• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Pembahasan

Dari data hasil penelitian yang diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien minum obat di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan.

2.1. Dukungan Keluarga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukan bahwa mayoritas responden memberikan dukungan keluarga yang baik (65,6%) kepada anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa yang berobat ke Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan hal ini berarti keluarga memberikan dukungan yang adekuat dan terus-menerus selama pasien di rawat baik hal ini tampak pada keluarga yang mau membawakan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berobat secara berkala dan terus-menerus ke Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan.

Hal ini sesuai dengan hasil observasi peneliti selama melakukan penelitian di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan, dimana keluarga yang memberikan dukungan keluarga yang baik mempunyai jadwal yang teratur untuk membawakan anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa berobat ke Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan. Keluarga juga selalu konsultasi kepada dokter dan perawat tentang masalah kesehatan jiwa yang dialami oleh anggota keluarganya yang sakit. Selain itu keluarga juga menanyakan perkembangan kesehatan pasien kepada perawat atau dokter.

Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Emnina (2010) yang menyebutkan bahwa keluarga memberikan dukungan yang adekuat dan terus-menerus selama pasien di rawat baik dukungan pengharapan, nyata, informasi dan dukungan emosional.

Hasil penelitian ini diperkuat oleh teori yang yang dikemukakan oleh Rock & Dooley (1985 dalam Kuntjoro, 2002) bahwa keluarga memainkan suatu peranan bersifat mendukung selama penyembuhan dan pemulihan anggota keluarga sehingga mereka dapat mencapai tingkat kesejahteraan optimal. Dukungan keluarga yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupan secara spontan dengan orang-orang yang berada disekitarnya dalam hal ini anggota keluarganya.

Dukungan keluarga adalah dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga (suami, istri, anak, saudara kandung dan orang tua dari pasien) sehingga individu yang diberikan dukungan merasakan bahwa dirinya diperhatikan, dihargai, mendapatkan bantuan dari orang-orang yang berarti serta memiliki ikatan keluarga yang kuat dengan anggota keluarga yang lain (Lubis, Namora & Hasnida, 2009). Individu yang memperoleh dukungan keluarga yang tinggi akan menjadi individu yang lebih optimis dalam menghadapi masalah kesehatan dan kehidupan dan lebih terampil dalam memenuhi kebutuhan psikologi Suhita (2005 dalam Setiadi, 2008).

Menurut Friedman (1998), dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga

memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.

Menurut Friedman (1998), Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga lainnya adalah kelas sosial ekonomi orangtua. Kelas sosial ekonomi disini meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan. Dalam keluarga kelas menengah, suatu hubungan yang lebih demokratis dan adil mungkin ada, sementara dalam keluarga kelas bawah, hubungan yang ada lebih otoritas atau otokrasi. Selain itu orang tua dengan kelas sosial menengah mempunyai tingkat dukungan, afeksi dan keterlibatan yang lebih tinggi daripada orang tua dengan kelas sosial bawah.

2.2. Kepatuhan Pasien Minum Obat

Hasil penelitian menunjukan bahwa 62,5% pasien gangguan jiwa patuh meminum obat dan 37,5% diantaranya tidak patuh minum obat.

Menurut Husar (1995) penyebab ketidakpatuhan terhadap terapi obat adalah sifat penyakit yang kronis sehingga pasien merasa bosan minum obat, berkurangnya gejala, tidak pasti tentang tujuan terapi, harga obat yang mahal, tidak mengerti tentang instruksi penggunaan obat, dosis yang tidak akurat dalam mengkonsumsi obat dan efek samping yang tidak menyenangkan.

Baker & Kastermans (1994 dalam Kyngas, dkk, 2000) mengatakan bahwa kepatuhan merupakan bagian dari perilaku self care dan ketidak patuhan termasuk dalam self care defisit.

Menurut POM RI (2006) Secara umum, hal-hal yang perlu dipahami dalam meningkatkan tingkat kepatuhan pasien minum obat antara lain: 1) Pasien memerlukan dukungan bukan disalahkan, 2) Konsekuensi dari ketidak patuhan terhadap terapi jangka panjang adalah tidak tercapainya tujuan terapi dan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan, 3) Peningkatan kepatuhan pasien dapat meningkatkan keamanan penggunaan obat, 4) Kepatuhan merupakan faktor penentu yang cukup penting dalam mencapai efektifitas suatu sistem kesehatan, 5) Memperbaiki kepatuhan dapat merupakan intervensi terbaik dalam penanganan secara efektif suatu penyakit kronis, 6) Sistem kesehatan harus terus berkembang agar selalu dapat menghadapi berbagai tantangan baru, 7) Diperlukan pendekatan secara multidisiplin dalam menyelesaikan masalah ketidakpatuhan.

2.3. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien minum obat di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan

Hasil analisa statistik dalam penelitian ini adalah bahwa dukungan keluarga berhubungan secara positif dengan kepatuhan pasien minum obat (r = 0,566). Hasil analisa hubungan kedua variabel tersebut memiliki nilai signifikan yang dapat diterima, dimana p < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesa penelitian diterima, artinya bahwa pernyataan hipotesa adanya hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien minum obat dapat diterima. Dari nilai r = 0,566 yaitu diatas 0,5 maka ada korelasi positif tinggi, hubungan positif, dan interpretasi kuat menunjukan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga dalam pengawasan minum obat maka kepatuhan pasien dalam minum obat juga semakin tinggi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan kepatuhan pasien minum obat (Wardani, 2009).

Sebagaimana yang dinyatakan Francis & Satiadarma (2004) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga merupakan bantuan/sokongan yang diterima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat di dalam sebuah keluarga.

Nurdiana dkk (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa keluarga berperan penting dalam menentukan cara atau asuhan keperawatan yang diperlukan oleh pasien di rumah sehingga akan menurunkan angka kekambuhan.

Dukungan yang dimiliki oleh seseorang dapat mencegah berkembangnya masalah akibat tekanan yang dihadapi. Seseorang dengan dukungan yang tinggi akan lebih berhasil menghadapi dan mengatasi masalahnya dibanding dengan yang tidak memiliki dukungan (Taylor, 1995).

Pendapat diatas diperkuat oleh pernyataan dari Commission on the Family

(1998, dalam Dolan dkk, 2006) bahwa dukungan keluarga dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga, memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari serta mempunyai relevansi dalam masyarakat yang berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan.

Dokumen terkait