• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah (3-6 tahun)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.2 Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah (3-6 tahun)

Penelitian tingkat kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) yang dapat dilihat secara rinci berdasarkan kuesioner, dimana terdapat persentase masing-masing pertanyaan pada pilihan jawaban ya, tidak.

Tabel 5.2. Tabel Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah (3-6 Tahun) di Ruang Non Infeksi (n=44)

No Pernyataan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah

Non Infeksi

Ya Tidak

f % f %

1 Apakah anak menunjukkan wajah tegang dan kondisi yang tidak menyenangkan setelah beberapa hari anak dirawat di rumah sakit

19 43,2 25 56,8 2 Apakah anak menunjukkan respon takut kepada

perawat saat akan dilakukan tindakan

32 72,7 12 27,3 3 Apakah anak menangis ketika keluarga

meninggalkannya di ruangan

15 34,1 29 65,9 4 Apakah anak gemetar dan gugup saat dilakukan

tindakan keperawatan

32 72,7 12 27,3 5 Apakah anak anak menolak bertemu dengan

orang yang tidak dikenal

9 20,5 35 79,5 6 Apakah anak merasa ketakutan saat ditinggal

orangtua

12 27,3 32 72,7 7 Apakah anak ketakutan saat berada di

lingkungan yang asing

12 27,3 32 72,7 8 Apakah anak menolak makan selama dirawat

inap di rumah sakit

16 36,4 28 63,6 9 Apakah anak menangis saat melihat petugas

kesehatan datang

30 68,2 14 31,8 10 Apakah anak mau saat diajak berkomunikasi 23 52,3 21 47,7 11 Apakah anak selalu menghindar ketika seseorang

menyentuh bagian tubuhnya yang nyeri

7 15,9 37 84,1 12 Apakah anak berusaha menahan orangtuanya

agar tetap bersamanya

14 31,8 30 68,2 13 Apakah anak selalu berkeringat perawat akan

melakukan tindakan

25 56,8 19 43,2 14 Apakah anak menarik diri dari teman yang

seruangan dengannya

24 54,5 20 45,5 15 Apakah anak selalu memegang orangtuanya 12 27,3 32 72,7

31

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Kecemasananak Usia Prasekolah (3-6tahun) di Ruang Noninfeksi (n= 44)

Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah(3-6Tahun) f %

Cemas Ringan 16 36,4

Cemas Sedang 19 43,2

Cemas Berat 9 20,5

Dari tabel diatas data yang diperoleh menunjukkan mayoritas tingkat kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) di ruang noninfeksi adalah Cemas Sedang 19 orang (43,2%), minoritas tingkat kecemasan anak usia prasekolah (3-6 tahun) adalah kecemasan berat 9 orang (20,5%).

5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian mayoritas responden berusia 4-5 tahun (59,1%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Wong (2009), yang menyatakan periode usia prasekolah atau masaprasekolah dengan rentang usia 3-6 tahun.secara umum aktivitas fisik semakin tinggi, sehingga anak sangat rentan untuk terkena penyakit yang bisa mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Apabila anak dalam kondisi sakit, maka orang tua akan segera membawa anak ke pelayanan kesehatan dan seringkali anak harus dirawat inap untuk proses penyembuhannya.

Semakin muda usia anak, maka akan semakin sulit bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini juga berhubungan dengan sistem imun anak akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak

32

beresiko untuk mengalami hospitalisasi disebabkan oleh pertahanan sistem imun anak yang masih berkembang sehingga sangat rentan terhadap paparan penyakit.

Berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden berjenis kelamin peremuan sebanyak 24 orang (54,5%). Hal ini dikarenakan jumlah pasien anak usia prasekolah yang menjalani rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan. Penelitian ini bertolak belakang dengan Wong (2009), menyatakan anak perempuan pada umumnya lebih adaptif terhadap stresor dibandingkan dengan anak laki-laki, sehingga anak laki-laki lebih banyak yang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak perempuan. Hal tersebut tidak sejalan dengan pendapat Hurlock (2004), menyatakan jenis kelamin akan mempengaruhi aktifitas bermain anak. Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan yang menghabiskan energi dibandingkan anak perempuan, sehingga anak laki-laki lebih beresiko terkena penyakit atau cedera.

Berdasarkan riwayat pernah dirawat inap di rumah sakit mayoritas responden belum pernah dirawat di rumah sakit yaitu 35 orang (79,5%). Berdasarkan pernyataan Supartini (2004), menyatakan anak yang baru mengalami perawatan di rumah sakit akan beresiko menimbulkan perasaan cemas yang ditimbulkan baik oleh anak maupun orantua, berbagai kejadian dapat menimbulkan dampak atraumatik terutams pada anak yang baru pertama kali mengalami perawatan di rumah sakit, salah satunya karena adanya interaksi yang tidak baik dengan petugas kesehatan (Potter & Perry, 2005), reaksi anak terhadap hospitalisasi berbeda-beda, sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia dan

33

kemampuan koping yang dimilikinya dan tidak ada hubungan antara pengalaman pernah dirawat dengan kecemasan anak (Supartini, 2004).

Berdasarkan lama rawat inap mayoritas responden lama rawat inap 1-5 hari yaitu sebanyak 26 orang (59,1%). Hal ini dikarenakan anak belum mengenal lingkungan dan prosedur pengobatan yang akan dijalani. Pada anak yang baru masuk ke rumah sakit, awalnya sangat sulit berinteraksi dengan orang lain. Respon yang muncul yaitu anak cenderung menangis atau marah ketika didekati, bahkan tidak segan-segan ia merajuk kepada orang tuanya. Atas bantuan dari orang tua pasien yang selalu ada disamping klien, semua hambatan dapat teratasi dengan baik. Sebagian anak yang telah 4-5 hari dirawat cenderung bisa berinteraksi dengan baik, bahkan ia berespon ketika kita membacakan cerita (Wong,2009).

Hasil pengukuran kecemasan anak prasekolah trlihat bahwa kecemasan anak usia prasekolah berdasarkan kategorinya, didapatkan hasil 16 anak (36,4%) mengalami kecemasan ringan, 19 anak (43,2%) mengalami kecemasan sedang serta 9 anak (20,5%) mengalami kecemasan berat.Hal tersebut dikarenakan karena mayoritas rentang lama rawatan anak yang belum terlalu lama dirawat di rumah sakit pada wktu penelitian dilakukan yaitu 1-5 hari,sehingga anak belum terlalu memiliki kecemasan yang berat.

Menurut salah satu orangtua anak, kecemasan anak sering muncul ketika perawat menghampiri anak. Anak tiba-tiba menangis saat melihat perawat,berusaha menahan orangtuanya agar tetap bersamanya dan tampak gugup

34

prasekolah menggambarkan bahwa hospitalisasi sebagai hukuman dan perpisahan dengan orangtua sebagai kehilangan kasih sayang. Hal ini yang menyebabkan anak menganngap perawat yang dating akan selalu melukainya dan kehadiran orangtua akan memberikan perlindungan bagi diri anak.

Hospitalisasi akan menimbulkan ancaman terhadap integritas fisik dan sistem dalam diri anak. Ancaman ini akan menimbulkan respon kecemasan pada anak (Wong, 2009). Penyebab dari kecemasan pada anak yang dirawat inap (hospitalisasi) dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas(perawat,dokter,dan tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru, maupun keluarga yang mendampingi selama perawatan (Nursalam, 2005). Hal ini disebabkan karena anak selama di rawat di Rumah Sakit menjalani tindakan medis seperti diinfus dan disuntik. Kemudian hal ini juga bias disebabkan karena anak sedang beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Teori Andrew (1996), menyebutkan bahwa anak selama dirawat di Rumah Sakit akan mengalami keadaan yang tidak menyenangkan sehingga mengakibatkan kecemasan pada anak. Menurut Wong (2009), hospitalisasi dan penyakit merupakan pengalaman yang membuat tekanan secara fisik dan sikologis karena berpisah dengan lingkungan yang biasa ditemui anak. Adanya lingkungan yang baru membutuhkan proses adaptasi.

Anak usia prasekolah sering terjadi kehilangan kntrol yang disebabkan oleh pembatasan fisik,perubahan rutinitas dan ketergantungan yang harus anak patuhi. Kehilangan kontrol dapat menyebabkan perasaan tidak berdaya sehingga dapat memperdalam kecemasan dan ketakutan (Monarco, 1995)

35

Hasil analisa kuesioner didapatkan bahwa 73% kecemasan anak ditunjukkan dengan resppon takut kepada perawat saat akan dilakukan tindakan, 68% anak menangis saat melihat petugas kesehatan datang, dan 57% anak selalu berkeringat saat perawat akan melakukan tindakan.

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar usia anak yang menjalani proses hospitalisasi yaitu 4-5 tahun (59%). Menurut penelitian yang dilakukan Apriliawati (2011) pada 30 responden anak, terdapat hubungan sedang antara usia dan kecemasan responden. Semakin muda usia anak, maka akan semkain sulit bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (Scharin, 1996). Selain itu pengalaman yang tidak menyenangkan anak akan menyebabkna anak takut dan trauma (Supartini, 2004).

Penelitian ini sesuai dengan penelitian (Silaban, 2011), bahwa Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di Rumah Sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya ke rumah. Selama proses tersebut, anak dan orangtua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat trauatik dan penuh dengan stres.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait