Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan
2. Pembahasan
Dalam bab ini diuraikan pembahasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pada lansia di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung.
Pernyataan sangat sering sering jarang tidak pernah
f(%) f(%) f(%) f(%)
1. Saya cemas teman saya semakin berkurang karena saya sudah tua.
16 (19,5%) 18 (22,0%) 12 (14,6%) 36 (43,9%)
2. Saya cemas apabila bertemu dengan rekan kerja saya yang dahulu.
2 (2,4%) 18 (22,0%) 17 (20,7%) 45 (54,9%)
3. Saya cemas memikirkan tetangga saya pindah.
32 (39,0%) 31 (37,8%) 13 (15,9%) 6 (7,3%)
4. Saya cemas apabila
menghadapi orang asing/orang yang baru dikenal.
42 (51,2%) 16 (19,5%) 12 (14,6%) 12 (14,6%)
2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pada lansia 2.1.1. Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa rata-rata responden sangat sering merasa cemas, ini dilihat dari nilai jawaban dari responden berdasarkan penyataan no. 4 yaitu 51 responden (62,2%) bahwa setelah lanjut usia maka pekerjaan bisa membuat cemas apabila terlalu banyak yang akan diselesaikan dan tidak yang tidak cemas ada 5 responden (6,1%), ini berkaitan juga dengan sekitar 48 responden telah lebih dari satu tahun pensiun. Hal ini sesuai dengan Maryam dkk. (2008) bahwa sisi aktivitas lansia menurun sesuai dengan penurunan fisik lansia secara fisiologis.
Pada pernyataan no. 2 dan pernyataan no. 3 masing-masing responden yang merasa sangat cemas ada 41 responden (50,0%) ini menggambarkan bahwa lansia tidak ingin pekerjaannya itu tidak selesai/tidak tuntas dan orang lain lebih baik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, ini sesuai dengan Hurlock (1999) bahwa sikap kerja sangat penting bagi semua tingkat usia terutama usia lanjut karena sikap kerja ini tidak hanya kualitas kerja yang mereka lakukan tetapi juga sikapnya terhadap masa pensiun yang akan datang.
Pernyataan no. 1 yaitu 54 responden (65,9%) menyatakan bahwa lansia tidak pernah merasa cemas terhadap waktu luang dan 8 responden (9,8%) yang merasa cemas, hanya saja tergantung pada lama atau tidaknya pensiun sehingga mampu menyesuaikan diri dengan waktu luang, hal ini
sesuai dengan penelitian Sugiyanto (2008) dengan judul “Pengaruh Self- Esteem Terhadap Penyesuaian Diri Pensiun pada Lansia” menunjukkan terdapat pengaruh secara positif self-esteem terhadap penyesuaian diri pensiun pada lansia dan menurut Hurlock (1999) bahwa masa pensiun seringkali dianggap sebagai suatu kondisi yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masa tiba mereka merasa cemas pada kehidupan yang akan dihadapinya.
Berdasarkan data yang diperoleh sebanyak 36 responden (43,9%) merasa sering cemas karena pekerjaannya dan 13 responden (15,85%) yang jarang cemas, ini didukung oleh data demografi yaitu 48 responden (58,5%) sudah tidak memiliki pekerjaan lebih dari 1 tahun sehingga mereka telah mampu menyesuaikan diri. Hal ini sesuai dengan penelitian Sugiyanto (2008) dengan judul “Pengaruh Self-Esteem Terhadap Penyesuaian Diri Pensiun pada Lansia” menunjukkan terdapat pengaruh secara positif self-esteem terhadap penyesuaian diri pensiun pada lansia.
2.1.2. Status kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa rata-rata responden sangat sering merasa cemas, ini dilihat dari nilai jawaban dari responden berdasarkan penyataan no. 1 yaitu 45 responden (54,9%), penyataan no.3 yaitu 29 responden (35,4%), dan penyataan no. 2 yaitu 25 responden (30,0%) bahwa setelah lanjut usia maka tubuh juga mengalami kelemahan tidak sekuat sewaktu muda dahulu sehingga mudah terjangkit penyakit-penyakit di lingkungan. Sesuai dengan Kunjoro (2002) bahwa
orang memasuki lanjut usia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat fisiologis berganda, misalnya tenaga berkurang, kulit makin keriput, gigi mulai rontok, tulang makin rapuh, dan lain-lain.
Pada pernyataan no. 4 responden yang merasa sangat cemas ada 31 responden (37,8%) ini menggambarkan bahwa lansia berfikir penyakitnya tidak akan kunjung sembuh, ini sesuai dengan Lydia (2010) bahwa kecemasan yang tersering pada lansia adalah tentang kematiannya. Orang mungkin menghadapi pikiran kematian dengan rasa putus asa dan kecemasan, bukan dengan ketenangan hati dan rasa integritas (“Erik Erikson”). Kerapuhan sistem saraf anotomik yang berperan dalam perkembangan kecemasan setelah suatu stressor yang berat.
Menurut Affandi (2008) bahwa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan pada lansia yang mengalami penyakit kronis dalam menghadapi kematian diantaranya adalah selalu memikirkan penyakit yang dideritanya, kendala ekonomi, waktu berkumpul dengan keluarga yang dimiliki sangat sedikit karena anak-anaknya tidak berada satu rumah/berlainan kota dengan subyek, kepikiran anaknya yang belum menikah, sering merasa kesepian, kadang sulit tidur dan kurangnya nafsu makan karena selalu memikirkan penyakit yang dideritanya.
Berdasarkan data yang diperoleh sebanyak 33 responden (39,53%) merasa sering cemas karena penyakit yang diderita oleh lansia dan 6 responden (7,7%) yang tidak merasa cemas, ini didukung oleh data demografi yaitu yang memiliki penyakit kronis ada 22 responden (26,8%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Sarinti (2007) dengan judul “Hubungan Jenis Penyakit dan Tingkat Kecemasan dengan Lama Rawat Pasien Gangguan Fungsi Jantung di Ruang ICCU RSU Tugurejo Semarang” yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan lama rawat.
2.1.3. Kehilangan pasangan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa rata-rata responden sering merasa cemas, ini dilihat dari nilai jawaban dari responden berdasarkan penyataan no. 2 yaitu 41 responden (50,0%), penyataan no.3 yaitu 25 responden (30,5%), dan penyataan no. 1 yaitu 22 responden (26,8%) bahwa kehilangan pasangan sangat mempengaruhi kecemasan pada lansia dikarenakan kehilangan pasangan berarti tidak akan ada lagi yang mengerti apa yang dibutuhkan, mendengarkan keluh kesah, dan mengurusi di rumah karena pasangan adalah orang yang telah bertahun-tahun hidup bersama dan pernyataan tersebut berhubungan juga dengan data yang diperoleh bahwa 37 responden adalah laki-laki. Sesuai dengan Hurlock (1999) penyesuaian utama yang harus dilakukan oleh lanjut usia adalah penyesuaian yang dilakukan karena kehilangan pasangan hidup. Kehilangan tersebut dapat disebabkan oleh kematian atau penceraian. Kondisi ini mengakibatkan gangguan emosional dimana lanjut usia akan merasa sedih akibat kehilangan orang yang dicintainya (Hidayat, 2004).
Pada pernyataan no. 4 yaitu 25 responden (30,5%) menyatakan cemas karena tinggal di rumah sendirian tanpa ada pasangan, hal ini sesuai dengan Maryam dkk. (2008) bahwa lansia biasanya sudah menyadari bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan normal, tetapi kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang ditinggalkan akan menemukan penyesuaian kematian dengan mudah. Sesuai juga dengan penelitian Juniarti (2008) dengan judul “Gambaran Jenis dan tingkat Kesepian pada Lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung” yang menyatakan bahwa 49,4% lansia mengalami kesepian emosional.
Berdasarkan data yang diperoleh sebanyak 28 responden (34,45%) merasa cemas kehilangan pasangan dan 7 responden (9,78%) yang tidak merasa cemas, ini didukung oleh data demografi yaitu 64 responden (78,0%) masih memiliki pasangan. Sesuai dengan Maryam dkk. (2008) bahwa lansia biasanya sudah menyadari bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan normal, tetapi kesadaran akan kematian tidak berarti bahwa pasangan yang ditinggalkan akan menemukan penyesuaian kematian dengan mudah.
2.1.4. Keluarga
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa rata-rata responden sangat sering merasa cemas, ini dilihat dari nilai jawaban dari responden berdasarkan penyataan no. 2 yaitu 46 responden (56,1%), penyataan no.1 yaitu 40 responden (48,8%), bahwa kelurga adalah segala-
galanya bagi lanjut usia, mereka sangat senang berkumpul dengan keluarga. Oleh karena itu, lansia sangat cemas apabila salah satu anggota keluarganya tidak berkomunikasi dengannya dan tidak pernah mengunjunginya. Sesuai dengan Maryam, dkk (2008) bahwa keluarga merupakan suppot system utama bagi lansia dalam mempertahankan kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara lain manjaga atau marawat lansia, mengantisipasi perubahan sosial ekonomi, serta memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spiritual bagi lansia.
Pada pernyataan no. 4 responden merasa tidak cemas ada 61 responden (74,4%), dan pernyataan no. 3 yaitu 41 responden (50,0%) menggambarkan bahwa lansia tidak cemas karena harus tinggal bersama keluarganya dan menjaga cucu-cucunya, mereka senang hidup bersama- sama keluarga dan tidak mau tinggal sendirian. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurdin (2009) dengan judul “Hubungan Perubahan Psikososial Lanjut Usia dan Perpisahan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Lansia di Panti Werdha Pucang Gading Semarang” yang menyatakan bahwa Mayoritas lanjut usia sebesar 55,6% merasa berpisah dengan keluarganya dan menurut hasil penelitian Istiati dengan judul “Hubungan fungsi Keluarga dengan Kecemasan pada Lanjut Usia” menunjukkan ada hubungan antara fungsi keluarga dan kecemasan pada lanjut usia.
Berdasarkan data yang diperoleh sebanyak 23 responden (28,4%) menyatakan sangat sering cemas dan 14 responden (16,45%) jarang
cemas. Hal ini sesuai dengan Istiati dengan judul “Hubungan fungsi Keluarga dengan Kecemasan pada Lanjut Usia” menunjukkan ada hubungan antara fungsi keluarga dan kecemasan pada lanjut usia.
2.1.5. Dukungan sosial
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa rata-rata responden sangat sering merasa cemas, ini dilihat dari nilai jawaban dari responden berdasarkan penyataan no. 4 yaitu 42 responden (51,2%), penyataan no.3 yaitu 32 responden (39,0%) bahwa lansia sulit dalam menghadapi orang asing dan tetangganya yang pindah ini sesuai dengan penelitian Hayati (2009) dengan judul “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesepian pada Lansia” yang menyatakan bahwa 13,7% lansia mengalami kesepian disebabkan kurangnya dukungan sosial.
Pada penyataan nomor 2 yaitu 45 responden (54,9%), pernyataan nomor 1 yaitu 36 responden (43,9%) bahwa lanjut usia tidak merasa cemas apabila bertemu dengan rekan kerjanya yang terdahulu dan tidak pernah terfikir bahwa semakin usia lanjut maka teman akan berkurang, ini sesuai dengan menurut Stanley dan Patricia (2006) ketika individu dewasa mencapai usia lanjut, jaringan pendukung sosial mereka mulai terpecah ketika teman meninggal atau pindah. Kekuatan dan kenyamanan yang diberikan oleh teman-temannya ini, yang membantu individu menahan atau mengatasi kehilangan, tidak ada lagi. Kehilangan tersebut dapat menjadi pencetus terjadinya penyakit fisik dan mental pada masa tua.
Berdasarkan data yang diperoleh sebanyak 23 responden (28,4%) merasa sangat cemas karena dukungan sosial dan 13 responden (16,45%) yang jarang merasa cemas, ini didukung oleh data demografi yaitu 38 responden (46,3%) hanya lulusan SD. Hal ini sesuai dengan penelitian Hayati (2009) dengan judul “Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesepian pada Lansia” yang menyatakan bahwa 13,7% lansia mengalami kesepian disebabkan kurangnya dukungan sosial.