• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Pembahasan

Representasi dalam semiotika merupakan bentuk penggunaan tanda untuk menggambarkan berbagai bentuk realitas yang ditangkap manusia.

Seorang ahli bernama Stuart Hall berpendapat bahwa ‘Representasi berarti menggunakan bahasa untuk mewakili atau mengkomunikasikan sesuatu yang bermakna dengan orang lain.’(Hall, 1997). Setelah menganalisis 9 unit analisis yang berbentuk adegan atau scene dari film All the Bright Places kemudian membahasnya dengan detail, peneliti menyimpulkan bahwa karakter Theodore Finch menunjukkan tanda-tanda yang merepresentasikan gangguan mental bipolar.

Film merupakan salah satu bentuk dari media massa yang digunakan untuk menyebarkan informasi dan juga sebagai hiburan. Film merupakan cerita, dst.

yang terekam sebagai satu set gambar yang bergerak kemudian ditayangkan di bioskop, televisi atau perangkat lainnya. Film memiliki kekuatan narasi untuk menggambarkan berbagai realitas yang penuh dengan tanda – tanda yang memiliki pesan yang bersifat multitafsir.

Representasi dapat dipahami sebagai proses pemaknaan yang diproduksi dan dipertukarkan antar anggota suatu budaya, Tetapi representasi hanya sebatas sebuah perwakilan dari apa yang terjadi di dunia nyata pada media, karena representasi hanya sebuah penggambaran yang telah dikonstruksi. Sehingga gangguan mental yang tercerminkan dalam film All the Bright Places merupakan kumpulan kode – kode yang ada dalam alur cerita, tokoh, dan sinematografi film yang dirancang sebagai gambaran gangguan mental bipolar di dunia nyata.

Gangguan Bipolar atau GB merupakan suatu gangguan mental yang mengganggu kerja otak yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, dan kemampuan untuk berfungsi seseorang. GB dikarakteristikkan oleh perubahan suasana hati yang ekstrem dari fase depresi hingga fase mania, dimana kondisi emosional yang intens tersebut dapat berlangsung untuk suatu

periode waktu tertentu (L. Clark, 2015). Karakter utama pada film All the Bright Places, adalah seorang remaja bernama Theodore Finch. Finch memiliki kepribadian yang humoris dan energetik, tetapi dibalik kepribadiannya yang ceria, Finch menyembunyikan sisi lain dari dirinya sendiri dimana dia sedang berjuang menghadapi kesehatan mentalnya yang memburuk karena gangguan bipolar yang tidak terdiagnosis.

Film All the Bright Places menggambarkan bagaimana remaja seperti Finch dan Violet menghadapi permasalahan mental yang mereka alami. Para pembuat film berusaha menggambarkan bagaimana perspektif seorang anak remaja yang mengalami gangguan mental menggunakan elemen – elemen sinematografi seperti setting, warna, ambience, lighting dan juga ekspresi karakter. Film ini menunjukkan bagaimana Finch dilabeli berbahaya, gila dan si freak, yang membuaat dia dijauhi, dikucilkan dan juga dirundung.

Sebagaimana hal yang sama terjadi di dunia nyata dimana orang – orang dengan gangguan mental menghadapi berbagai diskriminasi terhadap mereka sendiri dan keluarga yang berdampak pada kehidupan psikososial mereka, karena berbagai stigma yang ada dalam masyarakat (Lazowski et al., 2012)

Gangguan bipolar yang digambarkan pada tokoh Theodore Finch meliputi beberapa karakteristik seperti: ketika berada di fase mania/hypomania Finch bersikap ceria menggebu-gebu, berenergi, sulit untuk fokus atau pikiran yang berpacu, impulsif melakukan aktivitas yang beresiko & berbahaya yang menunjukkan pengambilan keputusan yang buruk, dan juga rasa mudah menjadi marah. Sementara ketika pada fase depresi Finch bersikap kehilangan minat dan energi, perasaan tertekan dan keputusasaan, perasaan tidak berguna, atau rasa bersalah yang berlebih, kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi atau berpikir, dan pikiran untuk mengakhiri hidup.

Dari awal film, Finch ditunjukkan sedang mengalami beberapa masalah, baik dari segi akademik dimana ia dapat terlihat dalam ruangan konselor sekolahnya pak Embry, lalu segi kehidupan sosial dia dijauhi dan di rundung karena perilakunya yang tidak terprediksi seperti tahun lalu ia melempar kursi kearah Roamer, dan juga ketika di kelas ia tiba – tiba membalikkan meja untuk mengalihkan perhatian teman – teman sekelasnya agar tidak menertawakan Violet. Finch mengalami konflik internal dimana dia

harus mengendalikan naik turun emosi yang dia rasakan. Finch takut ia akan seperti ayahnya dan menjadi seseorang yang selalu mengalami ‘dark moods’

dan suka melakukan kekerasan, bahkan pada anaknya sendiri. Sehingga ketika Finch sadar bahwa ia memulai perkelahian dengan Roamer, dia merasakan rasa bersalah yang amat besar. Tidak hanya dia kehilangan kendali akan dirinya sendiri, tetapi dia terancam dikeluarkan sekolah karena telah mengacau sekali lagi, meskipun dia berjanji pada Pak Embry dia tidak akan melakukannya lagi.

Selama ini Finch berusaha mengatasi masalahnya sendiri karena dia tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun. Ia menyembunyikan permasalahan dari konselor sekolah, teman – teman dan keluarganya.

Di dalam film ini Finch ditunjukkan kesulitan untuk memahami dan mengkomunikasikan emosi yang ia rasakan, bagaimana caranya untuk mengatasi gejalanya, dan memproses kejadian – kejadian yang membuatnya stres dan juga trauma masa kecil yang pernah dia lalui. Selama ini Finch tidak pernah sembuh dari traumanya dan selama ini dia bertahan sendiri tanpa diketahui oleh orang lain. Para pembuat film memutuskan untuk membuat tanda – tanda yang samar, yang mengisyaratkan bahwa Finch sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Sebagai penonton awam, ketika pertama kali menonton film ini mungkin kesulitan untuk memahami karakter Finch, sehingga film ini secara tidak langsung menggambarkan realita bagaimana kebanyakan orang tidak dapat melihat atau menyadari ketika seseorang sedang berjuang dengan kesehatan mental mereka. Dan mungkin pada kesan pertama mereka hanya melihat seorang anak remaja yang mengalami moodswing atau remaja yang berperilaku buruk, memberinya label lalu menjauhi mereka. Akan tetapi bahkan bagi orang-orang terdekat mereka, seperti keluarga dan teman dekat Finch dapat tidak menyadari perubahan pada perilaku Finch. Sehingga ketika Finch berada di titik rendah dalam hidupnya, ia memilih untuk mengisolasi dirinya sendiri dan tidak menunjukkan sisi yang ia anggap terlalu buruk untuk dilihat oleh orang-orang terdekatnya.

Usaha untuk merepresentasikan gangguan mental secara harfiah sering kali tidak dapat menyampaikan pesan yang tepat. Dalam usaha untuk memanusiakan dan menghapuskan stigma akan gangguan mental, para pembuat film ‘meromantisir’ dan ‘mensensasionalisasikan’ karakter dengan gangguan mental untuk menarik penonton. Dimana film menciptakan ide

bahwa gangguan mental memiliki kualitas misterius, intelektual, unik, bahkan

‘keindahan yang tragis’ (Dunn, 2017).

Pembuat film dengan sengaja tidak menggambarkan bagaimana Finch akhirnya kehilangan nyawanya. Hal ini dilakukan karena penggambaran adegan bunuh diri pada film secara eksplisit memiliki dampak yang negatif pada penonton, terlebih ketika menceritakan tentang seorang remaja yang memiliki gangguan mental (Rosa et al., 2019: 5). Pembuat film harus dengan hati – hati menciptakan narasi secara implisit dan menggambarkan hal dengan bijak ketika membuat adegan sensitif seperti bunuh diri, sehingga pesan utama yaitu bahaya dari tidak membicarakan permasalahan tentang kesehatan mental, tidak akan tertutupi dengan penggambaran remaja yang melakukan bunuh diri yang dilebih-lebihkan hanya untuk faktor sensasionalisasi. Itu sebabnya pada pembuat film tidak menunjukkan adegan ketika Finch akhirnya meninggal dunia, dan membiarkan penonton untuk menginterpretasikan apa yang terjadi.

Ketika ada orang yang menonton film ini dan merasa mereka berada di posisi yang sama dengan Finch yang berjuang dengan gangguan mentalnya, mereka dapat merasa terepresentasikan dengan cerita seperti ini, merasa diakui keberadaanya dan membawa pesan bahwa mereka tidak sendirian. Ketika menghadapi masalah dengan kesehatan mental itu tidak mudah. Hal itu merupakan permasalahan yang nyata dan banyak orang harus hadapi setiap harinya, dimana gangguan mental dapat berdampak pada aktivitas sehari – hari seperti kerja, sekolah bahkan hubungan dengan orang lain. Maka dari itu, film ini berusaha menyampaikan bahwa ketika mengalami permasalahan yang berat untuk di hadapi sendiri, jangan takut untuk bercerita dan meminta bantuan pada orang lain, karena akan ada orang yang peduli, dan akan selalu memberikan dukungan dan bantuan, dan akan menyayangi mereka meskipun sisi yang mereka malu untuk tunjukkan pada siapa pun.

Itu mengapa seharusnya ada lebih banyak film yang dapat menggambarkan gangguan mental secara akurat sehingga media dapat memulai perbincangan mengenai kesehatan mental dan lebih banyak orang dapat lebih teredukasi, lebih terbuka dan juga menunjukkan empati mengenai topik gangguan mental. Kesehatan mental bukanlah sesuatu yang semestinya di abaikan, karena hal tersebut dapat menyelamatkan hidup seseorang.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan akan 9 unit analisis yang dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes sehingga peneliti dapat menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos yang ada dalam film ‘All the Bright Places’. Penulis menyimpulkan bahwa karakter Theodore Finch menunjukkan karakteristik – karakteristik gangguan mental bipolar, dan bagaimana kehidupan sebagai seorang remaja dengan gangguan bipolar yang tidak terdiagnosis. Karakter Finch tidak hanya digambarkan sebagai seseorang yang memiliki gangguan mental, akan tetapi digambarkan sebagai teman yang mampu membatu orang lain seperti Violet melewati masa terberatnya.

1. Makna Denotasi

Makna denotasi yang menggambarkan makna secara harfiah atau makna sesungguhnya dalam film “All the Bright Places” sesuai dengan apa yang dianalisis lalu di identifikasikan pada visual dan juga audio film tersebut. Makna denotasi sesuai dengan unit analisis yaitu tokoh utama dari film “All the Bright Places” merupakan seorang remaja bernama Theodore Finch yang berjuang untuk menghadapi kesehatan mentalnya yang memburuk karena gangguan mental bipolar yang tidak terdiagnosis.

2. Makna Konotasi

Makna konotasi yang ada pada film “All the Bright Places” adalah Finch merupakan seorang remaja dengan kepribadian yang humoris dan energetik. Finch berusaha membantu Violet yang masih berduka kehilangan kakanya. Sementara itu Finch sendiri sedang berjuang dengan permasalahan kesehatan mentalnya. Finch tidak memiliki banyak teman, terancam dikeluarkan dari sekolah, di rundung oleh teman sekolahnya yang melabeli dia berbagai hal seperti freak, gila, dan berbahaya. Dia tidak pernah sembuh dari trauma di masa kecilnya karena ayahnya sering melakukan kekeraasn fisik padanya. Finch berusaha menyembunyikan gangguan mental bipolar yang dia rasakan dari orang-orang terdekatnya, dan berusaha mengatasinya sendiri, akan

tetapi pada akhirnya Finch kalah melawan gangguan mentalnya sendiri.

3. Mitos

Dalam film “All the Bright Places” karena gangguan bipolarnya Finch dilabeli berbagai hal seperti freak, gila dan juga berbahaya karena beberapa perilakunya yang dikatakan menyimpang dari perilaku remaja normal lainnya. Karakter Finch digambarkan sebagai seseorang yang melakukan kekerasan yang membuat karakter dengan gangguan bipolar diasosiasikan kembali dengan seseorang yang berbahaya dan dapat menyakiti orang lain. Finch merasa harus menyembunyikan gangguan mental yang ia rasakan karena berbagai stigma yang ada dalam masyarakat.

5.2 Saran

Sebagai penutup dari penelitian terhadap film ‘All the Bright Places’, Peneliti merasa perlu memberikan masukan untuk penelitian selanjutnya sehingga dapat menjadi lebih baik dibandingkan penelitian ini, Adapun saran dari peneliti sebagai berikut:

1. Saran Akademis

a. Untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggunakan metode yang sama dengan objek penelitian yang berbeda. Penelitian selanjutnya juga bisa mengkaji lebih jauh mengenai penggambaran dan persepsi gangguan mental seperti gangguan bipolar pada bentuk media lainnya.

b. Pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos memiliki potensi interpretasi berbagai cara pandang yang berbeda, sehingga peneliti merasa ada beberapa hal yang dapat lebih ditingkatkan dengan menggunakan lebih banyak referensi mengenai gangguan bipolar dan juga media.

2. Saran Praktis

Peneliti menyarankan untuk pembuat film yang ingin menggambarkan seseorang dengan gangguan mental untuk melakukan banyak riset, dan

menggambarkan gangguan mental secara akurat dan mengurangi stereotipe atau stigma yang mungkin bisa berdampak negatif.

Penelitian ini juga menyarankan penonton untuk lebih terbuka dan senantiasa lebih berempati pada mereka yang mengalami gangguan mental.

DAFTAR PUSTAKA

Aas, M., Henry, C., Andreassen, O. A., Bellivier, F., Melle, I., & Etain, B. (2016). The role of childhood trauma in bipolar disorders. In International Journal of Bipolar Disorders (Vol. 4, Issue 1, pp. 1–10). SpringerOpen. https://doi.org/10.1186/s40345-015-0042-0 Alfi, F. M. (2020). Makna Mental Ilness Dalam Film “Joker.”

Allison, M. R., Igor, I., Kopeykina, I., Kim, H. J., & Khatun, T. (2014). Violence in Bipolar Disorder . Psychiatric Times, 31(12).

Amda, K., & Fitriyani, R. (2018). Membaca Ekspresi Wajah. Huta Publisher.

American Psychiatric Association. (2013a). Diagnostic And Statisctical Manual Of Mental Disorders. In American Psychiatric Publishing (5th ed.). www.psych.org

American Psychiatric Association. (2013b). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.). American Psychiatric Association.

https://doi.org/10.1176/appi.books.9780890425596

Ayuningtyas, D., Misnaniarti, M., & Rayhani, M. (2018). Analisis Situasi Kesehatan Mental Pada Masyarakat di Indonesia dan Strategi Penanggulangannya. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 9(1). https://doi.org/10.26553/jikm.2018.9.1.1-10

Behler, J., Daniels, A., Scott, J., & Mehl-Madrona, L. (2017). Depression/Bipolar Peer Support Groups: Perceptions of Group Members about Effectiveness and Differences from Other Mental Health Services. The Qualitative Report.

https://doi.org/10.46743/2160-3715/2017.2964

Bhattacharya, S., Hoedebecke, K., & Gokdemir, O. (2019). “Smiling depression” (an emerging threat): Let’s Talk. Article in Indian Journal of Community Health.

https://www.researchgate.net/publication/338987674

Bittner, John. R. (1980). Mass Communication: An Introduction (2nd ed.). Prentice-Hall, Inc.

Chandler, D. (2007). Semiotics The Basic. Taylor & Francis.

CNN Indonesia. (2019, October 10). Dokter Jiwa di Indonesia Masih Minim. CNN Indonesia.

Corrigan, P. W., Kerr, A., & Knudsen, L. (2005). The stigma of mental illness: Explanatory models and methods for change. Applied and Preventive Psychology, 11(3), 179–190.

https://doi.org/10.1016/j.appsy.2005.07.001

Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage Publication.

Diefenbach, D. L. (1997). The portrayal of mental illness on prime-time television. Journal of Community Psychology, 25(3), 289–302. https://doi.org/10.1002/(SICI)1520-6629(199705)25:3<289::AID-JCOP5>3.0.CO;2-R

Fitasari, W. (2019). Representasi Gangguan Jiwa Pada Kecemasan Dalam Film (Analisis Semiotika Pada Karakter Piglet Dalam Film Winnie The Pooh Movie) .

Fitzpatrick, M. (2008). Stigma. British Journal of General Practice, 58(549), 294.1-294.

https://doi.org/10.3399/bjgp08X280092

Galderisi, S., Heinz, A., Kastrup, M., Beezhold, J., & Sartorius, N. (2015). Toward a new definition of mental health. World Psychiatry, 14(2), 231–233.

https://doi.org/10.1002/wps.20231

Geddes, J. R., & Miklowitz, D. J. (2013). Treatment of bipolar disorder. The Lancet, 381(9878), 1672–1682. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60857-0

Gunatirin, E. Y. (2016). Kesehatan Mental Anak dan Remaja. In Kesehatan Mental Anak dan Remaja. Graha Ilmu. https://doi.org/oai:repository.ubaya.ac.id:35835 %0A Gustin, R. P. (2020). Representasi Delusi Penderita Skizofrenia Pada Tokoh John Nash

Dalam Film “A Beautiful Mind.”

Habibah, A., & Yeny Prastiwi Ph. D. (2021). A Semiotic Analysis Of Trauma Recovery On The All The Bright Places Film.

Hall, S. (1997). The Work of Representation. In The Open University (Ed.), Representation:

Harper, S. (2005). Media, Madness and Misrepresentation. European Journal of Communication, 20(4), 460–483. https://doi.org/10.1177/0267323105058252

Hornby, A. S. (2010). Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English (8th ed.).

Oxford University Press.

Human Right Watch. (2020). Living in Chains - Shackling of People with Psychosocial Disabilities Worldwide.

Ilves, P. K., Ilves, L. S., & Calkin, C. v. (2016). The Role of Film in Public Perception of Bipolar Disorder: Perpetuating Stigma in Silver Linings Playbook. Journal of Ethics in Mental Health, 4(2014–2016).

Jamison, K. R. (2000). Suicide and bipolar disorder. The Journal of Clinical Psychiatry, 61 Suppl 9, 47–51.

Keltner, D., Sauter, D., Tracy, J., & Cowen, A. (2019). Emotional Expression: Advance in Basic Emotions. J Nonverbal Behav. https://doi.org/10.1007/s10919-019-00293-3.

Kemenkes RI. (2021). Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia.

https://pusdatin.kemkes.go.id/article/view/20031100002/situasi-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html

Kimmerle, J., & Cress, U. (2013). THE EFFECTS OF TV AND FILM EXPOSURE ON KNOWLEDGE ABOUT AND ATTITUDES TOWARD MENTAL DISORDERS.

Journal of Community Psychology, 41(8), 931–943. https://doi.org/10.1002/jcop.21581 King-White, D. L. (2019). The Role of School Counselors in Supporting Mental Health

Models in Schools. Journal of School Counseling, 17.

https://eric.ed.gov/?id=EJ1210764

Kivunja, C., & Kuyini, A. B. (2017). Understanding and Applying Research Paradigms in Educational Contexts. International Journal of Higher Education, 6.

https://doi.org/10.5430/ijhe.v6n5p26

L. Clark, B. (2015). Bipolar Disorder - De-stigmatizing Mental Illness. Journal of Pharmaceutical Care & Health Systems, 02(02). https://doi.org/10.4172/2376-0419.1000e126

Lazowski, L., Koller, M., Stuart, H., & Milev, R. (2012). Stigma and discrimination in people suffering with a mood disorder: A cross-sectional study. Depression Research and Treatment, 2012. https://doi.org/10.1155/2012/724848

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. In Family Communication. Sage Publication.

Livingstone, K. (2004). Viewing Popular Films about Mental Illness through a Sociological Lens. Teaching Sociology, 32(1), 119–128.

Mahmood, I. (2013). Influence and Importance of Cinema on the Lifestyle of Educated Youth: A study on University Students of Bangladesh. IOSR Journal Of Humanities And Social Science, 17(6), 77–80. https://doi.org/10.9790/0837-1767780

Manzilati, A. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma, Metode, dan Aplikasi (1st ed.). Universitas Brawijaya Press.

MasterClass. (2020, November). Guide to Camera Moves: 13 Types of Camera Movement.

https://www.masterclass.com/articles/guide-to-camera-moves#13-types-of-camera-movements

MasterClass. (2021). How to Edit a Movie: Guide to Film and Video Editing.

Masterclass.Com. https://www.masterclass.com/articles/guide-to-film-and-video-editing#why-is-editing-an-important-part-of-the-filmmaking-process

Mayoclinic.org. (2017). Depersonalization - Derealization disorder - Symptoms and causes.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depersonalization-derealization-disorder/symptoms-causes/syc-20352911

Miller, J. (2020, February 28). How Netflix’s All the Bright Places Tackled Teen Suicide in the Wake of 13 Reasons Why. Vanity Fair.

Moleong, L. J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya.

Mudjiyanto, B., & Nur, E. (2013). Semiotics in Research Method of Communication [Semiotika Dalam Metode Penelitian Komunikasi]. Pekommas, 16(1), 73–82.

https://doi.org/10.30818/jpkm.2013.1160108

National Institure of Mental Health. (2020). Bipolar Disorder. National Institure of Mental Health (NIMH). https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder

NIMH. (2020). Bipolar Disorder. National Institute of Mental Health.

nimh.nih.gov. (2021). Depression . National Institute of Mental Health.

Noya, S., Priyowidodo G., & Budiana D. (2020). Penerimaan Audience Mengenai Mental Illness Dalam Film the Joker. 8(2).

Nurhayati-Wolff, H. (2020). Projected number of people suffering from mental disorder in Indonesia from 2017 to 2024.

Nurjanah, D. S., Rokayah, C., & Widiastuti, M. (2021). Pengalaman Orang dengan Bipolar di Komunitas Bipolar Care Indonesia. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 9(1).

O’Hern, D. (2017). Analysis of Bipolar Disorder Stereotypes in Television Programming.

Elon Journal Od Undergraduate Research in Communications, 8(2), 67–76.

Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research & Evaluation Methods (3rd ed.). Sage Publication.

Prasetya, A. B. (2019). Analisis Semiotika Film dan Komunikasi (1st ed.). Intrans Publishing.

Pratista, H. (2017). Memahami Film. In memahami film (2nd ed., pp. 197–214). Montase Press.

Pusat Data dan Informasi. (2019). Infodatin Situasi dan Pencegahan Bunuh Diri.

Rakhmat, J. (2012). Psikologi Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya.

Ratushima, C. X., & Suiltyorini, H. (2017). Theodore Finch`s Bipolar Disorder in Jennifer Niven`s All the Bright Places.

Rezi, M. (2018). Psikologi Komunikasi (Selfietera, Ed.).

Riset Kesehatan Dasar. (2019). Situasi kesehatan jiwa di Indonesia. In InfoDATIN.

Ritchie, H., & Roser, M. (2018). Mental Health. Our World in Data.

https://ourworldindata.org/mental-health

Rokom. (2021, October 7). Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia. Sehat Negeriku.

Romero, S., Mendez, I., Lera, S., & Santamarina, P. (2021). Prevalence and correlates of suicidal behaviour in adolescents with bipolar disorder. European Psychiatry, 64(S1), S28–S29. https://doi.org/10.1192/j.eurpsy.2021.102

Rosa, G. S. da, Andrades, G. S., Caye, A., Hidalgo, M. P., Oliveira, M. A. B. de, & Pilz, L.

K. (2019). Thirteen Reasons Why: The impact of suicide portrayal on adolescents’

mental health. Journal of Psychiatric Research, 108, 2–6.

https://doi.org/10.1016/j.jpsychires.2018.10.018

Rose, D., Thornicroft, G., Pinfold, V., & Kassam, A. (2007). 250 labels used to stigmatise people with mental illness. BMC Health Services Research, 7(1), 97.

https://doi.org/10.1186/1472-6963-7-97

Setiawan, A., Alfian, A., & Firdiansyah, F. (2021). Bipolar Disorder Of The Main Character As Seen In The ‘Touched With Fire’ Movie By Paul Dalio.

Simanjutak, J. (2013). Konseling Gangguan Jiwa & Okultisme. Gramedia Pustaka Utama.

Stewart, C., & Kowaltzke, A. (2008). Media: New Ways and Meanings (3rd ed.). John Wiley

& Sons.

Stuart, H. (2006). Media Portrayal of Mental Illness and its Treatments. CNS Drugs, 20(2), 99–106. https://doi.org/10.2165/00023210-200620020-00002

Subu, M. A., Wati, D. F., Al-Yateem, N., Netrida, N., Priscilla, V., Maria Dias, J., Slewa-Younan, S., & Edwin Nurdin, A. (2021). ‘Family stigma’ among family members of people with mental illness in Indonesia: A grounded theory approach. International Journal of Mental Health, 1–22. https://doi.org/10.1080/00207411.2021.1891363 Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan

R&D. Alfabeta.

Suppes, T., Eberhard, J., Lemming, O., Young, A. H., & McIntyre, R. S. (2017). Anxiety, irritability, and agitation as indicators of bipolar mania with depressive symptoms: a

5(1), 36. https://doi.org/10.1186/s40345-017-0103-7

Thomson, D., Turner, A., Lauder, S., Gigler, M. E., Berk, L., Singh, A. B., Pasco, J. A., Berk, M., & Sylvia, L. (2015). A brief review of exercise, bipolar disorder, and mechanistic pathways. Frontiers in Psychology, 6.

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2015.00147

Turner, G. (1999). Film as Social Practice (3rd ed.). Routlegde.

UU No. 18. (2014). Undang - Undang Republik Indonesia Tentang Kesehatan Mental No. 18 Tahun 2014. Undang - Undang Tentang Kesehatan Jiwa, 1, 2.

https://ipkindonesia.or.id/media/2017/12/uu-no-18-th-2014-ttg-kesehatan-jiwa.pdf WHO. (2004). Promoting Mental Health. In World Health Organization.

https://doi.org/10.5840/ncbq201616462

Wijaya, L. P. (2013). Mental Illness In The Main Character Of Black Swan Movie. 3(01).

Wilson, C., Nairn, R., Coverdale, J., & Panapa, A. (1999). Mental Illness Depictions in Prime-Time Drama: Identifying the Discursive Resources. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry, 33(2), 232–239.

https://doi.org/10.1046/j.1440-1614.1999.00543.x

Yulianti. T, & Chandraningrum, P. D. (2020). Bipolar Disorder In Jenniver Niven’s All The Bright Places (2015) : A Bipolarist Perspective.

Yuliyanti, T., Candraningrum, D., & Phill. (2020). Bipolar Disorder In Jenniver Niven’s All The Bright Places (2015) : A Bipolarist Perspective .

Yusuf, Ah., & Tristiana, D. T. (2018). Fenomena Pasung dan Dukungan Keluarga terhadap Pasien Gangguan Jiwa Pasca Pasung. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 5(3).

https://doi.org/10.24198/jkp.v5i3.653

Zainol Abidin, Z. Z., & Abu Bakar, M. S. (2020). A Study Of the Elements of Depression in

“All the Bright Places” (2015). E-Academia Journal, 9(1). https://doi.org/10.24191/e-aj.v9i1.9520

LAMPIRAN GAMBAR

Lampiran Gambar 1