• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Perawat sebagai Pelaksana Pelayanan Keperawatan di Puskesmas Dumai Barat Kota Dumai

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

2.1. Peran Perawat sebagai Pelaksana Pelayanan Keperawatan di Puskesmas Dumai Barat Kota Dumai

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan di Puskesmas Dumai Barat Kota Dumai, telah terlaksana dengan baik yaitu 59,1% perawat telah melakukan peran sebagai pelaksana pelayanan keperawatan. Hal ini seiring dengan pendapat Asmadi (2008) menyatakan bahwa peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang diharapkan oleh individu sesuai dengan status sosialnya. Jika seorang perawat, peran yang dijalankannya harus sesuai dengan lingkup kewenangan perawat. Sesuai dengan pernyataan diatas seperti misalnya peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan sebanyak 71,8% perawat telah melaksanakan perannya dengan baik, peran perawat sebagai koordinator sebanyak 61,8% perawat juga telah melaksanakan perannya dengan baik dan sebanyak 90,0% peran perawat sebagai pemberi nasehat, perawat telah melaksanakannya dengan baik serta peran perawat sebagai panutan sebanyak 86,4% perawat telah melaksanakannya dengan baik.

Dari penelitian ini juga didapatkan bahwa terdapat 40,9% perawat melakukan peran sedang, keadaan ini disebabkan karena masih ada peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan yang belum sepenuhnya dilaksanakan oleh perawat seperti misalnya peran perawat sebagai penemu kasus hanya 13,6% perawat melaksanakan perannya

dengan baik, begitu juga dengan peran perawat sebagai penyuluh kesehatan hanya 11,8% perawat melaksanakan perannya dengan baik.

Untuk dapat meningkatkan kinerjanya dalam masa transisi, perawat puskesmas diharapkan minimal dapat melaksanakan enam peran yaitu: peran perawat sebagai penemu kasus, peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan, peran sebagai pendidik/penyuluh kesehatan, peran perawat sebagai koordinator dan kolabolator, peran sebagai pemberi nasehat dan peran perawat sebagai panutan atau model peran (Dep Kes RI, 2006).

Berikut imi merupakan pembahasan masing- masing peran perawat sebagai pelaksana pelayanan keperawatan di Puskesmas Dumai Barat Kota Dumai sebagai berikut:

2.1.1. Peran Perawat Sebagai Penemu Kasus

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 13,6% perawat puskesmas melakukan perannya sebagai penemu kasus dan lebih dari setengah (54,6%) perawat puskesmas tidak pernah melakukan perannya sebagai penemu kasus seperti melakukan pengkajian langsung kemasyarakat, melakukan penemuan-penemuan kasus-kasus yang ada di Sekolah, dan melakukan penemuan kasus pada balita di Posyandu.

Hal ini dipengaruhi oleh kondisi puskesmas itu sendiri yaitu jumlah kunjungan puskesmas yang banyak perharinya dimana perawat di puskesmas mempunyai tugas rangkap seperti

tugas administrasi antara lain sebagai bendahara dan loket pendaftaran. Selain memberikan pelayanan di dalam gedung perawat di puskesmas juga memberikan pelayanan di luar gedung yang menyangkut program-program yang harus dilaksanakannya sehingga perawat tidak ada waktu untuk melakukan kunjungan kemasyarakat dalam mendeteksi dan menemukan kasus serta melakukan penelusuran terjadinya penyakit baik ke masyarakat, sekolah, maupun posyandu. Sehingga sering kali masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan yang datang melapor ke puskesmas jika terjadi kasus di masyarakat.

Hal ini sesuai dengan hasil kajian DepKes & UI (2004) bahwa perawat melakukan tugas lain, antara lain menetapkan diagnosis penyakit, membuat resep obat, melakukan tindakan pengobatan di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas dan melakukan tugas administrasi antara lain sebagai bendahara. 2.1.2. Peran Perawat Sebagai Pemberi Pelayanan Keperawatan

Peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan dari hasil penelitian didapat bahwa sebagian besar (71,8%) perawat di puskesmas selalu melakukan perannya seperti melakukan sikap memperhatikan dan bersahabat, melakukan pengkajian, membantu diagnostik masalah kesehatan, melaksanakan penyuluhan kesehatan tentang penyakit tertentu serta bertanya kembali setelah memberi penjelasan. Ini

menggambarkan bahwa peran perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan telah dilaksanakan dengan baik, seperti apa yang diungkapkan oleh Mubarak (2009) bahwa dalam pemberian pelayanan keperawatan perawat harus mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok/masyarakat berupa asuhan keperawatan kesehatan masyarakat yang utuh/holistik, komprehensif mulai dari masalah yag bersifat sederhana sampai masalah yang kompleks.

2.1.3. Peran Perawat Sebagai Pendidik/Penyuluh Kesehatan

Perawat di Puskesmas dari hasil penelitian yang didapati peneliti bahwa hanya 11,8% perawat puskesmas melakukan perannya sebagai pendidik/penyuluh kesehatan. Hal ini disebabkan karena selain jumlah kunjungan pasien yang banyak perharinya sering kali mendorong perawat untuk bergerak cepat agar pasien lain tidak menunggu lama, pasien juga selalu menuntut ketepatan waktu dalam pelayanan sehingga kadang-kadang perawat tidak sempat lagi untuk memberi pembelajaran dan pengajaran kepada pasien, seperti memberikan informasi tentang pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan seperti penyediaan air bersih, menjelaskan tentang nutrisi yang baik, memberikan informasi tentang pentingnya olah raga yang teratur, dan memberikan informasi tentang istirahat, menjelaskan tentang penyakit menular seperti TBC, HIV/AIDS, menjelaskan dan

mengajarkan bagaimana hidup bersih dan sehat, menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan serta menjelaskan informasi tentang tindakan yang akan dilakukan.

Hasil penelitian Husin, dkk (2009) menyatakan tentang pembinaan sikap profesional perawat dalam pelayanan keperawatan di Rumah Sakit Sari Mulia Banjarmasin bahwa perawat hanya menjelaskan jika pasien bertanya.

Perawat sebagai pendidik diharapkan mempunyai inisiatif bagaimana bisa terus memberikan informasi menyangkut kesehatan diluar puskesmas atau diluar jam kerja perawat serta mengembangkan kemampuannya terhadap pengontrolan penyakit melalui pelatihan-pelatihan bagi perawat terkait penyakit yang sering mewabah di lingkungan cakupan puskesmas

2.1.4. Peran Perawat Sebagai Koordinator Dan Kolabolator

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perawat sebagai koordinator/lkolabolator sebagian besar (61,8%) perawat puskesmas selalu melakukan perannya dan hanya 10,9% perawat puskesmas yang tidak pernah melakukan perannya sebagai koordinator dan kolabolator seperti segera memberikan penangganan terhadap respon yang dirasakan pasien, menanggapi semua keluhan dan menyarankan ke ahli gizi untuk terapi lainnya. Ini menggambarkan bahwa perawat puskesmas mampu melaksanakan perannya sebagai koordinator/kolabolator untuk

mengarahkan, merencanakan, dan mengorganisasikan pelayanan dari semua anggota tim kesehatan serta penghubung dengan institusi pelayanan kesehatan dan sektor terkait lainnya. Sesuai dengan pernyataan Mubarak (2005), bahwa peran perawat sebagai kolabolator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya, baik perawat dengan dokter, perawat dengan ahli gizi, perawat dengan ahli radiologi dan lain- lain dalam kaitannya membantu mempercepat proses penyembuhan klien (Mubarak, 2005).

2.1.5. Peran Perawat Sebagai Pemberi Nasehat

Mayoritas (90,0) perawat puskesmas dari hasil penelitian didapati selalu melaksanakan perannya sebagai pemberi nasehat seperti misalnya membantu untuk berpikir positif dalam menghadapi masalah kesehatan, memberikan pengertian pada keluarga tentang pentingnya peran keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan dan mendorong untuk mengungkapkan hal- hal yang membuat cemas. Ini menggambarkan bahwa perawat puskesmas mampu memberikan bimbingan penyuluhan kepada individu atau keluarga dalam melaksanakan perannya sebagai pemberi nasehat. Dukungan yang diberikan membuat klien untuk segera sembuh dengan menggali permasalahan kesehatan dan membantu untuk menemukan solusi yang tepat sehingga masalah klien yang sulit diungkapkan segera teratasi.

Mubarak (2009) menyatakan bahwa peran konseling adalah proses membantu untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan seseorang.

2.2.6. Peran Perawat Sebagai Panutan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas (86,4%) perawat puskesmas selalu melaksanakan perannya sebagai panutan seperti misalnya menunjukkan sikap ramah, sabar ketika mendengarkan cerita tentang masalah kesehatan yang dirasakan dan tampak rapi serta menarik. Hal ini seiring dengan pendapat Asmadi (2008), bahwa perilaku yang ditampilkan perawat dapat dijadikan panutan. Peran sebagai panutan yang ditunjukkan oleh perawat puskesmas menggambarkan bahwa perawat puskesmas mampu menampilkan profesionalisme dalam bekerja dan mampu memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana cara hidup sehat. Tetapi peran ini tidak mudah dijalankan karena perawat harus memahami bagaimana cara hidup sehat dan menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari sehingga dapat terlihat oleh masyarakat.

BAB 6

Dokumen terkait