BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penanganan Sekolah Terhadap Perilaku Merokok Siswa SMA Negeri 4 Bulukumba
1. Konseling individual/perorangan
Layananan konseling individual/perorangan merupakan jenis layanan bimbingan konseling yang berlangsung dalam suasana komunikasi atau tatap muka secara langsung anatara konselor dan klien (siswa) yang membahas berbagai masalah yang dialami klien. Pembahasan masalah dalam konseling individual/perorangan bersifat holistik dan mendalam serta menyentuh hal-hal penting tentang diri klien, tetapi juga bersifat spesifik menuju kearah pemecahan masalah. Melalui konseling individual/perorangan, klien akan memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permasalahn yang dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri, lingkungannya, serta kemungkinan untuk mengatasi masalahnya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa layanan koseling individual adalah jenis layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendapat layanan langsung, tatap muka dengan guru pembimbing atau konselor sekolah dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi.
Sunaryo Kartadinata (1998:3) mengartikannya sebagai proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal. Sementara Rochman Natawidjaja (1987:37) mengartikan bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan
dirinya, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan pada umunya. Dengan demikian dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya, dan dapat memberi sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umunya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
Tujuan layanan konseling individual/perorangan adalah agar klien memahami kondisi dirinya sendiri, lingkungannya, permasalahan, yang dialami, kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga klien mampu menagtasinya. Dengan perkataan lain, layananan konseling individual bertujuan untuk mengentaskan masalah yang dialami klien melalui hubungan langsung tatap muka dengan konselornya.
Prinsip-prinsip Konseling Individual
a. Setiap konselor layak menghargai ketulusan klien untuk pertemuan dengannya karena meminta bantuan,
b. Konselor wajib memberikan penjelasan mengenai syarat konseling kepada klien seperti tempat dan hari bertemu, periode satu sesi dan jenis-jenis pekerjaan rumah yang harus dilakukan.
c. Konselor wajib merujuk klien tersebut kepada konselor yang lain jika kasus yang ditangani di luar pengalamannya.
d. Konselor wajib menyampaikan kepada klien bahwa semua informasi yang diberikan adalah sulit.
e. Konselor meminta pandangan dari konselor-konselor lain jika ditemukan kesulitan dalam kasus yang dikendalikannya.
f. Konselor wajib bertanggung jawab mencari lembaga referensi jika mendapatkan kliennya mulai mengancam keselamatan orang lain.
Proses konseling perorangan tersebut tidak dirasakan secara langsung oleh klien sebagai hal yang membosankan. Setiap tahapan proses konseling individu memerlukan keterampilan khusus. Namun, keterampilan itu bukanlah yang utama jika hubungan konseling individu tidak mencapai rapport. Akibatnya keterlibatan mereka dalam proses konseling sejak awal hingga akhir dirasakan sangat bermakna dan berguna, secara umum proses konseling individu dibagi atas tiga tahapan:
A. Tahap awal konseling,
Tahap ini terjadi sejak klien melakukan pertemuan dengan konselor hingga berjalan proses konseling sampai konselor dan klien menemukan definisi masalah klien atas dasar isu, kepedulian, atau masalah klien. Adapun proses konseling tahap awal sebagai berikut:
1) Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien
Hubungan konseling bermakna yaitu jika klien terlibat dalam diskusi dengan konselor. Hubungan tersebut dinamakan a working realitionship, yakni hubungan yang berfungsi, bermakna dan berguna. Keberhasilan proses konseling individu sangat ditentukan oleh keberhasilan pada tahap awal ini. Kunci keberhasilan terletak pada: (pertama) keterbukaan konselor. (kedua) keterbukaan klien, artinya dia dengan
jujur mengungkapkan isi hati, perasaan, harapan, dan sebagainya. Namun, keterbukaan ditentukan oleh faktor konselor yakni dapat dipercayai klien karena dia tidak berpura-pura, akan tetapi jujur, asli, mengerti, dan menghargai. (ketiga) konselor mampu melibatkan klien terus menerus dalam proses konseling. Karena dengan demikian, maka proses konseling individu akan lancar dan segera dapat mencapai tujuan konseling individu.
2) Memperjelas dan mendefinisikan masalah
Jika hubungan konseling telah terjalin dengan baik dimana klien telah melibatkan diri, berarti kerjasama antara konselor dengan klien akan dapat mengangkat isu, kepedulian, atau masalah yang ada pada klien. Sering klien tidak begitu mudah menjelaskan masalahnya, walaupun mungkin dia hanya mengetahui gejala-gejala yang dialaminya. Karena itu, sangatlah penting peran konselor dalam membantu memperjelas masalah klien. Demikian pula, klien tidak memahami potensi apa yang dimilikinya. Tugas konselor untuk membantu mengembangkan potensi, memperjelas masalah, dan membantu mendefinisikan masalahnya bersama-sama.
3) Membuat penafsiran dan penjajakan
Konselor berusaha menemukan atau menaksir kemungkinan pengembangan isu atau masalah, dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan, yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien, dan proses menentukan berbagai alternatif yang sesuai dengan antisipasi masalah.
4) Menegosiasikan kontrak
Kontrak yaitu membuat janji antara konselor dengan klien. Hal itu berisi: (1) kontrak waktu, artinya berapa lama diinginkan waktu pertemuan oleh klien dan apakah konselor tidak keberatan. (2) Kontrak tugas, artinya konselor apa tugasnya, dan klien apa pula. (3) kontrak kerjasama dalam proses konseling. Kontrak menggariskan kegiatan konseling, termasuk kegiatan klien dan konselor. Artinya mengandung makna bahwa konseling adalah urusan yang saling ditunjak, dan bukan pekerjaan konselor sebagai ahli. Disamping itu, mengandung makna tanggung jawab klien, dan ajakan untuk kerja sama dalam proses konseling.
B. Tahap Pertengahan (Tahap Kerja),
Berangkat dari definisi masalah klien yang disepakati pada tahap awal, kegiatan selanjutnya adalah memfokuskan pada:
1) Penjelajahan masalah klien;
2) Bantuan yang akan diberikan berdasarkan penilaian mengenai apa saja yang telah diketahui masalah klien. Melakukan penilaian kembali dalam proses membantu masalah klien dalam memperolah suatu alternatif baru yang mungkin mempuyai perbedaan dari sebelumnya dalam rangka mengambil keputusan dan tindakan.
Dengan diadakannya alternatif baru, berarti memiliki dinamika pada diri klien untuk berubah. Tanpa perhatian dari konselor maka klien sulit untuk berubah. Adapun tujuan-tujuan dari tahap pertengahan ini yaitu: (a) Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah, isu, dan kepedulian klien lebih jauh. Dengan penjelajahan ini, konselor
berusaha agar klienya mempunyai prespektif dan alternatif baru terhadap masalahnya.
Konselor mengadakan reassesment (penilaian kembali) dengan melibatkan klien, artinya masalah tu dinilai bersama-sama. Jika klien bersemangat, berarti dia sudah begitu terlibat dan terbuka. (b) Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara.
Hal ini bisa terjadi jika: pertama, kebutuhan dalam dalam meningkatkan potensi diri dalam memecahan masalahnya agara klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau wawancara konseling. Kedua, konselor berupaya kreatif dengan keterampilan yang bervariasi, serta memelihara keramahan, empati, kejujuran, keikhlasan dalam memberi bantuan. Kreativitas konselor dituntut pula untuk membantu klien menemukan berbagai alternatif sebagai upaya untuk menyusun rencana bagi penyelesaian masalah dan pengembangan diri. (c) Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak, kontrak dinegosiasikan agar betul-betul memperlancar proses konseling. Karena itu konselor dan klien agar selalu menjaga perjanjian dan selalu mengingat dalam pikiranya. Pada tahap pertengahan konseling ada lagi beberapa strategi yang perlu digunakan konselor yaitu: pertama, mengkomunikasikan nilai-nilai inti, yakni agar klien selalu jujur dan terbuka, dan menggali lebih dalam masalahnya ketika merasa kondisi sudah terlihat baik, maka klien sudah merasa aman, dekat, terundang dan tertantang untuk memecahkan masalahnya. Kedua, menantang klien sehingga dia memiliki semangat baru dan rencana baru, melalui pilihan dari berbagai alternatif, untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik.
C. Tahap Akhir Konseling (Tahap Tindakan)
1) Menurunya kecemasan klien. Hal ini diketahui setelah konselor menanyakan keadaan kecemasanya.
2) Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih positif, sehat, dan dinamis.
3) Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.
Terjadinya perubahan sikap positif, yaitu mulai dapat mengoreksi diri dan meniadakan sikap yang suka menyalahkan dunia luar, seperti orang tua, guru, teman, keadaan tidak menguntungkan dan sebagainya. Jadi klien sudah berfikir realistik dan percaya diri.
2. Surat panggilan orang tua
Surat ini di pergunakan dan biasanya dikeluarkan oleh wali kelas atau untuk memanggil orang tua/wali siswa waktu anaknya mengalami permasalahan di sekolah, saat seorang siswa mendapat permasalah di sekolah, maka pihak sekolah memanggil oaring tua atau wali siswa dengan surat panggilan yang diberikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan.
3. Skorsing
Skorsing merupakan salah satu bentuk punishment terakhir untuk sebuah pelanggaran etika maupun tata tertib yang berlaku. Skorsing diberikan oleh lembaga pendidikan setelah melalui prosedur yang berlaku, biasanya dimulai dari rapat dengan dewan guru dan wali kelas dan guru bimbingan konseling (BK). Sebagai bentuk punishment, skorsing agaknya masih dapat diterima sebgai sebuah kewajaran, dalam
hal ini pilihan terakhir untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran kepada siswa. Skorsing bukanlah sebagai sebuah diskriminasi atau pembatasan hak siswa untuk memperoleh pendidikan, melainkan sebagai konsekuensi logis dari sebuah tindakan yang melanggar tata tertib atau norma sekolah.
Perlu ditekankan skorsing bukanlah larangan belajar, tetapi hanya bentuk arahan secara administratif dari sekolah untuk meminta siswa belajar dirumah untuk sementara waktu. Melalui skorsing siswa di harapkan mampu berfikir akan kesalahan yang diperbuat dan berusaha untuk memperbaiki diri. Setelah masa skorsing berakhir, siswa pun diperbolehkan kembali belajar di sekolah seperti biasanya. Namun seperti yang diterapkan dan diungkapkan oleh guru BK bahwasanya dengan menskorsing siswa itu bukan di rumah, melainkan di skorsing dalam ruang lingkup sekolah dan diberikan bimbingan dalam ruangan BK sampai waktu yang telah ditentukan.
Hal tersebut sesuai dengan teori Paradigma Perilaku Sosial Behavioristik Pendekatan behaviorisme pendapat B.F. Skinner dikutip dalam jurnal (Mustaqim : 2016), Paradigma perilaku sosial memfokuskan perhatiannya kepada hubungan antara individu dan lingkungannya yang terdiri atas berbagai jenis obyek sosial dan non sosial yang menghasilkan akibat dari perubahan melalui faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan terhadap perilaku. Fokus utama paradigma ini pada hadiah atau penguatan (rewards) yang menimbulkan perilaku yang diinginkan dan hukuman (punishment) yang mencegah perilaku yang tak diinginkan. Paradigma perilaku sosial mampu menerangkan dan memberikan penjelasan secara lebih nyata (tampak). Fokus pemikiran Skinner adalah setiap manusia bergerak karena mendapat sentuhan
langsung dari lingkungannya. Sistem tersebut dinamakan "cara kerja yang menentukan" (operant conditioning). Setiap makhluk hidup selalu berada dalam proses bersinggungan dengan lingkungannya. Di dalam proses itu, makhluk hidup menerima sentuhan atau stimulan tertentu yang membuatnya dapat melakukan sebuah tindakan. Stimulan tertentu membuat manusia melakukan tindakan yang harus menanggung konsekuensi tertentu. Konsep dasar dari teori ini adalah penguat/ganjaran (reward). Teori ini lebih menitikberatkan pada tingkah laku aktor dan lingkungan. Bagi Skinner, respons muncul karena adanya penguatan. Ketika dia mengeluarkan respons tertentu pada kondisi tertentu, maka ketika ada penguatan atas hal itu, dia akan cenderung mengulangi respons tersebut hingga akhirnya dia merespon pada situasi yang lebih luas. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respons akan semakin kuat bila diberi penguatan.
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan tersebut akan berlangsung stabil dan menghasilkan perilaku yang menetap. Asumsi dasar teori ini adalah: 1) Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu). 2) Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan) dan 3) Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol). Menurut Skinner, unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Skinner membagi penguatan ini menjadi dua bagian, yakni penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung.
perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan. Penguatan negatif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Skinner mengajukan dua klasifikasi dasar dari perilaku yaitu operants dan respondents. Operants adalah sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang mendorong langsung. Responden adalah sesuatu yang dimunculkan, di mana organisme menghasilkan sebuah responden sebagai hasil langsung dari stimulus spesifik. Hal ini didasari pada asumsi-asumsi belajar itu adalah tingkah laku, Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di kondisi lingkungan, Hubungan yang bersinggungan dengan perilaku terhadap lingkungan hanya dapat ditentukan dengan sifat perilak dan kondisi eksperimennya didefinisikan menurut fisiknya dan diobservasi di bawah kondisi-kondisi yang di kontrol secara seksama.
Salah satu cara untuk mengatasi kebiasaan merokok, ada yang mengatakan bahwa perlu menerapkan strategi manajemen diri sendiri (self-management technique). Strategi itu dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: 1) Pemantauan diri adalah kemampuan individu untuk mengamati dan mengevaluasi sudah sampai sejauh mana dirinya memiliki perilaku kebiasaan merokok. 2) Kontrol stimulus
adalah bagaimana upaya individu untuk mengatur dan mengontrol rangsangan yang muncul dari dalam diri ataupun dari luar dirinya. 3) Mengganti respons adalah kemampuan individu mengganti respons ketika menghadapi suatu rangsangan yang mengarahkan dirinya merokok. 4) Melakukan kontrak perjanjian dengan orang lain, yaitu suatu kesepakatan yang dibuat antara dirinya dan orang lain dengan tujuan untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Dari penjelasan dapat dipahami bahwa peran dari individu yang bersangkutan itulah yang memegang peran penting tercapainya tujuan untuk menghentikan kebiasaan merokok. Kondisi kesehatan seseorang berhubungan erat dengan beberapa kebiasaan perilaku individu yang bersangkutan. Untuk mencapai kehidupan yang sehat, diperlukan kebiasaan-kebiasaan perilaku yang sehat pula.
Merokok menurut Ogden (2000 dalam Nasution, 2007, 17) dampak dari perilaku merokok terbagi atas dua dampak, sebagai berikut:
a. Dampak positif merokok yang sangat sedikit bagi kesehatan. Individu yang merokok mengatakan dengan merokok dapat menghasilkan mood positif dan dapat merangsang individu dalam menghadapi keadaan yang membuat stres, serta dengan merokok (terutama bagi perokok) dapat mengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan sosial dan menyenangkan
b. Dampak negatif merokok yang sangat berpengaruh bagi kesehatan. Merokok dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit yang dapat dipicu karena merokok
dimulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di telapak kaki, antara lain penyakit kardiovaskular, neoplasma, kanker, saluran pernafasan, petingkatan tekanan darah (hipertensi), penurunan vertilitas (kesuburan) dan hasrat seksual, sakit mag, gondok, gangguan pembuluh darah, penghambat pengeluaran air seni, ambliyopia (pengelihatan kabur), kulit menjadi kering, pucat dan keriput, serta polusi udara dalam ruangan sehingga terjadi iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.
Disamping itu, kecanduan merokok juga berdampak negatif bagi kesehatan psikologis perokok tersebut, hasil penelitian yang dilakukan oleh J. G. Johnson (2000, dalam Nevid, 2005, 19) mengatakan bahwa merokok pada remaja dapat meningkatkan resiko gangguan kecemasan terutama pada masa remaja akhir dan dewasa awal. Kondisi psikologis lainnya yang disebabkan oleh merokok adalah tidak bergairah, merasa pikiran buntu, mudah marah, bosan dan bingung tanpa sebab ketika kepuasan untuk merokoknya tidak terpenuhi (Nugraheni, 2012, dalam life.viva.co.id diakses tanggal 11 Februari 2015).
Begitu banyak sebab atau alasan yang disampaikan para remaja mengapa melakukan aktivitas merokok. Sebagian besar remaja melakukan aktivitas merokok karena ingin terkesan terlihat dewasa atau gagah. Menurut sitopoe (2000:17) bahwa merokok pada anak-anak karena kemauan sendiri disebabkan ingin menunjukkan bahwa dirinya dewasa dan bisa memasuki kelompok yang mempunyai ciri gaya tertentu yaitu merokok. Alasan lainnya remaja merokok adalah karena ajakan atau paksaan teman atau pengaruh lingkungan yang sulit ditolak.
Pelanggaran tata tertib perilaku merokok faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perilaku merokok di lingkungan sekolah yaitu
a. Pembinaan orang tua
Tidak sedikit remaja yang merokok di karenakan dalam lingkungan keluaganya ada yang merokok. Misalnya saja seorang remaja laki-laki merokok dikarenakan melihat ayahnya suka merokok. Selain hal tersebut, ada juga orangtua yang tidak keberatan anak remaja laki-lakinya merokok.
b. Pergaulan teman sebaya
Lingkungan yang sangat menentukan pada remaja. Remaja cenderung mendengarkan atau melakukan yang dibenarkan dalam kelompoknya dan remaja cenderung melawan pada orang dewasa dan orang tua. Meskipun orang tua melarang remaja tersebut merokok. Tetapi bila dirinya bergaul dengan sekelompok remaja yang merokok yang kemungkinan besar remaja itupun ikut merokok.
Hal tersebut sesuai dengan teori sosialisasi menurut pendapat Edwin H.
Sutherland (Elly M Setiadi & Usman kolip 2010) dalam buku (Nursalam dan Suardi : 2016) mengatakan bahwa teori penyimpangan adalah hasil dari proses belajar, selanjutnya Sutherland mengatatakan bahwa penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasa atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya.
Dengan demikian menurut teori ini perilaku meyimpang terjadi karena proses belajar dimana yang didapat oleh setiap individu didalam lingkungan sekolah, keluarga
maupun masyarakat dan seringnya terjadi konflik normatif dalam diri individu dalam masyarakat karena terkadang individu mendapatkan pembelajaran yang berbeda antara satu lingkungan dengan lingkungan yang lain melalui interaksi yang intens sehingga individu bingung untuk mengikuti norma-norma yang ada didalam masyarakat.
Di tingkat kelompok, perilaku menyimpang adalah monsekuensi dari terjadinya konflik normatif. Artinya, perbedaan aturan sosial diberbagai kelompok sosial seperti keluarga, tetangga, teman sebaya, bisa membingunkan individu yang masuk dalam momunitas tersebut. Situasi ini dapat berujung pada ketegangan yang berujung konflik normatif, pada diri individu. Perilaku menyinpang dari norma yang berlaku dalam masyartakat yang dapat memicu timbulnya kenakalan terhadap siswa.
Kenakalan siswa diistilahkan sebagai juvenile delinquency seperti menurut Kartini Kartono menyatakan (juvenilis artinya muda, delinquency artinya jahat, durjana, pelanggar, nakal) yaitu remaja yang melakukan kejahatan, dilatarbelakangi untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya.
Oleh karena itu, juvenile delinquency ialah tingkah laku jahat atau kenakalan remaja yang diakibatkan gejala sakit (patologis) secara sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka melakukan tindakan/perilaku yang menyimpang M. Arifin mengemukakan istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata juvenile delinquency yang dipakai di dunia barat. Istilah ini mengandung pengertian tentang kehidupan remaja yang menyimpang dari berbagai pranata dan norma yang berlaku umum. Baik yang menyangkut
kehidupan masyarakat, tradisi, maupun agama serta hukum yang berlaku. Juvenile delinquency adalah sebuah kelakukan yang disebut delinquent apabila perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup, suatu perbuatan yang anti sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif.
Siswa dapat didefinisikan menerima pengaruh dari individi maupun sekelompok orang yang sedang dalam tahap Pendidikan. Sedangkan dalam arti sempit, siswa yaitu pribadi yang belum dewasa yang diserahkan tanggung jawabnya kepada guru. Dalam pengertian lain disebutkan juvenile delinquency yakni tiap perbuatan yang bila dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu merupakan kejahatan. Dalam bahasa Indonesia mana siswa, murid, pelajar dan peserta didik merupakan sinonim (persamaan), semuanya bermakna anak yang sedang belajar dan bersekolah, anak yang sedang memperoleh pendidikan dasar dari suatu lembaga pendidikan.
Komponen dalam sistem pendidikan yang sedang dalam proses pengajaran yang berkualitas dan terdidik sesuai pendidikan pada umumnya yang diungkapkan oleh Oemar Hamalik. Dapat dikatakan bahwa siswa merupakan semua orang yang sedang belajar baik pada lembaga pendidikan secara formal maupun lembaga pendidikan non formal. Remaja didefinisika sedang dalam tahap perkembangan sikap tergantung terhadap orang tua ke arah kemandirian, minat-minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu moral. Sedangkan masa remaja ini meliputi: (a) remaja awal: 12-15 tahun, (b) remaja madya: 16-18 tahun dan (c)
remaja yang berusia 19-22 tahun. Pada masa remaja adalah puncak emosionalitas, yang dimana perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan dan dorongan baru yang dialami sebelumnya, perasaan cinta, rindu dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis.
Remaja awal perkembangan emosinya menunjukkan sikap yang sensitif dan reaktif sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi sosial, emosinya bersifat negatif dan temperamental (mudah tersinggung/marah atau mudah sedih/murung).
Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya. Menurut Zakiah Daradjat ada beberapa bentuk kenakalan siswa: 1. Kenakalan ringan, misalnya keras kepala, tidak patuh pada orang tua dan guru, lari (bolos) sekolah, tidak mau belajar, sering berkelahi, suka mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan, cara berpakaian yang tidak rapi dan sebagainya. 2. Kenakalan sedang, kenakalan terhadap lawan jenis, merokok, bully, penyalahgunaan obat terlarang. 3. Kenakalan berat, misalnya mengganggu ketentraman dan keamanan orang lain, misalnya mencuri, memfitnah, merampok, menodong, menganiaya, merusak milik orang lain, membunuh dan sebagainya.
Faktor penyebab kenakalan siswa diantaranya: a) keadaan keluarga yang menunjukkan bahwa siswa mendapatkan pendidikan dan pembinaan pertama di ruang
Faktor penyebab kenakalan siswa diantaranya: a) keadaan keluarga yang menunjukkan bahwa siswa mendapatkan pendidikan dan pembinaan pertama di ruang