BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Pembahasan
Pembahasan hasil penelitian ini berdasarkan literatur yang berhubungan dengan
kecemasan pasangan usia subur terhadap infertilitas sekunder yang meliputi reaksi
pasangan terhadap infertilitas sekunder, dampak perubahan psikologis akibat infertilitas
sekunder, kemampuan mengatasi masalah, harapan para pasangan infertilitas sekunder.
1. Reaksi pasangan terhadap infertilitas sekunder
Pasangan suami istri yang mengalami infertilitas sekunder sering kali mengalami
perasaan tertekan terutama wanita yang pada akhirnya jatuh kepada keadaan depresi,
cemas dan lelah yang berkepanjangan, sebagai salah satu stresor utama yang dapat
Pasangan sering kali membutuhkan bantuan untuk memisahkan konsep mereka terhadap
keberhasilan dan kegagalan yang mereka alami, setelah berhasil memperoleh keturunan
sebelumnya. Mengenali infertilitas sekunder sebagai sebuah kegagalan dan bagaimana
mengatasi perasaan setiap pasangan yang mengalaminya, merupakan suatu hal yang
sangat penting dalam menempatkan masalah infertilitas sekunder kedalam suatu
perspektif ( Bobak, dkk, 2005 ).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap pasangan infertilitas sekunder di
Dusun XI Desa Pasar Melintang Kecamatan Lubuk Pakam, ditemukan bahwa reaksi
setiap pasangan terhadap infertilitas sekunder yang sering terjadi antara lain :
a. Cemas
Dari hasil penelitian partisipan mengatakan adanya rasa cemas sehubungan
dengan kondisi yang mereka alami. Keenam partisipan istri mengatakan rasa cemas
yang mereka rasakan karena usia yang sudah beresiko untuk hamil, semakin tambah usia
maka rasa cemas mereka juga bertambah. Hal ini sesuai dengan Penelitian kedokteran
yang menemukan bahwa peningkatan kadar prolaktin dan kadar Lutheinizing Hormon
(LH) berhubungan erat dengan masalah psikis. Kecemasan dan ketegangan cenderung
mengacaukan kadar LH, serta kesedihan dan murung cenderung meningkatkan
prolaktin. Kadar prolaktin yang tinggi dapat menganggu pengeluaran LH dan menekan
hormon gonadotropin yang berpengaruh terhadap ovulasi (Kasdu,2001).
Perasaan cemas yang dialami oleh pasangan infertilitas sekunder dalam hal ini
karena faktor usia pada pasangan tersebut sudah beresiko untuk hamil dan melahirkan.
Kasdu (2001) menyatakan bahwa faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan
seorang wanita. Seiring dengan bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk
potensi wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis
setelah usia 38 tahun. Hasil penelitian ini juga dibenarkan oleh Badan National Center
for Health Statistics yang menyatakan bahwa wanita subur berusia dibawah 25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96 % dalam setahun, usia 25-34 tahun menurun menjadi
86 % dan pada usia 35-44 tahun hanya 78 % lagi harapan untuk hamil.
b. Kesedihan
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pasangan yang mengalami infertilitas
sekunder sering mengalami perasaan sedih, melihat orang ataupun teman-teman mereka
yang begitu mudah mengembangkan keluarga mereka. Perasaan sedih yang mereka
alami khususnya wanita karena seorang wanita lebih mudah mengekspresikan
kesedihannya daripada pria. Adanya perbedaan reaksi kesedihan yang dialami oleh
pasangan suami dengan isteri ini sesuai dengan penelitian Jordan & Revenson (1999),
yang menyatakan perbedaan gender dalam masalah infertilitas (Nurfita, 2007).
Pernyataan diatas sesuai dengan temuan peneliti yang diperoleh dari hasil
wawancara dengan empat partisipan, bahwa pada prinsipnya kesedihan yang mereka
alami, khususnya sebagai seorang ibu kalau melihat tetangga atau orang-orang yang
punya anak sepasang. Lain halnya dengan suami, hanya dua dari enam partisipan suami
yang mengatakan sedih bila hanya memiliki satu orang anak saja. Adapun rasa sedih
yang dialami oleh suami itu pada prinsipnya lebih bersyukur sudah memiliki satu orang
anak. Disinilah tampak perbedaan perasaan psikologis antara pria dan wanita, dimana
wanita cenderung untuk mengalami depresi dibanding dengan pria dalam kaitannya
dengan kesuburan. Sering kali pihak wanita merasa kehilangan rasa percaya diri serta
c. Cemburu / Iri
Dari hasil penelitian partisipan istri/suami menyebutkan bahwa ada rasa cemburu
atau iri melihat orang-orang yang mempunyai anak lebih dari satu. Perasaan cemburu
atau iri merupakan reaksi gabungan/perpaduan antara berbagai bentuk emosi. Mereka
merasa adanya kekurangan dalam dirinya sebagai seorang wanita ataupun pria. Dua
partisipan istri mengatakan adanya rasa cemburu atau iri melihat orang ataupun
saudara-saudaranya yang punya anak lebih dari satu.
Bobak dkk (2005) menyatakan bahwa respon cemburu yang dialami pasangan
infertilitas sekunder, khususnya yang dialami oleh wanita merupakan reaksi yang
disebabkan karena ketidakmampuan mereka dalam mengembangkan keluarga. Perasaan
cemburu tersebut mengandung sikap membandingkan dirinya dengan orang lain.
Mereka merasa adanya kekurangan dalam dirinya sebagai seorang pria yang dalam hal
ini khususnya sebagai seorang wanita. Hal ini disebabkan adanya prinsip budaya yang
masih menjamur di masyarakat kita bahwa suatu masalah ketidaksuburan itu merupakan
tanggung jawab wanita. Ketidakmampuan untuk mengandung dihubungkan dengan
dosa-dosanya atau fakta yang menyatakan bahwa ia adalah individu yang kurang
adekuat.
Perasaan cemburu juga dialami partisipan suami, satu partisipan suami
mengharapkan adanya anak laki-laki sebagai penerus marganya karena anaknya yang
sekarang ini perempuan dan secara adat Batak yang menjadi penerus marga itu adalah
laki-laki. Aspek psikologis dalam diri seorang pria atau suami dalam hal ini ada
hubungannya dengan jati dirinya, apabila hal ini tidak di dukung secara psikologis akan
membawa dampak yang dapat mengakibatkan seseorang itu akan kehilangan jati dirinya
2. Dampak perubahan psikologis yang timbul akibat infertilitas sekunder
Dari hasil penelitian, partisipan mengatakan bahwa dampak perubahan psikologis
akibat infertilitas sekunder yang muncul dalam diri mereka yaitu adanya rasa khawatir
akan diri sendiri juga terhadap anak mereka. Empat partisipan istri mengatakan adanya
rasa khawatir akan kondisi dirinya dan apabila anak mereka dalam keadaan sakit.
Dampak psikologis berupa perasaan khawatir menunjukkan adanya gangguan
kecemasan dalam tahap ringan (1+). Adapun gangguan kecemasan yang dialami
partisipan istri tersebut merupakan respon emosional yang ditandai dengan adanya
prilaku otomatis, sedikit tidak sabar, aktivitas menyendiri, terstimulasi dan kemudian
tenang kembali. Peplau (1952), menyatakan bahwa kecemasan dalam tahap ringan
berhubungan dengan perasaan akan adanya sesuatu yang berbeda dan membutuhkan
perhatian khusus. Walaupun demikian ada juga pasangan justru sebaliknya, mereka tetap
semangat meskipun hanya dikarunia satu orang anak saja. Pada tahapan ini individu
masih dapat memproses informasi dan memotivasi dirinya untuk belajar, berpikir dan
bertindak menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
3. Kemampuan mengatasi masalah
Adanya ketegangan dalam kehidupan mengakibatkan munculnya prilaku
pemecahan masalah yang bertujuan meredakan ketegangan tersebut. Kondisi pasangan
yang mengalami infertilitas sekunder sangat membutuhkan dukungan baik secara fisik
maupun psikologis. Hal ini berguna untuk menghilangkan rasa ketidakmampuan mereka
dalam menghadapi kondisi yang sedang mereka hadapi. Adapun usaha yang dilakukan
a. Berusaha mencari dan mengikuti program pengobatan baik secara medis maupun
tradisional.
Untuk mengatasi kondisi yang sedang partisipan alami sebagai pasangan yang
mengalami infertilitas sekunder, mereka melakukan upaya berupa mencari pengobatan
tradisional dan medis. Empat pasang partisipan berupaya mendatangi tukang kusuk dan
ke tenaga ahli (dokter), akan tetapi belum juga membuahkan hasil. Usaha yang
partisipan lakukan ini sesuai dengan tahapan kecemasan ringan, menurut Peplau (1952)
bahwa kecemasan ringan yang dialami oleh seorang individu berhubungan dengan
perasaan mereka karena adanya sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Dalam hal ini
individu masih dapat memotivasi dirinya untuk melakukan sesuatu dengan belajar,
berpikir serta bertindak untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
b. Pasrah dan berdoa.
Dua pasang partisipan hanya pasrah dan berdoa, selain karena alasan ekonomi
yang tidak mencukupi untuk mencari pengobatan sehingga mereka hanya dapat pasrah
dan berdoa. Apabila mereka diberikan lagi keturunan oleh-Nya, mereka bersyukur dan
kalau memang diberi hanya satu saja, mereka juga bersyukur. Pada dasarnya pasangan
ini sudah bersyukur karena telah memiliki satu orang anak, karena masih banyak lagi
orang-orang yang sama sekali belum punya keturunan. Senada dikemukakan Stuart
(2006), yang menyatakan bahwa individu yang dalam tahapan kecemasan ringan masih
dapat memotivasi dirinya dengan menghasilkan kreativitas yang ditandai dengan terlihat
tenang, percaya diri dan sadar akan lingkungannya (rileks).
c. Berusaha melupakan atau mengalihkan perhatian.
Keenam pasang partisipan suami dan istri berupaya untuk mengalihkan perhatian
yang tetap semangat mengurus anaknya demi masa depannya dikemudian hari. Upaya
yang dilakukan pasangan partisipan, dalam hal ini sesuai dengan yang dinyatakan
Peplau (1952) bahwa individu yang mengalami tahap kecemasan ringan pada dasarnya
masih dapat memotivasi dirinya untuk belajar, berpikir, bertindak, merasakan dan
melindungi dirinya sendiri. Tindakan yang dilakukan oleh pasangan partisipan ini,
termasuk dalam upaya melindungi dirinya terhadap masalah yang hadapinya.
d. Menceritakan masalah kepada orang lain/keluarga.
Keenam partisipan istri menceritakan masalah yang mereka hadapi dengan orang
yang senasib dengan mereka juga dengan keluarga terdekat. Upaya yang dilakukan
pasangan partisipan ini masuk dalam tahapan kecemasan ringan juga, seperti dinyatakan
oleh (Beck, A.T dalam Videbeck S, 2008) bahwa tingkat kecemasan ringan (1+) dapat
diketahui lewat tiga (3) respon yaitu respon fisik, respon kognitif dan respon emosional.
Adapun respon fisik yang ditandai dengan ketegangan otot ringan, sadar akan
lingkungan, rileks atau sedikit gelisah, penuh perhatian dan rajin. Respon kognitif
ditandai dengan lapangan persepsi luas, terlihat tenang, percaya diri, perasaan gagal
sedikit, waspada dan memperhatikan banyak hal, mempertimbangkan informasi dan
tingkat pembelajaran optimal, sedangkan respon emosional ditandai dengan adanya
perilaku otomatis, sedikit tidak sabar, aktivitas menyendiri, terstimulasi dan tenang.
Dari pihak partisipan suami hanya dua orang saja yang menceritakan masalah
mereka dengan teman atau rekan kerja yang sama dengan kondisi yang mereka hadapi.
Dalam hal ini terlihat jelas bahwa wanita lebih mudah mengungkapkan atau
mengekspresikan perasaanya dari pada pria. Hal ini disebabkan karena pria merasa
kekurangan dalam dirinya sebagai seorang laki-laki, yang dapat menurunkan harga diri
ataupun jati dirinya (Benson R & Pernoll M, 2009).
4. Harapan para pasangan infertilitas sekunder
Kondisi infertil yang dialami oleh pasangan infertilitas sekunder tidak
menjadikan mereka menjadi patah semangat, akan tetapi mereka tetap punya harapan
yang cerah buat masa depan anak mereka walaupun hanya satu saja. Semua pasangan
infertilitas sekunder punya harapan supaya anak mereka nantinya dapat sekolah
setinggi-tingginya dan harus lebih baik dari kondisi orang tuanya. Harapan yang timbul dalam
diri pasangan partisipan ini merupakan perpaduan antara respon fisik, kognitif dan
emosional, pada pasangan infertilitas sekunder yang mengalami kecemasan ringan
menurut Beck, A.T (1985) yaitu perasaan rileks, lapangan persepsi luas, tenang dan
percaya diri.