BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3 Pembahasan
Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan pada larva Aedes aegypti instar III/IV yang diberi perlakuan dengan ekstrak biji bintaro (Cerbera manghas) dalam berbagai konsentrasi terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV yang tidak diberi perlakuan. Pada penelitian ini menggunakan ekstrak biji bintaro dengan metode maserasi dan menggunakan pelarut etanol. Pemilihan bagian biji dari tanaman bintaro karena ekstrak biji bintaro memiliki toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan daging buah dan daun serta mengandung senyawa cerberin sehingga efek mortalitasnya lebih tinggi.15 Etanol ini dipilih sebagai pelarut karena sifat toksik yang dimilikinya lebih rendah dibandingkan pelarut yang lain seperti eter dan metanol40,41. Presentase etanol yang digunakan adalah etanol 96%. Etanol 96% merupakan pelarut yang dapat melarutkan kedua senyawa yaitu senyawa polar dan non polar42,43. Hal ini menyebabkan komponen senyawa polar maupun nonpolar yang terdapat pada biji bintaro dapat terlarut dalam hasil ekstraksi. Ekstraksi ini dilakukan agar mendapatkan senyawa cerberin dan senyawa lain yang bersifat larvasida yang terkandung dalam biji bintaro dan dianggap memiliki efek larvasida sehingga dapat menyebabkan kematian pada larva Aedes aegypti.
Pada penelitian ini, proses pemilihan larva sesuai instar III atau IV sangat penting karena larva berperan sebagai sampel atau subjek dalam penelitian ini. Selain itu, larva juga dikembangkan dalam rumah dengan suhu optimum larva dapat hidup yaitu 25 oC -35oC.43 Hal ini dimaksudkan agar dalam pengaplikasian larvasida ini dapat dilakukan di alam secara langsung.
Berdasarkan pada tabel 4.1 pada uji eksplorasi menunjukkan bahwa konsentrasi 1,25% mempengaruhi jumlah kematian larva mencapai 60%. Pada konsentrasi 1% mempengaruhi jumlah kematian larva hanya 59% dan pada dua pengulangan atau replikasi jumlah kematian larva presentasenya dibawah 50%. Dari data ini dapat dihitung nilai LC50 dengan program
35
Pada uji utama menggunakan konsentrasi ekstrak biji bintaro 0,69%, 0,99%, 1,29%, 15,9%, dan 18,9% dengan harapan dapat mencapai kisaran dosis LC50 yang tepat. Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa presentase
jumlah rata-rata kematian larva setelah 48 jam dari pemberian perlakuan adalah 0% pada kontrol negatif, 58,4% pada konsentrasi 0,69%, 68,4% pada konsentrasi ekstrak 0,99%, 75,2% pada konsentrasi ekstrak 1,29%, 90,4% pada konsentrasi ekstrak 1,59%, dan 99,2% pada konsentrasi ekstral 1,89%. Dapat dilihat juga bahwa pada kelompok kontrol tidak ditemukan kematian larva, sedangkan pada kelompok perlakuan terjadi kematian larva yang membuktikan efek larvasida oleh ekstrak biji bintaro. Pada gambar 4.1 terlihat pengaruh jumlah mortalitas larva pada berbagai konsentrasi. Disini terlihat bahwa penambahan konsentrasi ekstrak biji bintaro menyebabkan peningkatan mortalitas larva. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak, maka jumlah mortalitas larva juga semakin meningkat. Kejadian ini disebabkan karena masuknya senyawa toksik ke dalam tubuh larva dan merusak sistem tubuh fisiologis larva serta menghambat pertumbuhan larva.6,45,46
Berdasarkan hasil statistik pada program SPSS Statistic 17.0 dengan menggunakan uji One Way ANOVA pada tabel 4.5 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap 6 kelompok perlakuan. Selanjutnya pada uji LSD didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara dua kelompok perlakuan (p < 0,000) kecuali antara kelompok 3 dengan kelompok 2 dan 4, antara kelompok 4 dengan kelompok 3 dan 5, dan antara kelompok 5 dan 6 yang perbedaannya tidak signifikan karena p > 0,05.
Kematian larva uji digunakan untuk menentukan keefektifitasan dari larvasida jika dapat memenuhi mortalitas larva uji hingga mencapai 90-100%.47,48 Berdasarkan WHO konsentrasi dari larvasida dapat dikatakan efektif jika mencapai presentase mortalitas larva uji sebesar 10-95% yang selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai lethal concentration (LC).47,49 Pada pencarian nilai LC50 dan LC99 dengan menggunakan analisis probit,
ekstrak biji bintaro memiliki LC50 sebesar 1,339% dengan interval 1,015%
2,093% sampai 3,763%. Jika dikonversi dalam satuan ppm (part per million) LC50 senilai 1.339 ppm dan LC99 senilai 2.424 ppm. Berdasarkan hasil ini
maka ekstrak biji bintaro dapat mematikan 50% larva Aedes aegypti pada konsentrasi 1,339% (1.339 ppm) dan 99% larva dengan konsentrasi 2,424% (2.224 ppm).
Aktivitas larvasida pada biji bintaro kemungkinan besar disebabkan adanya berbagai senyawa aktif atau kandungan kimia yang terkandung didalamnya. Beberapa senyawa aktif tersebut diantaranya adalah alkaloid, tanin, saponin, cerberin, steroid, dan flavonoid. Kandungan cerberin bersifat kardioksitas karena dapat menggangu aktivitas jantung pada sitem sirkulasi larva dengan cara menghambat saluran ion kalsium di otot jantung sehingga dapat menyebabkan kematian larva.18 Efek lain dari cerberin ini dapat menyebabkan anoreksia pada larva.6 Berdasarkan dua mekanisme tersebut ekstrak biji bintaro dapat menyebabkan kematian pada larva Aedes aegypti.
Kandungan lainnya adalah saponin yang dapat meningkatkan permeabilitas tubuh larva akibat rusaknya membran sel sehingga banyak toksin dapat masuk ke tubuh larva. Selain itu juga, saponin memiliki sifat sebagai inhibitorik dari enzim asetilkolinesterase sehingga menyebabkan kejang otot dan paralisis. 6,50 Aktivitas enzim pencernaan dan proses absorbsi juga mengalami penurunan akibat efek saponin sehingga larva mengalami anoreksia.22 Kutikula pada tubuh larva dapat rusak akibat efek dari saponin yang menyebabkan hilangnya cairan tubuh larva.24 Perubahan-perubahan ini dapat menyebabkan kematian pada larva.
Senyawa lain yang dapat mengakibatkan kematian adalah steroid dan tanin. Steroid ini dapat menghambat proses pergantian kulit atau moulting
pada larva karena strukturnya mirip dengan hormon yang berperan dalam proses moulting. Tanin juga mempengaruhi penurunan aktivitas pengikatan protain dan penyerapan makanan di saluran cerna.6 Berdasarkan mekanisme ini perkembangan dari instar III menjadi IV atau menjadi pupa dapat terhambat.
37
4.3.1 Keterbatasan Penelitian
1. Adanya keterbatasan pengontrolan rearing larva maka penelitian ini tidak dilakukan di laboratorium, sehingga protokol yang dilakukan masih belum sempurna.
2. Fase penelitian ini masuk dalam fase II dan sebaiknya terlebih dahulu di uji di laboratorium (fase I) sebelum dilakuakan penelitian di lingkungan bebas.
38 BAB 5