BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
Penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan tentang chikungunya masih belum cukup baik karena rata-rata nilai total pengetahuan responden hanya 5,43 dari nilai maksimum 10. Dari tabel 5.3. terlihat bahwa pertanyaan/pernyataan pada kuesioner yang paling banyak dijawab dengan benar adalah pertanyaan/pernyataan tentang habitat vektor chikungunya. Hal ini menurut peneliti dapat sedemikian rupa karena tempat tinggal masyarakat Kecamatan Pangkalan Kerinci yang termasuk wilayah endemis berada pada wilayah tropis. Sedangkan pertanyaan/pernyataan yang paling banyak dijawab salah adalah pertanyaan/pernyataan nomor 7 tentang cara memberantas nyamuk dewasa dan pertanyaan/pernyataan nomor 8 tentang berapa lama telur nyamuk akan menjadi jentik. Hal ini menurut peneliti menunjukkan bahwa responden kurang teliti dalam menganalisa jawaban yang diberikan, hal ini mungkin terjadi akibat responden mengisi kuesioner dengan buru-buru tanpa menganalisa jawaban yang paling tepat terlebih dahulu. Mengenai pertanyaan nomor 8, menurut peneliti mungkin karena pertanyaan yang diberikan terlalu sulit.
Dari tabel 5.4 diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan dengan kategori cukup memiliki persentase paling besar yaitu 45.8%. Hal yang sama juga dikemukakan Marini (2009) yaitu sebanyak 83.3% responden mempunyai pengetahuan sedang. Sejalan dengan hasil yang didapatkan oleh Florensi (2004) yakni sebanyak 79% responden mempunyai pengetahuan sedang.
Dari tabel 5.5. dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan yang dikategorikan baik dan cukup paling banyak pada kelompok usia 17-37 tahun, hal ini sejalan dengan penelitian Moro et al (2010), dikatakan bahwa pengetahuan tentang chikungunya berhubungan dengan umur dimana umur yang lebih tua memiliki pengetahuan yang lebih sedikit. Dari tabel tersebut didapatkan tingkat pengetahuan pada kategori kurang juga didapatkan lebih sedikit pada kelompok usia 38-58 tahun, hal ini mungkin disebabkan oleh distribusi frekuensi yang tidak seimbang antara kedua kelompok usia dimana pada tabel 5.1. didapatkan frekuensi kelompok usia 17-37 tahun lebih banyak, yaitu sebanyak 76 orang sedangkan kelompok usia 38- 58 tahun hanya sebanyak 20 orang.
Jika ditinjau berdasarkan jenis kelamin, tingkat pengetahuan laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda karena sebenarnya saat ini perempuan juga memiliki akses yang sama dengan laki-laki dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Moro et al (2010), dimana tersirat bahwa pada hasil penelitian tersebut pengetahuan masyarakat terhadap chikungunya tidak ada hubungan jenis kelamin.
Pendidikan merupakan sarana untuk mendapatkan informasi sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin banyak pula informasi yang didapatkan. Dari tabel 5.5. di atas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan yang dikategorikan baik dan cukup paling banyak pada kelompok dengan tingkat pendidikan tinggi sedangkan tingkat pengetahuan yang dikategorikan kurang paling banyak pada kelompok dengan tingkat pendidikan rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
5.2.2. Sikap
Awalnya, dari 13 pertanyaan yang telah dirancang, maka dilakukan uji validitas untuk mengukur apakah pertanyaan yang akan digunakan bisa mengukur variabel yang diinginkan oleh peneliti. Dari hasil uji validitas yang dilakukan, hanya didapatkan 8 pertanyaan valid.
Dari hasil analisa data dapat dilihat bahwa sikap masyarakat terhadap chikungunya berada dalam kategori baik, yaitu sebesar 72.9%. Hasil ini sejalan dengan penelitian Marlina (2005), dimana didapatkan 100% responden memiliki sikap yang baik dan Hutapea (2007) yang mendapatkan 99.7% responden mempunyai sikap yang baik. Namun, berkebalikan dengan hasil yang didapatkan Marini (2009) yang mendapatkan 66.3% responden mempunyai sikap sedang.
Dari tabel 5.8. ditinjau dari segi usia dapat dilihat bahwa sikap masyarakat yang dikategorikan baik dan cukup paling banyak terdapat pada rentang usia 17-
kategori baik tidak jauh berbeda. Sedangkan pada kategori kurang lebih banyak pada kelompok pria, hal ini mungkin disebabkan oleh pengetahuan yang kurang sebab sikap seseorang juga dipengaruhi oleh pengetahuan. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan sikap yang dikategorikan baik paling banyak terdapat pada kelompok dengan tingkat pendidikan tinggi, hal ini sejalan dengan penelitian Moro et al (2010), dimana didapatkan hasil faktor resiko terkena chikungunya lebih tinggi pada orang yang berpendidikan rendah, sebaliknya pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi lebih sedikit beresiko.
5.2.3. Tindakan
Tindakan diukur dengan 5 pertanyaan mengenai pencegahan dan penatalaksanaan awal pada pasien dengan gejala Chikungunya. Proporsi paling tinggi adalah responden dengan tindakan baik yaitu sebesar 91,7%. Hasil ini sedikit berbeda dengan Marlina (2005) yang memperlihatkan proporsi tertinggi untuk tindakan adalah kategori sedang. Begitu juga yang ditunjukkan oleh Hutapea (2007) dimana ada 99.11% responden yang mempunyai tindakan sedang. Hal ini mungkin disebabkan karena pembagian kategori tindakan, dimana peneliti hanya membagi dalam 2 kategori, yaitu: tindakan baik dan buruk.
Dari tabel 5.11. dapat dilihat bahwa tindakan masyarakat yang dikategorikan baik paling banyak terdapat pada rentang usia 17-37 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, tindakan masyarakat yang dikategorikan baik paling banyak terdapat pada kelompok laki-laki. Hasil ini bertolak belakang dengan penelitian Moro et al (2010), hal ini mungkin karena tindakan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor pendukung. Selain itu, kebiasaan seseorang juga menjadi salah satu faktor yang dapat memperngaruhi tindakan. Sedangkan jika ditinjau dari tingkat pendidikan, tindakan masyarakat yang dikategorikan baik paling banyak terdapat pada kelompok dengan tingkat pendidikan tinggi. Selaras dengan hasil yang didapat pada pengetahuan dan sikap masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap yang baik menghasilkan tindakan yang baik pula.
Jika dilihat lebih lanjut, ada ketidaksesuaian antara pengetahuan dan tindakan. Dimana didapatkan mayoritas tingkat pengetahuan terbesar yaitu dalam kategori cukup sebesar 45.8% sedangkan mayoritas responden memiliki tindakan baik sebesar 91.7%. menurut Notoatmodjo (2003) seseorang dapat bertindak atau berperilaku tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya, dengan kata lain tindakan seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan dan sikap. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang didasari oleh pengetahuan.
Tindakan merupakan realisasi dari pengalaman dan sikap menjadi perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk nyata dan terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, tetapi tidak selalu orang yang berpengetahuan baik langsung melakukan tindakan yang benar.