BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penelitian ini melibatkan 105 mahasiswa profesi di RSGM UMY angkatan 2009 dan 2010. Berdasarkan hasil penelitian, usia mahasiswa profesi PSPDG UMY sebagian besar berusia 23 dan 24 tahun. Observasi yang dilakukan peneliti bahwa usia 22 tahun seorang mahasiswa baru saja menyelesaikan jenjang kuliah S1 dan setelah itu baru menjalankan kepaniteraan klinik. Menurut Usman (2014) yang menyatakan bahwa mahasiswa kepaniteraan berada dalam usia 23-26 tahun yang berada dalam kelompok dewasa muda.
Dilihat dari jenis kelamin mahasiswa profesi sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 76,2 %. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Priyanto (2014) yang menyatakan bahwa perempuan mempunyai minat yang lebih tinggi masuk kedokteran gigi dibandingkan dengan laki-laki.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar keterampilan mahasiswa profesi PSPDG UMY berada dalam kategori baik yaitu sebesar 75%. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah karena mahasiswa profesi PSPDG UMY sudah memiliki pengalaman klinik dan terbiasa berkomunikasi dengan pasien. Menurut Lini dkk. (2013) terdapat hubungan yang bermakna antara pengalaman klinis dengan keterampilan komunikasi pada mahasiswa kepaniteraan klinik. Selaras dengan penelitian Irene, dkk. (2009) yang
menyatakan bahwa kepaniteraan klinik sangat berperan dalam membangun keterampilan komunikasi mahasiswa karena dapat memberikan pengalaman klinik langsung, karena mahasiswa secara langsung dapat melakukan kontak dengan pasien dan kasus klinis yang sesungguhnya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, faktor lain yang mempengaruhi adalah adanya pelatihan Skills Lab Komunikasi yang diterapkan di PSPDG UMY selama jenjang pendidikan S1. Menurut Bhakti (2002) pengalaman mengikuti pelatihan komunikasi terapeutik memiliki hubungan yang cukup signifikan terhadap pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan pasien. Kounenou, dkk. (2011) juga mengungkapkan pelatihan merupakan salah satu aspek yang dapat meningkatkan kemampuan konseling dan komunikasi yang lebih baik.
Pada dasarnya Skills Lab Komunikasi adalah bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki mahasiswa profesi PSPDG UMY saat melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien di RSGM UMY. Menurut Hanafi (2012) pengetahuan sangat mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi. Pengetahuan mengenai dasar dan teknik komunikasi terapeutik telah dimiliki oleh mahasiswa profesi PSPDG UMY. Pengetahuan tersebut akan memudahkan mahasiswa profesi dalam menerima dan mengolah pesan yang diterima dari pasien, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik dan efektif. Mahasiswa profesi yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang baik berarti mampu menerapkan bekal yang telah didapatkan selama pendidikan S1 guna menunjang pelayanan medis yang diberikan kepada pasien.
Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa profesi PSPDG UMY berjenis kelamin perempuan yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang baik sebanyak 80%, sedangkan laki-laki hanya sebesar 64%. Hasil ini menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Berdasarkan pengamatan peneliti, mahasiswa profesi perempuan lebih sabar dan hati-hati saat melakukan komunikasi terapeutik. Saptoto (2010) juga mengungkapkan perempuan memiliki tingkat keuletan dan ketekunan yang lebih dibandingkan laki-laki, sehingga seorang perempuan dalam melakukan komunikasi bisa lebih baik dibandingkan laki-laki.
Menurut Potter dan Perry (2005) jenis kelamin dapat mempengaruhi seseorang pada saat berinteraksi, hal tersebut dapat mempengaruhi seseorang dalam menafsirkan pesan yang diterimanya. Pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki gaya komunikasi yang berbeda sehingga keterampilan saat menerapkan komunikasi pun juga berbeda.
Hasil penelitian menunjukan mahasiswa profesi PSPDG UMY usia 25 tahun yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik baik sebanyak 100%. Berdasarkan pengamatan peneliti, mahasiswa profesi usia 25 tahun telah lebih sering menerapkan secara rutin ilmu komunikasi terapeutik pada pasien. Selain itu, mahasiswa profesi usia 25 tahun telah memiliki pengalaman kerja yang cukup lama dibandingkan dengan usia lainnya. Menurut Taviyanda (2010), kurangnya keterampilan komunikasi terapeutik dapat disebabkan oleh kurangnya pengalaman kerja seorang tenaga medis.
37
A. Kesimpulan
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi PSPDG UMY berada dalam kategori baik (75%)
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran kepada : 1. Mahasiswa profesi PSPDG UMY agar mempertahankan keterampilan
komunikasi terapeutik supaya komunikasi dokter pasien tetap berjalan dengan baik.
2. Bagi PSPDG UMY agar meningkatkan pendidikan tentang keterampilan komunikasi terapeutik yang baik supaya mahasiswa memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang lebih baik.
3. Bagi RSGM UMY rutin mengadakan pelatihan tentang keterampilan komunikasi terapeutik yang baik agar dapat mempertahankan keterampilan komunikasi mahasiswa profesi PSPDG UMY yang sudah baik.
38
Agnena, S. (2015). Analisa Komunikasi Terapeutik Dokter dan Pasien dalam Meningkatkan Pelayanan Kesehatan Ibu di Rumah Sakit Aisyiyah Samarinda. eJournal Ilmu Komunikasi, 2015, 3 (1): 155-271
Anas, A., Abdullah, A., Z. (2008). Studi Mutu Pelayanan Berdasarkan Kepuasan Pasien di Klinik Gigi dan Mulut RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar. Dentofasial, 7, (2)
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT RINEKA CIPTA. Hal 168-169
Asrin, Kamaluddin, R., dan Ekowati, R. (2006). Gambaran Praktik Komunikasi Terapeutik dan Komunikasi Sosial Perawat dalam Pemberian Pelayanan Keperawatan
Budiman dan Riyanto, A. (2013). Kapita Selekta Kuesioner: Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika. Hal 20-23. Bhakti, W.K. (2002). Hubungan Karakteristik Perawat dan Metode Penugasan
Asuhan Keperawatan dengan Pelaksanaan Fase-fase Hubungan Terapeutik Perawat dan Klien di RSU Samsudin Sukabumi.Tesis. Universitas Indonesia, Jakarta.
Christina, L. I., Untung, S. dan Taufi, I. (2003). Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Dalimunthe, H., L. (2008). Hubungan Persepsi terhadap Profesionalisme Guru dengan Keterampilan Komunikasi Pada Guru SMA Negeri 2 Medan. Karya tulis ilmiah strata satu, Universitas Sumatera Utara: Medan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). PERMENKES RI tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1997). Standar Rumah Sakit Pendidikan Tingkat Pengembangan Awal. Jakarta.
Enjang, A., S. (2009). Komunikasi Konseling. Bandung: Nuansa. Hal 164
Emilia, O., (2008). Kompetensi Dokter dan Lingkungan Belajar Klinik di Rumah Sakit. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal 4-10
Ellis, R. B., Gates, R. J., dan Kenworthy, N. (1999). Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan: Teori dan Praktk. Jakarta: EGC. Hal 48-53
Hanafi, I., dan Richar, S. D. (2012). Ketrampilan Komunikasi Interpersonal Perawat , 1-12.
Irene, Soedibyo, S., Satari, H. I. (2009). Pengalaman Klinik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat V di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Kounenou, K.,Aikaterini, K. dan Georgia, K. (2011). Nurses Communication Skills: Exploring Their Relationship with Demographic Variables and Job Satisfaction in a Greek Sample. Procedia-Social and Behavioral Sciences. Lini, P. P. L., Zulharman, dan Chairilsyah, D. (2013). Korelasi Pengalaman Klinik
dengan Keterampilan Komunikasi pada Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Riau.
Liliweri A. (2009). Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Machfoedz, M. (2009). Komunikasi Keperawatan : Komunikasi Terapeutik. Yogyakarta: Gambika.
Majelis Kesehatan PW ‘Aisyiyah Sumatera Utara. (8 Februari 2009). Wujudkan
Indonesia Sehat 2010, UMY Persiapkan RSGMP. Media Komunikasi. Diakses 4 Mei 2015 pukul 00.19, dari http://mklh-aisyiyah-sumut.blogspot.com/2009/02/wujudkan-indonesia-sehat-2010-umy.html Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Machfoedz, Ircham., Marianingsih, Endah., Margono., Wahyuningsih, Heni dan Puji. (2005) Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, dan Kebidanan. Yogyakarta: Penerbit Fitramaya.
Nasir, A., Muhith, A., Sajidin M., Mubarak, W. I. (2009). Komunikasi dalam Keperawatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika. Hal 38-175. Priyanto, Y. (2014) Hubungan Komunikasi Mahasiswa Koas 2007 dengan
Kepuasan Pasien Berdasarkan Gambaran Karakteristik Pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tahun 2012. Karya tulis ilmiah strata satu, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: Yogyakarta.
Potter, P., dan Perry, A,. (2009). Fundamental of Nursing, 7th Edition. Jakarta: Salemba Medika. buku 1 Hal: 567-569
Potter, P.A & Perry, A. G, 2005, Buku Ajar fundamental keperawatan Konsep, Proses, danPraktik, Ed ke- 4 Vol 1, EGC, Jakarta
Priyanto, Agus., (2009). Komunikasi dan Konseling: Aplikasi dalam Sarana Pelayanan Kesehatan Untuk Perawat dan Bidan. Jakarta: Salemba Medika
RSGM UMY. (2011). Panduan Kepaniteraan Klinik. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhhamadiyah Yogyakarta. Hal 1-7.
Rider, Elizabeth, A. dan Keefer, Constance, H. (2006). Communication Skills Competencies: Definitions and A Teaching Toolbox. Medical Education. 40: 624–629.
Saryono. (2011). Metodologi Penelitian Kesehatan: Penuntun Praktis Bagi Pemula. Yogyakarta: Nuha Offset. Hal 70.
Saptoto R. (2010). Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Kemampuan Coping Adadtif. Jurnal Psikologi. Vol 37. No.1 : Hal. 13-22
Soelarso H., Soebekti, R., H., dan Mufid, A. (2005). Peran Komunikasi Terapeutik Dalam Pelayanan Kesehatan Gigi (The role of terapeutik communication integrated with medical dental care). Maj. Ked. Gigi (Dent. J.), 38 (3), 124-129.
Sabarguna, S. P. (2004). Quality Assurance Pelayanan Rumah Sakit. Yogyakarta. Supartondo, S. D. (2004). Komunikasi dan empati dalam hubungan dokter-pasien.
Jakarta: Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Taviyanda, Dian. (2010). Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Komunikasi Terapeutik Antara Perawat Pegawai Tetap Dengan Perawat Pegawai Kontrak Di Ruang Dewasa Kelas III RS. Baptis Kediri. Jurnal STIKES RS.Baptis Kediri,3 (2).72-77
Usman, H. (2014). Pesepsi Diri terhadap Estetika Gigi dan Senyum pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.
Wicaksono, A. (2010). judul Gambaran Komunikasi Terapeutik Perawat di Rumah Sakit Khusus Anak 45 Yogyakarta.
Wasisto, G., Sudjana, G., Zahir, H., Sidi, I., Witjaksono, M., Claramita, M., Ali, M., Hariyani, S., Kharsadi, T., dan Hadad, T. (2009). Manual Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Jakarta: Lembaga Konsultan Peraturan Bisnis Indonesia.
Wijiono, D. (1999). Manajemen Mutu pelayanan Kesehatan. Jakarta: Airlangga University Press. Vol 1.
Yubiliana, G. (2010). Penatalaksanaan Komunikasi Efektif & Terapeutik Pasien & Dokter Gigi. Bandung
Lampiran 1.
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya, yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :
Umur / Kelamin : tahun, Laki-laki* / Perempuan* Pendidikan :
Angkatan tahun :
Alamat :
Menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan Persetujuan Untuk menjadi responden penelitian yang berjudul :
GAMBARAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK MAHASISWA PROFESI PSPDG UMY DI RSGM UMY Terhadap Surveyor
Nama : Dicky Pratama Devriyanta
NIM : 20120340030
Fakultas / Program Studi : Kedokteram / Pendidikan Dokter Gigi Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Yang tujuannya untuk mengetahui hubungan keterampilan komunikasi mahasiswa profesi PSPDG UMY terhadap tingkat kepuasan pasien di RSGM UMY yang penjelasannya telah dijelaskan oleh peneliti.
Demikian persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Yogyakarta,
Peneliti Yang membuat pernyataan
(………) (………..)
Lampiran 2.
CHECK LIST PENELITIAN
“Hubungan Keterampilan Komunikasi Terapeutik
Mahasiswa Profesi PSPDG UMY terhadap Tingkat Kepuasan Pasien di RSGM UMY”
No. Responden:
IDENTITAS RESPONDEN Petunjuk pengisian:
Bacalah pertanyaan dibawah ini dengan seksama, lalu isi dan berilah tanda silang
(X) atau centang (√) pada kolom yang disediakan.
Usia : ………… tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan Angkatan Tahun : ………….
KETERAMPILAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK DOKTER-PASIEN Petunjuk pengisian:
Bacalah pernyataan dibawah ini dengan seksama, lalu berilah tanda silang (X)
atau centang (√) pada kolom yang disediakan.
No. Komponen Penilaian Dilakukan Tidak
Dilakukan Membangun suatu hubungan (Builds a
relationship)
1. Mahasiswa profesi memberi salam dan menunjukan simpati pada pasien. 2.
Mahasiswa profesi menggunakan kata-kata yang menunjukan kepedulian selama komunikasi dengan pasien.
3.
Mahasiswa profesi menggunakan intonasi, kontak mata, dan sikap yang menunjukan kepedulian dan perhatian.
4. Mahasiswa profesi merespon dengan baik pernyataan pasien.
Membuka diskusi (Opens the discussion) 5. Mahasiswa profesi menanyakan keluhan
pasien.
6. Mahasiswa profesi menggunakan kata-kata yang menunjukan rasa empati.
Mengumpulkan informasi (Gathers information)
terbuka untuk menggali informasi.
8. Mahasiswa profesi menggunakan pertanyaan tertutup untuk menggali informasi.
9. Mahasiswa profesi tidak memotong
pembicaraan ketika pasien sedang berbicara. 10. Mahasiswa profesi melakukan klarifikasi atas
informasi yang disampaikan oleh pasein. 11. Mahasiswa profesi meringkas informasi yang
disampaikan oleh pasien.
Memahami perspektif pasien (Understands
the patient’s perspective)
12. Mahasiswa profesi menanyakan riwayat kesehatan pasien.
13. Mahasiswa profesi menanyakan riwayat kesehatan keluarga pasien.
Memberikan informasi (Shares information)
14.
Mahasiswa profesi menjelaskan kepada pasien dengan menggunakan kalimat yang mudah dimengerti.
15.
Mahasiswa profesi memberikan kesempatan kepada pasien untuk bertanya mengenai informasi yang diberikan.
Jangkauan persetujuan (if new/changed plan)
16. Mahasiswa profesi menanyakan persetujuan dilakukan perawatan/tindakan medis.
17.
Mahasiswa profesi memberi kesempatan kepada pasien untuk mengemukakan pendapat mengenai rencana perawatan yang akan dijalaninya.
Penutup (Provides closure) 18.
Mahasiswa profesi menanyakan kepada pasien apakah ada yang belum mengerti mengenai masalah kesehatannya.
19. Mahasiswa profesi membuat kontrak untuk rencana perawatan selanjutnya.
20.
Mahasiswa profesi mengingatkan kembali apa yang harus dilakukan dan tidak boleh
dilakukan pasien.
21. Mahasiswa profesi menutup pertemuan dengan salam.
Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted pernyataan1 41,57 135,082 ,578 ,964 pernyataan2 41,33 129,609 ,773 ,962 pernyataan3 41,43 134,668 ,660 ,964 pernyataan4 41,33 132,161 ,849 ,962 pernyataan5 41,27 131,926 ,782 ,962 pernyataan6 41,17 132,420 ,671 ,964 pernyataan7 41,10 132,438 ,733 ,963 pernyataan8 41,07 129,237 ,807 ,962 pernyataan9 40,90 130,645 ,814 ,962 pernyataan10 41,17 129,730 ,786 ,962 pernyataan11 41,13 129,706 ,816 ,962 pernyataan12 41,13 131,568 ,754 ,963 pernyataan13 40,87 131,292 ,714 ,963 pernyataan14 40,97 130,585 ,735 ,963 pernyataan15 41,30 132,700 ,612 ,964 pernyataan16 41,10 130,783 ,733 ,963 pernyataan17 40,87 127,637 ,794 ,962 pernyataan18 41,23 131,082 ,703 ,963 pernyataan19 41,17 131,247 ,743 ,963 pernyataan20 41,23 130,392 ,744 ,963 pernyataan21 41,33 130,299 ,734 ,963 Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items ,965 21
usia Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 22.00 7 6.7 6.7 6.7 23.00 49 46.7 46.7 53.3 24.00 41 39.0 39.0 92.4 25.00 8 7.6 7.6 100.0 Total 105 100.0 100.0 Jenis kelamin Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid laki-laki 25 23.8 23.8 23.8 perempuan 80 76.2 76.2 100.0 Total 105 100.0 100.0
PSPDG UMY DENTAL CLINICAL STUDENTS AT RSGM UMY GAMBARAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
MAHASISWA PROFESI PSPDG UMY DI RSGM UMY Dicky Pratama Devriyanta¹, Novitasari Ratna Astuti ²
¹Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gig, ²Dosen Program Studi Pendidikan Dokter Gigi
Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
ABSTRACT
Backgrounds: Communication in dentistry profession is an ability that must be mastered to determine the success and optimal of patient’s care. The creation of an excellent therapeutic communication will create trustworthiness and build a good relation between doctor and patient. Therapeutic communication skill in dental care is needed by the dental clinical students. Dental clinical students at RSGM UMY had received communication therapeutic skill science since preclinical level, students are expected to apply it to patients in RSGM UMY. Aim: The purpose of this research was to find out the over view of therapeutic communication skill of dental clinical students at PSPDG UMY at RSGM UMY. Method: This research used descriptive research with simple random sampling method, samples were 105 dental clinical students in RSGM UMY.
Result: The result of this research 75% dental clinical students in RSGM UMY have a therapeutic communication in a good category.
Conclusion: The conclusion of this research is dental clinical students in PSPDG UMY at RSGM UMY generally in a good category.
Keyword: therapeutic communication skills, dental clinical student of PSPDG UMY, RSGM UMY
terapeutik yang baik akan menciptakan hubungan saling percaya antara dokter dan pasien. Keterampilan komunikasi terapeutik yang baik menjadikan dokter gigi mampu membangun hubungan yang baik dengan pasien, sehingga proses pelayanan kesehatan gigi dan mulut akan lebih optimal, hal ini pula sangat dibutuhkan oleh mahasiswa profesi kedokteran gigi. Keterampilan komunikasi terapeutik dalam pelayanan kesehatan gigi ini sangat dibutuhkan oleh mahasiswa profesi. Mahasiswa profesi PSPDG UMY sejak S1 telah mendapatkan ilmu keterampilan komunikasi terapeutik sehingga diharapkan mahasiswa dapat menerapkan ilmu tersebut pada pasien di RSGM UMY.
Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi PSPDG UMY di RSGM UMY.
Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian diskriptif. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik simple random sampling yag terdiri dari 105 mahasiswa profesi PSPDG UMY dan 105 pasien di RSGM UMY.
Hasil Penelitian : 75% keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi PSPDG UMY di RSGM UMY berada pada kategori baik.
Kesimpulan : Keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi PSPDG UMY di RSGM UMY sebagian besar berada pada kategori baik.
Kata kunci : Keterampilan Komunikasi Terapeutik, Mahasiswa Profesi PSPDG UMY, RSGM UMY
Manusia merupakan makhluk sosial yang menjalankan kehidupannya sebagai individu dalam komunitas, organisasi, maupun masyarakat. Manusia melakukan komunikasi untuk berinteraksi dengan orang lain pada kehidupan sehari-harinya1. Komunikasi di dalam profesi kedokteran gigi merupakan kemampuan yang harus dikuasai untuk menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan gigi pasien. Setiap orang pada dasarnya memerlukan komunikasi sebagai salah satu alat bantu dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam bidang apapun. Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan2.
Perkembangan cepat ilmu dan teknologi kedokteran masih banyak harapan lain yang dikemukakan, salah satunya adalah keterampilan komunikasi
terapeutik dari seorang dokter3. Dokter gigi dengan berkomunikasi dapat mendengarkan perasaan pasien dan menjelaskan prosedur tindakan perawatan kesehatan gigi dan mulut4. Salah satu tujuan komunikasi terapeutik adalah membentuk suatu keintiman, saling ketergantungan dengan kapasitas memberi dan menerima. Seorang dokter gigi dalam melaksanakan komunikasi terapeutik harus memiliki kemampuan antara lain: pengetahuan yang cukup, keterampilan yang memadai, serta teknik dan sikap komunikasi yang baik. Keterampilan komunikasi terapeutik yang baik menjadikan dokter gigi mampu membangun
Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimen dengan rancangan penelitian deskriptif. Pengamatan dilakukan sesaat atau dalam periode tertentu dan setiap subyek studi hanya dilakukan satu kali pengamatan (tidak ada follow up)6. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa profesi PSPDG UMY angkatan 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010 yang masih aktif di RSGM. Sampel dalam penelitian ini adalah 105 mahasiswa profesi PSPDG UMY angkatan 2009 dan 2010 yang dipilih acak dengan metode simple random sampling.
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah mahasiswa profesi PSPDG UMY yang bersedia ikut dalam penelitian dan mahasiswa profesi PSPDG UMY yang masih aktif. Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah mahasiswa profesi yang tidak mengerjakan pasien pada saat penelitian dilakukan serta pasien anak yang tidak didampingi orang tua. Variabel dalam penelitian ini adalah keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi PSPDG UMY. Instrumen dalam penelitian ini adalah check list keterampilan komunikasi terapeutik yang berisi 21 poin yang diisi oleh innumerator. Penelitian berlangsung pada bulan November-Desember 2015 di RSGM UMY
Hasil penelitian menunjukan terdapar drop out terhadap 2 responden sehingga tersisa 105 responden yang dilakukan analisis berdasarkan karakteristik usia dan jenis kelamin.
Tabel 1. Karakteristik Responden
No. Karakteristik Presentase (%) Frekuensi 1. Usia (tahun) 22 6,7 7 23 46,7 49 24 39,0 41 25 7,6 8 2. Jenis Kelamin Laki-laki 23,8 25 Perempuan 76,2 80
Berdasarkan tabel diatas karakteristik responden yang diteliti yaitu 105 mahasiswa profesi angkatan 2009 dan 2010 mayoritas berusia 23 tahun (46,7%) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan (76,2%).
Hasil penelitian menunjukan gambaran sebagai berikut:
a. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY
Gambar 1. Diagram Keterampilan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY angkatan 2009 dan 2010
74% 26%
baik
b. Tabel 2. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Baik (%) Kurang baik (%) Jumlah (%)
Laki-laki 64 36 100
Perempuan 80 20 100
Tabel 2 memperlihatkan hasil responden laki-laki yang memiliki keterampilan komuniksi terapeutik baik sebanyak 64% dan perempuan sebanyak 80%
c. Tabel 3. Keterampilan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi PSPDG UMY berdasarkan Usia
Usia Baik (%) Kurang baik (%) Jumlah (%)
22 tahun 57 43 100
23 tahun 73 27 100
24 tahun 74 26 100
25 tahun 100 0 100
Tabel 3 memperlihatkan hasil responden usia 22 tahun yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik baik sebanyak 57 % dan usia 25 tahun sebanyak 100%
Penelitian ini melibatkan 105 mahasiswa profesi di RSGM UMY angkatan 2009 dan 2010. Berdasarkan hasil penelitian, usia mahasiswa profesi PSPDG UMY sebagian besar berusia 23 dan 24 tahun. Observasi yang dilakukan peneliti bahwa usia 22 tahun seorang mahasiswa baru saja menyelesaikan jenjang kuliah S1 dan setelah itu baru menjalankan kepaniteraan klinik. Menurut Usman (2014) yang menyatakan bahwa mahasiswa kepaniteraan berada dalam usia 23-26 tahun yang berada dalam kelompok dewasa muda7.
Dilihat dari jenis kelamin mahasiswa profesi sebagian besar berjenis kelamin perempuan yaitu sebesar 76,2 %. Hasil tersebut didukung oleh penelitian Priyanto (2014) yang menyatakan bahwa perempuan mempunyai minat yang lebih tinggi masuk kedokteran gigi dibandingkan dengan laki-laki8.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar keterampilan mahasiswa profesi PSPDG UMY berada dalam kategori baik yaitu sebesar 75%. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah karena mahasiswa profesi PSPDG UMY sudah memiliki pengalaman klinik dan terbiasa berkomunikasi dengan pasien. Menurut Lini dkk. (2013) terdapat hubungan yang bermakna antara pengalaman klinis dengan keterampilan komunikasi pada mahasiswa kepaniteraan klinik9. Selaras dengan penelitian Irene, dkk. (2009) yang menyatakan bahwa kepaniteraan klinik sangat berperan dalam membangun keterampilan komunikasi mahasiswa karena dapat memberikan pengalaman klinik langsung, karena mahasiswa secara langsung dapat melakukan kontak dengan pasien dan kasus klinis yang sesungguhnya10.
mengikuti pelatihan komunikasi terapeutik memiliki hubungan yang cukup signifikan terhadap pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan pasien11. Kounenou, dkk. (2011) juga mengungkapkan pelatihan merupakan salah satu aspek yang dapat meningkatkan kemampuan konseling dan komunikasi yang lebih baik12.
Pada dasarnya Skills Lab Komunikasi adalah bekal pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki mahasiswa profesi PSPDG UMY saat melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien di RSGM UMY. Menurut Hanafi (2012) pengetahuan sangat mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi13. Pengetahuan mengenai dasar dan teknik komunikasi terapeutik telah dimiliki oleh mahasiswa profesi PSPDG UMY. Pengetahuan tersebut akan memudahkan mahasiswa profesi dalam menerima dan mengolah pesan yang diterima dari pasien, sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik dan efektif. Mahasiswa profesi yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang baik berarti mampu menerapkan bekal yang telah didapatkan selama pendidikan S1 guna menunjang pelayanan medis yang diberikan kepada pasien.
Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa profesi PSPDG UMY berjenis kelamin perempuan yang memiliki keterampilan komunikasi terapeutik yang baik sebanyak 80%, sedangkan laki-laki hanya sebesar 64%. Hasil ini menunjukan bahwa jenis kelamin perempuan memiliki keterampilan komunikasi terapeutik
mahasiswa profesi perempuan lebih sabar dan hati-hati saat melakukan komunikasi terapeutik. Saptoto (2010) juga mengungkapkan perempuan memiliki tingkat keuletan dan ketekunan yang lebih dibandingkan laki-laki, sehingga seorang perempuan dalam melakukan komunikasi bisa lebih baik dibandingkan laki-laki14.