• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendirian. Akan tetapi secara kodrati harus hidup bersama manusia lain, baik demi kelangsungan hidup, keamanan hidup, maupun keturunannya. Dalam pergaulan hidup manusia yang beragam terjadi interaksi, saling membutuhkan, saling mempengaruhi maka terjadilah saling mengungkapkan, menyampaikan, mempertukarkan pikiran dan perasaan dalam bentuk percakapan atau lebih tepatnya komunikasi antara manusia satu dan manusia yang lainnya.

Pada uji normalitas data memperlihatkan nilai signifikansi untuk variabel penggunaan alat komunikasi digital sebesar 0.000 dan variabel komunikasi personal suami istri sebesar 0.000. Nilai signifikansi dari kedua variabel lebih kecil dari 0.05 maka dapat dikatakan data distribusi tidak normal. Oleh karena data tidak berdistribusi normal maka uji perbedaan skor dilakukan dengan statistik nonparametrik Mann-Whitney dengan tingkat signifikansi 5%.

Dari hasil statistik nonparametrik Mann-Whitney diperoleh hasil Asymp.sig. (2-tailed) 0.009. ini berarti nilai Asymp.Sig. 0.009 < 0.05, maka sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam Uji Mann-Whithney dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Penolakan terhadap Ho mengandung pengertian bahwa terdapat perbedaan hasil selisih skor, sehingga dapat dikatakan bahwa Ha diterima, dapat diartikan bahwa ada pengaruh dalam

penggunaan alat komunikasi digital terhadap komunikasi personal suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren.

Pengaruh yang signifikan tersebut dapat dibuktikan melalui Uji besar penggunaan alat komunikasi digital terhadap komunikasi personal suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren, yang terdiri dari Koefisien korelasi dan Persentase pengaruh penggunaan alat komunikasi digital terhadap komunikasi personal suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren dari Uji besar pengaruh penggunaan alat komunikasi digital dan komunikasi personal suami istri.

Dari perhitungan yang dilakukan pada kelompok eksperimen dengan rumus nilai r = -0,169 dan Persentase dari Uji besar pengaruh

penggunaan alat komunikasi digital terhadap komunikasi personal suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren dengan rumus R = r2 x 100% diproleh nilai R =

2,85%. Dari perolehan nilai r = -0,169 dan R = 2,85% dapat diketahui bahwa penggunaan telephon genggam/penggunaan alat komunikasi digital pasangan suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren berpengaruh pada komunikasi personal mereka meskipun kecil pengarunya yaitu angka yang diperoleh hanya 2,85% namun angka tersebut memiliki pengaruh dalam penggunaan telephon genggam terhadap komunikasi personal suami-istri. Sehingga hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh terhadap komunikasi personal suami istri di wilayah Santo Markus Kemiren akibat penggunaan handphone.

Dari hasil deskripsi data diketahui bahwa penggunaan alat komunikasi digital memiliki unsur lama menggunakan handphone, kegunaan handphone, dan

prioritas penggunaan handphone. Pasangan suami istri rata-rata menggunakan

handphone 1 sampai 2 jam setiap harinya meskipun ada yang lebih dari 2 jam

penggunaan dalam setiap harinya Oleh karena itu, salah satu tujuan dari penggunaan alat komunikasi digital adalah mampu menggunakan handphone dengan baik dan bijak sebagaimana mestinya dalam keseharian dan mampu menjadikan handphone sebagai alat komunikasi yang efektif dengan pasangan. Jika dilihat dari sisi kegunaan handphone, rata-rata pasangan suami istri menggunakan handphone untuk keperluan mengirim pesan dan telephon, meskipun ada juga yang menggunakannya untuk media sosial, hiburan dan mencari informasi. Pada prioritas penggunaannya, handphone lebih utama digunakan untuk kepentingan mengirim pesan dan telephon dalam durasi waktu 1 sampai 2 jam perharinya.

Komunikasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Pada era digital ini perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya memberikan dampak yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Contoh nyata hasil perkembangan teknologi komunikasi adalah munculnya telepon genggam atau handphone. Seiring dengan berkembangnya zaman serta teknologi komunikasi, proses komunikasi dapat dilakukan tanpa batasan waktu, jarak dan tempat. Sehingga dengan munculnya alat komunikasi tersebut akan merenggangkan hubungan baik dengan pasangan maupun dengan orang lain. Salah satu pemicu kerenggangan dalam rumah tangga atau dengan orang lain adalah penggunaan handphone yang seringkali tidak disadari bahwa disebelah atau disekitar terdapat orang-orang yang membutuhkan sapaan dalam arti komunikasi personal atau pribadi sangat

diharapkan selalu ada terutama dalam membina rumah tangga juga terhadap sesama. Komunikasi yang dilakukan secara langsung pasangan suami istri di Wilayah St Markus Kemiren berkisar antara 1 sampai 6 jam perhari, karena kebanyakan masing masing sibuk bekerja maka komunikasi personal yang terjadi sangat terbatas meskipun ada juga yang melakukannya lebih dari 6 jam perhari. Dari durasi waktu tersebut terdapat kesulitan yang dialami oleh pasangan suami istri dalam melakukan komunikasi secara tatap muka salah satunya adalah perbedaan pendapat diantara mereka sehingga pesan yang disampaikan hampir tidak sesuai maksud. Meskipun demikian pasangan suami istri di Wilayah Santo Markus Kemiren selalu mengupayakan untuk melakukan komunikasi secara langsung dengan pasangan meskipun dengan kesibukan mereka masing-masing.

Pada hasil rangkuman statistik dari sub variabel lama menggunakan

handphone dimana mean sebesar 1,9750 termasuk dalam kategori sedang. Dalam

sub variabel lama menggunakan handphone dengan jumlah responden sebanyak 120 orang, 16 orang (13%) menggunakan handphone sangat lama, 22 orang (18%) menggunakan handphone dengan lama, 25 orang (21%) penggunaan

handphone dengan jangka waktu yang rendah atau sedikit, 57 orang (48%)

menggunakan handphone dengan intensitas yang sangat rendah. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa pasangan suami istri kebanyakan menggunakan

handphone dengan jangka waktu yang rendah atau sedikit, meskipun ada

pasangan suami istri yang menggunakan handphone dengan jangka waktu yang lama.

Pada sub variabel kegunaan handphone, responden memilih lebih dari satu jawaban sehingga jumlah responden jika ditotal akan lebih dari 120 orang. Dari data yang telah penulis dapatkan melalui penyebaran angket diketahui bahwa penggunaan handphone yang utama untuk mengirim pesan sebanyak 91 orang (31%), yang kedua digunakan untuk telephon dengan jumlah pemilih 87 orang (29%), kemudian ketiga mencari informasi dengan jumlah sebanyak 52 orang (18%), lalu digunakan untuk media social dengan jumlah 33 orang (11%), dan yang terakhir digunakan untuk hiburan (games, mendengarkan musik) dengan jumlah pemilih 32 orang (11%). Dapat disimpulkan bahwa pasangan suami istri menggunakan handphone pada umumnya untuk mengirim pesan dan telephon saja meskipun banyak juga pasangan suami istri menggunakan handphone untuk medi sosial, mencari informasi dan sebagai hiburan.

Pada variabel penggunaan alat komunikasi digital terdapat sub variabel prioritas penggunaan handphone, antara lain: mengirim pesan, telephon, mencari informasi, hiburan dan media sosial.

Pada hasil data yang telah penulis terima yang menjadikan mengirim pesan sebagai urutan pertama dari 120 responden suami istri ada 70 orang dengan persentase 59%, yang menjadikan sebagai urutan kedua sebanyak 28 orang dengan persentase 28%, yang menjadikan urutan ketiga ada 11 orang perolehan persentase 9%, kemudian yang menjadikan urtutan ke empat ada 7 orang dengan persentase 6%, dan yang menjadikan mengirim pesan menjadi urutan atau prioritas terakhir ada 4 orang dengan perolehan persentase 3%.

Pada hasil data dapat disimpulkan bahwa dari 120 responden suami istri yang menjadikan telephon sebagai prioritas pertama sebanyak 37 orang dengan perolehan persentase 31%, yang menjadikan sebagai prioritas kedua ada 59 orang dengan banyaknya persentase 50%, yang menjadikan sebagai urutan atau prioritas ketiga ada 15 orang dengan persentase 13%, kemudian yang menjadikan prioritas keempat hanya 3 orang persentase yang diperoleh 2%, dan yang menjadikan telephon sebagai prioritas terakhir ada 5 orang dengan persentase yang diperoleh 4%.

Dari 120 responden suami istri dapat disimpulkan bahwa suami istri yang menjadikan prioritas pertama pada kepentingannya untuk mencari informasi sebanyak 7 orang dengan persentase yang diperoleh 8%, yang menjadikan sebagai pilihan atau prioritas kedua ada 16 orang dengan persentase 14%, yang menjadikan prioritas ketiga sebanyak 68 orang dengan persentase sebanyak 58%, kemudian yang menempatkan pada prioritas keempat ada 16 orang dengan persentase 14%, dan yang terakhir yang menjadikan pada prioritas kelima ada 10 orang dengan perolehan persentase 6%.

Dari 120 jumlah responden yang ada, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang menggunakan handphone sebagai media untuk hiburan dan menjadikan sebagai prioritas yang pertama sebanyak 11 orang dengan persentase 9%, yang memilih sebagai pilihan kedua ada 1 orang dengan perolehan persentase 1%, yang menjadikan sebagai prioritas ketiga ada 17 orang dengan persentase 9% , yang menjadikan sebagai pilihan keempat sebanyak 63 orang dengan perolehan

persentase sebanyak 54%, dan yang terakhir yang menjadikan hiburan sebagai prioritas terakhir ada 24 orang dengan perolehan persentase 21%.

Dari 120 responden suami istri yang medsos sebagai prioritas pertama hanya 5 orang dengan persentase 4%, yang menjadikan sebagai pilihan kedua ada 5 orang dengan perolehan persentase yang sama yaitu 4%, 9 orang menjadikan

medsos sebagai pilihan ketiga dengan jumlah persentase 8%, yang menjadikan

sebagai pilihan atau prioritas keempat ada 24 orang dengan jumlah persentase 20%, dan yang menjadikan sebagai pilihan kelima atau prioritas terakhir sebanyak 77 orang dengan jumlah persentase sebanyak 64%.

Berdasarkan hasil di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prioritas penggunaan Handphone dalam keseharian yang digunakan oleh pasangan suami istri yang menempati pada urutan atau prioritas pertama adalah Mengirim pesan sebanyak 70 orang dengan persentase yang diperoleh 59%, yang menduduki pada posisi kedua yaitu telephon sebanyak 59 orang dengan perolehan persentase 50%, yang menempati pada urutan atau prioritas penggunaan ketiga adalah mencari informasi sebanyak 68 orang dengan persentase sebanyak 58%, kemudian yang menjadikan sebagai prioritas atau posisi keempat yaitu hiburan sebanyak 63 orang dengan persentase 54%, dan pada posisi terakhir yaitu media sosial sebanyak 77 orang dengan perolehan persentase sebanyak 64%.

Dengan melihat dari sub variabel lama menggunakan handphone, kegunaan

handphone dan prioritas penggunaan, dengan demikian Handphone pada

hakikatnya digunakan untuk kepentingan komunikasi baik melalui pesan singkat maupun komunikasi dengan cara telephon, sehingga pasangan suami istri di

Wilayah St Markus Kemiren dalam kehidupan sehari-hari kehadiran Handphone sangat berpengaruh dalam keseharian mereka dengan intensitas waktu mulai dari rendah hingga tinggi / lama.

Dalam analisis deskripsi mengenai variabel terikat yaitu komunikasi personal suami istri di Wilayah Santo markus Kemiren, Paroki Santa Theresia Salam dapat diukur dari 6 sub variabel yaitu: lama komunikasi langsung dengan pasangan, bagaimana penyampaian pesan kepada pasangan, isi pesan kepada pasangan, cara penyampaian pesan kepada pasangan, penerimaan pesan kepada pasangan, kesulitan yang dialami pasangan.

Berdasarkan hasil statistik analisis deskripsi data sub variabel lama komunikasi langsung dengan pasangan pada variabel terikat komunikasi personal suami istri, diketahui mean sebesar 1,9500 termasuk dalam kategori rendah. Dari 120 orang responden, 15 orang (13%) menggunakan durasi waktu yang sangat lama dalam berkomunikasi secara langsung dengan pasangan, kemudian 16 orang (13%) waktu yang digunakan dalam berkomunikasi langsung dengan pasangan lama, 37 orang (31%) menggunakan waktu yang rendah atau sedikit dalam berkomunikasi secara langsung dengan pasangan, 52 orang (43%) menggunakan waktu yang sangat rendah atau sedikit dalam berkomunikasi secara langsung dengan pasangan. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pasangan suami istri menggunakan waktu berkomunikasi dengan pasangan secara langsung atau tatap muka dengan sangat rendah kualitasnya.

Berdasarkan hasil stastistik untuk analisis deskripsi variabel komunikasi personal suami istri sub variabel bagaimana penyampaian pesan kepada pasangan

memiliki nilai mean 3,3167 termasuk dalam kategori rendah dengan jumlah responden 120 orang, 47 orang (39%) berpendapat bahwa penyampaian pesan terhadap pasangan secara langsung itu sangat mudah, 65 orang (54%) berpendapat bahwa menyampaikan pesan kepada pasangan itu mudah, 7 orang (6%) berpendapat bahwa penyampaian pesan kepada pasangan dalam komunikasi secara langsung itu merupakan hal yang sulit, dan 1 orang (1%) berpendapat bahwa penyampaian pesan kepada pasangan itu merupakan hal yang sangat sulit meskipun secara langsung. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa dalam keluarga kehadiran telephon genggam tidaklah mengganggu komunikasi personal suami-istri meskipun secara rata-rata pasangan suami istri dengan mudah menyampaikan pesan kepada pasangannya, tetapi ada juga yang merasa kesulitan dalam penyampaian pesan kepada pasangannya.

Berdasarkan pada variabel komunikasi personal suami istri pada sub variabel isi pesan kepada pasangan dari 120 orang disimpulkan bahwa 73 orang (61%) berpendapat bahwa dalam berkomunikasi secara personal dengan suami istri, isi pesan yang disampaikan pasangan lebih bersifat pribadi atau

privat/privasi, sedangkan 47 orang (39%) berpendapat bahwa dalam melakukan

komunikasi secara personal pasangan suami istri ini lebih mengarah kepada hal yang bersifat umum.

Dari data yang telah penulis dapatkan dapat disimpulkan bahwa sub variabel isi pesan kepada pasangan berpengaruh terhadap komunikasi personal suami istri. Terbukti dari 120 orang, 73 orang (61%) dalam melakukan komunikasi secara

langsung dengan pasangan, suami istri lebih mengarahkan pembicaraan pada hal yang bersifat pribadi atau privat/privasi.

Berdasarkan hasil data untuk analisis deskripsi pada variabel komunikasi personal suami istri sun variabel cara penyampaian pesan kepada pasangan yaitu, dari 120 orang responden dapat disimpulkan bahwa 88 orang (69%) berpendapat bahwa dalam penyampaian pesan kepada pasangan menggunakan kata-kata, 6 orang (5%) pasangan suami istri menggunakan bahasa tubuh dalam penyampaian pesan kepada pasangan, 29 orang (23%) menggunakan sikap verbal (curhat,

sharing, dll) dalam penyampaian pesan kepada pasangan, dan 4 orang (3%)

memilih sikap non verbal sebagai salah satu cara penyampaian pesan kepada pasangan (memendam perasaan dalam hati). Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa banyak dari suami istri yang memilih atau berpendapat bahwa menggunakan kata-kata merupakan salah satu cara pasangan suami istri menyampaikan pesan terhadap pasangannya.

Berdasarkan hasil statistik untuk analisis deskripsi pada variabel komunikasi personal suami istri sub variabel penerimaan pesan kepada pasangan memiliki nilai mean 2,8833 termasuk dalam kategori rendah dengan jumlah 120 orang responden dapat disimpulkan bahwa 22 orang (18%) berpendapat bahwa dalam penerimaan pesan kepada pasangan sangat sesuai maksud, 52 orang (43%) berpendapat bahwa dalam penyampaian pesan kepada pasangan sesuai maksud, 43 orang (36%) berpendapat bahwa dalam penerimaan pesan kepada pasangan tidak sesuai maksud, dan 3 orang (3%) berpendapat bahwa dalam penyampaian pesan suami istri merasa bahwa sangat tidak sesuai dengan yang dimaksud.

Berdasarkan hasil tersebut terbukti bahwa pasangan suami istri dalam penerimaan pesan kepada pasangan 52 orang (43%) sesuai maksud, meskipun ada beberapa yang tidak sesuai dengan maksud pasangannya.

Dari hasil data pada sub variabel kesulitan yang dialami pasangan dapat disimpulkan bahwa kesulitan yang dialami oleh pasangan suami istri yang pertama adalah adanya perbedaan pendapat dengan jumlah sebanyak 78 orang (48%), kemudian yang kedua adanya pengaruh emosi baik suami maupun istri dalam keluarga tersebut dengan jumlah 51 orang (32%), lalu kesulitan yang ketiga yaitu seringnya suami istri tersebut mengabaikan informasi baik dari dalam maupun dari luar lingkup keluarga dengan hasil 15 orang (9%), dan kesulitan yang dialami pasangan suami istri pada posisi terakhir adalah menilai sumber dengan hasil 18 orang (11%) berpendapat. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata pasangan suami istri mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara langsung dengan pasangan karena faktor perbedaan pendapat, sehingga dengan kesulitan yang dialami pasangan suami istri ini tidak menjadi pengalang bagi pasangan suami istri ini untuk selalu mengutamakan komunikasi langsung secara personal atau tatap muka. Pada kesimpulannya penggunaan alat komunikasi atau telephon genggam dalam keluarga belum begitu mengganggu namun memiliki pengaruh meskipun kecil hasil yang diperoleh sehingga pasangan suami-istri dapat dengan mudah melakukan komunikasi langsung dengan pasangan meskipun masih ada beberapa hambatan atau kesulitan yang dihadapi oleh pasangan dalam berkomunikasi.

Dokumen terkait