• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas secara rinci hasil penelitian yang dikaitkan dengan landasan teori yang di pakai dan hipotesis yang ada. Hasil penelitian melalui analisa univariabel yang dilakukan dapat memberikan gambaran Dari tabel 4.1 diatas menunjukkan bahwa, sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 46 responden dengan persentase 57,50 %. Untuk variabel motivasi terlihat Dari tabel 4.2 diatas menunjukkan bahwa, sebagian besar responden mempunyai motivasi tinggi sebanyak 43 responden dengan persentase 53,80 %. Sedang pada variabel persepsi kesuburan setelah melahirkan terlihat pada Dari tabel 4.3 menunjukkan bahwa, sebagian besar responden mempunyai persepsi baik sebanyak 43 responden dengan persentase 57,50%. Untuk hasil analisa bivariabel antara lain ; Berdasarkan tabel 4.4 di atas tingkat pengetahuan rendah dengan persepsi kesuburan ibu

setelah melahirkan (postpartum) tidak baik sebanyak 24 orang (30%), baik

sebanyak 10 orang (12,5%). Sedangkan pengetahuan tinggi dengan persepsi

kesuburan ibu postpartum tidak baik sebanyak 10 orang (12,5%) dan baik

sebanyak 36 orang (45%). Hasil rx1y = 0,660 dan chi square diperoleh χ² =

19,090 dengan p value = 0.000. Sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan persepsi kesuburan ibu setelah

melahirkan (postpartum). Berdasarkan tabel 4.5 di atas motivasi rendah

commit to user

58

(313%), baik sebanyak 12 orang (15%). Sedangkan motivasi tinggi dengan

persepsi kesuburan ibu postpartum tidak baik sebanyak 10 orang (12,5%) dan

baik sebanyak 34 orang (42,5%). Hasil rx2y = 0,741 dan hasil chi square

diperoleh χ² = 17,701 dengan p value = 0.000. Sehingga disimpulkan ada

hubungan yang bermakna antara motivasi dengan persepsi kesuburan ibu

setelah melahirkan (postpartum). Berdasarkan tabel 4.5 di atas motivasi

rendah dengan persepsi kesuburan ibu postpartum tidak baik sebanyak 25

orang (313%), baik sebanyak 12 orang (15%). Sedangkan motivasi tinggi

dengan persepsi kesuburan ibu postpartum tidak baik sebanyak 10 orang

(12,5%) dan baik sebanyak 34 orang (42,5%). Hasil chi square diperoleh χ² =

17,701 dengan p value = 0.000. Sehingga disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan persepsi kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum).

1).Nilai konstanta (-16,758)

Konstanta bernilai negatif menunjukkan bahwa apabila tidak ada faktor tingkat pengetahuan (X1) dan motivasi (X2) maka persepsi kesuburan ibu

setelah melahirkan (postpartum) (Y) turun sebesar 16,758.

2). Koefisien regresi variabel Tingkat pengetahuan.

Nilai positif menunjukkan bahwa adanya hubungan searah antara pengetahuan terhadap persepsi kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum), artinya apabila pengetahuan responden semakin tinggi, maka

3). Koefisien regresi variabel motivasi.

Koefisien regresi pada variabel motivasi berpengaruh positif dan signifikan

terhadap persepsi kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum), artinya

apabila motivasi semakin tinggi maka persepsi kesuburan ibu setelah

melahirkan (postpartum) semakin baik.

Analisis bivariat digunakan untuk menganalisa hubungan antara

variabel bebas dengan variabel terikat. Dalam hal ini variabel bebas adalah motivasi dan tingkat pengetahuan, sedangkan variabel terikat adalah persepsi

kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum), maka uji statistik yang

digunakan adalah regresi berganda dengan taraf signifikansi 95%. Uji

linieritas diperoleh untuk mendeteksi adanya hubungan linier antara variabel

X dan Y. Jika F hitung < F tabel atau p-value > 0,05 (α) maka dapat

disimpulkan bahwa korelasinya linier dan apabila F hitung > F tabel atau

p-value < 0,05 (α) maka korelasinya tidak linier. Dari perhitungan (pada

lampiran ) hasil uji Linearitas adalah Ha diterima, sebab pada variabel

tingkat pengetahuan (X1) dengan persepsi kesuburan ibu postpartum (Y)

didapat F hitung sebesar 1,330 dengan p-value (0,249) > 0,05. Jadi model regresi antara motivasi (X2) terhadap persepsi kesuburan ibu setelah

melahirkan (postpartum) (Y) adalah linear. Sedangkan untuk variabel

tingkat pengetahuan (X1) dengan persepsi kesuburan ibu postpartum (Y)

didapat F hitung sebesar 1,505 dengan p-value 0,115 > 0,05. Jadi model

regresi antara motivasi (X2) terhadap persepsi kesuburan ibu setelah

commit to user

60

seseorang akan tinggi motivasi sebagai peserta keluarga berencana apabila mereka kaum wanita terutama tahu dan mengerti akan konsep kesuburan setelah melahirkan serta tentang keluarga berencana akan menumbuhkan kesadaran terhadap mereka sehingga diharapkan akan menimbulkan suatu motivasi yang tinggi terhadap ibu untuk menjadi akseptor KB. Meskipun juga tingkat pengetahuan seseorang tinggi (status pendidikan tinggi) belum menjadi jaminan mempunyai motivasi tinggi sebagai akseptor KB apabila mereka belum paham terhadap pengetahuan tentang kesuburan setelah melahirkan. Tetapi bila mereka paham tentang pengetahuan kesuburan setelah melahirkan akan lebih menimbulkan motivasi menjadi akseptor KB meskipun status pendidikan tidak tinggi. Meskipun dalam proses tersebut terkadang dipengaruhi oleh faktor luar seperti umur ibu, status ekonomi, pendidikan, dukungan suami serta paritas ibu, meskipun faktor ini tidak peneliti teliti tetapi sangat berpengaruh. Juga motivasi ibu peserta KB ini juga dapat terpengaruh terhadap tempat pelayanan KB. Tetapi faktor luar ini dapat terkendali apabila kita sebagai tenaga kesehatan memberikan konseling informasi dan edukasi terhadap ibu masa nifas terutama untuk lebih mantap dan jelas sehingga ibu tersebut tidak menyimpan suatu kekuawatiran tentang alat kontrasepsi maupun metodenya. Dalam hal ini akan didukung berdasarkan hasil uji hipotesis yang di pakai di lihat dari t hitung variabel tingkat pengetahuan 5,445. Dengan tingkat significan 0.000, variable motivasi 7.510 dengan tingkat significan 0.000 dan hasil simultan terdapat

uji F hitung 79.583.dengan significan 0.000,dengan p < 0,05 .dengan penjabaran dibawah ini.

Dalam analisa variabel tingkat pengetahuan terdapat 46 respnden yang dikategorikan pengetahuan tinggi ada 57,5 % dan 34 yang dikategorikan tingkat pengetahuan rendah ada 42,5 %. Hipotesis 1 Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan persepsi kesuburan ibu setelah

melahirkan (postpartum), terbukti kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis

regresi berganda yang telah dilakukan, diketahui bahwa tingkat pengetahuan berpengaruh terhadap motivasi pemilihan kontrasepsi setelah melahirkan (postpartum) secara parsial. Hal ini dapat dilihat pada nilai t hitung dengan p-value 0,000 < 0,05. Menurut Suryaningrat (2005) suatu informasi dapat menambah pengetahuan yang dapat merubah sikap, dimana sikap seseorang dapat terlihat dari prilaku cara mengubah ketidaktahuan serta sikap dan perilaku itu antara lain melalui pendidikan. Sedangkan menurut Budiningsih, (2005) pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus-menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru. Dengan adanya pengetahuan ibu tentang keluarga berencana yang dikuatkan ibu terhadap pemahaman kesuburan setelah melahirkan diharapkan akan lebih memantapkan ibu untuk menjadi aseptor keluarga berencana secara dini.Sejalan dengan hasil penelitian Rini Prasetyaningsih dengan judul : ” Hubungan Pengetahuan dan Sikap Cara Menyusui Dengan Praktek Menyusui Ibu Post Partum Primipara di Rumah Sakit PKU Muhammadyah delanggu” Tahun 2007. Hasil penelitian

commit to user

62

menunjukkan Sikap tentang cara menyusui ibu postpartum Primipara ,dari

uji F hitung variabel pengetahuan dan praktek = 4.049 dengan tingkat signifikan 0.000, F hitung dari hubungan variabel sikap dengan praktek sebesar 2.825 dengan tingkat signifikan 0.012 dari hubungan variabel sikap dan pengetahuan sebesar 2.958 dengan tingkat signifikan 0.011. Berdasarkan statistik disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan cukup kuat antara pengetahuan tentang cara menyusui dengan praktek menyusui ibu post partum primipara. Dwi Purnawati dengan judul : ” Hubungan Antara Pengetahuan dn Sikap pasangan Usia Subur tentang Kesehatan Reproduksi terhadap penundaan Kehamilan. Hasil Penelitian didapatkan Pengetahuan dan sikap berpengaruh secara signifikan terhadap penundaan kehamilan ( regresi logistik didapatkan = 0.000 < alpha ( 0,05 ), Ho ditolak. Kesimpulan adalah Ada hubungan antara Pengetahuan dan sikap pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi terhadap penundaan kehamilan .Sesuai dengan pendapat Mary Rowland ,MD. (2005) Bahwa ibu menyusui atau post partum paling baik dapat segera menjadi akseptor KB baru.

Pada Hipotesis yang ke 2 Terdapat hubungan yang signifikan antara

motivasi dengan persepsi kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum),

terbukti kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis regresi berganda yang telah dilakukan, diketahui bahwa motivasi berhubungan dengan persepsi

kesuburan ibu setelah melahirkan (postpartum) secara parsial. Hal ini dapat

dilihat pada nilai t hitung dengan p-value 0,000 < 0,05. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya

efektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Ngalim P (2004) pengertian lain dari motivasi disebut dorongan sedangkan Nana Syaodin S, (2003) berpendapat bahwa motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan atau perangsang. motivasi terbentuk oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu. Dengan demikian motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi internal dan berawal dari motif maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif pada saat saat tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan mendesak. Dengan adanya pemahaman yang kuat tentang kesuburan setelah melahirkan bahwa paling aman dalam memutuskan untuk mengikuti keluarga berencana dimana saat masa nifas tidak didapatkan suatu proses reproduksi yang aktif serta tidak terdapat penyakit yang kontra indikasi terhadap pemilihan salah satu jenis KB maka akan meningkatkan motivasi seorang ibu untuk segera menjadi aseptor KB. Sesuai pendapat Ilene s speizer (2009) bahwa motivasi kuat pada seorang wanita untuk tidak hamil memutuskan untuk memilih metode kontrasepsi.

Pada Hipotesis yang ke 3 Terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pengetahuan dan motivasi dengan persepsi kesuburan ibu setelah

melahirkan (postpartum), terbukti kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis

regresi berganda yang telah dilakukan, diketahui bahwa tingkat pengetahuan dan motivasi secara simultan berhubungan dengan perilaku pemilihan kontrasepsi, hal dapat dilihat dari nilai F hitung dengan p-value 0,000 < 0,05.

commit to user

64

Persepsi merupakan suatu keadaan yang integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya sehingga pengetahuan, pengalaman, keyakinan, kepentingan, perhatian dan faktor faktor lain akan sangat berpengaruh terhadap persepsi individu. Konsep tersebut sangat relevan dengan adanya perbedaan persepsi antar individu meskipun stimulus yang diterima sama. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penafsiran pola stimulus dalam lingkungan .terbentuknya persepsi dalam diri seseorang terjadi apabila stimuli yang sangat komplek masuk kedalam otak dan setelah melalui proses yang sangat rumit akan menghasilkan makna serta arti atau tafsiran terhadap stimulus tersebut. Persepsi kesuburan setelah melahirkan meliputi aspek pengetahuan tentang kesuburan melahirkan, harapan dan manfaat yang diinginkan, resiko dan evaluasi yang berhasil disimpulkan. Kesuburan setelah melahirkan merupakan kembalinya keseimbangan antara fungsi kelenjar

hypothalamus anterior dan sekresi gonadrophin. Meskipun merupakan suatu proses yang kompleks tetapi konsep mengenai penekanan ovulasi dan siklus menstruasi melalui aktivitas pemberian ASI sudah dipahami. Frekuansi menyusu yang menghasil prolaktin berhubungan erat dengan perubahan

sekresi LH dan aminorea. Secara klinis pengukuran kesuburan dilakukan saat

kembalinya menstruasi setelah melahirkan dan tergantung pada durasi dan frekuansi menyusui (Egbuonu et al, 2005). Kesuburan setelah melahirkan merupakan fungsi fisiologis ketika aktivitas menyusui tidak mampu lagi menekan datangnya ovulasi. Fenomena penurunan prevalensi pemberian ASI esklusif akan menyebabkan kesuburan setelah melhirkan datang lebih cepat.

Penurunan ekologi menyusu menyebabkan rata rata jarak kelahiran yang semula 2 tahun menjadi 1 tahun. Karena meliputi ekologi sebagai berikut: Bayi hanya diberikan ASI 6 bulan pertama, ASI diberikan sesuai dengan kebutuhan bayi siang dan malam hari, pengenalan makanan terbatas berangsur angsur setelah usia 6 bulan, Dan dilanjutkan makanan utama diatas 1 tahun atau lebih (jakcson, 1998).

Menyusui dapat menekan datangnya kesuburan dengan waktu yang bervariasi. Cara bayi menyusu atau menghisap sangat menentukan periode datangnya kembali kesuburan yang tertekan oleh aktivitas menyusui. Rangsangan pada puting oleh isapan bayi menghasilkan 3 respon: Pelepasan hormon oksitosin dan kelenjar posterior untuk melepaskan ASI kepada bayi, Melepaskan hormon prolaktin yang sangat diperlukan untuk memproduksi

ASI sebagai makanan bayi, dan penekanan sekresi gonadhotropin yang akan

menekan aktivitas ovarium (Mcneilly,1996). Kesuburan setelah melahirkan

merupakan kembalinya keseimbangan antara fungsi kelenjar hypothalamus -

anterior dan sekresi gonadhotrophin sehingga terjadi ovulasi. Resiko akan

terjadi bila ibu postpartum tidak dilindungi kontrasepsi sudah aktif secara seksual. Kembalinya mentruasi merupakan tanda yang jelas bagi ibu postpartum bahwa dirinya telah kembali subur, tetapi ovulasi tidak selalu ditandai dengan datangnya mentruasi. Dengan kuatnya seorang ibu mengetahui kesuburan setelah melahirkan dengan pasti maka akan lebih mantap dengan adanya tingkat pengetahuan ibu terhadap macam macam keluarga berencana dan cara kerjanya sehingga akan menimbulkan suatu

commit to user

66

motivasi yang kuat dari dalam diri ibu untuk memilih atau menjadi akseptor KB dapat juga menimbulkan suatu kesadaran untuk segera menjadi dan memilih akseptor keluarga berencana (Mcneilly,1996). Kesuburan setelah melahirkan merupakan kembalinya keseimbangan antara fungsi kelenjar

hypothalamus - anterior dan sekresi gonadhotrophin sehingga terjadi ovulasi.

Resiko akan terjadi bila ibu postpartum tidak dilindungi kontrasepsi sudah

aktif secara seksual. Kembalinya mentruasi merupakan tanda yang jelas bagi ibu postpartum bahwa dirinya telah kembali subur, tetapi ovulasi tidak selalu ditandai dengan datangnya mentruasi. Dengan kuatnya seorang ibu mengetahui kesuburan setelah melahirkan dengan pasti maka akan lebih mantap dengan adanya tingkat pengetahuan ibu terhadap macam macam keluarga berencana dan cara kerjanya sehingga akan menimbulkan suatu motivasi yang kuat dari dalam diri ibu untuk memilih atau menjadi akseptor KB dapat juga menimbulkan suatu kesadaran untuk segera menjadi dan memilih akseptor keluarga berencana.

Dokumen terkait