BAB III METEDOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Miles and Huberman (1984) mengemukakan aktivis dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu:
1. Data reduction (reduksi data), data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak sehingga dapat dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting dicari tema dan polanya.
2. Data display (penyajian data), dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, dan sejenisnya. Dengan menampilkan data, hal ini memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah didapatkan selama penelitian tersebut berlangung.
3. Conlusion Drawing/verification (penarikan kesimpulan dan verifikasi).
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suau objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas dan berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.
I. Teknik Pengabsahan Data
Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk menyanggah balik yang di tuduhkan kepada peneliti kualitatif yang mengatakan tidak ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan (Moleong, 2009: 320).
Agar data dalam peneliti kualitatif dapat dipertanggung jawabkan sebagai penelitian ilmiah perlu dilakukan uji keabsahan data. Adapun uji keabsahan data yang dapat dilaksanakan.
1. Triagulasi sumber, untuk menguji krebilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa informan, Data yang diperoleh dianalisis oleh peneliti sehingga menghasilkan suatu kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan (membercheck) (Sugiyono, 2007:274) 2. Trigulasi waktu, Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara yang
dilakukan di pagi hari saat narasumber masih segar akan memberikan informasi yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Selanjutnya dapat dilakukan dengan pengecekan dengan wawancara, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Apabila hasil hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sampai ditemukan kepastian datanya (sugiyono, 2007:274)
3. Triagulasinteori, setelah peneliti mendapat informasi dari beberapa sumber, informasi tersebut selanjutnya diinterprestasikan dengan pendapat para ahli sesuaimdengannpermasalahannyangnditeliti.
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELIITIAN
A. Sejarah Lokasi Penelitian
Gambar 4.1 : Peta Geologi Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan
Sejarah berdirinya Kabupaten Bulukumba mitologi penamaan Bulukumba, konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu Bulu’ku dan Mupa yang dalam bahasa indonesia berarti “masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya”. Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke 17 masehi ketika terjadi perang saudara anatara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu kerjaan Gowa dan kerajaan Bone.
Di pesisir pantai yang bernama “Tana Kongkong”, disitulah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing. Bangkeng Buki’ ( secara harfiah berarti
41
kaki bukit) yang merupaka barisan lereng bukit dari gunung Lompobattang diklaim oleh pihak Kerajan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun , pihak kerajaan Bone bersikeras, mempertahankan Bangkeng Buki’ sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan. Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa bugis “Bulu’kumupa” yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi “Bulukumba”. Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini resmi menjadi kabupaten dimulai dari terbitnya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi yang ditindaklanjuti dengan peraturan daerah-daerah Kabupaten Bulukunba Nomor 5 Tahun 1978, tentang lambang Daerah. Akhirnya setelah dilakukan seminar sehari pada tanggal 28 maret 1994 sengan narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada (ahli sejarah dan budaya), maka ditetapkan hari jadi kabupaten Bulukumba, yaitu tanggal 4 februari 1960 melalui Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994.
Sejarah yuridis formal Kabupaten Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II setelah ditetapkan Lambang Daerah Kabupaten Bulukumba oleh DPRD Kabupaten Bulukumba pada tanggal 4 februari 1960 dan selanjutya dilakukan perlantikan bupati pertama, yaitu Andi Patarai pada tanggal 12 februari 1960. Masyarakat Bulukumba telah bersentuhan dengan ajaran agama islam sejak awal abad ke- 17 masehi yang diperkirakan tahun 1605 M. Ajaran agama islam ini dibawa oleh tiga ulama besar
(Waliyullah) dari pulau Sumatera yang masing-masing bergelar Dato Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar) dan Dato Pattimang (Luwu).
Ajaran agama islam yang berintikan tasawwuf ini menumbuhkan kesadaran religius bagi penganutnya dan menggerakkan sikap keyakinan mereka untuk berlaku zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat dalam kerangka tauhid “appasewang”
(meng-Esakan Allag SWT). Selain itu terdapat Mesjid tertua ketiga di Sulawesi Selatan yang dinamakan Masjid Nurul Hilal Dato Tiro yang terletak di Kecamatan Bontotiro. Simbol adalah bentuk yang menandai sesuatu yang lain diluar dari perwujudan bentuk simbolik itu sendiri. Simbol yang tertuliskan sebagai bunga, misalnya mengacu pada gambaran fakta yang disebut bunga sebagai sesuatu yang ada diluar bentuk simbolik itu sendiri.
Dalam konsep Pierce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu diluar tanda itu sendiri, hubungan antara simbol dengan penanda dengan sesuatu yang ditandakan (pertanda) sifatnya konfensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dan objek yang diacu dan menafsirkan tandanya. Dalam komunikasi (bahasa) simbol sering diistilahkan sebagai lambang. Lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama, misalnya memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan penghormatan atau kecintaan kepada negara. Apa saja bia dijadikan lambang, bergatung pada kesepakatan bersama. Kata-kata lisan atau tulisan, isyarat
tubuh, makanan, cara makan, tempat tinggal , jabatan, olahraga, hobi, peristiwa, tumbuhan, gedung, alat (artefak), angka, bunyi, waktu dan sebagainya. Lambang daerah kabupaten Bulukumba berdasarkan peraturan daerah (PERDA) kabupaten Bulukumba Nomor 13 Tahun 1987, maka ditetapkanlah lambang Daerah Kabupaten Bulukumba dengan makna sebagai berikut:
a. Perisai persegi lima melambangkan sikap batin masyarakat Bulukumba yang teguh pertahankan pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.
b. Padi dan jagung melambangkan mata pencaharian utama dan merupakan makanan pokok masyarakat Bulukumba. Bulir padi sejumlah 17 bulir melambangkan tanggal 17 sebagai tanggal kemerdekaan RI. Daun jagung sejumlah 8 menandakan bulan agustus sebagai bulan kemerdekaan RI. Kelopak sebuah jagung berjumlah 4 dan bunga buah jagung berjumlah 5 menandakan tahun 1945 sebagai tahun kemerdekaan RI.
c. Perahu pinisi sebagai salah satu mahakarya ciri khas masyarakat Bulukumba, yang dikenal sebagai “Butta Panrita Lopi” atau daerah bermukimnya orang yang ahli dalam membuat perahu.
d. Layar perahu pinisi berjumlah 7 buah melambangkan jumlah kecamatan yang ada di Kabupaten Bulukumba, tetapi sekarang sudah dimekarkan dari tujuh menjadi 10 kecamatan.
e. Tulisan aksara lontara di sisi perahu “mali siparappe, tallang sipahua”
mencerminkan perpaduan dari dua dialek Bugis-Konjo yang melambangkan persatuan dan kesatuan dua sukua besar yang ada di Kabupaten Bulukumba.
f. Dasar biru melambangkan bahwa Kabupaten Bulukumba merupakan daerah maritim.
Sejarah SMA Negeri 4 Bulukumba berdiri pada tanggal 22 nopember 1985 yang teletak di Jalan Persatuan No.2 Hila-Hila, kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba provensi Sulawasi Selatan. Sebelumnya sekolah masih tergolong swasta yang di namakan SMA 1 Bontotiro. Bontotiro adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Bontotiro berasal berasal dari kata Bonto (daratan) dan Tiro (melihat), yang berarti daratan dimana kita dapat melihat daerah sekitar. Hal ini dikarenakan kawasan Bontotiro memang berada sedikit lebih tinggi dari daerah sekitarnya.. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Konjo yang memiliki kemiripan dengan Bahasa Makassar maupun Bahasa Bugis. Seiring berkembangnya zaman Pendidikan, dediknas meresmikan sekolah SMA 1 Bontotiro menjadi SMA Negeri 4 Bulukumba.
Dengan tujuan untuk meningkatkan Pendidikan dan memudahkan masyarakat desa menempuh Pendidikan lanjutan menengah atas yang di dirikan pada tahun 1985.
Dan pada tahun 2020 tercatat jumlah siswa 522 orang. kegiatan belajar mengajar di laksanakan pada pagi hari.
B. Keadaan Lokasi Peneltian
Lokasi penelitian ini adalah di SMA Negeri 4 Bulukumba, jln persatuan No.2 Hila-Hila, kecamatan Bontotiro kabupaten Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan.
Sekolah ini tepatnya berada di keluarahan/desa yang sedang bekembang maju, menurut masyarakat sekitar sekolah ini merupakan sekolah yang memilki kualitas yang bagus, selain letaknya yang strategis sekolah ini juga di apit oleh permandian Datotiro Hila-Hila dan limbua’ yang pengunjungnya cukup ramai.
SMA Negeri 4 Bulukumba kini dibawah kepemimpinan Drs.Subhan, memiliki tanaga pendidik sebanyak 35 orang dengan rincian 18 orang guru PNS dan 8 orang guru non PNS, adapun pegawai tata usaha sebanyak 9 orang dengan rincian 1 orang PNS dan 8 orang non PNS. Dengan menggunakan kurikulum 2013 dan terakreditasi A.
Jumlah siswa yang tecatat pada tahun 2020 sebanyak 522 orang yang terbagi 3 kelas yaitu kelas 1, 2 , dan 3 dengan karakter masing-masing. Sekolah ini termasuk sekolah yang cukup ketat namun tidak dapat dipungkiri masih banyak siswa yang melanggar aturan tata tertib seperti merokok di area sekolah pelanggaran ini banyak di lakukan oleh siswa karena ingin di cap keren, mempunyai banyak teman dan dianggap dewasa oleh orang-orang sekitar sehingga tidak menghiraukan peraturan yang ada di sekolah.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penanganan Sekolah Terhadap Perilaku Merokok Siswa SMA Negeri 4 Bulukumba
Siswa yang belum punya pendirian yang kuat dalam kehidupannya, maka dia akan mudah mengikuti orang yang ada di sekitar tanpa berfikir panjang apakah orang tersebut baik maupun pergaulan yang tidak sehingga akan tetap diikuti. maka perlu diadakan tindakan untuk menanganinya. Tindakan penanganannya perlu dilakukan dengan banyak tindakan edukatif, yakni memfungsikan bimbingan konseling di sekolah. Setelah melakukan obeservasi, wawancara, serta dokumentasi, dilapangan maka akan disajikan data-data yang diperoleh dari penilitian.
Dari data hasil observasi peneliti melihat bahwa SMAN Negeri 4 Bulukumba terletak di kelurahan Ekatiro (Hila-Hila) kecamatan Bontotiro yang sangat strategis karena diapit oleh dua tempat wisata di antaranya permandian Datotiro dan permandian Limbua. Selain itu, di sekitar lokasi sekolah tersebut terdapat Kantor Camat dan Puskesmas, sehingga mudah dilihat oleh masyarakat luas. SMA Negeri 4 Bulukumba merupakan sekolah yang fasilitasnya sudah memadai dilihat dari struktur bangunan, sarana dan prasarananya begitupun dengan akses internet yang mudah dijangkau, untuk meningkatkan pendidikan dan memudahkan masyarakat desa menempuh pendidikan lanjutan menengah atas yang didirikan pada tahun 1985. Dan
47
pada tahun 2020 tercatat jumlah siswa 522 orang. kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada pagi hari.
Data dari dokumen yang diperoleh, dalam buku catatan kasus/konsultasi SMA Negeri 4 Bulukumba ketika siswa melanggar peraturan dengan merokok di kelas yang ditindak lanjuti dengan membuat pernyataan sebagai berikut:
“Saya berjanji tidak merokok didalam kelas, apabila saya merokok dalam kelas saya bersedia diberi sanksi oleh guru”. (Dokumen/13/11/2017)
“Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya yaitu merokok di belakang kelas kalau saya mengulangi kesalahan saya akan bersedia diberi sanksi”.(Dokumen 25/05/2018)
Di lihat dalam buku catatan kasus dan konsultasi SMA Negeri 4 Bulukumba Ketika siswa merokok di area sekolah baik itu dalam kelas maupun di luar kelas dipanggil keruangan BK bahwa siswa tersebut telah melakukan pelanggaran tata tertib dan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa ada sanksi dan hukuman tertentu sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Ketika siswa kedapatan melakukan pelanggaran (merokok diarea sekolah) maka akan menulis suatu pernyataan/perjanjian agar tidak melakukan kesalahan yang sama dan di tanda tangani oleh siswa yang bersangkutan dan siap menerima sanksi dari guru.
Adapun dokumen dalam bentuk surat perjanjian/pernyataan ketika siswa melanggar peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah sebagai berikut :
”Apabila saya langgar atau tidak mengindahkan pernyataan/perjanjian yang saya buat, maka saya bersedia menerima sanksi/hukuman yang ditetapkan oleh sekolah sesuai dengan pelanggaran yang saya lakukan, dan apabila dipandang perlu, saya dapat dikeluarkan dari sekolah ini”.
(Dokumen/18/10/2019)
Perjanjian tersebut merupakan sanksi/hukuman untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dalam hal ini, hukuman diberikan ketika siswa yang bersangkutan ketika menampilkan sebuah tingkah laku yang tidak diharapkan.
No. Aspek yang dinilai Sangat memuaskan
Table 5.1 dokumen kepuasan konseli terhadap proses konseling individual
Data dari hasil wawancara mengenai penanganan yang dilakukan oleh guru BK (Bimbingan konseling). Berikut deskripsi hasil wawancara dapat peneliti paparkan seperti berikut:
“Penanganan terhadap perilaku merokok siswa di sekolah dengan melakukan konseling individual kalau tidak berhasil yah panggilan orang tua tidak berhasil saya yang datangi orang tuanya setelah itu kita adakanmi pertemuan kalau nda bisa lagi yah di keluarkan. Jadi kita mempunyai sistem untuk membina anak-anak yang melanggar di sekolah
biasanya anak –anak yang melakukan pelanggaran sedang dan pelanggaran berat itu di skorsing. (Drs. Isl/14/09/2020)
Penanganan perilaku merokok yang dilakukan oleh guru BK tersebut, ada tiga cara yaitu: 1) konseling individual, layanan ini dilakukan dalam suasana komunikasi atau tatap muka secara langsung antara konselor dan klien (siswa) yang membahas berbagai masalah yang dialami klien. 2) Mengeluarkan surat panggilan orang tua dan diberikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan. 3) Mendatangi secara langsung rumah orang tua siswa yang bersangkutan dan membicakan mengenai permasalahan siswa si sekolah.
“Penanganan saya di sekolah Selama menjadi guru BK tidak pernah menskorsing siswa di rumah saya skorsing saja siswa itu tetapi di dalam sekolah, umpanya tiga hari saya skorsing silahkan minta bukunya temannya di ruangan BK menyalin kita bina di BK, Kalau di skorsing dirumah siswa ini gembira lebih bagus di skorsing di ruangan BK sampai batas waktu yang telah ditentukan baru siswa bisa mengikuti proses belajar mengajar. (Drs. Isl/14/09/2020)
Penanganan siswa merokok disekolah dengan menskorsing siswa tersebut.
Tetapi siswa ini tidak di skorsing atau dalam artian diliburkan dan tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar dikelas melainkan siswa tersebut diskorsing di dalam sekolah khususnya di ruangan BK diberikan pembinaan dan menyalin materi yang tertinggal sampai waktu yang telah ditentukan.
“Penanganan di sekolah kita betul-betul cari, tempat-tempat biasa siswa tempati merokok itu kita datang di sana cari Jadi orang tuanya kita panggil dan adakan komunikasi langsung dengan guru BK, supaya kita tau punya anak bagaimana kendalanya anakta di sekolah sekali-kali kita suruh orang tuanya datang ke sekolah liatki itu anakta. (Drs. Isl/14/09/2020)
Guru BK melakukan penanganan dengan mencari tempat yang biasa siswa tempati untuk merokok, pengawasan ini cukup sulit karena ketika siswa melihat guru BK dari jauh, siswa tersebut lari karena takut akan dihukum dan diberi sanksi karena telah melanggar peraturan berlaku di sekolah.
Dilihat dari pandangan islam mengenai perilaku merokok siswa di sekolah, berikut deskripsi hasil wawancara dengan guru Pendidikan agama islam
“Pandangan Islam tentang merokok dilihat hukumnya sudah jelas bahwa merokok jauh lebih berbahaya dan mempunyai banyak kerugian dari pada keuntungannya, begitu juga tinjauan medis”. (Isk/28/11/2020)
Pandangan islam mengenai perilaku merokok ditinjau dari hukumnya bahwasanya jauh lebih berbahaya dan mengalami banyak kerugian karena selain kerugian dari faktor perekonomian begitupun akan berdampak pada kesehatan.
Rokok bagi yang menyukainya menyimpan sifat candu dan sifat candu itu dapat ditangani jika seorang perokok ingin meninggalkannya tentunya dengan niat sungguh-sungguh untuk meninggalkannya.
Peraturan dan tata tertib sekolah untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada siswa dan tata tertib menujuk pada patokan atau standar yang haru dipenuhi oleh siswa. Perilaku merokok di lingkungan sekolah sebagai tindakan pelanggaran tata tertib sepantasnya mendapat sanksi bagi siswa yang melakukannya.
Merokok memiliki kecenderungan melakukan tindakan yang bersifat tidak baik seperti kurang menghargai guru, teman dan orang-orang yang lebih tua.
Ditinjau dari pelanggaran tata tertib di sekolah dapat diketahui dari hasil wawancara dengan siswa yaitu sebagai berikut :
“Berdasarkan segala kewajiban tentang kawasan tanpa rokok di sekolah baik kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta peserta didik jelas dilarang merokok di lingkungan sekolah. Kepala sekolah wajib menegur atau mengambil tindakan terhadap mereka yang melanggar aturan tersebut sebagai sanksi/hukuman bagi yang melanggar”. (Sar 28/11/2020)
Perilaku merokok siswa tersebut termasuk dalam pelanggaran ringan, tetapi ketika di lakukan secara berulang-ulang akan berakibat fatal bagi siswa yang memang melakukan pelanggaran dan tidak peduli apa yang menjadi peraturan sekolah.
Lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang bersih dan bebas asap rokok, dan bagi siswa yang melanggar aturan tersebut wajib dikenakaan sanksi atau hukuman yang telah berlaku.
Selanjutnya, saya mewancarai siswa lewat sosial media khususnya di whatsapp karena sekolah masih tutup dan belum ada aktivitas di sekolah dikarenakan covid-19. Berikut hasil wawancara siswa yang terlibat langsung dalam perilaku merokok tersebut terkait konsekuensi dalam melanggar tata tertib sekolah sebagai :
“Apabila melakukan pelanggaran tersebut konsekuensi atau sanksi yang diberikan dalah akan diurus di dalam BK, di suruh membersihkan WC dan akan diberikan hukuman yaitu tidak belajar di kelas selama dua minggu bahkan orang tua akan dipanggil”. (Rs/23/09/2020)
Lingkungan sekolah termasuk dalam kawasan tanpa rokok, dengan demikian lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan sekolah yang bersih dan bebas asap rokok. Hal ini di dukung dari lingkungan sekitar sekolah yang tidak mengizikan atau tidak menyediakan kantin, warung ataupun toko yang menjual rokok. Hal ini di
dukung dari lingkungan sekitar sekolah yang tidak mengizikan atau tidak menyediakan kantin, warung ataupun toko yang menjual rokok dan ketika ada siswa yang kedapatan merokok di area sekolah maka diberikan hukuman atau sanksi yang diharapkan dapat menimbulkn efek jera sehingga tidak mengulangi pelanggaran untuk kedua kalinya
Pelanggaran tata tertib perilaku merokok faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perilaku merokok di lingkungan sekolah yaitu
a. Pembinaan orang tua
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK terkait perilaku merokok siswa yang terjadi di lingkungan sekolah sebagai berikut:
“Itu tergantung dari pembinaan orang tua, karena orang tua itu kadang-kadang kedisiplinan anak terhadap orang tua itu yang kurang jadi sekarang itu kita guru BK kadang kala salah pengertian terhadap oramg tua. Nah sekarang ini yang menjadi masalah siswa itu kadang kala memang ada orang tua yang mengizinkan anaknya untuk merokok karena cenderung orang tua takut dengan anaknya. (Drs. Isl 14/09/2020)
Pembinaan orang tua sangat berpengaruh bagi masa depan anaknya, orang tua harus mampu mengembangkan sikap kepedulian, kompak, serta saling memahami peran dan kedudukannya masing-masing di keluarga dalam membentuk perwatakan dan sikap anaknya sehingga sudah sepantasnya jika orangtua mampu memberi teladan bagi anak-anaknya untuk mengontrol perilaku-perilaku yang tidak diinginkan.
Hal serupa diungkapkan oleh guru Pendidikan agama islam, berikut deskripsi hasil wawancara
“Menurut saya ada beberapa faktor: 1) Pengaruh lingkungan biasa. 2) Kurangnya pembinaan dan kontrol orang tua. 3) tidak ada kesadaran di kalangan siswa”. (Isk 28/11/2020).
Ada tiga faktor yang diungkap oleh guru Pendidikan agama islam diantaranya: 1) pengaruh lingkungan, yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu. 2. Kurangnya pembinaan dan kontrol orang tua kepada anaknya. 3) tidak adanya kesadaran siswa mengenai aturan dan konsekuensi ketika melakukan pelanggaran.
Adapun faktor utama yang mendorong perilaku merokok, berdasarkan hasil wawancara dengan siswa, dapat diketahui dari hasil wawancara dengan siswa tersebut sebagai berikut :
“Menurut saya ada tiga faktor : 1) Ingin tampil gaul di depan orang dan di anggap dewasa. 2) Persepsi bahwa merokok dapat menghilangkan stress. 3) ingin mengetahui bagaimana rasanya”. (Fa/15/09/2020)
Dari hasil wawancara siswa yang perilaku merokok di sekolah itu menurutnya ada 3 faktor yang mempengaruhinya: 1) ingin tampil di depan orang dan di anggap dewasa, anggapan ini siswa tersebut ingin menampilkan dirinya di depan orang lain/teman pergaulannya bahwasanya dengan merokok dirinya bisa di anggap dewasa. Namun sikap dan perilaku yang lebih dewasa mengarah kepada kenakalan.
Kedewasaan dalam konteks disini adalah kedewasaan menurut ukurannya, yang ternyata masih samar-samar. Mereka merasa mendapat kebebasan dalam melakukan suatu hal tanpa terikat oleh aturan. 2) Pesepsi bahwa merokok dapat menghilangkan stress. Stres adalah seorang reaksi seseorang baik secara fisik maupun emosional (mental/psikis) apabila ada perubahan dari lingkungan yang mengharuskan seseorang
menyesuaikan diri, dari sini dapat kita lihat bahwa cara siswa menghilangkan stress itu dengan melakukan suatu perilaku merokok meskipun ada aturan yang mengikatnya. 3) ingin mengetahui bagaimana rasanya, timbulnya rasa penasaran dalam diri siswa dia tidak peduli dengan konsekuensi yang akan diterima yang penting sudah mencoba rokok dan menghilangkan rasa penasarannya, sehingga siswa
menyesuaikan diri, dari sini dapat kita lihat bahwa cara siswa menghilangkan stress itu dengan melakukan suatu perilaku merokok meskipun ada aturan yang mengikatnya. 3) ingin mengetahui bagaimana rasanya, timbulnya rasa penasaran dalam diri siswa dia tidak peduli dengan konsekuensi yang akan diterima yang penting sudah mencoba rokok dan menghilangkan rasa penasarannya, sehingga siswa