BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
Berdasarkan penelitian pada karyawati di kantor Dinas Provinsi Sumatera Utara dalam melakukan SADARI yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah karyawati sebanyak 113 orang dengan rentang umur yang berbeda yaitu dari umur 20 tahun sampai 50 tahun keatas. Dari hasil penelitian dari karakteristik usia responden didapati usia keseluruhan responden mencapai 21–53 tahun. Jumlah responden paling banyak berada pada kelompok usia 40 – 50 tahun yaitu sebanyak 54 orang sebesar 47.8%. Sedangkan jumlah yang paling sedikit terdapat pada kelompok usia >50 tahun yaitu sebanyak 14 orang sebesar 12.8%.
Berdasarkan karakteristik pendidikan pada karyawati kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera utara, dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa proporsi terbesar wanita yang mempunyai pendidikan S1 yaitu sebesar 64.6% yaitu sebanyak 73 orang karyawati dan yang paling sedikit berada pada pendidikan S2 yaitu sebesar 3.5% yaitu sebanyak 4 orang. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan yang dominan di Kantor Dinas Provinsi Sumatera Utara adalah pendidikan S1.
5.2.1 Gambaran Pengetahuan karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara.
Berdasarkan karakteristik distribusi gambaran pengetahuan yang diteliti dari 113 karyawati kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara dari mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara, diperoleh bahwa proporsi terbesar wanita yang mempunyai pengetahuan baik dari 113 orang adalah sebesar 38.1% yaitu sebanyak 43 orang. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Martyani (2008) yaitu sebagian besar responden yang memiliki pengetahuan baik terdapat pada kelompok usia 24-30 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya informasi yang didapat responden mengenai tujuan SADARI. Responden hanya mengerti istilah SADARI saja tanpa disertai pengertian dan manfaat dari SADARI.
Hasil peneltian ditemukan bahwa pengetahuan karyawati yang kurang tentang istilah pemeriksaan payudara sendiri dan SADARI sebesar 43,4% termasuk kategori baik karena persentase kebenaran karyawati sebesar 56.6%. Istilah tentang SADARI sudah tersampaikan dengan baik kepada masyarakat, khususnya karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.
Salah satu yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah ketersediaan fasilitas sebagai sumber informasi (Notoatmodjo, 2003). Seperti yang kita ketahui, informasi tentang SADARI ini sudah banyak dipublikasikan di berbagai media, seperti media cetak (buku, tabloid, koran, majalah) dan media elektronik (televisi, radio, internet). Oleh karena itu, keterbatasan media informasi tidak dapat dijadikan alasan mengapa informasi mengenai SADARI kurang menyebar dimasyarakat. Menurut pendapat peneliti, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai SADARI lebih disebabkan oleh kurangnya ketertarikan masyarakat untuk mencari informasi mengenai SADARI. Tetapi, dari hasil data yang telah diteliti kepada seluruh responden telah mengetahui SADARI melalui sumber – sumber yang disebutkan diatas.
Penyuluhan kesehatan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sudah pernah dilakukan akan tetapi masih kurang di galakkan. Sesuai dengan faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003), pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain dapat memperluas pengetahuan orang lain. Sebagian responden yang mengetahuai istilah SADARI mengaku disebabkan oleh faktor masalah kesehatan payudara, sedangkan sebagian lainnya memiliki keluarga atau tetangga yang pernah menderita kanker payudara.
Seluruh responden yang mengetahui istilah SADARI hanya mengetahui perabaan sebagai langkah awal pemeriksaan SADARI dan adanya benjolan sebagai interpretasi yang mungkin di temukan saat pemeriksaan payudara sendiri. Padahal, pemeriksaan payudara sendiri ada tiga yaitu melihat, meraba dan memijat payudara. Kelainan yang mungkin ditemukan adalah ukuran dan bentuk payudara yang tidak simetris, perubahan arah puting, perlukaan pada kulit atau puting, perubahan warna kulit payudara, permukaan kulit yang tidak mulus dan keluarnya cairan yang tidak normal dari puting susu (Rumah Kanker, 2008).Maka dari itu dapat dilihat dari hasil bahwa para karyawati telah mengetahui istilah SADARI tetapi tidak mendapatkan informasi dengan lengkap semua tahapan pada SADARI ataupun dikarenakan ketidaktertarikan karyawati terhadap SADARI.
5.2.2. Sikap karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara. Hasil penelitian mengenai sikap karyawati mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagian besar karyawati memiliki sikap sedang sebanyak 74 orang atau 65.5% dan sebagian kecil mempunyai sikap kurang sebanyak 4 atau 3.5%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andayani (1998). Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki sikap baik berarti telah meyakini karena memiliki pengalaman dalam mengetahui informasi kesehatan khususnya kanker payudara ataupun telah sering mendapat informasi yang didapat dari orang yang berada dilingkungannya mengenai bahaya dari
kanker payudara.Sedangkan para karyawati yang memiliki sikap sedang disebabkan karena belum meyakini dan karena kurang mendapat informasi secara lengkap mengenai SADARI, sehingga rasa kepercayaan akan manfaat SADARI tidak ada.
Sikap sedang karyawati sejalan dengan pengetahuan karyawati yang memiliki hasil sedang juga. Sikap baik dan cukup dapat dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang dialami individu terhadap sesuatu hal dan sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman individu sepanjang perkembangan selama hidupnya. Sikap tidak lepas dari pengaruh interaksi manusia satu dengan yang lain.
Menurut Sunaryo (2004) sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu, berupa respons tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu.Secara nyata sikap menunjukkan adanya keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Menurut Azwar Syaefuddin (1995) bahwa sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap dan ketiganya saling menunjang yaitu : komponen kognitif (berisi kepercayaan individu), Komponen afektif (berisi dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatf (rasa tidak senang) dan komponen konatif (disebut juga komponen perilaku) yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya.
5.2.3. Tindakan karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara Tidak semua responden melakukan SADARI secara teratur setelah mengetahui betapa pentingnya pemeriksaan ini. Sebagian responden menganggap bahwa pemeriksaan payudara sendiri merupakan hal yang tabu untuk dilakukan, sedangkan sebagian lainnya menganggap bahwa pemeriksaan payudara sendiri ini seharusnya dilakukan oleh orang yang “kelihatannya sehat” atau orang yang
sebagian besar karyawati adalah meraba payudara pada pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan pada posisi duduk ataupun berdiri. Tanggapan ini sangat tidak sesuai, karena meraba payudara pada pemeriksaan payudara sendiri baru akan efektif apabila dilakukan pada posisi tidur terlentang. Alasan yang mendasari pertanyaan ini adalah karena dalam posisi tidur jaringan payudara akan tersebar pada lapisan dinding dada sehingga mudah untuk diraba dan apabila ada perubahan maka akan lebih terasa. Berbeda dengan memeriksa payudara pada keadaan posis berdiri atau duduk. Dalam kedua posisi tersebut, terdapat kemungkinan tidak terabanya benjolan yang masih berukuran kurang dari 2 cm, sehingga usaha untuk mendeteksi payudara sendiri mungkin sedikit terlambat.
Dari hasil penelitian ini responden yang melakukan SADARI secara teratur ( Tabel 5.5. diperoleh sebagian besar karyawati memiliki tindakan kurang sebanyak 77 orang (68.1%) dalam melakukan SADARI secara teratur dan sebagian kecil memiliki tindakan baik sebanyak 8 orang (7.1%). Hal ini sesuai dengan dalam hasil penelitian (Serniatika, 2005) yang menyatakan bahwa hasil tindakan mengenai SADARI dalam katetori kurang. Hal ini mungkin dapat dihubungkan dengan sumber responden dalam mempelajari cara melakukan SADARI. Sedangkan bagi karyawati yang memiliki tindakan baik telah menilai dan meyakini bahwa melakukan SADARI atau pemeriksaan payudara secara dini adalah baik untuk kewaspadaan mereka untuk menjaga kesehatan payudara karena didapat dari pengalaman sendiri dari interaksi dengan orang lain.
Sedang karyawati yang memiliki tindakan kurang berarti belum menilai dan meyakini melakukan adalah hal yang baik SADARI sehingga tidak dapat di aplikasikan terhadap diri sendiri ka dan juga kurangya interaksi dengan orang lain mengenai bahaya kanker dan manfaatnya SADARI.
Menurut Notoatmodjo (2003), tindakan atau praktek dilaksanakan setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kemudian mengadakan penilaian terhadap apa yang diketahui. Dengan kata lain tindakan atau praktek dilaksanakan karena dinilai baik dan diyakini.