BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Karakteristik Responden berdasarkan Perilaku Seksual Siswi di SMA Negeri 17 Medan
Perilaku seksual adalah manifestasi dari adanya dorongan seksual yang dapat diamati secara langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap-tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga yang paling berat (Purnomowardani dan Koentjoro, 2000). Menurut Kinsey (dalam Harahap, 2004) mengemukakan bahwa perilaku seksual mencakup empat tahapan yaitu bersentuhan (touching) meliputi berpegangan tangan sampai berpelukan, berciuman (kissing) meliputi ciuman pendek hingga ciuman dengan mempermainkan lidah (deep kissing), bercumbuan (petting) meliput i menyentuh bagian yang sensitif dari tubuh pasangan dan mengarah pada pembangkitan gairah seksual , dan berhubungan kelamin.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap siswi di SMA Negeri 17 Medan menunjukkan bahwa umumnya responden mempunyai perilaku seksual positif (78%) dan hanya (22%) yang mempunyai perilaku seksual negatif. Dari aspek-aspek perilaku seksual siswi tersebut, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pengetahuan dan sikap siswi serta adanya peran orang tua, guru, teman sebaya, dan akses media informasi yang siswi peroleh berkaitan dengan adanya perilaku seksual siswi (Kurniawan, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian ini terlihat gambaran tentang kegiatan yang pernah dilakukan responden selama berpacaran dimana mayoritas responden menyatakan pernah berpegangan tangan selama berpacaran (71%), berpelukan (36%), berciuman bibir (22%), dan berciuman dengan
mempermainkan lidah (10%). Dalam hal ini responden cenderung menganggap bahwa berpelukan dan berciuman bukan merupakan perilaku seksual karena tingkatannnya masih ringan dan hal ini masih merupakan suatu hal yang wajar (Purnomowardani dan Koentjoro, 2000).
2. Hubungan Predispocing Factor terhadap Perilaku Seksual Siswi di SMA Negeri 17 Medan
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan berdasarkan Predispocing Factor dapat dilihat dari pengetahuan dan sikap siswi terhadap perilaku seksual. Dilihat dari pengetahuan siswi tentang perilaku seksual, dari hasil uji chi square diperoleh OR=3,48 dan nilap p = 0,03, hasil ini menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan.
Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Suryoputro (2006) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang menunjukkan bahwa ada pengaruh pengetahuan terhadap perilaku seksual mahasiswa dengan signifikansi sebesar 0,02 dan OR=0,33. Hasil penelitian sesuai dimana terdapat pengaruh yang signifikan pengetahuan terhadap perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan.
Namun demikian dalam penelitian ini memiliki perbedaan karakteristik responden dimana berdasarkan hasil penelitian mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan, persentase responden yang berperilaku seksual positif 82,7% terdapat pada responden dengan pengetahuan kategori baik dan 57,9% terdapat pada
responden dengan pengetahuan kategori buruk. Artinya semakin baik pengetahuan siswi maka perilaku seksual siswipun akan semakin positif. Persentase karakteristik responden ini berbeda dengan hasil penelitian Suryoputro (2006) dimana responden mahasiswa yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang “sangat rendah” cenderung untuk tidak melakukan hubungan seksual pra-nikah.
Perbedaan ini terjadi karena pengetahuan bukan merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap perilaku seksual remaja karena ada beberapa faktor lain yang menghubungkan antara pengetahuan dengan perilaku remaja. Pengetahuan tentang perilaku tentang perilaku seksual ini tidak hanya didapat dari pendidikan formal saja tetapi dari pengalaman, maupun orang lain yang berada disekitarnya. Sehingga semakin besar pengetahuannya tentang perilaku seksual semakin baik perilaku seksualnya, apalagi apabila pengalaman yang diperoleh siswi mengenai dampak negatif dari perilaku seksual ini sehingga mereka menghindari perilaku negatif ini. Menurut Surono (1997 dalam Nursal, 2007) pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya dibandingkan dengan yang tidak tahu sama sekali, tetapi ketidaktahuan juga membahayakan. Pengetahuan seksual yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi.
Hal yang sama dikemukakan oleh Nursal (2007) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual murid SMU Negeri di Kota Padang dengan uji chi square menunjukkan bahwa remaja dengan pengetahuan relatif rendah mempunyai peluang 11,90 kali berperilaku seksual berisiko berat dibandingkan pengetahuan relatif tinggi. Selanjutnya
dikemukakan dalam hasil penelitian tersebut bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan seksual masih rendah, umumnya yang menjawab benar di bawah 50% hanya mengenai PMS, HIV-AIDS di atas 50%.
Berdasarkan hasil penelitian ini pengetahuan siswi di SMA Negeri 17 Medan mayoritas baik (81%). Hal ini berkaitan dengan hasil penelitian mengenai pengetahuan responden pada perilaku seksual dimana mayoritas responden menyatakan bahwa melakukan hubungan seksual dengan berganti- ganti pasangan dapat terjangkit PMS, HIV/AIDS (94%), melakukan hubungan seksual saat wanita dalam masa subur dapat menyebabkan kehamilan (77%), dan hubungan seksual merupakan salah satu perilaku seksual remaja (76%).
Menurut Bandura (1990 dalam Suryoputro, 2006) bahwa perilaku seksual bukan merupakan hasil langsung dari pengetahuan atau keterampilan, melainkan suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang dengan menyatukan ilmu pengetahuan, harapan, status emosi, pengaruh sosial dan pengalaman yang didapat sebelumnya untuk menghasilkan suatu penilaian atas kemampuan mereka dalam menguasai situasi yang sulit. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dengan hanya meningkatkan pengetahuan tentang seksual saja, walaupun penting namun belum tentu cukup untuk dapat mencapai perubahan perilaku yang dikehendaki.
Notoatmodjo (2007) mengemukakan sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu
yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb, salah seorang ahli psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan untuk berekasi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Berdasarkan sikap siswi terhadap perilaku seksual siswi, hasil uji chi square diperoleh OR= 4,38 dan nilai p = 0,01 hal ini menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan pengetahuan dengan perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan. Persentase responden yang berperilaku seksual positif yaitu 83,1% terdapat pada responden dengan sikap kategori baik dan 52,9% terdapat pada responden dengan sikap kategori buruk. Hal ini menunjukan semakin baik sikap siswi maka perilaku seksual siswipun akan semakin positif.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nursal (2007) tentang faktor- faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual murid SMU Negeri di Kota Padang dengan uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan perilaku seksual remaja dimana remaja dengan sikap relatif negatif memiliki peluang 9,94 kali berperilaku seksual berisiko berat dibanding sikap relatif positif.
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden menyatakan bahwa melakukan hubungan seks tidak diperbolehkan karena
menimbulkan hilangnya harga diri dan perasaan berdosa (94%), meraba bagian tubuh pasangan dapat meningkatkan gairah hingga tahap hubungan seksual sehingga harus dihindari (93%), melakukan hubungan seks berganti pasangan menyebabkan terjangkitnya PMS sehingga harus dihindari (91%), dan berciuman bibir dapat mendorong pasangan pria untuk meraba daerah sensitif wanita sehingga harus dihindari (91%). Dalam hal ini dapat diartikan jika siswi mempunyai sikap positif terhadap berbagai jenis perilaku seksual
maka potensi untuk berperilaku positif cukup besar pula. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoadmodjo, 2007).
Sikap merupakan respon tertutup yang manifestasinya tidak dapat
dilihat langsung dan merupakan predisposisi tingkah laku. Dalam hal ini dapat diartikan jika remaja mempunyai sikap positif terhadap berbagai jenis perilaku seksual maka potensi untuk berperilaku positif cukup besar pula (Nursal, 2008).
3. Hubungan Reinforcing Factor terhadap Perilaku Seksual Siswi di SMA Negeri 17 Medan
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan berdasarkan reinforcing factor dapat dilihat dari peran orang tua, guru dan teman sebaya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan peran orang tua terhadap perilaku seksual siswi, dari hasil uji chi square diperoleh OR = 3,1 dan nilai p sebesar 0,04 hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan peran orang tua dengan perilaku seksual siswi. Dimana persentase responden yang berperilaku seksual positif 84,3% terdapat pada responden
dengan peran orang tua kategori mendukung dan 63,3% terdapat pada responden dengan peran orang tua kategori tidak mendukung.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Prastana (2005 dalam Nursal, 2008) adanya analisa WHO pada berbagai literatur kesehatan reproduksi dari seluruh dunia yang menyatakan bahwa pola asuh adalah merupakan faktor risiko perilaku seksual risiko berat. Berbagai interaksi antara remaja dengan orang tua menunda bahkan mengurangi perilaku hubungan seksual pada remaja. Tidak adanya pengawasan dari orang tua akan mempercepat remaja melakukan hubungan seksual. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Mesche (1998 dalam Nursal 2008) juga menyatakan bahwa remaja yang diawasi oleh orang tuanya, remaja dengan pola asuh otoriter, remaja yang berasal dari keluarga yang konservatif dan memegang kuat tradisi dan remaja mempunyai hubungan akrab dengan orang tuanya akan menunda umur pertama melakukan hubungan seksual.
Hal ini terlihat dari adanya peran orang tua dimana responden menyatakan orang tua menasehati anak agar dalam berpacaran bisa menjaga diri sehingga tidak terjadinya hubungan seksual (89%), melarang anak berpelukan saat berpacaran (88%), dan melarang anak berpacaran di tempat sepi untuk menghindari aktivitas seksual yang tidak diinginkan (85%) sehingga dalam hal ini responden akan cenderung berperilaku seksual positif. Hal ini karena komunikasi orang tua dengan anak memegang peran yang sangat penting dalam membina hubungan keduanya. Orang tua yang kurang bisa berkomunikasi dengan anaknya akan menimbulkan konflik hubungan sehingga dapat berdampak pada perilaku seksual remaja. Permasalahan yang sering muncul adalah bahwa sebagian orang tua dan
lingkungan masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah seks karena adanya anggapan bahwa membicarakan tentang kesehatan seksual adalah hal yang memalukan dan tabu bagi keluarga dan masyarakat sehingga remaja yang haus akan informasi berusaha sendiri mencari informasi. Informasi yang didapatkan remaja menjadi setengah-setengah yang justru membahayakan remaja karena akan mendorong remaja untuk mencoba-coba disamping menimbulkan salah persepsi (Syah, 2011).
Hal yang sama dikemukakan oleh Prihatin (2007 dalam Syah, 2011) hubungan komunikasi yang lancar dan terbuka sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja harus tetap dijaga. Orang tua harus dapat menyediakan waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan anak remaja di rumah. Sehubungan dengan itu menurut BKKBN (2002 dalam Kurniawan, 2008) bahwa orang tua perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan kesehatan reproduksi baik pengetahuan untuk diri sendiri maupun pengetahuan untuk anak remajanya. Orang tua perlu memahami kondisi anak remajanya yang sedang mengalami perubahan- perubahan pada dirinya, yang menyangkut proses reproduksi. Orang tua harus mempunyai kemampuan memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi kepada anak remajanya, agar memilki informasi proses reproduksi yang benar.
Dilihat dari aspek peran guru terhadap perilaku seksual siswi, dari hasil uji chi square diperoleh OR= 22,6 dan nilai p = 0,002 hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan peran guru dengan perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan. Dimana persentase responden yang berperilaku seksual positif 81,9% terdapat pada responden dengan peran guru
kategori mendukung dan 16,7% terdapat pada responden dengan peran guru kategori tidak mendukung.
Hal ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan dan sarana informasi melakukan berbagai tindakan preventif terhadap kecenderungan remaja terutama remaja putri terhadap perilaku seksual. Dimana dalam hal ini adanya keikutsertaan guru berperan dalam memberikan informasi berkala dan terus-menerus mengenai pentingnya menjaga pergaulan agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas, memaksimalkan tugas wali kelas dalam mengenal siapa peserta didiknya dan meningkatkan hubungan baik dengan peserta didik dan adanya kegiatan intra sekolah yang diadakan untuk memanfaatkan waktu luang peserta didik ke arah kegiatan yang positif (Sinn, 2013).
Hal yang sama dikemukakan oleh Syaodih (2004 dalam Vitaloka, 2012) yang menyatakan bahwa sekolah merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi konsep diri dimana sekolah sebagai tempat kedua setelah lingkungan keluarga yang dapat memberi pengalaman baru sebab dengan bersekolah anak dapat mengembangkan lingkungan fisik dan sosialnya. Apabila sekolah mempunyai fungsi sebagai wadah untuk mewujudkan seluruh kemampuan siswa dan merupakan lingkungan yang dapat memberi pengalaman baru kepada siswa, maka sekolah mempunyai peranan penting dalam mengembangkan konsep diri siswa. Dengan demikian, sekolah dituntut untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang memberi pengalaman baru yang dapat mengubah sikap atau pandangan siswa menjadi lebih positif. Peranan guru artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai
guru. Guru mempunyai peranan yang luas baik di sekolah, di keluarga, maupun di masyarakat.
Hal yang sama dikemukakan oleh Azwar (2009 dalam Kusumastuti 2010) yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Dalam hasil penelitian ini terlihat bahwa berkaitan dengan guru mayoritas responden menyatakan bahwa adanya peran guru dalam memberikan materi mengenai dampak melakukan hubungan seksual yaitu terjangkitnya penyakit kelamin dan HIV/AIDS (99%), menasehati siswi agar tidak melakukan hubungan seksual dalam berpacaran karena dapat merusak masa depan siswi (96%), dan memberikan layanan konseling apabila mengalami masalah khususnya saat siswi kedapatan berciuman di sekolah (94%). Sehingga dengan adanya materi yang disampaikan guru salah satunya mengenai dampak buruk hubungan seksual menjadi dasar bagi siswi dalam menambah pengetahuan siswi dan membentuk sikap untuk menghindari diri dari perbuatan negatif ini.
Dilihat dari aspek peran teman sebaya terhadap perilaku seksual siswi, hasil uji chi square diperoleh OR=4,5 dan nilai p = 0,02 hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan peran teman sebaya dengan perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan. Dimana persentase responden yang berperilaku seksual positif 81,8% terdapat pada
responden dengan peran teman sebaya mendukung dan 50% terdapat pada responden dengan peran teman sebaya tidak mendukung.
Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa dalam kelompok sebaya, remaja menjadi sangat bergantung kepada teman dan kedekatannya dengan teman sebaya begitu kuat (Santrock, 2003). Menurut Prihatin (2007 dalam Syah, 2011) teman sebaya dalam pergaulan kadang kala menjadi salah satu sumber informasi yang cukup signifikan dalam membentuk pengetahuan seksual di kalangan remaja, bahkan informasi teman sebaya bisa menimbulkan dampak negatif karena informasi yang mereka peroleh hanya melalui tayangan media massa seperti: film, VCD, televisi maupun pengalaman diri sendiri.
Hal yang sama dikemukakan oleh Collins dan Loursen (dalam Prihatin, 2007 dalam Syah, 2011) remaja cenderung lebih terbuka dalam menyelesaikan masalah dengan kelompoknya, hal ini karena adanya konflik atau perbedaan nilai yang dianut remaja dengan keluarga sehingga peran teman sebaya sangatlah berarti bagi kalangan remaja.
Berdasarkan peran teman sebaya mayoritas responden berbincang dengan teman yang menyatakan bila hanya duduk dan berbincang saja bukan dikatakan berpacaran (91%), menegur teman apabila berpacaran di tempat sepi (90%), dan berbincang dengan teman tentang dampak perilaku seksual pada remaja putri kehamilan yang tidak dikehendaki dan terjangkit penyakit kelamin (90%). Berdasarkan mayoritas pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa banyak remaja yang menganggap bahwa tidaklah cukup kegiatan berpacaran itu hanya sekedar duduk dan berbincang saja tetapi ada kegiatan lain yang lebih mengarah ke perilaku yang negatif baik itu kegiatan
berciuman, berpelukan sampai pada tahap melakukan hubungan seks barulah dikatakan berpacaran. Inilah yang membuat banyak siswi terjerumus ke perilaku seksual negatif yang sangat merugikan bagi diri remaja. hal ini didukung oleh referensi yang menyatakan bahwa pola komunikasi dalam lingkungan teman sebaya di sekolah maupun di luar sekolah seperti berbagi pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja dapat menentukan atau mendorong pembentukan perilaku remaja dalam kehidupannya sehari-hari dalam hal kesehatan reproduksi (Harahap, 2004).
4.Hubungan Enabling Factor terhadap Perilaku Seksual Siswi di SMA Negeri 17 Medan
Hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan menunjukan bahwa berdasarkan peran akses media informasi terhadap perilaku seksual siswi, dari hasil uji chi square diperoleh OR = 2,77 dan nilap p = 0,07 hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan peran akses media informasi dengan perilaku seksual siswi di SMA Negeri 17 Medan. Dimana persentase responden yang berperilaku seksual positif 83,3% terdapat pada responden dengan peran akses media informasi kategori mendukung dan 64,3% terdapat pada responden dengan peran akses media informasi kategori tidak mendukung.
Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Harahap, tahun 2004 tentang analisis beberapa faktor yang berhubungan dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja di SLTPN Medan dimana hasil analisis statistik dengan menggunakan uji korelasi product moment
menunjukan bahwa variabel keterpaparan informasi (r = 0,443) berkorelasi dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja.
Perbedaan ini terjadi karena jenis sumber informasi juga mempengaruhi perilaku seksual remaja dimana keterpaparan remaja terhadap informasi yang benar akan semakin kuat membuat kecenderungan remaja untuk memperbaiki perilaku kesehatn reproduksi. Sebaliknya jika informasi kesehatan reproduksi yang diperoleh tidak benar maka akan membuat remaja cenderung memiliki perilaku kesehatan reproduksi remaja yang kurang baik (Harahap 2004).
Remaja perlu mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sehingga remaja mengetahui hal-hal yang seharusnya dilakukan dan hal-hal yang seharusnya dihindari. Remaja mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi dan informasi tersebut harus berasal dari sumber yang terpercaya. Hal ini menujukan semakin banyak pun informasi yang didapat apabila berisi informasi yang salah maka ini akan mempengaruhi perilaku seksual siswi, dan semuanya itu dikembalikan lagi bagaimana siswi tersebut mengambil sikap apakah informasi tersebut bisa disaring antara mana yang positif dan negatif, dan bagaimana sikap siswi untuk menghindari atau tidak melakukan perilaku negatif tersebut.
Hal yang sama dikemukakan oleh Nursal (2008) yang menyatakan bahwa media massa sebagai media infomasi selain mengandung nilai manfaat sering tidak sengaja menjadi media informasi yang ampuh untuk menabur nilai-nilai baru yang tidak diharapkan masyarakat itu sendiri. Media elektronik maupun cetak, menjadi penyumbang terbesar bagi
rusaknya pergaulan remaja. Apalagi televisi karena kehadirannya hampir
full time (24 jam) di hadapan kita. Bisa dibayangkan kalau remaja tiap hari
kerjanya hanya menonton televisi maka tingkah laku dan prinsip hidupnya adalah hasil contekan dari apa yang dia lihat di televisi.
Media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Selain tergantung dari jenis informasi yang diperoleh, disamping itu pula perilaku ditentukan oleh reaksi seseorang terhadap penerimaan
informasi tersebut. Menurut De Vito (2004, dalam Kuwatono, 2010)
menyatakan bahwa sebanyak apapun orang lain memberikan kesan terhadap
apa yang seseorang lakukan, dia juga bereaksi pada perilaku diri sendiri dengan cara menginterpretasi dan mengevaluasinya. Apabila seseorang melakukan hal-hal yang dipercaya sebagai sesuatu yang salah, maka dia akan bereaksi negatif dengan perilakunya. Melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kepercayaan bisa menyebabkan perasaan bersalah dalam diri, sebaliknya bila seseorang melakukan hal-hal yang diketahui sebagai sesuatau yang benar atau baik, maka dia akan merasa senang dengan perilaku dan diri sendiri. Interpretasi diri atau citra diri yang ditampilkan berupa pengetahuan tentang sifat-sifat positif diri serta dalam kategori apa seseorang menempatkan dirinya. Adapun untuk evaluasi diri meliputi penilaian terhadap diri sendiri dan penilaian mengenai perilaku seksual dalam hubungan berpacaran yang dilakukan para remaja.
Teori lain yang mendukung pernyataan di atas dikemukakan oleh
manusia akan terus berusaha menjaga konsistensi kognitif yang dia miliki. Salah satu caranya adalah melakukan seleksi, baik terhadap informasi dari media massa yang ingin ia dapatkan maupun terhadap orang -orang dengan pandangan yang sama. Setiap individu yang berbeda akan memiliki reaksi yang berbeda pula ketika menerima informasi dari media massa.
5.Faktor Paling Dominan Berhubungan dengan Perilaku Seksual Siswi di SMA Negeri 17 Medan
Beradasarkan hasil uji regresi logistik, diketahui bahwa dari keseluruhan variabel independen yang diduga mempengaruhi perilaku seksual siswi terdapat satu aspek yang paling berpengaruh terhadap perilaku