• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Tingkat pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan diatas dapat dilakukan pembahasan seperti berikut.Pada tingkat pengetahuan baik,lebih banyak responden yang didapati dari setambuk 2007(koas) yaitu sebanyak 21 orang (46.7%) dibandingkan dengan setambuk 2010 yaitu hanya sebanyak 11 orang (24.4%).Pada tingkat pengetahuan cukup pula,lebih banyak responden yang didapati dari setambuk 2010 yaitu sebanyak 33 orang (73.3%) dibandingkan dengan setambuk

2007 yaitu sebanyak 24 orang (53.3%).Pada tingkat pengetahuan kurang baik,tidak ada responden yang didapati dari setambuk 2007 dibandingkan dengan setambuk 2010 (bukan koas) yang didapati 1 responden (2.22%).Hal ini disebabkan oleh perbedaan tingkat pendidikan (semester) pada kedua setambuk 2007 dan setambuk 2010 yang mempengaruhi tingkat paparan,serta pengalaman dan pengetahuan mahasiswa tentang penyakit Hepatitis B yang mempengaruhi pengambilam imunisasi awal sebagai cara mencegah infeksi Hepatitis B.

5.2.1.1 Distribusi tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas kedokteran USU mengikut setambuk

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.5 maka dapat di analisa secara deskriptif , tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran USU tentang penyakit Hepatitis B dan pengambilan imunisasi awal untuk mencegahnya.Yang berkategori baik lebih banyak pada mahasiswa/i yang berada pada setambuk 2007 dibandingkan dengan mahasiswa/i yang berada pada setambuk 2010. Hal ini menunjukkan tingkat setambuk mempengaruhi sedikit sebanyak tingkat pengetahuan mahasiswa/i tentang pengambilan imunisasi awal untuk mencegah penyakit Hepatitis B.Teori Notoadmodjo (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan akan berpengaruh pada perilaku sebagai hasil pendidikan.

Tingkat pengetahuan tentang imunisasi awal untuk mencegah Hepatitis B adalah suatu faktor yang penting di analisa. Menurut World Health Organisation (Organisasi Kesehatan Dunia),infeksi virus Hepatitis B adalah suatu masalah kesehatan global dan pengambilan imunisasi awal untuk mencegahnya adalah suatu yang penting.

Dari hasil penilitian ini,ternyata bahwa lebih banyak responden dari setambuk 2007 memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi awal untuk mencegah penyakit Hepatitis B dibandingkan dengan setambuk 2010.Ternyata bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa-mahasiswa dari setambuk 2007 yang telah memasuki koas memiliki tingkat pengetahuan yang lebih tinggi tentang pengambilan imunisasi awal untuk mencegah penyakit Hepatitis B dibandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa dari setambuk 2010 yang belum memasuki koas.Hal ini disebabkan karena mahasiswa-mahasiswa setambuk 2007 lebih terpapar dengan kasus-kasus infeksi dan cara-cara pencegahannya,sebagai seorang co-assistant di RSUP

H.Adam Malik. Mereka juga mempunyai tanggungjawab yang lebih tinggi untuk melindungi diri sendiri daripada terkena infeksi Hepatitis B,karena mereka juga tergolong dalam kelompok yang beresiko tinggi untuk menghidapi penyakit Hepatitis B.Oleh karena itu,kesadaran mereka tentang pencegahan penyakit Hepatitis B adalah lebih tinggi dibandingkan setambuk 2010.Selain itu,mereka juga telah menyelesaikan teori kedokteran dan berada di semester yang lebih tinggi dari setambuk 2010 yaitu semester 9.Jika dibandingkan dengan setambuk 2007,mahasiswa- mahasiswa dari setambuk 2010 mempunyai pengetahuan dan paparan yang kurang tentang penyakit Hepatitis B karena masih belum menyelesaikan teori kedokteran dan masih berada di semester 3.Mereka juga tidak mempunyai pengalaman dalam menangani kasus Hepatitis B pada pasien yang benar di RSUP H.Adam Malik seperti mahasiswa setambuk 2007

5.2.2 Status Imunisasi Hepatitis B

Menurut penelitian ini,status imunisasi Hepatitis B mahasiswa/i dikatakan lengkap apabila mereka telah mengambil dosis vaksin Hepatitis B sebanyak 3 kali.Mahasiswa/i yang telah mengambil satu atau dua dosis vaksin Hepatitis B masih diambil kira tetapi tidak digolongkan sebagai mahasiswa/i yang mempunyai status imunisasi Hepatitis B yang lengkap.Hal ini sesuai dengan rekomendasi oleh CDC (Centers for Disease Control and Prevention),yaitu status imunisasi Hepatitis B untuk seorang individu adalah lengkap apabila telah mengambil dosis vaksin sebanyak 3 kali.Dalam penelitian ini,status imunisasi mahasiswa/I Fakultas Kedokteran USU telah deteliti dengan menganalisa jumlah dosis vaksin,waktu pengambilan dosis vaksin yang terakhir dan apakah mahasiswa/i pernah mengambil tes Anti- HBs post-vaksinasi.

5.2.2.1 Distribusi status imunisasi mahasiwa/i Fakultas Kedokteran USU mengikut setambuk

Jumlah Dosis Vaksin Hepatitis B Yang Telah Diambil Waktu Kecil

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan diatas dapat dilakukan pembahasan seperti berikut.Merujuk kepada tabel 5.7, responden yang paling banyak telah mengambil dosis vaksin Hepatitis B yang lengkap yaitu sebanyak 3 dosis adalah dari setambuk 2007

.Manakala,responden dari setambuk 2010 yang telah mengambil dosis vaksin Hepatitis B yang lengkap adalah lebih kurang yaitu sebanyak Oleh karena itu,terbukti mahasiwa/i Fakultas Kedokteran USU dari setambuk 2007 mempunyai status imunisasi Hepatitis B yang lebih lengkap darisetambuk 2010.

Responden yang paling banyak tidak yakin dengan jumlah dosis vaksin Hepatitis B adalah dari setambuk 2010 dibandingkan dengan setambuk 2007. Ini mungkin disebabkan oleh mahasiwa setambuk 2010,banyak yang tidak ingat tentang pengambilan dosis Hepatits B sewaktu kecil.Kemungkinan dosis booster mereka yang terakhir telah diambil adalah sewaktu kecil. Apabila ditanyakan pada responden apakah benar mereka telah lupa akan pengambilan dosis,ramai responden yang kurang ingat tentangnya.Ini juga membuktikkan bahwa waktu dosis terakhir yang telah diambil cukup lama dan lebih dari 5 tahun atau lebih lama dari itu.Segelintir dari mereka kurang yakin dengan pengambilan dosis vaksin mereka.Responden yang paling banyak tidak pernah mengambil penyakit Hepatitis B adalah dari setambuk 2010 yaitu sebanyak 8 orang, dibandingkan dengan setambuk 2007 yang tidak mempunyai responden yang tidak pernah mengambil imunisasi terhadap penyakit Hepatitis B.Ini adalah disebabkan karena kurangnya paparan terhadap infeksi Hpeatitis B dan cara-cara mencegahnya.

Menurut Program Imunisasi di negara-negara lain,setiap bayi yang lahir diwajibkan untuk disuntik vaksin Hepatitis B sebanyak tiga kali.Program Imunisasi Indonesia 2011 menurut laporan dari Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2011,setiap bayi yang lahir wajib disuntik vaksin Hepatitis B sebanyak tiga kali yaitu dosis pertama sebaik lahir,dosis kedua pada bulan yang kedua,dan dosis ketiga pada bulan yang keenam.Jikalau dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapore,kedua-dua negara berkembang ini juga mempunyai Program Imunisasi Nasional yang cukup baik untuk memproteksi bayi-bayi yang lahir dari infeksi Hepatitis B.Menurut Singapore Government Health Promotion Board 2011,

jadwal imunisasi bayi baru lahir adalah seperti,dosis pertama disuntik 12 jam sebaik bayi dilahirkan,dosis kedua pada bulan pertama dan dosis ketiga pada bulan kelima atau 6.Manakala,menurut Program Imunisasi Nasional oleh Menteri Kesehatan Malaysia 2011,jadwal imunisasi bayi baru lahir untuk HBV adalah lebih kurang sama dengan negara Singapura dan Indonesia,yaitu dosis pertama sebaik bayi lahir,dosis kedua pada bulan pertama,dan dosis ketiga adalah bulan kelima.Melihat pada carta imunisasi oleh rekomendasiWorld Health Organisation,

semua negara wajib menyediakan fasilitas imunisasi Hepatitis B untuk bayi baru lahir untuk mencegah infeksi Hepatitis B.

Waktu Dosis Booster Terakhir Yang Telah Diambil

Merujuk kepada tabel 5.8,responden yang telah mengambil dosis vaksin booster Hepatitis B dalam waktu 5 tahun adalah dari setambuk 2007,dibandingkan dengan setambuk 2010. Responden yang paling banyak tidak yakin dengan waktu dosis terakhir adalah dari setambuk 2010 dibandingkan dengan setambuk 2007 .Menurut jurnal oleh CDC (Canadian Centre for Occupational Health and Safety) pada tahun 1990 yang berjudul “Protection Against Viral Hepatitis Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP)”

,seorang individu akan mempunyai proteksi maksimum selama 5 tahun terhadap infeksi virus Hepatitis B,setelah pengambilan dosis booster vaksin Hepatitis B.Oleh karena itu,untuk menentukan apakah responden-responden yang telah mengambil vaksin booster Hepatitis B terlindung dari infeksi HBV,waktu dosis vaksin booster yang terakhir diambil oleh responden diteliti.Dari hasil penelitian,ternyata mahasiswa/i yang lebih terlindung daripada infeksi HBV adalah setambuk 2007 dibandingkan dengan mahasiswa/i dari setambuk 2010 yang lebih banyak tidak yakin dengan waktu dosis vaksin booster terakhir yang diambil oleh mereka.

Cukup banyak mahasiswa dari setambuk 2010 yang tidak yakin dengan waktu dosis terakhir booster yang diambil yaitu sebanyak 13 orang dibandingkan dengan setambuk 2007.Sekali lagi mungkin dosis booster terakhir yang telah diambil oleh kebanyakan mahasiswa setambuk 2010 adalah sewaktu kecil dan mereka kurang ingat tentang pengambilannya.

Persoalan mengenai apakah dosis booster Hepatits B diperlukan walaupun seseorang individu itu telah menerima imunisasi lengkap waktu bayi,masih menjadi perdebatan.Menurut laporan kasus infeksi Hepatitis B oleh William Cassidy, MD,kasus infeksi Hepatitis B masih banyak dilaporkan di daerah endemis dan pada kelompok yang beresiko tinggi oleh individu yang pernah divaksinasi secara lengkap.Pada penelitian prospective ini,telah dibuktikkan bahwa sebanyak 13 kasus infeksi Hepatitis B dijumpai pada satu kelompo seramai 1630 orang yang pernah divaksinasi secara lengkap.Ini membuktikkan bahwa immunologic memory seorang manusia tidak memberi proteksi yang lengkap terhadap Hepatitis B.Menurut Immunization

Action Coalition,immunologic memory untuk vaksin Hepatitis B bisa bertahan untuk 25 tahun setelah penyuntikan yang lengkap.Namun.pada beberapa kondisi seperti pasien yang

immunocompromised,mempunyai resiko tinggi untuk infeksi Hepatitis B dan sebagainya,perlu mengambil booster untuk perlindungan yang lebih yakin.

Tes Anti-HBs Yang Telah Diambil

Merujuk kepada tabel 5.9, responden yang paling banyak mempunyai nilai “protective level” sama dengan atau lebih dari 10Miu/ml adalah dari setambuk 2007.Responden yang paling banyak mempunyai nilai “ protective level “ lebih kurang dari 10 Miu/ml adalah dari setambuk 2007.Responden yang paling banyak tidak yakin dengan pengambilan tes Anti-HBs adalah dari setambuk 2010.

Dari hasil penelitian,cukup tinggi jumlah mahasiswa dari setambuk 2010 yang tidak yakin dengan pengambilan tes Anti-HBs.Ini mungkin disebabkan oleh faktor tingkat pendidikan mahasiwa setambuk 2010 yang lebih kurang dari mahasiswa setambuk 2007. Hal ini adalah disebabkan karena mahasiswa-mahasiswa setambuk 2007 lebih terpapar dengan kasus-kasus infeksi dan cara-cara pencegahannya,sebagai seorangco-assistantdi RSUP H.Adam Malik.Oleh karena itu,kesadaran mereka tentang pengambilan imunisasi awal untuk mencegah dan melindungi diri sendiri daripada terinfeksi oleh virus Hepatitis B, adalah lebih tinggi.Oleh itu mahasiswa setambuk 2010 kurang pengetahuan tentang kepentingan pengambialn tes Anti-HBs terutamanya apabila mengetahui kebenaran bahwa mahasiswa kedokteran adalah termasuk dalam kelompok yang beresiko tinggi untuk menghidapi infeksi Hepatitis B.

Menurut jurnal yang bertajuk “WHO Anti-HBs reference preparation)” pada tahun 1991,dikatakan bahwa tes post-vaksinasi Hepatitis B yaitu tes Anti-HBs adalah suatu tes serologi penting yang harus diambil oleh individu yang termasuk di dalam kelompok beresiko tinggi.Antara individu yang dikatakan beresiko tinggi terhadap infeksi Hepatitis B adalah “Health Care Workers” ataupun individu yang bekerja di sektor kesehatan seperti dokter,mahasiswa kedokteran,perawat,ahli biokimia,asisten laboratorium dan sebagainya.

Hasil tes Anti-HBs denganminimum protective level yang sama dengan atau lebih dari 10 mIU/ml mengatakan bahwa seorang individu itu terlindung dari infeksi virus Hepatitis B dan merespon dengan baik terhadap dosis vaksin yang telah diambil.Hasil test Anti-HBs dengan

minimum protective levelyang lebih kurang dari 10 mIU/ml mengatakan bahwa seorang individu itu tidak terlindung dari infeksi virus Hepatitis B dan vaksin yang telah diambil tidak berespon dengan baik.Tes post-vaksinasi ini juga seharusnya dilakukan dalam waktu 1-2 bulan setelah pengambilan dosis terakhir vaksin Hepatitis B .Dari hasil penelitian terbukti bahwa,mahasiwa/i dari setambuk 2007 yang paling banyak pernah mengambil tes Anti-HBs dan juga terlindung dari infeksi virus Hepatitis B.Manakala mahasiswa/i dari setambuk 2010 yang paling banyak tidak terlindung dari infeksi virus Hepatitis B,dan juga paling banyak tidak yakin dengan pengambilan tes Anti-HBs setelah imunisasi.

5.2.3 Hubungan tingkat pengetahuan dan status imunisasi Hepatitis B mahasiswa/i Fakultas Kedokteran USU mengikut setambuk

Di dalam penelitian ini, tingkat pengetahuan mahasiswa/i setambuk 2007 dan setambuk 2010 telah diteliti mengikut soal-soal yang dijawab oleh responden di kuesioner. Status imunisasi mahasiswa/i setambuk 2007 dan setambuk 2010 juga telah diteliti mengikut tiga kriteria di kuesioner yaitu jumlah dosis vaksin,waktu dosis terakhir dan pengambilan tes Anti- HBs.Hubungan diantara tingkat pengetahuan dan status imunisasi Hepatitis B mahasiswa/i diteliti dengan menggunakan analisa statistik yang merangkumi methode chi square.

Dari hasil penelitian ini,ditunjukkan bahwa tidak ada hubungan di antara tingkat pengetahuan dan status imunisasi Hepatitis B pada mahasiswa setambuk 2007 dan 2010.Walaupun tingkat pengetahuan mahasiswa setambuk 2007 adalah lebih baik dari mahasiswa setambuk 2010,namun kebanyakan mahasiswa setambuk 2010 mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup.Ini jelas menunjukkan bahwa mahasiswa setambuk 2010 masih mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup untuk mengambil imunisasi awal Hepatitis B.Namun demikian,terdapat 8 orang mahasiswa dari setambuk 2010 yang belum pernah mengambil imunisasi Hepatitis B.Setelah disoal lebih terperinci tentangya,ternyata satu orang mahasiswa dilahirkan dengan bidan dan satu lagi mahasiswa adalah anak angkat.Kebanyakan

mahasiswa tidak pasti dengan imunisasi Hepatitis B mereka.Cukup banyak mahasiswa yang tidak mempunyai imunisasi Hepatitis B yang lengkap.Ini adalah mungkin disebabkan oleh program vaksinasi yang tidak terjangkau sehingga hanya di rumah sakit besar sahaja imunisasi yang lengkap bisa diambil.Menurut satu jurnal oleh Pusat Kesehatan Haji,Indonesia,Di kebanyakan daerah di Indonesia,pemerintah daerah tidak menempatkan imunisasi sebagai prioritas dalam alokasi anggarannya. adahal, keberhasilan Program Imunisasi sangat ditentukan oleh kuatnya komitmen, dukungan biaya operasional, dan dukungan sumber daya lainnya dari jajaran Pemerintah Daerah.Ini mempengaruhi rumah sakit kecil untuk menyediakan program imunisasi untuk bayi baru lahir.

Penyakit Hepatitis B merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera ditanggulangi, mengingat prevalensi yang tinggi dan akibat yang ditimbulkan hepatitis B terutamanya pada kelompok yang beresiko lebih tinggi seperti mahasiswa kedokteran.Individu yang bekerja di sektor kesehatan seperti dokter,mahasiswa kedokteran,perawat,ahli biokimia, asisten laboratorium,asisten dialisis dan sebagainya adalah kelompok individu yang mempunyai resiko lebih tinggi untuk terinfeksi oleh virus Hepatitis B.Oleh yang demikian,semua mahasiswa/i fakultas kedokteran tidak kira yang telah memasuki koas atau belum memasuki koas harus mempunyai tanggungjawab dan kesadaran yang lebih tinggi untuk mengambil imunisasi awal yang lengkap sebagai upaya untuk mencegah diri sendiri daripada terkena infeksi Hepatitis B.

Menurut satu penelitian yang telah dilakukan,yaitu berjudulConcerns regarding hepatitis B vaccination and post-vaccination test among Brazilian dentists in City of Belo Horizonte

dimana penelitian ini telah dilakukan untuk melihat status imunisasi Hepatitis B pada dokter gigi di negara Brazil.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari sejumlah 1302 dokter gigi,sebanyak 962 orang dokter gigi (73.9%) telah pernah mengambil dosis vaksinasi Hepatitis B yang lengkap.Jikalau dibandingkan dengan penelitian saya,dari sejumlah 90 responden,sebanyak 24 mahasiswa telah pernah mengambil dosis vaksin yang lengkap.Ini mungkin karena,di negara Brazil ternyata ketiga-tiga universitas di bandar Belo Horizonte,semua mahasiswa kedokteran gigi diberikan imunisasi gratis sebelum memasuki program sarjana kedokteran gigi di universitas mereka.Manakala,di Medan masih kurang fasilitas yang disediakan oleh pemerintah untuk mengorganisasi program imunisasi bagi “HEALTH CARE WORKERS”.

Penelitian di Karachi,Pakistan yang juga meneliti tentang status imunisasi Hepatitis B telah juga membuktikkan adanya faktor tingkat pengetahuan terhadap pengambilan vaksinasi lengkap terhadap infeksi Hepatitis B.Penelitian ini bertajuk Effect of gender and age on the knowledge, attitude and practice regarding Hepatitis B and C and vaccination status of Hepatitis B among medical students of Karachi, Pakistan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 57.1% mahasiswa kedokteran yang sadar tentang pengambilan imunisasi awal terhadap Hepatitis B.Dari penelitian ini,peneliti telah menyimpulkan bahwa jumlah mahasiswa kedokteran di 7 universitas sekitar Karachi mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang tentang imunisasi awal Hepatitis B.Dibandingkan dengan penelitian saya,di mana mahasiswa dari Universitas Sumatera Uitara,Medan juga mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang tentang pengambilan imunisasi awal Hepatitis B dan status imunisasi booster yang kurang lengkap.Namun,dalam penelitian saya,tingkat pengethuan mengenai imunisasi Hepatitis B ternyata tidak ada hubungan dengan status imunisasi Hepatitis B mahasiswa.

Kemungkinan,variasinya adalah berbeda apabila tingkat pengetahuan dan status imunisasi Hepatitis B mahasiswa dari setambuk lain juga diteliti.Walaupun begitu,penelitian saya masih membuktikkan bahwa kebanyakan mahasiswa masih kurang pengetahuan tentang pengambilan imunisasi awal untuk mencegah Hepatitis B.Kebanyakan mahasiswa ternyata juga tidak mempunyai imunisasi yang lengkap dan tidak mengambil booster untuk proteksi yang lebih mantap terhadap infeksi Hepatitis B.

Dokumen terkait