BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Penggunaan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto dimulai sejak mula berdirinya MDA Masjid Baiturrahim Koto pada tahun 2000 sampai sekarang, lebih kurang sekitar 19 tahun. Tujuan penggunaan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto adalah agar santri terhindar dari kesalahan dalam membaca ayat Al-Qur’an, artinya santri dapat membaca Al-Qur’an sesuai dengan makhraj dan tajwid yang benar, Selanjutnya santri mampu untuk membaca Al-Qur’an secara tartil yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Dengan hal ini santri diharapkan akan dapat dengan mudah memahami makna yang terdapat dalam Al-Qur’an.
Sejalan dengan tujuan penggunaan metode Qiro’ati dalam pembelajaran Al-Qur’an di MDA Masjid Baiturrahim Koto hal yang memotivasi penggunaan metode ini yaitu agar santri dapat dengan mudah memahami Al-Qur’an dan mampu menerapkan dalam berperilaku pada kehidupan sehari-harinya. Selain itu keunggulan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode Qiro’ati ini diantaranya adalah:
a. Praktis, mudah dipahami dan dilaksanakan oleh peserta didik
b. Peserta didik aktif dalam belajar membaca, guru hanya menjelaskan pokok pembelajaran dan memberi contoh bacaan
c. Peserta didik tidak merasa terbebani, materi yang diberikan secara bertahap, dari kata yang mudah dan sederhana
d. Efektif sekali baca langsung fasih dan tartil dengan ilmu tajwidnya
Hal ini sejalan dengan target utama dari metode Qiro’ati adalah santri dapat secara langsung mempraktekkan bacaan-bacaan Al Qur’an secara bertajwid yang benar. Tujuan utama metode Qiro’ati adalah 1) menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an dari segi bacaan yang sesuai dengan
kaidah ilmu tajwid, 2) menyebarluaskan ilmu bacaan Al-Qur’an, 3) memberi peringatan kembali kepada guru agar lebih berhati-hati dalam mengajarkan Al-Qur’an, 4) meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an
Bentuk pelaksanaan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto dimulai dengan guru membacakan terlebih dahulu bacaan yang akan dipelajari. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajarannya.
Saat membacakan bacaan guru langsung memasukkan bacaan tartil dengan tajwid yang benar kedalam bacaannya. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Deni ferdiana yaitu metode Qiro’ati adalah suatu metode membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan mempraktekkan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Sedangkan buku yang digunakan oleh guru dalam mengajarkan A-Qur’an menggunakan metode Qiro’ati di Masjid Baiturrahim Koto ini adalah buku Qiro’ati untuk usia SD dan buku Qiro’ati jilid 3
Dari hasil wawancara dengan dua orang guru yang mengajar di MDA Masjid Baiturrahim Koto sebelum pembelajaran dimulai tidak ada persiapan khusus yang dilakukan oleh guru. Persiapan merupakan bentuk aktifitas yang dilakukan oleh seorang guru guna melaksanakan suatu kegiatan agar dapat mencapai tujuan. Sebelum pembelajaran dilakukan guru mempersiapkan batas pelajaran untuk tiap pertemuan, alat peraga yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, serta buku penilaian santri. Jika akan diadakan evaluasi maka guru akan mempersiapkan instrumen tes yang sesuai dengan yang akan diujikan kepada santri. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari kepala MDA Masjid Baiturrahim Koto. Dengan adanya persiapan seperti yang dijelaskan diatas maka pelaksanaan pembelajaran akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Jam pelajaran di MDA Masjid Baiturrahim Koto dimulai dari jam 02.30 WIB sampai jam 17.00 WIB.Waktu yang dibutuhkan untuk penggunaan metode Qiro’ati dalam pembelajaran Al-Qur’an di MDA Masjid Baiturrahim Koto yaitu satu jam pelajaran atau 60 menit. Sisa waktunya dimanfaatkan untuk materi lain dan shalat ashar serta istirahat kemudian dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya sesuai dengan jadwal. Dalam waktu
59
60 menit tersebut dapat dipergunakan 5 menit untuk persiapan pembelajaran oleh santri, 5 menit untuk mengulang kembali pembelajaran sebelumnya oleh santri 40 menit untuk pembelajaran intinya yaitu pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati dengan cara memanggil satu per satu santri untuk membaca. Sedangkan 10 menit terakhir dimanfaatkan untuk jam tambahan bagi santri baik untuk memperdalam bacaan maupun untuk setoran hafalan bagi santri yang sedang mendapat hukuman karena tidak hadir pada hari sebelumnya.
Untuk sistem pelaksanaan antara kelas Iqro’ dan kelas I sampai kelas IV sebenarnya hampir sama. Guru memanggil satu per satu santri yang akan membaca Al-Qur’an, kemudian guru membacakan terlebih dahulu bacaan secara tartil dengan tajwidnya. Lalu santri secara bergiliran mengikuti bacaan dari guru tersebut. Jika ada yang salah dengan bacaan santri maka akan langsung ditegur oleh guru dan guru mempraktekkan bacaan yang benarnya.
Jika santri sudah mampu membaca secara benar baru akan dilanjutkan dengan ayat berikutnya, akan tetapi jika santri belum mampu menyelesaikan bacaan dengan benar setelah diulang beberapa kali maka tidak ada penambahan ayat sebelum mereka bisa menyelesaikan dengan benar.
Strategi yang digunakan dalam mengajar Al-Qur’an menggunakan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto adalah individual artinya santri bergiliran dalam membaca dan klasikal simak baca artinya strategi ini digunakan untuk mengajarkan santri membaca dan menyimak bacaan Al-Qur’an dari temannya. Prinsip yang digunakan yaitu prinsip daktum dimana guru membacakan bacaannya tanpa menuntun kembali santri saat mereka membaca secara bergiliran. Akan tetapi guru menegur bacaan yang salah, menunjukkan kesalahan bacaan dan memberitahukan seharusnya bacaan yang benar.
Dalam penggunaan prinsip daktun untuk guru diharapkan santri juga menggunakan prinsip LCTB atau lancar tepat cepat dan benar. Lancar artinya bacaannya tidak ada yang mengulang-ulang. Cepat artinya bacaannya tidak ada yang putus-putus atau mengeja. Tepat artinya dapat membunyikan sesuai
dengan bacaan dan dapat membedakan antara bacaan yang satu dengan lainnya. Benar artinya hukum-hukum bacaan tidak ada yang salah (Aqtoris, 2008: 21).
Selanjutnya prinsip yang digunakan guru dalam pembelajaran Al-Qur’an di MDA Masjid Baiturrahim Koto yaitu Tiwasgas (teliti, waspada dan tegas). Teliti yaitu dalam menyimak ketika santri membaca jangan sampai ada yang salah walaupun sepele, hal ini terlihat saat guru langsung menegur santri dalam membaca jika santri salah dalam membaca baik tartil, tajwid dan makhraj hurufnya. Waspada artinya dalam memberikan contoh atau menyimak santri benar-benar diperhatikan ada rasa sambung antara guru santri, hal ini dapat terlihat saat guru mengawasi santri dalam menyimak bacaan yang di bacakan oleh guru dalam pembelajaran. Tegas artinya dalam memberikan penilaian ketika kenaikan halaman atau kelas tidak boleh banyak toleransi, ragu-ragu ataupun segan, penilaian diberikan benar-benar obyektif, hal ini dapat terlihat ketika santri belum mampu membaca dengan benar dan tepat guru memberikan kesempatan maksimal tiga kali untuk mengulang kepada santri agar bisa menaikkan halaman atau ayat bacaannya. Jika masih belum bisa maka guru memutuskan tidak ada penambahan ayat untuk santri tersebut. Santri tersebut harus mengulang kembali ayat yang sama pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan langkah-langkah penerapan metode Qiro’ati diantaranya adalah:
1. Untuk kelas Iqra’
a. Santri terlebih dahulu diperkenalkan dengan huruf hijaiyah, yaitu huruf Alif sampai Ya
b. Membaca huruf hijaiyah berharokat fathah, tidak boleh panjang atau putus
2. Untuk kelas I-IV
a. Pengenalan nama-nama harokat dan angka arab.
b. Membaca huruf hijaiyah berharokat kasrah, fathah, dommah.
c. Mengenal bacaan Mad (panjang) yaitu: mad tabi;I 1alif atau 2 harkat.
Hal ini untuk melatih dan membiasakan bacaan panjang pada santri.
61
d. Mengenal bacaan huruf-huruf yang mati atau sukun. Guru menjelaskan kepada santri bahwa huruf yang berharokat sukun itu dibaca jelas atau ditekan membacanya, kemudian dilanjutkan dengan hukum tajwid lainnya.
e. Setelah santri mengenal semua makhraj dan hukum tajwid, santri dilatih mengatur nafas dalam membaca Al-Qur’an.
Dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati diperlukan sarana prasarana sebagai alat pendukung terlaksananya proses pembelajaran.
Dengan adanya sarana prasarana yang memadai, maka proses pembelajaran akan terlaksana dengan baik dan lancar. Oleh karena itu tanpa adanya sarana dan prasarana yang mendukung bagi suatu lembaga maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan baik. Salah satu bentuk sarana dan prasarana dalam pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati adalah alat peraga atau alat bantu. Alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran Al-Qur’an menggunkaan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto diantaranya Al-Qur’an, buku iqro’, papan tulis, huruf hujaiyah yang dicetak pada kertas karton, speaker aktif. Al-Qur’an dan Iqro digunakan untuk sumber membaca oleh santri.
Papan tulis bermanfaat untuk guru menjelaskan pokok pembelajaran kepada santri, menuliskan ayat Al-Qur’an yang akan dijelaskan maupun hal-hal yang penting didalam pembelajaran saat pembelajaran sedang berlangsung. Huruf hijaiyah digunakan sebagai media dalam menguji kepahaman santri terhadap tajwid dan makhraj huruf. Guru membacakan beberapa ayat Al-Qur’an sedangkan santri menyimak bacaan dari guru sambil mengoreksi bacaan dari guru tersebut, jika ada kesalahan guru dalam membaca, maka santri akan mengangkat kertas karton yang berisi huruf yang dibaca salah oleh gurunya. Sedang speaker aktif digunakan untuk mendengarkan kepada santri macam-macam irama tartil ayat Al-Qur’an dari Qori-Qori’ah yang telah fasih dalam membaca Al-Qur’an.
Beberapa kendala yang ditemukan pada saat penggunaan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto diantaranya ketidakhadiran santri setiap harinya yang menimbulkan akibat guru harus mengulang-ulang kembali materi yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya, dikarenakan santri mengaku jika mereka lupa akan ateri yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya. Hal ini diatasi dengan cara memberikan hukuman bagi santri yang tidak bisa hadir ke MDA setiap hari dengan alasan yang tidak jelas berupa menyetor hafalan ayat Al-Qur’an yang ditentukan oleh guru lengkap dengan bacaan tartil dan tajwidnya.
Bentuk evaluasi yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto berupa tes lisan dan tes tertulis. Tes lisan dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan santri dalam membaca Al-Qur’an, baik dari segi tartil, tajwid mapun makhrajnya. Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan kelas santri. Untuk kelas Iqro’ dilakukan tes membacanya berdasarkan tingkatan iqro’nya, caranya santri dipanggil satu per satu ke depan kelas oleh guru, lalu guru mencek tingat Iqro’ dari santri selanjunya guru menunjukkan mana halaman yang harus dibacakan oleh santri. Sementara santri membaca guru memberikan penilaian terhadap bacaan dari santri dengan cara mengisi point pada buku nilai santri dan jika ada santri yang salah dalam membaca maka guru langsung menegur dan membacakan bacaan yang tepatnya. Jika santri telah selesai membaca guru langsung memberikan komentar terhadap bacaan santri.
Untuk kelas I-kelas IV, sesuai kelas masing-masing santri dipanggil satu per satu ke depan kelas, lalu diberikan beberapa pilihan ayat atau surat dalam Al-Qur’an dalam bentuk lot yang dimasukkan kedalam sebuah kotak, kemudian santri diperintahkan untuk memilih salah satu lot, lot yang terpilih oleh santri berisi surat ataupun ayat apa untuk dibacakan. Sementara santri membaca guru menyimak dan memberikan penilaian untuk bacaan santri serta memberikan teguran kepada santri jika ada kesalahan pada bacaan santri dan menunjukkan bacaan yang tepatnya.
63
Tes tertulis dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan santri dalam menuliskan ayat Al-Qur’an atau huruf hijaiyah. Soal dirancang oleh guru kelas masing-masing berdasarkan pada kelas santri. Soal yang diberikan berupa tes potongan-potongan ayat Al-Qur’an. Santri diminta untuk melengkapi ayat yang dikosongkan dan beberapa perintah untuk menuliskan surat Al-Qur’an. Hal ini dilakukan agar selain membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar santri juga harus mampu dalam menuliskan ayat Al-Qur’an serta mengetahui potonga ayat Al-Qur’an yang utuh dengan cara yang baik.
Maka dengan tes tertulis ini guru dapat melakukan evaluasi tentang bagaimana pemahaman santri. Setelah dilakukan evaluasi maka dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Tindak lanjut yaitu kegiatan yang dilakukan oleh santri setelah melakukan tes. Santri yang telah mencapai hasil yang baik dapat meneruskan bagian pelajaran selanjutnya atau ayat selanjutnya maupun bagian pembelajaran berikutnya, naik ke kelas berikutnya. Sedangkan untuk santri yang mendapatkan nilai yang belum mencapai KKM dalam tes harus mengulang kembali pelajaran yang sama. Apabila pada tes ini berkenaan dengan kenaikan kelas, maka santri tidak dapat melanjutkan ke kelas berikutnya atau mengulang pembelajaran masih dikelas yang sama.
Dalam menggunakan metode Qiro’ati untuk pembelajaran Al-Qur’an tidak terlepas dari yang adanya faktor pendukung dan faktor yang menghambat dalam pelaksanaan pembelajarannya. Adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati yaitu santri, guru, alokasi waktu. Dengan adanya faktor pendukung tersebut maka dalam proses belajar di MDA Masjid Baiturrahim Koto akan terlaksana sesuai dengan tujuan pembelajarannya.
1. Santri
Santri merupakan salah satu faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto. Dengan adanya santri maka pembelajaran dapat berlangsung, serta dengan bimbingan yang tepat oleh guru diharapkan santri akan menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia dalam
lingkungan keluarga dan masyarakat. Selain itu, keluarga juga berperan penting dalam mengontrol tingkah laku santri serta dalam memotivasi santri untuk rajin dalam belajar Al-Qur’an.
2. Guru
Guru merupakan salah satu faktor pendukung dalam proses pembelajaran , sehingga guru harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup luas, sehingga dalam mengajar dapat menciptakan variabel yang beragam dan tidak monoton dalam memberikan materi kepada santri. Demikian juga kaitannya dengan penggunaan metode dalam mengajarnya, agar dapat berhasil dengan baik maka guru berusaha untuk menguasai semua materi pelajaran dan menguasai metodologi pembelajarannya. Sehingga santri lebih mudah memahami apa yang telah disampaikan oleh guru.
Kemampuan guru dalam mengajar mempengaruhi hasil dari pembelajaran santri. Oleh karena itu seorang guru harus mampu memahami perbedaan yang dimilki oleh setiap santri, karena dengan jumlah santri yang banyak pasti memiliki karakter yang sangat berbeda-beda. Perbedaan latar belakang santri juga mempengaruhi sikap santri dalam belajar. Jadi dengan hal ini guru harus mampu memahami berbagai perbedaan tersebut agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
3. Alokasi waktu
Untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar serta dapat mencapai tujuan yang diharapkan MDA Masjid Baiturrahim Koto, maka dalam kegiatan ini ditentukan jadwal pembelajaran agar dalam penggunaan waktu yang singkat akan terlaksana seefektif mungkin.
Keefektifan penggunaan waktu sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengelola kelasnya serta minat dari setiap santri. Karena jika kelas dapat dikondisikan dengan baik maka pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan waktu yang telah disediakan.
Adapun faktor yang menghambat dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto dapat dilihat dari santri, guru dan sara prasarana.
65
1. Santri
Keadaan santri serta latar belakang yang bermacam-macam ini dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, hal ini dilihat dari santri dalam mengikuti pembelajaran. Misalnya saat guru membacakan bacaan di dalam kelas, santri kurang berkonsentrasi mendengarkan bacaan guru membacakan, mereka senang untuk bermain-main di dalam kelas sehingga mereka lambat dalam menangkap pelajaran yang diajarkan guru, selain itu santri juga tidak mengulang kembali pelajaran yang telah santri dapatkan dirumah. Hal ini dikarenakan faktor intern berasal dari diri santri dan ekstern yaitu berasal dari orang lain. Faktor inter dapat berupa minat dan motivasi yang ada pada diri santri, sedangkan faktor ekstern dapat berupa motivasi dari orang tua, keadaan lingkungan sekitar santri serta teman dan kerabat lainnya.
2. Guru
Guru merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena guru adalah yang bertangggung jawab dalam pembentukan kepribadian santri. Guru dituntut untuk mampu mengarahkan santri dalam pembelajarannya. Selain itu guru juga harus mampu mengontrol sikap terha dap santri. Hal ini karena jika guru tidak mampu untuk mengontrol sikap terhadap santri dapat menimbulkan efek santri menjadi takut untuk datang ke MDA dengan alasan takut dimarahi oleh guru karena kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah dilakukan santri saat pembelajaran. Sehingga mengakibatkan santri meliburkan dirinya dengan alasan yang dibuat-buat atau dengan alasan yang tidak pasti seperti sakit, ada keperluan keluarga dan banyaknya tugas dari sekolah.
3. Sarana prasarana
Sarana prasarana adalah bagian dari alat pengajaran yang berupa alat perlengkapan fisik atau dapat juga dilakukan segala sesuatu yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pengajaran yang berupa perlengkapan. Adapun sarana prasarana di MDA Masjid Baiturrahim Koto masih kurang memadai, seperti huruf hijaiyah yang dicetak pada kertas
karton terkadang tidak lengkap karena ada kelas yang jadwal penggunaannya sama. Jadi tidak semua santri bisa menyampaikan pendapatnya dikelas. Selain itu tidak tersedianya buku jilid Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto sehingga hal ini mengganggu tercapainya tujuan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto.
67 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di MDA Masjid Baiturrahim Koto mengenai Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Qiro’ati di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tujuan dan target pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar yaitu a) untuk menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an dari segi bacaan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, b) menyebarluaskan ilmu bacaan Al-Qur’an, c) memberi peringatan kembali kepada guru agar lebih berhati-hati dalam mengajarkan Al-Qur’an, d) meningkatkan kualitas pendidikan Al-Qur’an. Sedangkan target pelaksanaan metode Qiro’ati adalah dengan metode Qiro’ati santri akan mampu membaca Al- Qur’an dengan bacaan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid
2. Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar adalah adanya beberapa persiapan yang dilakukan oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran.
Yaitu guru mempersiapkan batas pelajaran sebagai pedoman materi yang akan diajarkan, selain itu guru juga mempersiapkan beberapa alat peraga yang akan digunakan sebagai penunjang pada saat pembelajaran.
Sedangkan dalam pembelajaran Al-Qur’an guru memakai buku pedoman Qiro’ati yaitu untuk usia SD dan buku Qiro’ati jilid 3. Prinsip yang digunakan yaitu prinsip daktum dimana guru membacakan bacaannya tanpa menuntun kembali santri dan tiwagas (teliti, waspada dan tegas).
3. Evaluasi pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar yaitu tes lisan untuk mengetahui kemampuan santri membaca Al-Qur’an dan tes tulis untuk mengetahui kemampuan santri dalam menulis ayat Al-Qur’an.
Jadi pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto memberikan dampak yang baik terhadap perkembangan santri. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang dilaksanakan
B. Saran
Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan di MDA Masjid Baiturrahim Koto ini penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi MDA
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas MDA dengan cara melengkapi atau menambah lagi sarana dan prasarana MDA Masjid Baiturrahim Koto.
Dengan sarana dan prasarana yang lengkap akan mempermudah lagi santri dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih menyenangkan.
2. Bagi guru
Selalu persiapkan dengan matang materi yang akan disampaikan didalam kelas, karena persiapan yang matang akan menuju kepada suatu kesuksesan kegiatan belajar mengajar. Selain itu diharapkan kepada semua guru MDA Masjid Baiturrahim Koto untuk mendalami lagi pemahamannya tentang metode Qiro’ati ini, karena apabila guru memahami metode Qiro’ati ini akan memudahkan guru dalam mengajarkan Al-Qur’an sesuai dengan langkah-langkah yang telah diterapkan dalam penggunaan metode Qiro’ati ini.
3. Bagi santri
Kepada semua santri MDA Masjid Baiturrahim Koto diharapkan lebih giat lagi dalam belajar di MDA baik belajar sendiri maupun kelompok, karena dengan belajar akan mempermudah pemaham kita terhadap pelajaran.
Kepada semua santri MDA Masjid Baiturrahim Koto diharapkan lebih giat lagi dalam belajar di MDA baik belajar sendiri maupun kelompok, karena dengan belajar akan mempermudah pemaham kita terhadap pelajaran.