• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

   

Deskripsi hasil data penelitian mengenai tingkat penyesuaian diri para siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta menunjukkan bahwa 33 siswi (27%) memiliki penyesuaian diri sangat tinggi, artinya siswi tersebut sangat mampu memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya. 76 siswi (62%) memiliki memiliki penyesuaian diri tinggi, artinya siswi tersebut mampu memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya. Sedangkan 13 orang siswi (11%) memiliki penyesuaian diri sedang, artinya siswa tersebut kurang mampu memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga kurang mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya. Dan tidak ada siswi (0%) yang memiliki penyesuaian diri rendah dan sangat rendah.

Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan secara keseluruhan siswi kelas X SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2009/2010 sudah memiliki kemampuan dalam memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya.

B. Pembahasan

Penelitian deskriptif ini ingin memaparkan kondisi atau keadaan apa adanya dan mungkin saja dalam perjalanan waktu pencapaian akan kualifikasi tinggi, sangat tinggi, dan sedang ini bisa saja dapat berubah. Kategorisasi skor

45

 

   

tiap item adalah berdasarkan distribusi normal dengan kontinum jenjang menurut Azwar (1999:108), yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Dalam penelitian ini, peneliti akan menjelaskan tingkat tertinggi sampai tingkat terendah.

1. Kategori sangat tinggi dan tinggi

Dalam penelitian ini, ada 33 siswi (27%) memiliki penyesuaian diri dengan kategori sangat tinggi dan 76 siswi (62%) memiliki penyesuaian diri dengan kategori tinggi. Tingkat penyesuaian diri yang berada dalam kategori sangat tinggi dan tinggi dapat ditafsirkan sebagai tingkat penyesuaian diri dalam kategori ideal atau yang diharapkan. Kategori ini menunjukkan bahwa siswi-siswi tersebut mampu bahkan sangat mampu memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya. Siswi dapat mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, serta dapat menunjukkan reaksi emosi yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang mampu menerima kenyataan hidup dan dapat menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Jika penyesuaian diri tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka orang akan dapat mengalami kebahagiaan dalam hidupnya serta dapat menjalankan aktivitas kehidupan tanpa mengalami banyak hambatan yang berarti.

Kartono Kartini (1980) mengungkapkan bahwa penyesuian diri adalah penguasaan; yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana

46

 

   

dan mengorganisir respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa menguasai/menanggapi segala macam konflik dan kesulitan masalah hidup. Hal ini merujuk pada usaha para siswa dalam mengatasi kesulitan memahami mata pelajaran, tata tertib sekolah, lingkungan sekolah, hubungan dengan guru maupun dengan teman sebaya.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut kemungkinan ada beberapa faktor yang mempengaruhi siswi memiliki penyesuaian diri sangat tinggi dan tinggi. Ada kemungkinan adalah faktor lingkungan keluarga. Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila siswi dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga siswi merasakan bahwa kehidupannya berarti.

Menurut salah satu artikel dalam www.banyuaji.com rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam prakteknya banyak orang tua yang mengetahui hal ini namun mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Hal ini sering kali ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak)

47

 

   

maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri dikemudian hari.

Faktor lain yang berpengaruh kemungkinan adalah lingkungan sekolah. Pendidikan menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu.

2. Kategori sedang, rendah dan sangat rendah

Penyesuaian diri yang berada dalam kategori sedang, rendah, sangat rendah ditafsirkan sebagai penyesuaian diri yang kurang tinggi atau belum ideal. Karena dari hasil penelitian tidak ada siswi yang berada dalam kategori rendah maupun sangat rendah melainkan sedang, maka penyesuaian diri yang berada dalam kategori tersebut disatukan. Ketiga golongan ini dianggap belum mencapai yang ideal dalam penyesuaian diri.

Siswi yang memiliki kategori sedang berjumlah 13 (11%) orang. Jumlah ini sangat kecil bila dilihat dari keseluruhan subyek penelitian yang berjumlah 122 siswi. Bagi peneliti, kategori ini cenderung rendah dan kurang ideal. Hal ini berarti bahwa siswi tersebut kurang mampu dalam memenuhi tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari luar diri sehingga sulit mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungannya. Siswi kurang dapat mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan situasi dan

48

 

   

kondisi yang ada, serta kurang dapat menunjukkan reaksi emosi yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut. Orang yang kurang menyesuaikan diri dengan baik maka orang tersebut kurang mampu menerima kenyataan hidup dan kurang dapat menjalin relasi yang baik dengan orang lain. Jika hal tersebut dilakukan terus-menerus, maka orang akan dapat mengalami ketidakbahagiaan dalam hidupnya serta menjalankan aktivitas kehidupan dengan banyak hambatan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut kemungkinan ada beberapa faktor yang mempengaruhi siswi memiliki penyesuaian diri sangat rendah, rendah dan sedang. Ada kemungkinan yakni di dalam keluarga, sebagai orang tua dalam mendidik anak masih menekankan pada kecerdasan intelektual, orang tua yang selalu bertindak otoriter. Orang tua yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan di luar rumah dan tidak memiliki waktu untuk bersama, memungkinkan anak menjadi pribadi yang tertutup atau “nakal” karena kurang mendapat perhatian dan bimbingan dari orang tuanya.

Safaria (2005:23) menyebutkan anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya, biasanya tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang secara emosional dan sosial. Bahkan yang mengkhawatirkan bisa saja, anak tumbuh menjadi pribadi yang anti sosial, seperti tidak bisa mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, menaruh curiga, suka menyerang, agresif, sulit bekerjasama dengan orang lain, sulit berempati, menganggu kesenangan orang lain, egois, dan sulit berperilaku

49

 

   

sesuai dengan aturan masyarakat yang ada. Hal ini biasanya membuat mereka dikucilkan atau tidak disukai oleh teman-temannya.

Sikap orang tua yang sejak anak masih kecil mendidik dengan terlalu mengekang atau melarang anak untuk menjalin relasi dengan orang lain, membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang pemalu. Anak yang pemalu, kurang percaya diri akan mengalami kesulitan dalam menjalin relasi dengan orang lain.

Dokumen terkait