• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1. Distribusi DBD Berdasarkan Jenis Kelamin.

Dari hasil penelitian ini, pasien laki-laki DBD berjumlah 33 orang, perempuan pula berjumlah 35 orang. Dapat dikatakan disini bahwa tidak ada perbedaan yang jelas antara jumlah pasien DBD yang jenis kelaminnya laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini, hasil juga menunjukkan bahwa resiko menderita DBD adalah sama bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam teori dan penelitian sebelummya, juga terbukti tidak ada hubungan antara resiko menderita DBD dengan jenis kelamin. Malah disimpulkan juga resiko transmisi DBD adalah sama antara laki-laki maupun perempuan (Halstead, 2007; Peters, 2008; Nimmanitya, 2009). Disini, hasil penelitian adalah sama seperti teori yang ada sebelumnya.

5.2.2. Distribusi DBD Berdasarkan Umur

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok umur yang paling banyak menderita DBD yaitu kelompok bawah 10 tahun yaitu sebanyak 24 orang dan kelompok 11-20 tahun yaitu seramai 29 orang. Kelompok 21-30 tahun dan 31 tahun keatas masing-masing sebanyak 9 dan 5 orang; jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan dua kelompok

sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa hasil penelitian lebih mengarah ke transmisi DBD lebih banyak terjadi pada anak. Anak didefinisikan sebagai manusia yang berumur dari hari pertama kelahiran s/d 20 tahun. Dibagikan lagi atas beberapa kelompok yaitu neonatus (bawah 1 bulan), postneonatus (1 bulan s/d 11 bulan), anak bawah lima tahun ( 1 tahun s/d 5 tahun), middle

childhood (6 tahun s/d 11 tahun), dan remaja yang berumur 12 tahun s/d 20

tahun (Behrman, 2007; Stanton, 2007).

Teori penyakit menyebutkan bahwa anak merupakan kelompok yang paling mudah menderita penyakit ini adalah anak karena sistem imun mereka belum cukup matang dan kuat untuk melawan penyakit ini (Halstead, 2007). Penelitian yang dilakukan sebelumnya juga ada menyebutkan pada hasil penelitian tersebut, anak merupakan kelompok umur terbanyak menderita DBD, terutama anak berumur 2 tahun s/d 18 tahun (Witayathawornwong, 2005; Nimmanitya, 2009). Walaupun begitu, orang dewasa juga dapat menderita penyakit ini, walaupun jumlahnya jauh lebih kecil berbanding anak (Peters, 2008).

5.2.3. Distribusi DBD Pada Tahun 2009

Penyebaran DBD membanyak pada musim hujan dimana takungan air hujan menjadi tempat yang sesuai untuk nyamuk Aedes berkembangbiak (Witayathawornwong, 2005;Peters, 2008; Nimmanitya, 2009). Jumlah nyamuk yang banyak menyebabkan lebih banyak transmisi virus dengue dan lebih banyak orang menderita DBD (Kowalski, 2007; Nene, 2007; Supartha, 2008). Data curah hujan di Medan pada tahun 2009 yang dikeluarkan oleh Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menunjukkan musim hujan berlaku pada bulan Januari, September, Oktober, Nopember dan Desember. Curah hujan juga dilaporkan tinggi pada bulan Maret dan Mei, namun bulan tersebut cuacanya agak kering. Secara teori nyamuk Aedes mudah berkembang biak pada cuaca yang lembab dan banyak curah hujan. Cuaca kering merupakan kondisi yang tidak optimum

untuk kembangbiak nyamuk Aedes. (Kowalski, 2007; Nene, 2007; Roose, 2008).

Ternyata dalam penelitian ini terlihat bahwa jumlah pasien DBD sangat banyak pada bulan yang curah hujannya tinggi seperti Desember, Januari, September, dan Oktober. Bulan-bulan ini bukan sahaja banyak curah hujannya malah dilaporkan kelembaban udara dilaporkan lembab. Kondisi ini merupakan kondisi optimum untuk Aedes berkembangbiak. Hasil penelitian ini nampaknya sesuai seperti teori-teori yang di atas.

5.2.4. Distribusi DBD Berdasarkan Derajat Penyakit

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak pasien DBD berada pada derajat 1 dan derajat 2, masing-masing sebanyak 33 dan 31 orang. Hal ini merupakan sesuatu yang normal karena pada saat pasien datang meminta pertolongan di rumah sakit, perkembangan penyakit DBD banyak berada pada derajat 1 dan derajat 2 (Nimmanitya, 2009). Derajat 3 dan 4 (Dengue

Shock Syndrome) pula merupakan komplikasi dari DBD dan selalunya

terjadi setelah pasien dirawat inap di rumah sakit. Derajat 3 dan 4 merupakan suatu komplikasi yang jarang namun bisa terjadi akibat dari pasien gagal respon pada terapi yang diberikan oleh dokter (Peters, 2008). Derajat 1 ditandai dengan demam yang berlangsung 2-7 hari dan tanda pendarahan yang ada hanyalah uji tornikuet positif. Derajat 2 ditandai dengan derajat 1 ditambah dengan pendarahan spontan (WHO, 2006). Kedua derajat ini mudah dideteksi oleh masyarakat umum dan apabila terjadinya gejala seperti derajat 1 dan 2, masyarakat cepat mendapatkan pertolongan pelayanan kesehatan sehingga pasien dapat dirawat dengan baik sehingga sembuh (Roose, 2008).

5.2.5. Distribusi DBD Berdasarkan Derajat Demam

Demam merupakan suatu reaksi tubuh yang sering terjadi akibat dari proses pembentukan kompleks antigen-antibodi pada saat sistem imun tubuh melawan virus dengue dalam tubuh (Halstead, 2007). Pasien DBD biasanya

demam dengan suhu tubuh pada 38oC s/d 40oC (demam tinggi), mendadak, lama demam biasanya bervariasi antar individu, sekitar 2 s/d 7 hari (WHO, 2006). Setelah itu suhu tubuh cenderung turun sehingga tahap subfebrile, namun dapat naik kembali setelah beberapa hari, sehingga demam pada DBD dikatakan bersifat bifasik (Peters, 2008).

Pada penelitian ini, hasil yang didapatkan adalah pasien DBD banyak berada pada derajat demam tinggi yaitu seramai 35 orang. Dalam hal ini, mungkin pasien sudah mendapatkan pengetahuan yang baik tentang bahaya demam sehingga mereka cepat ke pelayanan kesehatan bila tubuh teraba panas. (Soegijanto, 2004; Witayathawornwong, 2005) Namun ada juga pasien DBD dengan derajat febrile dan subfebrile, masing-masing seramai 20 dan 12 orang. Hal ini terjadi mungkin saja pada saat pasien dibawa ke rumah sakit, sudah terjadi penurunan suhu tubuh sehingga pada saat pengukuran dengan termometer, suhu tubuh pasien tidak lagi pada derajat demam tinggi.

5.2.6. Distribusi DBD Berdasarkan Kadar Trombosit

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien DBD banyak yang kadar trombositnya berada pada kelompok rendah, yaitu seramai 55 orang. 13 orang pasien DBD mempunyai kadar trombosit gawat. Pada penelitian ini juga terdapat pasien dengan jumlah trombosit sebanyak 5000 sel/mm3. Berdasarkan data rekam medis, pasien akhirnya sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit. Walaupun kondisi pasien sudah mencapai kegawatdaruratan medis, dengan pertolongan yang tepat dari tim yang bertugas, maka pasien sembuh walaupun prognosis penyakitnya dijangkakan buruk.

Secara patofisiologi penyakit DBD, penurunan kadar trombosit terjadi akibat dari hancurnya trombosit akibat dari reaksi pembentukan antigen- antibodi (Halstead, 2007). Reaksi tersebut juga membebaskan aminovasoaktif yang mengakibatkan preamibilitas kapiler meningkat. Hal

ini menyebabkan terjadinya kebocoran plasma ke ruang interstitial, dimana dapat juga terjadi trombosit terlepas masuk ke ruang interstitial bersama- sama cairan plasma darah (Nimmanitya, 2009). Penurunan kadar trombosit berjalan secara progresif, seiring dengan lama penyakit berlangsung. Bila kadar trombosit turun sampai ke tahap gawat, sudah terjadi kebocoran plasma yang kronik sehingga dapat mengakibatkan syok pada DBD, yang terjadi pada derajat 3 dan 4 (Dengue Shock Syndrome) (Peters, 2008). Oleh karena derajat 3 dan 4 jarang terjadi pada pasien DBD, maka wajar pada penelitian ini jumlah pasien dengan kadar trombosit kelompok gawat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kelompok kadar trombosit rendah. 5.2.7.Prevalensi DBD di RSUP. Haji Adam Malik, Medan

Pada penelitian ini, telah dilakukan perhitungan untuk mendapatkan prevalensi DBD. Hasil yang didapatkan adalah prevalensi DBD di RSUP. Haji Adam Malik, Medan adalah 17.6%. Dalam hal ini, dari 100 orang yang didiagnosis awal DBD, 17-18 orang akan pasti menderita DBD dan jumlah ini menjadi satu kebimbangan. Jumlahnya begitu mungkin saja dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Antaranya adalah sikap masyarakat yang malas untuk membersihkan wadah penampung air hingga saja menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes yang menjadi vektor penular penyakit ini (Hasyimi, 2004). Kurangnya sikap untuk memproteksi diri dari gigitan nyamuk, misalnya mengoleskan krim anti-nyamuk ke tubuh dan tidur dalam kelambu memudahkan terjadinya peningkatan resiko terjadinya DBD (Kusriantuti, 2008). DBD juga dilaporkan meninggi kasusnya di perumahan yang padat dan di daerah tropis yang lembab dan sering hujan. Kedua hal ini dapat menyebabkan mudahnya seseorang menderita DBD (Nimmanitya, 2009).

Dokumen terkait