara pemilihan seperti ini dirasakan kurang mewakili dan mencerminkan aspirasi rakyat disebabkan rakyat tidak mengetahui kapasitas dan kualitas calon pemimpin, dan melemahkan aspek akuntabilitas dan transparansi sebagai syarat terwujudnya good governance
(pemerintahan yang baik).
Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara langsung mempunya aspek positif terhadap kehidupan demokrasi secara lokal/regional, antara lain dengan pemilihan secara langsung kepala daerah yang terpilih akan memiliki legitimasi yang kuat, sehingga akan meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah. Pemerintahan dengan legitimasi yang kuat akan menyebabkan tingkat partisipasi masyarakat dalam mendukung proses pembangunan lebih tinggi, sehingga pemerintahan yang baik (good governance) dapat tercipta.
Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara diselenggarakan pada tanggal 07 Maret 2013, diikuti oleh 5 pasangan calon yaitu :
1. Pasangan nomor urut 1: Gus Irawan Pasaribu- Ir. Soekirman (Gusman) didukung 23 partai politik yaitu : Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai barisan nasional (Barnas), Partai Buruh, Partai Kedaulatan, Partai Merdeka, Partai Karya Perjuangan (PKP), Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), Partai Pelopor, Partai Indonesia Sejahtera (PIS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Kasih Demokrasi Indonesia (PKDI), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Matahari Bangsa (PMB), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB), Partai Persatuan Nahdatul Ummah Indonesia (PPNUI), Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI), Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (PNBK), dan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).
2. Pasangan nomor urut 2 : Drs. Effendi MS Simbolon- H. Jumiran Abdi (ESJA) didukung oleh tiga partai politik yaitu :Partai PDI Perjuangan, PPRN dan Partai Damai Sejahtera (PDS).
4. Pasangan nomor urut 4 : H. Amri Tambunan-RE Nainggolan didukung oleh Partai Demokrat.
5. Pasangan nomor urut 5 : H. Gatot Pujo Nugroho, ST- Ir. Tengku Erry Nuradi (Ganteng) didukung oleh lima partai politik yaitu : Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Patriot dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
2.6. Kerangka Berpikir
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir
Pemilihan Umum Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2013
Pemilih Penyelenggara Peserta
Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan
KPU Kota Medan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis/Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode penelitian ini digunakan untuk mengetahui bagaimana peranan Pengawas Pemilu Kota Medan pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
3.2. Lokasi Penelitian/ Unit Analisis
Penelitian dilakukan di Kota Madya Medan dengan unit analisis adalah Panita Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan. Pemilihan lokasi dan unit analisis didasarkan atas pertimbangan Kota Medan merupakan kota terbesar di Provinsi Sumatera Utara dengan tingkat kompleksitas yang tinggi, jumlah penduduk yang banyak dan jumlah pemilih yang paling banyak di Provinsi Sumatera Utara, sehingga permasalahan Pemilu juga sangat kompleks dan banyak, disamping itu juga disebabkan adanya konflik internal di antara komisioner Panwaslu Kota Medan pada waktu Pemilu Kada tersebut.
3.3. Informan
1. Drs. Masa Padang (mantan Ketua Panwaslu Kota Medan) 2. Irfan Fadila Mawi, SH (mantan anggota Panwaslu Kota Medan) 3. Helen N.M. Napitupulu, SH (mantan anggota Panwaslu Kota Medan)
Sedangkan sebagai informan tambahan diambil dari mantan anggota Panwaslu Kecamatan, mantan PPL, pihak penyelenggara Pemilu yang lain yaitu KPU Kota Medan, peserta pemilu dan penyidik dari kepolisian pada Sentra Gakkumdu pada saat Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013, yaitu : 1. Marasina Famly (mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Medan Belawan) 2. Haris Ricardo (mantan Ketua Panwaslu Kecamatan Medan Kota)
3. Azhariyadi (mantan PPL Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan) 4. Dra. Evi Novida Ginting, MSP (mantan Ketua KPU Kota Medan)
5. Pandapotan Tamba, SH, MH (anggota KPU Kota Medan)
6. Salman Al Farisi, Lc, MA (Ketua Tim Kampanye Kota Medan untuk Pasangan Calon Ganteng)
7. Adi Haris Siregar, SE (Ketua Tim Kampanye Povinsi Sumatera Utara untuk Pasangan Calon Gusman)
8. Edward Simatupang ( Polisi penyidik pada Sentra Gakkumdu Polresta Medan) Sebagian informan tambahan didapat melalui teknik efek bola salju pada saat wawancara dengan para informan utama.
3.4. Pengumpulan data
informan. Data sekunder merupakan data-data pendukung berupa dokumen, laporan-laporan, dan lain sebagainya.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam yang dipandu dengan pedoman wawancara. Wawancara ditujukan kepada informan penelitian yaitu mantan komisioner Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan, mantan komisioner Panwaslu Kecamatan, mantan PPL, Komisioner KPU Kota Medan, Tim Kampanye Pasangan Calon Peserta Pemilu Kada dan Polisi Penyidik Pada Sentra Gakkumdu pada saat berlangsungnya penyelengaraan Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
Penelitian Dokumen: untuk melengkapi data penelitian ini akan diambil dokumen yang berhubungan dengan pelaksanaan pengawasan Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013.
3.6. Metode Analisis / Analisis Data
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Lokasi / Unit Analisis Penelitian 4.1.1. Gambaran Umum Kota Medan
3
- Batas utara : Kabupaten Deli Serdang dan Selat Malaka
Secara geografis, wilayah kota Medan berada antara 3”30’- 3”43’ LU dan 98”35’ – 98”44’ BT dengan luas wilayah 265,10 km2 dan batas-batas sebagai berikut :
- Batas Selatan : Kabupaten Deli Serdang - Batas Timur : Kabupaten Deli Serdang - Batas Barat : Kabupaten Deli Serdang
Kota Medan merupakan salah satu dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dan merupakan ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan kondisi topografinya Kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada
ketinggian 2,5- 37,5 meter diatas permukaan laut dengan luas 30.028,8 hektar (300,288 km2). Kota Medan memiliki 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan.
Pada Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013, jumlah pemilih Kota Medan yang terdaftar di DPT sebanyak 2.121.551 pemilih dengan jumlah TPS sebanyak 3.942.
4.1.2 Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan
Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan untuk Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Sumatera Utara Tahun 2013 dilantik pada tanggal 24 Oktober 2012. Panwaslu Kota Medan bersifat ad hoc untuk masa kerja sejak mulai dilantik sampai selesai semua tahapan Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013. Komisioner yang bertugas pada Panwaslu Kota Medan berjumlah tiga orang, sebagai Ketua yaitu :Drs. Masa Padang dan sebagai anggota yaitu : Helen Napitulu, SH dan Irfan Fadila Mawi, SH.
Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan dibagi kedalam tiga divisi yaitu: Divisi Umum, Divisi Pengawasan dan Hubungan Masyarakat, Divisi Penanganan dan Tindak Lanjut Pelanggaran. Adapun tugas masing-masing divisi sebagai berikut :
1. Divisi Umum pada Panwaslu Kabupaten/Kota mempunyai tugas : a. Menyusun rencana kegiatan Panwaslu Kabupaten/Kota; dan
b. Menetapkan langkah-langkah strategis untuk memberdayakan sumber daya manusia dalam rangka mengawasi penyelanggaraan Pemilu Kada di Kabupaten/Kota.
2. Divisi Pengawasan dan Hubungan masyarakat mempunyai tugas;
a. Mempersiapkan rencana, langkah-langkah, dan strategi pengawasan Pemilu Kada; dan
3. Divisi Penangan dan Tindak Lanjut Pelanggaran mempunyai tugas;
a. Mempersiapkan bahan hukum dan kajian atas adanya temuan dan/atau laporan pelanggaran Pemilu Kada;
b. Mempersiapkan langkah-langkah strategis dalam menindaklanjuti temuan dan/atau laporan pelanggaran Pemilu Kada; dan
c. Menyelesaikan sengketa Pemilu Kada.
Sesuai dengan Undang-Undang No.15 Tahun 2011 untuk mendukung kelancaran tugas dan wewenang Panwaslu Kabupaten/Kota dibentuk sekretariat Panwaslu Kabupaten/Kota yang dipimpin oleh kepala sekretariat. Kepala sekretariat Panwaslu Kabupaten/Kota adalah seorang pegawai Negeri Sipil.
4.2. Peranan Panitia Pengawas Pemilu Kota Medan pada Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013
Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Medan dalam menjalankan peranannya berpedoman kepada UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu dan Peraturan Badan Pengawas Pemilu (Perbawaslu) No. 13 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pengawasan Pemilihan Umum. Menurut undang-undang dan peraturan tersebut yang menjadi tugas dan wewenang Panwaslu Kabupaten/Kota adalah :
a. Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu di wilayah kabupaten/ kota yang meliputi :
2. Pencalonan yang berkaitan dengan persyaratan dan tata cara pencalonan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan pencalonan bupati/walikota;
3. Proses penetapan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan calon bupati/walikota;
4. Penetapan calon bupati/walikota; 5. Pelaksanaan kampanye;
6. Pengadaan logistik Pemilu dan pendistribusiannya;
7. Pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara hasil Pemilu; 8. Mengendalikan pengawasan seluruh proses penghitungan suara; 9. Pergerakan surat suara dari tingkat TPS sampai ke PPK;
10.Proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh KPU Kabupaten/Kota dari seluruh kecamatan;
11.Pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilu lanjutan, dan Pemilu susulan; dan
12.Proses penetapan hasil Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dan pemilihan bupati/walikota;
b. Menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai Pemilu;
c. Menyelesaikan temuan dan laporan sengketa penyelenggaraan Pemilu yang tidak mengandung unsur tindak pidana;
e. Meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang;
f. Menyampaikan laporan kepada Bawaslu sebagai dasar untuk mengeluarkan rekomendasi Bawaslu yang berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu oleh Penyelenggara Pemilu di tingkat kabupaten/ kota;
g. Mengawasi pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi Bawaslu tentang pengenaan sanksi kepada anggota KPU Kabupaten/ Kota, sekretaris dan pegawai sekretariat KPU Kabupaten/kota yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu yang sedang berlangsung;
h. mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu; dan
i. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan dan perundang-undangan.
Hal di atas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bapak Masa Padang dalam wawancara :
”kita kerja itu punya devisi masing-masing; Devisi Pengawasan (Devisi Pengawasan dan Humas); Irfan, Devisi Penindakan (Devisi Penanganan dan Tindak Lanjut Pelanggaran); Helen Napitupulu dan Devisi Umum berkaitan dengan administrasi, membawahi seluruh SDM dan keuangan; Drs Masa padang.” (wawancara pada tanggal 20 Januari 2014)
Demikian juga yang dikatakan oleh Ibu Helen Napitupulu bahwa dalam melaksanakan tugas pengawasan komisioner Panwaslu Kota Medan dibagi dalam 3 devisi yaitu: Divisi Umum, Divisi Pengawasan dan Humas, Divisi Penanganan Pelanggaran.
Untuk memudahkan pelaksanaan pengawasan Panwaslu Kota Medan membagi wilayah kerja mereka menjadi 3 wilayah sesuai jumlah komisioner dan masing-masing komisioner mengawasi 7 Kecamatan. Hal ini dijelaskan oleh Bapak Masa Padang :
”sebelum diadakan pengawasan, setiap panwas membuat semacam job description (pembagian tugas), jadi kalau misalkan kami di Kota Medan ada 3 komisioner, 21 kecamatan dibagi 3, setiap anggota komisioner mendapat 7 kecamatan.” (wawancara pada tanggal 20 Januari 2014).
Sesuai dengan pasal 9 Perbawaslu No 13 Tahun 2012 dalam menjalankan fungsi pengawasan Panwaslu Kota Medan menerapkan strategi pengawasan yaitu: a. Pencegahan terhadap potensi pelanggaran dengan melakukan tindakan,
langkah-langkah dan upaya optimal mencegah secara dini terhadap potensi pelanggaran dan/atau indikasi awal pelanggaran.
Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Irfan Fadila Mawi: ”fungsi pengawasan itu ada dua hal, dilakukannya pengawasan itu bersifat pencegahan dan penindakan.” (wawancara pada tanggal 30 Januari 2014) Pernyataan Ibu Helen menguatkan hal tersebut di atas :
”sebenarnya tugas pengawas itu mengawasi semua tahapan, nah tahapannya apa saja?, mulai dari pemutakhiran data, kampanye, pencalonan, pendistribusian logistik sampai dengan pemungutan dan penghitungan suara. Sebenarnya strategi pengawasan sudah ada di masing-masing tahapan, strateginya pencegahan dan penindakan, pencegahannya; apa yang mau dilakukan misalnya untuk menghindarkan yang seperti itu tadi (pelanggaran-pelanggaran)?.” (wawancara pada tanggal 07 Pebruari 2014).
Dalam menjalankan perannya Panwaslu Kota Medan tidak terlepas dari peran Panwaslu Kecamatan dan peran Pengawas Pemilu Lapangan, karena dalam menjalankan tugas pengawasan tahapan penyelenggaraan pemilu, Panwaslu Kota Medan harus bekerjasama dan melibatkan Panwaslu Kecamatan dan Pengawas Pemilu Lapangan se-Kota Medan sesuai dengan Pasal 78 Undang-Undang No. 15 tahun 2011. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Bapak Haris Ricardo:
”jadi memang ujung tombak pengawas ini Panwascam (Panwaslu Kecamatan), dengan banyak, luas wilayah hampir tidak ada temuan yang ditemukan Panwaslu Kota, semuanya itu dari Panwascam.” (wawancara pada tanggal 25 Pebruari 2014)
4.2.1. Mengawasi Tahapan
4.2.1.1. Pemutakhiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan daftar pemilih sementara dan daftar pemilih tetap
Penyelenggara Pemilihan Umum dan Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Perbawaslu) No. 1 Tahun 2011 tentang Pengawasan Pemutakhiran Data Pemilih dan Penetapan Daftar Pemilih dalam Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan pembentukan Panwaslu Kota Medan, Panwaslu Kecamatan dan Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) se-Kota Medan. Tahapan pemutakhiran data pemilih berdasarkan data kependudukan dilaksanakan mulai tanggal 14 September 2012 sampai dengan tanggal 06 Maret 2012, sedangkan Panwaslu Kota Medan baru dilantik pada tanggal 24 Oktober 2012 dan Panwaslu Kecamatan se-Kota Medan dilantik pada tanggal 08 Desember 2012, demikian juga PPL baru terbentuk sebulan sebelum pemungutan suara. Demikian dijelaskan oleh Bapak Masa Padang :
”DPS, Panwaslu (Panwascam) belum terbentuk, DPT, Panwaslu (Panwascam) sudah terbentuk.” (wawancara pada tanggal 20 Januari 2014) Hal serupa dikatakan juga oleh Bapak Irfan Fadila Mawi :
”pemutakhiran data biasanya DPS ke DPT itu bermasalah, mulai dari kecamatan DP4, pada waktu itu kendalanya begini, PPK sudah terbentuk Panwascam kita belum, pelaksanaan tahapan untuk di kecamatan sudah terbentuk, tapi Panwascam kita terbentuk di bulan dua belas, jadi bulan dua belaslah mereka bekerja, ada sebagian yang tidak terawasi karena Panwascam lama terbentuk, orang sudah kerja kita belum terbentuk, karena bulan 12 tahapan sudah masuk.” (wawancara pada tanggal 30 Januari 2014)
Sejalan dengan hal di atas Bapak Marasina Famly mengatakan :
Pada saat penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Panwaslu Kota Medan sudah terbentuk dan menjalankan fungsi pengawasan dengan bekerjasama dengan Panwascam se-Kota Medan, namun pelaksanaan pengawasan ini belum berjalan maksimal disebabkan pada saat tersebut Pengawas Pemilu Lapangan belum terbentuk. Pengawasan terhadap DPT hanya dapat dilakukan secara acak dengan mengambil beberapa sampel, jadi tidak secara keseluruhan DPT diperiksa. Cara mengambil sampel juga tidak ada petunjuk baku dari Panwaslu Kota Medan tetapi diserahkan kepada insiatif masing-masing Panwaslu Kecamatan. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Masa Padang :
”kalau fungsi pengawasan pada saat DPT, seluruh Panwas, anggota Panwas mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai kecamatan diarahkan untuk mengawasi DPT yang telah ditetapkan oleh KPU. Cara kita seperti ini; DPT kita dapat dari KPU dibuat dasar acuan kita di lapangan, untuk lebih mengefisienkan pengawasan, kita membuat semacam prioritas, tidak semua kelurahan kita periksa, kita bekerja secara acak di beberapa tempat dari DPT itu misalnya Kecamatan Medan Tembung terdiri dari 7 kelurahan jadi kita ambil satu-dua kelurahan, dari satu kelurahan itu pun kita ambil beberapa tempat sesuai dengan DPT, di situlah muncul nanti bahwa masyarakat yang ada di DPT tidak ada, atau memang masyarakat yang di DPT itu sudah pindah, diambil sampel di beberapa kelurahan, tidak seluruh kelurahan, kalau seluruh kelurahan nanti anggota kita terbatas kan? yang melaksanakan Panwas Kecamatan.” (wawancara pada tanggal 20 januari 2014)
Demikian juga ditegaskan oleh Bapak Marasina Famly :
”justru semakin luar biasa perintah Panwas kota Medan untuk melakukan verifikasi DPT yang telah ada, di setiap kecamatan diambil sampel, satu kecamatan mengambil 3 TPS sampel di kelurahan acak yang ada di kecamatan masing-masing, kalau Belawan tidak di 3 kelurahan, di 6 kelurahan kita lakukan verifikasi DPT.” (wawancara pada tanggal 04 Pebruaru 2014)
”mereka (Panwaslu Kota Medan) juga diberikan daftar sementara DPS dan juga DPT dari situ mereka bisa crosscheck, apakah tanggapan dari partai atau calon itu sudah masuk atau tidak, karena orang itu (partai atau calon) juga bersifat hirarki, juga berjenjang, jadi itu peranan mereka (Panwaslu Kota Medan) dalam pelaksaanaan pemutakhiran data.” (wawancara pada tanggal 10 Pebruari 2014)
Untuk memudahkan pengawasan terhadap DPT, Devisi Pengawasan dan Humas, Panwaslu Kota Medan menginstruksikan kepada seluruh staf dan pegawai Kantor Panwaslu Kota Medan dan seluruh Panwaslu Kecamatan untuk memeriksa apakah mereka dan keluarganya sudah termasuk dalam DPT dengan menggunakan DPT yang diberikan KPU sebagai dasar acuan. Hal ini dikemukakan oleh Bapak Irfan Fadila Mawi :
”di kantor saya instruksikan untuk devisi pengawasan melakukan pengawasan lebih dahulu kepada rekan sejawat dan keluarga, internal dulu, biar beres, bagaimana kita mau mengawasi orang lain, sementara RT (rumah tangga) kita belum beres, jadi itu yang saya bilang, saya minta kepada staf dan karyawan pada saat itu meminta pengawasan DPS ’supaya nama kalian, nama keluarga dan teman sejawat dan sebagainya masukkan, kalau tidak ada sampaikan, itu jadi temuan di kecamatan,’ ini namanya kami belum nyampe (ada)’ dari kecamatan, nanti sudah kita instruksikan dibawanya data, selesaikan di PPK, dimasukkan nama yang belum terdaftar, kemudian ada nama yang sudah terdaftar tapi sudah meninggal dunia mohon dicoret, itu yang kita sampaikan pada saat itu instruksinya, itu mengenai DPT.”(wawancara pada tanggal 30 januari 2014)
Hal tersebut juga dikemukakan oleh Bapak Haris Ricardo :
Dari hasil pengawasan secara acak terhadap DPT maka ditemukanlah berbagai permasalahan seperti adanya penduduk yang tidak terdata disebabkan karena mereka tidak melapor atau pada saat dilakukan pendataan oleh Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih) mereka tidak berada di tempat, karena biasanya pendataan dilakukan pada siang hari pada saat mereka bekerja; pemilih ganda; pemilih fiktif; dan pemilih faktual yaitu pemilih yang berbeda tempat tinggalnya dengan data alamat pada Kartu Tanda Penduduk (KTP), selain itu ditemukan juga penempatan nama-nama pemilih di TPS-TPS tidak sesuai dengan tempat tinggalnya, sementara untuk penduduk yang sudah meninggal dan anggota TNI/POLRI tidak ditemukan lagi. Demikian yang diutarakan oleh Bapak Masa Padang :
cepat dicoret orang itu, KPU kan cepat mencoret.” (wawancara pada tanggal 20 januari 2014)
Sejalan dengan hal di atas Bapak Irfan Fadila Mawi juga mengatakan : “banyak sebenarnya temuan kita di beberapa kecamatan yang menemukan nama-nama siluman (fiktif), kalau kita bilang namanya siluman, orangnya ada tapi namanya bukan itu, ada namanya orangnya bukan itu, ada nama dan orangnya tapi alamatnya bukan itu, kita bilang ini penggelembungan terhadap data, nama-nama siluman itulah, masak ada orangnya tapi tempat tinggalnya tidak ada, termasuk di rumah saya, di rumah saya ada 5 orang yang tidak saya kenal orangnya tapi ada nama” (wawancara pada tanggal 30 Januari 2014)
Adapun Bapak Marasina Famly menjelaskan lebih lanjut sebagai berikut : “di Belawan, di 6 kelurahan kita lakukan verifikasi DPT hasilnya sangat luar biasa, hasilnya 30% pemilih yang ada di DPT itu tidak ada orangnya, kita melakukan verifikasi terhadap 34 TPS yang ada di Kecamatan Medan Belawan, sehingga kalau dibilang orang, golputnya hampir 50% wajar-wajar saja, bahwasanya kita melakukan verifikasi 30 % memang tidak ada orangnya, penempatan orang di TPS itu tidak sehebat yang kita bayangkan, misalnya dia di jalan A, TPS nya di jalan B, silang dia, sehingga penduduk itu malas untuk melakukan, mendatangi TPS-TPS itu, memang orangnya tidak ada, karena PPS itu bekerja berdasarkan DP4.” (wawancara pada tanggal 04 Pebruari 2014)
Berdasarkan hasil pengawasan terhadap DPT, Panwaslu Kota Medan dan Panwaslu Kecamatan se-Kota Medan kemudian merekomendasikan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) se-Kota Medan untuk memasukkan nama-nama yang tidak terdaftar ke dalam DPT . Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Bapak Pandapotan Tamba :
perlu dilibatkan dalam pemutakhiran data ini agar up to date dan tidak fiktif dibelakang hari.” (wawancara pada tanggal 10 Pebruari 2014)
4.2.1.2. Pencalonan, proses pencalonan dan penetapan calon gubernur
Pemilu Kada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 dilaksanakan untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara, maka sesuai dengan ketentuan di dalam undang-undang, pengawasan terhadap tahapan pencalonan, proses pencalonan dan penetapan calon gubernur merupakan wewenang Panwaslu Provinsi Sumatera Utara, bukan wewenang Panwaslu Kota Medan. Hal ini dikemukakan oleh Bapak Masa Padang:
”pengawasan lebih dominan di tingkat provinsi, karena Pilgub di ranah propinsi, kalau pendaftaran calon, kami tidak terlibat dalam pengawasan.” (wawancara pada tanggal 20 januari 2014)