BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Perilaku Seksual Remaja
Istilah seks dan seksualitas merupakan dua hal yang berbeda. Istilah seks digunakan untuk mengacu pada bagian fisik dari berhubungan, yaitu aktivitas seksual genital. Seks juga digunakan untuk memberi label jender, baik seseorang itu pria atau wanita (Zawid, 1994 dalam Ropei, 2010).
Sedangkan seksualitas diekspresikan melalui interaksi dan hubungan dengan individu dari jenis kelamin yang berbeda dan mencakup pikiran, pengalaman, pelajaran, ideal, nilai, fantasi, dan emosi. Seksualitas berhubungan dengan bagaimana seseorang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunikasikan perasaan tersebut kepada lawan jenis melalui tindakan yang dilakukannya, seperti sentuhan, ciuman, pelukan, dan senggama seksual, dan melalui perilaku yang lebih halus, seperti isyarat gerakan tubuh, etiket, berpakaian (Denney & Quadagno, 1992; Zawid, 1994, dalam Ropei, 2010).
Adapun pendapat lain yang dikemukakan Stuart (2006, dalam Ropei, 2010) bahwa seksualitas adalah suatu keinginan untuk menjalin hubungan, kehangatan atau cinta dan perasaan diri secara menyeluruh pada individu, meliputi memandang dan bicara, berpegangan tangan, berciuman, atau memuaskan diri sendiri, dan sama-sama menimbulkan orgasme.
Bila dilihat dari segi dimensi biologis, seksualitas berkaitan dengan organ reproduksi, termasuk bagaimana menjaga kesehatan reproduksi, menggunakan secara optimal sebagai alat untuk bereproduksi dan bisa mengekspresikan dorongan seksual. Dari dimensi psikologis, seksualitas berhubungan erat dengan identitas peran jenis, peran terhadap seksualitas sendiri dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual. Dimensi sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas itu muncul dalam relasi antar manusia bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan perilaku seks. Dimensi kultural menunjukkan bagaimana perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang ada di masyarakat (Sahaja, 1999 dalam Evlyn, 2005).
Menurut Nurhidayah dan Setiawan (2008) seks/seksual tidak sepenuhnya berarti hubungan kelamin (masalah fungsi kelamin secara fisik/reproduksi) namun juga berkaitan dengan fungsi psikososial (berperilaku) yang tidak saja menimbulkan kepuasan bagi diri sendiri tetapi juga pada orang lain.
Menurut Hurlock (1999) dorongan seksual dipengaruhi oleh : a. Faktor internal, yaitu stimulus yang berasal dari dalam diri individu yang berupa bekerjanya hormon-hormon alat reproduksi sehingga menimbulkan dorongan seksual pada individu yang bersangkutan dan hal ini menuntut untuk segera dipuaskan, b. Faktor eksternal, yaitu stimulus yang berasal dari luar individu yang menimbulkan dorongan seksual sehingga memunculkan perilaku seksual. Stimulus eksternal tersebut dapat diperoleh melalui pengalaman kencan, informasi mengenai seksualitas, diskusi dengan teman, pengalaman masturbasi, pengaruh orang dewasa serta pengaruh buku-buku bacaan dan tontonan porno.
2. Perilaku Seksual Remaja
Perilaku seksual adalah manifestasi dari adanya dorongan seksual yang dapat diamati secara langsung melalui perbuatan yang tercermin dalam tahap- tahap perilaku seksual dari tahap yang paling ringan hingga yang paling berat (Purnomowardani dan Koentjoro, 2000).
Sedangkan menurut Rahayu (2005 dalam Retnaningtias, 2009) perilaku seksual adalah beralihnya perhatian remaja ke lawan jenisnya kemudian diikuti saling tertarik, saling mendekati dan berkeinginan untuk mengadakan kontak fisik yang diwarnai nafsu seksual. Selain itu pula pengertian perilaku seksual ini pula dikemukakan Sarwono (2005, dalam Retnaningtias, 2009)
bahwa perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya ataupun dengan sesama jenis.
Menurut Kinsey (dalam Harahap, 2004) mengemukakan bahwa perilaku seksual mencakup empat tahapan yaitu: a. Bersentuhan (touching), mulai dari berpegangan tangan sampai berpelukan, b. Berciuman (kissing), mulai dari ciuman pendek hingga ciuman dengan mempermainkan lidah (deep kissing), c. Bercumbuan (petting), menyentuh bagian yang sensitif dari tubuh pasangan dan mengarah pada pembangkitan gairah seksual, dan d. Berhubungan kelamin.
Perilaku seksual ini sangat berkaitan erat dengan persoalan yang banyak dihadapi oleh remaja terutama yang berkaitan dengan persoalan kesehatan reproduksi. Menurut Makhfudli (2009) angka kejadian remaja melakukan hubungan seksual sebelum menikah menunjukan gejala yang cukup mengkhawatirkan.
3. Perkembangan Perilaku Seksual Remaja
Soetjiningsih (2004, dalam Kurniawan, 2008) adanya perkembangan fisik termasuk organ seksual serta peningkatan kadar hormon reproduksi atau hormon seks baik pada anak laki-laki maupun pada anak perempuan akan menyebabkan perubahan perilaku seksual remaja secara keseluruhan. Perkembangan seksual tersebut sesuai dengan beberapa fase mulai dari praremaja, remaja awal, remaja menengah sampai pada remaja akhir. Fase pertama adalah pra remaja. Masa remaja adalah suatu tahap untuk memasuki tahap remaja yang sesungguhnya. Pada masa pra remaja ada beberapa indikator yang telah dapat ditentukan untuk menentukan identitas gender laki- laki atau perempuan. Beberapa indikator biologis yang berdasarkan jenis
kromosom, bentuk gonad dan kadar hormon. Ciri-ciri perkembangan seksual pada masa ini antara lain ialah perkembangan fisik yang masih tidak banyak beda dengan sebelumnya. Pada masa remaja ini mereka sudah mulai senang mencari informasi tentang seks dan mitos seks baik dari teman sekolah, keluarga atau dari sumber lainnya. Penampilan fisik dan mental secara seksual tidak banyak memberikan kesan yang berarti.
Fase yang kedua adalah remaja awal, merupakan tahap awal atau permulaan remaja sudah mulai tampak ada perubahan fisik yaitu fisik sudah mulai matang dan berkembang. Pada masa ini remaja sudah mulai mencoba melakukan karena telah seringkali terangsang secara seksual akibat pematangan yang alami. Rangsangan ini diakibatkan oleh faktor internal yaitu meningkatnya kadar testosteron pada laki-laki dan estrogen pada remaja perempuan. Sebagian dari mereka amat menikmati apa yang mereka rasakan, tetapi ternyata sebagian dari mereka justru selama atau sesudah merasakan kenikmatan tersebut kemudian merasa kecewa dan berdosa. Perasaan berdosa ini diakibatkan pemahaman agama yang mereka pahami dari tokoh agamanya yaitu mereka akan berdosa bila melakukan onani. Hampir sebagai besar dari laki-laki dari periode ini tidak bisa menahan untuk tidak melakukan onani sebab pada masa ini mereka sering kali mengalami fantasi. Sebagian dari mereka amat menikmati apa yang mereka rasakan, tetapi ternyata sebagian dari mereka justru selama atau sesudah merasakan kenikmatan tersebut kemudian merasa kecewa dan merasa berdosa.
Fase ketiga adalah remaja menengah. Pada masa remaja menengah, para remaja sudah mengalami pematangan fisik secara penuh yaitu anak laki- laki sudah mengalami mimpi basah sedangkan anak perempuan sudah
mengalami haid. Pada masa ini gairah seksual remaja sudah mencapai puncak sehingga mereka mempunyai kecenderungan mempergunakan kesempatan untuk melakukan sentuhan fisik. Namun demikian, perilaku seksual mereka masih secara alamiah, sebagian besar dari mereka mempunyai sikap yang tidak mau bertanggung jawab terhadap perilaku seksual yang mereka lakukan.
Fase keempat adalah remaja akhir. Pada masa remaja akhir, remaja sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh sudah seperti orang dewasa. Mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkan aspek-aspek perkembangan pada masa remaja.
Dari tahapan perkembangan seksual di atas maka terdapat tugas perkembangan remaja yang berhubungan dengan seks, tugas perkembangan pertama adalah pembentukan hubungan baru dan yang lebih matang dengan lawan jenis. Tugas tersebut tidaklah mudah baik bagi remaja laki-laki maupun perempuan, setelah melewati tahun-tahun terakhir masa kanak-kanak yang bahkan keduanya memiliki kelompok dan minat masing-masing. Ketika mereka secara seksual telah matang, laki-laki maupun perempuan mulai mengembangkan minat terhadap lawan jenis, juga mengembangkan minat pada berbagai kegiatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Minat yang baru ini mulai berkembang bila kematangan seksual telah tercapai, bersifat romantis dan disertai dengan keinginan yang kuat untuk memperolah dukungan dari lawan jenis.
Tugas perkembangan yang kedua adalah belajar memerankan peran seks yang diakui. Tugas ini lebih sulit bagi banyak remaja, terutama bagi
perempuan, dibandingkan penguasaan tugas perkembangan dalam masalah seks yang pertama yaitu belajar bergaul dengan lawan jenis. Anak perempuan seringkali memasuki masa remaja dengan emmbawa konsep peran wanita yang kabur sekalipun konsep tentang pria lebih jelas dan terumus dengan baik.
4. Penyebab Perilaku Seksual Remaja
Penyebab terjadinya perilaku seksual remaja menurut Makhfudli (2009) salah satunya adalah remaja yang tidak memperoleh informasi yang cukup dan benar tentang kesehatan reproduksi. Selain itu masih banyak remaja yang belum menyentuh pelayanan kesehatan reproduksi (informasi, konseling, pelayanan medis) karena terhambat oleh beberapa faktor seperti belum tersedianya pelayanan seperti kondisi geografis, ekonomis, dan psikologis; petugas yang tidak akrab dengan remaja dan kurangnya informasi di tempat pelayanan.
Menurut Sarwono (2008 dalam Hastutik, 2011), terdapat 5 faktor penyebab seks yang dilakukan oleh remaja yaitu: a. Meningkatnya libido seksualitas dimana remaja mengalami perubahan-perubahan fisik dan peran sosial yang terjadi pada dirinya. b.Penundaan usia perkawinan dimana penundaan usia perkawinan ini terjadi karena banyak hal, salah satunya adalah karena kecenderungan masyarakat untuk meningkatkan taraf pendidikan. c.Tabu-larangan dimana seks dianggap bersumber pada dorongan-dorongan naluri yang bertentangan dengan dorongan “moral” sehingga menyebabkan remaja pada umumnya tidak mau mengakui aktivitas seksualnya dan sangat sulit diajak berdiskusi tentang seks, d.Kurangnya informasi tentang seks. Pada umumnya remaja tanpa pengetahuan yang
memadai tentang seks akan salah mengartikan tentang seks. Hal ini disebabkan karena kurangnya informasi tentang seks dari orang tua sehingga mereka berpaling ke sumber-sumber lain yang tidak akurat. e. Pergaulan yang makin bebas dimana terjadi kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, khususnya remaja di kota-kota besar yang sangat mengkhawatirkan apalagi jika kurangnya pemantauan dari orang tua.
Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Tengah implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang menunjukkan bahwa responden mahasiswa yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang “sangat rendah” cenderung untuk tidak melakukan hubungan seksual pra-nikah.
Seperti yang dikatakan oleh Bandura (1990) bahwa perilaku seksual tersebut tidak merupakan hasil langsung dari pengetahuan atau keterampilan, melainkan suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang dengan menyatukan ilmu pengetahuan, harapan, status emosi, pengaruh sosial dan pengalaman yang didapat sebelumnya untuk menghasilkan suatu penilaian atas kemampuan mereka dalam menguasai situasi yang sulit. Sehingga, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dengan hanya meningkatkan pengetahuan tentang seksual dan kesehatan reproduksi remaja, PMS & HIV/ AIDS saja, walaupun penting namun belum tentu cukup untuk dapat mencapai perubahan perilaku yang dikehendaki (Suryoputro, 2006).
Penelitian Nursal (2007) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual murid SMU Negeri di Kota Padang menunjukkan bahwa remaja dengan pengetahuan relatif rendah mempunyai peluang 11,90
kali berperilaku seksual berisiko berat dibandingkan pengetahuan relatif tinggi. Pengetahuan remaja tentang kesehatan seksual masih rendah, umumnya yang menjawab benar di bawah 50%, hanya mengenai PMS, HIV- AIDS di atas 50%. Menurut Surono (1997 dalam Nursal 2007) pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali, tetapi ketidaktahuan juga membahayakan. Pengetahuan seksual yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba- coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi.
5. Resiko Perilaku Seks Remaja
Menurut Notoatmojdo (2007 dalam Hastutik, 2011) begitu banyak remaja yang tidak tahu dari akibat perilaku seksual mereka terhadap kesehatan reproduksi baik dalam keadaan waktu yang cepat ataupun dalam waktu yang lebih panjang. Beberapa resiko perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi, yaitu : a.Hamil yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy). Merupakan salah satu akibat dari perilaku seksual remaja. Anggapan-anggapan yang keliru seperti melakukan hubungan seks pertama kali, atau hubungan seks jarang dilakukan, atau perempuan masih muda usianya, atau bila hubungan seks dilakukan sebelum dan sesudah menstruasi, atau bila mengunakan tehnik coitus interuptus (senggama terputus), kehamilan tidak akan terjadi merupakan pencetus semakin banyaknya kasus unwanted pregnancy (hamil yang tidak dikehendaki), b.Penyakit Menular Seksual (PMS)-HIV/AIDS. Dampak lain dari perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah terhadap PMS termasuk HIV/AIDS. Sering kali remaja melakukan hubungan seks yang tidak aman. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan
remaja semakin rentan untuk tertular HIV/PMS seperti sifilis, gonore, herpes, klamidia, dan AIDS, c.Psikologis dimana dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah konsensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi, pihak perempuan atau tepatnya korban utama dalam masalah ini. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi.
6. Upaya-Upaya Penanggulangan Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja Terdapat beberapa cara untuk menghindari pergaulan seks remaja yaitu: a.Mencari kegiatan-kegiatan atau alternatif baru sehingga dapat menemukan kepuasan yang mendalam dari interaksi yang terjalin (bukan kepuasan seksual), b.Membuat komitmen bersama dengan pacar dan berusaha keras untuk mematuhi komitmen itu. Komitmen dalam hal ini adalah kesepakatan dalam batasan-batasan seksual yang dipilih dalam hubungan pacaran, c.Menghindari situasi atau tempat yang kondusif menimbulkan fantasi atau rangsangan seksual seperti berduaan dirumah yang tidak berpenghuni, di pantai malam hari, tempat yang sepi dan gelap, d.Menghindari frekuensi pertemuan yang terlalu sering karena jika sering bertemu tanpa adanya aktifitas pasti dan tetap, maka keinginan untuk mencoba aktifitas seksual biasanya semakin menguat, e.Melibatkan banyak teman atau saudara untuk berinteraksi sehingga kesempatan untuk selalu berduaan makin berkurang,
f.Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah seksualitas dari sumber yang dapat dipercaya bukan dari blue film, buku stensilan dan lain- lain, g.Mempertimbangakan resiko dari tiap-tiap perilaku seksual yang dipilih. h.Mendekatkan diri pada Tuhan dan berusaha keras menghayati norma atau nilai yang berlaku (Nitya, 2009 dalam Hastutik, 2011).
Selain hal-hal di atas ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan seksual yang terjadi pada remaja salah satunya adalah dengan melaksanakan pendidikan kesehatan reproduksi remaja di setiap jenjang sekolah lanjutan di mulai pada tingkat pertama (SMP) sederajat, Sekolah Menengah Atas (SMA) (Prihatin, 2007 dalam Syah, 2011) dan jika perlu dilakukan pula pada jenjang pendidikan tinggi atau diploma, baik sekolah negeri atau swasta melalui metode peer education yang bersifat youth friendly (ramah terhadap remaja) artinya tidak hanya memberi materi melalui proses belajar mengajar di kelas, tetapi dikembangkan dengan metode lain seperti pemasangan mading, poster tentang kesehatan reproduksi, pembentukan kegiatan ekstrakurikuler dengan memasukan materi-materi kesehatan reproduksi didalamnya (Dewi, 2009 dalam Syah, 2011) seperti acara kesenian sekolah atau drama teater yang memuat materi dasar kesehatan reproduksi yang proporsional seperti fungsi organ sistem reproduksi manusia yang mencakup pemahaman remaja tentang perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat menjadi remaja, mengenal masa subur, terjadinya proses kehamilan, pencegahan penyakit menular seksual, perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab, akibat dari kehamilan tidak dikehendaki, Prihatin (2007 dalam Syah 2011).
Petugas kesehatan sebaiknya dapat melakukan kunjungan ke sekolah- sekolah untuk memberikan informasi dasar kesehatan reproduksi dan seksualitas yang proporsional sesuai dengan pemahan dan tingkat pendidikan remaja serta tidak menganggap tabu untuk membicarakan permasalahan kesehatan reproduksi dan seksualitas serta penerapan program reproduksi secara benar dan berkelanjutan ( Prihatin 2007, dalam Syah 2011).
Taufik dan Anganthi (2007, dalam Syah 2011) menambahkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menanggapi sikap dan perilaku reproduksi remaja antara lain perlunya informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja buat orang tua agar orang tua bisa mengikuti perkembangan seksualitas anaknya. Pentingnya meningkatkan peran orang tua dan guru sebagai sumber informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja dengan cara membekali dengan pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi. Selain itu peningkatan peranan orang tua dan guru penting dilakukan dengan membuat pertemuan rutin (semacam parenting class) bagi remaja atau dengan menjalin kerja sama dengan stasiun radio atau televisi untuk membuat paket acara yang berisi informasi tentang kesehatan reproduksi remaja. Hal ini mengingat radio dan televisi adalah media yang paling diminati oleh remaja sementara informasi kesehatan remaja di radio dan televisi sangat minim. Acara-acara yang patut dipertimbangkan adalah acara-acara seperti talk show dan curhat remaja yang bersifat interaktif. Hal lain yang dapat dilakukan adalah lebih mengoptimalkan peran tempat-tempat ibadah seperti masjid dan musholla serta tempat-tempat ibadah agama lain sebagai pusat kegiatan siswa, agar siswa lebih dekat dengan kegiatan ibadah dan aktivitas-aktivitas
lainnya yang lebih terkontrol misalnya dengan membentuk kelompok pengajian, dll.
D. Pengaruh Orang Tua dalam Perilaku Seksual Remaja
Manurut Hurlock (1980) karena meningkatnya minat seks pada remaja, maka remaja selalu berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai seks. Hanya sedikit remaja yang berhrap bahwa seluk-beluk tentang seks dapat dipelajari dari orang tuanya. Oleh karena itu, remaja mencari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya karena hygiene seks di sekolah, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu, atau bersenggama. Pada akhir masa remaja sebagian besar remaja laki-laki dan perempuan sudah mempunyai cukup informasi tentang seks guna memuaskan keingintahuan mereka. Kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dalam masalah seksual, dapat memperkuat munculnya penyimpangan perilaku seksual. Komunikasi orang tua dengan anak memegang peran yang sangat penting dalam membina hubungan keduanya. Orang tua yang kurang bisa berkomunikasi dengan anaknya akan menimbulkan konflik hubungan sehingga dapat berdampak pada perilaku seksual remaja.
Permasalahan yang sering muncul adalah bahwa sebagian orang tua dan lingkungan masih menganggap tabu untuk membicarakan masalah seks karena adanya anggapan bahwa membicarakan tentang kesehatan seksual adalah hal yang memalukan dan tabu bagi keluarga dan masyarakat sehingga remaja yang haus akan informasi berusaha sendiri mencari informasi. Informasi yang didapatkan remaja menjadi setengah-setengah yang justru membahayakan remaja
karena akan mendorong remaja untuk mencoba-coba disamping menimbulkan salah persepsi (Syah, 2011).
Menurut Prihatin (2007, dalam Syah, 2011) hubungan komunikasi yang lancar dan terbuka sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja harus tetap dijaga. Orang tua harus dapat menyediakan waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan anak remaja di rumah.
Sehubungan dengan itu menurut BKKBN (2002, dalam Kurniawan, 2008) bahwa orang tua perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan kesehatan reproduksi baik pengetahuan untuk diri sendiri maupun pengetahuan untuk anak remajanya. Orang tua perlu memahami kondisi anak remajanya yang sedang mengalami perubahan-perubahan pada dirinya, yang menyangkut proses reproduksi. Orang tua harus mempunyai kemampuan memberikan pengetahuan kesehatan reproduksi kepada anak remajanya, agar memilki informasi proses reproduksi yang benar.
E. Pengaruh Guru dalam Perilaku Seksual Remaja
Menurut Syaodih (2004 dalam Vitaloka, 2012) menyatakan bahwa sekolah merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi konsep diri dimana sekolah sebagai tempat kedua setelah lingkungan keluarga yang dapat memberi pengalaman baru sebab dengan bersekolah anak dapat mengembangkan lingkungan fisik dan sosialnya. Apabila sekolah mempunyai fungsi sebagai wadah untuk mewujudkan seluruh kemampuan siswa dan merupakan lingkungan yang dapat memberi pengalaman baru kepada siswa, maka sekolah mempunyai peranan penting dalam mengembangkan konsep diri siswa. Dengan demikian, sekolah dituntut untuk dapat menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan memenuhi kebutuhan siswa, serta memberi pengalaman baru yang dapat
mengubah sikap atau pandangan siswa menjadi lebih positif, yang berarti tumbuhnya perasaan dihargai, dimiliki dan dianggap mempunyai kemampuan. Dalam proses pendidikan di sekolah terjadi interaksi pendidikan dan pengajaran antara pendidik (kepala sekolah, guru, konselor dan tenaga pendidik lain) dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan berfungsi membantu pengembangan seluruh potensi, kecakapan dan karakteristik peserta didik. Peranan pendidik lebih besar karena kedudukannya sebagai orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih banyak menguasai nilai-nilai, pengetahuan dan keterampilan.
Peranan guru artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Guru mempunyai peranan yang luas baik di sekolah, di keluarga, maupun di masyarakat. Di sekolah ia berperan sebagai perancang pengajaran, pengelola pengajaran,penilai hasil pembelajaran murid, pengarah pembelajaran dan sebagai pembimbing murid. Di dalam keluarga guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), pendorong masyarakat (social motivator), penentu masyarakat (social agent). Guru yang baik dan efektif ialah guru yang dapat memainkan semua perananan-peranan itu secara baik. Dilihat dari sudut pandang psikologis, guru adalah sebagai pakar psikologis pendidikan, artinya seseorang yang memahami psikologis pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia khususnya dengan siswa-siswa sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan, pembentuk kelompok, yaitu mampu membentuk, menciptakan kelompok dan aktivitas, aktivitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan,
catalytic agent atau inovator, yaitu orang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi pembuat suatu hal yang lebih baik, petugas kesehatan mental (mental hygiene worker) artinya, guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para siswa.