• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindakan Mahasiswa Keperawatan tentang Metode Diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.2.5 Tindakan Mahasiswa Keperawatan tentang Metode Diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara

Tindakan mahasiswa keperawatan tentang metode ceramah sebagian besar adalah cukup baik sebanyak 141 orang (66.2 %), baik sebanyak 72 orang (33.8 %) sedangkan tindakan buruk tidak ada (0.0 %). Kategori cukup baik terdapat pada mahasiswa program DIII (35.7%) dan mahasiswa S1 (30.5%).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan mampu melakukan suatu tindakan dengan cukup baik dalam pembelajaran dengan metode ceramah dengan memenuhi tingkatan dari tindakan itu sendiri, yaitu persepsi, respon terpimpin, dan mekanisme (Notoatmodjo, 2007; Nurhidayah, 2011).

5.2.5 Tindakan Mahasiswa Keperawatan tentang Metode Diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan mahasiswa keperawatan tentang metode diskusi sebagian besar adalah cukup baik sebanyak 141 orang (60.1 %), baik sebanyak 84 orang (39.4 %) sedangkan sikap buruk 4 orang (31.9%). Kategori cukup baik terdapat kedua program, yaitu mahasiswa program DIII (35.2%) dan mahasiswa S1 (31.0%).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan mampu melakukan suatu tindakan yang cukup baik dalam pembelajaran dengan metode diskusi dengan memenuhi tingkatan dari tindakan itu sendiri, yaitu persepsi, respon terpimpin, dan mekanisme (Notoatmodjo, 2007; Nurhidayah, 2011).

dan Diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sikap mahasiswa keperawatan tentang metode ceramah dan diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap mahasiswa keperawatan terhadap kedua metode adalah baik (61.3%).

Hasil yang berbeda didapatkan oleh Hastuti (2007) dalam penelitiannya tentang perbedaan penerapan metode diskusi dan ceramah mata ajaran Kebutuhan Dasar Manusia I pada mahasiswa semester I di mana terdapat perbedaan antara kedua metode tersebut. Hastuti (2007) menyimpulkan bahwa mahasiswa lebih menyukai metode ceramah dibandingkan diskusi.

Berdasarkan data demografi mahasiswa, usia mahasiswa terbanyak berada pada rentang 18-23 tahun dengan jumlah 202 orang (95%). Rentang usia ini termasuk pada masa awal transisi dewasa dan memasuki dunia kedewasaan (Levinson et al, 1978 dalam Potter & Perry, 2005) dan merupakan awal dari membuat rencana kehidupan sendiri, membuat keputusan, membangun identitas, mengembangkan minat, nilai-nilai dan sikap terkait dengan peran tersebut (Kozier, 2011; Berk, 2013). Masa ini merupakan masa pembentukan identitas baru di mana seorang mahasiswa akan mulai berkomitmen dan mulai mengevaluasi secara mendalam komitmen yang ada (Berk, 2013). Seorang mahasiswa akan berkomitmen dengan pilihannya dengan membentuk sikap yang sesuai untuk pembentukan identitas yang diinginkannya. Di lain hal, rentang usia ini merupakan masa usia yang umum dalam memasuki pendidikan tinggi dan

masa pergantian peran dari status siswa menjadi seorang mahasiswa. Pergantian peran dan tugas perkembangan ini secara tidak langsung akan mempengaruhi sikap dan tindakan mereka dalam menghadapi proses pembelajaran.

Pada penelitian ini jumlah mahasiswa terbanyak yaitu mahasiswa angkatan 2012 berjumlah 135 orang (63.4%). Hal ini bisa berpengaruh terhadap hasil penelitian. Mahasiswa angkatan 2012 merupakan mahasiswa tahun pertama yang menjalani proses perkuliahan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Posisi mereka sebagai “mahasiswa baru” juga memberikan dampak terhadap sikap pada proses pembelajaran sebagai proses adaptasi di lingkungan yang baru. Mereka akan bertindak sesuai dengan harapan lingkungannya.

Jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak sebanyak 172 orang (80.8%) dalam penelitian ini. Hal ini juga dapat mempengaruhi hasil penelitian. Versalle & McDowell (2005) menyebutkan bahwa perempuan lebih kooperatif dan bersimpati dibandingkan laki-laki. Mahasiswa perempuan akan cenderung lebih kooperatif selama proses pembelajaran dan memiliki simpati terhadap kedua metode pembelajaran sehingga akan menunjukkan sikap yang baik terhadap kedua metode pembelajaran tersebut.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Sakur (2008) dan Fiske et al (2002, dalam Fedi, 2012), yang menyimpulkan bahwa siswa perempuan memiliki sikap lebih positif dibandingkan laki-laki.

dan Diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tindakan mahasiswa keperawatan tentang metode ceramah dan diskusi pada Kurikulum Berbasis Isi di Universitas Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan mahasiswa keperawatan terhadap kedua metode adalah cukup baik (67.1%). Hasil statistik juga menunjukkan bahwa persentase tindakan mahasiswa pada metode diskusi lebih tinggi pada kategori cukup baik (68%) dibandingkan pada metode ceramah (66.2%). Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2006) yang menyebutkan bahwa metode diskusi dapat melibatkan mahasiswa secara aktif sehingga tindakan yang dihasilkan juga akan lebih positif.

Hasil yang berbeda didapatkan oleh Saliman (2006) yang menunjukkan bahwa tindakan mahasiswa pada proses pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi kurang baik dilihat dari keaktifan mahasiswa bertanya dan memberikan pendapat, mengerjakan tugas, kesungguhan mengerjakan tugas dan kelengkapan tugas, dan kehadiran selama perkuliahan.

Sama halnya dengan hasil pada sikap mahasiswa dalam pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi, tidak adanya perbedaan pada tindakan mahasiswa juga bisa dipengaruhi oleh data demografi mahasiswa. Berdasarkan data demografi mahasiswa, usia mahasiswa terbanyak berada pada rentang 18-23 tahun dengan jumlah 202 orang (95%). Rentang usia ini termasuk pada masa awal transisi dewasa dan memasuki dunia kedewasaan (Levinson et al, 1978 dalam Potter & Perry, 2005) dan merupakan awal dari membuat rencana kehidupan

sendiri, membuat keputusan, mengembangkan minat, nilai-nilai dan sikap terkait dengan peran tersebut (Kozier, 2011). Di lain hal, rentang usia ini merupakan masa usia yang umum dalam memasuki pendidikan tinggi dan masa pergantian peran dari status siswa menjadi seorang mahasiswa. Pergantian peran dan tugas perkembangan ini secara tidak langsung akan mempengaruhi tindakan mereka dalam menghadapi proses pembelajaran.

Jumlah mahasiswa terbanyak pada angkatan 2012 berjumlah 135 orang (63.4%) juga bisa memberikan pengaruh terhadap hasil pada penelitian ini. Mahasiswa angkatan 2012 merupakan mahasiswa tahun pertama yang menjalani proses perkuliahan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Mahasiswa tahun pertama akan beradaptasi dengan lingkungan yang baru dengan bertindak sesuai dengan harapan lingkungannya termasuk dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan teori evolusi sosiokultural yang mempelajari perubahan yang dibuat oleh individu dalam perilaku dan harapan sosial mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan dalam lingkungan sosial mereka (Campbell, 1965 dalam West & Turner, 2008).

Jumlah mahasiswa perempuan lebih banyak sebanyak 172 orang (80.8%) dalam penelitian ini. Versalle & McDowell (2005) menyebutkan bahwa perempuan lebih kooperatif dan bersimpati dibandingkan laki-laki. Mahasiswa perempuan akan cenderung lebih kooperatif selama proses pembelajaran dan memiliki simpati terhadap kedua metode pembelajaran, sehingga akan menunjukkan tindakan yang sesuai pada selama proses pembelajaran tersebut.

Namun demikian, meskipun hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan antara sikap dan tindakan mahasiswa terhadap kedua metode

berada dalam kategori baik ternyata hanya menghasilkan tindakan yang cukup baik.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2007) bahwa suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Perwujudan sikap dalam bentuk tindakan dipengaruhi beberapa faktor seperti fasilitas dan dukungan (support) (Akey, 2006). Fasilitas yang kurang mendukung dan kurangnya dukungan dosen selama proses pembelajaran ikut mempengaruhi tindakan mahasiswa.

Di dukung juga oleh hasil penelitian Baker (2000), Wasley et al (2000), Ryan & Deci (2000), Bryk & Belmont (1993), dalam Akey (2006) yang menyatakan bahwa dukungan (support) yang positif dari dosen dan kemampuan dosen mengelola kelas akan menghasilkan tindakan yang juga positif pada mahasiswa.

Selain itu, terlihat bahwa mahasiswa lebih menunjukkan tindakan yang berbeda pada kedua metode meskipun tidak signifikan. Tindakan pada metode diskusi didapatkan hasil persentase lebih besar dibandingkan metode ceramah. Hal ini menunjukkan bahwa metode diskusi sebagai metode pembelajaran aktif akan membentuk tindakan yang aktif pada mahasiswa dibandingkan dengan metode ceramah.

BAB VI

Dokumen terkait