• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU KARYAWATI DI KANTOR DINAS PENDIDIKAN SUMATERA UTARA MENGENAI METODE SADARI

SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

KARYA TULIS ILMIAH OLEH:

NISA HANESTY HARAHAP 070100209

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERILAKU KARYAWATI DI KANTOR DINAS PENDIDIKAN SUMATERA UTARA MENGENAI METODE SADARI

SEBAGAI DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

Karya Tulis ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk kelulusan Sarjana Kedokteran

OLEH:

NISA HANESTY HARAHAP 070100209

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2010

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara

Nama : Nisa Hanesty Harahap

Nim : 070100209

Pembimbing Penguji I

(dr. Nuraiza Meutia, M. Biomed) (dr. Rina Amelia, MARS)

NIP : 197309112001022001 NIP : 197604202003122002

Penguji II

(dr. Hemma Yulfi, DAP&M.Med, ed)

NIP: 132292965

Medan, 30 November 2010 Dekan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(4)

Sampai saat ini, kanker masih merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat diseluruh negara, terutama di negara yang sedang berkembang. Salah satu jenis kanker yang mengkhawartikan wanita adalah kanker payudara karena insiden kanker payudara sangat tinggi di Indonesia. Dari data yang didapatkan dari Departemen Kesehatan RI tahun 2008 dinyatakan estimasi insiden kanker payudara di Indonesia mencapai 26 per 100.000 wanita. Disamping itu, penemuan dini kanker payudara sudah dapat dilakukan dengan metode SADARI dengan benar.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku wanita khususnya karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara,yaitu terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai deteksi dini kanker payudara atau SADARI.

Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 113 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analiss data dengan menggunakan SPSS 17,0.

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa pengetahuan karyawati tentang SADARI berada dalam kategori baik yaitu sebesar 38.1%, sedangkan sikap karyawati mengenai SADARI dalam kategori sedang yaitu sebesar 65.5% dan tindakan karyawati mengenai SADARI pada kategori kurang yaitu sebesar 68.1%. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan karyawati tentang SADARI baik dengan sikap yang sedang dan tindakan yang kurang. Diharapkan kepada dinas kesehatan untuk memberi penyuluhan mengenai kanker payudara dan pentingnya melakukan SADARI untuk menemukan kanker payudara sejak dini sehingga penderita cepat mendapatkan pengobatan.

(5)

ABSTRACT

Nowadays, cancer is still a threat for community health in all countries, especially in developing countries. A type of cancer that always been a major concern among women due to high incidence of breast cancer in Indonesia. Based on Health department’s document of republic Indonesia in 2008, the incidence estimated of breast cancer in Indonesia is 26 women from 100,000 population. On the other hand, Breast Self Examination (BSE) can be applied as early detection of breast cancer.

The aim of this study was to apprehend the women’s behavior especially female employee’s in the office of the Provincial Education Department of North Sumatera, which is composed of knowledge, attitude, and action about BSE as early detection of breast cancer.

This study was conducted in descriptive observational manner with cross sectional approach. The sampling technique was total sampling. Data were collected by utilizing questionnaire and analyzed by using SPSS 17.0.

As the result, 38.1% achieved in this study was found that female employee’s had being good of knowledge about BSE. While 65.5% employee’s attitudes category had medium attitudes about BSE and employees actions regarding BSE is mostly poor with 68.1%. The result of this study indicated that employee’s knowledge of BSE was in good category, with medium category of attitude’s and mostly poor category of actions it is expected that health care providers to give counseling about breast cancer and the importance of doing breast self exam to find breast cancer early so that patients get faster treatment.

Key words: knowledge, attitude, action, Breast Self Examination (BSE)

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Karya tulis ilmiah ini berjudul “Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara Mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu dr. Nurazia Meutia M, Biomed, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan masukan kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

3. Kepada Selaku penguji I dr. Rina Amelia, MARS dan penguji II dr.

Hemma Yulfi, DAP&M. Med,ed yang telah memberikan ide dan saran sehingga karya tulis ini dapat lebih baik.

4. Bapak Eduard Sinaga, SH, M. PD, selaku Pembina Tingkat I yang telah memberikan saya izin untuk melakukan penelitian di kantor Dinas Provinsi Sumatera Utara.

5. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

(7)

dukungan yang tak putus-putusnya sebagai bentuk kasih sayang kepada saya.

7. Seluruh karyawati kantor Dinas Provinsi Sumatera Utara yang telah meluangkan waktu untuk menjawab kuesioner pada penelitian ini. 8. Kepada Doni, Fahmy, Rinal, Rabithah yang telah membantu dalam

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dan kepada seluruh teman-teman Stambuk 2007 yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungan dan bantuannya.

9. Kepada teman satu kelompok karya tulis ilmiah Adelia dan Erik atas kerjasamanya dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.

Medan, 30 November 2010

Penulis,

Nisa Hanesty

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN... 1

1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Rumusan Masalah... 2

1.3.Tujuan Penelitian ... 2

1.4.Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1.Perilaku ... 4

2.2.Pengetahuan ... 4

2.3.Sikap... 5

2.4.Tindakan ... 6

2.5.Kanker Payudara ... 7

2.5.1. Defenisi Kanker Payudara ... 7

2.5.2. Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Payudara... 8

2.5.3. Gejala Klinis ... 9

2.5.4. Diagnosis ... 10

2.5.5. Klasifikasi Kanker Payudara ... 11

2.5.6. Prognosis ... 13

(9)

2.6.1.Defenisi Deteksi Dini ... 14

2.6.2. Tujuan Deteksi Dini ... 15

2.7. SADARI sebagai Salah Satu Cara Untuk Mendeteksi Dini Kanker Payudara ... 15

2.7.1. Defenisi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) ... 15

2.7.2. Langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) ... 16

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 20

3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 20

3.2. Definisi Operasional ... 20

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 22

4.1. Rancangan Penelitian ... 22

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 22

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 22

4.4. Metode dan Pengumpulan Data ... 23

4.5. Metode Analisis Data ... 23

4.6. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 23

4.7. Pengolahan dan Analisa Data ... 24

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 27

5.1. Hasil Pembahasan ... 28

5.2. Pembahasan ... 33

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

6.1. Kesimpulan... 38

6.2. Saran ... 38

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 2.1 Klasifikasi Ukuran Tumor Payudara berdasarkan TNM system ... 11

Tabel 2.2 Klasifikasi kelenjar limfe regional Berdasarkan TNM System ... 12 Tabel 2.3 Klasifikasi Metastase Berdasarkan TNM System. ... 13

Tabel 2.4 Stadium Kanker Payudara berdasarkan TNM Kanker Payudara .... 13

Tabel 2.5 Five-Year Survival Rate Pasien Kanker Payudara ... 14

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia…. 27

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karekteristik Responden Berdasarkan………... 28

Pendidikan

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Karekteristik Responden Berdasarkan……….. 28

Pengetahuan

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Variabel….. 29 Pengetahuan

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Karekteristik Responden Berdasarkan Sikap… 30

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Sikap……… 30

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karekteristik Responden BerdasarkanTindakan 31

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Tindakan… 32

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman Gambar 2.1 Cara Melakukan SADARI dengan Melihat Payudara ... 16

Gambar 2.2 Cara Melakukan SADARI dengan Memijat Payudara ... 17

Gambar 2.3 Cara Melakukan SADARI dengan Meraba Payudara dalam Posisi Berbaring ... 18

Gambar 2.4 Cara Melakukan SADARI dengan Meraba Payudara ... 19

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Perilaku karyawati Tentang Metode SADARI 20

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2 Informed Consent Lampiran 3 Kuesioner

Lampiran 4 Surat Izin Penelitian

Lampiran 5 Surat Health Research Ethical Committee Lampiran 6 Data Induk

Lampiran 7 Hasil Uji Variabel

(13)

Sampai saat ini, kanker masih merupakan ancaman bagi kesehatan masyarakat diseluruh negara, terutama di negara yang sedang berkembang. Salah satu jenis kanker yang mengkhawartikan wanita adalah kanker payudara karena insiden kanker payudara sangat tinggi di Indonesia. Dari data yang didapatkan dari Departemen Kesehatan RI tahun 2008 dinyatakan estimasi insiden kanker payudara di Indonesia mencapai 26 per 100.000 wanita. Disamping itu, penemuan dini kanker payudara sudah dapat dilakukan dengan metode SADARI dengan benar.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku wanita khususnya karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara,yaitu terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai deteksi dini kanker payudara atau SADARI.

Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 113 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analiss data dengan menggunakan SPSS 17,0.

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa pengetahuan karyawati tentang SADARI berada dalam kategori baik yaitu sebesar 38.1%, sedangkan sikap karyawati mengenai SADARI dalam kategori sedang yaitu sebesar 65.5% dan tindakan karyawati mengenai SADARI pada kategori kurang yaitu sebesar 68.1%. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan karyawati tentang SADARI baik dengan sikap yang sedang dan tindakan yang kurang. Diharapkan kepada dinas kesehatan untuk memberi penyuluhan mengenai kanker payudara dan pentingnya melakukan SADARI untuk menemukan kanker payudara sejak dini sehingga penderita cepat mendapatkan pengobatan.

(14)

ABSTRACT

Nowadays, cancer is still a threat for community health in all countries, especially in developing countries. A type of cancer that always been a major concern among women due to high incidence of breast cancer in Indonesia. Based on Health department’s document of republic Indonesia in 2008, the incidence estimated of breast cancer in Indonesia is 26 women from 100,000 population. On the other hand, Breast Self Examination (BSE) can be applied as early detection of breast cancer.

The aim of this study was to apprehend the women’s behavior especially female employee’s in the office of the Provincial Education Department of North Sumatera, which is composed of knowledge, attitude, and action about BSE as early detection of breast cancer.

This study was conducted in descriptive observational manner with cross sectional approach. The sampling technique was total sampling. Data were collected by utilizing questionnaire and analyzed by using SPSS 17.0.

As the result, 38.1% achieved in this study was found that female employee’s had being good of knowledge about BSE. While 65.5% employee’s attitudes category had medium attitudes about BSE and employees actions regarding BSE is mostly poor with 68.1%. The result of this study indicated that employee’s knowledge of BSE was in good category, with medium category of attitude’s and mostly poor category of actions it is expected that health care providers to give counseling about breast cancer and the importance of doing breast self exam to find breast cancer early so that patients get faster treatment.

Key words: knowledge, attitude, action, Breast Self Examination (BSE)

(15)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di Amerika, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua dan pada tahun 2003 diperkirakan ada sebanyak 1.334.100 kasus dengan angka kematian sebanyak 556.500 orang. Sedangkan di Eropa terdapat juga kasus kanker baru dengan angka kematian sebesar dua juta tiap tahunnya (Dinkes Bone, 2007).

Walaupun insiden kanker payudara meningkat di beberapa negara maju, angka kematian secara menyeluruh mengalami penurunan diakibatkan karena peningkatan efektivitas screening dan terapinya (Ferlay, J. et al, 2001)

Menurut data Globocan, IARC, (2002) didapatkan estimasi insiden kanker

payudara di Indonesia sebesar 26/100.000 perempuan (Depkes RI, 2008). Disamping itu, menurut data phatological base registration mencatat bahwa kanker payudara di Indonesia menduduki tempat kedua (15,8%) dari sepuluh kanker terbanyak setelah kanker mulut rahim ditempat pertama. Diperkirakan pula insiden kanker payudara ini meningkat dimasa yang akan datang (Ramli, 2005).

Menurut American Cancer Society angka kematian kanker payudara telah menurun sejak tahun 1990. Hal ini diakibatkan oleh karena deteksi dini yang baik pada stadium dini dan terapi yang lebih baik tiap tahunnya dengan usaha mengikutsertakan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan (health education). Apabila kanker ditemukan dalam stadium dini dan mendapat terapi yang tepat dan adekuat maka bukan tidak mungkin kanker payudara itu tidak dapat disembuhkan (Ferlay, J. et al, 2001).

Kemajuan-kemajuan dalam penemuan dini yang dilengkapi dengan kemajuan terapi, baik tekhnik operasi, radiasi, hormonal terapi dan khemoterapi, serta imunoterapi ataupun pelaksanaan kombinasi terapi dan modalitas terapi diatas yang didasarkan pada ketepatan staging dan pengenalan sifat-sifat biologis

(16)

Pendeteksian dini sangat perlu dilakukan untuk menurunkan mortalitas kanker payudara. Untuk itu, agar kanker tersebut dapat dideteksi lebih awal, satu-satunya cara untuk mendeteksi deteksi dini kanker payudara, yang murah namun praktis dan akurat adalah pemerikSAan PayuDAra SendiRI ( SADARI ) Soebroto dkk (2001).

Kurang lebih 85% tumor ditemukan oleh penderitanya sendiri secara tidak sengaja dan akan sangat besar nantinya bila SADARI di informasikan secara rutin terhadap kaum wanita sehingga akan banyak dijaring kasus kanker secara dini Widiyanto (1999).

Dari hasil penelitian saya mengenai SADARI pada karyawati di kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara memiliki pengetahuan yang baik sedangkan sikap karyawati sedang dan tindakan kurang. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan yang baik tidak sepenuhnya mempengaruhi sikap dan

tindakan, namun lebih dipengaruhi oleh keyakinan dan kepercayaan mereka terhadap paparan informasi yang diperolehnya.

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah : Bagaimana gambaran Perilaku para karyawati mengenai SADARI di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

1.2. Tujuan Penelitian 1.2.1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku para karyawati mengenai SADARI di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

1.3.2 Tujuan Khusus

Untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan karyawati di

(17)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari dilakukannya penelitian ini adalah:

1. Untuk peneliti sebagai pengalaman dalam melakukan penelitian sekaligus mengimplementasikan pelajaran metodologi penelitian dalam penelitian yang sebenarnya.

2. Memperoleh gambaran perilaku para karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara tentang SADARI.

(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perilaku

Perilaku sebagai suatu aksi reaksi organisme terhadap lingkungannya, perilaku terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi yang disebut rangsangan dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Notoadmodjo, 2003).

Proses pembentukan atau perubahan perilaku dipengaruhi beberapa faktor

yang berasal dari dalam diri dan luar. Faktor internal mencakup pengetahuan, kecerdasan, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar. Sedangkan eksternal meliputi lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik seperti iklim, manusia ekonomi, sosial, keluarga, budaya dan

lain-lain.

2.1.1. Bentuk Perilaku

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikansuatu respon organisme atau seseorang terhadap suatu rangsangan dari luar subjek tersebut. Respon tersebut ada 2 macam yaitu:

a. Bentuk Pasif

Yaitu respon internal yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat dilihat orang lain misalnya berfikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan. Oleh karena itu perilaku mereka masih terselubung.

b. Bentuk Aktif

Yaitu apabila perilaku jelas dan diobservasi secara rangsang. Oleh karena perilaku-perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata.

2.2. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang

(19)

Pengetahuan mempunyai enam tingkatan, yaitu: a. Tahu

Tahu adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat mengingat sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b. Paham

Paham diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang mampu menjelaskan dengan benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya.

d. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu objek ke dalam komponen-komponen yang masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain, misalnya mengelompokkan dan membedakan.

e. Sintesis

Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi

Evaluasi adalah suatu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.3. Sikap

Merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak langsung dilihat akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang tertutup.

Menurut Allport (1954) seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), sikap

(20)

b. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu konsep c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, antara lain : a. Menerima (receiving)

Mau dan memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan. b. Merespon (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain mengerjakan atau mendiskusikan masalah. d. Bertanggung jawab (responsible)

Mempunyai tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan dapat juga tidak. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pertanyaan respon terhadap suatu objek. Orang lain berperilaku bertentangan dengan sikapnya, dan bisa juga merubah sikapnya sesudah yang bersangkutan merubah tindakannya. Namun secara tidak mutlak dapat dikatakan bahwa perubahan sikap merupakan loncatan untuk terjadinya perubahan perilaku.

2.4. Tindakan

Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt

behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan

faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tindakan dibedakan atas beberapa tingkatan :

a. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (guided response)

(21)

c. Mekanisme (mechanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

d. Adopsi (adoption)

Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik

2.5. Kanker Payudara

2.5.1. Defenisi Kanker Payudara

Kanker merupakan penyakit sel - sel tubuh. Tubuh kita selalu membuat sel-sel baru, sehingga kita bisa tumbuh untuk menggantikan sel-sel yang sudah rusak atau tidak terpakai, atau mengganti sel yang rusak setelah adanya luka. Proses ini di

kontrol oleh gen – gen tertentu. Semua kanker disebabkan oleh perubahan gen-gen tersebut, Perubahan terjadi selama kita hidup walaupun sebagian kecil orang mewarisi perubahan dari orang tuanya. Kanker payudara adalah kanker dari jaringan glandular payudara. Di seluruh dunia kanker payudara penyebab paling umum penyebab kematian ke lima penyakit kanker setelah (kanker paru,kanker lambung, kanker hati, kanker kolon.

(22)

2.5.2. Etiologi dan faktor resiko Kanker Payudara

Penyebab pasti kanker payudara sampai saat ini belum diketahui sangat mungkin penyebabnya berasal dari multifaktorial yang saling mampengaruhi Namun, ada beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi, yaitu :

a. Jenis kelamin

Wanita lebih beresiko menderita kanker payudara dibandingkan dengan pria. Prevalensi kanker payudara pada pria hanya 1% dari seluruh kanker payudara. b. Riwayat keluarga

Pada kanker Payudara telah diketahui beberapa gen yaitu BRCA 1 dan BRCA

2 memiliki kecenderungan kanker payudara dan juga pemeriksaan histopatologi faktor proliferasi p53.

Pada mayarakat umum yang tidak dapat memeriksa gen dan faktor proloferasinya, maka riwayat kanker pada kanker pada keluarga merupakan

salah satu faktor resiko terjadi penyakit.

a. Wanita yang memiliki keluarga tingkat satu penderita kanker payudara beresiko tiga kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.

b. Dua atau lebih keluarga dari sisi yang sama terkena kanker payudara dibawah 40 tahun.

c. Adanya keluarga dari sisi yang sama terkena kanker payudara. d. Adanya riwayat kanker payudara pada pria dalam keluarga. c. Faktor genetika

Ini berdasarkan Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13. Wanita dengan mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 mempunyai peluang sampai 85% untuk berkembang menjadi kanker payudara.

d. Faktor usia

(23)

e. Faktor hormonal

Kadar hormon yang tinggi selama masa reproduktif, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormon akibat kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

f. Usia saat kehamilan pertama

Hamil pertama pada usia 30 tahun beresiko dua kali lipat dibandingkan dengan hamil pada usia kurang dari 20 tahun.

g. Penyakit payudara jinak sebelumnya h. Terpapar radiasi

i. Pemakaian kontrasepsi oral

Pemakaian kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko kanker payudara. Penggunaan pada usia kurang dari 20 tahun beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan pada usia lebih tua.

2.5.3. Gejala Klinis

Gejala kanker payudara pada permulaan sering tidak dirasakan oleh penderita. Menurut Dalimartha (2004), kanker payudara pada tahap dini biasanya tidak menimbulkan keluhan . Penderita merasa sehat, tidak merasa nyeri, tidak merasa terganggu aktivitasnya.

Keluhan pasien kanker payudara berbeda-beda sesuai dengan stadiumnya. Tanda yang mungkin dirasakan pada stadium dini adalah terdapatnya benjolan kecil di payudara Umumnya, pasien karsinoma in situ, T1, dan T2 datang dengan keluhan adanya benjolan pada payudara tanpa disertai nyeri atau hasil pemeriksaan skrining mamografi yang abnormal.

(24)

2.5.4. Diagnosa

Menurut Mardiana (2004), gejala serangan kanker payudara semakin banyak setelah melewati stadium dini atau memasuki stadium lanjut yaitu:

1. Rasa nyeri atau sakit pada payudara.

2. Adanya bejolan dan semakin lama benjolan semakin membesar.

3. Payudara mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai timbul pembengkakan.

Sebagai langkah pendeteksian dini, para wanita disarankan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di rumah atau pemeriksaan

payudara oleh tenaga kesehatan secara rutin. Pada pemeriksaan ini, dapat ditemukan adanya benjolan pada payudara, baik disertai nyeri ataupun tanpa nyeri. Berdasarkan lokasinya, kanker payudara sering ditemukan pada :

• Kuadran atas bagian lateral : 38,5% • Regio puting susu : 29% • Kuadran atas bagian medial : 14,2% • Kuadran bawah bagian lateral : 8,8% • Kuadran bawah bagian media : 5,0%

Selain pemeriksaan fisik, mamografi dan USG payudara juga dapat dilakukan, terutama pada wanita lanjut usia dan wanita yang beresiko tinggi. Bahkan, sekarang ini dapat pula dilakukan pemeriksaan MRI payudara. Pemeriksaan ini terutama dianjurkan kepada wanita muda yang telah terbukti mengalami mutasi gen.

Jika pada pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas dijumpai adanya kelainan, baik berupa benjolan atau gambaran radiologi yang abnormal, maka perlu dilakukan biopsi untuk mendapatkan contoh jaringan yang akan diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan biopsi ini, dapat dipastikan ada atau tidaknya sel kanker.

2.5.5. Klasifikasi Kanker Payudara

(25)

sudah sejauh manakah tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ ataupun ke jaringan sekitar maupun ketempat jauh. Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan tidak ada pada tumor jinak. Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan pemeriksaan klinis dan ditunjang dengan pemeriksaan penunjang lainnya, yaitu histopatologi atau PA, rontgen, USG, dan bila memungkinkan CT – Scan dan scintigrafi (Sukardja, 2000).

Stadium dari kanker tersebut untuk dapat memberikan pengobatan yang sesuai. Stadium kanker diklasifikasikan oleh American Joint Comittee on Cancer (2002) dalam ditentukan berdasarkan TNM system (Tumor Nodus Metastasis)

yang meliputi:

a. Ukuran Tumor (T)

Selain menunjukkan ukuran tumor, huruf “T”(tumor primer) pada TNM

system ini juga mendeskripsikan apakah tumor mengenai dinding dada ataupun kulit.

Tabel 2.1 Klasifikasi Ukuran Tumor Payudara berdasarkan TNM system Ukuran Tumor (T) Interpretsi

Tx Tumor primer tidak ditemukan

To Tidak ada bukti ditemukan adanya tumor

primer

Tis Karsinoma In Situ

Tis (DCIS) Duktal Karsinoma In Situ Tis (LCIS) Lobular Karsinoma In Situ

Tis (Paget) Pagets Disease tanpa adanya tumor

T1 Ukuran tumor > 2 cm

T1 mic Mikroinvasif > 0,1 cm T1 a Tumor > 0,1 - < 0,5 cm T1 b Tumor > 0,5 cm - < 1 T1 c Tumor > 1 cm - < 2 cm T2 Tumor > 2 cm - < 5 cm

(26)

T4 Tumor dengan segala ukuran disertai dengan adanya perlekatan pada dinding thoraks atau kulit

T4a Melekat pada dinding dada

T4b Edeme (termasuk peau d‘orange) atau ulserasi pada kulit, atau adanya nodul satelite pada payudara

T4c Gabungan antara T4a dan T4b T4d Inflamatory carcinoma

Sumber : UICC 2002

b. Kelenjar Limfe Regional (N)

Huruf “N” menunjukkan penyebaran kanker ke kelenjar limfe dan perlekatan

lymph node tersebut terhadap struktur lengan.

Tabel 2.2 Klasifikasi kelenjar limfe rgional Berdasarkan TNM System. Kelenjar Getah

Bening Regional (N)

Interpretasi

Nx Kelenjar limfe regional tidak didapatkan

No Tidak ada metastasis pada kelenjar limfe

N1 Metastasis pada kelenjar aksilla ipsilateral, bersifat mobile

N2 Metastasis pada kelenjar limfe aksilla

ipsilateral, tidak dapat digerakkan

N3 Metastasis pada kelenjar limfe intraclavicular, atau mengenai kelenjar mammae interna atau kelenjar limfe supraklavikular

Sumber : UICC 2002

Metastase (M)

Huruf “M” menunjukkan metastase (penyebaran) kanker ke organ yang jauh atau ke lymph node yang tidak langsung berhubungan dengan kanker (misal:

(27)

Tabel 2.3 Klasifikasi Metastase Berdasarkan TNM System Metastase (M) Interpretasi

Mx Metastasis jauh tidak didapatkan

Mo Tidak ada bukti adanya metastasis

M1 Didapatkan metastasis yang telah mencapai organ

Sumber : UICC 2002

Klasifikasi stadium klinis berdasarkan Klasifikasi “Tumor Nodus Metastasis” (TNM) kanker payudara.

Tabel 2.4 Stadium Kanker Payudara berdasarkan TNM Kanker Payudara Stadium Ukuran Tumor Metastasis Kelenjar Limfe Metastase

0 Tis N0 MO

I T1 N0 MO

Iia TO N1 MO

T1 N1 MO

IIIa T2 N0 MO

T2 N1 MO

T3 N0 MO

T0 N2 MO

T1 N2 MO

T2 N2 MO

T3 N1,N2 MO

IIIb T4 N Apapun MO

T apapun N3 MO

IV T Apapun N apapun MO

Sumber: UICC 2002

2.5.6. Prognosa

(28)

payudara dalam lima tahun digambadirkan dalam five-year survival rate (Imaginis, 2009).

Data rata – rata prognosis harapan hidup penderita kanker payudara (survival rate) per stadium menurut PERABOI (Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia) (Rasjidi, Hartanto, 2009).

Tabel 2.5 Five-Year Survival Rate pasien kanker payudara

Stadium Five Year Survival Rate

0 98%

I 85%

II 60 – 70%

III 30 – 50 %

IV 15%

Sumber: PERABOI dalam Rasjidi, Hartanto, (2009).

2.6. Deteksi Dini Kanker Payudara 2.6.1 Defenisi Deteksi dini

Deteksi dini kanker adalah upaya untuk menemukan adanya kanker yang masih dapat disembuhkan, yaitu kanker yang belum lama tumbuh, masih kecil, masih lokal, masih belum menimbulkan kerusakan yang berarti pada masyarakat tertentu dan pada golongan tertentu (Chandra, 2009).

Menurut Sukardja (2000), deteksi dini kanker adalah suatu usaha untuk

menemukan adanya kanker yang belum lama tunbuh, masih kecil, masih lokal, dan belum menimbulkan kerusakan yang berarti sehingga masih dapat disembuhkan. Deteksi dini biasanya dilakukan pada orang-orang yang “kelihatannya sehat”, asimptomatik, atau pada orang yang beresiko tinggi

(29)

2.6.2. Tujuan Deteksi Dini

Tujuan Utama deteksi dini kanker payudara adalah Menemukan kanker payudara dalam stadium dini sehingga pengobatannya menjadi lebih baik. Karena 75% keganasan payudara dapat ditemukan dengan melakukan deteksi dini (Chandra, 2009).

2.7. SADARI Sebagai Salah Satu Cara untuk Mendeteksi Dini Kanker Payudara

2.7.1. Defenisi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah salah satu cara untuk mendeteksi dini kanker payudara dengan melakukan pemeriksaan sendiri. Pemeriksaan ini tidak hanya dilakukan oleh wanita yang beresiko tinggi, tetapi sebaiknya dilakukan oleh seluruh wanita karena sekitar 75% kasus kanker payudara ditemukan pada wanita yang tidak dianggap beresiko tinggi (Ihea, 2003).

Untuk mendeteksi adanya kanker payudara dapat dilakukan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri). Tindakan ini sangat penting karena hampir 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Pada wanita normal,

American Cancer Society menganjurkan wanita yang berusia di atas 20 tahun

untuk melakukan SADARI setiap tiga bulan, usia 35–40 tahun melakukan mamografi, di atas 40 tahun melakukan check up pada dokter ahli, lebih dari 50 tahun check up rutin dan mamografi setiap tahun, dan bagi wanita yang berisiko tinggi pemeriksaan dokter lebih sering dan rutin.

Wanita usia 20 tahun ke atas sebaiknya melakukan SADARI sebulan sekali, yaitu 7-10 hari setelah menstruasi. Pada saat itu, pengaruh hormon ovarium telah hilang sehingga konsistensi payudara tidak lagi keras seperti menjelang menstruasi. Untuk wanita yang telah menopause, SADARI sebaiknya dilakukan

setiap tanggal 1 setiap bulan agar lebih mudah diingat.

(30)

2.7.1. Langkah – langkah Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

Posisi Berdiri.

Gambar 2.1 : Cara Melakukan SADARI dengan Melihat Payudara

Sumber : (Agel, 2009)

1. Melihat payudara

a. Pemeriksaan ini dilakukan di depan cermin.

b. Bukalah seluruh pakaian dari pinggang ke atas dan berdirilah di depan cermin yang besar.

c. Letakkan kedua tangan di samping tubuh

d. Perhatikan payudara :

• Apakah bentuk dan ukuran payudara kanan dan kiri tidak simetris?

• Apakah payudara membesar atau mengeras?

• Apakah arah puting tidak lurus ke depan atau berubah arah? • Apakah puting tertarik ke dalam?

• Apakah puting susu dipijat apakan ada cairan atau darah yang keluar?

(31)

• Apakah kulit menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)?

• Apakah permukaan kulit tidak mulus, ada kerutan atau cekungan?

e. Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas.

f. Setelah itu, ulangi lagi pengamatan tersebut dengan posisi kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, dan siku ditarik ke belakang.

Gambar 2.2 : Cara Melakukan SADARI dengan Memijat Payudara

Sumber : (Agel, 2009)

2. Memijat payudara

a. Dengan kedua tangan, pijat payudara dengan lembut dari tepi hingga ke puting.

(32)

Posisi Berbaring.

Gambar 2.3 : Cara Melakukan SADARI dengan Meraba Payudara dalam Posisi Berbaring.

Sumber : (Agel, 2009)

3. Meraba payudara

a. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berbaring. b. Lakukan perabaan payudara satu per satu.

c. Untuk memeriksa payudara kanan, letakkan bantal atau handuk yang dilipat di bawah bahu kanan. Lengan kanan direntangkan di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala.

d. Raba payudara dengan menggunakan tiga atau empat jari tangan kiri yang saling dirapatkan.

e. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar dari tepi payudara hingga ke puting susu.

f. Geser posisi jari, kemudian lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara hingga ke puting susu.

g. Lakukan seterusnya hingga seluruh bagian payudara diperiksa. h. Lakukan hal yang sama pada payudara satunya lagi.

(33)

dan tekanan kuat untuk meraba benjolan di dasar payudara yang melekat pada tulang iga.

j. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan lotion atau minyak sebagai pelicin agar pemeriksaan lebih sensitif.

Setelah itu, lakukan semua langkah perabaan payudara dalam posisi berdiri. Sebaiknya dilakukan saat sedang mandi ( dengan menggunakan sabun).

(34)

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

1.1. Kerangka Konsep Penelitian

Dalam penelitian ini, Kerangka konsep mengenai Perilaku karyawati tentang SADARI akan diuraikan sebagai berikut:

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Perilaku karyawati tentang Metode SADARI

1.2. Definisi Operasional

Perilaku sebagai suatu aksi reaksi karyawati terhadap SADARI, perilaku terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi yang disebut rangsangan dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan

menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu maka akan di eksplorasi perilaku pada karyawati dalam 3 aspek yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan.

1. Tingkat Pengetahuan karyawati kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mencakup pengetahuan umum mengenai metode SADARI, defenisi SADARI, serta cara memeriksa SADARI yang benar.

Alat ukur : Kuesioner, dengan pertanyaan yang diajukan sebanyak 10 pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan sistem skoring dengan menggunakan skala menurut Arikunto (2007) adalah sebagai berikut:

o Jawaban yang benar diberi nilai 1 o Jawaban yang salah diberi nilai 0

Hasil Ukur apabila:

a. Pengetahuan baik (>75%) : skor >8 b. Pengetahuan sedang (40%-75%) : skor 4-7 c. Pengetahuan kurang (<75%) : skor <3 Skala Ukur : Ordinal

2. Sikap adalah tanggapan atau reaksi responden mengenai SADARI. Alat ukur : Dengan menggunakan instrumen penelitian berupa

(35)

Kuisioner.

Cara Ukur : Dengan pertanyaan yang diajukan sebanyak 10 pertanyaan dengan 2 pilihan jawaban Benar atau Salah. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan sistem skoring dengan menggunakan skala menurut Arikunto (2007) adalah sebagai berikut:

o Jawaban yang benar diberi nilai 1 o Jawaban yang salah diberi nilai 0

a. Sikap baik (>75%) : skor > 8 b. Sikap sedang (40%-75%) : skor 4-7

c. Sikap kurang (<75%) : skor < 3 Skala Ukur : Ordinal

3. Tindakan adalah segala sesuatu yang telah dilakukan responden sehubungan dengan pengetahuan dan sikap tentang SADARI.

Alat Ukur : Dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner.

Cara Ukur : Kuisioner yang terdiri dari 8 pertanyaan yang diberikan

pada responden dengan 4 pilihan jawaban tidak pernah, kadang-kadang, selalu,dan sering.

o Selalu : skor 3 o Sering : skor 2 o Kadang – kadang : skor 1 o Tidak pernah : skor 0

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan sistem skoring dengan menggunakan skala menurut Arikunto (2007) adalah sebagai berikut:

a. Tindakan baik : >75% dari nilai tertinggi yaitu > 19 - 24 b. Tindakn sedang : 40%-75% dari nilai tertinggi yaitu 14 - 18 c. Tindakan kurang : <40% dari nilai tertinggi yaitu < 10 - 13

Skala Ukur : Ordinal

BAB 4

(36)

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan desain

cross sectional.

Desain cross sectional adalah suatu desain penelitian dimana pengumpulan data atau hasil variabel yang akan diteliti didapatkan secara bersamaan dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada karyawati.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian 4.2.1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni sampai November 2010

4.2.2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi

Sumatera Utara.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawati yang masih produktif dan masih aktif berkerja di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2010.

4.3.2. Sampel Penelitian

Sampel diambil dengan menggunakan teknik consecutive sumpling, dimana sampel berdasarkna kriteria yang ditetapkan.

4.3.2.1. Kriteria Inklusi

- Wanita umur 25 – 53 tahun

- Wanita yang bersedia menjadi responden

- Wanita yang bersedia mengisi kuesioner setelah mendapatkan persetujuan informed consent

(37)

- Wanita yang tidak bersedia menjadi responden - Wanita yang tidak mengembalikan kuesioner

4.4. Metode Pengumpulan Data

Metode pengambilan data adalah peneliti menjelaskan kepada responden dan meminta kesediaan responden (Informed consent). Peneliti melakuka n metode wawancara dengan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang diberikan kepada subyek penelitian. Kuesioner yang digunakan terdiri 3 kelompok pertanyaan yaitu tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan karyawati

mengenai metode SADARI.

Penilaian dan interpretasi hasil ukur dapat dilihat pada bab 3. Kuisioner yang akan diberikan kepada responden terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan uji reabilitas yang akan diuji kepada beberapa orang yang karyawati yang berkerja

di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara. Data primer yakni data diperoleh dari kuesioner penelitian yang telah disebarkan kepada responden dan telah disiapkan saat penelitian berlangsung.

4.4.1. Uji Validitas Dan Reliabilitas

Dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner yang telah disusun sebelumnya dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 17. Sampel untuk uji validitas dan reliabilitas adalah 20 orang responden yang berusia >20 tahun. Uji validitas dan reliabilitas ini dilaksanakan pada bulan oktober 2010.

Uji validitas dilakukan dengan korelasi Pearson, skor yang didapat dari setiap pertanyaan dikorelasikan dengan skor total untuk tiap variabel. Setelah semua korelasi untuk setiap pertanyaan dengan skor total diperoleh, nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai r tabel. Nilai r tabel untuk jumlah responden 20 orang dengan taraf signifikansi 0.05 adalah 0,514. Jika nilai koefisien korelasi Pearson dari suatu pertanyaan tersebut berada diatas nilai r tabel, maka pertanyaan tersebut valid.

(38)

dari nilai r tabel, maka pertanyaan tersebut reliabel. Hasil uji validitas dan relialibilitas untuk tiap pertanyaan dalam kuesioner ditunjukkan oleh tabel berikut:

(39)

Tindakan P1

4.5. Pengolahan dan Analisa Data

Data penelitian yang diperoleh berupa hasil jawaban kuisioner dari responden lalu, diubah dalam skor nilai.Kemudian pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan,

Editing yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas maupun data

responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk. Tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan responden akan ditentukan berdasarkan nilai yang didapat dengan menggunakan skor nilai sesuai pada kelompok kuisioner.

Coding yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk

mempermudah waktu mengadakan tabulasi dan analisa.

Entry yaitu memasukkan data dari kuesioner ke dalam program komputer

dengan menggunakan program SPSS versi 17.0 (statistical product and

service solution).

Cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah di entry untuk

(40)
(41)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Kantor Dinas Pendidikan ini beralamat di jalan Tengku Cik

Ditiro No. 1D Medan.

Berdasarkan Informasi dan observasi yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara memiliki jumlah 113 karyawati yaitu sebagai responden dalam sasaran penelitian ini.

5.1.2 Deskripsi Karekteristik Responden

Pada penelitian ini, responden yang terpilih adalah responden yang masih aktif berkerja di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2010. Dari keseluruhan responden gambaran karakteristik responden yang diamati meliputi: usia dan status pendidikan.

Ditinjau dari segi usia, kelompok terbesar terdapat pada usia 41–50 tahun yaitu sebanyak 54 orang sebesar 47.8% dan yang terkecil pada kelompok usia >50 tahun yaitu sebanyak 14 orang sebesar 12.4%. Data lengkap dapat dilihat pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi %

(42)

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan

Dari hasil penelitian dengan menggunaan kuesioner mengenai pengetahuan para karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sebagai deteksi dini kanker payudara sebagian besar berada dalam kategori sedang yaitu sebesar 38.9% sebanyak 44 orang, sedangkan yang paling sedikit adalah dalam kategori pengetahuan kurang sebesar 23% yaitu sebanyak 26 orang. Data dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan

Berdasarkani dari hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada 50 orang responden tentang pengetahuan yaitu pertanyaan dari 1 sampai 10, sebagian besar responden menjawab dengan benar pada pertanyaan nomor 4 yaitu sumber yang didapat mengenai SADARI sebanyak 113 orang sebesar 100%. Sedangkan sebagian besar menjawab dengan salah adalah pertanyaan nomor 8 yaitu kapan dimulai SADARI sebanyak 54 orang sebesar 47.8%.

(43)

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Variabel

Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap karyawati Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara sebagian besar memiliki sikap sedang yaitu sebanyak 77 orang sebesar 65.5% , dan sebagian kecil memiliki sikap kurang terhadap SADARI sebesar 3.5 % yaitu sebanyak 4 orang.

Data lengkap distribusi jawaban kuesioner pada variabel pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5 Distribusi frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Sikap

No. Sikap Frekuensi %

(44)

melakukan SADARI pada tanggal yang sama sebanyak 110 orang sebesar 97.3%. Sedangkan sebagian besar menjawab dengan salah pada pertanyaan nomor 7 yaitu tahapan pada SADARI sudah efektif dalam melakukan perabaan keseluruhan payudara sebanyak 52 orang sebesar 46.0%.

Data lengkap distribusi jawaban kuesioner pada variabel pengetahuan dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden pada Variabel Sikap Jawaban responden secara teratur 10 hari setelah haid terakhir.

6.Pemeriksaan SADARI sudah efektif untuk 64 56.6 49 43.4 membantu deteksi tahap awal.

7.Tahapan pada SADARI efektif 61 54.0 52 46.0 dalam perabaan keseluruhan payudara.

8. SADARI tidak menyita waktu. 64 56.6 49 43.4 9. Wanita menopouse dapat melakukan 110 97.3 3 2.7 SADARI secara rutin pada tanggal

yang sama.

10.Dengan tiga tahapan sudah dapat 78 69.0 35 31.0 mengetahui kelainan pada payudara

secara dini.

Dapat dilihat pada tabel 5.7 hasil dari penelitian tentang tindakan kepada

(45)

hasil yang sedikit dalam kategori tindakan baik terhadap SADARI sebanyak 8 orang sebesar 7.1 %.

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tindakan

Berdasarkan kuesioner yang telah dibagikan kepada 113 responden tentang tindakan, yang paling banyak menjawab tidak pernah sebanyak 22 orang (19.5%) pada pertanyaan nomor 5 yaitu dalam melakukan SADARI secara teratur. Sedangkan kategori kadang – kadang responden paling banyak menjawab pada pertanyaan nomor 2 dalam mengikuti penyuluhan yaitu sebanyak 42 orang (37.2%), dan yang menjawab dalam kategori selalu terbanyak pada pertanyaan nomor 8 yaitu 37 orang (32.7%), dalam menerapkan pola hidup sehat sehari-hari.

Responden yang paling banyak menjawab sering pada pertanyaan nomor

2,6 dan 7 dengan jumlah yang sama yaitu sebanyak 31 orang (27.4%), pada pertanyaan nomor 2 dalam mengikuti penyuluhan,pertanyaan nomor 6 yaitu dalam melakukan tiap tahapan SADARI sesuai urutan dan pertanyaan nomor 7 yaitu melakukan perabaan dan memijat sesuai prosedur SADARI.

Hasil kuesioner dapat dilihat pada tabel 5.8 dibawah ini

(46)

5. Melakukan SADARI secara 22 19.5 38 33.6 31 27.4 22 19.5 Teratur.

6. Melakukan tiap tahapan 15 13.3 35 31.0 32 28.3 31 27.4 SADARI sesuai urutan.

7. Melakukan perabaan dan 18 15.9 40 35.4 24 21.2 31 27.4 memijat sesuai prosedur

SADARI .

8. Menerapkan pola hidup sehat 15 13.3 31 27.4 37 32.7 30 26.5 sehari – hari.

5.2. Pembahasan

Berdasarkan penelitian pada karyawati di kantor Dinas Provinsi Sumatera Utara dalam melakukan SADARI yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah karyawati sebanyak 113 orang dengan rentang umur yang berbeda yaitu dari umur 20 tahun sampai 50 tahun keatas. Dari hasil penelitian dari karakteristik usia

responden didapati usia keseluruhan responden mencapai 21–53 tahun. Jumlah responden paling banyak berada pada kelompok usia 40 – 50 tahun yaitu sebanyak 54 orang sebesar 47.8%. Sedangkan jumlah yang paling sedikit terdapat pada kelompok usia >50 tahun yaitu sebanyak 14 orang sebesar 12.8%.

(47)

5.2.1 Gambaran Pengetahuan karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara.

Berdasarkan karakteristik distribusi gambaran pengetahuan yang diteliti dari 113 karyawati kantor Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Utara dari mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara, diperoleh bahwa proporsi terbesar wanita yang mempunyai pengetahuan baik dari 113 orang adalah sebesar 38.1% yaitu sebanyak 43 orang. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Martyani (2008) yaitu sebagian besar responden yang memiliki

pengetahuan baik terdapat pada kelompok usia 24-30 tahun. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya informasi yang didapat responden mengenai tujuan SADARI. Responden hanya mengerti istilah SADARI saja tanpa disertai pengertian dan manfaat dari SADARI.

Hasil peneltian ditemukan bahwa pengetahuan karyawati yang kurang tentang istilah pemeriksaan payudara sendiri dan SADARI sebesar 43,4% termasuk kategori baik karena persentase kebenaran karyawati sebesar 56.6%. Istilah tentang SADARI sudah tersampaikan dengan baik kepada masyarakat, khususnya karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

Salah satu yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah ketersediaan fasilitas sebagai sumber informasi (Notoatmodjo, 2003). Seperti yang kita ketahui, informasi tentang SADARI ini sudah banyak dipublikasikan di berbagai media, seperti media cetak (buku, tabloid, koran, majalah) dan media elektronik (televisi, radio, internet). Oleh karena itu, keterbatasan media informasi tidak dapat dijadikan alasan mengapa informasi mengenai SADARI kurang menyebar dimasyarakat. Menurut pendapat peneliti, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai SADARI lebih disebabkan oleh kurangnya ketertarikan masyarakat untuk mencari informasi mengenai SADARI. Tetapi, dari hasil data yang telah diteliti kepada seluruh responden telah mengetahui SADARI

(48)

Penyuluhan kesehatan tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sudah pernah dilakukan akan tetapi masih kurang di galakkan. Sesuai dengan faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003), pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain dapat memperluas pengetahuan orang lain. Sebagian responden yang mengetahuai istilah SADARI mengaku disebabkan oleh faktor masalah kesehatan payudara, sedangkan sebagian lainnya memiliki keluarga atau tetangga yang pernah menderita kanker payudara.

Seluruh responden yang mengetahui istilah SADARI hanya mengetahui

perabaan sebagai langkah awal pemeriksaan SADARI dan adanya benjolan sebagai interpretasi yang mungkin di temukan saat pemeriksaan payudara sendiri. Padahal, pemeriksaan payudara sendiri ada tiga yaitu melihat, meraba dan memijat payudara. Kelainan yang mungkin ditemukan adalah ukuran dan bentuk

payudara yang tidak simetris, perubahan arah puting, perlukaan pada kulit atau puting, perubahan warna kulit payudara, permukaan kulit yang tidak mulus dan keluarnya cairan yang tidak normal dari puting susu (Rumah Kanker, 2008).Maka dari itu dapat dilihat dari hasil bahwa para karyawati telah mengetahui istilah SADARI tetapi tidak mendapatkan informasi dengan lengkap semua tahapan pada SADARI ataupun dikarenakan ketidaktertarikan karyawati terhadap SADARI.

5.2.2. Sikap karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara. Hasil penelitian mengenai sikap karyawati mengenai pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebagian besar karyawati memiliki sikap sedang sebanyak 74 orang atau 65.5% dan sebagian kecil mempunyai sikap kurang sebanyak 4 atau 3.5%. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andayani (1998). Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang memiliki sikap baik berarti telah meyakini karena memiliki pengalaman dalam mengetahui informasi

(49)

kanker payudara.Sedangkan para karyawati yang memiliki sikap sedang disebabkan karena belum meyakini dan karena kurang mendapat informasi secara lengkap mengenai SADARI, sehingga rasa kepercayaan akan manfaat SADARI tidak ada.

Sikap sedang karyawati sejalan dengan pengetahuan karyawati yang memiliki hasil sedang juga. Sikap baik dan cukup dapat dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang dialami individu terhadap sesuatu hal dan sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman individu sepanjang perkembangan selama hidupnya. Sikap tidak lepas dari pengaruh

interaksi manusia satu dengan yang lain.

Menurut Sunaryo (2004) sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu, berupa respons tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu.Secara nyata sikap menunjukkan adanya keyakinan seseorang mengenai objek atau

situasi yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.

Menurut Azwar Syaefuddin (1995) bahwa sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap dan ketiganya saling menunjang yaitu : komponen kognitif (berisi kepercayaan individu), Komponen afektif (berisi dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatf (rasa tidak senang) dan komponen konatif (disebut juga komponen perilaku) yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya.

5.2.3. Tindakan karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara Tidak semua responden melakukan SADARI secara teratur setelah mengetahui betapa pentingnya pemeriksaan ini. Sebagian responden menganggap bahwa pemeriksaan payudara sendiri merupakan hal yang tabu untuk dilakukan, sedangkan sebagian lainnya menganggap bahwa pemeriksaan payudara sendiri ini

(50)

sebagian besar karyawati adalah meraba payudara pada pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan pada posisi duduk ataupun berdiri. Tanggapan ini sangat tidak sesuai, karena meraba payudara pada pemeriksaan payudara sendiri baru akan efektif apabila dilakukan pada posisi tidur terlentang. Alasan yang mendasari pertanyaan ini adalah karena dalam posisi tidur jaringan payudara akan tersebar pada lapisan dinding dada sehingga mudah untuk diraba dan apabila ada perubahan maka akan lebih terasa. Berbeda dengan memeriksa payudara pada keadaan posis berdiri atau duduk. Dalam kedua posisi tersebut, terdapat kemungkinan tidak terabanya benjolan yang masih berukuran kurang dari 2 cm,

sehingga usaha untuk mendeteksi payudara sendiri mungkin sedikit terlambat. Dari hasil penelitian ini responden yang melakukan SADARI secara teratur ( Tabel 5.5. diperoleh sebagian besar karyawati memiliki tindakan kurang sebanyak 77 orang (68.1%) dalam melakukan SADARI secara teratur dan

sebagian kecil memiliki tindakan baik sebanyak 8 orang (7.1%). Hal ini sesuai dengan dalam hasil penelitian (Serniatika, 2005) yang menyatakan bahwa hasil tindakan mengenai SADARI dalam katetori kurang. Hal ini mungkin dapat dihubungkan dengan sumber responden dalam mempelajari cara melakukan SADARI. Sedangkan bagi karyawati yang memiliki tindakan baik telah menilai dan meyakini bahwa melakukan SADARI atau pemeriksaan payudara secara dini adalah baik untuk kewaspadaan mereka untuk menjaga kesehatan payudara karena didapat dari pengalaman sendiri dari interaksi dengan orang lain.

Sedang karyawati yang memiliki tindakan kurang berarti belum menilai dan meyakini melakukan adalah hal yang baik SADARI sehingga tidak dapat di aplikasikan terhadap diri sendiri ka dan juga kurangya interaksi dengan orang lain mengenai bahaya kanker dan manfaatnya SADARI.

(51)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai perilaku ibu mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara pada karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa Pengetahuan mengenai SADARI sebagai deteksi dini kanker payudara pada karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sebagian besar berpengetahuan baik

sebanyak 43 orang atau 38.1%. Sikap para karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara mengenai SADARI sebagian besar bersikap sedang yaitu 74 orang atau 65.5%. Tindakan para karyawati di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sebagian besar memiliki tindakan kurang sebanyak 77

orang atau 68.1%.

6.2Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dan keterabatasan-keterbatasan yang ada dalam penelitian ini, maka disarankan sebagai berikut :

1. Mengingat kurang baiknya pengetahuan pada karyawati mengenai SADARI sebagai pedoman deteksi dini kanker payudara maka disarankan kepada petugas pelayanan komunitas, khususnya wilayah yang dilakukannya tempat penelitian untuk melakukan program pemberian informasi, edukasi dan motivasi kepada masyarakat tentang pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan mengidentifikasi model pendekatan yang labih efektif.

2. Perlu untuk dilakukan penelitian yang bertujuan mencari tahu faktor-faktor yang menyebabkan informasi tindakan kurang pada masyarakat khususnya karyawati dan diharapkan dapat membantu memberikan informasi kepada seluruh lingkungan sekitarnya manfaat yang baik dalam melakukan SADARI yang praktis.

(52)
(53)

DAFTAR PUSTAKA

Aryandono, T.,Epidemiologi. Faktor Resiko Genetik dan Skrinning Kanker Payudara. Diakses dari:

2010]

Azamris., 2006. Analisis Faktor Resiko Pada Pasien Kanker Payudara di Rumah Sakit. Dalam: Djamil, M. Padang: Cermin Dunia Kedokteran No.152. Diakses dari :

Dalimartha, S., 2004. Kanker Payudara. Dalam: Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Antikanker. Jakarta: Penebar Swadaya. 19-25.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008. Deteksi Kanker Rahim dan Kanker Payudara. Departemen Kesehatan. Diakses dari:

Dinkes Bone Bolango, 2007. Mengenal Kanker. Diakses dari :

Ferlay, J., Et al, GLOBOCAN 2000. Cancer Incidence, Mortality, and PrevalenceWorldwide. Version1.0 IARC Cancer Base No. 5 Lyon: IARC

(54)

Hoskins, W. J., Robert C. Y., et l, 2005. Breast Cancer. In: Principles and Practice of Gynecologyc Oncology: Fourth Edition. Philadelphia: Lippincott, Williams & Wilkins. 1077 – 1155

Imaginis, 2009. Breast Cancer: Statistics NNINGon Incidence, Survival and Screening. Diakses dari :

[Diakses 10

Maret 2010]

Mardiana, L., 2004. Kanker Pyudara Pada Wania, Pencegahan dan Pengobatan Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

Martyani, Dwiakhid, 2009. Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang SADARI

dengan Perilaku SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) di RW VIII Kelurahan Warungboto Kecamatan Umbulharjo D.I. Yogyakarta Tahun 2008. Diperoleh dari :

Notoatmodjo, S., 2003. Konsep Prilaku dan Prilaku Kesehatan Dalam: Pendidikan & Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. 121-128.

Purba, N. M., 2004 Karekteristik Penderita Kanker Payudara yang Dirawat Inap di RS St. Elisabeth Medan Tahun 2002. Medan. Skripsi USU Medan.

Rasjidi, I., & Hartanto, A., 2009, Kanker Payudara. Dalam: Deteksi Dini & Pencegahan Kanker Pada Wanita. Jakarta: Sagung Seto, 61-67.

Scribd, 2008. Kanker Payudara. Available From:

(55)

Soebroto,J. B., Ahma, G., Evi Y. R., 2001 Rancang Bangunan Alat Pembuat Model Peraga Periksa Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Untuk Meningkatkan Jangkauan/Kuantitas dan Efektivitas Penyuluhan Deteksi Dini Kanker Payudara di Masyarakat Vol. 2. Jakarta. Diakses dari:

Sukardja, I Dewa Gede., 2000. Onkologi Klinik edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.

Supit, Nina I.S.H., 2003. Deteksi Dini Keganasan Kanker Payudara. Dalam: Deteksi Dini Kanker . Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 53–59 Diakses dari:

UICC (International Union Against Cancer), 2002. Breast tumors. In : Sobin, L.H., dan Wittekind, Ch, ed., TNM classification of malignant tumors. New York: Wiley – Liss, 131-141.

(56)

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Nisa Hanesty Harahap Tempat/ tanggal lahir : Medan, 11 Oktober 1988 Pekerjaan : Mahasiswa

Agama : Islam

Alamat : Jalan Flamboyan ¼ no.1. pemda tingkat II Tj. Selamat Medan

Riwayat Pendidikan : 1. TK Al - Muntazar Tahun 1994 – 1995 2. SD Percobaan Negeri Tahun 1996 – 2001 3. SMP Negeri 1 Medan Tahun 2001 – 2004 4. SMA Negeri 1 Medan Tahun 2004 – 2007

Riwayat Organisasi : 1. Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa SCORA Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2007-2009) 2. Anggota Kelompok Aspirasi Mahasiswa Ar-Rahmah

(57)

Lampiran 2

PENGANTAR DAN INFORMED CONSENT

Pengantar

Saya, Nisa Hanesty Harahap, Mahasiswa FK USU semester VI, sedang melakukan penelitian tentang Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara Mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara. Penelitian ini dilaksanakan dalam rangka memenuhi tugas akhir Community Research Program (CRP).

Saya akan melakukan wawancara selama 10 menit mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai metode SADARI sebagai deteksi dini kanker Payudara Semua keterangan yang ibu sampaikan akan menjadi rahasia penelitian dan tidak akan disebarluaskan, dan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian. Informed Consent

Setelah membaca pengantar diatas, maka dengan ini saya menyatakan bersedia menjadi responden dalam penelitian tersebut.

Saya yang bernama dibawah ini: Nama :

Umur:

Jenis kelamin:

maka dengan ini, saya menyatakan bersedia menjadi responden dalam penelitian tersebut. Semua keterangan yang saya sampaikan adalah benar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Peneliti, Medan,...2010

(58)

Lampiran 3

KUESIONER PENELITIAN

Perilaku Karyawati di Kantor Dinas Pendidikan Sumatera Utara mengenai Metode SADARI Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara

Tahun 2010

1. Menurut anda apakah Pengertian Deteksi dini kanker ? Pengetahuan Responden

Jawablah pertanyaan berikut dengan menyilang jawaban yang paling anda anggap benar.

a. upaya untuk menemukan adanya kanker pada seluruh tubuh.

b. Upaya untuk menyembuhkan kanker payudara tanpa perlu dilakukan pengobatan.

c. Cara untuk menentukan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan untuk deteksi kanker.

d. salah satu cara untuk mendeteksi dini kanker payudara dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri.

2. Menurut anda apakah pengertian dari SADARI ?

a. cara untuk mendeteksi dini penyakit infeksi pada payudara.

b. cara untuk mendeteksi dini payudara sendiri dengan beberapa tahapan. c. cara untuk mendeteksi dini sel – sel yang abnormal pada kanker .

d. salah satu cara untuk mencegah kanker payudara dengan metode pemberian obat.

3. Menurut anda, Berapa tahapkah yang dilakukan dalam metode SADARI ? a. Dengan melakukan 1 tahapan.

b. Dengan melakukan 2 tahapan. c. Dengan melakukan 3 tahapan. d. Dengan melakukan 4 tahapan.

4. Dari manakah sumber yang anda dapatkan mengenai program SADARI? a. Media Cetak

(59)

5. Kapan secara rutin dimulai pemeriksaan sadari? a. Pada umur 10 tahun

b. Pada umur 15 tahun c. Pada umur 18 tahun d. Pada umur 20 tahun

6. Pada saat kapan saja dilakukan Pemeriksaan Sadari? a. 7 – 10 hari dari hari haid terakhir

b. 3 – 5 hari dari hari haid pertama c. Sebulan sekali setelah haid d. 3 bulan sekali sebelum haid

7. Menurut anda pada wanita menopause (berhenti masa haid) tidak dapat dilakukan SADARI lagi?

a. Ya

b. Bisa dengan waktu pemeriksaan sesuai dengan kehendak.

c. Bisa pada tanggal yang sama pada pemeriksaan SADARI sebelumnya. d. Bisa tetapi hanya 3 bulan sekali saja.

8. Cara melakukan SADARI dalam posisi berdiri?

a. Mengamati payudara di depan cermin dengan kedua tangan di samping tubuh dan selanjutnya posisi kedua tangan lurus ke atas.

b. Meraba payudara di depan cermin dan selanjutnya posisi kedua tangan berada di samping tubuh.

c. Mengamati payudara dengan kedua tangan lurus ke atas dan selanjutnya posisi kedua tangan meraba payudara.

d. Meraba payudara dengan kedua tangan.

9. Cara melakukan SADARI dalam posisi berbaring?

a. Meletakkan kedua tangan di samping tubuh selanjutnya posisi kedua tangan lurus ke atas.

b. Meraba payudara dengan meletakkan bantal atau handuk yang dilipat di bawah bahu. Lengan kanan direntangkan di samping kepala atau

diletakkan di bawah kepala.

c. Meraba payudara dan selanjutnya kedua tangan lurus ke atas,

d. Meraba payudara dan selanjutnya posisi kedua tangan meletakkan kedua tangan di samping tubuh.

10. Dari pernyataan dibawah ini perubahan yang tidak ditemui dalam pemeriksaan SADARI?

a. Bentuk dan ukuran payudara tidak simetris. b. Payudara membesar dan mengeras

(60)

No.

Sikap Responden

Jawablah pertanyaan berikut dengan memberikan tanda contreng pada jawaban yang sesuai dengan yang anda pilih.

Pertanyaan Benar Salah

1. Melakukan SADARI dengan menggunakan bantuan cermin.

2. Dengan melakukan SADARI dapat menambah resiko penyebab kanker.

3. Sangat sulit untuk melakukan SADARI dengan 3 tahapan.

4. SADARI merupakan deteksi kanker payudara yang hemat dan praktis.

5. Setiap perempuan harus melaksanakan pemeriksaan SADARI secara teratur 10 hari setelah haid terakhir. 6. Pemeriksaan SADARI saja sudah efektif untuk

membantu mendeteksi awal kanker payudara

7. Tahapan pada SADARI sudah efektif untuk perabaan keseluruhan payudara.

8. Melakukan SADARI tidak menyita waktu.

9. Wanita menopause dapat melakukan SADARI secara rutin pada tanggal yang sama.

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Ukuran Tumor Payudara berdasarkan TNM system
Tabel 2.2 Klasifikasi kelenjar limfe rgional Berdasarkan TNM System.
Tabel 2.3 Klasifikasi Metastase Berdasarkan TNM System
Tabel 2.5 Five-Year Survival Rate pasien kanker payudara
+7

Referensi

Dokumen terkait

Banyaknya responden di Klinik Pratama RBG RZ yang memiliki tingkat pengetahuan baik terhadap perilaku deteksi dini kanker payudara yaitu sebagian besar responden

Universitas Sumatera Utara, sedang melakukan penelitian yang berjudul “ Pengaruh Penyuluhan Tentang Deteksi Dini Kanker Payudara Terhadap Pengetahuan Pelajar Kelas

Tujuan penelitian ini adalah ingin mendapatkan gambaran pengetahuan dan sikap wanita dewasa terhadap SADARI dalam upaya deteksi dini kanker payudara.. Dengan tujuan seperti

Berdasarkan hasil tersebut didapatkan bahwa banyak ibu yang melakukan deteksi dini kanker payudara yang berpengetahuan cukup mengenai deteksi dini kanker payudara

Ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan tentang deteksi dini kanker payudara dengan SADARI sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan. Direkomendasikan untuk

JUDUL : MAMMOGRAFI PENTING UNTUK DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA. MEDIA :

Hasil pengabdian ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara pengetahuan tentang deteksi dini kanker payudara dengan SADARI sebelum dan sesudah penyuluhan

156 Penyuluhan Kesehatan Tentang Periksa Payudara Sendiri Sadari Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Payudara Di MAN 2 Sigli Kabupaten Pidie Ida Rona, Nadia Swastika Sekolah Tinggi