Berdasarkan Tabel 4.4 menujukkan bahwa dari 54 responden, sebagian besar responden tidak ada masalah dengan pola makan pada saat PMS yaitu sebanyak 38orang (70,4%).
d. Pola Olahraga
Pola olahraga Pada Mahasiswa D-IV Kebidanan Stikes U Budiyah‟
BandaAceh dibagi menjadi dua kategori yaitu rutin dan tidak rutin dengan ketentuan Rutin jika 2-3 kali seminggu dalam waktu 20-30 menit. Tidak rutin, jika kurang atau lebih dari katagori rutin.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Pola OlahragaPada Mahasiswa D-IV Kebidanan Di Stikes U’Budiyah Banda Aceh Tahun 2013
No Pola Olahraga f %
1 Rutin 21 38,9
2 Tidak rutin 33 61,1
Jumlah 54 100
Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)
Berdasarkan Tabel 4.5 menujukkan bahwa dari 54 responden, sebagian besar responden tidak melakukan aktivitas olahraga secara rutin pada saat PMS yaitu sebanyak 33 orang (61,1%).
3. Analisa Bivariat
a. Hubungan Stres Dengan PMS
Tabel 4.6
Hubungan Stres dengan PMS Pada Mahasiswa D-IV Kebidanan Di Stikes U’BudiyahBanda Aceh Tahun 2013
Stres Ada Tidak ada
f % f % F %
1 Ya 14 87,5 2 12,5 16 100%
2 Tidak 19 50,0 19 50,0 38 100% 0,023 Jumlah 33 61,1 21 38,9 54 100%
Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)
Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa dari 16 responden yang mengalami stres yaitu sebanyak 14 responden (87,5%) ada mengalami PMS. Sedangkan dari 38 responden yang tidak ada mengalami stress 19 orang di antaranya (50,0%) tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value (0.023) berarti ada hubungan antara stress dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah Banda Aceh.‟
b. Hubungan Pola Konsumsi Dengan PMS Tabel 4.7
Hubungan Pola Konsumsi dengan PMS Pada Mahasiswa D-IV Kebidanan Di Stikes U’Budiyah Banda Aceh Tahun 2013
Premenstrual syndrome (PMS) Total pValue
No Pola konsumsi Ada Tidak ada
f % f % f %
1 Baik 20 51,3 19 48,7 39 100%
2 Tidak baik 13 86,7 2 13,3 15 100% 0,038 Jumlah 33 61.1 21 38,9 54 100%
Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)
Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa dari 39 responden yang baik pola konsumsinya yaitu sebanyak 20 responden (51,3%) ada mengalami PMS. Sedangkan dari 15 responden yang tidak baik pola makannya 13 orang di antaranya (86,7%) ada mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p
value (0.038) berarti ada hubungan antara pola konsumsi dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah Banda Aceh.‟
c. Hubungan Pola Olahraga Dengan PMS Tabel 4.8
Hubungan Pola Olahraga dengan PMS Pada Mahasiswa D-IV Kebidanan Di Stikes U’BudiyahBanda Aceh Tahun 2014
Premenstrual syndrome (PMS) Total P Value No Pola olahraga Ada Tidak ada
f % f % f %
1 Rutin 9 42,9 12 57,1 21 38,9
2 Tidak rutin 24 72,7 9 12,8 33 61,1 0,056 Jumlah 33 38,9 21 61,1 54 100
Sumber : Data Primer (diolah tahun 2014)
Berdasarkan tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa dari 21 responden yang melakukan olahraga secara rutin, yaitu sebanyak 12 responden (72,7%) tidak ada mengalami PMS. Sedangkan 33 responden yang tidak melakukan olahraga secara rutin 24 orang diantaranya ( 72,7 ) ada mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value (0.056) berarti tidak ada hubungan antara pola olahraga dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah Banda Aceh.‟
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka penulisan pembahasan berdasarkan variabel-variabel yang ada pada tujuan khusus.
1. Hubungan Stress Dengan PMS
Berdasarkan hasil peneliti diatas menunjukkan bahwa dari 16 responden yang mengalami stres yaitu sebanyak 14 responden (87,5%) ada mengalami PMS. Sedangkan dari 38 responden yang tidak ada mengalami stress 19 orang di antaranya (50,0%) tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value (0.023)
berarti ada hubungan antara stress dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah‟
Banda Aceh.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Mayane,2011) yang berjudul hubungan antara tingkat stres dengan kejadian PMS, pada siswi sma negeri 1 padang panjang tahun 2011. Pengumpulan data ini dilakukan dengan cara memberikan kuesioner secara langsung pada responden. Sebelumnya responden diberikan penjelasan tentang petunjuk dan cara pengisian kuesioner, setelah responden mengisi kuesioner, kuesioner dikumpulkan langsung kepada peneliti pada hari yang sama. dari 109 responden yang mengalami prementrual syndrome.
stres tingkat sedang, sebagian besar (75,2%) mengalami sindroma pramenstruasi dan sisanya (24,8%) tidak mengalami prementrual syndrome Selanjutnya, dari 35 responden yang mengalami stres tingkat ringan, sebagianbesar (74,3%) tidak mengalami prementrual syndrome, sisanya (25,7%) mengalami PMS. Faktor stres akan memperberat gangguan prementrual syndrome. Hal ini sangat mempengaruhi kejiwaan dan koping seseorang dalam menyelesaikan masalah.
Stres merupakan reaksi tanggung jawab seseorang, baik secara fisik maupun psikologis karna adanya perubahan.kemarahan, kecemasan dan bentuk lain emosi merupakan reaksi stres. Menyatakan ketegangan merupakan respon psikologis dan fisiologis seseorang terhadap stressor berupa ketakutan,kemarahan, kecemasan, frustasi atau aktivitas saraf otonom. (Rahajeng,2006).
Menurut asumsi peneliti, anda yang mengalami stres di sebabkan oleh banyak faktor , misalnya karena ada masalah tertentu, seperti ada masalah dalam rumah tangga, masalah pekerjaan, dan anda sering mengalami rasa cemas dengan perkuliahan nya bagi anda yang sudah bekerja dan bagi anda yang belum bekerja cemas karena memikirkan biaya administrasi, dan lain-lain.yang membuat anda
banyak melakukan aktivitas dan tuntutan yang tinggi setiap harinya, dan anda yang melakukan kegiatan tersebut akan cepat merasakan rasa lelah. Niven (2002) yang mengatakan bahwa kelelahan merupakan stimulus dari stres.sehingga banyak anda yang mengalami stres pada saat PMS bahkan sampai terlalu stresnya anda sering memilih untuk menyendiri dan sering merasa sedih.
2. Hubungan Pola Konsumsi Dengan PMS
Berdasarkan hasil peneliti diatas menunjukkan bahwa dari 39 responden yang baik pola konsumsinya yaitu sebanyak 20 responden (51,3%) ada mengalami PMS. Sedangkan dari 15 responden yang tidak baik pola makannya 13 orang di antaranya (86,7%) ada mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value (0.038) berarti ada hubungan antara pola konsumsi dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah Banda Aceh.‟
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan (Admin, 2012 yang berjudul hubungan pola makan, dan jerawat, dengan kejadian prementrual syndrome di Surakarta Menunjukkan bahwa dari 36 responden (100%) remaja yang mengalami
premenstrual syndrome, yang tidak ada masalah dalam pola makanyaitu 15 orang (41,7%) , dan remaja yang tidak mengalami premenstrual syndrome, yang mengalami masalah dalam pola makanan yaitu 21 orang (50,0%). Ada pertambahan jumlah penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pola makan dengan PMS . Namun, para dermatolog sepakat, fakta ini masih membutuhkan lebih banyak penelitian. Kebanyakan ibu yang tidak mengatur makanannya sehari – hari akan sangat berpengaruh pada sistem pencernaan tubuh kita , dan hal ini bisa berlangsung hingga sampai tua. Pada kasus-kasus lain, PMS lebih disebabkan faktor genetik. Namun, secara umum PMS ditimbulkan dipicu oleh makanan.PMS sebenarnya timbul ketika akan datangnya mentruasi, Dulu para dermatolog meyakini tidak ada hubungan antara pola
makan dan PMS. Akan tetapi, bukti-bukti yang bermunculan menunjukkan bahwa beberapa makanan dan minuman tertentu mungkin telah menyebakan atau memicu PMS pada beberapa orang .
Arisman (2007) menyatakan bahwa kebiasaan makan adalah cara seseorang dalam memilih dan memakannya sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh psikologis, fisiologi, budaya dan sosial. Harper dkk menambahkan kebiasaan makan adalah suatu perilaku yang berhubungan dengan makan seseorang, pola makanan yang dimakan, pantangan, distribusi makanan dalam keluarga, preferensi terhadap makanan dan cara memilih makanan.
Menurut asumsi peneliti, pada saat menjelang atau saat mentruasi, banyak anda yang yang mengalami nafsu makan bertambah, dan ada juga sebagian anda yang tidak ada nafsu makan, pola makan anda pada saat PMS tidak teratur ada yang sehari sekali, ada yang 2 kali sehari bahkan ada anda pada saat mengalami PMS hanya mengkonsumsi buah-buahan saja. Dan ada lagi sebagian ibu mengatakan selalu ingin makan makanan yang pedas, atau asam untuk mengurangi rasa sakitnya.
3. Hubungan Pola Olaraga Dengan PMS
Berdasarkan hasil peneliti diatas menunjukkan bahwa dari 21 responden yang melakukan olahraga secara rutin, yaitu sebanyak 12 responden (72,7%) tidak ada mengalami PMS. Sedangkan 33 responden yang tidak melakukan olahraga secara rutin 24 orang diantaranya ( 72,7 ) ada mengalami PMS. Hasil uji statistik didapatkan nilai p value (0.056) berarti tidak ada hubungan antara pola olahraga dengan premenstrual syndrome Di Stikes U Budyah Banda Aceh.‟
Hasil penelitian berbeda dengan penelitian yang di lakukan Nurlaela (2008). Dengan judul hubungan pola olahraga, obesitas dengan kejadian premenstrual syndrome pada mahasiswa akademi kebidanan di Pemerintaha Kabupaten Kudus yang menunjukkan bahwa peluang terjadinya PMS lebih besar pada wanita yang tidak melakukan olahraga rutin dari pada wanita yang sering melakukan olahraga secara rutin yaitu sebanyak 68 responden (51,7%) yang tidak mengalami PMS 46 responden (38,7%). Karena olahraga sangat berpengaruh terhadap terjadinya PMS, et al (2008). Menyatakan bahwa aktifitas olahraga yang teratur dan berkelanjutan berkontribusi untuk meningkatkan produksi dan pelepasan endorphin. Endorphin memerankan peran dalam pengaturan endogen. Wanita yang mengalami PMS, terjadi karena kelebihan estrogen, kelebihan estrogen dapat di cegah dengan meningkatnya endhorpin. Hal ini membuktikan olahraga yang teratur dapat mencegah atau mengurangi PMS, Pada wanita yang jarang melakukan olahraga secara rutin hormone estrogen akan lebih tinggi sehingga kemungkinan akan terjadi PMS lebih besar.
Olahraga berupa lari di katakankan dapat mengurangi keluhan. Berolahraga dapat mengurangi stress dengan cara memilih waktu untuk keluar dari rumah dan pelampiasan untuk melepas marah atau kecemasan yang terjadi . beberapa wanita mengatakan pada saat dia mengalami PMS, dapat membuat relaksasi dan tidur di malam hari.
Menurut asumsi peneliti, banyak anda yang jarang melakukan kegiatan olahraga bahkan ada yang sama sekali tidak pernah sekalipun dalam seminggu melakukan kegiatan olahraga, yang di sebabkan karna faktor malas, dan yang lainnya misalnya karna banyaknya aktivitas yang dilakukan seperti, pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor yang membuat anda tidak memikirkan masalah olahraga.sehingga banyak anda pada saat PMS merasakan sakit sekali. Dan ada sebagian anda yang melakukan
olahraga karna di anngapnya sangat penting walaupunn pada pagi hari saja atau sore hari saja pada saat PMS tidak terlalu terasa sakit atau bahkan tidak merasa sakan sakit.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah di lakukan penelitian yang berjudul Faktor – faktor yang berhubungan dengan premenstrual syndrome pada mahasiswa D-IV Kebidanan U Budiyah Banda Aceh‟
pada tahun 2014. Yang dilakukan oleh 54 responden pada tanggal 5 sampai dengan 12 Februari didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Ada hubungan antara Stres dengan masalah premenstrual syndrome pada mahasiswa D-IV di Stikes U Budiyah Banda Aceh dengan (P value = 0,023)‟
2. Ada hubungan antara Pola Konsumsi dengan masalah premenstrual syndrome pada mahasiswa D-IV di Stikes U Budiyah Banda Aceh dengan‟
( P value = 0,038)
3. Tidak ada hubungan antara Pola Olahraga dengan masalah premenstrual syndrome pada mahasiswa D-IV di Stikes U Budiyah Banda Aceh dengan‟
( P value = 0,056) B. Saran
Hendaknya bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk membuat penelitian lebih lanjut dalam bentuk yang lebih komplek dan rinci lagi mengenai PMS. Serta dengan jumlah sampel yang lebih banyak lagi.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hendaknyan bagi institute pendidikan dapat memeperbanyak lagi referensi tentang PMS. Dan bekerja sama dengan institute kesehatan untuk menningkatkan mahasiswa agar dapat memberikan penyuluhan kepada ibu tentang cara pencegahan atau menangani masalah PMS. Agar dapat mengahasilkan lulusan yang berpotensi tinggi, dan dapat menjadi masukan bagi yang berminat ingin membaca.
3. Bagi Lahan penelitian
Hendaknya hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan informasi kepada ibu tentang masalah PMS. Sehingga ibu dapat melakukan pencegahan dan dapat melakukan rutinitas sehari-harinya lebih baik lagi untuk menghindari terjadinya PMS. Dapat menambah wawasan khususnya dalam masalah PMS.